• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisaris Politik

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari gambaran umum di atas dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan pemilukada yang diselenggarakan di kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari dua putaran, dikarenakan faktor perolehan suara yang diharapkan pasangan calon bupati dan wakil bupati tidak mencapai 30% pada putaran pertama. Sehingga sesuai peraturan yang berlaku maka pasangan calon yang menempati urutan teratas dalam perolehan suara pada putaran pertama akan bersaing kembali dalam pilkada putaran kedua, guna memperebutkan posisi nomor satu di daerah tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh maka pasangan yang bersaing di putaran kedua adalah pasangan nomor urut 4 (Agus Salim-Abdussamad) dan pasangan nomor urut 10 (Hamdan Sati-Iskandar Zulkarnain).

Penyelenggaraan pilkada putaran kedua telah dilaksanakan pada tanggal 12 September 2012, berdasarkan fakta yang ada pelaksanaan tersebut telah berjalan dengan baik, transparan, kompetitif serta berlangsung dengan suasana yang relatif kondusif dan damai. Keadaan ini tentunya dapat diciptakan karena adanya kerjasama dari berbagai pihak yang turut serta didalam menjaga keberhasilan pemilukada di kabupaten Aceh Tamiang. Dalam proses pemilukada di Aceh Tamiang, masyarakat yang memiliki hak untuk memilih dianggap cukup aktif didalam menentukan pilihannya. Dengan kata lain, jumlah pemilihnya terbilang cukup besar yakni 64.70% pada pemilu putaran kedua ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat partisipasi masyarakat Tamiang tergolong cukup baik.

129

Suasana yang terjadi pada saat sebelum dan sesudah pilkada relatif aman dan damai. Meskipun ada beberapa peristiwa yang sempat dianggap mengganggu kestabilan keamanan di daerah-daerah tertentu. Namun secara umum hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Adapun gangguan-gangguan yang dimaksud lebih mengarah kepada tindakan teror serta intimidasi yang dilakukan oleh partai tertentu terhadap masyarakat di wilayah pedesaan yang diyakini merupakan basis suara dari lawan politiknya, sehingga secara psikologis hal tersebut dapat membuat masyarakat khawatir. Mengamati kondisi tersebut maka pihak keamanan yang dalam hal ini adalah TNI dan Polri secara sigap telah menetralisir gangguan tersebut sehingga masyarakat dapat kembali tenang dan bebas dalam menentukan pilihannya pada saat pilkada dilaksanakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebebasan sipil pada pelaksanaan pilkada di kabupaten ini sudah cukup berjalan dengan baik, dimana masyarakat sudah mulai bebas menentukan pilihannya tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak lain.

Faktor-faktor yang menjadi penyebab kekalahan Partai Aceh pada Pilkada Kabupaten Aceh Tamiang adalah :

1. Kondisi Internal Partai Aceh yang sedang mengalami perpecahan yang menimbulkan Faksi-Faksi di tubuh Partai Aceh baik di tingkat Nasional maupun di tingkat Daerah.

2. Masyarakat Aceh Tamiang di dominasi oleh masyarakat jawa, hal inilah yang menjadikan Kekalahan Partai Aceh karena Konflik Budaya Jawa dengan Aceh yang berujung saling membenci antara Suku Jawa dengan Aceh

3. Pendidikan dan Ekonomi merupakan kedua sisi yang membuat dan menciptakan pilihan masyarakat dalam hal pemilihan. Jika seorang

130

terpelajar atau berpendidikan tidak mungkin ditakuti dengan ancaman ataupun terror. Sedangkan diranah ekonomi masyarakat Aceh Tamiang terdiri dari kelas menengah dan kelas atas sehingga peluang money politik sangatlah kecil dan jika terjadi hanya di beberapa kecamatan saja.

4. Faktor yang paling menonjol di Pilkada Kabupaten Aceh Tamiang 2012 adalah Faktor lawan yang di hadapi Partai Aceh adalah Putra daerah asli Tamiang, ini juga memungkinkan Putra daerahlah yang memenangkan Pilkada 2012 menjadi seorang Bupati. Karena isu putra daerah menjadi senjata andalan dalam Pilkada.

5.2 Saran

Dalam pandangan penulis terhadap Pilkada Aceh Tamiang di harapkan dapat di control dengan baik oleh pemerintah dan kesadaran masyarakat tentang Pilkada ini adalah momen perubahan dan menjadi kebutuhan sehingga membuat warga menjadi bijaksana dalam meilih calon di Pilkada.

Untuk meningkatkan kualitas demokrasi ditingkat lokal terutama pada kasus pilkada Aceh Tamiang perlu kiranya memerhatikan beberapa hal, yakni : Melalui pendekatan Pendidikan Politik, dalam hal ini peran KIP Aceh Tamiang sangat diperlukan dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakatnya terkait pilkada yang akan dilaksanakan. Dengan melakukan sosialisasi politik agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya memilih dan ikut serta dalam proses kegiatan politik ketika pemilu menjelang. Selain itu pendidikan politik disini mencakup pula kategori untuk menciptakan kesadaran masyarakat akan hak politiknya, karena pada dasarnya setiap masyarakat memiliki hak sipil dan hak politik

131

dalam kehidupannya. Jika hak sipil seseorang peroleh sejak mereka terlahir ke dunia untuk memiliki hak hidup, hak berinteraksi dsb, maka hak politik untuk mengikuti kegiatan politik akan ia dapati setelah usianya mencapai 17 tahun atau jika belum mencapai 17 tahun tetapi sudah menikah ia tetap mendapatkan hak politiknya berdasarkan persyaratan yang diatur dalam perundang-undangan Republik Indonesia. Untuk itu perlu kiranya meningkatkan kesadaran masyarakat Tamiang tentang betapa pentingnya memilih dalam pemilu, karena satu suara yang diberikan saja sangat berpengaruh pada kualitas demokrasi di Aceh Tamiang.

Menciptakan Pemilih yang Cerdas. Dalam hal ini kelompok pemilih cerdas tidak akan memilih calon dengan alasan-alasan yang tidak sesuai dengan prinsip demokrasi, seperti pemilih yang lebih memprioritaskan calon karena sifat kedaerahannya (primordialisme), pemilih akan memilih dikarenakan kesamaan agama, suku dan ras dari sang calon. Pemilih yang seperti ini termasuk kategori pemilih yang tidak cerdas dan banyak terjadi pada masyarakat Aceh Tamiang, dimana sifat sukuisme Tamiang masih sangat menonjol. Jika calon bukan putra daerah Tamiang maka sudah jelas sang kandidat akan sulit menang dalam pilkada.

Meningkatkan partisipasi masyarakat dengan menembus segmen pemilih pemula, pemilih perempuan, kelompok pinggiran, dan tokoh agama. Sosialisasi melalui segmen-segmen tersebut setidaknya dapat mengurangi angka golput yang mencapai 35.5% pada putaran kedua 2012 lalu, karena dapat dikatakan bahwa dari beberapa segmen tersebut adalah kelompok yang sering termarjinalkan dalam hal kehidupan berpolitik.

36

BAB II

Dokumen terkait