BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Penerapan Kebijakan Program KOTAKU Kelurahan Bligo
Kebijakan menurut Greer and Paul Hoggett (1999) ialah sejumlah tindakan maupun bukan tindakan yang lebih dari sekedar keputusan spesifik (dalam Handoyo, 2012:5). Pernyataan tersebut diperjelas oleh pendapat Carl Friedrich (dalam Handoyo, 2012: 5) yang mengatakan bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang berorientasi pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu yang berkaitan dengan adanya hambatan tertentu seraya mencari peluang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Anderson (dalam Wahab, 2015: 8) merumuskan kebijakan merupakan langkah dan tindakan yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang atau sejumlah aktor yang berkaitan dengan adanya suatu permasalahan atau persoalan tertentu yang dihadapi. Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang atau kelompok pemegang kepentingan untuk mencapai tujuan dan penyelesaian dari masalah tetentu.
Sementara itu, H. Hugh Heglo (dalam Abidin, 2012: 6) menyatakan kebijakan sebagai “a course of action intended to accomplish some end”
yang artinya bahwa kebijakan sebagai suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Lain halnya dengan pengertian kebijakan dari Heglo, Jones (dalam Wahab 2015:8) memaknai kebijakan sebagai suatu “…’behavioral consistency and repetitiveness’
associated with efforts in and through government to resolve public problems” (… ‘perilaku yang tetap dan berulang’ dalam hubungannya dengan usaha yang ada dan melalui pemerintah untuk memecahkan masalah publik). Definisi tersebut menyatakan bahwa suatu kebijakan itu bersifat dinamis. Sementara itu, Hamdi (2014:37) mengatakan bahwa kebijakan adalah pola tindakan yang ditetapkan oleh pemerintah dan terwujud dalam bentuk peraturan perundang-undangan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang hanya boleh dilakukan oleh seseorang, kelompok atau badan yang memiliki wewenang atau pemegang kekuasaan tertentu sebagai upaya penyelesaian masalah publik.
Kebijakan publik dibuat oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam menyelesaikan masalah-masalah publik. Merujuk dari beberapa ahli tersebut, Handoyo (2012:7) memaknai kebijakan publik sebagai sebuah tindakan yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan, untuk memastikan bahwa tujuan yang sudah dirumuskan dan disepakati oleh publik dapat tercapai. Setiap kebijakan publik berkaitan dengan penggunaan kekuasaan tertentu dan berlangsung dalam latar (setting)
kekuasaan tertentu. Hal ini berarti dalam kebijakan publik terdapat pihak yang berkuasa dan pihak yang dikuasai. Kebijakan publik dapat klasifikasikan menjadi tiga tingkatan yaitu kebijakan umum, kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis. Kebijakan umum dimaknai sebagai kebijakan makro, kebijakan pelaksanaan sebagai kebijakan meso dan kebijakan teknis berada pada level mikro (Handoyo, 2012:7).
b. Unsur-unsur Kebijakan
Kebijakan merupakan suatu sistem yang tersusun dari elemen atau sub-sub yang saling berkaitan. Oleh karena itu, suatu kebijakan yang baik harus didukung oleh elemen-elemen penyusun yang baik pula.
Abidin (2012: 25) dalam bukunya yang berjudul “Kebijakan Publik”
mengatakan bahwa dilihat dari segi strukturnya, suatu kebijakan setidaknya memiliki lima unsur sebagai berikut.
1) Tujuan Kebijakan
Tujuan merupakan unsur utama dalam kebijakan (Abidin, 2012:25). Hal ini dikarenakan, suatu kebijakan dibuat karena adanya tujuan yang ingin dicapai. Tanpa adanya tujuan, maka tidak perlu adanya kebijakan. Tujuan kebijakan yang baik sekurang-kurangnya memenuhi empat kriteria yaitu (1) diinginkan untuk dicapai; (2) rasional atau realistis; (3) jelas; (4) berorientasi kedepan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Jones (dalam Abidin, 2012:6) mengatakan bahwa tujuan yaitu sesuatu yang memang dikehendaki untuk dicapai bukan hanya sekedar diinginkan. Dari definisi tersebut, dapat
disimpulkan tujuan yaitu unsur penting dalam suau kebijakan berupa sesuatu yang hendak dicapai.
2) Masalah
Masalah merupakan salah satu unsur penting dalam kebijakan.
Oleh sebab itu, kesalahan dalam merumuskan masalah yang tepat akan berakibat pada kegagalan total dalam seluruh proses kebijakan (dalam Abidin, 2012:27). Sementara itu, Winarno (2014:73) menyatakan bahwa masalah diartikan sebagai suatu kondisi yang menimbulkan adanya ketidakpuasan atau kebutuhan pada sebagian orang yang menginginkan perbaikan maupun pertolongan. Lain halnya dengan Subarsono (2013:24) yang mengatakan bahwa masalah publik dipahami sebagai kondisi belum terpenuhinya kebutuhan, nilai atau kesempatan yang diinginkan publik, dan pemenuhannya hanya memungkinkan melalui suatu kebijakan. Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa masalah merupakan suatu kondisi yang menimbulkan ketidakpuasan atau kesenjangan dalam masyarakat yang membutuhkan upaya penyelesaian melalui kebijakan.
3) Tuntutan (demand)
Adanya tuntutan dalam kebijakan disebabkan oleh dua hal yaitu adanya kepentingan suatu golongan yang terabaikan dalam perumusan kebijakan sehingga dirasa tidak memenuhi atau merugikan kepentingan mereka dan adanya kebutuhan baru yang
muncul setelah suatu tujuan tercapai atau suatu masalah telah terpecahkan (dalam Abidin, 2012:28). Lain halnya dengan Winarno (2014:83) yang menjelaskan bahwa tuntutan dipahami sebagai upaya agar pembuat kebijakan memilih atau merasa terdorong untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tuntutan adalah upaya yang dilakukan agar pembuat kebijakan melakukan suatu tindakan untuk menyelesaikan masalah publik.
4) Dampak (outcome)
Dampak merupakan tujuan lanjutan yang muncul sebagai pengaruh dari tujuan yang dicapai (Abidin, 2012:30). Sementara itu, Jones (dalam Abidin, 2012:6) mengatakan bahwa dampak yaitu sesuatu yang ditimbulkan dari suatu program dalam masyarakat.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dampak adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu program dalam masyarakat karena adanya pengaruh dalam mencapai tujuan kebijakan. Besarnya dampak yang ditimbulkan dari suatu kebijakan sulit untuk diperhitungkan. Hal ini dikarenakan: (1) tidak tersedianya informasi yang cukup; (2) sulit dipisahkan dengan kebijakan yang lain; (3) proses berjalannya pengaruh dari suatu kebijakan dalam bidang sosial sulit untuk diamati.
5) Sarana atau Alat Kebijakan (policy instrument)
Sarana atau alat digunakan umtuk mengimplementasikan suatu kebijakan yang meliputi kekuasaan, insentif, pengembangan kemampuan, simbolis dan perubahan dari kebijakan yang terkait.
Berbeda dengan Abidin, James Anderson (dalam Abidin, 2012:23) mengatakan bahwa kebijakan publik selalu memiliki ciri khusus dari berbagai kegiatan pemerintah yang lain. Oleh karena itu, menurut Anderson suatu kebijakan publik setidaknya terdiri dari beberapa unsur berikut.
a) Public policy is purposive, goal-oriented behavior rather than random or chance behavior. Setiap kebijakan harus memiliki tujuan yang artinya bahwa pembuatan suatu kebijakan tidak boleh hanya berdasarkan asal buat atau secara kebetulan ada kesempatan. Tanpa ada tujuan yang ingin dicapai, maka tidak perlu ada kebijakan.
b) Public policy consists of courses of action-rather than separate, discrete decision, or actions-performed by government official.
Suatu kebijakan tidak dapat berdiri sendiri dan terpisah dari kebijakan yang lain. Suatu kebijakan selalu berkaitan dengan berbagai kebijakan lain dalam masyarakat, dan berorientasi pada implementasi, interpretasi, dan penegakan hukum.
c) Policy is what government do-not what they say will do or what they intend to do. Kebijakan ialah apa yang dilakukan pemerintah, bukan apa yang ingin atau dikehendaki untuk dilakukan oleh pemerintah.
d) Public policy may either negative or positive. Kebijakan dapat berbentuk negatif atau larangan, dan juga dapat berbentuk positif atau anjuran untuk melakukan sesuatu.
e) Public policy is based on law and is authoritative. Suatu kebijakan harus berdasarkan hukum sehingga memiliki kewenangan untuk memaksa masyarakat mematuhinya.
Selain para ahli diatas, Jones (dalam Abidin, 2012: 6) menjabarkan unsur-unsur kebijakan berkaitan dengan beberapa isi dari kebijakan itu sendiri meliputi:
(a) tujuan yaitu sesuatu yang sudah dikehendaki untuk dicapai bukan hanya sekedar diinginkan;
(b) rencana atau proposal yaitu alat atau cara tertentu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan;
(c) program atau cara tertentu yang telah mendapat persetujuan dan pengesahan untuk mencapai tujuan yang dimaksud;
(d) keputusan yaitu tindakan yang diambil untuk menentukan tujuan, membuat dan menyesuaikan rencana serta melaksanakan dan mengevaluasi suatu program;
(e) dampak yakni sesuatu yang ditimbulkan dari suatu program dalam masyarakat.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, unsur-unsur kebijakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah unsur-unsur kebijakan menurut Said Zainal Abidin. Adapun unsur-unsur kebijakan menurut Abidin (2012:25) yaitu (1) tujuan kebijakan; (2) masalah; (3) tuntutan; (4) dampak; (5) sarana atau alat kebijakan. kelima unsur tersebut akan digunakan untuk menganalisis penerapan kebijakan program kota tanpa kumuh sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan kawasan permukiman kumuh.
c. Penerapan Kebijakan
Implementasi dari segi bahasa dimaknai sebagai penerapan, pelaksanaan atau pemenuhan. Penerapan atau implementasi merupakan salah satu tahapan dalam kebijakan. Konsep penerapan
(implementation) menurut Van Meter dan Van Horn (dalam Wahab, 2015:164) adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu/pejabat maupun kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan kebijakan.
Penerapan kebijakan berarti suatu tindakan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok pemerintah atau swasta yang memiliki otoritas untuk menjalankan suatu kebijakan guna mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Definisi tersebut sejalan dengan yang dikemukakan Handoyo (2012: 96) yang mengemukakan bahwa implementasi kebijakan adalah kegiatan untuk menjalankan kebijakan, yang ditujukan kepada kelompok sasaran, untuk mewujudkan tujuan kebijakan. Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat peneliti simpulkan bahwa penerapan kebijakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok pemegang kepentingan untuk menjalankan suatu kebijakan agar mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam kebijakan tersebut.
Penerapan atau Implementasi merupakan tahapan dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. Hal ini didukung oleh Handoyo (2012:116) yang menyatakan bahwa Implementasi kebijakan merupakan tahapan dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang atau apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan oleh pihak pemberi otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit), atau jenis keluaran yang nyata (tangible output).
Implementasikan kebijakan publik dapat dilakukan dengan dua langkah yaitu (1) langsung mengimplementasikan dalam bentuk program, (2) melalui formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut (Handoyo, 2012:101). Ramdhani (2017:6) menyatakan bahwa keberhasilan penerapan suatu kebijakan dapat diukur dan dievaluasi berdasarkan enam dimensi yaitu (1) konsistensi, (2) transparansi, (3) akuntabilitas, (4) keadilan, (5) efektivitas, (6) efisiensi. Semakin kompleks permasalahan dalam kebijakan, maka membutuhkan analisis yang semakin mendalam serta memerlukan teori atau model yang relatif operasional sehingga mampu menjelaskan hubungan antarvariabel yang menjadi fokus dalam analisis kebijakan. Adapun model-model implementasi kebijakan menurut para ahli yaitu sebagai berikut.
1) Model Van Metter dan Van Horn
Model implementasi kebijakan yang relatif operasional adalah model yang kembangkan oleh Van Metter dan Van Horn (dalam Wahab, 2015:164) yang disebut dengan “a model of the policy implementation process” (model proses implementasi kebijakan).
Model ini menjelaskan bahwa konsep penting dalam proses penerapan kebijakan meliputi: (a) perubahan; (b) kontrol; dan (c) kepatuhan bertindak. Adapun hubungan antara kebijakan dan prestasi kerja yang akan mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan dapat ditinjau dari beberapa variabel, meliputi: (a) ukuran dan tujuan kebijakan; (b) sumber-sumber kebijakan; (c) ciri-ciri atau
sifat instansi pelaksana; (d) komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan; (e) sikap para pelaksana kebijakan;
dan (f) lingkungan ekonomi, sosial dan politik. Setiap variabel berkaitan dengan tujuan dan sumber-sumber kebijakan yang tersedia.
Pada akhirnya, titik pusat perhatian pada sikap pelaksana kebijakan akan menggambarkan orientasi mereka dalam mengoperasionalkan program kebijakan di lapangan.
Bagan 2.1 Model Proses Implementasi Kebijakan (Wahab, 2015: 166)
2) Model Daniel Mazmanian dan Paul. A. Sabatier
Model ini disebut A Frame Work for Implementatuon Analysis (kerangka analisis implementasi). Model ini mengartikan implementasi atau penerapan kebijakan sebagai upaya untuk mengindentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal dari seluruh proses impelementasi (dalam
Komunikasi
Wahab, 2015:176). Keberhasilan implementasi kebijakan menurut model ini dipengaruhi oleh tiga variabel yaitu sebagai berikut.
a) Karakteristik Masalah (tractability of the problems)
Karakteristik masalah berarti mudah atau tidaknya suatu masalah dikendalikan. Karakteristik masalah dalam implementasi kebijakan dapat dilihat dari beberapa indikator, meliputi: (a) tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan, (b) tingkat kemajemukan kelompok sasaran kebijakan, (c) proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi, (d) cakupan perubahan perilaku yang diharapkan.
b) Karakteristik Kebijakan/Undang-Undang (ability of statute to structure implementation)
Karakteristik kebijakan dapat dimaknai sebagai kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasi. Karakteristik kebijakan terdiri dari beberapa hal yaitu: (a) kejelasan isi kebijakan, (b) dukungan teoritis yang dimiliki kebijakan, (c) alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan, (d) keterkaitan dan dukungan antarinstitusi pelaksana, (e) konsistensi aturan pada badan pelaksana, (f) komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan, (g) tingkat partisipasi kelompok luar dalam implementasi kebijakan.
c) Variabel Lingkungan (nonstatutory variables affecting implementation)
Variabel lingkungan kebijakan berkenaan dengan berbagai variabel politik yang dapat mempengaruhi keseimbangan dukungan untuk mencapai tujuan dari kebijakan. Lingkungan kebijakan meliputi beberapa hal penting diantaranya: (a) kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi, (b) dukungan publik terhadap suatu kebijakan, (c) sikap dari kelompok pemilih/constituency groups, (d) tingkat komitmen dan keterampilan dari implementator. Adapun variabel-variabel dalam proses implementasi kebijakan yaitu sebagai berikut.
1) Mudah/tidaknya masalah dikendalikan
Mudah tidaknya masalah dikendalikan dalam suatu kebijakan ditentukan oleh beberapa hal seperti (a) kesulitan teknis, (b) keragaman perilaku kelompok sasaran, (c) prosentase kelompok sasaran dibanding jumlah populasi, (d) ruang lingkup perubahan perilaku yang diinginkan
2) Kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi
Kemampuan kebijakan dalam menstrukturkan proses implementasi dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu (a) kejelasan dan konsistensi tujuan, (b) digunakannya teori kausal yang memadai, (c) ketepatan alokasi sumberdaya, (d)
keterpaduan hierarki dalam dan diantara lembaga pelaksana, (e) aturan keputusan dari badan pelaksana, (f) rekruitmen pejabat pelaksana, (g) akses formal pihak luar.
3) Variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi proses implementasi
Variabel diluar kebijakan yang dapat mempengaruhi proses implementasi antara lain (a) kondisi sosio-ekonomi dan teknologi, (b) dukungan publik, (c) sikap dan sumber yang dimiliki kelompok pemilih, (d) dukungan dari pejabat atasan, (e) komitmen dan keterampilan kepemimpinan pejabat pelaksana.
4) Tahap-tahap proses implementasi (variabel tergantung) Tahap-tahap implementasi kebijakan dalam model ini meliputi: (a) output kebijakan, (b) kesediaan sasaran untuk mematuhi output kebijakan, (c) dampak nyata, (d) dampak output kebijakan, (e) perbaikan dalam UU.
Bagan 2.2 Model Implementasi Kebijakan Menurut Mazmanian dan Sabatier (Subarsoo, 2013:95)
3) Model G Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli
Model implementasi kebijakan menurut Cheema dan Rondinelli dapat digunakan untuk implementasi program-program pemerintah yang bersifat desentralisasi (dalam Subarsono, 2013:101). Menurut model ini, kinerja dan dampak suatu program dipengaruhi oleh empat variabel pokok yaitu sebagai berikut.
(a) Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi penerapan kebijakan antara lain: tipe sistem politik yang dianut, struktur pembentukan kebijakan, karakteristik struktur politik lokal, kendala sumberdaya, sosio kultural, tingkat keterlibatan penerima program, adanya infrastruktur fisik yang cukup.
Mudah-tidaknya masalah dikendalikan
Variabel diluar kebijakan yang mempengaruhi proses
implementasi
Tahap-tahap dalam Proses Implementasi (Variabel Tergantung)
Kepatuhan
(b) Hubungan antar organisasi
Hubungan antar organisasi pembuat kebijakan dapat dilihat dari beberapa hal seperti konsistensi sasaran program, pembagian fungsi antarinstansi yang pantas, standardisasi prosedur setiap tahap (perencanaan, anggaran, implementasi, evaluasi), konsistensi komunikasi antar instansi, efektivitas jejaring pendukung program.
(c) Sumberdaya organisasi untuk implementasi program,
Sumberdaya yang mempengaruhi implementasi program meliputi: kontrol terhadap sumber dana, keseimbangan antara anggaran dan program, ketepatan alokasi anggaran, pendapatan yang cukup, dukungan pemimpin politik pusat, dukungan pemimpin politik lokal, dan komitmen birokrasi.
(d) Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana
Karakteristik instansi kebijakan meliputi: ketrampilan teknis dan manajerial, kemapuan mengontol dan mengkoordinasi, dukungan dan sumberdaya politik instansi, sifat komunikasi internal, hubungan baik antara instansi dan sasaran program, kualitas pemimpin instansi, komitmen terhadap program, kedudukan instansi dalam hierarki sistem administrasi.
Dari beberapa model implementasi kebijakan menurut para ahli tersebut, adapun model yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh
(KOTAKU) di Kelurahan Bligo yaitu model implementasi kebijakan Van Metter dan Van Horn.
d. Tahapan Implementasi Kebijakan
Menurut Abidin (2012:73) terdapat 6 tahapan implementasi kebijakan agar tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai guna menyelesaikan permasalahan publik. Adapun 6 tahapan tersebut, meliputi:
1) Identifikasi dan Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan tahap untuk menemukan akar permasalahan yang akan diangkat menjadi isu masalah publik sehingga membutuhkan penyelesaian melalui suatu kebijakan.
Perumusan masalah dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu pengamatan, pengelompokkan, dan pengkhususan masalah (Abidin, 2012:88).
2) Agenda Kebijakan dan Partisipasi Masyarakat
Agenda kebijakan yaitu daftar permasalahan atau isu yang mendapat perhatian khusus yang disebabkan adanya beberapa alasan untuk ditindaklanjuti atau diproses oleh pihak yang berwenang menjadi suau kebijakan (Abidin, 2012:95). Proses penyusunan agenda dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu: (1) perkembangan sistem pemerintahan yang demokratis, (2) sikap pemerintah dalam proses penyusunan agenda, (3) realisasi otonomi daerah, dan (4) tingkat partisipasi masyarakat.
3) Proses Perumusan Kebijakan
Proses perumusan kebijakan adalah tahapan yang menjadi salah satu penentu keberhasilan suatu kebijakan (Abidin, 2012:126).
Proses perumusan kebijakan yang demokratis dan partisipatif akan membuat kebijakan menjadi aturan yang diterima oleh masyarakat.
Proses perumusan kebijakan dipengaruhi oleh 2 faktor penting yaitu mutu kebijakan dilihat dari substansi dan adanya dukungan terhadap strategi kebijakan yang dirumuskan.
4) Analisis dan Perumusan Rekomendasi Kebijakan
Rekomendasi kebijakan adalah saran yang disampaikan kepada pihak yang berwenang dalam mengambil kebijakan untuk melakukan suatu tindakan agar mencapai tujuan yang dikehendaki (Abidin, 2012:129). Dalam menganalisis dan merumuskan rekomendasi kebijakan, ada beberapa nilai yang diperhitungkan yaitu efisiensi, efektivitas, kepatutan dan adil yang berkenaan dengan input, output dan outcomes atau dampak.
5) Pelaksanaan Kebijakan
Pelaksanaan (implementasi) kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kebijakan (Abidin, 2012:145).
Implementasi menjadi penentu agar suatu kebijakan dapat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat.
6) Evaluasi Kinerja Kebijakan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses kebijakan.
Evaluasi kinerja kebijakan secara lengkap meliputi tiga hal yaitu (1) evaluasi awal saat proses perumusan kebijakan sampai sebelum diimplementasikan; (2) evaluasi dalam proses implementasi; dan (3) evaluasi akhir setelah selesai proses implementasi kebijakan (Abidin, 2012: 165).
Berbeda dengan Abidin, Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn (dalam Wahab, 2015:167) mengemukakan bahwa implementasi suatu kebijakan publik setidaknya meliputi tiga tahapan utama yaitu sebagai berikut.
1) Tahap Persiapan Kebijakan
Tahap persiapan ini secara umum meliputi proses penggambaran rencana program dan penetapan tujuan, proses penentuan standar pelaksanaan kebijakan, dan proses menentukan anggaran yang akan digunakan serta waktu pelaksanaan.
2) Tahap Pelaksanaan Kebijakan
Tahap ini berisi pelaksanaan suatu program dengan melibatkan dan memanfaatkan struktur staf instansi pemerintah terkait, sumber daya, prosedur pelaksanaan, anggaran yang telah ditetapkan dan metode yang digunakan untuk menjalankan program.
3) Tahap Evaluasi Kebijakan
Tahap evaluasi meliputi tahapan ketiga dalam implementasi keijakan yang meliputi kegiatan (a) menentukan jadwal; (b) melaksanakan pemantauan; dan (c) melakukan pengawasan guna menjamin kelancaran program sekaligus mengambil tindakan yang sesuai apabila terapat penyimpangan atau pelanggaran dalam pelaksanaan program.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, adapun tahapan implementasi kebijakan yang digunakan untuk menganalisis kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dalam penelitian ini yaitu tahapan implementasi kebijakan menurut Brian Hogwood dan Lewis A. Gunn yaitu (1) tahap persiapan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap evaluasi.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan
Keberhasilan suatu kebijakan tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahap evaluasi kebijakan. Edward III dalam Winarno (2012:177) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi suatu kebijakan yaitu sebagai berikut.
1. Komunikasi
Komunikasi yaitu alat atau sarana dalam suatu kebijakan yang digunakan untuk menyampaikan perintah dan arahan dari sumber pembuat kebijakan kepada pelaksana kebijakan. Komunikasi
menurut Edward III (dalam Handoyo 2012:113) berkaitan dengan bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan kepada publik, ketersediaan sumber daya, sikap dan respon pihak yang terlibat dan struktur organisasi pelaksana kebijakan.
2. Sumber Daya
Sumber daya menjadi faktor penting dalam implementasi suatu kebijakan atau program tertentu. Unsur penting sumber daya dalam hal ini yaitu kecakapan pelaksana kebijakan untuk mengimplementasikan kebijakan secara efektif dan efisien (Handoyo, 2012: 113). Sumber daya dalam kebijakan meliputi pelaksana kebijakan dan fasilitas pendukung lainnya.
3. Disposisi
Disposisi diartikan sebagai sikap para pelaksana yang dilihat dari kemauan dan niat untuk melaksanakan suatu kebijakan serta menjadi motivasi psikologi bagi pelaksana dalam melaksanakan kebijakan. Disposisi menurut Edward III (dalam Handoyo 2012:113) diartikan sebagai kesediaan dan komitmen para implementator dalam mengimplementasikan suatu kebijakan secara efektif.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan berkenaan dengan kesesuaian organisasi birokrasi sebagai pelaksana kebijakan publik. Hal penting dalam struktur birokrasi yaitu bagaimana suatu
kebijakan dalam penerapannya tidak terjadi pecahnya birokrasi karena hal tersebut akan menghambat pelaksanaan suatu kebijakan publik (Handoyo, 2013:113).
Berbeda dengan Edward III, Van Metter Van Horn (dalam Winarno 2012:158), mengemukakan enam faktor yang mempengaruhi implementasi suatu kebijakan atau program yaitu (1) ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan, (2) sumber-sumber, (3) komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaa, (4) karakteristik-karakteristik badan-badan pelaksana, (5) kondisi ekonomi, sosial, dan politik, dan (6) kecenderungan para pelaksana.
Dari beberapa ahli tersebut, adapun faktor-faktor yang digunakan untuk menganalisis kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yaitu faktor-faktor menurut Edward III yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.
2. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) a. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) adalah salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia (www.kotaku.pu.go.id). Program KOTAKU dalam Surat Edaran No 40 Tahun 2016 Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR adalah program
nasional yang memiliki tujuan dan target secara jelas, membutuhkan sumber pembiayaan yang tidak hanya memadai dari segi jumlah tetapi juga terintegrasi dan saling melengkapi serta tepat waktu. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) mendukung “Gerakan 100-0-100” yaitu gerakan 100% akses universal air minum, 0% permukiman kumuh dan 100% akses sanitasi yang layak. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dijalankan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2
nasional yang memiliki tujuan dan target secara jelas, membutuhkan sumber pembiayaan yang tidak hanya memadai dari segi jumlah tetapi juga terintegrasi dan saling melengkapi serta tepat waktu. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) mendukung “Gerakan 100-0-100” yaitu gerakan 100% akses universal air minum, 0% permukiman kumuh dan 100% akses sanitasi yang layak. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dijalankan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2