IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.9. Faktor – faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan
Pendapatan yang diperoleh nelayan berasal dari mata pencaharian menangkap ikan dan mata pencaharian sampingan. Pendapatan tiap nelayan responden disajikan pada lampiran 18. Mata pencaharian sampingan yang memiliki kontribusi terhadap pendapatan nelayan adalah memelihara ikan di karamba dan eksploitasi kayu hutan. Rata - rata pendapatan responden disajikan pada Tabel 22.
Tabel 22. Rata - rata pendapatan responden
No Keterangan Responden
Petuk Ketimpun Marang 1. Pendapatan total (rupiah /th/nelayan) 12.543.253 13.175.100 2. Pendapatan / kapita (rupiah//th/orang) 2.852.264 3.210.790 3. Pendapatan bulanan keluarga
(rupiah/kel/bulan) 1.045.271 1.097.925
Mata pencaharian yang memberikan kontribusi terbesar pada pendapatan total nelayan adalah sektor penangkapan ikan. Kontribusi pendapatan dari sektor penangkapan ikan mencapai 71,07 % di Petuk Ketimpun dan 66,37 % di Marang. Sektor eksploitasi kayu hutan memberi kontribusi yang kecil yaitu kurang dari 5 % dari total pendapatan (Gambar 36). Terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi peranan pendapatan sektor penangkapan ikan, semakin rendah pendapatan nelayan. Peranan pendapatan sektor penangkapan ikan berkorelasi negatif dengan pendapatan total dengan r = – 0,428 (p = 0,018). Dengan demikian terdapat kecenderungan nelayan dengan pendapatan yang lebih rendah, pendapatannya semakin bergantung pada sektor penangkapan ikan.
Menangkap ikan Memelihara ikan di karamba eksploitasi kayu hutan Gambar 36. Proporsi peranan sumber pendapatan responden
Petuk Ketimpun 71.07% 24.09% 4.84% Marang 66.37% 30.34% 3.29%
Mata pencaharian sampingan berperan membantu meningkatkan pendapatan nelayan pada saat tidak musim ikan. Mereka biasanya menjual ikan hasil dari karamba pada saat tidak musim ikan, sehingga dapat mengatasi kekurangan pendapatan pada saat hasil penangkapan ikan menurun.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak menurut standar Bank Dunia, diperlukan pendapatan 1 US $ / orang / hari (Sumedi dan Supadi 2004). Jumlah nelayan responden yang memiliki pendapatan di bawah 1 US $ /orang/hari sebanyak 66,67 % (Petuk Ketimpun) dan 50,00 % (Marang). Dengan demikian sekitar separuh masyarakat nelayan belum mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Rata – rata pendapatan bulanan keluarga nelayan di atas upah minimum regional (UMR) Kalimantan Tengah tahun 2006 sebesar Rp 736.000,-. Namun demikian sebagian nelayan masih memiliki pendapatan di bawah UMR. Jumlah nelayan responden yang memiliki pendapatan di bawah UMR sebanyak 26,67 % (Petuk Ketimpun) dan 10,00 % (Marang). Responden memiliki persepsi bahwa pendapatan mereka cukup untuk kehidupan mereka. Bahkan pada saat musim ikan, mereka berpendapat bahwa pendapatan mereka melebihi kebutuhan hidup sehari – hari. Sebaliknya pada saat tidak musim ikan, pendapatan mereka tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari. Untuk mengatasi pendapatan yang kurang, sebagian nelayan mengeksploitasi kayu hutan, menerima upah pekerjaan bangunan atau membersihkan pekarangan. Nelayan yang memiliki karamba, cenderung menjual ikannya pada saat tidak musim ikan, untuk mengatasi pendapatan yang kurang. Pendapatan yang berlebih pada saat musim ikan digunakan untuk membayar hutang di warung bahan makanan, membeli alat tangkap baru, perlengkapan penangkapan ikan lainnya, dan kebutuhan sekolah anak.
Faktor – faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat pendapatan nelayan dianalisis pada tiap jenis mata pencaharian nelayan yaitu sektor menangkap ikan, sektor memelihara ikan di karamba dan sektor eksploitasi kayu hutan.
4.9.1. Sektor penangkapan ikan
Pendapatan nelayan dari sektor penangkapan ikan tergantung musim ikan sehingga memiliki perbedaan antar waktu dalam satu tahun. Sebagian besar
71,38 % (Marang) dari pendapatan sektor penangkapan diperoleh pada saat musim ikan. Musim ikan berlangsung sekitar 7 bulan dalam satu tahun.
Pendapatan total sektor penangkapan ikan tiap nelayan bervariasi, berkisar antara Rp 2.998.000 – 21.336.000 / nelayan / th (Petuk Ketimpun) dan Rp 4.604.000 – 12.288.000/ nelayan / th (Marang). Variasi pendapatan ini dipengaruhi beberapa faktor. Beberapa faktor yang dianalisis meliputi pengaruh pemilikan perahu dan alat tangkap, wilayah penangkapan, jam kerja dalam satu hari, sistem penjualan ikan, dan harga jual rata – rata ikan. Pemilikan perahu meliputi perahu bermotor maupun perahu dayung. Alat tangkap yang digunakan dalam analisis adalah jaring insang, karena jaring insang merupakan alat tangkap yang memiliki peranan terbesar terhadap hasil tangkapan baik di Petuk Ketimpun maupun Marang (Tabel 14). Wilayah penangkapan yang digunakan oleh nelayan dibagi menjadi sungai, rawa terbuka dan rawa berhutan. Sistem penjualan ikan yang digunakan oleh nelayan dibagi menjadi 3 yaitu : dijual kepada pedagang ikan yang datang ke kampung nelayan, dijual ke pasar kepada pedagang, dan dijual sendiri di pasar atau berkeliling menggunakan motor / sepeda. Hasil analisis diskriminan disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23. Analisis diskriminan pendapatan dari sektor penangkapan ikan
Petuk Ketimpun (p = 0,067) Marang (p = 0,010) No Faktor-faktor Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) 1 Konstanta -8,562 -12,288
2 Jumlah pemilikan perahu 0,391 13,31 0,963 33,28 3 Jumlah pemilikan alat tangkap 0,206 36,51 0,175 20,65 4 Wilayah penangkapan 0,208 6,36 0,404 9,51 5 Jam kerja/hari 0,309 12,17 0,658 18,52 6 Sistem penjualan ikan -0,300 11,57 0,292 6,04 7 Harga jual ikan rata-rata 0,497 20,08 0,341 12,00
Faktor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap pendapatan sektor penangkapan ikan di Petuk Ketimpun adalah jumlah pemilikan alat tangkap yaitu 36,51 %. Faktor lain yang memiliki kontribusi pada urutan ke 2 dan 3 adalah harga jual ikan dan jumlah pemilikan perahu. Faktor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap pendapatan sektor penangkapan ikan di Marang adalah jumlah pemilikan perahu yaitu
33,28 %. Faktor lain yang memiliki kontribusi pada urutan ke 2 dan 3 adalah jumlah pemilikan alat tangkap dan jam kerja/hari. Faktor produksi seperti alat tangkap dan perahu merupakan faktor penting penentu pendapatan nelayan. Harga ikan memiliki kontribusi yang besar di Petuk Ketimpun dibandingkan di Marang, karena sebagian nelayan Petuk Ketimpun mampu menjual ikan dengan harga yang lebih tinggi. Nelayan Marang kurang mendapat kesempatan menjual ikan dengan harga yang berbeda, karena mereka sangat tergantung pada sedikit pedagang pengumpul ikan. Nelayan dengan jam kerja / hari yang lebih tinggi cenderung memiliki pendapatan yang lebih tinggi. Perbedaan jam kerja dipengaruhi oleh jauhnya lokasi penangkapan ikan. Nelayan yang memerlukan waktu yang lebih lama cenderung menangkap ikan di tempat yang lebih jauh. Nelayan dengan pendapatan lebih tinggi cenderung lebih mampu untuk menangkap ikan di tempat yang lebih jauh.
Penggunaan wilayah penangkapan dan sistem penjualan memiliki kontribusi yang rendah di Petuk Ketimpun maupun Marang. Dengan demikian dua faktor ini berpengaruh kecil terhadap pendapatan nelayan. Perbedaan dalam penggunaan wilayah penangkapan dan sistem penjualan tidak menyebabkan perbedaan besar pada pendapatan nelayan.
4.9.2. Sektor memelihara ikan di karamba
Faktor – faktor yang dianalisis pengaruhnya terhadap perbedaan pendapatan sektor memelihara ikan di karamba adalah luas karamba yang dimiliki nelayan (m2), padat penebaran benih ikan (ratus ekor / m2), lama waktu pemeliharaan ikan (bulan), sistem penjualan ikan, dan harga jual ikan (ribu rupiah / kg). Sistem penjualan ikan hasil panen karamba ada 3 macam yaitu : dijual di sungai, dijual ke pasar pada pedagang, dan dijual langsung ke konsumen baik di pasar maupun dijual keliling. Hasil analisis disajikan pada Tabel 24.
Luas pemilikan karamba merupakan faktor utama yang mempengaruhi perbedaan pendapatan sektor karamba baik di Petuk Ketimpun maupun Marang. Dengan demikian luas karamba yang dimiliki merupakan faktor penentu utama pendapatan sektor karamba. Faktor lain yang memiliki kontribusi yang signifikan di Petuk Ketimpun adalah padat penebaran benih dan tingkat harga jual ikan, sedangkan
oleh sebagian nelayan di Petuk Ketimpun masih belum optimal. Sebaliknya padat penebaran benih di Marang kontribusinya rendah. Pada umumnya di Marang cenderung padat penebaran benih yang tinggi, dan sudah tidak dapat ditingkatkan lagi. Padat penebaran di Petuk Ketimpun hanya 50,19 % dibanding di Marang. Lama waktu pemeliharaan mempengaruhi sekitar 38,34 % pendapatan sektor memelihara ikan karamba di Marang. Sebagaian nelayan Marang memelihara ikan terlalu lama yaitu 18 bulan, sedangkan ikan toman bisa di panen pada umur 9 - 12 bulan. Peningkatan waktu pemeliharaan memberikan dampak menurunkan pendapatan.
Tabel 24. Analisis diskriminan pendapatan dari sektor memelihara ikan di karamba
Petuk Ketimpun (p = 0,0001) Marang (p = 0,0001) No Faktor-faktor Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) 1 Konstanta -15,431 -0,837
2 Luas pemilikan karamba 0,481 41,92 0,923 52,80 3 Padat penebaran benih 0,021 26,55 -0,001 0,92 4 Lama waktu pemeliharaan ikan 0,095 1,95 -0,430 38,34 5 Sistem penjualan ikan 0,287 6,25 -0,372 7,94 6 Harga jual ikan 0,663 23,33 0 0
4.9.3. Sektor eksploitasi kayu hutan
Faktor – faktor yang dianalisis pengaruhnya terhadap perbedaan pendapatan sektor eksploitasi kayu hutan adalah jumlah waktu menebang (hari / tahun), kapasitas menebang (kubik / hari), ukuran kayu yang ditebang (batang / m3), dan harga jual kayu (rupiah / m3). Hasil analisis diskriminan disajikan pada Tabel 25.
Faktor utama yang memiliki kontribusi relatif yang tinggi di Petuk Ketimpun maupun Marang adalah kapasitas menebang, jumlah waktu menebang dan harga jual kayu. Kapasitas menebang tergantung dari kemampuan fisik pribadi nelayan, alat yang digunakan, serta jarak lokasi penebangan dengan pemukiman nelayan. Jumlah waktu menebang bergantung pada tingkat genangan hutan rawa dan musim ikan. Penebangan pohon hanya dilakukan bila kedalam air mencukupi untuk membawa kayu ke sungai. Apabila penangkapan ikan masih memberikan hasil yang mencukupi, maka nelayan cenderung tidak melakukan penebangan, meskipun hutan rawa sudah
tergenang. Faktor ukuran kayu hanya memberikan kontribusi yang rendah, karena ukuran kayu yang dieksploitasi tidak jauh berbeda antar nelayan yang mengeksploitasi kayu. Harga jual kayu bervariasi bergantung pada jenis kayu dan pembeli kayu. Sebagian nelayan menjual kayu kepada nelayan lain yang memiliki hubungan dengan pembeli kayu.
Tabel 25. Analisis diskriminan pendapatan dari sektor eksploitasi kayu hutan
Petuk Ketimpun (p = 0,0001) Marang (p = 0,031) No Faktor-faktor Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) Koefisien diskriminan Kontribusi relatif (%) 1 Konstanta -26,166 -32,946
2 Jumlah waktu menebang 0,306 21,41 1,700 46,06 3 Kapasitas menebang 5,703 40,96 1,831 21,53 4 Ukuran kayu 0,111 2,93 0,063 2,11 5 Harga jual 2,444 34,70 2,196 30,30