BAB V PENUTUP
Bagan 2.1 Model Proses Implementasi Kebijakan
2) Model Daniel Mazmanian dan Paul. A. Sabatier
Model ini disebut A Frame Work for Implementatuon Analysis (kerangka analisis implementasi). Model ini mengartikan implementasi atau penerapan kebijakan sebagai upaya untuk mengindentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal dari seluruh proses impelementasi (dalam
Komunikasi
Wahab, 2015:176). Keberhasilan implementasi kebijakan menurut model ini dipengaruhi oleh tiga variabel yaitu sebagai berikut.
a) Karakteristik Masalah (tractability of the problems)
Karakteristik masalah berarti mudah atau tidaknya suatu masalah dikendalikan. Karakteristik masalah dalam implementasi kebijakan dapat dilihat dari beberapa indikator, meliputi: (a) tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan, (b) tingkat kemajemukan kelompok sasaran kebijakan, (c) proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi, (d) cakupan perubahan perilaku yang diharapkan.
b) Karakteristik Kebijakan/Undang-Undang (ability of statute to structure implementation)
Karakteristik kebijakan dapat dimaknai sebagai kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasi. Karakteristik kebijakan terdiri dari beberapa hal yaitu: (a) kejelasan isi kebijakan, (b) dukungan teoritis yang dimiliki kebijakan, (c) alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan, (d) keterkaitan dan dukungan antarinstitusi pelaksana, (e) konsistensi aturan pada badan pelaksana, (f) komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan, (g) tingkat partisipasi kelompok luar dalam implementasi kebijakan.
c) Variabel Lingkungan (nonstatutory variables affecting implementation)
Variabel lingkungan kebijakan berkenaan dengan berbagai variabel politik yang dapat mempengaruhi keseimbangan dukungan untuk mencapai tujuan dari kebijakan. Lingkungan kebijakan meliputi beberapa hal penting diantaranya: (a) kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi, (b) dukungan publik terhadap suatu kebijakan, (c) sikap dari kelompok pemilih/constituency groups, (d) tingkat komitmen dan keterampilan dari implementator. Adapun variabel-variabel dalam proses implementasi kebijakan yaitu sebagai berikut.
1) Mudah/tidaknya masalah dikendalikan
Mudah tidaknya masalah dikendalikan dalam suatu kebijakan ditentukan oleh beberapa hal seperti (a) kesulitan teknis, (b) keragaman perilaku kelompok sasaran, (c) prosentase kelompok sasaran dibanding jumlah populasi, (d) ruang lingkup perubahan perilaku yang diinginkan
2) Kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi
Kemampuan kebijakan dalam menstrukturkan proses implementasi dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu (a) kejelasan dan konsistensi tujuan, (b) digunakannya teori kausal yang memadai, (c) ketepatan alokasi sumberdaya, (d)
keterpaduan hierarki dalam dan diantara lembaga pelaksana, (e) aturan keputusan dari badan pelaksana, (f) rekruitmen pejabat pelaksana, (g) akses formal pihak luar.
3) Variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi proses implementasi
Variabel diluar kebijakan yang dapat mempengaruhi proses implementasi antara lain (a) kondisi sosio-ekonomi dan teknologi, (b) dukungan publik, (c) sikap dan sumber yang dimiliki kelompok pemilih, (d) dukungan dari pejabat atasan, (e) komitmen dan keterampilan kepemimpinan pejabat pelaksana.
4) Tahap-tahap proses implementasi (variabel tergantung) Tahap-tahap implementasi kebijakan dalam model ini meliputi: (a) output kebijakan, (b) kesediaan sasaran untuk mematuhi output kebijakan, (c) dampak nyata, (d) dampak output kebijakan, (e) perbaikan dalam UU.
Bagan 2.2 Model Implementasi Kebijakan Menurut Mazmanian dan Sabatier (Subarsoo, 2013:95)
3) Model G Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli
Model implementasi kebijakan menurut Cheema dan Rondinelli dapat digunakan untuk implementasi program-program pemerintah yang bersifat desentralisasi (dalam Subarsono, 2013:101). Menurut model ini, kinerja dan dampak suatu program dipengaruhi oleh empat variabel pokok yaitu sebagai berikut.
(a) Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi penerapan kebijakan antara lain: tipe sistem politik yang dianut, struktur pembentukan kebijakan, karakteristik struktur politik lokal, kendala sumberdaya, sosio kultural, tingkat keterlibatan penerima program, adanya infrastruktur fisik yang cukup.
Mudah-tidaknya masalah dikendalikan
Variabel diluar kebijakan yang mempengaruhi proses
implementasi
Tahap-tahap dalam Proses Implementasi (Variabel Tergantung)
Kepatuhan
(b) Hubungan antar organisasi
Hubungan antar organisasi pembuat kebijakan dapat dilihat dari beberapa hal seperti konsistensi sasaran program, pembagian fungsi antarinstansi yang pantas, standardisasi prosedur setiap tahap (perencanaan, anggaran, implementasi, evaluasi), konsistensi komunikasi antar instansi, efektivitas jejaring pendukung program.
(c) Sumberdaya organisasi untuk implementasi program,
Sumberdaya yang mempengaruhi implementasi program meliputi: kontrol terhadap sumber dana, keseimbangan antara anggaran dan program, ketepatan alokasi anggaran, pendapatan yang cukup, dukungan pemimpin politik pusat, dukungan pemimpin politik lokal, dan komitmen birokrasi.
(d) Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana
Karakteristik instansi kebijakan meliputi: ketrampilan teknis dan manajerial, kemapuan mengontol dan mengkoordinasi, dukungan dan sumberdaya politik instansi, sifat komunikasi internal, hubungan baik antara instansi dan sasaran program, kualitas pemimpin instansi, komitmen terhadap program, kedudukan instansi dalam hierarki sistem administrasi.
Dari beberapa model implementasi kebijakan menurut para ahli tersebut, adapun model yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis penerapan kebijakan program Kota Tanpa Kumuh
(KOTAKU) di Kelurahan Bligo yaitu model implementasi kebijakan Van Metter dan Van Horn.
d. Tahapan Implementasi Kebijakan
Menurut Abidin (2012:73) terdapat 6 tahapan implementasi kebijakan agar tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai guna menyelesaikan permasalahan publik. Adapun 6 tahapan tersebut, meliputi:
1) Identifikasi dan Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan tahap untuk menemukan akar permasalahan yang akan diangkat menjadi isu masalah publik sehingga membutuhkan penyelesaian melalui suatu kebijakan.
Perumusan masalah dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu pengamatan, pengelompokkan, dan pengkhususan masalah (Abidin, 2012:88).
2) Agenda Kebijakan dan Partisipasi Masyarakat
Agenda kebijakan yaitu daftar permasalahan atau isu yang mendapat perhatian khusus yang disebabkan adanya beberapa alasan untuk ditindaklanjuti atau diproses oleh pihak yang berwenang menjadi suau kebijakan (Abidin, 2012:95). Proses penyusunan agenda dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu: (1) perkembangan sistem pemerintahan yang demokratis, (2) sikap pemerintah dalam proses penyusunan agenda, (3) realisasi otonomi daerah, dan (4) tingkat partisipasi masyarakat.
3) Proses Perumusan Kebijakan
Proses perumusan kebijakan adalah tahapan yang menjadi salah satu penentu keberhasilan suatu kebijakan (Abidin, 2012:126).
Proses perumusan kebijakan yang demokratis dan partisipatif akan membuat kebijakan menjadi aturan yang diterima oleh masyarakat.
Proses perumusan kebijakan dipengaruhi oleh 2 faktor penting yaitu mutu kebijakan dilihat dari substansi dan adanya dukungan terhadap strategi kebijakan yang dirumuskan.
4) Analisis dan Perumusan Rekomendasi Kebijakan
Rekomendasi kebijakan adalah saran yang disampaikan kepada pihak yang berwenang dalam mengambil kebijakan untuk melakukan suatu tindakan agar mencapai tujuan yang dikehendaki (Abidin, 2012:129). Dalam menganalisis dan merumuskan rekomendasi kebijakan, ada beberapa nilai yang diperhitungkan yaitu efisiensi, efektivitas, kepatutan dan adil yang berkenaan dengan input, output dan outcomes atau dampak.
5) Pelaksanaan Kebijakan
Pelaksanaan (implementasi) kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kebijakan (Abidin, 2012:145).
Implementasi menjadi penentu agar suatu kebijakan dapat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat.
6) Evaluasi Kinerja Kebijakan
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses kebijakan.
Evaluasi kinerja kebijakan secara lengkap meliputi tiga hal yaitu (1) evaluasi awal saat proses perumusan kebijakan sampai sebelum diimplementasikan; (2) evaluasi dalam proses implementasi; dan (3) evaluasi akhir setelah selesai proses implementasi kebijakan (Abidin, 2012: 165).
Berbeda dengan Abidin, Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn (dalam Wahab, 2015:167) mengemukakan bahwa implementasi suatu kebijakan publik setidaknya meliputi tiga tahapan utama yaitu sebagai berikut.
1) Tahap Persiapan Kebijakan
Tahap persiapan ini secara umum meliputi proses penggambaran rencana program dan penetapan tujuan, proses penentuan standar pelaksanaan kebijakan, dan proses menentukan anggaran yang akan digunakan serta waktu pelaksanaan.
2) Tahap Pelaksanaan Kebijakan
Tahap ini berisi pelaksanaan suatu program dengan melibatkan dan memanfaatkan struktur staf instansi pemerintah terkait, sumber daya, prosedur pelaksanaan, anggaran yang telah ditetapkan dan metode yang digunakan untuk menjalankan program.
3) Tahap Evaluasi Kebijakan
Tahap evaluasi meliputi tahapan ketiga dalam implementasi keijakan yang meliputi kegiatan (a) menentukan jadwal; (b) melaksanakan pemantauan; dan (c) melakukan pengawasan guna menjamin kelancaran program sekaligus mengambil tindakan yang sesuai apabila terapat penyimpangan atau pelanggaran dalam pelaksanaan program.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, adapun tahapan implementasi kebijakan yang digunakan untuk menganalisis kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan dalam penelitian ini yaitu tahapan implementasi kebijakan menurut Brian Hogwood dan Lewis A. Gunn yaitu (1) tahap persiapan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap evaluasi.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan
Keberhasilan suatu kebijakan tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahap evaluasi kebijakan. Edward III dalam Winarno (2012:177) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi suatu kebijakan yaitu sebagai berikut.
1. Komunikasi
Komunikasi yaitu alat atau sarana dalam suatu kebijakan yang digunakan untuk menyampaikan perintah dan arahan dari sumber pembuat kebijakan kepada pelaksana kebijakan. Komunikasi
menurut Edward III (dalam Handoyo 2012:113) berkaitan dengan bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan kepada publik, ketersediaan sumber daya, sikap dan respon pihak yang terlibat dan struktur organisasi pelaksana kebijakan.
2. Sumber Daya
Sumber daya menjadi faktor penting dalam implementasi suatu kebijakan atau program tertentu. Unsur penting sumber daya dalam hal ini yaitu kecakapan pelaksana kebijakan untuk mengimplementasikan kebijakan secara efektif dan efisien (Handoyo, 2012: 113). Sumber daya dalam kebijakan meliputi pelaksana kebijakan dan fasilitas pendukung lainnya.
3. Disposisi
Disposisi diartikan sebagai sikap para pelaksana yang dilihat dari kemauan dan niat untuk melaksanakan suatu kebijakan serta menjadi motivasi psikologi bagi pelaksana dalam melaksanakan kebijakan. Disposisi menurut Edward III (dalam Handoyo 2012:113) diartikan sebagai kesediaan dan komitmen para implementator dalam mengimplementasikan suatu kebijakan secara efektif.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi dalam implementasi kebijakan berkenaan dengan kesesuaian organisasi birokrasi sebagai pelaksana kebijakan publik. Hal penting dalam struktur birokrasi yaitu bagaimana suatu
kebijakan dalam penerapannya tidak terjadi pecahnya birokrasi karena hal tersebut akan menghambat pelaksanaan suatu kebijakan publik (Handoyo, 2013:113).
Berbeda dengan Edward III, Van Metter Van Horn (dalam Winarno 2012:158), mengemukakan enam faktor yang mempengaruhi implementasi suatu kebijakan atau program yaitu (1) ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan, (2) sumber-sumber, (3) komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaa, (4) karakteristik-karakteristik badan-badan pelaksana, (5) kondisi ekonomi, sosial, dan politik, dan (6) kecenderungan para pelaksana.
Dari beberapa ahli tersebut, adapun faktor-faktor yang digunakan untuk menganalisis kebijakan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yaitu faktor-faktor menurut Edward III yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.
2. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) a. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) adalah salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia (www.kotaku.pu.go.id). Program KOTAKU dalam Surat Edaran No 40 Tahun 2016 Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR adalah program
nasional yang memiliki tujuan dan target secara jelas, membutuhkan sumber pembiayaan yang tidak hanya memadai dari segi jumlah tetapi juga terintegrasi dan saling melengkapi serta tepat waktu. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) mendukung “Gerakan 100-0-100” yaitu gerakan 100% akses universal air minum, 0% permukiman kumuh dan 100% akses sanitasi yang layak. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dijalankan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN yang mengamanatkan adanya pembangunan dan pengembangan kawasan perkotaan melalui penanganan kualitas lingkungan pemukiman.
Lain halnya dengan Irfani (2018:3) yang menjelaskan bahwa program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) adalah program untuk mengatasi bertambahnya permukiman kumuh di Indonesia dan memfokuskan pada perwujudan permukiman layak huni mencapai 0 Ha kumuh tanpa penggusuran. Program KOTAKU merupakan suatu kebijakan untuk pengelolaan dan penataan lingkungan hidup.
Sementara itu, Purnaweni (2014:55) menyatakan bahwa upaya pengelolaan dan penataan lingkungan adalah upaya terpadu pelestarian fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.
Secara umum, program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) memiliki tujuan untuk meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan
dasar di permukiman kumuh untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.
Tujuan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) tersebut dijabarkan lebih jelas yaitu (1) memperbaiki akses masyarakat terhadap infrastruktur permukiman sesuai dengan 7+1 indikator kumuh; (2) penguatan kapasitas pemerintah daerah untuk mengembangkan kolaborasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder); (3) memperbaiki tingkat kesejahteran masyarakat melalui pengembangan penghidupan berkelanjutan.
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dicanangkan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mempercepat pengurangan kawasan permukiman kumuh dan mencegah timbulnya kawasan permukiman kumuh yang baru. Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat (UU No.1 tahun 2011). Sementara itu, UN-HABITAT (dalam Askari dan Gupta, 2016:117) mengatakan bahwa permukiman kumuh ialah sebuah permukiman yang saling berdekatan dimana rumah yang dimiliki oleh penduduk tidak memadai dan kurangnya pelayanan dasar.
Nursyahbani dan Pigawati (2015:269) mengungkapkan bahwa permukiman kumuh timbul karena pesatnya laju pertumbuhan penduduk yang sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan
ruang bermukim, dan adanya pembangunan yang tidak disertai dengan pengaturan serta pengendalian yang baik. Sejalan dengan hal tersebut, Etty Soesilowati (2009: 19) mengatakan bahwa masalah permukiman kumuh tidak hanya masalah kurangnya jumlah lahan, tetapi juga menyangkut banyaknya rumah yang tidak bermutu dan lingkungan yang tidak sehat. Pertumbuhan kawasan kumuh memiliki dampak terhadap perekonomian dan regional yaitu adanya beban biaya transaksi yang tinggi, meningkatnya belanja transportasi karena infrastruktur tidak memadai dan adanya beban penyakit (Mahabir dkk, 2016:402).
Berbeda dengan pendapat diatas, menurut United Nations (dalam Balbim dan Krouse 2019:187) menyatakan bahwa permukiman kumuh menyangkut beberapa hal seperti kekurangan lahan perumahan, kurangnya akses peningkatan pasokan air dan limbah, daya tahan perumahan dan kurangnya penguasaan keamanan. Sementara itu, hasil survei nasional utama “pelayanan utama oleh public affairs” di India menyatakan bahwa percepatan pertumbuhan penduduk dan terbatasnya sumber daya keuangan di negara-negara berkembang dapat menimbulkan beban bagi infrastruktur dasar yang sudah lemah sehingga memicu timbulnya permukiman kumuh (dalam Swami, 2012:11).
b. Tahapan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Program Kota tanpa kumuh (KOTAKU) dijalankan melalui beberapa tahapan yaitu tahap persiapan, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan keberlanjutan. Seluruh tahapan tersebut merupakan
kolaborasi antara pemerintah daerah dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat desa/kelurahan dengan masyarakat serta pihak lain yang terkait. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat Nomor 40 Tahun 2016, tahapan pelaksanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di tingkat desa/kelurahan dapat dipahami dengan skema berikut.
Bagan 2.3 Tahapan Pelaksanaan Program KOTAKU (SE DKCK No 40 Tahun 2016) 1) Tahap Persiapan
Tahap persiapan di tingkat desa/kelurahan dilaksanakan untuk membangun kontribusi dan kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa/kelurahan, masyarakat dan pemangku kepentingan pembangunan. Tahap ini juga meliputi kegiatan penggalangan relawan untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan peningkatan kualitas pembangunan. Tahap persiapan pada dasarnya terdiri dari dua kegiatan yang utama yaitu sosialisasi dan pembentukan/penguatan TIPP.
I
V. Kegiatan yang Menerus dan Berkala
Monev Pengembangan Kapasitas (menerus):
pelatihan & sosialisasi
Operasional & Pemeliharaan Review Perencanaa
Kegiatan sosialisasi bertujuan untuk membangun kepedulian masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam upaya penataan permukiman desa/kelurahan melalui program KOTAKU. Pembentukan TIPP (Tim Inti Perencanaan Partisipatif) tingkat desa/kelurahan terdiri dari beberapa Pokja berdasarkan tujuh indikator kumuh sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan. TIPP di tingkat desa/kelurahan berfungsi sebagai lembaga perencanaan penataan permukiman.
2) Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan adalah tahap untuk merumuskan kondisi lingkungan permukiman desa/kelurahan yang layak huni dan diinginkan oleh masyarakat di masa yang akan datang. Tahap ini dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi permukiman tingkat desa/kelurahan untuk mencapai 0 ha permukiman kumuh. Rumusan kondisi permukiman layak huni dituangkan dalam dokumen RPLP.
Tahap perencanaan berupa kegiatan penyusunan dokumen rencana penataan lingkungan permukiman (RPLP).
3) Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan atau penerapan program KOTAKU di tingkat desa/kelurahan dapat berupa kegiatan sosial, ekonomi dan infrastruktur.
Tahap pelaksanaan harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dalam RPLP dan menjadi prioritas dalam penanganan permukiman kumuh di tingkat desa/kelurahan. Tahap ini hanya dapat
dijalankan setelah dokumen RPLP disahkan oleh pihak yang berwenang.
4) Tahap Keberlanjutan
Tahap keberlanjutan berarti tahapan setelah pelaksanaan dilapangan selesai dijalankan. Tahap keberlanjutan harus di upayakan dari awal proses persiapan, perencanaan dan pelaksanaan yang didalamnya terdapat tahap monitoring dan evaluasi di setiap tahapan.
B. Kajian Hasil Penelitian Relevan
Penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian-penelitian yang relevan. Adapun penelitian yang relevan yaitu sebagai berikut.
1. Penelitian Ruli As’ari dan Siti Fadjarani. 2015. Jurnal Geografi.Penataan Permukiman Kumuh Berbasis Lingkungan. Vol: 15 (1).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya penyelesaian masalah permukiman kumuh dilakukan dengan konsep lingkungan permukiman berwawasan lingkungan dan upaya keseimbangan penduduk dan daya dukung lingkungan setempat. Upaya yang paling tepat untuk mengatasi permukiman kumuh menurut penelitian ini adalah penataan lingkungan model Land Sharing, yaitu penataan ulang di atas lahan dengan tingkat kepemilikan masyarakat cukup tinggi.
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah membahas upaya untuk menyelesaikan masalah permukiman kumuh. Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu memfokuskan pada penyelesaian masalah
permukiman kumuh melalui penataan lingkungan model land sharing di Kota Tasikmalaya, sedangkan penelitian ini memfokuskan pada upaya penanggulangan masalah permukiman kumuh melalui kebijakan program Kota Tanpa Kumuh di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan.
2. Nurhasanah. 2019. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik: Implementasi Kebijakan Program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Vol: 1 (1).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tahap implementasi program KOTAKU di Kelurahan Merjosari dilaksanakan dalam 4 tahap utama yaitu perencanaan, tahap survei lokal, pendanaan, dan tahap pelaksana. Selain itu, adanya faktor pendukung dan penghambat berasal dari sikap masyarakat Kelurahan Merjosari itu sendiri.
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah membahas persoalan permukiman kumuh melalui Pogram KOTAKU. Perbedaannya yaitu pada penelitian terdahulu mengkaji program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang bermuara pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat, sedangkan penelitian ini mengkaji penerapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang bertujuan untuk penataan lingkungan yng berkelanjutan serta upaya pemerintah untuk mengurai permukiman kumuh hingga mencapai 0%.
3. Yuliani, Sri dan Putri Dhini Rosyida. 2017. Jurnal Wacana Publik:
Kolaborasi dalam Perencanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta. Vol: 1 (2).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi dalam perencanaan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kelurahan Semanggi belum diimplementasikan dengan baik. Hal ini dikarenakan adanya kendala komunikasi antar stakeholder. Selain itu, adanya ketidaksesuaian prinsip kolaborasi dengan prinsip partisipasi, komunikasi dan berbagi.
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah mengkaji tentang implementasi atau pelaksanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) untuk mengatasi permasalahan kawasan permukiman kumuh.
Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu memfokuskan penelitian pada kolaborasi pada tahap perencanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), sedangkan penelitian ini memfokuskan penelitian pada bagaimana penerapan dan bentuk dari Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Keluruhan Bligo Kabupaten Pekalongan.
4. Wijaya, Doni Wahyu. 2016. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik.
Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Studi Penentuan Kawasan Prioritas untuk Peningkatan Kualitas Infrastruktur pada Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Malang. Vol: 2 (1).
Penelitian ini penyimpulkan bahwa kawasan permukiman kumuh perkotaan merupakan dampak dari kurang berhasilnya pembangunan
permukiman di perkotaan dan keterbatasan lahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya sebelas klasifikasi kawasan permukiman kumuh dan lima kawasan prioritas untuk meningkatkan kualitas infrastruktur kawasan permukiman kumuh di Kota Malang.
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah membahas mengenai masalah kawasan permukiman kumuh di perkotaan beserta strategi untuk mengatasi permasalahan kumuh. Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu memfokuskan penelitian pada klasifikasi penentuan kawasan permukiman kumuh dan menggunakan strategi matriks interaksi IFAS-EFAS SWOT untuk mengatasinya, sedangkan penelitian ini memfokuskan pada penanganan masalah permukiman kumuh secara signifikan melalui program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).
5. Ayuningtyas, Istiqomah dan Artiningsih. 2019. Jurnal Geografi. Evaluasi Metode Verifikasi Lokasi dan Pemutakhiran Profil Permukiman Kumuh dalam Penyusunan RP2KPKP. Vol: 17(2).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa akurasi penyusunan RP2KPKP merupakan hal penting dalam penentuan lokasi kumuh dan berpengaruh terhadap upaya penanganan dan angka capaian bebas kumuh. Studi ini menunjukkan banyaknya desa/kelurahan yang diobservasi dapat menjadi celah adanya kesalahan dalam pengambilan sempel yang menyebabkan tiga konsekuensi yaitu (a) terkendalanya profil permukiman sehingga tidak semua desa/kelurahan memiliki baseline 100-0-100; (b) terjadinya
tumpang tindih metode verifikasi dan pemutakhiran kawasan kumuh; (c) ketidaklengkapan output verifikasi .
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah mengkaji lokasi permukiman kumuh. Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu hanya meneliti tentang evaluasi metode verifikasi dan pemutakhiran lokasi permukiman kumuh sebagai bagian dalam proses penanganan masalah kumuh, sedangkan penelitian ini meneliti keseluruhan tahapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) untuk mengatasi masalah kumuh secara signifikan.
6. Krisandriyana Maresty, dkk. 2019. Jurnal Desa-Kota. Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Kawasan Permukiman Kumuh di Surakarta.
Vol: 1(1).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat tiga topologi kawasan permukiman kumuh di Surakarta yaitu kawasan permukiman kumuh bantaran sungai, kawasan permukiman kumuh padat perkotaan dan kawasan permukiman kumuh sepanjang rel kereta api. Adapun faktor prioritas yang mempengaruhi adanya kawasan permukiman kumuh di Surakarta berdasarkan analisis prioritas (Analytic Hierarchi Process) yaitu faktor lahan perkotaan, faktor tata ruang dan faktor status kepemilikan bangunan, serta faktor ekonomi.
Hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan diatas terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah penelitian
terdahulu meneliti mengenai kawasan permukiman kumuh. Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu memfokuskan penelitian pada faktor prioritas
terdahulu meneliti mengenai kawasan permukiman kumuh. Perbedaannya yaitu penelitian terdahulu memfokuskan penelitian pada faktor prioritas