• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.10. Faktor sosial yang berperan pada keberlanjutan ekosistem

4.10.1. Nilai dan norma sosial

Nilai - nilai sosial yang dimiliki oleh masyarakat nelayan merupakan nilai yang berasal dari budaya yang dimiliki. Nilai – nilai sosial yang dimiliki masyarakat nelayan tidak jauh berbeda dengan nilai – nilai yang dimiliki oleh suku Dayak pada umumnya. Nilai-nilai sosial masyarakat nelayan Petuk Ketimpun dan Marang tidak berbeda, karena kedua kelompok masyarakat nelayan tersebut masih berkerabat dan menempati lokasi yang berdekatan. Nilai – nilai yang berhasil diungkap selama penelitian antara lain :

1. Kekerabatan merupakan ikatan sosial yang utama.

Masyarakat nelayan menjunjung tinggi kekerabatan. Kekerabatan menjadi dua bagian yaitu kekerabatan sempit yaitu dari keluarga inti, serta kekerabatan luas. Kekerabatan luas meliputi satu desa, bahkan antar desa. Kekerabatan mempengaruhi perilaku tolong menolong serta norma - norma penguasaan

antar nelayan baik antara nelayan satu desa, maupun antara nelayan Petuk Ketimpun dan Marang. Mudiyono (1994) menyatakan bahwa kesatuan sosial pada masyarakat Dayak terbentuk oleh faktor keturunan.

2. Penguasaan teritorial perairan untuk penangkapan ikan

Penguasaan teritorial perairan dilakukan oleh masyarakat nelayan untuk kepentingan melindungi keberlanjutan mata pencaharian mereka. Penguasaan teritorial perairan dilakukan oleh satu keluarga atau secara komunal oleh seluruh nelayan desa. Penguasaan hanya terbatas untuk kepentingan penangkapan ikan, sehingga masyarakat lain dapat melewati teritorial tersebut. Penguasaan oleh suatu keluarga dilakukan dengan mencari teritorial baru yang belum dimanfaatkan untuk penangkapan ikan oleh nelayan lain.

3. Hidup menyatu dengan lingkungannya

Masyarakat Dayak menganggap hidupnya merupakan bagian dari alam itu sendiri, sehingga lingkungan sekitarnya harus dipelihara dan dihormati (Florus 1994). Eksploitasi kayu hutan hanya untuk keperluan sendiri seperti untuk membangun rumah dan tidak untuk dijual. Pemanfaatan kayu hutan untuk kayu bakar hanya dengan mengumpulkan ranting-ranting kayu.

4. Hidup sederhana.

Prinsip hidup sederhana mempengaruhi pola masyarakat dalam menangkap ikan. Mereka menangkap ikan secukupnya, yaitu hanya 4 jam per hari. Akibatnya sumberdaya ikan tidak terkuras. Mereka kurang memikirkan hari kedepan, sehingga tidak punya kebiasaan menabung.

5. Sikap saling tolong menolong

Kebersamaan yang tinggi dilandasi oleh adanya ikatan kekerabatan dalam satu desa. Sikap tolong menolong juga dilakukan pada mata pencaharian, misalnya pada saat memasang alat tangkap, menjaga alat tangkap nelayan lain yang ditinggal di perairan, saling memberi hasil tangkapan (untuk keperluan konsumsi). 6. Kesetaraan gender dalam bekerja

Tingkat keterlibatan perempuan dalam bekerja pada umumnya sangat tinggi. Keterlibatan perempuan tidak dibatasi pada satu jenis pekerjaan. Perempuan dijumpai melakukan pekerjaan : menangkap ikan, membuat alat tangkap, bahkan ikut dalam pekerjaan menebang pohon hutan rawa. Keterlibatan perempuan pada

mata pencaharian menangkap ikan juga terjadi di perikanan rawa lebak di Asia Tenggara lainnya (Kusakabe 2003).

Norma – norma pemanfaatan sumberdaya ikan dan hutan di rawa lebak yang dimiliki oleh masyarakat nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26. Norma – norma pemanfaatan sumberdaya ikan dan hutan yang dimiliki oleh masyarakat nelayan Petuk ketimpun dan Marang

No Norma – norma Nelayan yang memiliki Petuk Ketimpun

Marang 1. Perairan rawa lebak di desa, merupakan tempat penangkapan

ikan hanya untuk nelayan desa tersebut. Orang luar dapat menangkap ikan di desa tersebut, apabila melakukan ikatan kekerabatan dengan cara perkawinan.

V V

2. Penguasaan danau atau anak sungai oleh suatu keluarga diturunkan pada keturunannya

V V

3. Orang luar desa boleh menangkap ikan di sungai Rungan V - 4. Masyarakat luar desa dapat menggunakan wilayah perairan

untuk rekreasi memancing.

- V 5. Masyarakat luar desa dapat menggunakan wilayah perairan

untuk rekreasi memancing, kecuali di rawa terbuka saat musim air rendah.

V -

6. Apabila ada nelayan yang telah menempatkan alat tangkap selambau di suatu anak sungai, maka nelayan lain tidak boleh menangkap ikan di anak sungai tersebut. Ketentuan ini berlaku hingga nelayan atau keluarga pemilik selambau tidak menggunakan anak sungai itu lagi.

V V

7. Nelayan tidak menempatkan alat tangkap di dekat wilayah yang sudah dipasang alat tangkap nelayan lain.

V V

8. Tiap nelayan memiliki penguasaan wilayah pinggir sungai depan rumah masing-masing, untuk menempatkan karamba.

V V

9. Hutan rawa lebak di wilayah desa hanya boleh dieksploitasi oleh masyarakat desa.

V V

10. Tidak menggunakan jaring rempak di seluruh perairan V - 11. Tidak menggunakan jaring rempak di danau Marang & Bajawak - V 12. Tidak menangkap ikan dengan racun dan listrik V V

Terdapat aturan formal yang dibuat Pemerintah Kota Palangkaraya yang mengatur penangkapan ikan (Tabel 27). Nelayan pada umumnya sudah mengetahui aturan formal yang dibuat oleh Pemerintah yang berupa Perda Kota Palangkaraya.

sedangkan nelayan Marang sekitar 63,33%. Pemerintah Kota Palangkaraya mensosialisasikan aturan formal tersebut melalui Kelurahan, Subdinas Perikanan Kota Palangkaraya, dan melalui pemasangan rambu aturan di perairan rawa lebak baik di Petuk Ketimpun maupun Marang. Aturan Perda tersebut dapat diterima dengan baik oleh nelayan, karena sesuai dengan norma yang dimiliki nelayan. Aturan dalam bentuk himbauan dari Subdinas Perikanan untuk pembatasan mata jaring belum efektif dan belum diketahui oleh nelayan.

Tabel 27. Aturan formal penangkapan ikan di Petuk Ketimpun dan Marang

No Aturan Sumber Aturan

1 Tidak boleh menangkap ikan dengan racun dan listrik

Perda Kota Palangkaraya 2 Penggunaan jaring insang dengan mata jaring

minimal 2,5 inci

Himbauan subdinas Perikanan

4.10.2. Perilaku nelayan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan dan hutan

Perilaku masyarakat nelayan didasari oleh nilai, norma, serta pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Sikap nelayan mengenai pemanfaatan ekosistem rawa lebak disajikan pada Tabel 28. Sikap nelayan terhadap sumberdaya hutan di rawa lebak, mempengaruhi tingkat eksploitasi kayu hutan. Nelayan tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pengaruh penebangan pohon hutan terhadap sumberdaya ikan. Mereka tidak memahami, bahwa tindakan mereka menebang pohon hutan akan merugikan mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Sebagian besar masyarakat nelayan (Petuk Ketimpun 90 %, Marang 83,33 %), setuju apabila kayu hutan rawa lebak dimanfaatkan untuk dijual. Hanya sebagian kecil nelayan yang menyetujui hutan rawa lebak sebaiknya dibiarkan menjadi hutan alam. Masyarakat nelayan tidak memiliki pengetahuan mengenai dampak penambangan emas di sungai terhadap sumberdaya ikan. Kondisi ini disebabkan oleh aktivitas penambangan emas masih jarang dilakukan di Petuk ketimpun dan Marang. Aktivitas penambangan emas lebih banyak dilakukan di sungai Kahayan.

Tabel 28. Sikap responden terhadap sumberdaya ikan dan perairan rawa lebak

No Sikap Jumlah responden

yang setuju (%) Petuk ketimpun Marang 1 Penebangan hutan merusak sumberdaya ikan 10,00 0,00 2 Penambangan emas di sungai merusak

sumberdaya ikan

0,00 0,00 3 Penangkapan ikan dengan racun dan listrik

merusak sumberdaya ikan

100,00 100,00 4 Penangkapan ikan oleh orang luar desa merusak

sumberdaya ikan

33,33 6,67 5 Penangkapan ikan berlebihan merusak

sumberdaya ikan

60,00 63,33 6 Penangkapan induk ikan yang mau bertelur

merusak sumberdaya ikan

10,00 0,00 7 Menangkap ikan yang masih kecil merusak

sumberdaya ikan

23,33 16,67 8 Hutan di rawa lebak sebaiknya dibiarkan menjadi

hutan alam

10,00 16,67 9 Hutan di rawa lebak sebaiknya dimanfaatkan kayu

hutannya yang bisa dijual

90,00 83,33

Kearifan lokal masyarakat nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang yang mendukung keberlanjutan ekosistem adalah :

1. Menangkap ikan secukupnya dengan membatasi waktu penangkapan ikan sekitar 4 jam per hari.

2. Membatasi akses orang luar desa untuk menangkap ikan.

3. Mengembalikan benih ikan yang tertangkap ke perairan, terutama pada alat tangkap selambau dan jebakan.

4. Menjaga perairan dari penggunaan alat tangkap racun, listrik, dan rempak. 5. Mencegah hutan rawa lebak dari penebangan oleh masyarakat luar desa.

Perilaku yang dijumpai pada masyarakat nelayan yang dapat menyebabkan kerusakan eksositem rawa lebak adalah :

1. Menangkap ikan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Alat tangkap yang tidak ramah lingkungan meliputi : listrik, racun, selambau, dan jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil (1 inci). Alat tangkap yang tidak

masyarakat nelayan dan alat tangkap yang diperbolehkan digunakan oleh nelayan. Alat tangkap yang dilarang oleh masyarakat nelayan, seperti listrik dan racun, sedangkan yang tidak dilarang adalah selambau dan jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil. Kasus penggunaan listrik dan racun untuk menangkap ikan terutama dijumpai di Petuk Ketimpun. Petuk Ketimpun posisinya dekat dengan Kota Palangkaraya, sehingga pelanggaran lebih sering terjadi. Perilaku penggunaan alat tangkap listrik dan racun dilakukan oleh masyarakat luar desa, dan nelayan tertentu di desa. Masih terjadinya penggunaan alat tangkap listrik dan racun, karena lemahnya kontrol masyarakat nelayan di wilayah – wilayah perairan yang sedikit kehadiran nelayan. Nelayan di Petuk Ketimpun yang dicurigai menggunakan racun dan listrik cenderung dijauhi dari pergaulan nelayan. Selambau digunakan oleh nelayan tertentu yang memiliki penguasaan wilayah anak sungai. Jaring insang dengan ukuran mata jaring kecil digunakan oleh seluruh nelayan. Dampak penggunaan alat tangkap tersebut adalah penurunan populasi ikan, yang akhirnya dapat mengancam keberlanjutan sumberdaya ikan dan pendapatan nelayan. Penggunaan selambau dan jaring insang ukuran mata jaring kecil tetap digunakan, karena tidak dilarang, mudah mendapatkan ikan dengan alat tersebut, dan nelayan belum mengetahui dampak negatif penggunaan alat tangkap tersebut.

2. Penangkapan ikan terfokus di rawa terbuka, sehingga cenderung terjadi penangkapan berlebih di rawa terbuka.

Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Petuk Ketimpun dan Marang terfokus di rawa terbuka, karena jaring insang lebih mudah dioperasikan di lokasi tersebut dibandingkan di rawa berhutan. Dampak dari perilaku ini adalah ikan di rawa terbuka mengalami tekanan penangkapan yang intensif, sedangkan di rawa berhutan tekanan penangkapan sangat rendah. Tekanan penangkapan yang intensif ini mengakibatkan keanekaragaman dan kelimpahan ikan di rawa terbuka lebih rendah dibandingkan rawa berhutan (Gambar 21 dan 22).

3. Penangkapan anak ikan dan induk ikan toman.

Penangkapan anak ikan toman dilakukan untuk memenuhi kebutuhan benih ikan toman pada usaha budidaya ikan toman di karamba. Penangkapan dilakukan oleh masyarakat nelayan desa tersebut yang memiliki karamba maupun yang tidak

memiliki karamba. Meskipun nelayan tidak memiliki karamba, mereka tetap menangkap anak ikan toman, bila kebetulan menjumpai gerombolan anak ikan toman pada saat menangkap ikan. Anak ikan yang diperoleh dijual kepada nelayan lain yang memiliki karamba. Penangkapan anak ikan toman dilakukan, karena benih ikan ini belum diproduksi melalui teknik budidaya dan biaya pengadaan benih ikan lebih murah bila melalui penangkapan dari alam. Induk ikan toman yang masih menjaga anaknya ikut ditangkap, karena memiliki nilai jual yang tinggi. Penangkapan anak ikan dan induk ikan toman mengakibatkan populasi ikan ini semakin menurun. Bahkan dalam penelitian ini, selama 1 tahun tidak berhasil ditangkap ikan toman. Hal ini menunjukkan populasi jenis ikan ini sudah semakin sedikit.

4. Penangkapan ikan kecil untuk pakan ikan toman di karamba oleh nelayan pemilik karamba.

Penangkapan ikan kecil untuk pakan ikan toman dilakukan menggunakan alat tangkap anco yang diletakkan di rawa terbuka. Perilaku ini dilakukan oleh semua nelayan yang memiliki usaha budidaya ikan toman di karamba. Responden di Petuk Ketimpun yang memiliki karamba sekitar 86,67 % dan di Marang 80,00 %. Dampak dari perilaku ini adalah semakin meningkatnya tekanan penangkapan ikan di rawa terbuka dan cenderung merusak komunitas ikan di rawa terbuka. Ikan kecil yang tertangkap oleh anco ada dua kelompok yaitu ikan species kecil dan benih ikan. Tekanan penangkapan pada species kecil berdampak negatif pada jenis ikan lain yang makanannya berupa ikan kecil tersebut. Apabila ikan pemangsa tersebut kesulitan memperoleh mangsa, maka species tersebut akan terancam populasinya. Penangkapan benih ikan alam akan berdampak negatif pada penambahan anggota populasi (rekruitmen) jenis ikan tersebut. Peningkatan usaha budidaya ikan toman di karamba, mengakibatkan semakin meningkat intensitas dan jumlah nelayan yang melakukan perilaku ini. Belum adanya alternatif pakan atau alternatif jenis ikan pengganti untuk dibudidaya menjadi penyebab terus berlanjutnya perilaku ini.

5. Melakukan penebangan pohon hutan rawa untuk dijual sebagai bahan bangunan dan kayu bakar.

Pihak yang melakukan penebangan pohon hutan rawa adalah nelayan di desa tersebut. Nelayan responden di Petuk Ketimpun yang melakukan usaha eksploitasi kayu hutan sekitar 80 %, sedangkan di Marang sekitar 33,33 %. Nelayan Marang yang melakukan eksploitasi kayu terutama nelayan yang tergolong miskin. Persentase nelayan Petuk Ketimpun yang mengeksploitasi kayu lebih tinggi, karena yang melakukan tidak hanya yang tergolong miskin dan pembeli atau pengumpul kayu ada di desa tersebut sehingga nelayan lebih mudah menjual kayu di Petuk Ketimpun. Dampak perilaku ini adalah menurunnya kualitas hutan rawa lebak, yaitu kerapatan pohon yang rendah dan diameter batang pohon yang besar jarang dijumpai lagi. Faktor – faktor yang mendorong perilaku ini dijelaskan pada sub bab faktor – faktor pendorong eksploitasi kayu hutan (halaman 106).

4.10.3. Kontrol sosial

Kontrol sosial atas pelanggaran norma-norma yang dimiliki masyarakat nelayan dilakukan oleh masyarakat nelayan sendiri. Kontrol sosial dilakukan dengan bekerjasama dengan aparat kelurahan dan kepolisian, terutama pada kasus penangkapan ikan dengan listrik dan racun, serta adanya penebangan pohon hutan rawa oleh masyarakat luar desa.

Kasus pelanggaran penangkapan ikan dengan listrik dan racun dilakukan oleh sebagian kecil nelayan dan orang luar desa. Mereka berusaha melakukan penangkapan tersebut tanpa sepengetahuan orang lain. Masyarakat nelayan berperan sebagai pihak yang mengontrol atas pelanggaran - pelanggaran tersebut, terutama di teritorial penangkapan ikan mereka. Apabila yang melanggar berasal dari masyarakat nelayan sendiri, maka nelayan lain akan menegor atau menginformasikan ke nelayan lain. Tidak ada sanksi dari pelanggaran tersebut. Mereka yang melanggar norma- norma cenderung dijauhi dalam pergaulan masyarakat. Namun apabila pelanggaran dilakukan oleh orang luar desa, kasus tersebut dilaporkan ke pihak Kelurahan.

Kontrol sosial yang kuat terjadi pada teritorial yang dikuasai oleh keluarga nelayan, rawa terbuka yang merupakan tempat penangkapan ikan utama, dan sungai

di depan pemukiman nelayan. Teritorial yang dimiliki oleh keluarga, secara efektif dijaga oleh pemiliknya serta dibantu oleh nelayan lain yang menangkap ikan di lokasi tidak jauh dari teritorial tersebut. Rawa terbuka yang merupakan tempat penangkapan ikan utama, berada tidak jauh dari pemukiman nelayan. Frekuensi kehadiran nelayan di rawa terbuka tersebut sangat tinggi, sehingga kontrol dari nelayan efektif.

Kontrol sosial lemah terjadi atas pelanggaran yang dilakukan di wilayah perairan yang hanya sedikit nelayan, seperti di perairan rawa lebak dan sungai yang jauh dari pemukiman. Lemahnya kontrol di wilayah tersebut karena : (1) nelayan tidak memanfaatkan teritorial tersebut, (2) frekuensi kehadiran nelayan rendah, sehingga pelanggaran sering kali tidak diketahui (3) nelayan tidak merasa dirugikan, karena pelanggaran tidak di tempat penangkapan ikan utama.

4.11. Pengelolaan ekosistem rawa lebak

Pengelolaan ekosistem rawa lebak ditujukan untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya ikan di rawa lebak secara bertanggungjawab sehingga dapat mempertahankan keanekaragaman ikan dan menjamin pendapatan nelayan yang layak. Untuk mempertahankan rawa lebak sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman ikan yang tinggi diperlukan upaya mempertahankan kualitas lingkungan rawa lebak dan kontrol terhadap perilaku masyarakat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam di rawa lebak. Model pengelolaan untuk mempertahankan keanekaragaman ikan dan menjamin keberlanjutan pendapatan nelayan yang diajukan dalam tulisan ini meliputi 3 aspek yaitu :

1. Pengelolaan penangkapan ikan.

2. Pengelolaan mata pencaharian sampingan. 3. Strategi peningkatan pendapatan nelayan.

4.11.1. Pengelolaan penangkapan ikan

Model pengelolaan penangkapan ikan disajikan pada Gambar 37. Model ini dirumuskan berdasarkan kajian aspek biofisik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat nelayan. Pengelolaan penangkapan ikan menggunakan pengelolaan bersama (co-

partner yang seimbang dalam pengambilan keputusan (Pomeroy & Guieb 2006), dengan unit pengelolaan wilayah desa (village management areas / VMAs).

Pengelolaan bersama tipe cooperative dipilih untuk digunakan dalam model pengelolaan karena :

1. Wilayah perairan rawa lebak secara formal hukum merupakan kawasan yang dikuasai oleh negara, namun secara de facto, perairan tersebut dimiliki secara komunal oleh nelayan desa. Nelayan secara tradisional telah memiliki norma- norma penangkapan ikan, dan nelayan berpartisipasi aktif melakukan kontrol sosial. Tipe cooperative lebih sesuai karena kepentingan Pemerintah sebagai penguasa secara formal, dan nelayan sebagai penguasa secara de facto, dapat dikolaborasikan.

2. Adanya keterbatasan kemampuan Pemerintah Kota untuk mengelola kawasan rawa lebak yang luas dan kompleks. Dengan partisipasi nelayan, maka Pemerintah dapat menghemat biaya maupun tenaga, terutama untuk kontrol atas pelaksanaan aturan penangkapan ikan. Tipe cooperative lebih sesuai karena apabila pengambilan keputusan tidak melibatkan masyarakat nelayan, maka dukungan atau partisipasi masyarakat nelayan dalam pengelolaan akan sulit diperoleh.

3. Pengelolaan penangkapan ikan di rawa lebak memerlukan pemahaman ekologis perairan yang bersumber dari penelitian ekologis maupun bersumber dari pengetahuan tradisional dan norma – norma yang dimiliki masyarakat nelayan. Tipe cooperative lebih sesuai karena apabila pengambilan keputusan hanya dari Pemerintah, maka pengetahuan tradisional dan norma-norma yang dimiliki masyarakat nelayan belum tentu dapat dimanfaatkan dengan baik. Sebaliknya bila pengambilan keputusan diserahkan pada masyarakat nelayan, maka akan cenderung hanya mengakomodasi kepentingan ekonomi nelayan, sedangkan kepentingan konservasi keanekaragaman ikan akan diabaikan.

Gambar 37. Model pengelolaan penangkapan ikan di Kota Palangkaraya EVALUASI EFEKTIFITAS ATURAN KELOMPOK NELAYAN INFORMASI & PEMBINAAN PENGUATAN INSTITUSI MEMBANTU PEMERINTAH KONTROL ALAT TANGKAP PEMBAGIAN HAK WILAYAH PENANGKAPAN KONTROL AKSES ORANG LUAR DESA UNTUK KOMERSIAL UNTUK NON KOMERSIAL

(REKREASI, RISET) RAWA TERBUKA (DANAU)

RAWA HUTAN & ANAK SUNGAI TEKNIK PENANGKAPAN

DENGAN SELAMBAU DAN JARING

MELARANG ALAT TANGKAP REMPAK, RACUN, LISTRIK

PEMERINTAH KOTA PALANGKARAYA PENGUMPULAN DATA PERIKANAN ANALISIS KONTROL JENIS IKAN TANGKAPAN

JENIS IKAN DENGAN POPULASI RENDAH MEMBANGUN

KAWASAN SUAKA PERIKANAN PERDA & PROGRAM

KONSERVASI

ATURAN PENANGKAPAN

Keterangan : Peran Pemerintah

Peran masyarakat nelayan Peran Perguruan Tinggi

Peran Organisasi non Pemerintah

ORGANISASI NON PEMERINTAH PENGUATAN INSTITUSI PROGRAM KONSERVASI PERGURUAN TINGGI / LEMBAGA PENELITIAN PENELITIAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT PERDA

Batas wilayah pengelolaan

Unit pengelolaan berdasarkan wilayah desa (VMAs) karena :

1. Nelayan tiap desa memiliki batas teritorial penangkapan ikan yang jelas, yaitu batas desa.

2. Anggota masyarakat nelayan yang mengeksploitasi sumberdaya ikan terdefinisi dengan baik, yaitu hanya masyarakat desa tersebut.

3. Adanya ikatan sosial dalam masyarakat nelayan satu desa yaitu : kesamaan etnik (suku Dayak Ngaju), agama (Islam), dan domisili.

Secara tradisional masyarakat nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang memiliki batas penguasaan wilayah. Batas wilayah tersebut perlu diakui dan dihormati, karena masyarakat Dayak memiliki ikatan teritorial yang kuat (Mudiyono 1994). Oleh karena itu unit pengelolaan dalam model ini adalah kampung nelayan dan wilayah perairan yang dikuasai oleh kampung nelayan tersebut. Menurut Hoggarth & Aeron-Thomas (1998), penggunaan unit pengelolaan desa (village management areas / VMAs) hanya dapat mengelola ikan blackfish, sedangkan untuk pengelolaan ikan whitefish diperlukan unit pengelolaan yang lebih luas. Batas wilayah yang dikuasai oleh nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang adalah seluruh rawa lebak di sekitar sungai Rungan, yang termasuk dalam wilayah kelurahan. Rawa lebak sekitar 3 km di sisi kiri dan kanan sungai. Sungai Rungan tidak termasuk dalam wilayah yang dikuasai. Batas wilayah pengelolaan diperlukan untuk efektivitas pengelolaan. Diperlukan pendokumentasian batas penguasaan wilayah, supaya masa depan tidak terjadi konflik. Wilayah Petuk Ketimpun dan Marang berpotensi mengalami penetrasi masyarakat luar desa, karena posisinya dekat dengan pusat Kota Palangkaraya.

Pihak yang terlibat dalam pengelolaan

Pengelolaan bersama adalah pembagian kekuasaan untuk mengelola antara Pemerintah dengan masyarakat (Hoggarth et al. 1998). Pihak yang terlibat dalam pengelolaan meliputi Pemerintah Kota Palangkaraya, kelompok nelayan, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, dan organisasi non Pemerintah. Pemerintah Kota merupakan pihak yang penting dalam pengelolaan, karena memiliki otoritas formal pada wilayah tersebut, serta memiliki kapasitas pada bidang finansial, dan sumberdaya manusia. Proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan harus dilakukan

bersama-sama antara kelompok nelayan dan Pemerintah Kota Palangkaraya. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian berperan melalui kegiatan penelitian yang menunjang pengelolaan dan kegiatan pengabdian pada masyarakat untuk kelompok nelayan. Organisasi non Pemerintah terutama berperan untuk membantu program konservasi ekosistem dan penguatan institusi nelayan. Masyarakat nelayan secara tradisional telah mengelompok berdasarkan ikatan keturunan dan teritorial, sehingga membentuk kampung nelayan. Dalam kelompok nelayan ini, orang – orang yang menjadi tokoh adalah yang berumur lebih tua. Untuk pengelolaan yang efektif diperlukan bentuk kelompok yang lebih formal. Pemerintah Kota perlu memfasilitasi pembentukan kelompok nelayan dan memberikan legitimasi formal. Sebagian besar masyarakat nelayan menyetujui pembentukan organisasi nelayan.

Kontrol alat tangkap

Kontrol alat tangkap diperlukan untuk menjamin penangkapan ikan menggunakan alat tangkap yang tidak cenderung merusak sumberdaya ikan. Kontrol alat tangkap dalam model ini dibagi menjadi 2 yaitu pelarangan jenis alat tangkap dan pembatasan cara penggunaan alat tangkap. Pihak yang berperan dalam kontrol alat tangkap adalah nelayan dan Pemerintah Kota. Nelayan memiliki peranan penting dalam kontrol alat tangkap di lokasi penangkapan. Pemerintah Kota berperan dalam membuat peraturan formal penangkapan dan melakukan penegakan hukum.

Pelarangan jenis alat tangkap mengacu pada norma – norma yang telah dimiliki oleh nelayan dan Perda Kota Palangkaraya. Alat tangkap listrik, racun, dan rempak merupakan jenis alat tangkap yang dilarang digunakan. Pembatasan cara penggunaan alat tangkap diterapkan untuk alat tangkap selambau dan jaring insang dengan mata