• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fasilitas, Sarana dan Prasarana

Dalam dokumen TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM (Halaman 65-71)

TINJAUAN PUSTAKA

2.8. Fasilitas, Sarana dan Prasarana

Dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit ada banyak standar yang harus dipenuhi oleh setiap rumah sakit. Salah satunya adalah standar keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana. Dengan falsafah dan tujuannya adalah Rumah Sakit dibangun dan dilengkapi, dijalankan dan dipelihara sedimikian rupa untuk menjaga keamanan dan mencegah kebakaran serta persiapan menghadapi bencana. Hal ini bertujuan untuk menjamin hidup pasien, pegawai dan pengunjung. Setiap rumah sakit harus tersedia fasilitas dan peralatan yang cukup serta siap pakai terus menerus untuk menunjang program keselamatan kerja, menanggulangi bahaya kebakaran dan bencana. (MS. Djoko Wijono, 1999.)

Fasilitas adalah segala sesuatu hal yang menyangkut sarana, prasarana maupun alat (baik alat medik maupun alat non medik) yang dibutuhkan oleh rumah sakit Dalam memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi pasien. Sarana adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi oleh mata maupun teraba oleh panca-indera dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan (umumnya) merupakan bagian dari suatu bangunan gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.

Dalam penanggulangan bencana bidang kesehatan pada prinsipnya tidak dibentuk sarana dan prasarana khusus tetapi menggunakan sarana dan prasarana yang sudah ada, hanya intesitas kerjanya ditingkatkan. (Kepmenkes RI. No.

145/Menkes/SK/I/2007). Rumah Sakit. Fasilitas dan Sarana rumah sakit diatur dalam

Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2009 dan dalam Kepmenkes RI, No. 340 Tahun 2010 tentang klasifikasi rumah sakit dimana fasilitas rumah sakit diantaranya adalah :

a. Pelayanan Medik Umum

Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik Gigi Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak/Keluarga Berencana. Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 9 (sembilan) orang dokter umum dan 2 (dua) orang dokter gigi sebagai tenaga tetap

b. Pelayanan Gawat Darurat

Instalasi Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh) jam dan 7 (tujuh) hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar. Ketentuan Sarana Umum yang harus dimiliki Unit Gawat darurat antara lain mobil ambulans, ruang triase, ruang tunggu untuk keluarga pasien, apotik 24 jam dekat IGD, ruang istirahat untuk petugas, ruang tindakan medik, ruang administrasi. Susunan ruang harus sedemikian rupa Ketentuan Sarana Umum misalnya mobil ambulans, ruang triase, ruang tunggu untuk keluarga pasien, apotik 24 jam dekat IGD, ruang istirahat untuk petugas, ruang tindakan medik, ruang administrasi. Susunan ruang harus sedemikian rupa sehingga arus pasien dapat lancar dan dapat menampung korban bencana sesuai dengan kemampuan rumah sakit sehingga arus pasien dapat lancar dan dapat menampung korban bencana sesuai dengan kemampuan rumah sakit.

2.9. Standart Operasional Prosedur 2.9.1. Pengertian SOP

Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar operasional prosedur merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. (Perry dan Potter 2005).

Proses pada suatu pekerjaan harus dirancang dan dikembangkan dengan baik walaupun kesalahan masih bisa saja terjadi. Apalagi bila suatu pekerjaan tidak dirancang dengan baik, maka dapat menimbulkan kecelakaan atau kerusakan. Untuk itu perlu dibuat suatu prosedur tetap yang bersifat standar, sehingga siapa saja, kapan saja dan dimana saja melakukan langkah-langkah yang sama. Langkah-langkah kerja yang tertib ini disebut SOP (standard operating procedures).

Standar Operasional Prosedur adalah suatu perangkat instruksi atau langkah kegiatan yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu kerja rutin tertentu (Lumenta, 2010). Tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 1995) dan Menurut RM. Tambunan (2008) “SOP pada dasarnya adalah pedoman yang berisi prosedur operasional standar yang ada dalam suatu organisasi yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap keputusan, langkah, atau tindakan dan penggunaan fasilitas

pemrosesan yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam suatu organisasi telah berjalan secara efektif, konsisten, standar dan sistematis. (Tambunan, 2008)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 772/MENKES/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital By Laws), ada lima kerangka hukum yang mengatur kehidupan Rumah Sakit, salah satunya adalah kebijakan teknis operasional Rumah Sakit, yaitu SOP.

Berdasarkan hal tersebut, posisi SOP berada di bawah peraturan internal Rumah Sakit.

2.9.2. Tujuan SOP (Lumenta, 2010)

1. Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.

2. Sebagai acuan (check list) dalam pelaksanaan kegiatan tertentu bagi sesame pekerja, supervisor, surveior, dan lain-lain.

3. Merupakan salah satu cara atau parameter dalam meningkatkan mutu pelayanan.

4. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi 5. Memperjelas alur tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari petugas/pegawai

terkait.

6. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya.

7. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi, dan inefisiensi.

8. Sebagai dokumen pelatihan bagi pelatih.

2.9.3. Jenis SOP (Lumenta, 2010) 1. SOP Pelayanan

Berkaitan dengan pelayanan pada pasien, meliputi unsur tata cara pelayanan antara lain : komunikasi (cara dan isi), sikap tubuh.

Contoh : SOP Pelayanan Front Office, SOP Pelayanan Apotik, SOP Pelayanan Poli, SOP Pelayanan Doorkeeper, SOP Pelayanan Parkir.

2. SOP Administrasi

Berkaitan dengan proses administrasi di unit yang bersangkutan. Proses dapat berkaitan dengan pasien. Contoh : SOP Proses Pengisian Rekam Medis, SOP Proses Permintaan Obat, SOP Proses Pencatatan Keuangan, SOP Kalibrasi Alat Medis.

3. SOP Keamanan dan Keselamatan

Berkaitan dengan tindakan untuk menjaga keselamatan dan keamanan pelayanan p ada pasien. Contoh : SOP Penyimpanan Obat, SOP Penanganan Jarum Suntik Bekas, SOP Cuci Tangan Petugas, SOP Pemusnahan Obat Kadaluarsa.

2.9.4. Prinsip SOP

1. Harus ada pada setiap pelayanan

2. Dapat berubah sesuai perubahan standar profesi atau perkembangan IPTEK serta peraturan yang berlaku

3. Memuat segala indikasi dan syarat yang harus dipenuhi oleh setiap upaya 4. Harus didokumentasikan.

2.9.5. SOP Dalam Penanganan Kegawatdaruratan dan Bencana

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat dan rumah sakit merupakan salah satu lembaga publik yang terlibat langsung dalam merespon suatu bencana yang terjadi dalam wilayah kerjanya. Dalam Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (pasal 29) menyebutkan bahwa Rumah Sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan pada saat bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya dan memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.(UU, RI. 2009)

Untuk menyelamatkan korban bencana diperlukan penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. Penanganan bencana tidak terlepas dari penanganan kegawatdaruratan ketika bencana terjadi ada tindakan penyelamatan sehingga resiko tereliminir (Hodgetts & Jones, 2002). Dalam penanganan bencana selain Sumber Daya juga dibutuhkan prosedur khusus dalam penangan bencana baik dari dalam rumah sakit maupun dari luar rumah sakit. Standar prosedur operasi dan pedoman harus mencakup kondisi yang berkaitan untuk keadaan darurat dan bencana.

Standar Operasional Standar (SOP) dan Prosedur : (Kepmenkes RI,2012.) 1. SOP untuk pasien internal RS dan pasien rujukan dari luar RS

2. SOP untuk pendaftaran Instalasi gawat Darurat 3. SOP untuk control infeksius, prosedur dekontaminasi 4. SOP untuk pengumpulan dan analisa informasi

Prosedur :

1. Prosedur khusus untuk tanggap darurat dan bencana

2. Prosedur mobilisasi Sumber daya (Dana, logistik dan SDM) termasuk penggiliran tugas selama bencana dan darurat

3. Prosedur memperluas layanan, ruangan dan tempat tidur dalam kejadian lonjakan jumlah pasien

4. Prosedur proteksi rekam medic pasien

5. Prosedur untuk pemeriksaan keselamatan regular peralatan 6. Prosedur pengawasan epidemiologi rumah sakit

7. Prosedur untuk penyiapan lokasi dan penempatan sementara untuk pemeriksaan forensik.

8. Prosedur untuk pengangkutan dan persediaan logistik

9. Prosedur merespon selama malam hari, hari libur dan giliran libur.

Dalam dokumen TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM (Halaman 65-71)