• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian Tugas Pengelolaan Alsintan

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 66-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Pembagian Tugas Pengelolaan Alsintan

Program bantuan alsintan dari Direktorat Alsintan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian yang tidak sedikit jenis dan jumlahnya perlu dikelola secara professional dengan pembagian tugas dari Kementerian Pertanian hingga pengguna alsintan, yakni petani sebagai pengguna. Pembagian tugas pengelolaan ini bertujuan untuk menghindari

57

tumpang tindih tugas dan tanggung jawab serta kekosongan tugas yang tidak ada institusi yang bertanggung jawab. Pembagian tugas tersebut perlu dilegalkan dengan pedoman teknis pengelolaan dan penggunaan Alsintan dari Direktorat Alsintan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.

Tabel 4.10., merupakan konsep yang perlu mendapatkan masukan dari berbagai pihak agar lebih operasional dan menjadi kesepakatan bersama dari berbagai institusi yang terkait.

1 Kementerian Pertanian  Pengadaan Alsintan spesifik lokasi distribusi hingga tingkat Kabupaten.

 Penyusunan Pedoman Pengusulan spesifik lokasi

 Penyusunan Pedoman Teknis Pengelolaan tingkat pusat hingga UPJA

2 Dipertan Provinsi  Perencanaan lokasi dan distribusi Alsintan.

 Penguatan kelembagaan

 Pelatihan operator & teknisi.

 Penyediaan bengkel & spart part.

3 Dipertan Kabupaten  Membentuk Brigade Alsintan sesuai kebutuhan yang dekat dengan petani pengguna.

 Mempersiapkan UPJA professional.

 Verifikasi manajemen dan teknis kemampuan UPJA mengelola Alsintan.

 Menyediakan Garasi/gudang (sementara).

 Biaya operasional mobilisasi Alsintan ke UPJA

 Pendampingan UPJA

4 Poktan/Gapoktan  Pengawasan dan pembinaan penggunaan Alsintan di UPJA

5 UPJA  Mengelola Alsintan professional dan mampu meremajakan pada saatnya.

 Mengatur jadwal penggunaan Alsintan pada kelompok tani pengguna

 Mengkoordinir biaya mobilisasi Alsintan sampai areal lahan kelompok tani pengguna.

 Menyiapkan garasi

 Melakukan perawatan rutin

 Peremajaan Alsintan baru sesuai umur teknisnya.

6 Brigade Kodim/

Kabupaten

 Pooling Alsintan lengkap yang diperlukan UPJA mampu mengelola Alsintan untuk keperluan petani.

 Pelayanan perawatan dan perbaikan berat

58

No Tingkat

Kelembagaan Tugas Keterangan

7 Petani Pengguna  Biaya operasional pemanfaatan Alsintan di lapangan (operator, BBM)

B Institusi Penunjang

1 Kepala Desa  Pengawasan pemanfaatan

 Mediator penyelesaian masalah dengan penyedia jasa Alsintan perorangan.

2 PPL  Pendampingan teknis pemanfaatan di lapangan

 Pendampingan bersama Babinsa 3 Dealer  Pelayanan Purna jual (pelatihan uji

lapangan, monitoring penggunaan dan perawatan berkala)

4.6. PERMASALAHAN PEMANFAATAN ALSINTAN PADA TINGKAT USAHA TANI

Jenis dan jumlah alsintan yang diperbantukan dari Kementerian Pertanian tidaklah sedikit. Namun, distribusinya sampai pada UPJA belum realistis sesuai dengan kebutuhan petani pengguna. Tingkat penggunaan jenis Alsintan pun juga berbeda-beda. Permasalahan pengelolaan pemanfaatan Alsintan, khususnya pada mesin-mesin budidaya pertanian yang dikelola oleh UPJA, antara lain :

1. Iklim dan Waktu

a. Jangka waktu pengolahan tanah untuk tanaman pangan (padi) dibatasi oleh pola tanam, karena sangat dipengaruhi oleh musim.

Oleh karena itu, diperlukan jadwal yang pasti dengan kapasitas dan jumlah alsintan pengolahan tanah.

b. Waktu tanam/panen sering tidak bersamaan, sehingga jalan alsintan ke lokasi terkendala, sehingga diperlukan pola pengelolaan luasan lahan sesuai dengan kapasitas dan jumlah alsintan.

2. Jenis dan Kondisi Tanah

a. Pemanfaatan alsintan dipengaruhi oleh jenis dan kondisi tanah.

Pada MT 1, musim hujan, pada jenis tanah liat yang gembur alsinan yang relatif berat (di atas kemampuan daya dukung tanah), dengan roda yang kecil akan ambles dan tidak dapat beroperasi.

59

b. Petakan lahan (sawah atau tegal) yang sempit dan dengan kontur yang relatif tinggi, berpengaruh terhadap operasional pemindahan alsintan ke petak lain.

3. Kelembagaan dan Sumberdaya Manusia Pengelola

a. Lembaga pengelola alsintan berbagai jenis (Poktan, UPJA, Brigade Dinas dan Brigade Kodim) dengan jumlah alsintan yang dikelola juga berbeda. Brigade Kodim, mempunyai SDM pengelola dan pengalaman dalam mengelola Alat Berat Kemiliteran, namun tidak langsung berkomunikasi dengan petani pengguna alsintan. Poktan dan UPJA, berkomunikasi langsung dengan petani pengguna, namun jumlah dan jenis alsintan yang dikelola terbatas dan SDM nya, sering belum pengalaman mengelola dan mengoperasionlakan alsintan.

b. SDM, terutama tenaga montir yang sekaligus sebagai operator alsintan di beberapa lokasi kesulitan ketersediaannya.

4. Jenis dan Merk Alsintan

a. Jenis Alsintan yang paling sering digunakan, adalah Traktor Roda Dua, sedangkan jenis lainnya sering dan bahkan tidak digunakan dengan berbagai alasan, seperti :

1) Ekcavator, tidak banyak dibutuhkan.

2) Traktor Roda Empat, tidak sesuai medan dan luasan petakan.

3) Transplanter, sering macet/idle pada lahan gembur MT 1 dan boros penggunaan benih padi.

4) Pompa air, terlalu berat untuk memobilisasi dan selangnya pendek.

5) Hand Sprayer tangan, tidak praktis, karena dengan penggerak tangan yang berat.

6) Combine Harvester, sering rusak pada as dan ambles pada MT1, terutama untuk jenis sedang dan kecil serta merk tertentu.

b. Merk Alsintan juga berpengaruh terhadap produktivitas dan tingkat kerusakan Alsintan, terutama pada Transplanter dan Combain

60

Harvester. Masing-masing merk mempunyai kualitas mesin yang berbeda.

1) Sarana pelatihan dan perbengkelan belum tersedia guna menangani kerusakan berat dan mengganti spart part yang rusak. Garasi pada umumnya tidak ada, namun pompa air yang tidak dipakai disimpan rapi masih dalam dus di dalam gedung kantor pada Brigade Kodim.

2) Pelayanan Paska Jual dari agen alsintan, pada umumnya hanya dilakukan pada saat uji coba lapangan penggunaan alsintan dan melatih operatornya. Selanjutnya, tidak ada komunikasi dan monitoring berkala untuk perawatan dan kerusakan alsintan maupun pembinaan ketrampilan perawatan dan operasionalisasi lapangan.

3) Biaya penyusutan alsintan yang dikelola oleh UPJA belum dapat mencukupi untuk peremajaan alsintan, karena tidak semua jenis alsintan tidak optimal jam kerjanya.

4.7. ANALISIS EKONOMI PENGGUNAAN ALSINTAN TERHADAP USAHA TANI PADI

4.7.1. Analisis Ekonomi Alsintan 1. Biaya Sewa

Aspek finansial melalui biaya sewa, jasa usaha yang digunakan untuk biaya operasional, perawatan dan investasi alsintan baru (peremajaan), ditentukan secara musyawarah dan memperhatikan pemilik alsintan perorangan. Beberapa ketentuan dan pengakuan data di lapangan, yakni dengan ketentuan umum sewa, sebagai berikut :

a. Ketentuan umum dari salah satu UPJA di Grobogan, dengan perkiraan biaya sewa penggunaan Alsintan, sebagai berikut : - Hand Traktor : Rp 700.000,-/ha

- Power Threser : Rp 2.500,-/kw - Pompa Air : Rp 20.000,-/hari - Mesin Potong Rumput : Rp 15.000,-/hari

61

b. Ketentuan lain, untuk sewa Traktor Roda 2: Sewa untuk 0,25 bau sebesar Rp 110.000,- atau untuk mengolah tanah sawah seluas 1 ha, dengan biaya sewa sebanyak Rp 660.000,-. Rincian kegunaan, adalah untuk :

- Operator : 30 % atau Rp 198.000 per hari.

- BBM & oli : 30 % atau Rp 198.000 per hari.

- Cadangan : 10 % atau Rp 66.000 per hari.

- Kas UPJA : 30 % atau Rp 198.000 per hari.

Kapasitas kerja, untuk lahan pengairan teknis : 1 ha per hari (6-8 jam), dan lahan tadah hujan : 0,5 ha (karena harus kerja 2 kali dan menunggu air pada saat pekerjaan “nggaru”).

c. Ketentuan lain, di Magelang, untuk Traktor Roda 2. Biaya sewa untuk mengolah lahan sawah seluas 1.000 m2, sebesar Rp 100.000,- atau sebanyak Rp 1.000.000,- per ha. Atau dengan kapasitas 0,6 ha/hari, dengan sewa sebanyak Rp 600.000,- per hari. Rincian pembagiannya, adalah :

- Operator : 50 % atau Rp 250.000,- per hari (2 Orang) - BBM : 15 % atau Rp 45.000,- per hari

- Perawatan : 15 % atau Rp 45.000,- per hari - Kas : 10 % atau Rp 30.000,- per hari - Resiko : 10 % atau Rp 30.000,- per hari.

Dengan Kapasitas kerja adalah 0,6 ha/hari, dengan waktu 7 jam kerja.

d. Ketentuan sewa penggunaan Combine Harvester Kecil. Sewa untuk memanen seluas 0,25 bau sebesar Rp 250.000,- atau seluas 1 ha (1,5 bau) sebesar Rp 1,5 juta, dengan rincian :

- Operator : 30 % - BBM & oli : 30 % - Cadangan : 10 % - Kas UPJA : 30 %

Kapasitas 1 bau per hari dengan biaya sewa sebesar Rp 1 juta (1,5 bau = 1 ha  Rp 1,5 juta).

62

e. Sewa Combine Harvester, dengan ketentuan “Sistem Bawon”, dengan perbandingan 1 : 12, yakni 1 bagian untuk sewa Combine yang dirinci untuk : BBM, Operator dan Kas UPJA. Bilamana dianalogikan dengan nilai uang, sebagai berikut :

- Sewa untuk 1.000 m2 atau 6.000 m2 per hari - Waktu efektif 2 jam atau 6 jam per hari.

- Biaya Rp 300.000,- atau Rp 1.800.000,-/0,6 ha dengan rincian penggunaan sebagai berikut:

 BBM : Rp 150.000,-

 Operator 2 orang @ 150.000 : Rp 300.000,-

 Kas UPJA, sisanya : Rp sisanya Penggunaan Combine Harvester, pada umumnya dilakukan dengan pola kerjasama dengan penebas yang tidak mempunyai Brigade Pemanen atau telah menganalisis untung-ruginya, dalam skala luas panen dan kecepatan memanen. Akan tetapi, pengangkutan gabah hasil panen combine dari tengah sawah masih memerlukan tenaga manusia. Gabahnya ditampung dalam karung dan alat transportasinya adalah dengan sepeda motor (4-5 orang per kelompok), khususnya pada kondisi lahan kering (MT 1 dan MT 2). Ongkos borongan sekitar Rp 500.000 – Rp 800.000,- per ha, tergantung dari kondisi lahan dan jarak dengan jalan lokasi penampungan untuk kemudian dibawa dengan alat transportasi truk pengangkut.

2. Analisis Finansial Penggunaan Alsintan

Analisis financial penggunaan Alsintan, difokuskan pada jenis Alsintan yang sering digunakan petani (pemilik tanah, petani penggarap dan penebas), yakni : Alat pengolah tanah Traktor Roda Dua dan Alat pemanen padi Combain Harvester. Umur Teknis traktor dihitung 10 tahun dengan merujuk Bates, WN (1967).

a. Alat Pengolahan Tanah 1) Traktor Roda dua (2)

63

Pengolahan tanah sampai siap tanam menggunakan Traktor Roda Dua, dengan ketentuan sebagai berikut :

- Harga Traktor Roda Dua, Ring 8 inch, Std GX 200 T2 QD Traktor Tangan Capung (2016) : Rp 10.124.000,-

- Umur Ekonomis : 10 tahun dalam 1.000 jam kerja per tahun.

- Nilai Akhir : 10% nilai saat pembelian.

- Bunga Modal : 7% (seperti KUR).

- Asuransi dan Pajak : 0,75% nilai saat pembelian.

- Pemeliharaan : 1,20% (Harga – Penyusutan).

 Biaya Tetap per jam

- Penyusutan = (Rp 10.124.000,- – Rp 1.012.400,-)/10.000

= Rp 911,16. per jam.

- Bunga Modal = (0,07 x Rp.10.124.000,-)/1.000 jam/tahun

= Rp 709,68. per jam.

- Asuransi & Pajak = (0,0075 x Rp 10.124.000,-)/1.000 = Rp 75,93 per jam

- Jumlah = Rp 911,16 + Rp 709,68 + Rp 75,93

= Rp 1.696,77 per jam

 Biaya Tidak Tetap per jam

- Pemeliharaan = [0,012 x (Rp 10.124.000,- – Rp 1.012.400)]/1.000

= Rp 109,34

- Bahan Bakar & Pelumas = 0,25 ltr/HP/jam x 9 HP x Rp 5.500,-/ltr

= Rp 12.375,- per jam

- Operator & Co Operator = Rp 50.000,- per jam x 2 orang

= Rp 100.000,-

Jumlah = Rp 109,34 + Rp 12.375,- + Rp 100.000 = Rp 112.484,34 per jam

64

 Total Biaya Operasional penggunaan Traktor Roda Dua per jam, adalah = Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap

= Rp 1.696,77 + Rp 112.484,34 = Rp 114.181,11

Data di lapangan dari pengelola alsintan menyatakan bahwa, sewa Traktor Roda Dua selama kurang lebih 2 (dua) jam kerja, sebesar Rp 300.000,-, sehingga :

Sisa sewa = Rp 300.000,- – (Rp 114.181,11 x 2 jam) = Rp 71.637,78

Bila dalam satu tahun wajib bekerja 1.000 jam kerja (tiga musim tanam), maka setiap musim tanam harus bekerja sekitar 330 jam. Bilamana sehari bekerja selama 8 jam, maka alsintan Traktor Roda Dua bekerja selama 41,25 hari per musim tanam.

Hari kerja ini, terlalu lama untuk kegiatan pengolahan tanah.

Hal ini akan berpengaruh terhadap masa tanam dan masa panen tanaman pangan yang juga tergantung oleh iklim dan ketersedian air untuk tanaman.

b. Alat Pemanen Padi

- Harga Combain Harvester Aw 70 : Rp 475.000.000,-

- Umur Ekonomis : 10 tahun, dalam 1.000 jam kerja per tahun.

- Nilai Akhir : 10% nilai saat pembelian.

- Bunga Modal : 7% (seperti KUR).

- Asuransi dan Pajak : 0,75% nilai saat pembelian.

- Pemeliharaan : 1,20% (Harga - Penyusutan).

 Biaya Tetap per jam

- Penyusutan = (Rp 475.000.000,- – Rp 47.500.000,-)/10.000

= Rp 42.750,- per jam.

- Bunga Modal = (0,10 x Rp 475.000.000,-)/1.000 jam/tahun

= Rp 47.500,- per jam.

- Asuransi & Pajak = (0,0075 x Rp 475.000.000,-)/1.000

= Rp 3.562,5 per jam

65

- Jumlah = Rp 42.750,- + Rp 47.500,- + Rp 3.562,5

= Rp 93.812,5 per jam

 Biaya Tidak Tetap per jam

- Pemeliharaan = [0,012 x (Rp 475.000.000,- – Rp 47.500.000)]

/1.000

= Rp 5.130,- per jam

- Bahan Bakar & Pelumas = 0,25 ltr/HP/jam x 70 HP x Rp 5.500,-/ltr

= Rp 96.250,- per jam

- Operator & Co Operator = Rp 100.000,- per jam x 3 orang = Rp 300.000,-

Jumlah = Rp 5.130,- + Rp 96.250,- + Rp 300.000 = Rp 401.380,- per jam

 Total Biaya Operasional penggunaan combine havester per jam, adalah :

Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap = Rp 93.812,5 + Rp 401.380,- = Rp 495.192,5 per jam

Bilamana penyusutan selama 10.000 jam kerja dalam 10 tahun, maka setiap tahun harus bekerja selama 1.000 jam. Bila dalam 1 tahun 3 musim tanam, maka setiap musim tanam bekerja selama 330 jam kerja per musim tanam. Apabila jam kerja di bawahnya, konsekuensinya adalah masa penyusutannya akan lebih lama.

3. Analisis Usahatani

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam melakukan usahatani yang tergantung pada musim. Kelangkaan tenaga kerja akan menentukan pelaksanaan usahatani mulai dari pengolahan tanah, penanaman dan pemeliharaan serta pemanenan yang akan berakibat pada pertumbuhan tanaman, produktivitas dan kualitas produk.

Pemerintah telah memberikan fasilitas alsintan untuk memudahkan petani dalam melakukan usahatani, diharapkan dengan penggunaan alsintan akan memberikan dampak pada usahatani yang efisien sehingga akan

66

meningkatkan keuntungan bagi petani. Berikut analisa usahatani dengan menggunakan alsin dan tenaga manusia.

67

Tabel 4.11.

Analisa Usahatani Padi di Kabupaten Grobogan

NO URAIAN JML SATUAN TENAGA menggunakan alsintan TR 4 dan combine harvester yang hasilnya dipanen sendiri memiliki keuntungan sebesar Rp 23.520.000,- sedangkan kalau ditebaskan memiliki keuntungan Rp 21.020.000,-. Petani di Kabupaten Grobogan pada umumnya menjual padi dengan cara ditebaskan sehingga keuntungan tersebut merupakan pendapatan yang cukup dalam rumahtangga tani apabila kita menghitung keuntungan per bulan petani sesuai dengan waktu budidaya padi selama 4 bulan berarti keuntungan per bulan Rp 5.255.000,-

Usahatani padi di Kabupaten Grobogan dengan menggunakan alsintan TR 2 dan combine harvester yang panennya dilakukan sendiri memiliki keuntungan sebesar 24.720.000 dan tebasan Rp 22.220.000,-. Petani di Kabupaten Grobogan pada umumnya menjual padi dengan cara ditebaskan sehingga keuntungan tersebut merupakan pendapatan yang cukup dalam rumahtangga tani apabila kita menghitung keuntungan per bulan petani sesuai dengan waktu budidaya padi selama 4 bulan berarti keuntungan per

68

per bulan Rp 5.555.000,- Penggunaan TR 2 memberikan biaya input yang lebih rendah karena biaya pengolahan tanah lebih rendah dengan waktu yang lebih cepat yaitu sebesar Rp 600.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar.

Usahatani padi di Kabupaten Grobogan dengan menggunakan tenaga manusia yang hasilnya dipanen dengan tebasan memiliki keuntungan sebesar Rp 20.120.000,- sedangkan kalau dipanen sendiri memiliki keuntungan Rp 12.870.000,-. Hasil panen yang dilakukan sendiri memberikan hasil lebih rendah dibandingkan dengan tebasan karena kehilangan hasil pada waktu panen lebih tinggi serta kualitas gabah yang dipanen lebih rendah sehingga harga yang diperoleh juga rendah.

Keuntungan yang rendah juga dipengaruhi oleh biaya untuk pengolahan tanah dan ongkos panen yang lebih tinggi. Petani di Kabupaten Grobogan pada umumnya menjual padi dengan cara ditebaskan sehingga keuntungan tersebut merupakan pendapatan yang cukup dalam rumahtangga tani apabila kita menghitung keuntungan per bulan petani sesuai dengan budidaya padi membutuhkan waktu selama 4 bulan berarti keuntungan per bulan Rp 5.030.000,-

Rata-rata pendapatan petani dengan melakukan usahatani padi dengan menggunakan alsintan sebesar Rp 5.405.000,-. Pendapatan petani apabila dikonversikan dengan jumlah anggota keluarga 4 orang dengan kebutuhan hidup layak sebesar Rp 1.540.000,- maka pendapatan petani dalam kondisi cukup memenuhi kebutuhan.

69 menggunakan alsintan TR 4 dan combine harvester yang hasilnya dipanen sendiri memiliki keuntungan sebesar Rp 25.155.000,- sedangkan kalau ditebaskan memiliki keuntungan Rp 20.155.000,-. Petani di Kabupaten Magelang pada umumnya menjual padi dengan cara dipanen sendiri dengan cara bawon. Keuntungan tersebut merupakan pendapatan yang cukup dalam rumahtangga tani apabila kita menghitung keuntungan per bulan petani sesuai dengan waktu budidaya padi selama 4 bulan berarti keuntungan per bulan Rp 6.288.750,-

Usahatani padi di Kabupaten Grobogan dengan menggunakan alsintan TR 2 dan combine harvester yang panennya dilakukan sendiri memiliki keuntungan sebesar 25.155.000 dan tebasan Rp 20.155.000,-. Petani di Kabupaten Magelang pada umumnya menjual padi dengan cara dipanen sendiri dengan cara dibawon sehingga keuntungan tersebut merupakan pendapatan yang cukup dalam rumahtangga tani apabila kita menghitung keuntungan per bulan petani sesuai dengan waktu budidaya padi selama 4 bulan berarti keuntungan per bulan Rp 6.288.750,-

Usahatani padi di Kabupaten Magelang dengan menggunakan tenaga manusia yang hasilnya dipanen sendiri memiliki keuntungan sebesar Rp 24.455.000,- sedangkan kalau ditebas memiliki keuntungan Rp 19.455.000,- Hasil panen yang dilakukan sendiri memberikan hasil lebih tinggi bila dibandingkan dengan tebasan karena panennya menggunakan sistem bawon sehingga tenaga kerja lebih hati-hati dalam melakukan proses pemanenan.

70

Keuntungan yang diterima petani juga dipengaruhi oleh biaya pengolahan tanah yang lebih tinggi serta penggunaan pupuk NPK yang lebih banyak.

Keuntungan selama budidaya dengan waktu 4 bulan maka pendapatan petani setiap bulan sebesar Rp 6.113.750,-

Rata-rata pendapatan petani dengan melakukan usahatani padi dengan menggunakan alsintan sebesar Rp 6.288.750,-. Pendapatan petani apabila dikonversikan dengan jumlah anggota keluarga 4 orang dengan kebutuhan hidup layak sebesar Rp 1.742.000,- maka pendapatan petani dalam kondisi cukup memenuhi kebutuhan.

71

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. KESIMPULAN

1. Pemanfaatan Alsintan oleh petani yang paling banyak adalah jenis Traktor Roda 2 untuk pengolahan tanah dan Power threser untuk penanganan pasca panen, sedangkan jenis Alsintan lainnya yang masih belum maksimal, bahkan ada yang belum digunakan (Pompa Air yang berat, transplanter, hand sprayer pompa tangan, combine havester sedang dan kecil, power threser multiguna/dorong).

2. Permasalahan pemanfaatan Alsintan (budidaya) pada tingkat petani relatif banyak aspek yang berpengaruh, baik dari sisi spesifikasi, merk (kualitas), jenis dan kondisi lahan, operator dan teknisi serta manajemen lainnya.

3. Kelembagaan pengelola Alsintan sudah lengkap, dari pusat hingga UPJA (Kementerian Pertanian - Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten - Brigade KODIM-Gapoktan/Poktan - UPJA), namun :

a. Tugas untuk melatih operator dan teknisi bengkel serta sarana bengkelnya belum terprogram dengan efektif.

b. Brigade sebagai pengelola Alsintan, namun tidak berkaitan langsung dengan petani pengguna Alsintan, kadang agak terlalu jauh komunikasinya.

4. Pengelolaan alsintan di Brigade sebatas memfasilitasi peminjaman alsintan yang dibutuhkan oleh Gapoktan, Poktan dan UPJA belum pada pengelolaan yang berkelanjutan dan terkendala pada ketersediaan operator

5. Perencanaan kebutuhan Alsintan, secara prosedural sudah dilakukan secara bottom up (Poktan dan UPJA), namun secara kualifikasi kebutuhan riil di lapangan, belum sesuai dengan kondisi spesifik lokasi (jenis tanah, luasan petakan, kontur tanah/topografi, kebutuhan jumlah dan jenis, ketersediaan operator), sehingga pemanfaatannya juga belum optimal.

72

6. Secara financial pengelolaan Alsintan belum memberikan pengaruh ekonomi bagi pengelola UPJA, karena seluruh alsintan tidak operasional secara maksimal.

7. Secara usahatani penggunaan alsintan traktor roda dua dan combine harvester memberikan keuntungan tertinggi dibandingkan dengan menggunakan traktor roda 4 dan tenaga manusia.

5.2. REKOMENDASI

1. Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, mengevaluasi dan merencanakan secara cermat penggunaan jenis, merk dan jumlah Alsintan pada tingkat petani yang sering dibutuhkan dan efektif tidak mudah rusak. Di samping itu, juga membagi habis seluruh tugas dan kegiatan penggelolaan Alsintan sampai ke tingkat petani.

2. Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, mendistribusikan Alsintan kepada kelompok tani atau kelompok dengan mempertimbangkan berbagai faktor pendukung, yaitu: (a) alsintan yang diberikan memiliki kesesuaian dengan kondisi lahan dan kebutuhan setempat, (b) keberadaan operator, teknisi dan manager terampil, (c) pelatihan dan pendampingan oleh pendamping/penyuluh yang menguasai aspek mekanisasi pertanian, (d) ketersediaan bahan bakar, pelumas dan suku cadang yang dapat dijangkau dengan mudah dan harga yang wajar, (e) keberadaan bengkel alsintan dalam jarak terjangkau, (f) keberadaan jalan usahatani yang cukup memadai sebagai pendukung mobilitas alsintan di kawasan lahan usahatani, (g) akses terhadap informasi peluang usaha jasa alsintan di sekitarnya, dan (h) dukungan permodalan untuk pengembangan usaha UPJA.

3. Dinas Pertanian Kabupaten melakukan pendampingan dan penguatan kelembagaan di tingkat UPJA yang dekat dengan petani pengguna Alsintan dan pelatihan operator dan teknisi bengkel untuk menangani kerusakan kecil dan sedang.

73

4. Brigade Kodim, mendekatkan diri dengan pengguna Alsintan, yakni petani dengan selalu membuka koordinasi dengan PPL, Gapoktan dan Poktan sebagai mediator pemanfaatan Alsintan.

5. UPJA, mengkoordinasikan para petani sehamparan sesuai kapasitas Alsintan, agar masa tanam yang mengelompok memudahkan operasional Alsintan di lapangan dan mempersiapkan tenaga operator dan teknisi Alsintan dari penduduk setempat.

74

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1967. Farm Machinery Cost and Use. Agricultural Engineering Yearbook, 1967.

Bambang Hendro Sunarminto. 2015. Pertanian Terpadu untuk Mendukung Kedaulatan Pangan Nasional. UGM Pres. Jogjakarta

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2017. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Perubahan. Semarang

Bappeda Provinsi Jawa Tengah. 2018. Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019. Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Semarang.

BPS Kabupaten Magelang. 2017. Kabupaten Magelang Dalam Angka. BPS Kabupaten Magelang.

BPS Kabupaten Grobogan. 2017. Kabupaten Grobogan Dalam Angka. BPS Kabupaten Grobogan.

BRS. 2018. Statistik Ekonomi Jawa Tengah. BPS jawa Tengah.

Deptan, 2006. Rencana Pembangunan Pertanian 2005-2009.Deptan. Jakarta De Garmo EP, Sullivan WG, Canada CR. 1984. Enginering Economy. 7th Ed

Mc.Millan Pub.New York

Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Direktorat Alat dan Mesin Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Bantuan Alat Mesin Pertanian. Direkturat Alat dan Mesin Pertanian, Jakarta

Era Nandya Febriana, Jayus, Rosita Indrayati; 2017. Pengelolaan Barang Milik Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. e-Journal Lentera Hukum, Volume 4 , Issue 2 (2017), pp. 131-149© University of jember, 2017.First published online, 29 August 2017.Jember

Firdaus, Jon Hendri, M. Yusuf Ant. Dukungan Alsintan Terhadap Peningkatan Produksi Padi Pada Kegiatan Upsus Padi Di Kabupaten Muaro Jambi. BPTP Jambi.

Handaka dan Abi Prabowo. 2014. Kebijakan Antisipatif Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 11 No. 1: 27-44

Hunt, D.R. 1986. Engineering Models for Agiculture Production. The AVI Publishing company, Inc. Wesport, Connecticut.

Johanes Amirrullah, 2016. Efisiensi Penggunaan Alat Mesin Panen Padi Combine Harvester Pada Lahan Sawah Pasang Surut Di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Nasionallahan Suboptimal 2016 , Palembang 20-21 Oktober 2016

Kementan, 2018. Pedoman Pengelolaan Umum Brigade Alsintan. .Jakarta

75

Kementan, 2018. Pedoman Teknis Pengadaan dan Penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian. Jakarta.

Rizma Aldillah. 2016. Kinerja Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian Dan Implikasinya Dalam Upaya Percepatan Produksi Pangan Di Indonesia.

Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2.

Soeprodjo, 1975. Cara Menentukan Ukuran Utama Traktor Untuk Pengolahan Tanah. FTP UGM, Yogyakarta.

Soedjatmiko.1975. Pola dan Sistem Mekanisasi Pertanian. Direktorat Jenderal

Soedjatmiko.1975. Pola dan Sistem Mekanisasi Pertanian. Direktorat Jenderal

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN (Halaman 66-0)