Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari letak negara Indonesiayang berada dalam wilayah Pacific Ring of Fire (deretan gunung berapi Pasifik) yang bentuknya melengkung dari utara pulau Sumatera-Jawa-Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Indonesia memiliki 13 % jumlah gunung api di dunia atau 129 gunungapi, selain itu berdasarkan data PVMBG 60% dari jumlah gunungapi yang ada di Indonesia yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia dan merupakan gunungapi yang memiliki potensi letusan yang cukup besar. (PVMBG)
Letusan gunung berapi merupakan salah satu fenomena yang menjadi perhatian utama di Indonesia, disebabkan bencana alam letusan gunung berapi menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang amat besar. Letusan gunung berapi dapat menimbulkan gejala vulkanik seperti erupsi gunung berapi. Erupsi gunung berapi membawa awan panas serta material vulkanik yang amat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Selain dapat menimbulkan luka bakar, secara umum dampak letusan gunung berapi yang perlu diwaspadai terbagi dua yaitu dampak akibat padatan/debu dan gas yang memiliki potensi bahaya bagi kesehatan masyarakat. Debu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan iritasi
1
mata, hal ini lebih serius lagi apabila debu tersebut mengandung beberapa unsur logam seperti SO2, karena reaksi alam dapat membentuk unsur sulfat yang sangat iritatif baik pada kulit, mata maupun saluran pernafasan. Selain itu, gas CO bersifat mengikat oksigen, bila terhirup, orang bisa meninggal karena kekurangan oksigen.
(www.depkes.go.id.14 Feb.2014).
Secara Geografis letak Kabupaten Karo berada diantara 2º50’–3º19’ Lintang Utara dan 97º55’–98º38’ Bujur Timur dengan luas 2.127,25 Km2 atau 2,97 persen dari luas Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dan terdapat dua gunungapi terletak di jajaran bukit barisan tersebut yaitu gunung Sinabung dan gunung Sibayak dan kedua Gunungapi tersebut saling berdekatan, dan gunung Sinabung merupakan gunung dengan puncak tertinggi di provinsi Sumatera Utara.
Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter dan berbentuk strato.
(www.karokab.go.id)
Pada awalnya Gunung Sinabung adalah Gunung Api strato tipe B atau sejarah letusannya tidak tercatat meletus sejak tahun 1600-an. Namun untuk pertama kali setelah lebih dari 400 tahun tidak ada aktivitasnya, kemudian terjadi letusan pada 27 Agustus 2010, dan mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi
"Awas". Letusan tersebut diikuti jatuhan abu vulkanik yang menyebar ke Timur-Tenggara Gunung Sinabung dan menutupi Desa Sukameriah, Gungpitu, Sigarang-garang, Sukadnebi, dan Susuk. Sejak saat itu Gunung Sinabung diklarifikasikan tipe A. (www.merdeka.com,30 Des 2013)
Erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2010 mengakibatkan ada sebanyak 25.662 jiwa mengungsi, yang tersebar di 24 titik pengungsian, dan yang mendapat pengobatan di Pos Kesehatan sebanyak 8.522 pengungsi. Kasus terbanyak yang ditangani adalah ISPA (39,1%), Anxietas/ gangguan jiwa ringan (24,0%), Gastritis/ gangguan lambung (16,0%), Konjungtivitis/ mata merah (12,4%), Diare (4,96%), Hipertensi (2,9%), dan Dermatitis/ penyakit kulit (0,7%). Korban rawat inap di RSU Kabanjahe sebanyak 65 orang dengan jenis penyakit yang diderita antara lain ISPA, Dyspepsia/ gangguan pencernaan, Hipertensi, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)/ penyakit pernapasan, Diare, TB Paru dan Vulnus laceratum/ luka robek. Data tersebut berdasarkan laporan Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes RI sampai tanggal 2 September 2010 yang dihimpun dari Dinas Kesehatan setempat. (Foto.soup.io)
Paska penurunan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, yaitu dari status Awas menjadi Siaga pada tanggal 23 September 2010 dan dari Siaga menjadi Waspada pada tanggal 7 Oktober 2010, aktivitas vulkanik cenderung menurun namun dengan fluktuasi. Pemantauan dengan metoda visual, seismik, dan deformasi terus dilakukan untuk melakukan penilaian tingkat aktivitas Gunung Sinabung.
Tanggal 15 september 2013 aktivitas Gunung Sinabung meningkat sehingga status Gunung Sinabung dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Tanggal 24 November 2013 Status gunung Sinabung menjadi “Awas”, dan sampai dengan tanggal 9 Februari 2014 Jumlah pengungsi mencapai 33.355 jiwa (10.297 KK) dengan 42 titik pengungsian dan pada tanggal 8 April 2014 status Gunung sinabung diturunkan ke
level III (Status Siaga). Masa tanggap darurat masih terus diperpanjang walaupun status gunung Sinabung sudah diturunkan menjadi status Siaga dan desa radius kurang dari 3 km dengan jumlah penduduk sebanyak 12.809 Jiwa (2996 KK) tidak diperbolehkan kembali ke desa mereka dan akan di relokasikan.
Pada Situasi bencana, rumah sakit akan menjadi tujuan akhir dalam penanganan korban bencana dan yang paling sering muncul di rumah sakit adalah saat adanya penderita dalam jumlah banyak, yang harus dilayani sehingga akan melebihi kapasitas rumah sakit. Hal inilah yang sering dilihat oleh masyarakat ketika bencana itu terjadi. Padahal, baik atau buruknya respon rumah sakit terhadap bencana sangat tergantung dari serangkaian aktifitas yang sudah dilakukan jauh sebelumnya.
Aktifitas-aktifitas persiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana inilah yang sering kali menjadi persoalan di Indonesia, karena sering kali tidak dilakukan karena berbagai alasan rumah sakit, dimana hal ini akan memperparah bila terjadi kekurangan logistik dan Sumber daya manusia. (Ramli, 2010)
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat dan rumah sakit merupakan salah satu lembaga publik yang terlibat langsung dalam merespon suatu bencana yang terjadi dalam wilayah kerjanya. Dalam Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (pasal 29) menyebutkan bahwa Rumah Sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan pada saat bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya dan memiliki
sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.(UU, RI.No.44 Tahun 2009)
Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 448/Menkes/SK/VI/1993 tentang pembentukan Tim Kesehatan Penanggulangan Bencana disetiap Rumah Sakit dan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 129//Menkes/SK/II/2008 tentang Standart Pelayanan Minimal Rumah Sakit bahwa dalam setiap unit gawat darurat (IGD) Rumah Sakit harus terdapat satu tim Penanggulangan Bencana. Selain harus adanya Tim Penanggulangan Bencana ada dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh Rumah Sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan pelayanan medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan menejerial (Management Support).
(Depkes, RI. 2009)
Untuk itu pihak manajemen rumah sakit harus mempunyai persiapan khusus ataupun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terutama rumah sakit yang berada di daerah rawan bencana seperti bencana erupsi gunungapi. Kesiapsiagaan menurut Nick Carter (1991) adalah tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas dan individu mampu menanggapi suatu situasi bencana dengan cepat dan tepat guna. Membangun kesiapan terhadap bencana wajib dilakukan oleh semua rumah sakit, dengan dasar pemikiran bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, baik dari dalam (internal) rumah sakit maupun dari luar rumah sakit.
Dari beberapa penelitian terkesan bahwa rumah sakit sering kali tidak menunjukan kesiapan yang memadai menghadapi bencana yang ada di sekitar
wilayah kerjanya. Akibatnya disetiap kejadian bencana, hambatan dan kekurangan-kekurangan yang sama selalu terjadi (terulang kembali). Salah satu penyebab ketidaksiapan Rumah Sakit tersebut adalah belum adanya petunjuk yang baku sehingga belum ada persepsi yang sama terhadap kesiapan Rumah sakit menghadapi bencana. Disisi lain, pada keadaan tertentu rumah sakit dapat menjadi korban dari bencana, seperti kejadian Tsunami di Aceh pada tahun 2004 rumah sakit mengalami
“total collapse” dari semua sistem yang ada di rumah sakit begitu juga dengan kejadian gempa bumi di Yokyakarta, Rumah sakit mengalami “colaps function“
sementara waktu (Dirjen Yanmed Depkes RI, 2009).
Dalam penelitian Ismunandar, dkk. (2012) Mengemukan bahwa Rumah Sakit Daerah Undata Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rumah sakit rujukan Provinsi belum siapsiaga dalam penanggulangan bencana meskipun Rumah Sakit Daerah Undata Palu, sudah membentuk Tim Penanggulangan bencana, secara tertulis tim tersebut sudah dibentuk pada tahun 2006 tetapi tidak aktif/berfungsi sebagaimana mestinya, hal ini disebabkan karena tim ini dibentuk hanya untuk memenuhi kebutuhan akreditasi rumah sakit. (Ismunandar, dkk, 2012), begitu juga dalam penelitian Eddy Suhardi Sarim (2003), bahwa Rumah Sakit Umum sewilayah Cirebon tidak siap menghadapi kegawatdaruratan bencana dengan alasan kekurangan dukungan para direktur rumah sakit umum terhadap Sistem penangan Gawat darurat terpadu-bencana (SPGDT-Bencana), standar pelayanan yang kurang dan juga keterbatasan rumah sakit. (Eddy Suhardi Sarim, 2003)
Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah Rumah Sakit Kelas C milik Pemerintah Kabupaten Karo yang merupakan rumah sakit rujukan untuk penanganan korban bencana erupsi gunung Sinabung disamping RS. Efarina Etaham dan RS Amanda. Dari survai awal yang dilakukan, pihak manajemen rumah sakit telah membentuk Tim Penanggulangan Bencana setelah gunung Sinabung mengalami erupsi pada tahun 2010 tetapi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan belum adanyan perencanaan rumah sakit akan penanggulangan bencana di rumah sakit (hospital disaster preparedness) baik bencana dari dalam lingkungan RS maupun dari luar rumah sakit.
Jumlah kunjungan pasien rawat jalan pada tahun 2013 sebanyak 40.054 kunjungan dan rawat inap sebanyak 4.114 orang. Sejak terjadinya Erupsi Gunung Sinabung pada tanggal 15 September 2013 sampai dengan tanggal 7 Januari 2014 pengungsi yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah sebanyak 175 orang dengan diagnosa terbanyak adalah febris dan dispepsia, dan pengungsi yang rawat jalan sebanyak 270 orang dengan diagnosa penyakit terbanyak adalah conjungtivitis dan ISPA. (Rekam Medik RSU Kabanjahe, 2014). Sampai dengan tanggal 21 Januari pengungsi yang meninggal 32 orang di beberapa rumah sakit di Kabanjahe dan 17 orang meninggal akibat langsung dari awan Panas. (Posko kesehatan Kabanjahe)
Dengan mengacu pada latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana alam erupsi gunung Sinabung tahun 2014.
1.6. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam Penanganan korban Bencana Erupsi Gunung Sinabungdi Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.
1.7. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dalam Penanganan Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.
1.8. Manfaat Penelitian 1.8.1. Bidang Keilmuan
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi ilmu Manajemen Kesehatan Bencana sehingga Kesiapan Manajemen Rumah Sakit dalam menghadapi Bencana dapat dilaksanakan sesuai dengan kajian-kajian ilmiah dalam penanggulangan bencana
b. Penelitian ini sebagai bahan pengetahuan untuk memperluas bahan penelitian dalam bidang ilmu manajemen kesehatan bencana
1.8.2. Program Studi S2 FKM-USU
Menambah bahan masukan dan kontribusi dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan Manajmen Kesehatan Bencana.
1.8.3. Bagi Rumah Sakit
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan masukan bagi Rumah Sakit untuk lebih meningkatkan kesiapan manajemen rumah sakit dalam menghadapi bencana.
BAB 2