II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Pengelolaan ekosistem rawa lebak
2.5.1. Pengelolaan ekosistem
Pengelolaan ekosistem digunakan sebagai pendekatan pengelolaan untuk menolong menyelesaikan masalah ekologis dan sosial yang kompleks. Pengelolaan ekosistem merupakan suatu pendekatan untuk melindungi lingkungan, mempertahankan ekosistem yang sehat, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan menjamin keberlanjutan pembangunan (Lackey 1998). Lackey (1998) memberikan definisi pengelolaan ekosistem adalah aplikasi informasi ekologis dan sosial, pilihan, dan kendala untuk mencapai keuntungan sosial yang diinginkan pada wilayah geografik tertentu dan pada periode tertentu. Sedangkan menurut Environmental Protection Agency (EPA), Amerika Serikat, pengelolaan ekosistem adalah memperbaiki dan memelihara kesehatan, keberlanjutan dan
keanekaragaman biologi dari ekosistem yang mendukung keberlanjutan ekonomi dan komunitas.
Menurut Lackey (1998) terdapat tujuh prinsip pengelolaan ekosistem, yaitu (1) pengelolaan ekosistem merefleksikan setiap perubahan nilai dan prioritas sosial. (2) pengelolaan ekosistem berdasarkan lokasi, sehingga batasan wilayah harus jelas didefinisikan. (3) pengelolaan ekosistem harus memelihara ekosistem pada kondisi yang diinginkan untuk mencapai keuntungan sosial. (4) pengelolaan ekosistem harus mempergunakan kesempatan kemampuan ekosistem untuk merespon berbagai stressor, baik alami atau buatan manusia, tetapi ada keterbatasan kemampuan ekosistem untuk mengatasi stressor dan memilihara pada kondisi yang diinginkan. (5) pengelolaan ekosistem dapat ataupun tidak untuk menekankan keanekaragaman hayati sebagai keuntungan sosial yang diinginkan. (6) Istilah keberlanjutan, jika digunakan dalam pengelolaan ekosistem, harus didefinisikan secara jelas. (7) informasi ilmiah merupakan hal yang penting untuk pengelolaan ekosistem yang efektif, namun hanya merupakan salah satu elemen proses pengambilan keputusan.
Pengelolaan perikanan dapat menggunakan 2 tingkat yaitu : sistem perairan sebagai kesatuan utuh (ekosistem) dan pengelolaan penangkapan ikan. Tingkat sistem perairan sebagai kesatuan utuh merupakan suatu pendekatan pengelolaan ekosistem untuk mengelola perikanan. Perhatian utama dari tingkat sistem perairan adalah untuk menjamin keseluruhan tanah dan air sekitar perairan, digunakan dengan tetap menjaga kesehatan komunitas ikan. Menurut Welcomme (1983) pengelolaan sistem perairan meliputi : kontrol runoff dan erosi, memelihara habitat alami perairan, memelihara aliran air (kuantitas air), memelihara kualitas air, dan struktur buatan untuk perbaikan habitat.
Menurut Budiono & Atmini (2002), strategi pengelolaan perikanan di Indonesia meliputi: optimasi pengelolaan sumberdaya perikanan, memformulasikan zonasi perikanan, perlindungan dan rehabilitasi ekosistem, dan mendukung program dan strategi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan, dan membuat alternatif pendapatan yang kreatif.
2.5.2. Pengelolaan penangkapan ikan
Pengelolaan penangkapan ikan meliputi : kontrol alat tangkap, aktivitas penangkapan, lokasi, musim dan kontrol nelayan. Menurut Welcomme (2003) beberapa tujuan pengelolaan antara lain : eksploitasi untuk pangan atau keperluan rekreasi ; tujuan sosial seperti pendapatan, distribusi pendapatan, mengurangi konflik sosial ; tujuan fiskal seperti penerimaan eksport ; dan tujuan konservasi seperti keberlanjutan dan keanekaragaman. Pada umumnya pengelolaan perikanan perairan pedalaman bertujuan untuk penyediaan sumber pangan. Variasi tujuan tersebut dapat digolongkan menjadi dua strategi pengelolaan yaitu : orientasi produksi dan orientasi konservasi. Negara maju menggunakan orientasi konservasi, sedangkan negara berkembang menggunakan orientasi produksi dengan tujuan penyediaan pangan dan pendapatan.
Berbagai daerah di Indonesia memiliki nilai – nilai budaya yang beranekaragam untuk mengatur kehidupan sehari - hari masyarakat. Kelembagaan yang mengatur pemanfaatan ekosistem rawa lebak berperan penting terutama pada masyarakat nelayan. Kelembagaan atau lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Suatu norma tertentu dikatakan telah melembaga apabila norma tersebut diketahui, dipahami, ditaati dan dihargai oleh masyarakat. Fungsi utama lembaga kemasyarakatan adalah memberikan pedoman kepada masyarakat untuk bertingkah laku atau bersikap, menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan dan memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (Soekanto 1982).
Menurut Koeshendrajana & Hoggarth (1998), pengaturan dalam pengelolaan perikanan dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu tipe teknis dan tipe akses. Termasuk tipe akses adalah pelelangan (di Sumatera Selatan dan Jambi) dan undian (di Kalimantan Barat). Tipe teknis meliputi penutupan wilayah, penutupan musim, dan pembatasan alat tangkap. Menurut Hoggarth et al. (1999) keuntungan pembatasan akses adalah : meningkatkan keuntungan nelayan, efisiensi eksploitasi, mengurangi konflik nelayan dan kemudahan mengumpulkan uang dari nelayan yang mendapat akses. Kerugiannya adalah tidak adil bagi yang ditolak aksesnya, terutama bila tidak ada alternatif pekerjaan lain. Bentuk
kelembagaan pengelolaan perikanan rawa lebak di Kalimantan Barat terutama dilakukan dengan penerapan aturan pembatasan penangkapan dan kontrol aturan yang disertai sanksi adat. Pembatasan penangkapan meliputi pembatasan jenis alat tangkap, pembatasan penangkapan oleh masyarakat di luar desa, pembatasan penangkapan dengan sistem lelang, dan pembatasan ukuran ikan tertentu yang boleh ditangkap. Sanksi pelanggaran aturan meliputi denda adat, masyarakat luar yang melanggar tidak boleh menangkap ikan lagi, atau sanksi dimusyawarahkan dulu oleh masyarakat nelayan (Koeshendrajana & Samuel 1999).
Salah satu strategi pengelolaan untuk sumberdaya ikan rawa lebak dapat dilakukan dengan menerapkan kawasan suaka untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan selama musim kering, dan pengaturan jalan untuk migrasi ikan. Perairan pada periode kering merupakan lokasi yang kritis untuk keberhasilan pengelolaan rawa lebak. Perairan tersebut merupakan tempat pengungsian ikan rawa lebak selama periode kering. (Hoggarth et al. 1999). Suaka perikanan di rawa lebak dapat dirancang untuk diberlakukan sepanjang tahun atau hanya periode kering saja. Suaka perikanan sepanjang tahun yaitu melindungi kawasan sepanjang tahun. Model suaka ini tidak memberikan akses penangkapan ikan sepanjang tahun. Suaka perikanan periode kering, melindungi kawasan dari penangkapan ikan hanya pada saat periode kering. Lokasi yang cocok untuk suaka perikanan periode kering adalah pada perairan yang digunakan ikan untuk tempat hidup selama periode kering (Hoggarth et al. 1999).
.
2.5.3. Pengetahuan lokal
Pengetahuan lokal atau pengetahuan tradisional adalah pengetahuan yang terakumulasi sepanjang sejarah hidup masyarakat tradisional. Pengetahuan tersebut didapatkan melalui proses “uji coba”, dengan meneruskan praktek – praktek yang dianggap mempertahankan sumberdaya alam, serta meninggalkan praktek – praktek yang dianggap merusak lingkungan. Oleh karena hubungan mereka yang dekat dengan lingkungan dan sumberdaya alam, maka masyarakat lokal melalui “uji coba” telah mengembangkan pemahaman terhadap sistem ekologi
alam, karena mereka juga menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada saat yang sama, karena kehidupan mereka bergantung pada dipertahankannya integritas ekosistem tempat mereka mendapatkan makanan dan rumah, kesalahan besar biasanya tidak akan terulang. Pemahaman mereka tentang sistem alam yang terakumulasi biasanya diwariskan secara lisan, serta biasanya tidak dapat dijelaskan melalui istilah – istilah ilmiah (Mitchell et al. 2003). Pengetahuan tradisional merupakan sumberdaya yang berharga untuk konservasi keanekaragaman hayati di rawa lebak. Pengetahuan ekologis tradisional dan pengetahuan teknik tradisional membuat masyarakat memilih cara yang digunakan untuk memanfaatkan sumberdaya alam (Sambo & woytek 2001). Teknik eksploitasi secara tradisional yang digunakan masyarakat merupakan sistem eksploitasi yang berkelanjutan, mengurangi kerusakan ekosistem dan penurunan keanekaragaman hayati (Pinedo-Vaquez et al. 2001).
Pengelolaan rawa lebak sangat memerlukan pengetahuan ekologis tradisional, karena variasi habitat yang tinggi. Masyarakat lokal lebih tahu lokasi suaka yang tepat untuk melindungi sumberdaya ikan (Hoggarth & Aeron-Thomas 1998). Masyarakat nelayan lokal di rawa lebak pada umumnya memiliki pemahaman atau pengetahuan yang dalam mengenai keseluruhan perairan di tempat mereka tinggal (Koeshendrajana & Hoggarth 1998). Kasus pada masyarakat nelayan tradisional yang memanfaatkan sumberdaya perikanan di sungai Kerian, Malaysia dan waduk Chenderoh, Thailand menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip ekologi. Mereka memahami perlunya melindungi stok induk dan daerah asuhan (nursery ground) untuk anak ikan dan ikan muda (Ali 1996). Demikian juga masyarakat tradisional di rawa lebak Muyuy, Peru, melakukan perlindungan stok induk ikan untuk pemijahan, bahkan terbukti mereka mampu memulihkan populasi species yang sudah terancam punah (Pinedo-Vasquez et al. 2001).
2.5.4. Tipe Pengelolaan
Menurut Hoggarth & Aeron-Thomas (1998) ada lima tipe unit pengelolaan rawa lebak yaitu :
1. Pengelolaan wilayah tangkapan air (catchment management areas atau CMAs) yang meliputi seluruh sungai dan area tangkapan.
2. Pengelolaan perairan wilayah desa (village management areas atau VMAs) yang meliputi beberapa danau oxbow.
3. Pengelolaan perairan oleh pihak tertentu (privatized Management Areas atau PMAs). Biasanya berupa danau oxbow yang dikuasai oleh orang tertentu berdasarkan keturunan atau mekanisme lelang.
4. Pengelolaan yang meliputi beberapa badan air (Multi waterbody management area).
5. Pengelolaan perairan yang meliputi beberapa desa (multi village management area).
Keragaman ekologis dan sosial di ekosistem rawa lebak mengakibatkan pengelolaan yang cocok di suatu lokasi belum tentu cocok untuk tempat lain. Pengelolaan kawasan tersebut lebih bergantung pada solusi lokal dibandingkan dengan pendekatan “top down” (Hoggarth et al. 1999). Menurut Pomeroy (1995), model pengelolaan sumberdaya perikanan dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan siapa yang mengelola, yaitu : pengelolaan oleh Pemerintah (Government base
management), pengelolaan oleh masyarakat (community base management) dan
pengelolaan bersama antara Pemerintah dan Masyarakat (co-management). Pada dasarnya sumberdaya ikan di Indonesia merupakan milik Negara. Kemampuan lembaga Pemerintah untuk mengelola perikanan di rawa lebak pada umumnya sangat terbatas, karena ekosistem rawa lebak memiliki keragaman yang tinggi, adanya keterbatasan kapasitas tenaga dan keuangan (Hoggarth et al. 1998).
Pada sumberdaya ikan yang dieksploitasi oleh masyarakat tradisional, pengelolaan dilakukan berdasarkan partisipasi masyarakat, yaitu masyarakat lokal mengelola sendiri sumberdaya ikan untuk mencapai keberlanjutan (Ali 1996). Pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat tradisional lebih dinamis, karena disesuaikan dengan proses sosial dan ekologis. Konservasi yang dibuat secara
hayati lebih tinggi dibandingkan konservasi formal seperti taman alam (Pinedo- Vasquez et al. 2001). Penerapan pengelolaan perikanan oleh masyarakat sendiri
(community base management) sudah ada di Indonesia terutama untuk masyarakat
tradisional seperti di pesisir Sulawesi Utara (Tulungen et al. 1998), di Hulu Sungai Kapuas (Hoggarth & Aeron-Thomas 1998), dan di Jambi (Hoggarth et al. 1999).
2.5.5. Pengelolaan bersama (co-manajemen)
Pengelolaan bersama (co-manajemen) adalah pembagian kekuasaan dan tanggungjawab antara Pemerintah dan pengguna sumberdaya lokal (Hoggarth et al. 1998). Pengelolaan bersama pada sektor perikanan adalah kerjasama antara pemerintah, nelayan, lembaga eksternal (NGO, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian), dan stakeholder perikanan lainnya, dalam membagi tanggungjawab dan kekuasaan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan perikanan (Berkes et al. 2001).
Pengelolaan bersama memiliki berbagai tingkatan, mulai dari sekedar kesertaan masyarakat lokal dalam pencarian data untuk pemerintah, sampai pada tingkatan masyarakat lokal memegang keseluruhan kekuasaan dan tanggungjawab (Mitchell et al. 2003). Menurut Berkes et al. (2001), pengelolaan bersama dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu pengelolan bersama yang berfokus pada masyarakat (community-centered co-maagement) dan pengelolaan bersama yang berfokus pada stakeholder (stakeholder-centered co-management). Pengelolan bersama yang berfokus pada masyarakat adalah pengelolaan bersama antara masyarakat pengguna sumberdaya dengan Pemerintah, sedangkan pengelolaan bersama yang berfokus pada stakeholder adalah pengelolaan bersama antara stakeholder (industri) dengan Pemerintah.
Sen & Nielsen mengklasifikasikan pengelolaan bersama untuk perikanan menjadi lima tipe berdasarkan tingkat pembagian kekuasaan dan tanggungjawab antara pemerintah dan masyarakat nelayan (Pomeroy & Guieb 2006), meliputi : 1. Instructive : Pertukaran informasi antara Pemerintah dan nelayan sangat
terbatas. Terdapat mekanisme dialog dengan nelayan, namun cenderung merupakan proses Pemerintah menginformasikan keputusannya kepada nelayan.
2. Consultative : Terdapat mekanisme untuk Pemerintah berkonsultasi dengan nelayan, namun pengambilan keputusan diambil oleh Pemerintah.
3. Cooperative : Pemerintah dan nelayan bekerjasama sebagai partner yang
seimbang di dalam pengambilan keputusan.
4. Advisory : Nelayan memberikan saran keputusan yang harus diambil oleh Pemerintah dan Pemerintah menerima keputusan tersebut.
5. Informative : Pemerintah mendelegasikan kekuasaan untuk mengambil
keputusan kepada masyarakat nelayan, dan keputusan tersebut diinformasikan kepada Pemerintah.
Menurut Berkes et al. (2001), kondisi masyarakat nelayan yang dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan pengelolaan bersama adalah :
1. Batas wilayah pengelolaan terdefinisi dengan jelas. 2. Anggota kelompok nelayan terdefinisi dengan jelas.
3. Adanya ikatan dalam kelompok nelayan yang didukung oleh ikatan domisili, etnik, maupun agama.
4. Adanya partisipasi dari masyarakat nelayan yang menjadi objek pengelolaan. Menurut Hoggarth et al. (1998), prospek keberhasilan penerapan pengelolaan bersama di rawa lebak dipengaruhi oleh beberapa karakteristik spasial. Keberhasilan penerapan pengelolaan bersama akan lebih tinggi apabila : 1. Ukuran perairan kecil.
2. Perairan bersifat tertutup atau dibatasi daratan.
3. Jumlah desa yang memanfaatkan perairan tersebut sedikit.
4. Jenis ikan yang dikelola mobilitasnya rendah seperti ikan blackfish. 5. Masyarakat nelayan merasa memiliki perairan tersebut.
Beberapa keuntungan penggunaan pengelolaan bersama antara lain (Pomeroy & Guieb 2006) :
1. Merupakan sistem manajemen yang lebih transparan, akuntabel, demokratis dan partisipatoris.
2. Pengelolaan bersama lebih ekonomis dibanding sistem manajemen sentralistik, karena lebih hemat biaya untuk administrasi dan penegakan aturan.
3. Pengetahuan lokal dapat digunakan secara maksimum untuk mendukung informasi ilmiah dalam manajemen.
4. Pengelolaan bersama memberikan sebagian tanggungjawab pengelolaan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengembangkan strategi manajemen yang sesuai dengan kondisi lokal, dan dapat menyelesaikan masalah – masalah lokal.
5. Pengelolaan bersama memberikan nelayan rasa memiliki sumberdaya ikan, sehingga nelayan dapat memandang sumberdaya ikan sebagai aset jangka panjang, bukan hanya untuk keuntungan sesaat.
6. Berbagai pihak yang berkepentingan bersama-sama memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai sumberdaya yang dikelola.
7. Perencanaan dan aturan yang dibuat, memiliki tingkat penerimaan dan legitimasi yang tinggi.
8. Anggota masyarakat nelayan memiliki evektivitas lebih tinggi dalam mengontrol perilaku masyarakat dibanding birokrat.
9. Pengelolaan bersama meningkatkan komunikasi dan pemahaman diantara stakholder, sehingga mengurangi konflik sosial dan meningkatkan keeratan masyarakat.
Pengelolaan bersama memiliki beberapa keterbatasan dan masalah yaitu (Berkes et al. 2001 ; Pomeroy & Guieb 2006) :
1. Pengelolaan bersama belum tentu cocok untuk setiap masyarakat nelayan. Ada banyak masyarakat yang tidak mau mengambil tanggungjawab dalam pengelolaan bersama.
2. Kepemimpinan dan lembaga lokal seperti organisasi nelayan kadang-kadang tidak ada.
3. Untuk membentuk pengelolaan bersama dibutuhkan investasi yang tinggi yang meliputi waktu, uang, dan sumberdaya manusia.
4. Tidak ada insentif (ekonomi, sosial, dan politik) bagi masyarakat ketika menggunakan pengelolaan bersama.
5. Perubahan strategi pengelolaan perikanan memiliki resiko tinggi bagi beberapa masyarakat nelayan.
6. Biaya individual untuk berpartisipasi dalam pengelolaan bersama (waktu dan uang) dapat melebihi keuntungan yang diperoleh.
7. Kadang-kadang tidak ada kemauan politik yang cukup untuk mendukung pengelolaan bersama. Tidak ada kemauan dari Pemerintah untuk membagi kekuasaan.
8. Masyarakat tidak memiliki kapasitas untuk menjadi partner yang seimbang dengan Pemerintah.
9. Pengaruh aktivitas masyarakat di luar kawasan pengelolaan dapat merusak aktivitas pengelolaan yang telah dilakukan.
10. Ikan yang bersifat migrasi, merupakan sumberdaya ikan yang sulit dikelola dengan pengelolaan bersama.
11. Ada yang merasa pengelolaan bersama terlalu mahal dan menghabiskan waktu dibanding dengan alternative lain.
12. Proses pengambilan keputusan menjadi lama dan hasilnya lemah, karena untuk mengakomodasi berbagai kepentingan.
13. Penerapan pengelolaan bersama mengakibatkan perubahan-perubahan yang mungkin tidak memuaskan semua pihak, dan juga mungkin mengakibatkan menambah kompleksitas aturan dan birokrasi.
14. Adanya kemungkinan penggunaan pengelolaan bersama untuk kepentingan pribadi bagi beberapa politikus.