• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Objek Penelitian

a. Kelurahan Bligo Kabupaten Pekalongan

Bligo merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Bligo pada awalnya merupakan sebuah desa yang statusnya berubah menjadi kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan No 5 Tahun 2009 tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan.

Kelurahan Bligo memiliki luas wilayah 0,65 km2 yang terbagi menjadi 17 RT dan 5 RW. Wilayah Kelurahan Bligo merupakan dataran rendah dengan ketinggian 10 meter diatas permukaan laut dengan curah hujan 2,5 mm/th.

Kelurahan Bligo memiliki jarak 0,5 km dari ibu kota kecamatan dan 18 km dari ibu kota kabupaten serta 105 km dari ibu kota provinsi. Kelurahan Bligo memiliki batas-batas daerah administratif sebagai berikut.

Sebelah utara : Desa Wonoyoso dan Sapugarut Kecamatan Buaran Sebelah barat : Kelurahan Sapugarut Kecamatan Buaran

Sebelah Selatan : Kelurahan Pekajangan Kecamatan Kedungwuni Sebelah timur : Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran

Secara umum, tipologi Kelurahan Bligo terbagi menjadi area persawahan, peternakan dan industri. Kelurahan Bligo memiliki wilayah yang padat penduduk di sisi bagian barat dan juga memiliki hamparan

sawah yang terbentang luas di sisi bagian timur. Luas wilayah permukiman Kelurahan Bligo mencapai 27,5 Ha/m2 dengan jumlah penduduk mencapai 4.192 jiwa sedangkan luas area persawahan mencapai 26,1 Ha/m2. Adanya ketidakseimbangan dalam persebaran kawasan permukiman menyebabkan Kelurahan Bligo memiliki tingkat kerapatan bangunan yang cukup tinggi.

Adapun yang menjadi visi dari Kelurahan Bligo yaitu: “Terwujudnya Kelurahan Bligo yang aman, nyaman, makmur dan asri”. Visi tersebut diwujudkan melalui beberapa misi Kelurahan Bligo yaitu sebagai berikut.

1) Mewujudkan tata kelola pemerintahan kelurahan yang baik dan stabil.

2) Menjalin kerja sama dengan kepolisian melalui Babinkamtibmas guna mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang aman, tertib dan kondusif.

3) Meningkatkan pembangunan baik fisik maupun non fisik di Kelurahan Bligo.

4) Memberikan ruang dan akses bagi peningkatan kegiatan ekonomi warga masyarakat.

5) Menggalakkan kegiatan bersih-bersih lingkungan.

Gambar 4.1 Peta Kelurahan Bligo (sumber: Pemerintah Kelurahan Bligo)

Secara umum Kelurahan Bligo memiliki posisi yang strategis baik dari sisi perekonomian maupun pemerintahan. Hal ini dikarenakan letaknya yang relatif dekat dengan pusat pemerintahan kecamatan, pusat pendidikan dan pusat perdagangan. Hal tersebut menunjang tumbuhnya industri dari skala kecil hingga besar. Kelurahan Bligo terletak di Kecamatan Buaran yang menjadi kecamatan terkecil sekaligus terpadat di wilayah Kabupaten Pekalongan yakni mencapai 5.145 jiwa/km2 pada tahun2013.

Kelurahan Bligo memiliki banyak industri produksi, beberapa diantaranya menjadi penopang perekonomian masyarakat yaitu industri batik dan industri kain kasa. Kelurahan Bligo menjadi salah satu penghasil kain kasa terbesar di Kabupaten Pekalongan dan hasil produksinya mampu bersaing di kancah nasional. Produksi kain kasa berasal dari industri kecil rumahan sampai industri pabrik. Hal ini menyebabkan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai buruh pabrik dan wiraswasta home industri.

Selain itu, tingginya penduduk dengan usia produktif di Kelurahan Bligo yang mencapai 2.998 jiwa mendukung pertumbuhan industri khususnya di bidang produksi batik dan kain kasa. Kedua industri tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Kelurahan Bligo.

Gambar 4.2 Industri Batik Rumahan (Sumber: dokumentasi peneliti)

Gambar 4.3 Industri Kain Kasa (Sumber:dokumentasi peneliti) b. Daerah Kumuh di Kelurahan Bligo

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Pekalongan No 663/408 Tahun 2014 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh, wilayah Kabupaten Pekalongan memiliki daerah kumuh seluas 671, 844 ha. Daerah kumuh tersebut tersebar dalam 34 desa/kelurahan di 7 kecamatan. Setiap kecamatan memiliki faktor penyebab masing-masing seperti dampak rob untuk daerah pesisir yaitu Kecamatan Tirto, Kecamatan Wiradesa dan Kecamatan Wonokerto. Faktor penyebab lainnya yaitu tingginya kepadatan penduduk dan kerapatan bangunan yang tidak memenuhi standar kelayakan di daerah perkotaan dan pusat perekonomian

seperti Kecamatan Buaran, kecamatan Kedungwuni, Kecamatan Bojong, dan Kecamatan Wonopringgo. Sebanyak 4 dari 7 kecamatan di Kabupaten Pekalongan memiliki daerah kumuh yang disebabkan oleh tingginya kepadatan penduduk dan kerapatan bangunan sehingga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan dan permukiman.

Kelurahan Bligo merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Buaran yang termasuk dalam kategori kawasan kumuh. Adapun luas kawasan kumuh di Kelurahan Bligo mencapai 21, 844 ha atau sekitar 33,6% dari seluruh wilayah kelurahan. Permasalahan kawasan kumuh di Kelurahan Bligo mayoritas berkenaan dengan teknis bangunan dan sarana prasarana umum yang kurang memadai serta kondisi lingkungan setempat yang memicu timbulnya daerah kumuh. Hal ini disebabkan karena adanya ketidakseimbangan antara luas daerah permukiman dengan jumlah penduduk sehingga menimbulkan adanya permukiman padat dan adanya limbah yang dihasilkan dari industri batik dan kain kasa. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan permukiman menjadi salah satu penyumbang timbulnya daerah kumuh di Kelurahan Bligo. Daerah kumuh yang terdapat di Kelurahan Bligo tersebar di beberapa titik yang mencakup 13 RT dari 17 RT secara keseluruhan dengan total deliniasi kawasan kumuh sebesar 21,844 Ha. Adapun 13 RT yang termasuk daerah kumuh Kelurahan Bligo yaitu sebagai berikut.

Tabel 4.1 Daftar kegiatan pengentasan daerah kumuh Kelurahan Bligo tahun 2017-2021

RW RT Kegiatan Pengentasan Kumuh

1 1

2 3

Saluran drainase dan jalan paving Saluran drainase

Jalan paving

2 4

5 6

Saluran drainase dan jalan paving Saluran drainase

TPS(3R) dan Sumur bor (PAMSIMAS) Saluran drainase

Saluran drainase Saluran drainase

(Sumber: RPLP Kelurahan Bligo tahun 2017-2021)

Kondisi kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Bligo termasuk dalam kawasan strategis kabupaten karena lokasinya yang dekat dengan akses perdagangan dan jasa. Hal ini membuat kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Bligo memiliki beberapa karakteristik yang ditinjau dari kondisi lingkungan kelurahan yaitu sebagai berikut.

1) Kondisi Jalan

Kondisi jalan di Kelurahan Bligo sebagian sudah menggunakan aspal dan paving. Berdasarkan lokasi deliniasi di Kelurahan Bligo, terdapat kondisi kualitas jalan lingkungan yang masih buruk pada tahun 2017 seluas 1100 meter. Kondisi tersebut disebabkan beberapa masalah seperti masih terdapat jalan tanah, kondisi permukaan jalan yang rusak

serta masih ditemukannya kondisi jalan yang tidak di lengkapi dengan saluran drainase dan kurangnya penerangan jalan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan pemerintah.

Kondisi jalan yang kurang berfungsi secara optimal dapat menjadi indikator infrastruktur kelurahan yang kurang baik. Baik buruknya kondisi jalan akan mempengaruhi mobilitas masyarakat setempat.

Ketika kondisi jalan tidak layak, maka aktivitas masyarakat akan terhambat. Oleh karena itu perlu adanya inovasi program untuk memperbaiki akses jalan di Kelurahan Bligo agar lebih tertata dan berfungsi sebagaimana mestinya.

2) Air Bersih

Kebutuhan air bersih masyarakat Kelurahan Bligo menggunakan sumur galian, PDAM dan tendon air. Adapun permasalahan air bersih di Kelurahan Bligo yaitu kualitas air yang minim saat musim kemarau dan sumur galian yang tercemar karena letaknya yang berdekatan dengan limbah. Kondisi air sumur yang sudah tercemar jika terus digunakan tentunya akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan dapat menyebabkan penyakit. Pada tahun 2017 setidaknya terdapat 86 kepala keluarga dengan kebutuhan air bersih yang belum terpenuhi.

Air bersih merupakan kebutuhan pokok masyarakat untuk bisa hidup sehat. Permasalahan air bersih memiliki urgensi yang tinggi untuk diselesaikan, terutama bagi daerah-daerah industri seperti Kelurahan Bligo. Hal ini karena permasalahan air bersih berkaitan erat dengan

kesehatan masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya upaya strategis dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut sehingga kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kelurahan Bligo dapat terpenuhi. Hal tersebut bertujuan untuk mendukung pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat sesuai dengan visi dan misi Kelurahan Bligo.

3) Kondisi Saluran Drainase

Kondisi saluran drainase di Kelurahan Bligo memiliki kualitas yang minimum memadai. Berdasarkan sumber data baseline 100-0-100 tahun 2017, sebanyak 34% saluran drainase di Kelurahan Bligo memiliki ukuran yang tidak sesuai dengan volume yang dibutuhkan sehingga tidak mampu menampung limpasan air hujan yang mengakibatkan terjadinya banjir lingkungan. Sebagian besar permasalahan saluran air atau drainase di Kelurahan Bligo antara lain saluran air yang macet dan tidak berfungsi, tidak terhubung ke saluran yang lebih besar sehingga air limbah rumah tangga tidak bisa mengalir. Selain itu, masih adanya drainase dengan kualitas buruk dan tidak terpelihara dengan panjang sekitar 5.680 meter.

Kondisi tersebut akan menjadi masalah besar bagi masyarakat Kelurahan Bligo ketika musim hujan. Saluran air atau drainase yang tidak mampu menampung air hujan dan tidak berfungsi akan mengakibatkan terjadinya banjir lingkungan. Selama beberapa tahun terakhir, banjir lingkungan yang terjadi di Kelurahan Bligo menyebabkan sebagian rumah dan akses jalan utama terendam air hujan. Selain itu, banjir lingkungan juga mengakibatkan kerugian dari segi ekonomi

terutama bagi home industri kain kasa karena produk yang sudah siap dipasarkan terendam banjir.

4) Kondisi Persampahan

Sebagian besar masyarakat Kelurahan Bligo masih membuang sampah di lubang atau lahan kosong dekat rumah kemudian dibakar.

Kebiasaan masyarakat ini dilakukan karena belum adanya layanan pengangkutan sampah rumah tangga ke TPS atau TPA. Jumlah sampah domestik rumah tangga yang dapat terangkut ke TPS hanya sekitar 63,4%

dari seluruh sampah yang dihasilkan. Hal ini berarti masih ada 36,6%

sampah yang belum dapat terangkut dan dibuang begitu saja. Selain itu, Kelurahan Bligo belum mampu untuk memilah dan mengolah sampah yang dihasilkan sehingga sampah yang berhasil terangkut ke TPS pun hanya ditumpuk dan menunggu untuk diangkut ke TPA. Hal ini mengakibatkan adanya tumpukan sampah yang mencemari lingkungan dan mengganggu pengguna jalan karena letaknya di tepi jalan utama Kelurahan Bligo.

Gambar 4.4 Beberapa titik daerah kumuh Kelurahan Bligo (sumber:

dokumentasi peneliti)

Masih adanya beberapa titik daerah kumuh inilah yang menjadikan perlunya upaya strategis dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan kumuh khususnya di Kelurahan Bligo. Sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Pekalongan dalam mengentaskan masalah kumuh, Kelurahan Bligo menjadi salah satu sasaran dalam program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kabupaten Pekalongan. Adapun titik daerah kumuh di Kelurahan Bligo yang dinilai layak untuk memperoleh kegiatan pengentasan kumuh didasarkan pada hasil survei yang dilaksanakan oleh BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) dan fasilitator kelurahan sebagai pendamping program KOTAKU.

c. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) berdasarkan Peraturan Bupati No 7 Tahun 2017 tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural Pada Dinas

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup adalah dinas yang menangani masalah permukiman rakyat dan lingkungan hidup yang bertanggungjawab kepada Bupati Pekalongan. Adapun susunan organisasi Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan terdiri dari:

1) Kepala Dinas, 2) Sekretariat,

3) Bidang Pencegahan dan Pengawasan Lingkungan,

4) Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, 5) Bidang Kebersihan Pertamanan dan Penerangan Jalan,

6) Bidang Bina Teknik, 7) Bidang Cipta Karya, 8) UPT,

9) Kelompok jabatan fungsional.

Penelitian ini mengambil data dari Bidang Cipta Karya yang menangani masalah penciptakaryaan, pembangunan gedung dan perumahan serta penataan dan penyehatan kawasan permukiman. Adapun seksi yang relevan dengan penelitian ini yaitu Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman. Seksi penyehatan lingkungan permukiman dipimpin oleh seorang kepala seksi yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada kepala bidang.

1. Kepala Bidang Cipta Karya

Kepala bidang cipta karya dibawah Dinas Perkim LH memiliki tugas untuk melaksanakan administrasi teknis terkait dengan

penciptakaryaan, pembangunan gedung dan perumahan serta penataan dan penyehatan lingkungan permukiman. Adapun uraian tugas kepala bidang cipta karya yaitu sebagai berikut.

a) Merencanakan operasional program, rencana kerja dan kegiatan Bidang Cipta Karya sebagai pedoman agar pelaksanaan program kerja sesuai dengan perencanaan.

b) Mempelajari dan menelaah peraturan perundang-undangan, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis Bidang Cipta Karya sebagai pedoman pelaksanaan tugas.

c) Memberi petunjuk, arahan, dan membagi tugas kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas sesuai peraturan perundang-undangan agar setiap tugas dapat diselesaikan dengan tepat, efektif dan efisien.

d) Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas bawahan berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

e) Menyelenggarakan konsultasi dan koordinasi baik vertikal maupun horizontal untuk sinkronisasi dan kelancaran pelaksanaan tugas.

f) Merumuskan bahan kebijakan teknis Bidang Cipta Karya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis sebagai bahan kajian pimpinan.

g) Mengarahkan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan Bidang Cipta Karya yang sesuai dengan data masuk dan pemantauan lapangan untuk mengetahui perkembangan serta permasalahan yang mungkin terjadi.

h) Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan pembangunan gedung, perumahan, permukiman serta sarana dan prasarana lingkungan permukiman sesuai peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis untuk meningkatkan mutu kegiatan.

i) Menyelenggarakan pengawasan teknis pembangunan gedung dan perumahan, serta penataan dan penyehatan lingkungan permukiman sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis guna peningkatan mutu kegiatan.

j) Melaksanakan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Bidang Cipta Karya dengan cara mengukur capaian program kerja yang telah disusun sebagai bahan laporan dan kebijakan lebih lanjut.

k) Mengevaluasi dan menilai prestasi kerja bawahan berdasarkan sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja sesuai peraturan perundang-undangan dalam rangka peningkatan karier, pemberian penghargaan dan sanksi.

l) Melaporkan pelaksanaan program dan kegiatan Bidang Cipta Karya secara lisan dan tertulis kepada Kepala Dinas melalui sekretaris sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan tugas.

m) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan, baik lisan maupun tertulis sesuai dengan tugas dan fungsinya.

2. Seksi Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman

Seksi Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman di pimpin oleh seorang kepala seksi yang berkedudukan dibawah dan

bertanggungjawab kepada kepala bidang. Kepala seksi bidang penyehatan lingkungan permukiman memiliki tugas untuk melaksanakan pembinaan, pengembangan dan pengawasan pembangunan sarana dan prasarana lingkungan permukiman seperti jalan lingkungan, sanitasi, saluran drainase dan ketersediaan air bersih.

Adapun yang menjadi uraian tugas dari Kepala Seksi penyehatan lingkungan permukiman yaitu sebagai berikut.

1) Merencanakan serta mengkonsep program, rencana kerja dan rencana kegiatan Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman sesuai dengan program kerja tahun sebelumnya sebagai pedoman kerja agar pelaksanaan program kerja sesuai dengan rencana.

2) Mempelajari dan menelaah peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman dan bidang tugasnya.

3) Memberikan tugas, petunjuk, dan membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugas berdasarkan kompetensi dan jabatannya untuk pemerataan dan kelancaran pelaksanaan tugas secara benar.

4) Meneliti/memeriksa dan menyelia pelaksanaan tugas bawahan berdasarkan arahan sebelumnya sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal.

5) Melaksanakan konsultasi dan koordinasi secara vertikal dan horizontal untuk sinkronisasi dan kelancaran pelaksanaan tugas.

6) Menyusun bahan kebijakan teknis Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman berdasarkan peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis sebagai bahan kajian pimpinan.

7) Melaksanakan inventarisasi sarana dan prasarana lingkungan permukiman dan penyehatan kawasan kumuh dengan mempelajari dan mengolah data, koordinasi baik vertikal maupun horizontal agar perencanaan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

8) Mengelola data hasil inventarisasi sarana prasarana lingkungan permukiman dan penyehatan kawasan kumuh melalui koordinasi dan survei lapangan agar data tersusun dengan baik dan informatif.

9) Menyusun laporan hasil prasurvei program kegiatan dengan melakukan monitoring dan mengolah data agar program kegiatan yang diusulkan sesuai dengan prioritas penanganan masalah.

10) Menyusun konsep petunjuk teknis pengembangan konstruksi sarana prasarana lingkungan permukiman sesuai peraturan perundang-undangan sebagai pedoman bagi pelaksana kegiatan dalam pengembangan konstruksi sarana prasarana lingkungan permukiman.

11) Melaksanakan konsultasi teknis mengenai pengembangan konstruksi sarana prasarana lingkungan permukiman melalui evaluasi dan koordinasi teknis secara rutin dengan pelaksana kegiatan agar pelaksanaan fisik tidak menyimpang dan sesuai dengan spesifikasi teknis yang sudah ditentukan.

12) Menyusun konsep petunjuk dan rencana pelaksanaan kegiatan dengan mempelajari dan menjabarkan petunjuk kegiatan, rambu-rambu pelaksanaan kegiatan serta sanksi yang dikenakan apabila terjadi penyimpangan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan di lapangan.

13) Menyusun rencana usulan pembangunan di bidang fisik sarana prasarana penyehatan lingkungan melalui koordinasi, merekap data usulan dari desa/kelurahan, perangkat daerah dan kecamatan, inventarisasi serta menyusun prioritas program sehingga diperoleh data usulan pembangunan yang optimal.

14) Melaksanakan pengawasan pembangunan di bidang fisik sarana prasarana penyehatan lingkungan dengan menyusun dan membagi tugas pengawasan langsung di lapangan agar pelaksanaan pembangunan dapat terkontrol dengan baik sesuai dengan rencana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

15) Melaksanakan penilaian prestasi kerja bawahan berdasarkan sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja sesuai peraturan perundang-undangan dalam rangka peningkatan karier, pemberian penghargaan dan sanksi.

16) Mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman berdasarkan program kerja agar sesuai dengan target hasil.

17) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman sesuai hasil pelaksanaan kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas dan trasparansi pelaksanaan tugas.

18) Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan secara lisan maupun tertulis sesuai dengan tugas dan fungsinya.

d. BKM Mandiri Kelurahan Bligo

Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) adalah suatu organisasi masyarakat di tingkat desa/kelurahan yang keanggotaannya bersifat relawan. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) bersifat kolektif kolegial yang artinya bahwa dalam BKM tidak terdapat ketua tetapi dipimpin oleh seorang koordinator. Kepengurusan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) berganti setiap tiga tahun sekali. Setiap periode kepengurusan BKM dapat mengalami rotasi sehingga semua anggota memiliki kesempatan untuk menjadi koordinator. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang ada di Kelurahan Bligo bernama BKM Mandiri yang dibentuk pada tahun 2007. Keanggotaan BKM berawal dari penjaringan melalui RT setempat, setiap RT akan dipilih sebanyak 2 atau 3 orang. Kemudian hasil penjaringan tingkat RT akan diseleksi lebih lanjut di tingkat kelurahan. Adapun anggota kepengurusan BKM Mandiri Keluraan Bligo periode 2019-2022 yaitu sebagai berikut.

Tabel 4.2 Pengurus BKM Mandiri Kelurahan Bligo Periode 2019-2022

(Sumber: Rembug Warga Tahunan BKM Mandiri Kelurahan Bligo Tahun 2019)

Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh sekretaris dan beberapa unit pengelola. Adapun unit pengelola BKM Mandiri Kelurahan Bligo antara lain Unit Pengelola Sosial (UPS), Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan Unit Pengelola Lingkungan (UPL). BKM Mandiri Kelurahan Bligo dalam menerapkan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) memiliki peran:

a. mengelola dana BOP (Biaya Operasional Program) dari pemerintah daerah;

b. membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) sebagai panitia pelaksana program yang akan dilaksanakan;

c. mengkoordinir KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) dalam melaksanakan pembangunan;

d. menjadi penyalur atau penghubung antara pemerintah dengan KSM.

BKM Mandiri Kelurahan Bligo dalam menjalankan tugasnya membentuk tiga Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk melaksanakan pembangunan dalam program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Setiap KSM terdiri dari 7 orang yang tersusun oleh ketua, sekretaris, bendahara dan anggota. Selain itu, masing-masing KSM menangani satu kegiatan dalam program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dan tetap melakukan koordinasi dengan BKM. Adapun KSM yang dibentuk oleh BKM Mandiri Kelurahan Bligo pada tahun 2019 yaitu sebagai berikut.

Tabel 4.3 KSM BKM Mandiri Kelurahan Bligo tahun 2019 NO NAMA KSM JENIS KEGIATAN LOKASI

PEMBANGUNAN

1 KSM Anggrek TPS (3R) RT 14 RW 04

2 KSM Flamboyan Saluran Drainase

Jalan Paving

RT 1, RT 2, RT 4, RT 5, RT 12, RT 15, RT 16

Rt 1, RT 4, RT 11, RT 12 3 KSM Mawar Sumur Bor (Air

Bersih)

RT 14 RW 04 (Sumber: LPJ BKM Mandiri Kelurahan Bligo Tahun 2019)

Gambar 4.5 RWT (Rembug Warga Tahunan) BKM Mandiri Kelurahan Bligo 2019 (sumber: dokumentasi peneliti)

Gambar 4.5 menunjukkan masyarakat Kelurahan Bligo yang antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT). Pada saat kegiatan RWT berlangsung, masyarakat aktif mengajukan pertanyaan dan tanggapan mengenai kinerja BKM selama satu tahun masa kerja. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Kelurahan Bligo sebagai organisasi masyarakat dalam menjalankan tugasnya, bertanggungjawab kepada masyarakat melalui RWT (Rembug Warga Tahunan). Rembug warga tahunan Kelurahan Bligo tahun 2019 dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 4 Februari 2019 pukul 20.30 di kantor Kelurahan Bligo. Kegiatan tersebut berisi pertanggungjawaban BKM Mandiri Kelurahan Bligo selama satu tahun kerja yang meliputi penggunaan anggaran program KOTAKU tahun 2019, dan pengelolaan inventaris BKM Mandiri Kelurahan Bligo.

Berdasarkan hasil observasi, beberapa tokoh masyarakat yang aktif pada saat kegiatan RWT berlangsung yaitu Bapak H. Khadiri (mantan Kepala Desa Bligo) mengajukan pertanyaan mengenai dana talangan yang terdapat dalam laporan pertanggungjawaban BKM. Pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh koordinator BKM Ibu Istiqomah yang mengatakan bahwa “dana talangan tersebut adalah dana yang dikeluarkan oleh pengurus BKM pada saat itu karena anggaran dari pemerintah belum cair seluruhnya, sedangkan pembangunan harus tetap berjalan. Oleh karena itu, pengurus BKM berinisiatif untuk memberikan dana talangan yang nantinya akan diganti apabila anggaran sudah turun seluruhnya” (observasi dalam kegiatan RWT tanggal 4 Februari 2020). Kemudian juga terdapat usulan dari Bapak Syarif sebagai ketua RT 15

yang mengatakan “untuk ke depannya, terkait anggaran BKM Mandiri Kelurahan Bligo agar lebih transparan sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman ketika dipertanggungjawabkan dalam kegiatan seperti ini”

(observasi dalam kegiatan RWT tanggal 4 Februari 2020). Adapun hasil dari kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT) Kelurahan Bligo tahun 2019 yaitu (1) laporan pertanggungjawaban BKM Mandiri Kelurahan Bligo tahun 2019 diterima oleh masyarakat dalam forum RWT; (2) Kelompok Pengola dan Pemerima manfaat (KPP) akan dibentuk oleh kelurahan setelah adanya serah terima dari BKM Mandiri kepada dinas, kemudian dari dinas kepada Kelurahan Bligo, (3) dilantiknya pengurus BKM Mandiri Kelurahan Bligo yang baru.

Kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT) Kelurahan Bligo dipimpin oleh Lurah Bligo, koordinator BKM Mandiri, dan koodinator TIPP. Adapun pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut yaitu pengurus BKM Mandiri kelurahan

Kegiatan Rembug Warga Tahunan (RWT) Kelurahan Bligo dipimpin oleh Lurah Bligo, koordinator BKM Mandiri, dan koodinator TIPP. Adapun pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut yaitu pengurus BKM Mandiri kelurahan