IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.7. Karakteristik keluarga nelayan
Jumlah penduduk Petuk Ketimpun dan Marang disajikan pada Tabel 7. Pada umumnya masyarakat Petuk Ketimpun dan Marang telah menempuh pendidikan formal. Penduduk yang tidak bersekolah dan tidak tamat SD di Petuk Ketimpun 12,48 % dan di Marang 14,57 % dari jumlah penduduk. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Petuk Ketimpun dan Marang adalah SLTP. Umur kepala keluarga dari responden berkisar antara 30 hingga 65 tahun, dengan rata – rata 41,7 tahun. Jumlah jiwa dalam keluarga berkisar antara 3 hingga 6 jiwa dengan rata – rata 4 jiwa (Lampiran 14).
Tabel 7. Jumlah penduduk Petuk Ketimpun dan Marang
No Keterangan Petuk Ketimpun Marang 1. Jumlah penduduk (2006)
- Jumlah total (jiwa) 1785 844 - Laki – laki (%) 48,29 51,90 - Perempuan (%) 51,71 48,10 - Keluarga (KK) 411 244 2. Jumlah nelayan (KK) 113 133
Nelayan Petuk Ketimpun dan Marang termasuk suku Dayak Ngaju yang tinggal di hilir sungai Kahayan. Nelayan marang dan Petuk Ketimpun mengakui bahwa mereka masih berkerabat, bahkan kekerabatan mereka sering diikat dengan perkawinan.
Beberapa karakteristik budaya yang dimiliki nelayan Petuk Ketimpun dan Marang sebagai suku Dayak Ngaju antara lain :
1. Bertempat tinggal di rumah berbentuk panggung dan dalam satu rumah dapat dihuni oleh beberapa keluarga.
2. Mata pencaharian masih bergantung pada memanen hasil alam seperti mencari ikan. Pemanenan hasil alam dilakukan secukupnya atau tidak berlebihan. Perempuan berperan aktif dalam aktivitas mata pencaharian.
3. Sistem kemasyarakatan berdasarkan kekerabatan. Tolong menolong dalam kehidupan sehari hari terutama berdasarkan ikatan kekerabatan. Keturunan berdasarkan ambilineal, sehingga masyarakat luar desa, baik laki – laki maupun perempuan, apabila menikah dengan orang Petuk Ketimpun dan Marang, dapat memiliki tempat tinggal dan mata pencaharian menangkap ikan di desa tersebut. 4. Sebagian besar beragama Islam. Meskipun mereka beragama Islam, namun
upacara adat tetap digunakan pada saat perkawinan. Pada umumnya mereka juga masih mempercayai bahwa air, hutan dihuni oleh roh – roh.
5. Bahasa yang digunakan sehari hari adalah bahasa Dayak Ngaju.
6. Teknologi penangkapan ikan masih sederhana. Metode penangkapan yang tradisional menggunakan alat tangkap yang dibuat sendiri oleh nelayan, yang terbuat dari bahan baku dari alam seperti kayu, bambu dan rotan.
4.7.1. Konsumsi rumah tangga
Tingkat konsumsi beras rata –rata mencapai 128,16 kg / orang / tahun dengan frekuensi makan pada umumnya 2 - 3 kali sehari (Lampiran 15). Rata-rata tingkat konsumsi beras nelayan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat konsumsi beras nasional tahun 2005 berdasarkan data BPS yaitu 136,3 kg / orang. Lauk makan utama berasal dari ikan hasil tangkapan sendiri. Sayur dibeli dari pedagang sayur keliling yang setiap pagi berkeliling di pemukiman nelayan. Lauk bukan ikan seperti telur, ayam, daging, tempe, kadang – kadang dibeli sebagai lauk alternatif. Beras dibeli dari warung bahan makanan pokok yang berada di sekitar pemukiman. Sekitar 86,67 % responden menggunakan kayu bakar untuk memasak pada tahun 2006. Hal ini
mencari kayu di hutan oleh masing – masing keluarga nelayan. Mereka meluangkan hari tertentu untuk mencari kayu bakar. Kayu yang terkumpul dapat digunakan untuk konsumsi 1 - 2 minggu.
Pengeluaran nelayan untuk kepentingan rumah tangga meliputi pengeluaran pangan dan non pangan. Komponen pengeluaran pangan meliputi : beras, mie instant, lauk pauk, bumbu, minyak goreng, gula, kopi, teh, susu dan kue. Komponen pengeluaran non pangan meliputi : bahan bakar (minyak tanah/kayu bakar), sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, listrik, rokok, sekolah anak, kesehatan, transportasi, pemeliharaan rumah, alat rumah tangga dan pakaian. Pengeluaran perkapita nelayan disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengeluaran rumah tangga responden
No Keterangan Petuk ketimpun Marang 1 Pengeluaran pangan
Rata – rata (Rp/orang/bulan) 124.850 126.285 Kisaran (Rp/orang/bulan) 93.750 – 190.500 89.167 – 169.417 2 Pengeluaran non pangan
Rata – rata (Rp/orang/bulan) 112.405 120.973 Kisaran (Rp/orang/bulan) 52.167 – 206.458 48.600 – 217.278 3 Pengeluaran total
Rata – rata (Rp/orang/bulan) 237.255 247.258 Kisaran (Rp/orang/bulan) 152.042 – 369.333 140.500 – 380.806
Pengeluaran nelayan hampir berimbang antara untuk pangan dan non pangan. Pengeluaran pangan berperan 52,62 % (Petuk Ketimpun) dan 51,07 % (Marang) terhadap total pengeluaran. Sedangkan pengeluaran non pangan berperan 47,38 % (Petuk Ketimpun) dan 48,93 % (Marang) terhadap total pengeluaran. Tingginya proporsi pengeluaran pangan menunjukkan bahwa pendapatan nelayan masih terfokus untuk memenuhi kebutuhan primer, sedangkan kebutuhan yang sekunder belum mendapat pemenuhan yang cukup. Pemenuhan kebutuhan sekunder seperti alat rumah tangga, perumahan dan pakaian hanya mendapatkan proporsi kurang dari 1 % dari total pengeluaran. Pada masyarakat yang kesejahteraannya rendah, sebagian besar pengeluaran digunakan untuk pangan dibandingkan untuk non pangan. Sebagai perbandingan masyarakat pesisir di kota Kendari memiliki pengeluaran pangan 63,33% (Departemen Kelautan dan Perikanan RI 2003). Komposisi pengeluaran responden disajikan pada Gambar 33.
Keterangan :
Pengeluaran pangan Pengeluaran non pangan
Beras (1) Minyak tanah/ kayu bakar (8)
Mie instant (2) Sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi (9)
Lauk dan bumbu (3) Listrik (10)
Minyak goreng (4) Rokok (11)
Kopi, teh, susu (5) Sekolah anak (12)
Kue (6) Kesehatan (13)
Gula (7) Transportasi (14)
Pemeliharaan rumah (15) Alat rumah tangga (16) Pakaian (17)
Gambar 33. Komposisi pengeluaran responden
Pengeluaran pangan didominasi untuk pembelian beras, selanjutnya untuk membeli lauk. Beras merupakan sumber karbohidrat utama bagi nelayan. Belanja untuk lauk lebih rendah dari beras, karena nelayan cenderung memanfaatkan ikan hasil tangkapannya sendiri untuk lauk. Pemanfaatan hasil tangkapan sebagai sumber protein utama juga ditemukan pada nelayan rawa lebak di Bangladesh. Sekitar 98 % keluarga nelayan mengkonsumsi ikan paling sedikit 1 hari dari 5 hari survey di semua musim. Sekitar 48 % keluarga nelayan mengkonsumsi ikan setiap hari pada bulan
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 J e n is P e n g e lu a ra n Proporsi (% ) Petuk Ketimpun Marang
anak dan transportasi. Pengeluaran non pangan yang proporsinya besar tersebut ternyata merupakan jenis pengeluaran yang memiliki keharusan untuk dipenuhi. Biaya transportasi harus dikeluarkan, karena tanpa itu setiap kepentingan hidup mereka akan terhambat. Biaya sekolah anak merupakan pengeluaran sebagai wujud tanggung jawab orang tua terhadap masa depan anaknya.
4.7.2. Tingkat kemiskinan
Tingkat kemiskinan yang ada di lokasi penelitian diukur dengan menggunakan kriteria yang diformulasikan oleh BPS, Sayogyo, dan Bank Dunia. Garis kemiskinan perkotaan pada bulan Maret 2006 Rp 175.324 / kapita / bulan (BPS 2006). Pendekatan pengeluaran perkapita setara beras digunakan oleh Sayogyo untuk mengukur tingkat kemiskinan (Suryawati 2005). Untuk daerah perkotaan, disebut miskin apabila pengeluaran lebih kecil dari setara 480 kg beras perorang pertahun. Bank dunia memiliki kriteria kemiskinan adalah tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan 1 US $ perhari (Sumedi & Supadi 2004). Perbedaan hasil pengukuran jumlah nelayan miskin berdasarkan tiga kriteria tersebut di atas disajikan pada Tabel 9. Jumlah proporsi nelayan miskin lebih tinggi menggunakan kriteria Sayogyo dibandingkan dengan kriteria BPS. Jumlah orang miskin terbanyak apabila mengunakan kriteria Bank Dunia. Ketiga kriteria tersebut secara konsisten menjelaskan bahwa jumlah nelayan miskin di Petuk Ketimpun lebih tinggi dibandingkan dengan Marang. Pada tahun 2005 seluruh nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang termasuk sebagai keluarga yang mendapat bantuan dari program raskin (beras murah untuk masyarakat miskin).
Tabel 9. Proporsi jumlah responden yang miskin (%)
No Keterangan Kriteria
BPS Sayogyo Bank Dunia 1. Petuk Ketimpun
-Responden miskin 33,33 43,33 66,67 -Responden tidak miskin 66,67 56,67 33,33 2. Marang
-Responden miskin 26,67 33,33 50,00 -Responden tidak miskin 73,33 66,67 50,00
Analisis diskriminan stepwise digunakan untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat kemiskinan nelayan. Dalam analisis ini menggunakan tingkat kemiskinan dari BPS. Faktor – faktor yang dianalisis ada 17 faktor yang dijelaskan pada Tabel 10. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor – faktor yang signifikan mempengaruhi tingkat kemiskinan nelayan Petuk ketimpun (nilai p = 0,0001) adalah : jumlah pemilikan jaring insang dan jala, jumlah jiwa/KK, hari kerja/minggu saat tidak musim ikan, dan luas pemilikan karamba. Faktor – faktor yang signifikan membedakan tingkat kemiskinan nelayan Marang (nilai p = 0,0001) adalah: jumlah pemilikan perahu mesin, perahu dayung dan jaring insang, jumlah jiwa/KK, dan luas pemilikan karamba.
Tabel 10. Faktor – faktor yang dianalisis pengaruhnya terhadap tingkat kemiskinan
No Faktor
1. Jumlah Perahu mesin (buah) 2. Jumlah Perahu dayung (buah) 3. Jumlah Jaring insang (buah) 4. Jumlah Jala (buah)
5. Jumlah Rawai (mata pancing) 6. Jumlah Anco (buah)
7. Jumlah Jebakan (buah) 8. Jumlah Selambau (buah) 9. Umur responden (tahun) 10. Jumlah jiwa / keluarga (orang)
11. Hari kerja/minggu saat musim ikan (hari) 12. Hari kerja/minggu saat tidak musim ikan (hari) 13. Jam kerja/hari (jam)
14. Harga jual ikan saat musim ikan (ribu rupiah) 15. Harga jual ikan saat tidak musim ikan (ribu rupiah) 16. Luas Karamba (M2)
17. Volume tebangan kayu (M3)
Berdasarkan analisis ini, maka faktor – faktor penyebab kemiskinan yang diidentifikasi di Petuk ketimpun dan Marang adalah :
1. Jumlah kepemilikan perahu dan alat tangkap
Sektor penangkapan ikan memiliki peranan terbesar terhadap total pendapatan nelayan. Pendapatan dari sektor penangkapan dipengaruhi oleh jumlah pemilikan perahu dan alat tangkap. Keterbatasan jumlah pemilikan alat tangkap
pendapatan yang layak. Bene & Neilard (2004) menemukan kecenderungan keterkaitan yang sama antara pemilikan alat tangkap dengan tingkat kemiskinan di perikanan subsisten danau Chad, Afrika. Nelayan yang memiliki alat tangkap sedikit cenderung lebih miskin dibandingkan yang alat tangkapnya lebih banyak. Demikian juga nelayan yang lebih miskin cenderung menggunakan jenis alat tangkap yang lebih sedikit.
2. Jumlah anggota keluarga
Besar jumlah anggota keluarga menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Jumlah anggota keluarga yang semakin banyak, akan menyebabkan beban tanggungan nelayan yang semakin berat untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Menurut Darwis & Nurmanaf (2001) rumah tangga miskin memiliki rata – rata jumlah anggota rumah tangga yang lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga yang tidak tergolong miskin.
3. Luas pemilikan karamba
Memelihara ikan di karamba merupakan alternatif pekerjaan yang memberi kontribusi penting terhadap pendapatan nelayan. Hasil panen karamba dapat menambah pendapatan nelayan terutama pada saat pendapatan dari sektor penangkapan ikan berkurang akibat tidak musim ikan. Sebagian besar nelayan telah memiliki karamba. Semakin kecil luas pemilikan karamba, akan menyebabkan semakin sedikitnya tambahan pendapatan pada saat tidak musim ikan. Pendapatan dari memelihara ikan di karamba juga untuk mengatasi sifat ketidakpastian pendapatan dari penangkapan ikan. Menurut Darwis & Nurmanaf (2001) rendahnya penguasaaan aset produktif merupakan salah satu ciri rumah tangga miskin. Dengan demikian keterbatasan luas pemilikan karamba menjadi faktor penyebab kemiskinan.