BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Faktor Penghambat Kebijakan Program KOTAKU Kelurahan Bligo
Komunikasi merupakan salah satu kunci berhasilnya penerapan suatu kebijakan atau program. Komunikasi yang lancar akan menciptakan kolaborasi yang baik antar stakeholder dan pemegang kepentingan dalam kebijakan sehingga tujuan yang sudah dirumuskan dapat tercapai.
Penerapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo melibatkan banyak pihak meliputi masyarakat Kelurahan Bligo, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri, fasilitator atau pendamping, Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan, dan pihak mitra lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antar pelaksana kebijakan program tidak sepenuhnya berjalan dengan baik yang ditandai dengan munculnya ketidakharmonisan dalam internal BKM dan keterlambatan pelaksanaan kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT) sebagai bentuk pertanggungjawaban BKM. Adanya ketidaksepahaman dalam internal BKM dan pendamping dalam merancang program membuat kejelasan informasi menjadi rancu. Padahal komunikasi dalam kebijakan menurut Edward III memiliki tiga hal penting yaitu transmisi, konsistensi dan kejelasan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi menjadi salah satu faktor penghambat dalam penerapan program KOTAKU di Kelurahan Bligo yang berakibat pada kolaborasi yang kurang maksimal.
b. Sumber Daya
Sumber daya merupakan faktor penting untuk menjamin terlaksananya implementasi kebijakan dengan baik dan efektif. Suatu kebijakan akan mengalami kegagalan apabila kebijakan tersebut kurang diimplementasikan dengan baik oleh para pelaksana dan penerima kebijakan (Setyati, 2015:62). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan yang muncul dari aspek sumber daya dalam program KOTAKU di Kelurahan Bligo yaitu masih adanya sikap masyarakat yang tidak mau mendukung program dan tidak mau adanya perbaikan karena adanya kekhawatiran justru menyebabkan banjir. Padahal proses pembangunan program KOTAKU sudah melewati deskripsi desain pada tahap perencanaan dengan memperhitungkan segala dampak yang mungkin terjadi. Sumber daya menurut Edward III merupakan hal penting untuk mencapai implementasi kebijakan yang efektif. Adanya hambatan dari aspek sumber daya manusia dalam pelaksanaan program KOTAKU di Kelurahan Bligo menjadi gambaran mengenai kurangnya keefektifan pelaksanaan program tersebut.
c. Disposisi
Hasil penelitian menunjukkan adanya jalinan dan kerja sama pelaksana program dengan masyarakat di Kelurahan Bligo dalam program KOTAKU dapat dilihat dari dukungan masyarakat untuk bersama-sama menjadi relawan dan memberikan swadaya baik berupa tenaga maupun materi seperti biaya konsumsi tukang bangunan. Selain itu, adanya keterlibatan
masyarakat dalam setiap tahap menunjukkan sikap persuasif pelaksana untuk bersama-sama memperbaiki lingkungan melalui program KOTAKU. Hal tersebut merupakan bentuk sinergitas untuk menyelesaikan masalah kumuh di Kelurahan Bligo agar menimbulkan dampak yang signifikan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Edward III mengenai disposisi sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan dimana sikap baik dan dukungan para pelaksana kebijakan menjadi faktor yang memiliki konsekuensi penting bagi implementasi suatu kebijakan.
d. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi menjadi salah satu faktor penting dalam implementasi kebijakan sebagai kesepakatan kolektif untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial. Program KOTAKU dilaksanakan oleh BKM sebagai lembaga masyarakat yang terbentuk berdasarkan kehendak masyarakat sendiri yang struktur kepengurusannya juga disusun berdasarkan aspirasi masyarakat. Program KOTAKU di Kelurahan Bligo dilaksanakan oleh BKM Mandiri dengan membentuk tiga KSM sebagai pelaksana pembangunan di lapangan.
4. Relevansi Penelitian dengan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Progam studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah program studi yang mempelajari empat rumpun disiplin ilmu sebagai kajiannya yaitu politik, hukum, sosial budaya dan nilai moral. Penelitian ini memiliki relevansi dengan kajian ilmu program studi PPKn terutama pada rumpun ilmu
politik dan hukum. Dilihat dari kajian ilmu politik, penelitian ini mengkaji mengenai kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah untuk menerapkan suatu kebijakan berdasarkan struktur pemerintahan beserta tugas dan wewenangnya.
Kebijakan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang kemudian dijalankan oleh dinas-dinas terkait di pemerintah daerah kota/kabupaten. Dilihat dari kajian ilmu hukum, kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) ini dijalankan berdasarkan Peraturan Menteri PUPR, surat keputusan bupati/walikota setempat dan aturan-aturan lain dibawahnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penelitian ini juga mempelajari mengenai tata urutan landasan hukum yang berlaku untuk menjalankan sebuah kebijakan.
Adapun kontribusi penelitian ini terhadap pembelajaran PPKn di sekolah yaitu menambah kajian pembelajaran PPKn khususnya pada KD 3.3 kelas X mengenai fungsi dan kewenangan lembaga-lembaga negara menurut UUD 1945 dan KD 3.4 kelas X mengenai hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah menurut UUD 1945.
134 BAB V PENUTUP A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Penerapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan meliputi (a) tahap persiapan yang terdiri dari sosialisasi berjenjang dan pembentukan TIPP, (b) tahap perencanaan yang berupa kegiata penyusunan dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP), (c) tahap pelaksanaan berupa pembangunan dan perbaikan di daerah kumuh yang terbagi menjadi dua zona prioritas meliputi perbaikan saluran air atau drainase, pembuatan jalan paving, pembangunan sumur bor (PAMSIMAS), dan TPS (3R), serta (d) tahap keberlanjutan dengan membentuk kelompok pemelihara pembangunan dan kelompok pengelola. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan disetiap tahapan program secara berkala dan dilaksanakan oleh Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan, pendamping atau fasilitator kelurahan dan BPKP sebagai audit terakhir.
2. Faktor penghambat dalam program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo meliputi dua aspek yang utama yaitu sumber daya manusia dan komunikasi. Sumber daya manusia dalam hal ini meliputi tiga komponen yaitu pengurus BKM sebagai pelaksana, sebagian masyarakat yang menolak program, dan pekerja yang dinilai tidak efisien dalam proses pembangunan.
Hambatan dari aspek sumber daya manusia dapat dilihat dari adanya peralihan pembangunan drainase di RT 15 dan proses pembangunan yang berjalan kurang efektif. Sementara itu, hambatan dari aspek komunikasi dapat dilihat dari keterlambatan pelaksanaan kegiatan Rembug Warga Tahun (RWT) sebagai bentuk pertanggungjawaban BKM selama masa kerja tahun 2019 yang diakibatkan karena terjadinya ketidakharmonisan komunikasi dalam internal BKM sebagai pelaksana program.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, ada beberapa saran yang diajukan peneliti yaitu sebagai berikut.
1. Kepada Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan perlu menjalin koordinasi lebih intensif melalui koordinasi forum BKM dan rapat evaluasi koordinasi dengan fasilitator dan pemerintah desa/kelurahan sebagai pelaksana di tingkat desa/kelurahan sehingga lebih mengetahui permasalahan-permasalahan yang timbul dan dapat memberikan alternatif penyelesaian yang tepat dalam penerapan program KOTAKU.
2. Kepada Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Bligo dan tim fasilitator perlu memfasilitasi terbentuknya kerjasama dengan pemerintah kelurahan dan melibatkan tokoh masyarakat untuk melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat serta perlunya diadakan pendampingan dari Dinas Perkim LH dan Koordinator KOTAKU Kabupaten Pekalongan dalam pelaksanaan program KOTAKU agar menjamin kelancaran terlaksananya program secara efektif dan efisien.
136
DAFTAR PUSTAKA Buku
Abidin, Said Zainal. 2012. Kebijakan Publik Edisi 2. Jakarta: Salemba Humanika Hamdi, Muchlis. 2014. Kebijakan Publik. Bogor: Ghalia Indonesia
Handoyo, Eko. 2012. Kebijakan Publik. Semarang: Widya Karya
Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI- Press.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soesilowati, Etty. 2009. Kota dan Permukiman Kebijakan hingga Implementasi.
Semarang: UNNES PRESS.
Subarsono, AG. 2013. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuntitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Wahab, Solichin Abdul. 2015. Analisis Kebijakan Dari Formulasi ke Penyusunan Model-Model Implementasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Winarno, Budi. 2014. Kebijakan Publik Teori, Proses dan Studi Kasus.
Yogyakarta: CAPS (Center of Academic Publishing Service).
Jurnal
Askari MH dan K Gupta. 2016. Changes in Socio-Economic and Health Condition of Rehabilitated Slum Dwellers in Kolkata, West Bengal. International Journal Hum. Capital Urban Manage. No.2. Hal: 177-122.
Ayuningtyas Istiqomah dan Artiningsih. 2019. Evaluasi Metode Verifikasi Lokasi dan Pemutakhiran Profil Permukiman Kumuh dalam Penyusunan Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP). Jurnal Geografi. No. 2. Hal: 79-92.
Balbim Renato dan Cleandro Krause. 2019. Slum Upgrading in Brazil: Lessons from Evaluation Processes. Journal of Ci& Trop. Recife. No. 43. Hal: 185-201.
Efridawati dan Anggraeni Atmei Lubis. 2015. Kebijakan Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan di Dinas Cipta Karya dan Pertambangan Deli Serdang. Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik. No. 1. Hal: 58-70 Krisandriyana Maresty, dkk. 2019. Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan
Kawasan Permukiman Kumuh di Surakarta. Jurnal Desa-Kota. No. 1. Hal:
24-33.
Lestari, Indah Dwi dan Agung Sugiri. 2013. Peran Badan Keswadayaan Masyarakat dalam Penanganan Permukiman KUmuh di Podosugih Kota Pekalongan.
Jurnal Teknik PWK. No. 1. Hal: 30-41.
Mahabir, Ron dkk. 2016. The Study of Slums as Social and Physical Constructs:
Challenges and Emerging Research Opportunities. Regional Studies Regional Science. No. 1. Hal: 399–419.
Nurhasanah. 2019. Implementasi Kebijakan Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik . No.1. Hal: 58-70.
Nursyahbani, raisya dan Bitta Pigawati. 2015. Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh di Kampung Kota (Studi Kasus: Kampung Gandekan Semarang). Jurnal Teknik PWK. No. 2. Hal: 267-281.
Purnaweni, hastuti. 2014. Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kawasan Kendeng Utara Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Lingkungan. No. 1. Hal: 53-65.
Ramdhani Abdullah dan Muhammad Ali Ramdhani. 2017. Konsep Umum Pelaksanaan Kebijakan Publik. Jurnal Publik. No.1. Hal:1-12.
Ratnasari, Dwi Jayanti dan Asnawi Manaf. 2015. Tingkat Keberhasilan Program Penataan Lingkungan Permukian Berbasis Komunitas (Studi kasus:
Kabupaten Kendal dan Kota Pekalongan). Jurnal Pengembangan Kota. No.
1. Hal: 40-48.
Ruli As’ari dan Siti fadjarani. 2015. Penataan Permukiman Kumuh Berbasis Lingkungan. Jurnal Geografi. No. 1. Hal: 56-67.
Setyati, Rini dan Warsito Utomo. 2015. Implementasi Kebijakan Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perumahan Kota Banjarbaru. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik. No. 1. Hal: 59-72.
Swami, Kumar S. 2017. An Empirical Study of Growth of Slum Population in India.
International Journal of Political Science (IJPS). No. 1. Hal: 10-13.
Wahyuni Sri, dkk. 2012. Implementasi Kebijakan Pembangunan dan Penataan Sanitasi Perkotaan Melalui Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Tulungagung. Jurnal Ilmu Lingkungan. No. 2.
Hal: 111-122.
Wijaya, Doni Wahyu. 2016. Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Studi Penentuan Kawasan Prioritas untuk Peningkatan Kualitas Infrastruktur pada Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Malang. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik. No. 1. Hal: 1-10.
Yuliani, Sri dan Gusty Putri Dhini Rosyida. 2017. Kolaborasi dalam Perencanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di kelurahan Semanggi Kota Surakarta. Jurnal Wacana Publik. No. 2. Hal: 33-47.
Skripsi
Irfani, Intania. 2018. Efektivitas Program Kota Tanpa Kumuh di Kelurahan Karangwaru Kota Yogyakarta. Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta.
Saputra, Danang Listya. 2018. Implementasi Kebijakan Dana Desa di Desa Tridadi Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo. Politik dan Kewarganegaraan.
Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.
Ulyah, Afwah. 2018. Partisipasi Masyarakat dalam Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Krobokan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. Pengembangan Masyarakat Islam. Fakultas Dakwah dan Komunikasi. UIN Walisongo Semarang.
Dokumen
Laporan Pertanggungjawaban Badan Keswadayaan Masyarakat “Mandiri”
Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan Tahun Anggaran 2019.
Peraturan Bupati No 7 Tahun 2017 tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural Pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh.
Peraturan Presiden No 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019.
Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan Tahun 2017-2021.
Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP) Kabupaten Pekalongan Tahun 2017.
Surat Edaran Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 40/SE/DC/2016 tentang Pedoman Umum Program Kota Tanpa Kumuh.
Surat Keputusan Bupati Pekalongan No 663/408 Tahun 2014 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.
Internet
https://www.kotaku.pu.go.id (diakses pada 16 Desember 12.30)
https://www.pekalongankab.go.id (diakses pada 16 Desember pukul 12.21) https://www.suaramerdeka.com (diakses 16 Desember 2019 pukul 11.50)
LAMPIRAN -
LAMPIRAN
PEDOMAN PENELITIAN A. Judul Skripsi
Penerapan Kebijakan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.
C. Informan Penelitian 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pihak yang menjadi sasaran penelitian yaitu Badan Keswadayaan Masyarakat dan pemerintah Kelurahan Bligo sebagai pelaksana kegiatan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan.
2. Responden
Adapun responden yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.
a. Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan.
b. Kepala Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.
c. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.
d. Koordinator Tim Inti Perencanaan Partsipatif (TIPP) BKM Mandiri Kelurahan Bligo.
e. Masyarakat Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.
Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam peneliian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan
2. faktor penghambat dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan
E. Fokus Penelitian
Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.
1. Penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan
a) Bentuk-bentuk kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) b) Tahap-tahap pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) c) Model kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
d) Monitoring dan evalusasi pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
2. Faktor penghambat dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan
a) Aspek yang menghambat pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).
b) Strategi untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).
INSTRUMEN PENELITIAN
PENERAPAN KEBIJAKAN PROGRAM KOTA TANPA KUMUH (KOTAKU) DI KABUPATEN PEKALONGAN NO DATA YANG
Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
3. Siapa yang berwenang untuk membentuk tim pelaksana program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
√ √
Lingkungan Permukiman Dinas Perkim LH, Kepala Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan
3. Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan
Pedoman wawancara dan dokumentasi
program Kota tanpa
Kumuh (KOTAKU)
b. Tahap-tahap
pada setiap tahapan
12. Apa saja yang menjadi tolok ukur
13. Apa saja manfaat dari adanya program Kota
c. Monitoring
15. Apa sajakah data dan informasi yang
17. Siapa saja pihak-pihak
d. Keberlanjutan
di Kabupaten
24. Apa saja faktor
b. Strategi untuk
(KOTAKU)?
program Kota Tanpa
Kumuh (KOTAKU)?
35. Apa saja upaya yang dilakukan untuk
LEMBAR OBSERVASI
Lembar Pengamatan Penerapan Kebijakan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan
Tempat :
Kegiatan :
Hari/Tanggal :
Lama Pengamatan :
No Kegiatan Materi Pihak yang
Terlibat
Respon Masyarakat Keterangan 1
2 3 4 5 Dst
Lampiran 6. Pedoman Wawancara
PEDOMAN WAWANCARA
Responden: Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan Tanpa Kumuh (KOTAKU) ditingkat kabupaten ? (di tingkat Bupati, dinas, atau bagian dinas)
2. Mengapa Kabupaten Pekalongan termasuk daerah yang ditargetkan dalam kebijakan program Kota Tanpa Kumuh?
3. Apa sajakah yang menjadi indikator suatu daerah dapat dikatakan kumuh sehingga berhak untuk mendapatkan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
4. Kabupaten Pekalongan menargetkan pengurangan kawasan kumuh mencapai 0% pada tahun 2021 melalui Pogram Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) sejak tahun 2016, bagaimana pelaksanaan program tersebut selama ini ?
5. Siapa saja pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
6. Bagaimana koordinasi antar pihak dalam pelaksanaan kebijakan tersebut?
7. Siapa yang berwenang untuk membentuk tim pelaksana program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan? (termasuk faskel)
8. Bagaimana struktur tim pelaksana program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
9. Apa saja yang menjadi tugas dan kewenangan dari tim pelaksana program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
10. Bagaimana mekanisme pertanggungjawaban tim pelaksana tersebut sebagai pelaksana program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
11. Apakah Pemerintah Daerah menyelenggarakan sosialisasi mengenai program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
12. Daerah mana saja yang memperoleh kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
13. Bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
14. Apa sajakah prosedur yang harus dipenuhi pada setiap tahapan pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
15. Apa saja indikator keberhasilan dari setiap tahapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
16. Apa saja manfaat dari adanya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
17. Kapan monitoring dan evaluasi program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan dilakukan?
18. Apa sajakah yang menjadi poin penting dalam monitoring dan evaluasi program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
19. Bagaimana tindak lanjut dari program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan agar menjadi upaya penataan lingkungan yang berkelanjutan?
20. Bagaimana pemantauan yang dilakukan setelah program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan selesai dijalankan?
21. Bagaimana efektivitas program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) sebagai upaya penataan lingkungan di Kabupaten Pekalongan?
22. Apa saja upaya pemerintah untuk mendukung terlaksananya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan? (dukungan materiil dan imateriil)
23. Adakah sumber dana lain selain APDB untuk melaksanakan kebijakan tersebut?
24. Bagaimana upaya pemerintah untuk menjamin adanya transparansi anggaran terkait pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
25. Bagaimana upaya pemerintah untuk memastikan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dijalankan di kondisi lingkungan yang tepat?
26. Bagaimana tindakan pemerintah ketika terjadi ketidaksesuaian antara prosedur pelaksanaan dengan pelaksanaan dilapangan pada program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
27. Bagaimana koordinasi pemerintah dengan pelaksana kebijakan untuk menjamin terlaksananya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan dengan baik?
28. Bagaimana strategi pemerintah agar program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) menjadi penataan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat?
29. Bagaimana strategi pemerintah agar setelah dilaksanakannya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) tidak menimbulkan kawasan permukiman kumuh yang baru?
30. Apa saja yang menghambat pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
31. Apa saja faktor penyebab munculnya hambatan dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
32. Bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
33. Bagaimana strategi dari pemerintah sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan?
164
1. Bagaimana profil Kelurahan Bligo ditinjau dari kondisi wilayah permukiman masyarakatnya?
2. Sejak kapan Kelurahan Bligo memperoleh dan menjalankan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
3. Berapakah luas wilayah di Kelurahan Bligo yang mendapatkan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
4. Apa saja faktor-faktor penyebab Kelurahan Bligo memperoleh kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
5. Bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat disekitar wilayah yang terdapat program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
6. Apa bentuk perbaikan lingkungan melalui program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
7. Apa sajakah kriteria yang digunakan sehingga Kelurahan Bligo dinilai layak memperoleh kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
8. Bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
9. Apa manfaat adanya kebijakan program Kota Tanpa kumuh (KOTAKU) khususnya di Kelurahan Bligo?
10. Siapa saja pihak yang menjalankan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
11. Apa peran pemerintahan desa/kelurahan dalam penerapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) untuk menyelesaikan persoalan permukiman kumuh?
12. Adakah pemantauan dari pihak kecamatan dalam penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
13. Bagaimana sistem koordinasi antar pihak terkait pelaksanaan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
14. Adakah monitoring dan evaluasi di tingkat desa/kelurahan terkait penerapan kebijakan program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU)?
15. Bagaimana tindak lanjut dari program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) khususnya di Kelurahan Bligo agar menjadi upaya penataan lingkungan yang berkelanjutan?
16. Bagaimana pengelolaan lingkungan yang diperbaiki melalui program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) setelah program tersebut selesai dilaksanakan?
17. Apakah program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) masuk dalam APBDes di Kelurahan Bligo?
18. Bagaimanakah kesesuaian antara pelaksanaan program dengan RPLP (Rencana Penataan Lingkungan Permukiman) dan RPJM?
19. Bagaimana dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan?
20. Bagaimana tingkat keberhasilan penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan?
21. Bagaimana keterlibatan pemerintah desa/kelurahan pada tahapan monitoring dan evaluasi kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
22. Apa saja yang menghambat proses penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) khususnya di Kelurahan Bligo?
23. Bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
PEDOMAN WAWANCARA
Responden: Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat tingkat Desa/Kelurahan Identitas Diri
Nama :
Alamat :
Profesi :
Usia :
Waktu :
Tempat :
Pertanyaan
1. Apa peran BKM dalam pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)?
2. Apa bentuk perbaikan lingkungan melalui program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo?
3. Bagaimana penyusunan RPLP di Kelurahan Bligo? Siapa saja yang terlibat?
4. Bagaimana mekanisme pertanggungjawaban tim pelaksana tersebut sebagai pelaksana program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan?
5. Bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh
5. Bagaimana tahapan-tahapan pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh