• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Alsintan di Tingkat Petani

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 46-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Pemanfaatan Alsintan di Tingkat Petani

Modernisasi peralatan budidaya pertanian, khususnya budidaya tanaman pangan padi dan jagung dengan alsintan dimulai sudah sejak lama.

Tujuan modernisasi alat dan mesin pertanian adalah guna mengatasi dan mengantisipasi kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian pedesaaan, sebagai akibat urbanisasi, transformasi tenaga kerja ke sektor industri dan jasa serta guna meningkatkan percepatan pengelolaan usaha tani, seperti pengolahan tanah dan pemanenan.

Alsintan memiliki posisi strategis dalam produksi padi, karena dengan pemanfaatan alsintan diharapkan akan terjadi peningkatan produksi tanaman dan kualitas hasil tanaman serta efisiensi proses produksi sehingga terjadi penurunan biaya per unit. Kondisi demikian, diharapkan ditingkat petani akan terjadi peningkatan pendapatan yang merupakan kontribusi penurunan biaya produksi, meningkatnya hasil dan berkurangnya susut hasil.

Pemanfaatan alsintan bersifat labor saving technology, menggeser penggunaan tenaga manusia dan ternak. Alsintan mempunyai hubungan saling mengganti (substitusi) dengan manusia. Alsintan mempunyai peran dan potensi sangat strategis karena kontribusinya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumberdaya, di samping peningkatan kualitas melalui prosesing dan diversifikasi produk yang menghasilkan nilai tambah tinggi dalam mendukung program pengembangan agribisnis. Jika diterapkan

37

dengan benar dan tepat maka penggunaan Alsintan akan memberikan kontribusi positif untuk pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Jenis alsintan yang diberikan kepada kelompok tani meliputi alsintan untuk budidaya dan alsintan untuk pasca panen. Alsintan untuk budidaya (khususnya tanaman padi), terdiri dari : Alat pengolahan tanah (traktor, cultivator), penyemai bibit padi (seed try), alat penanam padi (transplanter), pemeliharaan tanaman (pompa air, sprayer). Sedangkan, alsintan untuk paska panen terdiri dari : alat pemanen padi (combine harvester), alat perontok (thresher).

Sumber dana alsintan yang dialokasikan ke kabupaten kepada Kelompok Tani maupun Gabungan Kelompok Tani, berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten sedangkan alokasi dana untuk operasional dan monitoring ada di APBD Kabupaten Grobogan.

Fasilitasi alsintan oleh pemerintah melalui brigade Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Gapoktan, Poktan dan UPJA. Untuk memanfaatkan alsintan dilakukan dengan menggunakan jasa pemanfaatan alsintan. Oleh karena itu lembaga pengelola alsintan membuat aturan untuk penggunaan alsintan yang masing-masing memiliki aturan sendiri-sendiri dengan komponen pokok berisikan tentang angkutan alsintan, bahan bakar, jasa operator, pemeliharaan dan simpanan untuk kas.

Pemanfaatan jenis alsintan di lembaga penerima alsintan biasanya dikaitkan dengan kemudahan untuk digunakan, sesuai dengan kondisi agroekologi, ketersediaan tenaga kerja, biaya yang murah, pola tanam yang ada di wilayah. Distribusi dan pemanfaatan alsintan pra panen dapat dilihat pada tabel 4.6.

38

R2: Traktor Rida dua; R4:Traktor Roda empat TRP: Transplanter PA: Pompa Air SPR: Hand Sprayer EV: Ekvakator M:Dimanfaatkan; B: Belum dimanfaatkan

*) Dana APBD Kabupaten sebanyak 8 unit

Pada tabel 4.6 diketahui bahwa alsintan pra panen yang didistribusikan di Kabupaten Grobogan dan Magelang yang dimanfaatkan adalah traktor roda dua (2), traktor roda empat (4) dan pompa air. Traktor roda dua selalu digunakan oleh seluruh petani di Kabupaten Grobogan dan Magelang yang akan menanam padi, karena untuk pengolahan tanah petani sudah tidak menggunakan tenaga manusia atau ternak tetapi lebih menyukai dengan menggunakan traktor dengan waktu yang lebih cepat. Pengolahan tanah dengan menggunakan traktor roda empat (4) juga dilakukan oleh petani di Kabupaten Grobogan karena luas petakan antara ¼ bahu sampai ½ bahu dengan kondisi lahan datar sedangkan untuk di Kabupaten Magelang digunakan di lahan datar yaitu pada wilayah Magelang Bagian Utara, Menurut Firdaus (2015) bahwa Penggunaan traktor saat ini sudah menjadi kebutuhan utama petani untuk mengolah tanah, mengingat pengolahan tanah

39

dengan tenaga buruh dianggap menjadi semakin mahal seiring dengan kurangnya ketersediaan tenaga kerja karena telah beralih profesi ke non pertanian serta meningkatnya upah buruh disamping lamanya waktu pengolahan tanah.

Alsintan di Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan penempatannya terbagi menjadi dua (2) gudang yaitu Kecamatan Godong dan Kecamatan Wirosari, untuk tahun 2019 akan menggunakan tiga (3) gudang yaitu di BPP Gubug, yang pada saat ini sedang proses penyiapan tempatnya. Hal ini seperti dinyatakan oleh Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ibu Lativa :

“Bahwa dengan adanya bantuan dari pemerintah yang jumlahnya banyak serta jenisnya beragam maka perlu pendekatan alat dengan lokasi oleh karena itu pada tahun 2019 gudang untuk brigade ada tiga yaitu di Godong, Wirosari dan Gubug yang saat ini sedang persiapan”

Jenis alsintan milik Brigade yang dimanfaatkan oleh Gapoktan, Poktan dan UPJA adalah traktor roda dua dan roda empat. Jenis alsintan dipinjam pada umumnya selama 1-3 bulan dengan lokasi hampir seluruh Gapoktan, Poktan dan UPJA di seluruh Kecamatan Kabupaten Grobogan kecuali Kecamatan Kedung Jati karena lahan terbesarnya merupakan lahan tegal sehingga lebih sering ditanami tanaman palawijo. Jenis alsintan yang belum dimanfaatkan adalah hand sprayer dan transplanter. Jenis pompa air dengan ukuran 2”; 3” dan 4”; dipinjam untuk memompa air permukaan, pada umumnya air sumur di ladang untuk menyiram tanaman dan biasanya digunakan pada musim kemarau, sebetulnya pompa air yang dibutuhkan adalah dengan ukuran ˃6” sehingga dapat digunakan untuk mengambil air dari sungai dengan jarak yang jauh.

Jenis alsintan di Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Magelang yang terbanyak adalah traktor roda dua untuk pengolahan tanah dan pompa air yang digunakan di musim kemarau, selain itu juga ada hand sprayer untuk pengendalian hama dan penyakit. Pengguna alsintan milik brigade kabupaten adalah kelompok tani dan UPJA di Kecamatan Krogowanan, Sawangan, Tegalrejo, Salaman, Kaliangkrik, Ngluwar, Windusari, Borobudur, Kajoran, Mungkid, Mertoyudan, Sriwedari, Grabag,

40

Bandungan, Gondowangi. Lama peminjaman traktor antara 1-3 bulan sedangkan pompa air dari 1 bulan sampai 10 bulan. Peminjaman selama 10 bulan biasanya dilakukan oleh UPJA karena untuk menambah jasa jenis alsintan yang dikelola, lama peminjaman alsintan yang dipinjam oleh kelompok tani dan UPJA bisa diperpanjang.

Pemanfaatan alsintan di Brigade Kodim Kabupaten Magelang adalah jenis traktor roda dua (2), roda empat (4). Jenis alsintan lain yang masih belum dimanfaatkan adalah rice transplanter, hand sprayer dan pompa air.

Seed tray lebih sering dipinjam oleh gapoktan untuk membuat penyemaian sedangkan alsintan rice tranplanter belum dimanfaatkan karena kemampuan SDM untuk mengoperasionalkan alat masih belum maksimal hal ini dikarenakan pelatihan teknis untuk operator alsin transplater masih kurang, pada daerah tertentu masih terdapat tenaga kerja khususnya regu tanam sehingga penggunaan alsin ini akan menimbulkan konflik, kondisi wilayah tidak memungkinkan menggunakan alat.

Pompa air merupakan salah satu program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air sawah di lahan yang hanya bisa tanam padi 1 kali atau di sawah tadah hujan dengan menggunakan sumber air permukaan sehingga akan merubah pola tanam pada wilayah tersebut. Fasilitasi pompa air, pompanya terlalu berat sehingga sulit diangkat, selangnya terlalu pendek sehingga tidak bisa menjangkau sumber air, daya hisap airnya juga tidak maksimal, sehingga pompa air sampai saat ini posisinya masih di gudang.

Pompa air merupakan alsin yang dapat membantu petani untuk melakukan usahatani di musim kemarau diperlukan petani pada musim kemarau mengingat musim kemarau ketersediaan air kecil.

Alsin hand sprayer belum ada yang menggunakan sama sekali, karena jenisnya manual sehingga harus memompa dan memerlukan tenaga, hal ini menyebabkan petani tidak mau meminjam apalagi hand sprayer milik petani sudah otomatis sehingga tidak perlu memompa. Hand sprayer merupakan alsintan untuk pengendalian hama dan penyakit serta untuk melakukan pemupukan dengan pupuk cair, pada umumnya alat ini sudah dimiliki setiap petani karena merupakan alsin pokok yang harus dimiliki

41

untuk melakukan usaha tani, dengan demikian hand sprayer bukan merupakan alsin yang dbutuhkan petani dengan cara meminjam apalagi kualitasnya di bawah kepemilikan petani.

Pemanfaatan alsintan di Kodim Kabupaten Grobogan adalah traktor roda dua (2), traktor roda empat (4), hand sprayer, pompa air dan eksavator.

Traktor roda 4 hanya digunakan pada MT II sedangkan pada MT I tidak bisa digunakan karena tanahnya terlalu dalam. Alsintan yang belum dimanfaatkan adalah transplanter karena alatnya tidak bisa digunakan.

Petani yang sering menggunakan alsintan brigade Kodim Kecamatan Godong dan Gubug.

Pemanfaatan alsintan di Gapoktan, Poktan dan UPJA yang terbanyak digunakan adalah traktor roda dua (2) dan roda empat (4) untuk pekerjaan pengolahan tanah, karena dengan menggunakan traktor dapat mempersingkat waktu persiapan tanah sehingga dapat meningkatkan intensitas tanaman padi, selain itu juga dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja. Peminjaman yang utama adalah anggota kelompok tani dalam satu desa, satu kecamatan bahkan alsin traktor roda 4 di Kabupaten Grobogan juga dipinjam sampai di Kabupaten Sragen.

Gambar 4.1.

Alsintan Pra Panen yang sering digunakan

Gambar 4.2.

Alsintan Pra Panen yang belum digunakan

42

CHSB: Combine Havester Besar CHSB: Combine Havester Sedang

CHSB: Combine Havester Kecil PWT: Power Threser PWTM: Power Threser Multiguna M: Dimanfaatkan, B:Belum dimanfaatkan, MO: Manfaat Belum Optimal

Pada Tabel 4.7. diketahui bahwa alsintan pasca panen yang didistribusikan di Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dan Magelang, Gapoktan, Poktan dan UPJA dengan jenis combine harvester besar, sedang dan kecil, power threser multiguna, power threser.

Combine Havester yang dimanfaatkan di Kabupaten Grobogan dan Magelang adalah Combine Havester Besar dan Power Threser sedangkan Combine Havester sedang dan kecil pemanfaatanya masih belum maksimal dikarenakan hanya bisa digunakan pada MT II sedangkan kalau pada MT I maka ban akan masuk ke tanah hal ini sesuai dengan pernyataan Manajer UPJA Karya Tani:

“combine untuk bekerja dengan catatan lahan kering kalau lahan basah maka akan mbelet. Combine harvester, RPM cepet sitik nek bagian perontok nggubet damine sing perontok gabah. Nek RPM biasa nggih lancar. Nggak seimbang antara perontok dan RPM” Sedangkan menurut Ibu Yayuk Petugas Penyuluh Lapangan di Kelompok Tani Kebo Kuning di wilayahnya terdapat bantuan combine harvester kecil tetapi tidak digunakan karena kondisi lahan tidak memungkinkan menggunakan alat tersebut”

Penggunaan combine havester menurut petani lebih praktis, rendemen yang dihasilkan lebih tinggi karena tingkat kehilangan lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan power threser. Sedangkan untuk

43

Combine Havester sedang dan kecil pemanfaatanya tidak maksimal karena Menurut Johanes (2016) bahwa kehadiran teknologi pertanian seperti combine harvester tidak mengeser tenaga kerja yang ada untuk bekerja sebagai tenaga upahan maupun sebagai tenaga buruh. Menggunakan alat ini hanya untuk menghindari jika pada saat musim panen, kekurangan tenaga kerja maka perlu menggunakan combine harvester pada saat panen, dari efisiensi biaya dan waktu dengan menggunakan alat panen combine harvester lebih cepat dan biaya yang dikeluarkan juga lebih hemat serta efisien waktu.

Di Kabupaten Grobogan alsintan combine harvester besar juga dimanfaatkan terus-menerus mengingat jumlahnya masih sedikit sehingga untuk memenuhi masih menggunakan jasa alsintan swasta dari Kabupaten Jepara. Jenis alsintan yang belum dimanfaatkan adalah Combine harvester kecil dan sedang karena bekerjanya tidak bisa disetiap musim dan hanya bisa dilakukan pada MT II karena pada MT I alsin akan terperosok kedalam tanah dan tidak bisa bergerak.

Power threser mobile sering digunakan karena lebih efisien, untuk power threser multiguna belum dimanfaatkan karena kemampuan alat yang tidak maksimal yaitu belum mampu memisahkan antara gabah gabug dan bernas. Sedangkan alsintan power threser kecil roda dua bekerjanya juga tidak bisa maksimal karena hasilnya tidak bisa bersih sekaligus dan harus diulang sehingga memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak, begitu juga power threser multiguna, alsintan ini tidak bisa bekerja dengan sempurna karena tidak bisa memisahkan gabah bernas dan kopong serta kotoran lainnya, sehingga petani lebih suka menggunakan jasa power threser mobile.

Combine harvester besar di UPJA Agro Makmur diperoleh tahun 2016 dan UPJA Ngudi Mulyo, UPJA Margo Mulyo pada saat ini kondisi sering rusak sehingga menghabiskan biaya, kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas alsintan kurang baik karena baru berumur 3 tahun sudah rusak.

Dalam pengembangan mekanisasi pertanian masih menemui beberapa kendala seperti kondisi lahan sangat berpengaruh terhadap penerapan

44

alsintan yang sesuai, rendahnya tenaga terampil sehingga penggunaan alsintan masih terbatas, fasilitas perbengkelan dan suku cadang yang masih terbatas, akses pembiayaan untuk pengembangan alsintan masih rendah, harga yang relatif mahal, kurangnya pengembangan kelembagaan dan sarana penunjang lainnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan alsintan yang tepat. Upaya pengembangan alsintan harusnya diawali dengan identifikasi kebutuhannya, yaitu identifikasi:

1. Menentukan jumlah dan jenis alsintan sesuai dengan kondisi wilayah dan usaha yang dikembangkan;

2. Pengujian kelayakan usaha penggunaan alsintan dari sisi teknis dan sosial ekonomi.

3. Pengembangan desain alat agar sesuai kebutuhan petani. Dalam tahap pengembangan perlunya kerjasama antara pengguna (petani, pengusaha jasa, kelompok tani, koperasi) dengan distributor/pabrikan, maupun bengkel atau pengadaan suku cadang.

Tingkat kecukupan alsintan di Kabupaten Grobogan dan Magelang memperlihatkan bahwa tingkat kecukupan traktor tangan dan mesin perontok beragam antar wilayah atau kecamatan. Menurut Satriyo (2011) dinyatakan tingkat kecukupan traktor tangan dan mesin perontok secara nasional hanya sekitar 34%. Sementara itu tingkat kecukupan traktor tangan dan mesin perontok di Kabupaten Grobogan ini masih jauh lebih tinggi dari pada rata-rata nasional (Trip Alihamsyah, 2016). Hal ini diduga karena selain meningkatnya usaha penyewaan alsintan akibat bisnis penyewaan alsintan yang cukup menguntungkan, juga adanya bantuan dari pemerintah yang semakin meningkat. Hasil kajian Trip Alihamsyah (2016) dinyatakan Kecamatan yang tingkat kecukupan traktor tangannya sangat kurang sekali terdapat di 6 kecamatan yaitu Kedungjati, Wirosari, Toroh, Tawangharjo, Purwodadi, Tanggungharjo, dan sangat kurang terdapat di 6 kecamatan yaitu Brati, Karangayung, Klambu, Godong, Tegowanu, Toroh, sedangkan mesin perontok padi sangat kurang sekali terdapat di 9 kecamatan yaitu Penawangan, Brati, Wirosari, Klambu, Godong, Grobogan, Purwodadi,

45

Gubung, Tanggungharjo dan sangat kurang terdapat di 4 kecamatan yaitu Kedungjati, Tegowanu, Ngaringan, Randublatung. Oleh karena itu, penambahan populasi traktor tangan dan mesin perontok padi kedepandifokuskan pada kecamatan tersebut melalui berbagai skema, antara lain : bantuan langsung dan bantuan uang muka pembelian alsintan serta mobilisasi alsintan antar kecamatan dengan jadwal tanam yang berbeda dan realokasi dari kecamatan sudah lebih alsintannya ke kecamatan yang masih sangat kurang alsintannya. Penambahan traktor tangan ini perlu diperhatikan secara cermat dengan mempertimbangkan kondisi lahan setempat, aspek teknik (ketrampilan masyarakat) dan sosial agar penggunaan alsintan dapat meningkatkan produksi tanaman, efisien dalam budidaya padi dan peningkatan kualitas hasil panen. Kesesuaian tiap jenis traktor dan peralatan pengolahan tanahnya bersifat spesifik kondisi lahan terutama terkait dengan sifat mekanis tanah setempat (Hendriadi dan Salokhe, 2012).

Gambar 4.3.

Alsintan Pasca Panen yang sering digunakan

4.3. KELEMBAGAAN PENGELOLA ALSINTAN

Fasilitasi alsintan sudah dilakukan oleh pemerintah bertahun-tahun melalui kelembagan Gapoktan, poktan dan UPJA. Fasilitasi tersebut dilakukan dalam bentuk bantuan atau hibah. Pada tahun 2017 Kementerian Pertanian membentuk brigade alsintan. Menurut Kementan (2017) Pembentukan brigade alsintan dimaksudkan sebagai task force dalam bentuk pendampingan kegiatan olah tanah, tanam dan panen secara serempak yang dilakukan kelompok tani di masing–masing wilayah.

Adapun tujuannya adalah: i) Memberikan acuan dalam pengelolaan alsintan

46

di Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota dan Korem/Kodim serta poktan/gapoktan dengan pola brigade dalam rangka pengembangan mekanisasi pertanian; ii) Mengoptimalkan pemanfaatan bantuan alsintan baik untuk kegiatan prapanen (pengairan, olah tanah dan tanam) maupun pascapanen; iii) Memfasilitasi penyediaan alsintan untuk kegiatan Brigade Alsintan yang dikelola Dinas Pertanian, Korem/Kodim dan poktan/gapoktan.

Sesuai dengan amanat Kementerian Pertanian (2017) bahwa pengorganisasian pemanfaatan alsintan dilakukan dalam bentuk sebagai berikut :

1. Brigade Alsintan di Dinas Pertanian Provinsi

Pengelolaan Brigade Alsintan di Dinas Pertanian Provinsi dimaksudkan untuk memanfaatkan dan memobilisasi alsintan antar/lintas kabupaten/kota guna memenuhi permintaan dan kebutuhan kabupaten dalam percepatan pengolahan tanah, penanaman, dan panen.

2. Brigade Alsintan di Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten/Kota Pengelolaan Brigade Alsintan oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dilaksanakan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kodim. Pemanfaatan alsintan disamping untuk kabupaten/kota sebagai lokasi Brigade Alsintan dimungkinkan dimanfaatkan di kabupaten/kota sekitarnya apabila kebutuhan alsintan di kabupaten/kota bersangkutan telah terpenuhi.

3. Brigade Alsintan di Korem/Kodim

Pengelolaan Brigade Alsintan oleh Korem/Kodim dimaksudkan untuk membantu Poktan/Gapoktan dalam percepatan pengolahan tanah dan tanam bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota maupun Dinas Pertanian Provinsi.

4. Gapoktan/Poktan/UPJA

Gapoktan/Poktan/UPJA memanfaatkan bantuan alsintan secara optimal mengacu pada ketentuan Brigade Alsintan yang berlaku pada masing-masing kelompok/UPJA dalam mendukung percepatan pengolahan

47

tanah, tanam dan panen. Kegiatan tanam dan panen secara serempak ini dikoordinasikan dengan Dinas Pertanian/Korem/Kodim.

Kondisi Kelembagaan pengelola alsintan di kelompokkan menjadi beberapa kelembagaan dengan rincian sebagai berikut:

4.3.1. Brigade Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah

Kelembagaan pengelola alsintan di Provinsi Jawa Tengah dengan brigade pengelolaan di Balai Alsintan. Struktur organisasi brigade telah ditetapkan oleh Kementan oleh karena itu struktur organisasi di Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut: Pembina adalah Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Provinsi Jawa Tengah; Penanggung jawab adalah Kepala Balai Alat dan Mesin Pertanian; Penanggung jawab lapangan adalah kepala sub bidang yang dikelompokkan menjadi dua dengan penanggung jawab masing-masing yaitu alsintan pra panen dan alsintan pasca panen. Untuk operasional alsintan, agar alsintan dekat dengan lokasi maka penanggung operasional di lapangan di bagi menjadi enam yaitu di provinsi, di gudang alsintan yaitu di Balai Benih Pati, Pemalang, Banyumas, Surakarta, dan Gudang alsintan milik Distanbun di Mojo Songo Surakarta. Pada prinsipnya kelembagaan ini dibentuk untuk melayani kebutuhan alsintan untuk Gapoktan/Poktan/UPJA apabila kekurangan.

4.3.2.Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dan Magelang

Kelembagaan alsintan di brigade Dinas pertanian Kabupaten sesuai dengan aturan Kementan (2017) bahwa struktur organisasi dengan Pelindung adalah Kepala Dinas Pertanian; Penanggungjawab adalah Kepala Bidang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8.

Kelembagaan Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Kab Pelindung Brigade Penanggung

Jawab Gudang Biaya

48

Pada tabel 4.8. dapat diketahui bahwa Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan pengelolaan alsintan dikelola oleh Bidang Penyuluhan, Sarana dan Prasarana Pertanian, tetapi untuk operasional alsintan terbagi menjadi dua bidang yaitu untuk tahapan alsintan pra panen dikelola oleh Bidang Penyuluhan, Sarana dan Prasarana Pertanian dan untuk tahapan panen, pasca panen dan pengolahan dikelola oleh Bidang Tanaman Pangan.

Brigade Dinas Pertanian di Kabupaten Grobogan membagi alsintan di dua gudang yaitu gudang Wirosari dan Godong, gudang ini letaknya menyatu dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan tujuan untuk mendekatkan lokasi alsintan dengan wilayah yang membutuhkan alsintan.

Gudang alsintan ditempatkan di wilayah Godong dan Wirosari dikarenakan wilayah tersebut berdekatan dengan kawasan sawah untuk tanaman padi.

Alsintan yang ada di brigade dinas akan digunakan untuk Gapoktan, Poktan dan UPJA yang belum memiliki alsin, alsinnya belum cukup, atau memiliki kemampuan menjual jasa alsintan secara professional sehingga mampu membeli alsintan yang baru.

Menurut Bapak Margono Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan bahwa “Untuk mendukung mulai percepatan pengolahan tanah, tanam, panen, dengan brigade modelnya seperti tentara dengan model serempak”.

Brigade Dinas dimanfaatkan untuk yang belum punya alat untuk mendukung percepatan produksi melalui pengolahan tanah, tanam dan panen secara serempak yang dibantu dari unsur TNI di brigade yang ada di KODIM”

Masing-masing saling mendukung. SOP brigade adalah siapapun yang butuh bisa pinjam ke brigade, Brigade hanya menyediakan alat, transpotasi dan operasional tanggung jawab peminjam, kalau ada kerusakan berat menjadi tanggung jawab APBD II. Di Poktan ada yang namanya seksi alsin biasanya di sana yang menangani jasa alsintan dan jadi operatornya, jadi

Brigade Dinas Pertanian Kabupaten Magelang pengelolaan alsintan dikelola dengan struktur organisasi, Pelindung adalah Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Pengelola dan Penanggung jawab oleh satu bidang yaitu Tanaman Pangan, sedangkan penanggung jawab lapangan adalah Kepala Sub Bidang Alat Mesin Pertanian. Untuk urusan teknik di lapangan

49

dilakukan oleh satu orang staf. Brigade alsintan belum memiliki gudang sehingga menggunakan gudang untuk penyimpanan alat lain, hal ini merepotkan karena apabila gudang tersebut mau digunakan maka alsintan harus dikeluarkan dari gudang. Brigade juga belum didukung untuk anggaran pemeliharaan alsintan sehingga apabila ada kerusakan menyebabkan alat tidak bisa diperbaiki walaupun sebetulnya menjadi tanggungjawab peminjam.

Menurut Bapak Mirza Dinas Pertanian Tanaman Pangan” Brigade belum memiliki gudang, masih pinjam gudang alat lain,kalau alat lain dating ya harus dikeluarkan dulu” Terkait dengan anggaran APBD untuk pemeliharaan tidak ada sementara petani kalau pinjam alat tidak boleh memungut biaya, kalau ganti oli kalalu jam kerjanya sesuai bisa tetapi kalau petani yang susah meminjam traktor tidak tanggung jawab, tidak tepat

Menurut Bapak Mirza Dinas Pertanian Tanaman Pangan” Brigade belum memiliki gudang, masih pinjam gudang alat lain,kalau alat lain dating ya harus dikeluarkan dulu” Terkait dengan anggaran APBD untuk pemeliharaan tidak ada sementara petani kalau pinjam alat tidak boleh memungut biaya, kalau ganti oli kalalu jam kerjanya sesuai bisa tetapi kalau petani yang susah meminjam traktor tidak tanggung jawab, tidak tepat

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 46-0)