• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisaris Politik

4.1 Gambaran Umum Pemilihan Kepala Daerah Aceh Tamiang 2012

4.2.2 Faktor-Faktor yang menyebabkan Kekalahan Partai Aceh 24

Jika diamati dari Pemilihan kepala daerah Kabupaten Aceh Tamiang maka dapat disimpulkan bahwa:

a. Faktor Internal Partai Aceh

Awal mula konflik yang terjadi di tubuh Partai Aceh, dapat kita lihat ketika Irwandi Yusuf mendeklarasikan diri untuk mencalonkan kembali sebagai calon Gubernur Aceh periode 2012-2017, sedangkan dari pihak internal partai Aceh menyatakan tidak akan mendukung Irwandi Yusuf lagi. Namun, kondisi ini membuat organisasi pendukung partai Aceh yaitu Komite Peralihan Aceh (KPA) terpecah. Ada

24

116

beberapa pimpinan KPA di wilayah (tingkatan kabupaten/kota) yang cenderung pro terhadap Irwandi Yusuf.

Hal ini juga diperparah lagi oleh keengganan dari partai Aceh untuk mendaftarkan pasangannya yaitu dr. Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf ke Komite Independen Aceh (KIP) sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2012-2017 dikarenakan peraturan mengenai Pemilukada 2012 di Aceh masih membolehkan keikutsertaan calon independen. Padahal menurut para petinggi partai Aceh adanya peraturan yang memperbolehkan keikutsertaan calon independen menciderai isi dari Undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang menyatakan bahwa keikutsertaan calon independen pada Pemilukada di Aceh hanya diperbolehkan pada Pemilukada tahun 2006 dan untuk Pemilukada berikutnya harus melalui partai nasional dan partai lokal25

“..., PA secara kelembagaan menolak dengan tegas yudical review yang dilakukan oleh Mukhlis Mukhtar dkk ke MK mengenai pasal dalam UUPA No.11 Tahun 2006 yang mengatur mengenai keikutsertaan calon independen pada Pilkada Aceh hanya satu kali saja yaitu pada Pilkada tahun 2006. Sedangkan menurut UU tentang Pemilu tahun 2008 bahwa calon independen diperbolehkan ikut dalam Pilkada di seluruh Indonesia. Berarti secara otomatis isi undang-undang tersebut telah menggugurkan salah satu pasal dalam UUPA no.11 tahun 2006 yaitu tentang calon independen itu sendiri. PA tidak sepakat UUPA diutak-atik oleh pemerintah pusat. Kami beranggapan UUPA merupakan penjelmaan dari MoU Helsinski sehingga menjaga keutuhan dari UUPA merupakan sebuah keharusan demi terawatnya perdamaian di Aceh. Dari situlah dimulai polemik mengenai aturan Pemilukada di Aceh .”

. Mengenai hal ini Kausar mengatakan:

26

25

Hal ini dijelaskan dalam UU No. 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh pada pasal 256 BAB XXXIX tentang Ketentuan Peralihan, lihat

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_perundangan&id=1563&task=detail&catid=1&Itemid =42&t ahun=2006. Diakses pada tanggal 28 Juli 2013

26

Hasil wawancara dengan Sekretaris Pemenangan Pusat Partai Aceh 2012, Kausar pada tanggal 09 Mei 2013 di Medan

117

Pada fase “konflik” itu berlangsung itulah, banyak kader-kader partai Aceh dan juga para eks kombatan yang tergabung dalam wadah Komite Peralihan Aceh (KPA) yang dianggap “membelot” ke kubu Irwandi Yusuf. Bahkan ada beberapa eks kombatan yang jelas-jelas mengusung Irwandi seperti Sofyan Dawoed, Thamrin Ananda, Tgk. Muksalmina, dan Muslim Hasballah. Namun ada juga para kader eks kombatan ini diangap “abu-abu” yaitu masih berada dilingkungan partai Aceh namun juga tidak menunjukkan keseriusan dalam rangka memenangkan pasangan ZIKIR. Kondisi ini membuat para pimpinan partai Aceh untuk mengambil kebijakan tegas terhadap kader-kader yang dianggap “membelot” ini. Momennya adalah ketika partai Aceh dan KPA melakukan rekonsolidasi terhadap seluruh kadernya. Konsolidasi ini juga dalam rangkan “membersihkan” kader-kader yang membelot tersebut. Puncaknya adalah pemecatan terhadap beberapa pimpinan KPA yang meliputi wilayah Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Aceh Tenggara.

Dari aspektasi politik, pemecatan anggota jika tidak sesuai dengan tujuan mayoritas kader partai sah-sah saja, namun, alangkah baiknya jika ini tidak terjadi sebelum dilakukan tahapan-tahapan, seperti komunikasi intensif dalam menyatukan pemikiran yang sama. Namun ternyata hal ini juga tidak di indahkan beberapa yang tercium memiliki kedekatan dengan Irwandi dan cenderung akan mengusung Irwandi. Maka dari itu lah, terjadi pemecatan yang dilakukan oleh pimpinan KPA pusat yaitu Muzakkir Manaf (juga ketua Partai Aceh), dan kemasan yang di publikasikan adalah orang-orang ini tidak setia dengan kesepakatan MoU Helsinki dan orang-orang ini bisa dikatakan tidak patuh terhadap kebijakan kelompok khususnya kebijakan partai. Langkah ini dianggap efektif karena tindak lanjut dari kebijakan ini adalah memberikan cap atau simbol kepada para pembelot yang sudah terang-terangan mendukung Irwandi Yusuf dan

118

kader yang dipecat dengan istilah “pengkhianat”. Jadi kader-kader yang masih berada diinternal terpacu untuk solid, kompak dan serius untuk memenangkan pasangan yang diusung oleh partai, yaitu pasangan ZIKIR. Kesolidan kader ini modal paling utama dalam rangka untuk menjalankan strategi-stretagi yang telah disusun seperti strategi membangun citra ketokohan. Setelah selesai dengan perbedaan pandangan yang terjadi dari faksi-faksi internal Partai Aceh sendiri yaitu Faksi ZIKIR dan Faksi Pengkhianat Irwandi.

Gambar 6

Faksi-Faksi Dalam Internal Partai Aceh

Faksi inilah yang membuat perpecahan pada tingkat daerah yang menyebabkan roda partai aceh tidaklah berjalan. Focus Partai Aceh memenangkan pilkada gubernur bulan april sedangkan Aceh Tamiang bulan juni, jarak berdekatan inilah yang menyebabkan Partai Aceh kehilangan Fokus juga. Selain daripada itu kemenangan Zikir dari Partai Aceh menyepelekan Pilkada yang berda di Aceh Tamiang.

b. Faktor Budaya Jawa di Aceh27

Kategori budaya berangkat dari masyarakat yang terikat akan budaya tradisional (adat istiadat/agama), akan selalu terkait dengan proses perubahan

27

http://himasos-unimal.blogspot.com/2013/10/analisiskonflik-etnis-aceh-dan-jawa.html

FAKSI INTERNAL PARTAI ACEH

FAKSI ZIKIR

119

ekonomi, sosial, dan politik dari masyarakatnya pada tempat mana budaya tradisional tersebut melekat. Jadi, segala urusan yang terkait dengan perubahan politik dan sosial tidak terlepas dari pengaruh budaya yang telah melekat dan berkembang di masyarakat. Budaya ternyata mampu memberi paradigma yang kuat terhadap masyarakat hingga mempengaruhi tindakan sosial dan politik masyarakat tersebut.

Etnisitis merupakan salah satu unsur yang menjadi objek utama kajian ilmu-ilmu sosial. Dalam sejarah relasai antar etnik di berbagai belahan bumi, selalu diwarnai oleh konflik etnik itu sendiri. Konflik anatar etnik selalu saja mencari akarnya pada persoalan sosial ekonomi dan budaya seperti halnya konflik Aceh. Studi yang dliakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa akar dari semua konflik yang terjadi di Aceh merupakan persoalan ketidakadilan sosial ekonomi dalam proses pemabangunan serta serangkaian tuntutan janji atas hak-hak istimewa yang tidak teralisasi.

Beberapa unsur besar diatas merupakan alasan yang paling logis dibalik catatan perjalanan konflik di Aceh, Namun disamping hal itu pula, terdapat salah satu bagaian terpenting yang menggoreskan fakta sejarah dibalik konflik serta pergolakan yang terjadi dikemudian hari di Aceh. Yakni kebencian suku bangsa Aceh terhadap suatu etnik tertentu, yakni suku Jawa. Memang hal ini sangat jarang dikaitkan sebagai faktor pemicu munculnya konflik Aceh, dan orang cenderung mengabaikan fakta ini. akan tetapi sejarah telah membuktikannya.

Sejarah awal kebencian orang Aceh terhadap suku Jawa pertama kali terjadi pada masa kerajaan Aceh dulu. ketika kerjaan Samudera Pasai diserang oleh kerjaan Majapahit yang notabene merupakan kerjaan terbesar dipulau Jawa sekitar tahun 750-796 H yang dipimpin oleh panglima Patih Nala Ketika Sultan Zainul Abidin Malik Al Zhahir memimpin. Sejak saat itu genderang perang dinyatakan oleh rakyat Aceh

120

terhadap kerjaan Jawa tersebut. Hal diatas merupakan bagian kecil dari catatan sejarah menegenai hubungan awal antara Aceh dengan Jawa yang ditandai dengan konflik. Meskipun pada periode tahun-tahun berikutnya kedua etnis ini nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik berupa perang dan mulai membangun hubungan melalui bidang penyebaran agama dan perdagangan.

Ketika Belanda melakukan penjajahan di Nusantara, kurang lebih 350 tahun lamanya, Aceh juga berjuang melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda. Bahkan Aceh memiliki andil besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kemudian Hari. Aceh pula lah yang banyak membantu Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari datangnya kembali gangguan Belanda yang ingin menjajah Indonesia. Pada Tahun 1945 setelah Proklamasi Kemeerdekaan Indoensia dikumandangkan Soekarno dan Hatta di Jakarta, tak lama setelah itu pada 15 Oktober 1945 atas nama seluruh masyarakat, Aceh menyatakan diri dengan patuh berdiri dibawah payaung NKRI. Meskipun sebenarnya Aceh dapat berdiri sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat, tetapi, karena rakyat Aceh pada saat itu diliputi oleh semangat Nasionalisme yang tinggi maka Aceh menyatakan diri menjadi bagaian dari Indonesia. Kemudian pemerintah Darurat Indonesia langsung mengeluarkan ketetapan mengenai posisi Aceh didalam Republik. Ketetapan itu diberlakukan pad 17 Desember No. 8 / Des/ W.K.P.H yang menetapkan Aceh sebagai sebuah propinsi.

Daerah istimewa yang dijanjikan dulu tidak pernah ditepati dan bahakan dilupakan. Kekecewaan rakyat Aceh terhadap orang jawa diperkuat oleh penemuan sumber cadanagan minyak dan gas alam terbesar pada tahun 1971 di Lhokseumawe. Empat tahun kemudian Mobil Oil Indonesia perusahaan raksasa yang bermarkas di Amerika serikat diberikan hak untuk mengeksploitasinya. Sehingga kemudian disusul oleh beridirinya perusahaan-perusahaan industri besar seperti PT. PIM, PT AAF, PT

121

KKA dan sejumlah industri hilir lainnya. Meskipun Aceh telah ditetapkan sebagai kawasan ZIL (zona industri Lhoseumawe) namun keuntungan tidak pernah dirasakan oleh rakyat Aceh. Aceh tetap miskin dan masyarakatya tetap hidup dalam kemelaratan. Seluruh keuntungan mengalir ke pusat. Ekspansi besar-besaran tenaga kerja asing terjadi. Sebagian besar birokrat serta posisi-posisi penting didalam pemerintahan di Aceh dikuasai dan didominasi oleh orang Jawa maka semakin menumbuhkan kebencian orang-orang Aceh terhadap orang jawa.

Kekecewaan demi kekecewaan dirasakan oleh orang Aceh akibat pengkhianatan dan kezaliman yang dilakukan oleh Jakarta (Jawa-red) membuat orang Aceh menyimpan dendam teramat dalam terhadap orang-orang jawa. Puncaknya adalah, lahirnya kembali sebuah gerakan perlawanan yang diberi nama ASLNF (Aceh Sumatera Liberation Front) atau yang sering disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yanh diproklamirkan oleh Hasan Tiro pada tanggal 4 Desember 1976. sebuah gerakan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia yang oleh orang Aceh menyebutnya pemerintahan Jawa. Gerakan ini dibentuk atas inisiatif Hasan Tiro yang juga merupakan cicit dari pahlawan Aceh yakni tengku Chik Di Tiro. Secara diam-diam ia mencoba kembali membuka ruang perlawanan terhadap pemerintah yang didominasi oleh orang-orang yang berasal dari etnis jawa. Doktrin perlawanan yang disuarakan adalah tentang ketidakadilan, pengkhianatan, kekecewaan yang diselimuti dengan kebangkitan Nasionalisme orang Aceh.

Meskipun perlawanan ini dilatarbelakangi oleh aspek politik, Agama dan ekonomi, yaitu penentuan hak otonomi serta eksploitasi hasil Alam yang timpang sehingga membuat orang-orang Aceh tetap berada dibawah garis kemiskinan meskipun kaya akan sumberdaya Alam, serta janji pemerintah atas penerapan syariat Islam di Aceh yang urung terealisasi. namun disamping itu pula, perjuangan ini

122

didasarkan atas kebencian terhadap etnis jawa. Bagi orang Aceh, NKRI adalah milik bangsa Jawa. Karena fakta politik dimasa orde baru etnis jawa mendominasi struktur pemerintahan. GAM membangun rasa benci dengan memanfaatkan sentimen entis tersebut. Orang jawa merupakan musuh Historis bagi rakyat Aceh. Dalam hal ini, Hasan Tiro membangkitkan kembali sejarah penajajahan Majapahit terhadap Kerajaan Samudera Pasai sehingga permusuhan dengan pihak jawa merupakan garis merah atas apa yang terjadi pada masa lalu pada bangsa Aceh. Seiring perjalanan waktu, intensitas perang semakin meningkat.

Namun disisi lain, pemerintah penguasa Orde baru sedang giat-giatnya merealisasikan program pembangunan serta penyebaran Transmigrasi terutama yang berasal dari pulau jawa yang kemudian ditempatkan didaerah-daerah. Tak sedikit Transmigaran yang berasal dari pulau jawa membangun pemukiman-pemukiman baru di Aceh. Hal ini semakin menambah kemarahan orang Aceh terhadap Jawa dan tak jarang selama kurun waktu tahun 80-90-an para Transmigran menjadi sasaran amarah masyarakat Aceh terutama sekali GAM. Para transmigran banyak yang mendapat perlakuan tidak manusiawai mulai dari penganiayaan, penculikan terhadap etnis Jawa pembakaran rumah hingga kehilangan nyawa. Hal ini yang kemudian membuat orang-orang Jawa transmigran merasa terancam hidupnya dan bahkan kebanyakan dari mereka memilih keluar dari Aceh.

Ketika itu orang Aceh sanagat membenci orang Jawa. Bagi orang Aceh, jawa adalah bangsa pengkhianat, meskipun sebenarnya yang patut dibenci adalah oknum pemerintah Indonesia, yang dominan di tempati oleh orang-orang yang ber etnis Jawa, namun para transmigran pula tak luput dari teror serta ancaman dan intimidasi. Karena orang Aceh beranggapan, semua orang jawa adalah penipu, sehingga

orang-123

orang Aceh terutama GAM, telah mempersepsikan atau memaknai negatif secara umum terhadap etnis Jawa.

Pada Agustus 2005 pihak pemerintah Indonesia dan GAM bersepakat menandatangani perjanjian damai di Helsinki Finlandia, yang kemudian melahirkan nota kesepahaman bersama atau yang biasa dikenal MoU Helsinki. Bahkan setelah damai pun, sikap sentimen terhadap etnis Jawa pun tetap ditunujukan oleh orang Aceh. Bukti nyatanya adalah, masih terjadinya tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap etnis Jawa yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu meskipun bukan dilatarbelakangi oleh faktor etnisitas, namun tetap orang Jawa yang menjadi sasarannya. Meskipun kini, eskalasi kebencian telah menurun drastis, namun tak menuntut kemungkinan, apabila Jakarta (Jawa) kembali mengkhianati orang Aceh, akan timbul kembali konflik-konflik baru antar kedua etnis tersebut atau lebih. Dalam kajian sosiologi Coser, konflik di Aceh merupakan penggabungan antara konflik realistis dan non realistis. Artinya ada unsur perebutan sumber ekonomi yang berhubungan dengan konteks tipe realsitis serta etnisitas yang ditandai dengan mempertegas identitas kelompok, yang merupakan tipe konflik non realisitis. Coser memperlihatkan fugsi konflik terhadap kohesi kelompok. Melalui The Function of Social Conflict (1957), Coser memberi perhatian pada adanya konflik eksternal dan internal. Konflik eksternal mampu menciptkan dan memperkuat indentitas kelompok. contoh tersebut adalah bentuk kekecewaan masyarakat Aceh yang merasa identitas yang mereka miliki di jajah oleh orang lain, dalam hal ini tentu saja pemerintah Republik Indonesia. Maka dari itulah mereka pun bergejolak dan timbullah konflik yang berkepanjangan antara RI dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang banyak memakan korban tersebut.

124

Hal inilah masyarakat jawa di aceh jarang memilih calon dari Partai Aceh karena factor dendam yang sering diliputi intimidasi yang di dapat masyarakat jawa di aceh.

c. Ketidak Mampuan Partai Aceh dalam Membentuk Koalisi dengan Partai Nasional ataupun Partai Lokal lainnya

Koalisi adalah persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun dari koalisi beberapa partai. Dalam hubungan internasional, sebuah koalisi bisa berarti sebuah gabungan beberapa negara yang dibentuk untuk tujuan tertentu. Koalisi bisa juga merujuk pada sekelompok orang/warganegara yang bergabung karena tujuan yang serupa. Koalisi dalam ekonomi merujuk pada sebuah gabungan dari perusahaan satu dengan lainnya yang menciptakan hubungan saling menguntungkan. Dalam pembentukan kekuatan pemerintahan koalisi pertama kali dikenalkan oleh ilmuan muda Indonesia Dian Fernando Sihite, berdasarkan teori yang ia buat sebuah kabinet akan sangat kuat jika tidak ada koalisi.Tidak adanya koalisi membuat kekuatan kabinet tersebuat tidak akan terpecah pecah.

Pada pilkada Aceh Tamiang tahun 2012 Partai Aceh yang mengusung agus salim/abdul samad tidak mampu merangkul Partai Politik Nasional atau pun Partai Politik Lokal lainya untuk mendukung pasangan yang di usung mereka agar dapat meraih kemenangan pada Pilkada Aceh Tamiang 2012, Partai Aceh hanya mendapat dukungan dari tokoh-tokoh Partai atau calon-calon bupati yang telah kalah pada putaran pertama,pada putaran ke dua Hanya PDI-P yang mendukung pasangan yg di

125

usung Partai Aceh untuk melaju di putaran Kedua, sedangkan lawan mereka hamdan sati/iskandar zulkarnain yang pada putaran pertama diusung oleh PKS, PAN, PBA, PBR mampu merangkul partai lain yaitu PPP dan PKPI untuk mendukung mereka pada Pilkada Putaran kedua, sehingga dapat dilihat pada pilkada putaran kedua, Partai Aceh harus menelan kekalahan untuk kedua kalinya setelah putaran pertama mereka juga kalah dari pasangan hamdan sati/iskandar zulkarnain yang di usung oleh beberapa partai nasional dan partai lokal

d. Faktor Pendidikan dan Ekonomi

Adakalanya partisipasi politik selalu berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat dijadikan pendukung sekaligus penghalang tumbuh dan berkembangnya demokrasi. Kelas menengah, ekonomi, agama atau budaya adalah faktor-faktor yang banyak mempengaruhi demokratisasi di Indonesia terutama ditingkat lokal. Seperti halnya pada pilkada Aceh Tamiang 2012, jika dilihat dari kategori kelas menengah adalah jenis masyarakat yang memiliki ekonomi di atas rata-rata, berpenghasilan tinggi dan memiliki pendidikan yang baik (jenjang pendidikan di atas SMA/sederajat) dan umumnya berprofesi sebagai pengusaha serta pejabat daerah.

Faktor ini termasuk kategori yang menunjang pendemokratisasian di tingkat lokal, karena kategori ini dapat dikatakan juga sebagai pemilih cerdas, dengan ekonomi dan pendidikan yang memadai tentu membuat masyarakat seperti ini memiliki wawasan yang baik dalam menentukan pilihannya, masyarakat seperti ini tidak akan dengan mudah dimobilisasi oleh calon dengan berbagai tawaran seperti dalam bentuk sogokan maupun janji-janji yang sering ditawarkan oleh para kandidat.

Masyarakat seperti ini akan melihat, mengamati dan menilai bagaimana kinerja para calon sebelum ia menjadi kandidat pemilu, jika ia adalah seorang kepala

126

daripada suatu instansi pemerintahan tentu masyarakat akan mengetahui eksistensinya apakah kandidat termasuk figur pemimpin yang ramah, baik, bijaksana atau malah sebaliknya, masyarakat akan tahu bagaimana caranya mensortir calon yang pantas untuk memimpin daerahnya, dan juga tidak mengesampingkan penilaiannya terhadap visi misi dari para kandidat yang akan bertarung, visi misi yang baik akan mendukung massa yang lebih banyak lagi tentunya.

Sementara kategori ekonomi adalah jenis masyarakat dengan ekonomi cukup dan pas-pasan atau bisa juga termasuk kategori kelas menengah ke bawah, jenis masyarakat seperti ini memiliki jumlah yang besar di Aceh Tamiang, seperti masyarakat yang memiliki profesi sebagai PNS, guru, pegawai bank, karyawan, pedagang, petani, dsb. Kategori ini juga mendukung terwujudnya pendemokratisasian di tingkat daerah, pemilih dengan kategori ini biasanya pemilih yang sedang transisi menuju pemilih cerdas, karena pada dasarnya jika suatu daerah yang masyarakat memiliki ekonomi yang baik maka daerah tersebut termasuk telah menjalankan demokrasinya di tingkat lokal. Dimensi inilah yang sering menjadi dimensi money

Politic.

e. Faktor Putra Daerah

Pengaruh budaya tradisional ini dapat juga mengurangi pendemokratisasian di tingkat lokal ditandai dengan sifat fanatisme masyarakat terhadap sesuatu hal, seperti yang terjadi di Aceh Tamiang, sifat primordialisme (kedaerahan) pada kenyataannya masih terjadi di daerah ini, sebagian besar pemilih akan memilih calon pada pemilihan umum dilihat dari asal kedaerahan sang calon. Jika melihat dari pertarungan antara Hamdan Sati dan Agussalim tentu masyarakat akan memilih Hamdan yang merupakan putra daerah asli Tamiang, sementara Agussalim adalah calon yang bersuku Aceh. Hal ini juga dipertegas mantan ketua KIP Ir.Izuddin yang

127

juga mengatakan bahwa fenomena itu sering terjadi di daerah ini mengingat sifat kedaerahannya masih begitu melekat sehingga dalam pemerintahan suku Tamiang lebih diprioritaskan. Tak heran jika bupati sebelumnya adalah Abdul Latief yang juga bersuku Tamiang menang dalam pilkada Aceh Tamiang 2007.

Sifat kedaerahan akan mengurangi pendemokratisasian dikarenakan visi dan misi calon tidak lagi diperhatikan oleh pemilih, sementara pemilih yang baik itu haruslah bersikap netral dan pintar dalam melihat kualitas daripada sang calon pemimpin, apakah ia pantas memimpin daerah ini kedepannya? Dapat menjalankan roda pemerintahan yang baik dan merumuskan kebijakan untuk kemajuan daerahnya? Atau malah sebaliknya. Jika pemilih tetap pada pendiriannya menjadi pemilih yang sifatnya sukuisme tentu hal tersebut sulit untuk mendukung terciptanya sistem yang demokratis.

Untuk mengatasi hal tersebut, tentu peran KIP Kabupaten Aceh Tamiang sangat diperlukan dalam sosialisasi tahapan pilkada langsung yang juga berpengaruh pada tingkat partisipasi politik dalam pilkada langsung ini. Terpaan pendidikan politik dari berbagai agen dalam pilkada yang dilakukan dengan baik akan berdampak pada kontribusi partisipasi politik yang baik pula. Namun dalam hal ini dapat dikatakan bahwa lebih mudah menjalankan pelaksanaan pemilu daripada menciptakan masyarakat menjadi pemilih yang cerdas, sementara satu-satunya cara untuk mewujudkan sistem yang demokratis di tingkat daerah adalah dilihat dari kemakmuran rakyatnya, jika masyarakat daerah sudah dikatakan makmur dan sejahtera maka demokratisasi secara tidak langsung akan mengikuti sistem yang ada.

128

BAB V

PENUTUP

Dokumen terkait