BAB II KAJIAN PUSTAKA
G. Faktor Penentu Kesantunan dan Ketaksantunan
Menurut Pranowo (dalam Masfufah 2010: 47) faktor penentu kesantunan adalah segala hal yang dapat mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi santun atau tidak. Berdasarkan identitifikasi terhadap bentuk kesantunan dan ketaksantunan ada beberapa faktor yang menyebabkan tuturan tersebut santun
commit to user
maupun tidak santun. Menurut Pranowo (dalam Masfufah 2010: 47) faktor penentu kesantunan berbahasa meliputi dua hal pokok, yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan mencakup lima aspek yaitu pemakaian diksi yang tepat, pemakaian gaya bahasa bahasa yang santun, pemekaian struktur kalimat yang benar dan baik, aspek intonasi, aspek nada bicara. Sedangkan faktor non kebahasaan mencakuptopik pembicaraan, konteks situasi komunikasi, pranata sosial masyarakat.
a. Faktor Kebahasaan
Faktor kebahasaan tersebut adalah segala unsur yang berkaitan dengan masalah bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal.
1. Pemakaian Diksi yang Tepat
Pemakaian diksi atau pilihan kata yang tepat saat bertutur dapat mengakibatkan tuturan menjadi santun. Ketika penutur sedang bertutur, kata-kata yang digunakan dipilih sesuai dengan topik yang dibicarakan, konteks pembicaraan, suasana mitra tutur, pesan yang disampaikan, dan sebagainya. Kebenaran suatu tuturan tidak hanya ditentukan oleh keteraturan bagian-bagiannya sebagai satuan pembentuk tuturan, tetapi juga ditentukan oleh bentuk dan pilihan kata atau diksi yang mengisi bagian-bagian itu, dengan demikian kesalahan dimungkinkan juga oleh adanya pemakaian bentuk dan pilihan kata yang tidak benar atau tidak tepat.
Menurut Pranowo (dalam Masfufah, 2010: 48) pemakaian diksi yang berkadar santun tinggi memiliki beberapa agrumentasi di antaranya; nilai rasa kata bagi mitra tutur akan terasa lebih halus, persepsi mitra tutur merasa bahwa dirinya
commit to user
diposisikan dalam posisi terhormat, penutur memiliki maksud untuk menghormati mitra tutur, dan akan menciptakan komunikasi yang santun dengan menjaga harkat dan martabat penutur.
2. Pemakaian Gaya Bahasa yang Santun
Menurut Hardjoprawiro (dalam Masfufah, 2010: 48) Berbahasa itu tidak hanya sekedar dapat memahami ucapannya sebab kalu berbahasa asal mengerti atau dipahami saja, tidak ada seninya. Dalam berbahasa juga diperlukan suatu gaya bahasa karena gaya bahasa dapat juga menimbulkan pemakaian bahasa yang santun. Seperti yang dikatakan Pranowo (dalam Masfufah, 2010: 48) gaya bahasa tersebut merupakan optimalisasi pemakaian bahasa dengan cara-cara tertentu untuk mengefektifkan komunikasi.
Pemakaian gaya bahasa untuk mencapai komunikasi yang santun tidaklah mudah. Memang dibutuhkan pemahaman mengenai berbagai gaya bahasa. jika seseorang mahir menggayakan bahasa dengan berbagai jenis majas, seperti peronifikasi, metafora, perumpamaan, litotes, eufemisme, dan sebagainya ternyata dapat meredam tuturan yang sebenaranya cukup keras. Dengan pemakaian gaya bahasa yang santun, penutur telah menunjukan sebagai orang yang bijaksana menyampaikan pesan atau maksud kepada mitra tutur. Gaya ini juga merupakan salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan antara “apa yang dipikirkan” dengan “apa yang dituturkan”, tetapi dengan memenfaatkannya secara baik dan tepat.
commit to user
3. Pemakaian Struktur Kalimat yang Benar dan Baik
Pemakaian Struktur kalimat yang benar dan baik pada saat bertutur, khususnya pada situasi formal atau resmi dapat mengakibatkan atau menimbulakan pemakaian bahasa menjadi santun. Pemakaian struktur kalimat yang benar dan baik ini meliputi; kelengkapan konstruksi kalimat, keefektifan kalimat, dan penggunaan bentuk kebahasaan, tentu saja penggunaan bentuk bahasa yang santun yang sesuai dengan konteks tuturan.
4. Aspek Intonasi
Aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Ketika penutur menyampaikan maksud kepada mitra tutur dengan menggunakan intonasi keras padahal jarak mitra tutur berada jarak yang sangat dekat dengan penutur, penutur akan dinilai tidak santun. Sebaliknya, kija penutur menyampaikan intonasi dengan lembut, penutur akan dinilai sebagai orang yang santun. Namun, intonasi kadang-kadang dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat. Misalnya lembutnya intonasi orang Jawa berbeda dengan orang Batak ataupun orang Bugis.
DalamKamus Besar Bahasa Indonesiakata “lemah lembut” didefinisikan sebagai ‘baik hati, tidak pemarah, peramah’. Adapun “lembut” itu sendiri diartikan sebagai ‘halus dan enak didengar, tidak kasar; tidak keras atau tidak nyaring (tentang suara, bunyi); baik hati (halus bahasanya), tidak bengis, tidak pemarah, lembut hati’. Dalam praktiknya deskripsi ini tercermin pada bagaimana seseorang mengekspresikan tututran dalam pengaturan intonasi. Karena intonasi mengandung unsur nada (tone), tekanan (stress), dan tempo (duration), maka
commit to user
pengaturan ini bisa di arahkan pada bagaimana mengatur keras-lemah, tinggi-rendah, dan panjang-pendek suara dalam tuturan. Unsur-unsur ini mengandung makna tersirat yang mengiringi tuturan yang berlangsung yang dinamakan “makna emosi’ penutur.
5. Aspek Nada Bicara
Aspek nada dalam bertutur lisan dapat juga mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang. Nada adalah naik turunnya ujaran yang menggmbarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur. Jika suasana hati sedang senang, nada bicara penutur menaik dengan ceria sehingga terasa menyenangkan. Sebaliknya jika suasana hati sedang sedih, nada bicara penutur menurun dengan datar sehingga terasa tidak menyenagkan atau menyedihkan. Jika sedang marah atau emosinya tinggi, nada bicara penutur akan menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan. Nada bicara tersebut tidak dapat disembunyikan dari tuturan.
Dengan kata lain, nada bicara penutur selalu berkaitan dengan suasana hati si penutur. Namun, bagi penutur yang selalu ingin bertutur secara santun, dapat mengendalikan diri agar suasana yang negatif tidak terbawa dalam bertutur dengan mitra tuturnya.
b. Faktor Nonkebahasaan
Pada saat berkomunikasi, penutur tidak hanya melibatkan faktor kebahasaan. Namun, penutur juga melibatkan faktor-fakor nonkebahasaan yang akan menentukan kesantunan bertutur. Berikut penjelasan secara singkat ketiga hal tersebut.
commit to user 1. Topik Pembicaraan
Suwandi berpendapat bahawa topik pembicaraan adalah pokok masalah yang diungkapkan ketika terjadinya komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Pada dasarnya topik dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu (a) topik yang bersifat formal (misalnya; kedinasan, keilmuan, dan kependidikan) dan (b) topik yang bersifat informal (misalnya; masalah kekeluargaan, persahabatan). Topik (a) biasanya diungkapkan dengan bahasa baku, sedangkan topik (b) diungkapkan dengan bahasa nonbaku dan santai (dalam Masfufah, 2010: 51).
Sementara menurut Pranowo (dalam Masfufah, 2010: 52), topik pembicaraan dalam suatu komunikasi sering mendorong seseorang untuk berbahasa secara santun atau tidak santun. Misalnya, topik pembicaraan yang dapat mengancam posisi si penutur dapat memuncalkan tuturan yang tidak santun. Hal ini memang bersifat kodrati karena setiap orang atau penutur ingin martabat dirinya tidak dilanggar oleh orang lain. Bahkan, penutur yang salah sekalipun, jika merasa dipermalukan di dihadapan orang lain pasti dia akan membela diri dengan mengucapkan tuturan yang tidak santun.
2. Konteks Situasi Komunikasi
Pranowo (dalam Masfufuah, 2010: 52) mengatakan faktor nonkebahasaan yang berupa konteks situasi ini adalah segala keadaan yang melingkupi terjadinya komunikasi. Hal ini dapat berhubungan dengan tempat, waktu, dan kondisi psikologis penutur, respon lingkungan terhadap tuturan, dan sebagainya. Komunikasi antarpenutur dapat terjadi di berbagai tempat (misalnya; di kelas, di
commit to user
kantin, di kantor, di jalan), dalam berbagai waktu (misalnya, pagi, siang, sore), dan sebagainya.
Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dapat pula berupa konteks ekstralinguistik. Pengguna bahasa atau penutur harus memperhatikan konteks tersebut agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan dapat menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, penutur senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa (Masfufah, 2010: 52).
3. Pranata Sosial
Anan berpendapat, tujuan lain komunikasi adalah untuk menjalin hubungan sosial (social relationship) antara pembicara dan lawan bicara. Dalam menjalin hubungan sosial ini tujuan komunikasi menjadi sangat kompleks. Kompleksitas ini disebabkan tidak hanya oleh faktor-faktor linguistik (linguistic factors) yang harus dipertimbangkan oleh pembicara dan lawan bicara, tetapi faktor-faktor nonlinguistik (non-linguistic factors) juga memegang peranan penting (dalam Masfufah, 2010: 53). Seseorang pembicara tidak cukup memilih formulasi gramatikal dan pilihan kata yang tepat untuk berbicara, tetapi aspek sosio kultural juga harus menjadi pertimbangan.
Pranata sosial budaya masyarakat sebagai penentu kesantunan berbahasa dari aspek nonkebahasaan memang perlu diperhatikan bagi penutur. Misalnya, aturan anak kecil atau anak muda yang harus selalu hormat kepada orang yang lebih tua, berbicara tidak boleh sambil makan, perempuan tertawa terbahak-bahak, tidak boleh bercanda ria di tempat orang yang sedang berduka, dan sebagainya.
commit to user
Berdasarkan dari teori kesantunan dan faktor penentu kesantunan, dalam penelitian ini fungsi kesantunan berbahasa Jawa siswa SMP Muhammadiyah 1 Surakarta dapat diklasifikasikan menjadi empat fungsi kesantunan. Keempat fungsi kesantunan tersebut meliputi (1) menolak secara tidak langsung, (2) menghormati MT, (3) menguntungkan MT, dan (4) memberi perintah secara tidak langsung.