• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran umum wilayah penelitian

Rawa berhutan menggenangi sekitar 3 km dari pinggir sungai ke arah daratan. Pohon hutan pada umumnya berukuran kecil (diameter kurang dari 35 cm), karena banyaknya penebangan liar. Hutan sepanjang sungai Rungan menjadi salah satu tempat penebangan liar tersebut. Berdasarkan tata ruang Kota Palangkaraya, wilayah pada 100 meter dari kiri dan kanan sungai, dan 50 – 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat dari rawa terbuka, merupakan kawasan perlindungan setempat (Pemko Palangkaraya 2004). Rawa terbuka pada umumnya merupakan sungai terputus (oxbow). Masyarakat lokal menyebut ekosistem ini sebagai danau. Rawa terbuka merupakan rawa permanen, yaitu selalu tergenang air sepanjang musim. Sebagian rawa terbuka akan terputus hubungan kanalnya dengan sungai pada saat musim kemarau. Terdapat beberapa rawa terbuka di Petuk Ketimpun, yaitu rawa Hanjalantung, Burung, Rangas, dan Rawet. Rawa Hanjalantung, Rangas dan Rawet tetap terhubung dengan sungai meskipun musim kemarau, sedangkan rawa Burung terputus hubungan dengan sungai pada saat musim kemarau. Pada musim kemarau luas genangan rawa terbuka berkurang dan menjadi sangat dangkal. Di rawa Hanjalantung luas genangan berkurang menjadi sekitar 40 - 50 % dari luas semula.

Penelitian aspek sosial ekonomi dilakukan di kampung nelayan di Kelurahan Petuk Ketimpun dan Kelurahan Marang. Luas wilayah Kelurahan Petuk Ketimpun 59,75 km2 dengan kepadatan penduduk 28,55 jiwa / km2 (Pemko Palangkaraya 2004). Luas

perairan rawa lebak di Petuk Ketimpun 44,68 km2 (Dinas Perikanan Kota Palangkaraya 1992) atau 74,77 % dari luas wilayah Kelurahan. Lokasi kampung nelayan berada di pinggir sungai Rungan pada koordinat 113°53’ LS dan 2°07’ BT. Penduduk Petuk Ketimpun pada tahun 2006 berjumlah 1771 jiwa dengan jumlah keluarga 411 KK. Keluarga nelayan berjumlah 113 KK atau 27,49 %. Luas wilayah Kelurahan Marang 124 km2 dengan kepadatan penduduk 5,88 jiwa / km2. Kampung nelayan di Kelurahan Marang berada di pinggir sungai Rungan pada koordinat 113°47’ LS dan 2°02’ BT. Wilayah ini berada pada ketinggian 15 meter diatas permukaan laut. Luas perairan rawa lebak di Marang 40,84 km2 (Dinas Perikanan Kota Palangkaraya 1992) atau

32,94 % dari luas wilayah Kelurahan. Penduduk Marang pada tahun 2006 berjumlah 844 jiwa dengan jumlah keluarga 244 KK. Sekitar 133 KK (54,51 %) memiliki matapencaharian sebagai nelayan. Masyarakat nelayan tinggal di rumah model panggung (Lampiran 2), karena pada musim hujan kawasan pemukiman mereka akan terendam air luapan sungai Rungan hingga mencapai 1,5 meter. Lokasi kampung nelayan dengan pemukiman kelompok masyarakat lain dalam satu Kelurahan berjauhan (sekitar 3 – 6 km). Lokasi kampung nelayan terhubung dengan pemukiman lain dalam satu kelurahan melalui jalan tanah yang pada musim hujan akan terputus karena jalan tersebut terendam banjir.

Produksi perikanan di Kota Palangkaraya berasal dari budidaya dan penangkapan di perairan umum. Budidaya terutama dilakukan di karamba yang diletakkan di pinggir sungai Kahayan dan Rungan. Sebagian nelayan di Petuk Ketimpun dan Marang mengusahakan budidaya ikan di karamba sebagai pekerjaan alternatif selain menangkap ikan. Produksi ikan budidaya dari karamba tahun 2005 di Kota Palangkaraya 851,12 ton. Produksi ikan dari penangkapan di perairan umum tahun 2005 di Kota Palangkaraya 1910,98 ton. Hasil penangkapan ikan di perairan sungai 43,22 kg / ha / tahun, rawa terbuka 792,65 kg / ha / tahun dan rawa berhutan/rumput 9,60 kg / ha / tahun. (Dinas Pertanian Kota Palangkaraya 2006). Seluruh kecamatan di Kota Palangkaraya memiliki kontribusi terhadap produksi ikan dari penangkapan di perairan umum. Namun demikian 55 % tangkapan berasal dari Kecamatan Bukit Batu dan Jekan Raya. Pada Kecamatan Bukit Batu, kontribusi utama hasil tangkapan ikan berasal dari Kelurahan Marang dan Tangkiling. Sedangkan di Kecamatan Jekan Raya, kontribusi utama hasil tangkapan berasal dari Kelurahan Petuk Ketimpun. Jumlah rumah tangga nelayan di Kota Palangkaraya 856 rumah tangga, sedangkan yang mengusahakan budidaya ikan 1214 rumah tangga (Dinas Pertanian Kota Palangkaraya 2006).

4.1.1. Stasiun penelitian

Gambar kondisi perairan di stasiun 1, 2, dan 3 disajikan pada Lampiran 2. Stasiun 1 merupakan habitat ikan dengan bertipe perairan rawa berhutan yang terletak pada koordinat 113°51’23’’ dan 2°6’33’’ BT. Air sungai Rungan dapat mengalir ke

Berdasarkan analisa kerapatan pohon yang telah dilakukan, diketahui rata-rata kerapatan pohon di stasiun ini 629 pohon/hektar yang terdiri dari pohon muda 456 pohon/hektar dan pohon dewasa 173 pohon/hektar (Lampiran 3). Kerapatan pohon ini lebih rendah dibanding dengan hutan rawa gambut di Taman Nasional Tanjung Puting dengan kerapatan pohon sekitar 728 pohon /ha (Mirmanto et al. 2000). Diameter batang pohon maksimal yang tercatat di lokasi penelitian 58 cm. Suzuki et al. (2000) mendapatkan diameter batang pohon maksimal di hutan rawa gambut di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 70 cm. Diameter batang pohon di lokasi penelitian lebih kecil dibandingkan di hutan rawa gambut Kabupaten Kapuas. Rendahnya kerapatan pohon dengan ukuran diameter batang pohon yang kecil di lokasi penelitian ini, diduga akibat dari penebangan liar yang terus berlanjut di lokasi tersebut. Pada saat musim kemarau, sebagian besar wilayah rawa berhutan menjadi kering. Perairan yang masih ada di dalam hutan tersebut terbatas pada alur – alur sungai Pelintung Besar. Pada saat musim hujan, air menggenangi seluruh rawa. Pada saat musim hujan ditemukan vegetasi air seperti Salvinia molesta dan Eichornia crassipes dengan luas penutupan kurang dari 5%. Hal ini diduga disebabkan oleh terbatasnya penetrasi cahaya matahari akibat tertutup kanopi hutan. Rawa berhutan di sekitar sungai Pelintung Besar merupakan salah satu lokasi penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Stasiun 2 merupakan habitat ikan dengan bertipe perairan rawa terbuka (danau

oxbow). Rawa Hanjalantung merupakan perairan oxbow (sungai mati) yang terhubung

secara langsung dengan sungai Rungan dengan 2 kanal. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, rawa Hanjalantung merupakan salah satu tempat aktivitas penangkapan ikan di Petuk Ketimpun. Luas rawa Hanjalantung 20 ha pada batas tanah yang ditumbuhi pohon. Luas perairan rawa terbuka ini berubah – ubah berdasarkan musim. Pada puncak musim kemarau, rawa ini menjadi sangat surut. Daerah yang digenangi air hanya sekitar 50 %, terutama di tengah rawa yang lebih dalam. Meskipun dalam kondisi surut, rawa ini tetap terhubung dengan sungai Rungan. Sebaliknya pada puncak musim hujan, perairan rawa ini meluas, bahkan sampai menggenangi hutan disekitarnya. Pada waktu musim hujan ini, kawasan rawa terbuka dan rawa berhutan terhubung oleh banjiran air. Vegetasi air tidak tumbuh meluas di rawa terbuka ini. Vegetasi air terapung Salvinia molesta hanya ditemukan dalam jumlah yang kecil (penutupan kurang dari 5 %) di perairan yang dangkal dekat kanal.

Vegetasi air tidak bisa berkembang meluas di stasiun 2 maupun stasiun 1. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi tinggi air. Menurut Bayley & Prather (2003) kelimpahan vegetasi air akan menurun seiring dengan peningkatan frekuensi banjiran.

Stasiun 3 merupakan habitat ikan bertipe perairan sungai. Stasiun 3 terletak di sungai Rungan. Lebar sungai Rungan di stasiun 3 sekitar 80 meter. Sungai Rungan pada waktu musim kemarau tinggi permukaannya akan menurun, sebaliknya pada musim hujan tinggi permukaan akan meningkat hingga menggenangi wilayah di sisi kiri kanan sungai. Stasiun 3 merupakan lokasi yang dilewati oleh aktivitas transportasi air seperti perahu nelayan, kapal penumpang antar daerah, kapal barang, dan kapal yang menarik kayu. Sungai Rungan juga merupakan tempat aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan setempat.