LAPORAN AKHIR PENELITIAN
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN ALAT MESIN PERTANIAN DALAM RANGKA MENDUKUNG USAHA
TANI DI PROVINSI JAWA TENGAH
(Studi Kasus di Kabupaten Grobogan dan Magelang)
Oleh :
Ir. Eny Hari Widowati, M.Si Ir. Sriyanto, MS
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
2018
ii
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN ALAT MESIN PERTANIAN DALAM RANGKA MENDUKUNG USAHA
TANI DI PROVINSI JAWA TENGAH
(Studi Kasus di Kabupaten Grobogan dan Magelang)
Oleh :
Ir. Eny Hari Widowati, M.Si Ir. Sriyanto, MS
Laporan Penelitian Ini Disusun Sebagai Bahan Masukan Perumusan Kebijakan Perencanaan Pembangunan
Provinsi Jawa Tengah
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
2018
iii
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN ALAT MESIN
PERTANIAN DALAM RANGKA MENDUKUNG USAHA TANI DI PROVINSI JAWA TENGAH
(Studi Kasus di Kabupaten Grobogan dan Magelang)
Penulis :
Ir. Eny Hari Widowati, M.Si Ir. Sriyanto, MS
Editor :
Prof. Dr. Daniel D. Kameo, MA Dr. Gatot Sasongko, SE, MS
Tahun : 2018
Penerbit :
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah
Jl. Pemuda No. 127 - 133 Semarang
iv
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul : Pengelolaan dan Pemanfaatan Alat Mesin Pertanian dalam Rangka Mendukung Usaha Tani di Provinsi Jawa Tengah
2. Metode Penelitian : Swakelola.
3. Lembaga Pelaksana
a. Nama : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah b. Alamat : Jl. Pemuda No. 127-133, Semarang
c. Telp./Fax/Email : 0243515591/0243546802/[email protected] 4. Pelaksanaan
a. Waktu : Bulan Mei – Oktober 2018
b. Lokasi : Kabupaten Grobogan dan Magelang c. Peneliti : Ir. Eny Hari Widowati, M.Si
Ir. Sriyanto, MS
d. Anggaran : APBD Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2018
Mengetahui,
Kepala Bidang Kelitbangan Iptekin Selaku
Kuasa Pengguna Anggaran
TRI YUNI ATMOJO, ST, M.Si Pembina Tingkat I
NIP. 19720103 199803 1 010
Peneliti,
Ir. ENY HARI WIDOWATI, M.Si Pembina Tingkat I
NIP. 19650505 198903 2 016
Mengesahkan,
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
Ir. SUJARWANTO DWIATMOKO, M.Si Pembina Utama Madya
NIP. 19651204 199203 1 012
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga laporan hasil Penelitian dengan judul
“Pengelolaan dan Pemanfaatan Alat Mesin Pertanian dalam rangka mendukung Usahatani di Provinsi Jawa Tengah (Studi Kasus di Kabupaten Grobogan dan Magelang) “ telah dapat diselesaikan tepat waktu
Kebijakan pangan yang tertuang dalam Nawacita merupakan landasan program kerja pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dalam rangka ketahanan pangan. Untuk mencapai hal tersebut maka dilakukan upaya percepatan khusus untuk komoditas padi, jagung dan kedele. Salah satu kegiatan dalam upsus adalah target luas tanam dan luas panen yang serempak dengan fasilitasi alat mesin pertanian pra panen dan pasca panen.
Program fasilitasi alat mesin pertanian oleh pemerintah dan pemerintah daerah sejak tahun 2017 dikelola oleh brigade. Brigade tersebut meliputi Brigade Provinsi, Brigade Kabupaten, Brigade Kodim, Gapoktan, Poktan dan UPJA dengan pengelolaan pinjam pakai. Pengelolaan belum berientasi penyediaan alsintan berkelanajutan. Biaya yang ditanggung peminjam adalah ongkos angkut dan kerusakan yang terjadi selama dipinjam; Belum semua alat mesin pertanian dimanfaatkan karena tidak sesuai dengan kondisi agroekologi, kualitas alat dan permasalahan lain;
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian kegiatan ini. Kami sangat berharap hasil pengembangan ini dapat bermanfaat bagi brigade, Gapoktan, Poktan, UPJA dan pengambil kebijakan serta seluruh stakeholders yang terkait.
Semarang, Desember 2018
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
Ir. SUJARWANTO DWIATMOKO, M.Si Pembina Utama Madya
NIP. 19651204 199203 1 012
vi
ABSTRAK
Pemerintah telah mentargetkan swasembada pangan nasional untuk komoditas padi dan salah satu wilayah andalannya Provinsi Jawa Tengah. Guna mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menerapkan program optimalisasi pemanfaatan alsintan. Fasilitasi alsintan melalui kelembagaan petani masih belum dimanfaatkan dengan optimal, Tujuan: Menganalisis, Pemanfaatan, Kelembagaan, Pengelolaan dan Financial alsintan. Hasil :1) Alsintan pra panen yang sering dimanfaatkan traktor roda dua, roda empat, pompa air sedangkan alsintan pasca panen adalah power threser dan combine harvester besar. Alsintan lainnya belum maksimal pemanfaatannya bahkan ada yang belum dimanfaatkan karena kondisinya tidak sesuai dengan wilayah, terlalu berat dengan sarana yang kurang serta alat belum bisa digunakan dengan sempurna; 2) Kelembagaan alsintan di brigade yang baik adalah brigade kodim, kelembagaan di Gapoktan dan poktan yang berperan pada umumnya ketua, seksi alsintan masih belum optimal; 3) Pengelolaan alsintan di brigade Provinsi, Kabupaten Magelang, Grobogan dan Kodim Kabupaten Grobogan : Peminjaman dilakukan dengan mengisi form peminjaman, menanggung biaya transpotrasi dan mengganti kerusakan. Untuk Kabupaten Grobogan yang ditanggung peminjam adalah kerusakan kecil karena pemerintah menyediakan anggaran pemeliharaan. Kodim Magelang menyediakan dana untuk ongkos transport sehingga peminjam tidak menanggung biaya kecuali terjadi kerusakan maka harus mengganti selama itu sudah tidak masa garansi.
Pengelolaan oleh brigade belum berorientasi pada keberlanjutan alsintan.
Pengelolaan alsintan oleh Gapoktan/Poktan masih belum professional, Pengelolaan oleh UPJA lebih baik karena berorietansi untuk keberlanjutan alat; 4) Biaya penggunaan traktor roda dua sebesar Rp 1.696,77/jam; combine harvester sebesar Rp 495.192,5/jam; Keuntungan usaha tani padi di Kabupaten Grobogan dengan menggunakan traktor roda 4 dan dipanen sendiri lebih menguntungkan yaitu sebesar Rp 23.520.000,-/ha, untuk di Kabupaten Magelang yang menguntungkan adalah yang dipanen sendiri dengan menggunakan traktor roda dua dan roda empat sebesar Rp 25.155.000,-
Kata Kunci : Pengelolaan, Pemanfaatan, Alsintan, Padi
vii
ABSTRACT
The government has targeted national food self-sufficiency for rice commodities and one of its mainstays in Central Java Province. To achieve this goal the government has implemented a program to optimize the use of agricultural machinery. Agricultural machinery facilitation through farmer institutions is still not optimally utilized, Purpuse: Analyzing, Utilizing, Institutional, Management and Financial agricultural machinery. Result : 1) Pre-harvest agricultural machinery which is often used by two-wheeled tractors, four-wheeled water pumps while post-harvest agricultural machinery is a power threser and large combine harvester. Other agricultural machinery utilization has not been maximized even some have not been utilized because the conditions are not in accordance with the region, too heavy with lacking means and tools that cannot be used perfectly. Agricultural machinery institution in a good brigade is the Military District Commander. Brigade, institutions in Joint Farmer Group and Farmer Group whose role is generally the chairman, agricultural machinery section is still not optimal; 3) Management of agricultural machinery in the Provincial brigade, Magelang, Grobogan and Grobogan District Military Command Districts: Borrowing is done by filling out the loan form, bearing transportation costs and replacing damage. For Grobogan Regency, which is borne by the borrower, it is a small scale because the government provides a maintenance budget. The Magelang Military District Commander provides funding for transport costs so that the borrower does not cover the costs of the occurrence of damage so it must be replaced as long as it is not the guarantee period. Management by the brigade has not been oriented towards the sustainability of agricultural machinery. Agricultural machinery management by Joint Farmer Group and Farmer Group is still not professional, Management by UPJA is better because orientation for the sustainability of tools; 4) The cost of using a two-wheeled tractor is Rp 1.696,77/hour, combine harvester for Rp 495.192.5/hour. The advantage of rice farming in Grobogan Regency by using a for wheel tractor and self harvesting more profitable is Rp 23.520.000/ha, for in the profitable Regency of Magelang, those harvested by using two-wheeled and four-wheeled tractors amounting to Rp 25.155.000,-
Keywords: Management, Utilization, Rice
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN HAK CIPTA ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Maksud dan Tujuan ... 6
1.4. Sasaran ... 7
1.5. Ruang Lingkup ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1. Sarana Alat Mesin Pertanian ... 9
2.2. Alat Mesin Pertanian ... 10
2.3. Pengelolaan... 11
2.4. Usahatani Padi ... 13
2.5. Analisa Ekonomi ... 19
2.6. Evaluasi Program... 20
BAB III METODE PENELITIAN ... 22
3.1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ... 22
3.2. Sifat Penelitian ... 22
3.3. Metode Pengumpulan Data ... 22
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
4.1. Gambaran Umum ... 26
4.1.1. Sejarah dan Kebijakan Mekanisasi Pertanian ... 26
4.1.2. Kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Tengah ... 26
4.2. Pemanfaatan Alsintan di Tingkat Petani ... 36
4.3. Kelembagaan Pengelolaan Alsintan ... 45
4.4. Pengelolaan Alsintan ... 52
4.5. Pembagian Tugas Pengelolaan Alsintan ... 56
4.6. Permasalahan Alsintan di tingkat Usahatani ... 58
4.7. Analisis Ekonomi Penggunaan Alsintan Terhadap Usahatani Padi ... 60
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 74
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel.2.1. Kapasitas Kerja Pengolahan Tanah ... 14
Tabel 4.1. Realisasi Luas Tanam Padi ... 29
Tabel 4.2. Alsintan di Jawa Tengah ... 30
Tabel 4.3. Distribusi Alsintan Brigade Provinsi Jawa Tengah ... 32
Tabel 4.4. Alsintan Pra Panen di Kabupaten/Kota Jawa Tengah ... 33
Tabel 4.5. Alsintan Pasca Panen di Kabupaten/Kota Jawa Tengah ... 35
Tabel 4.6. Pemanfaatan Alsintan Pra Panen ... 36
Tabel 4.7. Pemanfaatan Alsintan Pasca Panen ... 42
Tabel 4.8. Kelembagaan Brigade Dinas Pertanian Kabupaten ... 47
Tabel 4.9. Pengelolaan Alsintan ... 53
Tabel 4.10. Pembagian Tugas Pengelolaan Alsintan ... 57
Tabel 4.11. Analisa Usahatani Padi di Kabupaten Grobogan ... 67
Tabel 4.12. Analisa Usahatani Padi di Kabupaten Magelang ... 68
x
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Alsintan Pra Panen yang sering digunakan ... 41 Gambar 2. Alsintan Pra Panen yang belum digunakan ... 41 Gambar 3. Alsintan Pasca Panen yang sering digunakan ... 45
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam pembangunan Nasional, karena sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja yang relatif besar. Produk pertanian sebagai bahan pangan penduduk dan bahan baku industri pangan dan pakan bagi peternakan. Sektor pertanian, selain memberikan kesempatan kerja juga memiliki peran menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, dan mampu pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainya.
Berdasarkan lapangan usaha, maka struktur perekonomian Jawa Tengah pada 2017, didominasi oleh lapangan usaha Industri Pengolahan (34,96%), Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (14,29%), Perdagangan (13,60%), Kontruksi (10,36%) dan Lainnya (26,79%) (BRS, 5 Feb 2018).
Memperhatikan lapangan usaha dominan di Jawa Tengah, maka sektor pertanian masih menjadi harapan dalam menyumbang pertumbuhan perekonomian. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang serius terhadap perkembangan dan kemajuan pertanian, mulai dari : penyediaan dan distribusi benih unggul, sarana dan prasarana (fisik, ekonomi dan sosial) pertanian, pembangunan pertanian terpadu, penanganan pascapanen, pengolahan hasil dan sampai kepada pengembangan alat mesin pertanian.
Pada prinsipnya untuk efisiensi faktor input dan maksimalkan faktor output, agar Nilai Tukar Petani (NTP) dapat mencapai di atas 100.
Pembangunan pertanian sesuai Nawa Cita Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019 adalah mewujudkan kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani, hal ini sesuai dengan tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Perubahan Tengah tahun 2013-2018, bahwa salah satu tujuannya adalah : Meningkatnya ketersediaan kebutuhan pokok dan dapat dipertahankan pada tingkat aman melalui swasembada pangan dan disertai dengan tersedianya instrumen jaminan pangan pada tingkat masyarakat (Bappeda Jateng, 2017).
2
Pemerintah telah mentargetkan swasembada pangan nasional untuk komoditas padi, jagung dan kedelai dan salah satu wilayah andalan pendukungnya provinsi jawa tengah. Guna mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menerapkan program upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai melalui berbagai program antara lain luas tambah tanam, serapan gabah dan optimalisasi pemanfaatan alsintan. Guna mencapai tujuan tersebut maka pemerintah memberikan fasilitasi kegiatan yaitu mekanisasi pertanian, penyediaan benih berkualitas, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan embung serta gerakan pengendalian OPT. Dukungan mekanisasi pertanian diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil melalui peningkatan produksi dan pengurangan hasil panen yang selama ini tingkat kehilangan masih tinggi (Kementan, 2015).
Alat dan mesin pertanian (alsintan) adalah sarana yang digunakan untuk usaha pertanian, khususnya dalam rangka substitusi tenaga kerja di sektor pertanian. Alsintan yang difasilitasikan pemerintah ada tiga jenis yaitu a) Alsintan pra panen, b) pasca panen dan c) Alsintan pengolahan hasil. Alsintan pra panen memiliki fungsi untuk pelaksanaan proses produksi pada tahap budidaya sampai menjelang panen, penggunaan Alsintan dapat dilakukan dengan memberikan hasil penekanan biaya input;
Alsintan pasca panen memiliki fungsi proses produksi panen dan pasca panen, Alsintan dapat mengurangi biaya panen dan pasca panen serta mengurangi kehilangan hasil; Alsintan pengolahan hasil memiliki fungsi meningkatkan nilai tambah sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
Jenis Alsintan pra panen dan pasca panen sangat menentukan peningkatan produksi dari sisi kuantittas dan kulitas hasil panen. Alsintan pra panen meliputi alat pengolahan tanah, berupa traktor roda dua dan roda empat beserta kelengkapannya; pompa air dan excavator untuk mendukung ketersediaan air irigasi; Alat tanam berupa rice transplanter dan alat tanam jagung, cultivator dan sprayer. Alsintan pasca panen meliputi combine harvester (skala kecil, sedang dan besar); power threser padi; corn sheler;
power threser multiguna; unit pengolahan hasil jagung; unit pengolahan
3
hasil kedelai; polisher; corn combine harvester; vertical driyer padi, vertikal driyer jagung, sarana pengangkut hasil pertanian(Kementan, 2017)
Alsintan di Provinsi Jawa Tengah diperoleh dari program/kegiatan dengan sumber dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah.
Untuk memperoleh Alsintan, kelompok tani atau gabungan kelompok tani mengajukan proposal melalui ke Dinas Pertanian Kabupaten. Untuk memperoleh Alsintan dari kementerian pertanian ada dua cara yaitu proposal dari Dinas Pertanian Kabupaten diajukan langsung ke Kementerian Pertanian dan proposal diajukan melalui Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, sedangkan untuk memperoleh Alsintan dari APBD Provinsi Jawa Tengah, proposal dari Dinas Pertanian Kabupaten diajukan ke Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. Proses pengajuan Alsintan top down belum menjamin bahwa Alsintan yang difasilitasikan sesuai dengan kebutuhan petani dan kondisi agroekologi setempat hal ini kemungkinan disebabkan pengajuan belum dilakukan secara teknis yang terperinci dari kelompok atau alat yang diberikan oleh pemerintah dalam bentuk paket sehingga tidak dibedakan berdasarkan kondisi agroekologi setempat.
Status kepemilikan Alsintan yang difasilitasikan kepada petani pada tahun 2013-2016 merupakan hibah murni sehingga pengelolaanya dilakukan kelompok tani (Poktan), Gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) tetapi mulai tahun 2017 fasilitasi Alsintan kepada petani status kepemilikan Alsintan menjadi aset provinsi dan aset kabupaten. Berkaitan dengan hal tersebut maka pengelolaan Alsintan dilakukan oleh brigade yaitu brigade provinsi (Dinas Pertanian), brigade kabupaten (Dinas Pertanian, Kodim) dan brigade lapangan Poktan/Gapoktan/UPJA.
Kabupaten Grobogan dan Magelang merupakan kabupaten dengan sektor pertanian masih merupakan sektor dominan dalam menunjang perekonomian masyarakat. Hal ini terlihat dari luas lahan pertanian di Kabupaten Grobogan sebesar 165.858 Ha atau 83,94% dari luas lahan kabupaten (BPS Kabupaten Grobogan, 2017) sedangkan di Kabupaten
4
Magelang sebesar 86.405 Ha atau 79,58% dari luas lahan kabupaten (BPS Kabupaten Magelang, 2017). Walaupun sebagai daerah pertanian, kondisi agroekologi Kabupaten Grobogan dan Magelang sangat berbeda dari segi topografi, jenis tanah, pengairan.
Wilayah Kabupaten Magelang sebagian besar merupakan dataran pada ketinggian antara 150 - 3.271 meter diatas permukaan laut (dpl). Terdapat 3 gunung utama di Kabupaten Magelang yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Gunung Sumbing. Karakteristik topografi terkait dengan ketinggian tempat, dimana wilayah Kabupaten Magelang dapat dibagi dalam 5 kelas ketinggian yaitu 150-500 meter dpl, 500-750 meter dpl, 750- 1000 meter dpl, 1000-1500 meter dpl dan 1500-3271 meter dpl. Sedangkan untuk kemiringan lahan, dibedakan menjadi 6 kelas kemiringan lahan yaitu datar (0-8%) dengan luas 57.312 Ha (50,69%), bergelombang (8-15%) dengan luas 10.887 Ha (9,63%), agak curam (15-30 %) dengan luas 21.034 Ha (18,60%), curam (30-45%) dengan luas 7.757 Ha (6,86%), sangat curam (45 – 60%) dengan luas 3.323 Ha (2,94%) dan sangat curam sekali (>60%) dengan luas 12.743 Ha (11,27%). Kelompok Jenis Tanah adalah Aluvial Coklat Tua Kekelabuan, Andosol Coklat, Asosiasi Andosol Coklat, Komplek Andosol Kelabu Tua & Litosol, Komplek Latosol Coklat Kemerahan & Litosol, Komplek Litosol Merah Kekuningan & Latosol Coklat, Komplek Regosol Kekelabuan dan Litosol, Latosol Coklat, Regosol Coklat Kekelabuan (BPS Kabupaten Magelang, 2017).
Wilayah Kabupaten Grobogan secara topografi dibagi menjadi 3 kelompok yakni daerah dataran rendah berada pada ketinggian sampai 50 meter (dpl) dengan kelerengan 0-8%, daerah perbukitan berada pada ketinggian anatara 50-100 meter (dpl) dengan kelerengan 8% - 15% dan daerah dataran tinggi berada pada ketinggian antara 100-500 meter (dpl) dengan kelerengan lebih dari 15%. Hampir seluruh wilayah berada pada ketinggian dibawah 100 meter dpl. Sedangkan ketinggian diatas 100 m- 200 meter dari permukaan laut berada di wilayah selatan dari Kabupaten Grobogan. Sedangkan wilayah utara yang berbatasan dengan Kabupaten Blora dan Pati adalah wilayah pegunungan yang berketinggian hingga diatas
5
500 m dpl. Sebagian besar kecamatan di Kabupaten Grobogan adalah lahan datar, atau memiliki kelerengan dibawah 8%, terutama pada wilayah tengah.
Sedangkan di wilayah utara karena merupakan daerah pegunungan kapur maka tingkat kelerangan hingga mencapai diatas 40%, demikian juga halnya di wilayah selatan, merupakan wilayah padas ataupun kapur, dengan tanaman jati. Jenis tanah di Kabupaten Grobogan dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis tanah alluvial coklat kekelabuan, tanah alluvial kelabu dan alluvial coklat kekelabuan, tanah grumosol kelabu tua, tanah grumosol kelabu, assosiasi grumosol coklat kekelabuan dan grumosol kelabu tua, kompleks regosol kelabu dan grumosol kelabu tua, dan kompleks mediteran coklat kemerahan dan lithosol (BPS Kabupaten Grobogan, 2017)
Kondisi agroekologi dua wilayah kabupaten (Kabupaten Magelang dan Kabupaten Grobogan) yang saling berbeda, tetapi jenis Alsintan yang diperoleh masyarakat masing-masing wilayah adalah sama, artinya fasilitasi Alsintan masih belum memperhatikan kebutuhan dan kondisi agro ekologi setempat. Pemanfaatan Alsintan di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang masih bertumpu pada Alsintan hand traktor untuk pengolahan tanah sedangkan alat yang lain seperti traktor roda 4 dan alat panen padi jenis combine tractor masih belum optimal, karena Alsintan tersebut kalau digunakan pada musim tanam satu (musim penghujan) akan menyebabkan Alsintan amblas dalam tanah sehingga menyebabkan alat tidak bisa berfungsi bahkan menambah biaya untuk mengeluarkan.
Pengelolaan Alsintan di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang saling berbeda tergantung pada kelembagaan yang mengelolanya khususnya lembaga yang dilapangan yang berbeda. Di Kabupaten Grobogan UPJA sudah membentuk asosiasi sehingga model pengelolaan Alsintan di seluruh wilayah Kabupaten Grobogan memiliki managemen yang hampir sama, sedangkan Gapoktan dan Poktan masing-masing mengelola berdasarkan hasil kesepakatan kelompok. Dalam kesepakatan ada yang sudah memperhatikan keberlanjutan dan pengembangan Alsintan tetapi ada yang belum memperhatikan aspek keberlanjtan dan pengembangan.
6
Untuk mengoptimalkan produksi padi dan pendapatan dari usahatani padi maka salah satu faktor penggunaan input bisa ditekan dengan menggunakan Alsintan. Permasalahan yang sering muncul dalam pengelolaan Alsintan pada budidaya padi adalah bantuan atau ketersediaan alat belum sesuai kebutuhan petani dan kondisi agroekologi lahan sawah Pengelolaan Alsintan milik kelompok tani seringkali belum memberikan tambahan hasil usaha untuk kelompok petani. Selain itu terdapat kendala operasional dan pemeliharaan yang benar karena terbatasnya pengetahuan teknis petani, bahkan sering muncul kendala ketersediaan biaya pemeliharaan alat dan mesin pertanian. Pengelolaan Alsintan ditingkat petani atau kelompok bertujuan bagaimana alat dan mesin pertanian tersebut mampu membiayai operasional alat itu sendiri dan memberikan keuntungan kelompok tani melalui pengelolaan yang baik agar kepemilikan alat dan mesin pertanian tersebut terus berlangsung dan lestari sehingga memberikan nilai kemanfaatan bagi petani dan kelompok petani.
Komoditas padi merupakan komoditas prioritas dan politik karena komoditas padi merupakan pangan pokok bagi bangsa Indonesia sehingga harus dapat dipenuhi tepat waktu, jumlah, tempat, mutu dan harga sehingga pangan tersebut mudah diakses oleh masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2017, produksi padi di Kabupaten Grobogan rata-rata setiap tahun sebesar 753 965 ton dan Kabupaten Magelang 358.555 ton. Di kedua kabupaten tersebut, dalam budidaya padi telah memanfaatkan Alsintan, sehingga pencapaian produksi padi tersebut pastinya selain dipengaruhi luas lahan juga dipengaruhi pengelolaan Alsintan. Namun sampai saat ini belum diketahui seberapa besar pengaruh pengelolaan Alsintan pada peningkatan produksi padi dan penghasilan petani dan atau kelompok tani. Berkaitan dengan permasalahan di atas, perlu dievaluasi pengelolaan dan pemanfaatan Alsintan dalam rangka mendukung uasahatani padi di Jawa Tengah.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka kebijakan pemerintah terkait program Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi
7
padi melalui kegiatan fasilitasi Alsintan kepada petani perlu dievaluasi untuk pemanfaatan dan pengelolaannya, yakni :
1. Bagaimana pemanfaatan Alsintan di lembaga pengelola Alsintan?
2. Bagaimana kelembagaan pengelolaan Alsintan ? 3. Bagaimana manajemen pengelolaan Alsintan?
4. Bagaimana analisis Financial Jasa Penggunaan Alsintan ?
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program alat mesin pertanian yang dikelola oleh lembaga pertanian apakah memberikan manfaat untuk produksi padi.
Tujuan kegiatan penelitian ini, adalah :
1. Menganalisis pemanfaatan Alsintan di lembaga pengelola Alsintan;
2. Menganalisis kelembagaan pengelola Alsintan;
3. Menganalisis manajemen pengelolaan Alsintan;
4. Menganalisis financial Jasa Penggunaan Alsintan.
1.4. SASARAN
Mengevaluasi pemanfaatan dan pengelolaan Alsintan fasilitasi dari pemerintah sehingga memberikan dampak pada efisiensi input dan maksimal produksi, serta dapat digunakan untuk memberikan masukan pada kebijakan fasilitasi Alsintan yang sesuai dengan kebutuhan.
1.5. RUANG LINGKUP
Penelitian difokuskan pada alsintan yang digunakan untuk usahatani padi karena komoditas padi merupakan komoditas prioritas untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat Jawa Tengah yang makanan pokoknya beras. Adapun ruang lingkup kajian terhadap pengelolaan dan pemanfaatan Alsintan untuk komoditas padi, meliputi :
1. Luas lahan;
2. Kondisi iklim dan topografi;
3. Jenis dan jumlah Alsintan;
8 4. Pemanfaatan Alsintan;
5. Pengelolaan Alsintan;
6. Kelembagaan Alsintan;
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. SARANA ALAT MESIN PERTANIAN
Pertanian sebagai suatu sistem produksi dengan keluaran berupa produksi hasil-hasil pertanian akan membutuhkan sarana produksi (pupuk, bibit, pestisida dll), kondisi iklim sebagai lingkungan yang tak terkendali (given), alat dan mesin pertanian untuk memperlancar proses produksi.
Tujuan penggunaan mesin pertanian untuk (i) meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja; (ii) mempercepat dan efisiensi proses; (iii) menekan biaya produksi. Adanya ketiga tujuan khusus tersebut menjadikan alat atau mesin pertanian sebagai suplemen, substitutor dan/atau faktor komplemen dalam proses produksi pertanian. Oleh Bambang HS (2015), dinyatakan bahwa alat mesin pertanian diperlukan untuk membantu pelaksanaan proses produksi agar lebih tepat waktu, lebih meringankan beban kerja sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kerja petani. Ketersediaan alat mesin pertanian sangat tergantung pada kebutuhan yang timbul sesuai dengan aras perkembangan mekanisasi di sektor produksi pertanian pangan. Ditingkat operasional kebutuhan sarana peralatan mekanisasi lebih didasari pertimbangan ekonomi. Meningkatnya praktik pengolahan tanah sawah dengan traktor tangan menunjukkan adanya kebutuhan petani untuk mempersiapkan biaya pengolahan tanah yang lebih murah daripada biaya pengolahan secara manual.
Kegiatan proses produksi diluar on farm, di luar pengolahan tanah, yang sebagain besar masih dilakukan secara manual secara bertahap akan mengalami perubahan apabila biayanya mahal. Oleh karena itu sarana peralatan tanam, pemeliharaan dan panen perlu disesuaikan dengan kebutuhan melalui proses inovasi teknologi keberlanjutan bersama-sama dengan petani agar dapat diperoleh peralatan yang dapat diasopsi oleh petani.
Daya dukung teknologi untuk mengembangkan sarana peralatan mekanis dalam negeri perlu dibangun untuk mengurangi ketergantungan impor peralatan pertanian, hal ini dpat dilakukan dengan meningkatkan bea
10
masuk produksi alsintan yang saat ini masih berkisar 7% dan menurunkan bea masuk bahan baku yang saat ini masih pada kisaran 20-30% (Anonim, 2006)
Pengembangan teknologi pertanian sebaiknya diselaraskan dengan program pemanfaatan dan perluasan areal pertanian melalui pengembangan konsep agropolitan diwilayah pertanian terpadu. Penyediaan sarana peralatan mesin pertanian juga memiliki arti strategis karena dapat membantu meningkatkan ketertarikan generasi muda masuk ke sektor pertanian dengan pertimbangan kenyamanan kerja dan prestise yang lebih baik di mata masyarakat.
2.2. ALAT MESIN PERTANIAN
Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, NAWA CITA menjadi agenda prioritas Kabinet Kerja dengan mengarahkan pembangunan pertanian kedepan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, agar indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara berdaulat. Sub agenda terkait pertanian dalam NAWA CITA adalah kedaulatan pangan dan peningkatan agroindustri untuk selanjutnya diterjemahkan menjadi visi kementerian pertanian yaitu “Terwujudnya Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani” (Kementan, 2015).
Berkaitan dengan hal tersebut maka implementasi pertanian dengan mekanisasi pertanian sangat penting karena mekanisasi pertanian berperan untuk meningkatkan luas garapan dan intensitas tanam sehingga akan meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha tani, menekan kehilangan hasil, meningkatkan, meningkatkan mutu dan nilai tambah produk pertanian serta memperluas kesempatan kerja dipedesaan melalui terciptanya sistem agribisnia yang terpadu yang akhirnya memacu kegiatan ekonomi di pedesaan (Manwan dan Ananto, 1994 ). Pengembangan industri pertanian di pedesaan yang mandiri dan didukung oleh mekanisasi pertanian tepat guna merupakan pijakan untuk mewujudkan industri padi yang efisien dan berdaya saing (Handoko, 1999 dan Suryono, 2007).
11
Secara konseptual, mekanisasi pertanian adalah proses pengenalan dan penggunaan bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan produktivitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi. Penggunaan alat dan mesin juga dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktivitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani.
Alat mesin pertanian ialah susunan dari alat-alat yang kompleks yang saling terkait dan mempunyai sistem transmisi (perubah gerak), serta mempunyai tujuan tertentu di bidang pertanian dan untuk mengoperasikannya diperlukan masukan tenaga. Alat mesin pertanian bertujuan untuk mengerjakan pekerjaan yang ada hubungannya dengan pertanian, seperti alat mesin pengolahan tanah, alat mesin pengairan, alat mesin pemberantas hama, dan sebagainya. Alat dan mesin pertanian secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Alat mesin pembukaan lahan, bulldozer, chainshaw, stumper, rotary cutter, heavy disc dan rock rake.
2. Alat mesin untuk produksi pertanian antara lain : Alat mesin pengolahan tanah, alat mesin penanam, alat mesin pemeliharaan tanaman, alat mesin pemanen.
3. Alat mesin processing hasil pertanian (pascapanen) antara lain : Alat mesin pengering, alat mesin pembersih atau pemisah, alat mesin pengupas atau penyosoh atau reduksi (Soekirno,1999).
Manfaat alsintan antara lain : 1) Meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan produktivitas, 2) Mengurangi kejerihan kerja petani dan meningkatkan kenyamanan kerja di pedesaan, 3) Meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, 4) Menjamin kuantitas, kualitas dan peningkatan kapasitas hasil, 5) Mempercepat peralihan pertanian keluarga (subsistence farming), dan 6) Mempercepat transformasi ekonomi agraris ke ekonomi industri (BBPMP, 2008).
12 2.3. PENGELOLAAN
Kata pengelolaan dapat disamakan dengan manajemen, berarti pula pengaturan atau pengurusan (Arikunto, 1993). Menurut Stoner (dalam Kaho 1997) manajemen dapat dilihat sebagai proses, yakni: proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Maka, pengelolaan dapat diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu. Pengelolaan dapat diartikan juga managemen, yaitu kegiatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengontrolan terhadap penggunaan sumberdaya yang dimiliki dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
Pengelolaan barang milik daerah oleh pemerintah daerah telah dilaksanakan dengan benar dan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, yang mana didalamnya berisi mengenai Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Pemanfaatan Barang Milik
Daerah yang dilakukan Pemerintah Daerah dilaksanakan berdasarkan teknis dengan memperhatikan kepentingan daerah dan kepentingan umum.
Dalam hal ini bentuk pemanfaatan yang sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah ada dalam Pasal 27 : (1). Sewa, sewa adalah Pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai;
(2) Pinjam Pakai, pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali; (3) Kerjasama Pemanfaatan. Ini berarti pendayagunaan Barang Milik Negara/Daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan negara bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya (Era Nandya Febriana, Jayus, Rosita Indrayati; 2017)
Pengelolaan dalam penelitian ini adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengontrolan dan pengawasan dalam
13
penggunaan sumberdaya yang dimiliki yaitu sumberdaya alat dan mesin yang diperoleh dari pemerintah baik dalam bentuk hibah maupun pinjam pakai.
2.4. USAHATANI PADI
Budidaya Padi Sawah menurut Purwono dan Purnamawati (2009), padi tergolong dalam famili Gramineae (rumput-rumputan). Padi dapat beradaptasi pada lingkungan aerob dan nonaerob. Batang padi berbuku dan berongga, dari buku batang inilah tumbuh anakan atau daun. Akar padi adalah akar serabut yang sangat sensitif dalam penyerapan hara, tetapi peka terhadap kekeringan. Biji padi mengandung butiran pati amilosa dan amilopektin yang mempengaruhi mutu dan rasa nasi.
Padi merupakan bahan makanan pokok sehari- hari pada kebanyakan penduduk di negara Indonesia. Padi dikenal sebagai sumber karbohidrat terutama pada bagian endosperma, bagian lain daripada padi umumnya dikenal dengan bahan baku industri, antara lain : minyak dari bagian kulit luar beras (katul), sekam sebagai bahan bakar atau bahan pembuat kertas dan pupuk. Padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat digantikan oleh bahan makanan yang lain, oleh sebab itu padi disebut juga makanan energi (AAK, 1990). Padi adalah komoditas utama yang berperan sebagai pemenuh kebutuhan pokok karbohidrat bagi penduduk.Komoditas padi memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan utama yang setiap tahunnya meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk yang besar, serta berkembangnya industri pangan dan pakan (Yusuf, 2010). Ciri khusus budidaya padi sawah adalah adanya penggenangan selama fase pertumbuhan tanaman.Budidaya padi sawah dilakukan pada tanah yang berstruktur lumpur.Tahapan budidaya padi sawah secara garis besar adalah penyiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman, dan panen.Pemberian air pada tanaman padi disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yakni dengan mengatur ketinggian genangan.Ketinggian genangan berkisar 2-5 cm, karena jika berlebihan dapat mengurangi jumlah anakan.Prinsip pemberian
14
air adalah memberikan pada saat yang tepat, jumlah yang cukup, kualitas air yang baik, dan disesuaikan fase pertumbuhan tanaman. Budidaya padi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Persiapan Lahan
Pengolahan lahan dapat dilakukan secara sempurna yaitu 2 kali bajak dan 1 kali garu atau minimal tanpa olah tanah sesuai keperluan dan kondisi lahan. Faktor yang menentukan pengolahan tanah adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis/tekstur tanah.
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cara tradisional yaiu dengan menggunakan tenaga manusia atau hewan tetapi untuk mempercepat proses pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan alat mesin berupa traktor roda dua dan roda empat. Traktor tangan ini digerakkan oleh motor penggerak dengan daya yang dihasilkan sekitar 4-12 hp. Menurut Soedjatmiko (1972), traktor tangan merupakan salah satu sumber tenaga alat pengolahan tanah yang digunakan baik di lahan sawah (basah) maupun di tegalan (lahan kering) yang bertenaga mesin “Internal Combustion Engine”, beroda dua dan mempunyai tenaga kurang dari 12 hp serta bersifat serba guna.
Kemampuan traktor roda dua untuk mengolah tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah: ukuran dan bentuk petakan, topografi wilayah (datar, bergelombang, berbukit), keadaan traktor (lama atau baru), keadaan vegetasi (tumbuhan yang ada dipermukaan tanah), Keadaan tanah (kering, basah, liat/berlempung, atau keras), Tingkat keterampilan operator (sudah berpengalaman, terampil atau belum berpengalaman), Pola pengolahan tanah (pola spiral, pola tepi, pola tengah, dan pola alfa)
Tabel 2.1.
Kapasitas Kerja Pengolahan Tanah Tenaga Kerja
Penarik Hp Jenis Alat Kapasitas Kerja(Ha/Musim)
Keadaan Tanah dan Jumlah Pembajakan Manusia(Pria) 0,054 Cangkul 0,5 Sawah, 2 x cangkul Sepasang
terna(kerbau/sapi)
1,072 Bajak Singkal 2 - 3 Sawah, 2 x bajak Traktor tangan
Roda 2
5-9 Bajak singkal 0,0055 Sawah 2 x bajak Bajak rotary 0,0070 Sawah 2 x bajak Traktor Mini
Roda 4
12-25 Bajak rotary 0,0090 Sawah 1 x bajak Sumber : Sulkifar SP, MP
15 2. Penanaman
Tanaman bibit muda ditanam pada umur <21 hari setelah sebar (hss) sebanyak 1-3 bibit/rumpun. Bibit lebih muda 14 HSS dengan 1 bibit/rumpun akan menghasilkan anakan lebih banyak.
Mesin tanam pindah bibit padi (transplanter) sistem jajar legowo atau jarwo. Transplanter Jarwo adalah mesin penanam padi yang digunakan pada areal tanah sawah kondisi siap tanam untuk menanam bibit padi dari hasil semaian yang menggunakan tray atau dapog dengan umur bibit sekitar 15 hari atau ketinggian bibit tertentu. Mesin tanam ini dirancang agar dapat beroperasi pada lahan berlumpur (puddle) dengan kedalaman kurang dari 40 cm. Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung (Taufik, 2010).
Sejak beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan dan dikembangkan mesin tanam pindah bibit padi (rice transplanter). Mesin penanam padi adalah mesin yang digunakan untuk menanam bibit padi yang telah disemaikan pada areal khusus (menggunakan tray/dapog) dengan umur atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah kondisi siap tanam, dan mesin dirancang untuk bekerja pada lahan berlumpur (puddle) dengan kedalaman kurang dari 40 cm. Oleh karena itu mesin ini dirancang ringan dan dilengkapi dengan alat pengapung (Taufik, 2010). Mesin penanam padi adalah mesin modern untuk menanam bibit padi dengan sistem penanaman yang serentak. Cara penggunaan mesin penanam padi bibit gabah dalam petakan sawah seluas 20×80 cm. Setelah tumbuh menjadi bibit dan sudah berumur 15 hari, bibit tersebut ditaruh di atas mesin penanam padi, dalam sekali gerak, mesin ini dapat membuat 4 jalur dengan jarak antar jalur 30 cm.
Pada saat operasional uji mesin penanam padi menggunakan 3 tenaga kerja, yaitu 1 orang sebagai operator dan 2 orang sebagai pembantu penyiapan bibit. Pengujian mesin penanam padi di operasikan pada variasi putaran motor penggerak 3100 rpm dan 3600 rpm. Perhitungan parameter kapasitas kerja, slip roda, waktu hilang, kebutuhan energi dan bahan bakar
16
dihitung. Hasil pengamatan dan pengukuran parameter pada masing - masing putaran enjin penggerak 3100 rpm dan 3600 rpm.
Kapasitas kerja rata-rata jarwo transplanter adalah 5,2 jam/ha. Slip yang terjadi pada uji lapang di KP. Sukamandi memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan di KP. Muara, hal ini dikarenakan sebagian besar tekstur tanah di KP. Sukamandi mengandung debu yang lebih banyak.
Banyaknya kandungan debu akan membentuk pelumpuran yang baik. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap bibit yang tak tertanam/hilang akibat sliding yang terjadi, sehingga kandungan debu dan kedalaman pelumpuran yang tinggi akan mengakibatkan slip semakin besar pada roda (Kementan, 2014).
3. Pemeliharaan :
a. Pengairan : Pengairan diberikan pada awal penanaman dan berselang. Pengairan berselang perlu dilakukan. Tujuan pengairan berselang: i) Menghemat air irigasi sehingga yang dapat diairi lebih luas; ii) Akar tanaman lebih banyak memperoleh udara; iii) Mencegah timbulnya keracunan besi; iv) Mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S; v) Mengaktifkan jasad renik yang bermafaat; vi) Mengurangi kerebahan; vii) Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif; viii) Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen; ix) Memudahkan pembenaman pupuk kedalam tanah; x) Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat.
Pengairan dilakukan dengan cara konvesional dan modern. Dengan menggunakan alat dan mesin berupa pompa.
b. Pemupukan
Pemupukan pada budidaya padi menggunakan prinsip pemupukan berimbang. Pemupukan berimbang, yaitu pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Untuk setiap ton gabah yang
17
dihasilkan, tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17,5 kg; P sebanyak 3 kg dan K sebanyak 17 kg. Dengan demikian jika kita ingin memperoleh hasil gabah tinggi sudah barang tentu diperlukan pupuk yang lebih banyak, Namun demikian tingkat hasil yang ditetapkan juga memperhatikan daya dukung lingkungan setempat dengan melihat produktivitas padi pada tahun-tahun sebelumnya.
4. Panen dan Pasca Panen
Padi sebagai tanaman yang dibudidayakan dengan pola tanam serentak, pada saat dipanen membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak agar panen dapat dilakukan tepat waktu. Kebutuhan tenaga kerja yang besar pada saat panen ini menjadi masalah pada daerah-daerah tertentu yang penduduknya sedikit.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja adalah dengan cara meningkatkan kapasitas dan efisiensi kerja dengan menggunakan mesin panen. Keuntungan menggunakan mesin panen antara lain lebih efisien dan biaya panen per hektar dapat lebih rendah dibanding cara tradisional.
Pemanenan dilakukan pada saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power tresher atau pedal tresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras.
Pemanenan sekarang juga menggunakan alsintan combine kavester, combine kavester adalah alat pemanen padi yang dapat memotong bulir tanaman yang berdiri, merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan dilapangan. Dengan demikian waktu pemanen lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia (manual) serta tidak membutuhkan jumlah tenaga kerja manusia yang besar seperti pada
18
pemanenan tradisional. Penggunaan alat ini memerlukan investasi yang besar dan tenaga terlatih yang dapat mengoprasikan alat ini (Barokah, 2001).
Secara umum fungsi operasional dasar combine harvester adalah sebagai berikut : Memotong tanaman yang masih berdiri, menyalurkan tanaman yang terpotong ke selinder, merontokkan gabah dari tangkai atau batang, Memisahkan gabah dari jerami, membersihkan gabah dengan cara membuang gabah kosong dan benda asing. Adapun prinsip kerja combine harvester adalah: i) Padi yang dipotong termasuk jeraminya, semuanya dimasukkan ke bagian perontokan, gabah hasil perontokan ditampung dalam tangki, dan jeraminya di tebarkan secara acak di atas permukaan tanah, Semua jenis combine ini dioperasikan dengan cara dikendarai (riding type).
Lebar pemotongan berkisar antara1,5 hingga 6 meter. Namun yang populer adalah 4 meter; ii) Mesin sebagai sumber tenaga gerak adalah sekitar 25 hp per 1 meter lebar pemotongan. Bagian penggerak majunya adalah menggunakan roda, atau half-track type atau full-track type.
Salah satu contoh mesin pemanen padi otomatis tipe combine harvester adalah mesin panen padi Indo Combine Harvester hasil rancangan Badan Litbang Pertanian untuk mendukung pencapaian program swasembada beras nasional melalui usaha penurunan susut hasil panen.
Kemampuan kerja mesin pemanen padi otomatis tipe combine harvester rancangan litbang pertanian ini mampu menggabungkan kegiatan potong-angkut-rontok-pembersihan-sortasi-pengantongan dalam satu proses kegiatan yang terkontrol.
Adanya proses kegiatan panen yang tergabung dan terkontrol menyebabkan susut hasil yang terjadi hanya sebesar 1,87% atau berada di bawah rata-rata susut hasil metode “gropyokan” (sekitar 10%). Sedangkan tingkat kebersihan gabah panen yang dihasilkan oleh mesin tersebut mencapai 99,5%. Mesin panen padi Indo Combine Harvester yang dioperasikan oleh 1 orang operator dan 2 pembantu mampu menggantikan tenaga kerja panen sekitar 50 HOK/ha. Kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam per hektar.
19 2.5. ANALISA EKONOMI
Analisis ekonomi adalah proses dimana kekuatan dan kelemahan suatu kegiatan atau proyek atau usaha dianalisis secara ekonomi. Aktivitas analisis ekonomi sangat penting untuk memahami kondisi ekonomi yang tepat terhadap suatu kegiatan atau proyek atau usaha. Kegiatan analisa ekonomi dapat mencakup sejumlah isu-isu ekonomi penting yang terus cropping up dalam ekonomi tertentu, yang sedang dianalisis.
Analisa ekonomi untuk penggunaan alat mesin pertanian pada usahatani padi berfungsi untuk mengetahui apakah penggunaan alat mesin tersebut dapat menguntungkan atau tidak menguntungkan. Dimana menurut Hunt (1986) dan De Garmo et al.(1984) dinyatakan analisis ekonomi dapat didasarkan pada analisis biaya yaitu :
1. Biaya Tetap. Biaya tetap merupakan fixed cost atau biaya kepemilikan dan biaya tetap pengoperasian alat dapat dihitungan dengan persamaan berikut:
Dimana:
BT = Biaya tetap (Rp/tahun)
D = Biaya penyusutan alat (Rp/tahun)
I = Tingkat pengembalian bunga modal (Rp/tahun) G = Biaya gudang = 1% P/th
P = Harga alat (Rp)
S = Harga akhir alat, 10 % P (Rp) i = Suku bunga modal di bank N = umur ekonomis alat (th)
2. Biaya Tidak tetap
Biaya tidak tetap merupakan variable cost sebagai biaya operasional alat. Biaya tidak tetap dari pengoperasian alat dapat dihitung dengan persamaan berikut:
dengan :
BTT = Biaya tidak tetap (Rp/jam)
PP = Biaya perbaikan dan pemeliharaan alat (Rp/jam) = 1,2 % ( P – S ) / 100 jam Bo = Upah operator tiap jam (Rp/jam) = Wop / Wt
BL = Biaya Listrik (Rp/jam)
Wop = Upah tenaga kerja tiap hari (Rp/hari) Wt = Jam kerja tiap hari (jam/hari)
20 3. Biaya Pokok
Biaya pokok pengoperasian alat (Rp/kg) dapat dihitung dengan persamaan :
dengan:
BP = Biaya pokok pengoperasian alat (Rp/kg) x = Jam kerja dalam satu tahun (jam/tahun) Kp = Kapasitas kerja alat (kg/jam)
2.6. EVALUASI PROGRAM
Menurut Endang Mulyatiningsih (2011), evaluasi program dilakukan dengan tujuan untuk: i) Menunjukkan sumbangan program terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hasil evaluasi ini penting untuk mengembangkan program yang sama ditempat lain; ii) Mengambil keputusan tentang keberlanjutan sebuah program, apakah program perlu diteruskan, diperbaiki atau dihentikan. Dilihat dari tujuannya, yaitu ingin mengetahui kondisi sesuatu, maka evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penelitian. Menurut Arikunto (2009) bahwa Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program.
Melakukan evaluasi program ialah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang telah direncanakan. Berkaiatan dengan difinisi tersebut maka evaluasi program merupakan evaluasi program merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan data atau informasi ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif kebijakan program dimasa akan datang. Karenanya, dalam keberhasilan suatu evaluasi program ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi.
Terdapat banyak model evaluasi yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi suatu program. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut, tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang
21
dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar, 2004).
22
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Lokasi penelitian dipilih di Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang memiliki karakteristik agroekologi yang berbeda sehingga mempengaruhi fungsi dan pemanfaatan Alsintan oleh petani. Penelitian akan dilaksanakan pada pengelola Alsintan (Poktan, Gapoktan, UPJA) dan Brigade Alsintan (Dinas Pertanian, Kodim, Poktan, Gapoktan, UPJA). Waktu penelitian selama sepuluh bulan, dimulai bulan Mei sampai bulan Oktober 2018.
3.2. SIFAT PENELITIAN
Penelitian bersifat evaluasi deskriptif, yaitu penelitian dengan desain evaluasi untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara sistematik sehingga diperoleh manfaat dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Metode penelitian evaluasi yang digunakan adalah dengan deskriptif kualitatif dilanjutkan dengan kuantitatif.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomologik yaitu untuk memungkinkan mengungkapkan realita dan mendeskripsikan situasi secara komprehensif dengan konteks yang sesungguhnya.
3.3. METODE PENGUMPULAN DATA 1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi merupakan wilayah generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti. Dengan kata lain, sampel merupakan sebagian atau bertindak sebagai perwakilan dari populasi sehingga hasil penelitian yang berhasil diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.
Populasi penelitian adalah alsintan yang ada di Jawa Tengah yaitu di provinsi dan 29 kabupaten. Alsintan terbagi 3 kelompok yaitu prapanen,
23
pasca panen dan pengolahan untuk komoditas padi, tetapi dalam penelitian ini fokus pada Alsintan pra panen dan pasca panen. Selajutnya dilakukan pemilahan sampel lokasi, karena keterbatasan dana dan waktu maka pemilihan sampel lokasi dilakukan secara purposive sampling. Sampel lokasi yang dipilih berdasarkan kondisi iklim, topografi dan luas lahan pertanian yaitu Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Magelang. Selanjutnya akan dipilih Gapoktan, Poktan, UPJA dan Brigade Alsintan berdasarkan kemampuan dalam memanejemen Alsintan yang dimiliki. UPJA dipilih berdasarkan kelas UPJA yaitu Pemula, Berkembang dan Profesional. Selain itu juga dipilih kondisi topografi serta lokasi sentra padi. Informan yang dipilih adalah Ketua atau pengurus Gapoktan/Poktan, Manager atau pengurus UPJA, Operator Alsintan, Pengelola Brigade dan Petani serta Kepala Bidang/Kepala Sub Bidang Dinas Pertanian yang menangani Alsintan.
2. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu : a. Indept interviue:
1) Wawancara secara mendalam dilakukan pada Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Dipertan Provinsi; Brigade Dipertan Kabupaten dan Brigade Kodim yang dilaksanakan di lokasi yaitu dengan mengunjungi pengelola Brigade Dipertan Kabupaten/Kodim, Gapoktan, Poktan, UPJA untuk memperoleh data :
- Kelembagaan Alsintan: Bentuk lembaga, status hukum lembaga, kepengurusan, uraian tugas, modal (Uang, Alsintan, Tanah, Bangunan), AD/ART, pemeliharaan alsintan, keberlanjutan Alsintan.
- Data analisa ekonomi: harga alat saat diterima, harga alat akhir, biaya gudang-simpan alat, biaya operasional alat (bahan bakar, upah tenaga kerja operasional, umur ekonomis alat, biaya perbaikan atau pemeliharaan, biaya
24
listrik (jika ada), upah tenaga kerja tiap hari, jam kerja tenaga kerja per hari, jam kerja alat per hari, jam kerja dalam satu tahun, kapasitas kerja alat (misalnya traktor mampu mengolah lahan 1 ha/4jam).
- Pengelolaan: Manajemen pengelolaanya
- Implementasi dan Manfaat Alsintan: Prosedur peminjaman, Biaya, Jenis alat yang digunakan, kapasitas penggunaan alat, kebutuhan dan ketersediaan Alsintan.
b. Wawancara pada petani: luas lahan, jenis pengairan, status lahan, varietas padi yang ditanam, bulan penanaman, pola tanam, sistem pengolahan tanah, sistem tanam, pemeliharaan, sistem panen, ketersediaan tenaga kerja, penggunaan Alsintan, analisa usahatani padi, manfaat Alsintan, Jenis alsintan yang digunakan, usahatani padi.
c. Forum Group Discussion (FGD), dilakukan untuk memperkuat hasil indept interviue. FGD dilakukan dengan tokoh-tokoh kunci seperti pengurus kelembagaan yang menangani Alsintan Gapoktan, Poktan, UPJA, Brigade Kabupaten/Provinsi dan petani yang menggunakan Alsintan serta petani yang tidak menggunakan Alsintan, Bappeda, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).
3. Sumber data
Berdasarkan cara memperolehnya, data penelitian ada dua, yaitu : a. Data primer: data yang diambil dari pengelola Alsintan di Brigade
maupun dikelompok dan petani sebagai pengguna.
b. Data sekunder: data yang diperoleh dari dinas teknis yaitu Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten kaitan dengan jumlah Alsintan, jenis Alsintan, penyaluran Alsintan, analisa usahatani padi.
3.4. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Pengolahan data dilakukan dengan mengelompokkan data berdasarkan implementasi alsintan (jenis alsintan, jumlah alsintan, distribusi alsintan,
25
kesesuaian alsintan dengan kondisi geografis); Pengelolaan (Manajemen alsintan) Kelembagaan (Struktur organisasi, posisi kelembagaan alsintan);
ekonomi (analisa alsintan). Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
26
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. GAMBARAN UMUM
4.1.1. Sejarah dan Kebijakan Mekanisasi Pertanian
Pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1914 mekanisasi pertanian mulai di gunakan pada perkebunan Gula Tebu di Sidoarjo, kemudian berkembang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Sumatera Utara pada perkebunan tembakau di Deli penggunaan mekanisasi pertanian juga berkembang pesat (http://mekanisasisuplirahim.blogspot.com/2013/05/sejarah- mekanisasi-di-indo). Perkembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia, secara kronologis sebagai berikut :
a. Tahun 1951, dilakukan pendidikan tenaga bidang mekanisasi pertanian di luar negeri, dan kemudian diresmikan pula Bagian Mekanisasi Pertanian di Departemen Pertanian.
b. Tahun 1958, PT Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah (PT BMPT) didirikan dan dilakukan Introduksi traktor tangan dari Jepang.
c. Tahun 1962, PT BMPT berubah menjadi MEKATANI. Peralatan mekanis dibantu oleh Negara Eropa Timur dan dikelola MEKATANI.
Pada periode 1952 - 1962, diperkirakan telah beredar 10.000-an unit mesin pertanian untuk kegiatan mekanisasi pertanian.
d. Tahun 1963/1964, Institut Pendidikan Tinggi di bidang Mekanisasi Pertanian didirikan di UGM dan IPB, dan kemudian tahun 1967 diadakan acara Simposium Nasional Mekanisasi Pertanian.
e. Tahun 1980-an, peralatan sederhana sprayer dan lainnya telah diproduksi di dalam negeri. Pada periode ini juga penggunaan traktor besar untuk pembukaan dan penyiapan lahan perkebunan telah banyak digunakan, termasuk alat pemberantas hama dan penyakit, transportasi dan mesin tanam tebu.
4.1.2. Kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Tengah
Peranan mekanisasi pertanian dalam Pembangunan Nasional, adalah untuk: Mempertinggi efisiensi tenaga manusia; Meningkatkan derajat dan
27
taraf hidup petani; Meningkatkan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian; Memungkinkan pertumbuhan skala usaha tani, yaitu dari skala pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistem farming) menjadi pertanian perusahaan (commercial farming); dan Mempercepat transisi bentuk ekonomi pertanian dari sifat agraris menjadi industri. Sedangkan ruang lingkup mekanisasi pertanian meliputi :
- Bidang mesin-mesin budidaya pertanian, yang menelaah persoalan- persoalan penggunaan tenaga dan alat-alat dan mesin untuk budidaya pertanian.
- Bidang teknik tanah dan air, yang menelaah persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan keadaan teknik tanah dan air.
- Bidang bangunan pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan gedung-gedung, bangunan dan perlengkapan pertanian.
- Bidang mesin-mesin pengolahan hasil pertanian, yang menelaah persoalan-persoalan penggunaan mesin-mesin yang dipakai dalam usaha menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan maupun untuk langsung digunakan.
- Bidang mesin-mesin pengolahan pangan, yang menelaah persoalan- persoalan penggunaan alat serta syarat-syarat yang diperlukan bagi suatu pengolahan pangan.
- Kebijakan mekanisasi pertanian di Jawa Tengah tertuang di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah pada sektor pertanian, khususnya dalam rangka peningkatan produksi pangan. Namun, secara eksplisit kebijakan dan program pemanfaatan, pembangunan dan pengembangan mekanisasi pertanian tidak tersurat di dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, baik pada RPJMD maupun di dalam RKPD. Perencanaan pembangunan pertanian akan mempengaruhi kondisi pertanian di jawa tengah diantaranya adalah capaian luas tanam yang akan mempengaruhi produksi.
28 4.1.2.1. Luas Tanam Padi Sawah
Komoditas padi merupakan salah satu komoditas yang menjadi sasaran untuk peningkatan produksi, produktivitas dan mutu pangan.
Berkaitan dengan hal tersebut maka berbagai upaya dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada secara maksimal sehingga pencapaian produksi bisa tercapai. Untuk memperoleh capaian produksi maka pemerintah telah menetapkan taget luas tanam. Target luas tambah tanam (LTT) ditetapkan setiap tahun dan selalu dipantau oleh kementan. Target LTT pada bulan Oktober-April tahun 2016/2017 ditetapkan seluas 1.569.363 ha dan pada bulan Oktober-April 2017/2018 ditetapkan seluas 1.569.408 sehingga ada kenaikan sebesar 45 ha. Untuk mewujudkan luas tanam padi maka dilakukan usahatani padi dengan sistem intensifikasi karena untuk melakukan dengan sistem ektensifikasi sudah sangat sulit mengingat komoditas jagung dan kedelai juga menjadi target untuk pencapaian produksi sedangkan di satu sisi alih fungsi lahan pertanian tidak terkendali.
Fasilitasi alsintan dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan dan kendala ketersediaan tenaga kerja pada waktu pengolahan tanah, pemeliharaan, pemanenan, perontokan karena pada saat ini minat tenaga kerja produktif pada bidang pertanian semakin berkurang. Ketersediaan tenaga kerja yang umurnya sudah tua memiliki kendala penguasaan teknologi di bidang alsintan juga lemah. Sedangkan waktu panen padi tidak semuanya di musim kemarau tetapi juga terjadi di musim penghujan.
Berkaitan dengan hal tersebut maka fasilitasi alsin yan berkaitan dengan alsintan untuk panen, perontok, driyer dan Rice Mill Unit (RMU) sangat diperlukan.
Luas tambah tanam untuk tanaman padi berkaitan erat dengan pengolahan tanah. Sebelum kegiatan pengolahan tanah harus dilakukan kegiatan penyemaian benih padi. Pada saat ini alsintan untuk tanam dan semai padi sudah difasilitasi pemerintah oleh karena itu harapan untuk merealisasikan luas tanam dapat dilakukan karena tidak tergantung lagi pada kesediaan tenaga kerja. Begitu juga untuk pengolahan tanah karena traktor
29
untuk pengolah tanah sudah disediakan sampai pada ujung batasan untuk operasional usahatani. Tenaga kerja yang dibutuhkan pada pengolahan tanah hanya mencangkul pojokan sawah yang sulit dijangkau oleh traktor, kecuai untuk wilayah terasiring dengan kemiringan yang tajam sehingga pengolahan tanah menggunakan tenaga manusia. Realisasi luas tanam padi di jawa tengah selama tiga (3) tahun 2015-2017 dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1.
Realisasi Luas Tanam Padi
Tahun Luas Tanam (Ha)
2015 1.795.704
2016 2.083.336
2017 1.901.980
Sumber : Distanbun, 2018
Pada Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa luas tanam padi melebihi target luas tambah tanam padi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.
Luas tanam padi tidak terlepas dari proses penyediaan lahan sawah siap tanam dengan menggunakan alsintan pengolah tanah traktor roda 4 dan traktor roda 2. Menurut Handaka (2012), bahwa kontribusi mekanisasi pertanian pada tanaman pangan ditandai dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja pada pengolahan tanah karena indek pertanaman meningkat, disamping itu keserempakan tanaman dalam satu kawasan yang luas menyebabkan volume pekerjaan meningkat, waktu pengolahan lahan menjadi singkat, sehingga permintaan tenaga kerja juga meningkat.
Penggunaan alsintan khususnya traktor roda dua (2) yang menjadi gantungan bagi petani. Penggunaan traktor roda dua lebih disukai karena dapat digunakan pada lahan datar dan terasiring sedangkan untuk traktor roda empat digunakan dilahan datar dengan petakan luas, hal ini sesuai dengan pernyataan BPP Kementan (2016) bahwa posisi strategis mekanisasi pertanian memiliki makna yang sangat kompleks bagi Indonesia karena mengandung banyak manfaat mulai dari peningkatan produksi, mengurangi losses dalam proses panen, menekan biaya usaha tani, serta memperluas dan meningkatkan intensitas tanam.