HASIL PENELITIAN
4.3. Pelaksanaan Penelitian
5.2.4. Standar Operasional Prosedur
Pada dasarnya SOP adalah pedoman yang berisi prosedur operasional standar yang ada dalam organisasi yang digunakan untuk memastikan setiap keputusan, langkah atau tindakan dan penggunaan fasilitas pemrosesan yang dilakukan oleh orang-orang dalam organisasi telah berjalan konsisten dan sistematis. (Tambunan, 2008), tetapi menurut Hasil Kajian (Tjipto Atmoko) di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menunjukan Tidak semua unit kerja Pemerintah Daerah memiliki SOP, mengingat pentingnya SOP dalam organisasi sudah seharusnyalah
setiap unit kerja pelayanan Publik instansi pemerintah memiliki SOP sebagai acuan dalam bertindak agar kinerja pemerintah dapat dievaluasi.
Dan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 772/MENKES/SK/VI/ 2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws), ada lima kerangka hukum yang mengatur kehidupan Rumah Sakit, salah satunya adalah kebijakan teknis operasional Rumah Sakit, yaitu SOP.
Berdasarkan hal tersebut, posisi SOP berada di bawah peraturan internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws). Untuk itu Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam melaksanaan fungsinya sebagai intansi layanan publik sudah mempunyai Standar operasional prosedur tertuang dalam dokumen Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Namun dalam pelayanan kesehatan bagi pengungsi korban bencana gunung Sinabung, rumah sakit umum Kabanjahe belum menyusun standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk penangganan korban bencana baik bencana internal maun bencana eksternal rumah sakit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fina Rahayu (2011) yang menyatakan manajemen penanggulangan bencana di Rumah Sakit X kota Depok, belum optimal ini terlihat dari tidak adanya sosialisasi dan pembaharuan Prosedur.
Standar Operasional Prosedur yang digunakan adalah SOP yang sudah ada seperti SOP pelayanan di IGD, SOP Pelayanan Apotik, SOP Pelayanan Poli, SOP Proses Pengisian Rekam Medis, SOP Proses Permintaan Obat. Penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian oleh Ismunandar, dkk (2012) dimana SOP dalam penanganan korban bencana masih kurang, baik menyangkut penanganan bencana
luar Rumah Sakit (Eksternal Disaster) maupun yang terjadi dalam lingkup Rumah Sakit sendiri (Internal Disaster). Kekurangan SOP sudah disadari dan masih dalam proses penyusunan untuk memenuhi persyaratan akreditasi. SOP pada dasarnya adalah pedoman yang berisi prosedur operasional standar yang ada dalam suatu organisasi yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap keputusan, langkah, atau tindakan dan penggunaan fasilitas pemrosesan yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam suatu organisasi telah berjalan secara efektif, konsisten, standar dan sistematis.
SOP rumah sakit yang telah disusun harus disosialisasi kepada seluruh unit kerja dalam organisasi rumah sakit karena SOP diperlukan dalam menjalankan kegiatan organisasi dan masyarakat.
5.2.5. Ketersediaan Anggaran
Dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 22 tahun 2008 tentang pendanaan dan pengelolaan bencana pada Bab III menyatakan bahwa pendanaan dan pengelolaan bantuan bencana ditujukan untuk mendukung upaya penanggulangan bencana secara berdayaguna, berhasilguna dan dapat dipertanggungjawabkan, dana tersebut menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan pemerintah daerah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan atau bersumber dari Masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah no. 22 tahun 2008 anggaran penanggulangan bencana berasal dari APBN dan APBD dimana anggaran tersebut dapat difasilitasi oleh BPBD atau Dinas Kesehatan. Dalam Perka BNPB No. 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana disebutkan bahwa sebagian besar pembiayaan untuk
kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana terintegrasikan dalam kegiatan-kegiatan pemerintah dan pembangunan yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional, Propinsi atau Kabupaten/Kota.
Dan menurut Kepmenkes RI. No. 145/Menkes/SK/I/2007 tentang pedoman penanggulangan bencana bidang kesehatan menyatakan anggaran untuk penangulangan bencana pada dasarnya menggunakan dana anggaran bencana yang dialokasikan pada APBD Kabupaten/Kota. Departemen Kesehatan dalam pelaksanaan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana telah mengalokasikan anggaran APBN yang penggunaanya disusun, antara lain ; obat, bahan habis pakai, dan alat kesehatan. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan tersebut terdapat kebijakan yang menyatakan pada masa tanggap darurat pelayanan kesehatan dijamin oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pelayanan kesehatan pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana disesuaikan dengan kebijakan Menteri Kesehatan dan Pemda Setempat. Tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut sedikit berbeda dengan hasil wawancara secara mendalam dengan informan koordinator posko pengungsian, salah satu pengungsi yang berobat ke rumah sakit umum Kabanjahe harus membeli obat sendiri.
5.3. Koordinasi
Koordinasi yang solid sering dinyatakan terbukti mampu mengurangi kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh suatu bencana dan sekaligus merupakan faktor sukses utama di dalam penanganan bencana. Menurut pendapat Hasibuan
(2007) bahwa koordinasi dapat berlangsung secara vertikal (yaitu diantara berbagai pihak diberbagai level yang berbeda didalam penanganan bencana) dan secara horizontal (antar pihak pada level yang sama di dalam rantai penanganan yang sama).
Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam melakukan penanganan korban bencana erupsi Gunung Sinabung melakukan kedua koordinasi tersebut. Kedudukan rumah sakit terhadap supra struktural pada saat bencana dari luar rumah sakit maka rumah sakit bersikap siapsiaga/standby. Supra struktural adalah hubungan yang terjalin melalui garis koordinasi dengan direktur rumah sakit. Direktur rumah sakit memberikan instruksi kepada tim penanggulangan bencana untuk langkah-langkah lebih lanjut sesuai hasil koordinasi dengan pihak supra struktural. Tim penanggulangan bencana juga berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya seperti rumah sakit lainnya, PMI, SAR dan Pimpinan SKPD lainnya guna memperlancar pelaksanaan penanganan bencana. gambaran koordinasi RSU Kabanjahe dapat dilihat pada gambar berikut ini ;
Gambar 5.1. Koordinasi RSU Kabanjahe dalam Penanganan Bencana Erupsi Gunung Sinabung Tahun 2014
Pada masa tanggap darurat RSU Kabanjahe melakukan koordinasi setiap harinya di Media Center dengan tim pendamping BNPB, BPBD Kabupaten Karo, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, PMI, SAR dan instansi SKPD lainnya, dan Direktur RSU Kabanjahe melakukan dengan unit pelayanan di lingkungan rumah sakit Kabanjahe yang dilakukan seminggu sekali dengan pejabat struktural RSU Kabanjahe yang sekaligus anggota tim penanggulangan bencana
Menurut Gulick dalam Pinkowski (2008) yang mengatakan dalam teorinya bahwa banyak orang yang bekerjasama dan menghasilkan hasil yang baik terjadi saat orang-orang berada dalam divisi kerja. berdasarkan hal itu dengan koordinasi yang telah dilakukan diharapkan penanggulangan korban bencana erupsi Gunung Sinabung di Tanah Karo dapat berjalan dengan baik.
Dinas Kesehatan Provinsi
Dinas Kesehatan Kab/kota
Direktur RS
Tim Penanggulangan Bencana
• RS Lain
• PMI
• SKPD
Selain Rumah sakit sebagai layanan publik juga merupakan salah satu posko kesehatan. Rumah sakit Kabanjahe tetap standby kapan saja dibutuhkan, mobil ambulans digunakan untuk menjemput dan mengantar pengungsi yang membutuhkan pertolongan baik ke posko maupun ke desanya. Menurut informan dari tim pendamping BNPB, rumah sakit Kabanjahe juga ikut terlibat pada saat evakuasi korban yang terkena awan panas yang menyebabkan beberapa orang meninggal dan terluka, tim rumah sakit turut serta dalam kegiatan evakuasi dengan mengirimkan tim medis dan mobil ambulans.
Dalam hal Logistik Obat-obatan rumah sakit mengalami kekurangan obat-obatan dan mengajukan usulan permintaan obat ke Dinas Kesehatan Kabupaten Karo. Dinas Kesehatan Kabupaten Karo siap memberikan bantuan obat-obatan yang dibutuhkan Rumah Sakit Umum Kabanjahe. Rumah sakit Umum Kabanjahe juga telah menjalin jejaring pihak distributor misalnya meminjam oksigen untuk penanganan korban bencana serta rumah sakit ada menerima bantuan obat-obatan dari pihak swasta seperti dengan PT Pentavalena. Hal ini sejalan dengan pendapat Rowland (2004) bahwa koordinasi dalam penanganan bencana melibatkan multi sektor.
SPGDT (sistem penanggulangan gawat darurat terpadu) adalah suatu sistem pelayanan penderita gawat darurat yang terdiri dari unsur pelayanan pra rumah sakit, pelayanan di rumah sakit dan pelayanan antar rumah sakit. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life saving. yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum, awam khusus, petugas medis,
pelayanan ambulan gawat darurat dan sistem komunikasi. SPGDT merupakan adalah sistem koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita.
Di Kabupaten Karo Sistem ini belum ada dilakukan, tetapi dalam melakukan evakuasi seperti penanganan korban yang terkena awan panas, semua tim bekerjasama dalam mengevakuasi korban seperti Tim SAR, Polri, TNI, tenaga sukarelawan, tim kesehatan RSU Kabanjahe, PMI, Tim Pendamping BNPB dan masyarakat. Menurut informan Tim pendamping BNPB korban yang meninggal di evakuasi ke RSU Kabanjahe dan yang terluka ke RS Efarina Etaham. Selama ini belum ada sosialisasi SPGDT dimasyarakat apa dan bagaimana dan kemana harus berkomunikasi bila menghadapi kegawatdaruratan akibat bencana padahal sejak tahun 2000 Kemenkes sudah mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu sehari maupun bencana (SPGDT S/B) dan pada tanggal 29 Agustus 2012 Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara sudah mengadakan simulasi SPGT Bencana dengan mengundang semua Kepala Dinas Kesehatan dan pimpinan rumah sakit dan melibatkan tim SAR, Kepolisian dan TNI.
BAB 6