• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM"

Copied!
174
0
0

Teks penuh

(1)

KESIAPAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT UMUM KABANJAHE DALAM PENANGANAN KORBAN BENCANA ERUPSI GUNUNG SINABUNG

DI KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2014

TESIS

Oleh

LISBETH PAKPAHAN 127032180/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2014

(2)

KESIAPANAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT UMUM KABANJAHE DALAM PENANGANAN KORBAN BENCANA ERUPSI

GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA

TAHUN 2014

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarkat

Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

LISBETH PAKPAHAN 127032180/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2014

(3)

Judul Tesis : KESIAPAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT UMUM KABANJAHE DALAM PENANGANAN KORBAN BENCANA ERUPSI GUNUNG

SINABUNG DI KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2014

Nama Mahasiswa : Lisbeth Pakpahan Nomor Induk Mahasiswa : 127032180 /IKM

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Manajemen Kesehatan Bencana

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D.) (Abdul Muthalib, S.H, M.A.P Ketua Anggota

)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 22 Juli 2014

(4)

Telah Diuji

pada Tanggal : 22 Juli 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Drs. Amir Purba, M.A. Ph.D Anggota : 1. Abdul Muthalib, S.H. M.A.P

2. Drs. Amru Nasution, M.Kes 3. dr. Taufik Ashar, M.K.M

(5)

PERNYATAAN

KESIAPAN MANAJEMENEN RUMAH SAKIT UMUM KABANJAHE DALAM PENANGANAN KORBAN BENCANA ERUPSI

GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA

TAHUN 2014

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, September 2014

Lisbeth Pakpahan 127032180/IKM

(6)

ABSTRAK

Indonesia berada dalam deretan gunung berapi pasifik, dan memiliki 129 gunung api aktif, dua diantaranya berada di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Pada tahun 2010 Gunung Sinabung penah mengalami erupsi dan Agustus 2013 kembali mengalami erupsi, dan akibatnya 32.303 orang mengungsi ke 42 titik pengungsian. Institusi Kesehatan terutama Rumah Sakit selalu memegang peran yang sangat penting pada setiap kejadian bencana, akan tetapi masih banyak Rumah Sakit tidak menunjukkan kesiapan yang memadai menghadapi bencana.

Untuk itu manajemen Rumah Sakit harus mempunyai kesiapan dalam penanganan bencana diantaranya mempunyai Tim Penanggulangan Bencana, rencana penanggulangan Bencana Rumah Sakit, Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Sarana yang cukup, memiliki prosedur khusus dan biaya untuk penanganan korban bencana.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana tahun 2014. Penelitian ini dilaksanakan di RSU Kabanjahe, mulai dari Mei s/d Juni 2014.

Metode penelitian ini adalah desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tehnik Pengambilan Informan dalam penelitian ini Purposive sampling,dan dilanjukan secara snow ball sampling. Sampel dipilih menurut tujuan penelitian, dan Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan audiovisual. Data dianalisis secara kualitatif dengan metode induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit belum ada disusun dan Tim penanggulangan bencana Rumah Sakit baru dibentuk, SDM Kesehatan masih mencukupi tetapi perlu peningkatan kapasitas SDM Kesehatan, fasilitas dan sarana untuk penanganan korban bencana masih kurang, SOP penanggulangan bencana belum ada, tidak mempunyai anggaran khusus untuk penanganan korban bencana.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan kepada RSU Kabanjahe untuk menyusun dokumen rencana penanggulangan RS, melakukan pelatihan kegawatdararutan/kebencanaan, menglengkapi fasilitas sarana dan prasaran yang mendukung penanganan bencana, memyusun prosedur khusus dan mempunyai anggaran khusus untuk penanganan korban bencana.

Kata Kunci : Kesiapan Manajemen Rumah Sakit, Penanganan, Korban Bencana

i

(7)

ABSTRACT

Indonesia is located in the ring of Pacific volcanoes; it has 129 active volcanoes and two of them, Mount Sibayak and Mount Sinabung, are located in Karo District. In 2010, Mount Sinabung was erupted and in August 2013 it was erupted again which caused 32,303 people to evacuate to 42 evacuation camps. Health institution, particularly hospitals, always plays its important role in every disaster incidence although many hospitals do not prepare for facing disasters.

Therefore, the management of a hospital must be ready to handle a disaster by having Disaster Responsiveness Team, planning for handling hospital disaster, adequate human resources in health and facility, having specific procedures and cost for handling disaster victims. The objective of the research was to find out the preparedness of RSU Kabanjahe in handling disaster victims in 2014. The research was conducted at RSU Kabanjahe from May to June, 2014.

The research used qualitative design with phenomenological approach.

Informants were obtained by using purposive sampling technique, followed by snowball sampling technique. The samples were selected according to the objective of the research, and the data were gathered by conducting observation, interviews, documentation, and audiovisuals and analyzed qualitatively with deductive method.

The result of the research showed that the planning for handling hospital disaster had not yet been organized, the team for handling hospital disaster was just established, human resources in health was adequate but their capacity needed to be improved, facility for handling disaster victims was insufficient, there was no SOP for handling disaster, and there was no special budget for handling disaster victims.

It is recommended that the management of RSU Kabanjahe organize the document of hospital disaster planning, provide training about emergency/disaster, provide equipment and infrastructure which support the handling of disaster, organize special procedure, and own special budget for handling disaster.

Keywords : Preparedness of Hospital Management, Handling, Disaster Victims

ii

(8)

KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur penulis dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul " Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam Penanganan Korban Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013”.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencanaja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

iii

(9)

4. Drs. Amir Purba, MA, Ph.D selaku Pembimbing I (satu) dan Abdul Muthalib Lubis, S.H, M.A.P selaku pembimbing II (dua) atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dan perhatian selama proses proposal hingga tesis ini selesai.

5. Drs. Amru Nasution, M.Kes selaku Penguji I (satu) dan dr. Taufik Ashar, M.K.M selaku penguji II (dua), yang telah memberikan saran dan bimbingan selama penulisan tesis ini.

6. Direktur Rumah Sakit Umum Kabanjahe yang telah memberikan ijin penelitian di RSU Kabanjahe.

7. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karo yang telah memberikan kesempatan dan bantuan dalam pengambilan data dan informasi penelitian.

8 Dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Manajemen Kesehatan Bencana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

9. Kepala Tata Usaha, Kepala Bidang Pelayanan Medik, Kepala Bidang Bina Program, Kepala Seksi Pendidikan dan Pelatihan, Kepala Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Kabanjahe Kabuapeten Karo dan Koordinator Posko Pengungsi Mesjid Istiqal Berastagi dan GBKP Simpang Enam Kabanjahe yang telah memberikan waktu dan kesempatan dalam menyelesaikan penelitian.

10. Teristimewa buat suami tercinta Tuahman Raya Tarigan S. SOS, beserta anak- anakku terkasih Anggita Cinthia Tarigan, Anggreni Noverina Tarigan dan

iv

(10)

Anggela Yulia Putri Tarigan yang selalu memberi doa, kasih sayang, motivasi dan berkorban baik moril maupun materil kepada penulis.

11. Orang tuaku tercinta, St. M. Tarigan dan Ibunda L. Br Saragih yang telah memberikan kasih sayang, pertolongan dan doa selama ini.

12. Rekan-rekan sekerja Magdarentha, S.K.M. M.Kes, Edwin Tambun, Emma Marbun, S.K.M, Linda Magdalena, Dameria Sinaga, Helena Hutauruk dan teman-teman lainnya yang telah memberi dukungan selama ini.

13. Rekan-rekan seperjuangan Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Angkatan 2012 Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana.

Penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, September 2014 Penulis

Lisbeth Pakpahan 127032180/IKM

v

(11)

RIWAYAT HIDUP

Lisbeth Pakpahan, lahir pada tanggal 10 Oktober 1970 di Banda Aceh Provinsi Aceh, anak dari pasangan Ayahanda Hisar Pakpahan dan Ibunda Sabar Butar-butar.

Pendidikan formal penulis dimulai dari sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri 060925 Medan, tamat Tahun 1983, Sekolah Menengah Pertama SMPN 20 Medan tamat Tahun 1986, Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas Negri 5 Medan, tamat Tahun 1989, Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, tamat Tahun 1994.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2012.

Pada tahun 1995 penulis bekerja di Dinas Kesehatan Aceh Tenggara sebagai Kepala Seksi Peran Serta Masyarakat dan Tahun 2009 bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara sebagai Staf Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan sampai dengan sekarang.

vi

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Manajemen ... 10

2.1.1. Fungsi Manajemen ... 11

2.1.2. Unsur Manajemen ... 13

2.2. Manajemen Rumah Sakit ... 16

2.2.1. Fungsi Perencanaan (Planning) ... 17

2.2.2. Fungsi Pelaksanaan (Actuating) ... 17

2.2.3. Fungsi Koordinasi ... 18

2.3. Bencana ... 23

2.3.1. Bencana Erupsi Gunungapi ... 23

2.3.2. Elemen Letusan Gunung Api ... 24

2.4. Kesiapsiagaan ... 26

2.5. Tim Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit ... 27

2.5.1. Dukungan Pelayanan Medis dan Dukungan Manajerial .. 30

2.6. Perencanaan Penanggulangan Bencana Rumah Sakit (Hospital Disaster Preparedness) ... 32

2.7. Sumber Daya Manusia Kesehatan ... 33

2.7.1. Peningkatan Kapasitas. ... 36

2.8. Fasilitas Sarana dan Prasarana ... 38

2.9. Standart Operasional Prosedur ... 40

2.9.1. Pengertian SOP ... 40

2.9.2. Tujuan SOP ... 41

2.9.3. Jenis SOP ... 42

2.9.4. Prinsip ... 42

vii

(13)

2.9.5. SOP Dalam Penanganan Kegawatdaruratan Bencana ... . 43

2.10. Ketersediaan Anggaran ... 44

2.10.1. Penyusunan Anggaran ... 45

2.10.2. Sumber Anggaran ... 46

2.11. Kerangka Pikir ... 46

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 49

3.1. Jenis Penelitian ... 49

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

3.3. Informan Penelitian. ... 49

3.4. Fokus Penelitian ... 51

3.5. Jenis dan Sumber Data. ... 51

3.6. Instrumen Penelitian. ... 52

3.7. Metode Pengumpulan Data.. ... 52

3.8. Metode Analisa Data ... 54

3.9. Keabsahan Data ... 54

BAB 4. HASIL PENELITIAN... 56

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 56

4.1.1. Visi dan Misi RSU Kabanjahe ... 58

4.1.2. Motto dan Tujuan RSU Kabanjahe ... 58

4.1.3. Program dan Kegiatan RSU Kabanjahe ... 59

4.1.4. Fasilitas dan Prasarana Rumah Sakit ... 62

4.1.5. Sumber Daya Manusia ... 64

4.1.6. Jumlah Kunjungan Pasien ... 65

4.1.7. Standar Pelayanan Minimal RSU Kabanjahe…….. ... 68

4.2. Karakteristik Informan ... 70

4.3. Pelaksanaan Penelitian ... 73

4.4. Perencanaan ... 74

4.4.1. Rencana Penanggulanan Bencana RS (Hosdip) ... 75

4.4.2. Sumber Daya Manusia Kesehatan Rumah Sakit ... 78

4.4.3. Fasilitas dan Prasarana Rumah Sakit ... 81

4.4.4. Standar Operasional Prosedur (SOP) ... 82

4.4.5. Ketersediaan Anggaran ... 84

4.5. Pelaksanaan ... 87

4.5.1. Tim Penanggulangan Bencana Rumah Sakit ... 87

4.5.2. Sumber Daya Manusia Kesehatan Rumah Sakit ... 90

4.5.3. Fasilitas dan Prasarana Rumah Sakit ... 93

4.5.4. Standar Operasional Prosedur (SOP) ... 96

4.5.5. Ketersediaan Anggaran ... 97

4.6. Koordinasi ... 101

viii

(14)

BAB 5. PEMBAHASAN ... 108

5.1. Perencanaan ... 108

5.1.1. Rencana Penanggulanan Bencana RS (Hosdip) ... 108

5.1.2. Tim Penanggulangan Bencana. ... 112

5.1.3. Sumber Daya Manusia Kesehatan Rumah Sakit ... 117

5.1.4. Fasilitas dan Prasarana Rumah Sakit ... 120

5.1.5. Standar Operasional Prosedur (SOP) ... 121

5.1.6. Ketersediaan Anggaran ... 123

5.2. Pelaksanaan ... 123

5.2.1. Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit dan Tim Penanggulangan Bencana ... 124

5.2.2. Sumber Daya Manusia Kesehatan Rumah Sakit ... 125

5.2.3. Fasilitas dan Prasarana Rumah Sakit ... 127

5.2.4. Standar Operasional Prosedur ... 128

5.2.5. Ketersediaan Anggaran ... 130

5.3. Koordinasi ... 131

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 136

6.1. Kesimpulan ... 136

6.2. Saran ... 137

DAFTAR PUSTAKA ... 139

LAMPIRAN ... 143

ix

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

4.1. Jenis Pelayanan Rawat Jalan di RSUD Kabanjahe ... 62

4.2. Jenis Pelayanan Rawat Inap dan Jumlah Tempat Tidur ... 63

4.3. Jenis Instansi Penunjang Medis/Non Medis ... 63

4.4. Jumlah Sumber Daya Manusia Kesehatan RSUD Kabanjahe ... 64

4.5. Data Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan RSU Kabanjahe Tahun 2012 ... 65

4.6. Data Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan RSU Kabanjahe Tahun 2013 ... 66

4.7. Jumlah Kunjungan Pasien Korban Bencana Erupsi Gunung Sinabung di RSU Kabanjahe Tahun 2014 ... 66

4.8. Data 10 (Sepuluh) Penyebab Kematian Terbesar Pasien di RSU Kabanjahe ... 67

4.9. Data 10 (Sepuluh) Penyakit Tertinggi Rawat Inap RSU Kabanjahe Tahun 2013 ... 68

4.10. Standar Pelayanan Miniman RSU Kabanjahe. ... 69

x

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Kerangka Pikir Penelitian ... 48 5.1. Koordinasi RSU Kabanjahe dalam Penanganan Bencana Erupsi

Gunung Sinabung Tahun 2014……….. ... 133

xi

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.5. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari letak negara Indonesiayang berada dalam wilayah Pacific Ring of Fire (deretan gunung berapi Pasifik) yang bentuknya melengkung dari utara pulau Sumatera-Jawa- Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Indonesia memiliki 13 % jumlah gunung api di dunia atau 129 gunungapi, selain itu berdasarkan data PVMBG 60% dari jumlah gunungapi yang ada di Indonesia yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia dan merupakan gunungapi yang memiliki potensi letusan yang cukup besar. (PVMBG)

Letusan gunung berapi merupakan salah satu fenomena yang menjadi perhatian utama di Indonesia, disebabkan bencana alam letusan gunung berapi menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang amat besar. Letusan gunung berapi dapat menimbulkan gejala vulkanik seperti erupsi gunung berapi. Erupsi gunung berapi membawa awan panas serta material vulkanik yang amat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Selain dapat menimbulkan luka bakar, secara umum dampak letusan gunung berapi yang perlu diwaspadai terbagi dua yaitu dampak akibat padatan/debu dan gas yang memiliki potensi bahaya bagi kesehatan masyarakat. Debu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan iritasi

1

(18)

mata, hal ini lebih serius lagi apabila debu tersebut mengandung beberapa unsur logam seperti SO2, karena reaksi alam dapat membentuk unsur sulfat yang sangat iritatif baik pada kulit, mata maupun saluran pernafasan. Selain itu, gas CO bersifat mengikat oksigen, bila terhirup, orang bisa meninggal karena kekurangan oksigen.

(www.depkes.go.id.14 Feb.2014).

Secara Geografis letak Kabupaten Karo berada diantara 2º50’–3º19’ Lintang Utara dan 97º55’–98º38’ Bujur Timur dengan luas 2.127,25 Km2 atau 2,97 persen dari luas Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dan terdapat dua gunungapi terletak di jajaran bukit barisan tersebut yaitu gunung Sinabung dan gunung Sibayak dan kedua Gunungapi tersebut saling berdekatan, dan gunung Sinabung merupakan gunung dengan puncak tertinggi di provinsi Sumatera Utara.

Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter dan berbentuk strato.

(www.karokab.go.id)

Pada awalnya Gunung Sinabung adalah Gunung Api strato tipe B atau sejarah letusannya tidak tercatat meletus sejak tahun 1600-an. Namun untuk pertama kali setelah lebih dari 400 tahun tidak ada aktivitasnya, kemudian terjadi letusan pada 27 Agustus 2010, dan mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi

"Awas". Letusan tersebut diikuti jatuhan abu vulkanik yang menyebar ke Timur- Tenggara Gunung Sinabung dan menutupi Desa Sukameriah, Gungpitu, Sigarang- garang, Sukadnebi, dan Susuk. Sejak saat itu Gunung Sinabung diklarifikasikan tipe A. (www.merdeka.com,30 Des 2013)

(19)

Erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2010 mengakibatkan ada sebanyak 25.662 jiwa mengungsi, yang tersebar di 24 titik pengungsian, dan yang mendapat pengobatan di Pos Kesehatan sebanyak 8.522 pengungsi. Kasus terbanyak yang ditangani adalah ISPA (39,1%), Anxietas/ gangguan jiwa ringan (24,0%), Gastritis/ gangguan lambung (16,0%), Konjungtivitis/ mata merah (12,4%), Diare (4,96%), Hipertensi (2,9%), dan Dermatitis/ penyakit kulit (0,7%). Korban rawat inap di RSU Kabanjahe sebanyak 65 orang dengan jenis penyakit yang diderita antara lain ISPA, Dyspepsia/ gangguan pencernaan, Hipertensi, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)/ penyakit pernapasan, Diare, TB Paru dan Vulnus laceratum/ luka robek. Data tersebut berdasarkan laporan Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes RI sampai tanggal 2 September 2010 yang dihimpun dari Dinas Kesehatan setempat. (Foto.soup.io)

Paska penurunan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, yaitu dari status Awas menjadi Siaga pada tanggal 23 September 2010 dan dari Siaga menjadi Waspada pada tanggal 7 Oktober 2010, aktivitas vulkanik cenderung menurun namun dengan fluktuasi. Pemantauan dengan metoda visual, seismik, dan deformasi terus dilakukan untuk melakukan penilaian tingkat aktivitas Gunung Sinabung.

Tanggal 15 september 2013 aktivitas Gunung Sinabung meningkat sehingga status Gunung Sinabung dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Tanggal 24 November 2013 Status gunung Sinabung menjadi “Awas”, dan sampai dengan tanggal 9 Februari 2014 Jumlah pengungsi mencapai 33.355 jiwa (10.297 KK) dengan 42 titik pengungsian dan pada tanggal 8 April 2014 status Gunung sinabung diturunkan ke

(20)

level III (Status Siaga). Masa tanggap darurat masih terus diperpanjang walaupun status gunung Sinabung sudah diturunkan menjadi status Siaga dan desa radius kurang dari 3 km dengan jumlah penduduk sebanyak 12.809 Jiwa (2996 KK) tidak diperbolehkan kembali ke desa mereka dan akan di relokasikan.

Pada Situasi bencana, rumah sakit akan menjadi tujuan akhir dalam penanganan korban bencana dan yang paling sering muncul di rumah sakit adalah saat adanya penderita dalam jumlah banyak, yang harus dilayani sehingga akan melebihi kapasitas rumah sakit. Hal inilah yang sering dilihat oleh masyarakat ketika bencana itu terjadi. Padahal, baik atau buruknya respon rumah sakit terhadap bencana sangat tergantung dari serangkaian aktifitas yang sudah dilakukan jauh sebelumnya.

Aktifitas-aktifitas persiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana inilah yang sering kali menjadi persoalan di Indonesia, karena sering kali tidak dilakukan karena berbagai alasan rumah sakit, dimana hal ini akan memperparah bila terjadi kekurangan logistik dan Sumber daya manusia. (Ramli, 2010)

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat dan rumah sakit merupakan salah satu lembaga publik yang terlibat langsung dalam merespon suatu bencana yang terjadi dalam wilayah kerjanya. Dalam Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (pasal 29) menyebutkan bahwa Rumah Sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan pada saat bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya dan memiliki

(21)

sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.(UU, RI.No.44 Tahun 2009)

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 448/Menkes/SK/VI/1993 tentang pembentukan Tim Kesehatan Penanggulangan Bencana disetiap Rumah Sakit dan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 129//Menkes/SK/II/2008 tentang Standart Pelayanan Minimal Rumah Sakit bahwa dalam setiap unit gawat darurat (IGD) Rumah Sakit harus terdapat satu tim Penanggulangan Bencana. Selain harus adanya Tim Penanggulangan Bencana ada dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh Rumah Sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan pelayanan medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan menejerial (Management Support).

(Depkes, RI. 2009)

Untuk itu pihak manajemen rumah sakit harus mempunyai persiapan khusus ataupun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terutama rumah sakit yang berada di daerah rawan bencana seperti bencana erupsi gunungapi. Kesiapsiagaan menurut Nick Carter (1991) adalah tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas dan individu mampu menanggapi suatu situasi bencana dengan cepat dan tepat guna. Membangun kesiapan terhadap bencana wajib dilakukan oleh semua rumah sakit, dengan dasar pemikiran bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, baik dari dalam (internal) rumah sakit maupun dari luar rumah sakit.

Dari beberapa penelitian terkesan bahwa rumah sakit sering kali tidak menunjukan kesiapan yang memadai menghadapi bencana yang ada di sekitar

(22)

wilayah kerjanya. Akibatnya disetiap kejadian bencana, hambatan dan kekurangan- kekurangan yang sama selalu terjadi (terulang kembali). Salah satu penyebab ketidaksiapan Rumah Sakit tersebut adalah belum adanya petunjuk yang baku sehingga belum ada persepsi yang sama terhadap kesiapan Rumah sakit menghadapi bencana. Disisi lain, pada keadaan tertentu rumah sakit dapat menjadi korban dari bencana, seperti kejadian Tsunami di Aceh pada tahun 2004 rumah sakit mengalami

“total collapse” dari semua sistem yang ada di rumah sakit begitu juga dengan kejadian gempa bumi di Yokyakarta, Rumah sakit mengalami “colaps function“

sementara waktu (Dirjen Yanmed Depkes RI, 2009).

Dalam penelitian Ismunandar, dkk. (2012) Mengemukan bahwa Rumah Sakit Daerah Undata Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rumah sakit rujukan Provinsi belum siapsiaga dalam penanggulangan bencana meskipun Rumah Sakit Daerah Undata Palu, sudah membentuk Tim Penanggulangan bencana, secara tertulis tim tersebut sudah dibentuk pada tahun 2006 tetapi tidak aktif/berfungsi sebagaimana mestinya, hal ini disebabkan karena tim ini dibentuk hanya untuk memenuhi kebutuhan akreditasi rumah sakit. (Ismunandar, dkk, 2012), begitu juga dalam penelitian Eddy Suhardi Sarim (2003), bahwa Rumah Sakit Umum sewilayah Cirebon tidak siap menghadapi kegawatdaruratan bencana dengan alasan kekurangan dukungan para direktur rumah sakit umum terhadap Sistem penangan Gawat darurat terpadu-bencana (SPGDT-Bencana), standar pelayanan yang kurang dan juga keterbatasan rumah sakit. (Eddy Suhardi Sarim, 2003)

(23)

Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah Rumah Sakit Kelas C milik Pemerintah Kabupaten Karo yang merupakan rumah sakit rujukan untuk penanganan korban bencana erupsi gunung Sinabung disamping RS. Efarina Etaham dan RS Amanda. Dari survai awal yang dilakukan, pihak manajemen rumah sakit telah membentuk Tim Penanggulangan Bencana setelah gunung Sinabung mengalami erupsi pada tahun 2010 tetapi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan belum adanyan perencanaan rumah sakit akan penanggulangan bencana di rumah sakit (hospital disaster preparedness) baik bencana dari dalam lingkungan RS maupun dari luar rumah sakit.

Jumlah kunjungan pasien rawat jalan pada tahun 2013 sebanyak 40.054 kunjungan dan rawat inap sebanyak 4.114 orang. Sejak terjadinya Erupsi Gunung Sinabung pada tanggal 15 September 2013 sampai dengan tanggal 7 Januari 2014 pengungsi yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah sebanyak 175 orang dengan diagnosa terbanyak adalah febris dan dispepsia, dan pengungsi yang rawat jalan sebanyak 270 orang dengan diagnosa penyakit terbanyak adalah conjungtivitis dan ISPA. (Rekam Medik RSU Kabanjahe, 2014). Sampai dengan tanggal 21 Januari pengungsi yang meninggal 32 orang di beberapa rumah sakit di Kabanjahe dan 17 orang meninggal akibat langsung dari awan Panas. (Posko kesehatan Kabanjahe)

Dengan mengacu pada latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana alam erupsi gunung Sinabung tahun 2014.

(24)

1.6. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam Penanganan korban Bencana Erupsi Gunung Sinabungdi Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

1.7. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dalam Penanganan Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

1.8. Manfaat Penelitian 1.8.1. Bidang Keilmuan

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi ilmu Manajemen Kesehatan Bencana sehingga Kesiapan Manajemen Rumah Sakit dalam menghadapi Bencana dapat dilaksanakan sesuai dengan kajian-kajian ilmiah dalam penanggulangan bencana

b. Penelitian ini sebagai bahan pengetahuan untuk memperluas bahan penelitian dalam bidang ilmu manajemen kesehatan bencana

1.8.2. Program Studi S2 FKM-USU

Menambah bahan masukan dan kontribusi dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan Manajmen Kesehatan Bencana.

(25)

1.8.3. Bagi Rumah Sakit

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan masukan bagi Rumah Sakit untuk lebih meningkatkan kesiapan manajemen rumah sakit dalam menghadapi bencana.

(26)

ABSTRAK

Indonesia berada dalam deretan gunung berapi pasifik, dan memiliki 129 gunung api aktif, dua diantaranya berada di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Pada tahun 2010 Gunung Sinabung penah mengalami erupsi dan Agustus 2013 kembali mengalami erupsi, dan akibatnya 32.303 orang mengungsi ke 42 titik pengungsian. Institusi Kesehatan terutama Rumah Sakit selalu memegang peran yang sangat penting pada setiap kejadian bencana, akan tetapi masih banyak Rumah Sakit tidak menunjukkan kesiapan yang memadai menghadapi bencana.

Untuk itu manajemen Rumah Sakit harus mempunyai kesiapan dalam penanganan bencana diantaranya mempunyai Tim Penanggulangan Bencana, rencana penanggulangan Bencana Rumah Sakit, Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Sarana yang cukup, memiliki prosedur khusus dan biaya untuk penanganan korban bencana.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana tahun 2014. Penelitian ini dilaksanakan di RSU Kabanjahe, mulai dari Mei s/d Juni 2014.

Metode penelitian ini adalah desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tehnik Pengambilan Informan dalam penelitian ini Purposive sampling,dan dilanjukan secara snow ball sampling. Sampel dipilih menurut tujuan penelitian, dan Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan audiovisual. Data dianalisis secara kualitatif dengan metode induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit belum ada disusun dan Tim penanggulangan bencana Rumah Sakit baru dibentuk, SDM Kesehatan masih mencukupi tetapi perlu peningkatan kapasitas SDM Kesehatan, fasilitas dan sarana untuk penanganan korban bencana masih kurang, SOP penanggulangan bencana belum ada, tidak mempunyai anggaran khusus untuk penanganan korban bencana.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan kepada RSU Kabanjahe untuk menyusun dokumen rencana penanggulangan RS, melakukan pelatihan kegawatdararutan/kebencanaan, menglengkapi fasilitas sarana dan prasaran yang mendukung penanganan bencana, memyusun prosedur khusus dan mempunyai anggaran khusus untuk penanganan korban bencana.

Kata Kunci : Kesiapan Manajemen Rumah Sakit, Penanganan, Korban Bencana

i

(27)

ABSTRACT

Indonesia is located in the ring of Pacific volcanoes; it has 129 active volcanoes and two of them, Mount Sibayak and Mount Sinabung, are located in Karo District. In 2010, Mount Sinabung was erupted and in August 2013 it was erupted again which caused 32,303 people to evacuate to 42 evacuation camps. Health institution, particularly hospitals, always plays its important role in every disaster incidence although many hospitals do not prepare for facing disasters.

Therefore, the management of a hospital must be ready to handle a disaster by having Disaster Responsiveness Team, planning for handling hospital disaster, adequate human resources in health and facility, having specific procedures and cost for handling disaster victims. The objective of the research was to find out the preparedness of RSU Kabanjahe in handling disaster victims in 2014. The research was conducted at RSU Kabanjahe from May to June, 2014.

The research used qualitative design with phenomenological approach.

Informants were obtained by using purposive sampling technique, followed by snowball sampling technique. The samples were selected according to the objective of the research, and the data were gathered by conducting observation, interviews, documentation, and audiovisuals and analyzed qualitatively with deductive method.

The result of the research showed that the planning for handling hospital disaster had not yet been organized, the team for handling hospital disaster was just established, human resources in health was adequate but their capacity needed to be improved, facility for handling disaster victims was insufficient, there was no SOP for handling disaster, and there was no special budget for handling disaster victims.

It is recommended that the management of RSU Kabanjahe organize the document of hospital disaster planning, provide training about emergency/disaster, provide equipment and infrastructure which support the handling of disaster, organize special procedure, and own special budget for handling disaster.

Keywords : Preparedness of Hospital Management, Handling, Disaster Victims

ii

(28)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.5. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana geologi yang sangat besar, fakta bahwa besarnya potensi bencana geologi di Indonesia dapat dilihat dari letak negara Indonesiayang berada dalam wilayah Pacific Ring of Fire (deretan gunung berapi Pasifik) yang bentuknya melengkung dari utara pulau Sumatera-Jawa- Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Indonesia memiliki 13 % jumlah gunung api di dunia atau 129 gunungapi, selain itu berdasarkan data PVMBG 60% dari jumlah gunungapi yang ada di Indonesia yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia dan merupakan gunungapi yang memiliki potensi letusan yang cukup besar. (PVMBG)

Letusan gunung berapi merupakan salah satu fenomena yang menjadi perhatian utama di Indonesia, disebabkan bencana alam letusan gunung berapi menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang amat besar. Letusan gunung berapi dapat menimbulkan gejala vulkanik seperti erupsi gunung berapi. Erupsi gunung berapi membawa awan panas serta material vulkanik yang amat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Selain dapat menimbulkan luka bakar, secara umum dampak letusan gunung berapi yang perlu diwaspadai terbagi dua yaitu dampak akibat padatan/debu dan gas yang memiliki potensi bahaya bagi kesehatan masyarakat. Debu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan iritasi

1

(29)

mata, hal ini lebih serius lagi apabila debu tersebut mengandung beberapa unsur logam seperti SO2, karena reaksi alam dapat membentuk unsur sulfat yang sangat iritatif baik pada kulit, mata maupun saluran pernafasan. Selain itu, gas CO bersifat mengikat oksigen, bila terhirup, orang bisa meninggal karena kekurangan oksigen.

(www.depkes.go.id.14 Feb.2014).

Secara Geografis letak Kabupaten Karo berada diantara 2º50’–3º19’ Lintang Utara dan 97º55’–98º38’ Bujur Timur dengan luas 2.127,25 Km2 atau 2,97 persen dari luas Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dan terdapat dua gunungapi terletak di jajaran bukit barisan tersebut yaitu gunung Sinabung dan gunung Sibayak dan kedua Gunungapi tersebut saling berdekatan, dan gunung Sinabung merupakan gunung dengan puncak tertinggi di provinsi Sumatera Utara.

Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter dan berbentuk strato.

(www.karokab.go.id)

Pada awalnya Gunung Sinabung adalah Gunung Api strato tipe B atau sejarah letusannya tidak tercatat meletus sejak tahun 1600-an. Namun untuk pertama kali setelah lebih dari 400 tahun tidak ada aktivitasnya, kemudian terjadi letusan pada 27 Agustus 2010, dan mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi

"Awas". Letusan tersebut diikuti jatuhan abu vulkanik yang menyebar ke Timur- Tenggara Gunung Sinabung dan menutupi Desa Sukameriah, Gungpitu, Sigarang- garang, Sukadnebi, dan Susuk. Sejak saat itu Gunung Sinabung diklarifikasikan tipe A. (www.merdeka.com,30 Des 2013)

(30)

Erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2010 mengakibatkan ada sebanyak 25.662 jiwa mengungsi, yang tersebar di 24 titik pengungsian, dan yang mendapat pengobatan di Pos Kesehatan sebanyak 8.522 pengungsi. Kasus terbanyak yang ditangani adalah ISPA (39,1%), Anxietas/ gangguan jiwa ringan (24,0%), Gastritis/ gangguan lambung (16,0%), Konjungtivitis/ mata merah (12,4%), Diare (4,96%), Hipertensi (2,9%), dan Dermatitis/ penyakit kulit (0,7%). Korban rawat inap di RSU Kabanjahe sebanyak 65 orang dengan jenis penyakit yang diderita antara lain ISPA, Dyspepsia/ gangguan pencernaan, Hipertensi, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)/ penyakit pernapasan, Diare, TB Paru dan Vulnus laceratum/ luka robek. Data tersebut berdasarkan laporan Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes RI sampai tanggal 2 September 2010 yang dihimpun dari Dinas Kesehatan setempat. (Foto.soup.io)

Paska penurunan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, yaitu dari status Awas menjadi Siaga pada tanggal 23 September 2010 dan dari Siaga menjadi Waspada pada tanggal 7 Oktober 2010, aktivitas vulkanik cenderung menurun namun dengan fluktuasi. Pemantauan dengan metoda visual, seismik, dan deformasi terus dilakukan untuk melakukan penilaian tingkat aktivitas Gunung Sinabung.

Tanggal 15 september 2013 aktivitas Gunung Sinabung meningkat sehingga status Gunung Sinabung dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Tanggal 24 November 2013 Status gunung Sinabung menjadi “Awas”, dan sampai dengan tanggal 9 Februari 2014 Jumlah pengungsi mencapai 33.355 jiwa (10.297 KK) dengan 42 titik pengungsian dan pada tanggal 8 April 2014 status Gunung sinabung diturunkan ke

(31)

level III (Status Siaga). Masa tanggap darurat masih terus diperpanjang walaupun status gunung Sinabung sudah diturunkan menjadi status Siaga dan desa radius kurang dari 3 km dengan jumlah penduduk sebanyak 12.809 Jiwa (2996 KK) tidak diperbolehkan kembali ke desa mereka dan akan di relokasikan.

Pada Situasi bencana, rumah sakit akan menjadi tujuan akhir dalam penanganan korban bencana dan yang paling sering muncul di rumah sakit adalah saat adanya penderita dalam jumlah banyak, yang harus dilayani sehingga akan melebihi kapasitas rumah sakit. Hal inilah yang sering dilihat oleh masyarakat ketika bencana itu terjadi. Padahal, baik atau buruknya respon rumah sakit terhadap bencana sangat tergantung dari serangkaian aktifitas yang sudah dilakukan jauh sebelumnya.

Aktifitas-aktifitas persiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana inilah yang sering kali menjadi persoalan di Indonesia, karena sering kali tidak dilakukan karena berbagai alasan rumah sakit, dimana hal ini akan memperparah bila terjadi kekurangan logistik dan Sumber daya manusia. (Ramli, 2010)

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat dan rumah sakit merupakan salah satu lembaga publik yang terlibat langsung dalam merespon suatu bencana yang terjadi dalam wilayah kerjanya. Dalam Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (pasal 29) menyebutkan bahwa Rumah Sakit berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan pada saat bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya dan memiliki

(32)

sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana.(UU, RI.No.44 Tahun 2009)

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 448/Menkes/SK/VI/1993 tentang pembentukan Tim Kesehatan Penanggulangan Bencana disetiap Rumah Sakit dan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 129//Menkes/SK/II/2008 tentang Standart Pelayanan Minimal Rumah Sakit bahwa dalam setiap unit gawat darurat (IGD) Rumah Sakit harus terdapat satu tim Penanggulangan Bencana. Selain harus adanya Tim Penanggulangan Bencana ada dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh Rumah Sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan pelayanan medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan menejerial (Management Support).

(Depkes, RI. 2009)

Untuk itu pihak manajemen rumah sakit harus mempunyai persiapan khusus ataupun kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terutama rumah sakit yang berada di daerah rawan bencana seperti bencana erupsi gunungapi. Kesiapsiagaan menurut Nick Carter (1991) adalah tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas dan individu mampu menanggapi suatu situasi bencana dengan cepat dan tepat guna. Membangun kesiapan terhadap bencana wajib dilakukan oleh semua rumah sakit, dengan dasar pemikiran bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, baik dari dalam (internal) rumah sakit maupun dari luar rumah sakit.

Dari beberapa penelitian terkesan bahwa rumah sakit sering kali tidak menunjukan kesiapan yang memadai menghadapi bencana yang ada di sekitar

(33)

wilayah kerjanya. Akibatnya disetiap kejadian bencana, hambatan dan kekurangan- kekurangan yang sama selalu terjadi (terulang kembali). Salah satu penyebab ketidaksiapan Rumah Sakit tersebut adalah belum adanya petunjuk yang baku sehingga belum ada persepsi yang sama terhadap kesiapan Rumah sakit menghadapi bencana. Disisi lain, pada keadaan tertentu rumah sakit dapat menjadi korban dari bencana, seperti kejadian Tsunami di Aceh pada tahun 2004 rumah sakit mengalami

“total collapse” dari semua sistem yang ada di rumah sakit begitu juga dengan kejadian gempa bumi di Yokyakarta, Rumah sakit mengalami “colaps function“

sementara waktu (Dirjen Yanmed Depkes RI, 2009).

Dalam penelitian Ismunandar, dkk. (2012) Mengemukan bahwa Rumah Sakit Daerah Undata Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rumah sakit rujukan Provinsi belum siapsiaga dalam penanggulangan bencana meskipun Rumah Sakit Daerah Undata Palu, sudah membentuk Tim Penanggulangan bencana, secara tertulis tim tersebut sudah dibentuk pada tahun 2006 tetapi tidak aktif/berfungsi sebagaimana mestinya, hal ini disebabkan karena tim ini dibentuk hanya untuk memenuhi kebutuhan akreditasi rumah sakit. (Ismunandar, dkk, 2012), begitu juga dalam penelitian Eddy Suhardi Sarim (2003), bahwa Rumah Sakit Umum sewilayah Cirebon tidak siap menghadapi kegawatdaruratan bencana dengan alasan kekurangan dukungan para direktur rumah sakit umum terhadap Sistem penangan Gawat darurat terpadu-bencana (SPGDT-Bencana), standar pelayanan yang kurang dan juga keterbatasan rumah sakit. (Eddy Suhardi Sarim, 2003)

(34)

Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah Rumah Sakit Kelas C milik Pemerintah Kabupaten Karo yang merupakan rumah sakit rujukan untuk penanganan korban bencana erupsi gunung Sinabung disamping RS. Efarina Etaham dan RS Amanda. Dari survai awal yang dilakukan, pihak manajemen rumah sakit telah membentuk Tim Penanggulangan Bencana setelah gunung Sinabung mengalami erupsi pada tahun 2010 tetapi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan belum adanyan perencanaan rumah sakit akan penanggulangan bencana di rumah sakit (hospital disaster preparedness) baik bencana dari dalam lingkungan RS maupun dari luar rumah sakit.

Jumlah kunjungan pasien rawat jalan pada tahun 2013 sebanyak 40.054 kunjungan dan rawat inap sebanyak 4.114 orang. Sejak terjadinya Erupsi Gunung Sinabung pada tanggal 15 September 2013 sampai dengan tanggal 7 Januari 2014 pengungsi yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Kabanjahe adalah sebanyak 175 orang dengan diagnosa terbanyak adalah febris dan dispepsia, dan pengungsi yang rawat jalan sebanyak 270 orang dengan diagnosa penyakit terbanyak adalah conjungtivitis dan ISPA. (Rekam Medik RSU Kabanjahe, 2014). Sampai dengan tanggal 21 Januari pengungsi yang meninggal 32 orang di beberapa rumah sakit di Kabanjahe dan 17 orang meninggal akibat langsung dari awan Panas. (Posko kesehatan Kabanjahe)

Dengan mengacu pada latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana alam erupsi gunung Sinabung tahun 2014.

(35)

1.6. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam Penanganan korban Bencana Erupsi Gunung Sinabungdi Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

1.7. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Kesiapan Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah dalam Penanganan Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

1.8. Manfaat Penelitian 1.8.1. Bidang Keilmuan

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi ilmu Manajemen Kesehatan Bencana sehingga Kesiapan Manajemen Rumah Sakit dalam menghadapi Bencana dapat dilaksanakan sesuai dengan kajian-kajian ilmiah dalam penanggulangan bencana

b. Penelitian ini sebagai bahan pengetahuan untuk memperluas bahan penelitian dalam bidang ilmu manajemen kesehatan bencana

1.8.2. Program Studi S2 FKM-USU

Menambah bahan masukan dan kontribusi dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan Manajmen Kesehatan Bencana.

(36)

1.8.3. Bagi Rumah Sakit

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan masukan bagi Rumah Sakit untuk lebih meningkatkan kesiapan manajemen rumah sakit dalam menghadapi bencana.

(37)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Manajemen

Secara etimologis kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno ménagement, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sedangkan secara terminologis para pakar mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya:

Follet mengartikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut Stoner manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya manusia organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Gulick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. (Wijayanti. 2008)

Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

(Mesiono, 2010). G.R. Terry memberi pengertian manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-

10

(38)

orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha yang telah dilakukan. (Terry, 2009)

Dari beberapa definisi yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi. Dan secara klasik Manajemen adalah ilmu dan seni tentang bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. (A.A Gde Muninjaya, 2002)

2.1.1. Fungsi Manajemen

Fungsi organisasi pada hakikatnya merupakan tugas pokok yang harus dijalankan pimpinan organisasi apapun. Mengenai macamnya fungsi manajemen itu sendiri ada persamaan dan perbedaan pendapat, namun sebetulnya pendapat-pendapat tersebut saling melengkapi. Fungsi manajemen menurut R.D. Agarwal adalah “The management proces comprises the following six functions : Panning; Organizing;

Staffing; Directing; coordinating; dan controlling.” Menurut Luther Gullick “The management functions, who abbreviated in the word POSDCoRB, including the first letter of each management function : (Ibnu Syamsi, 1994)

1. Planning 2. Organizing 3. Staffing

(39)

4. Directing 5. Coordinating 6. Reporting and 7. Budgeting

Fungsi-fungsi manajerial Menurut Terry, fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan controlling (pengawasan) : (Terry, 2006)

1. Perencanaan (Planning)

Planning/perencanaan adalah menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar mencapai tujuan-tujuan tersebut. Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan.

Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.

Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Husaini Usman, 2008). Fungsi perencanaan di bidang kesehatan adalah proses untuk merumuskan masalah-masalah kesehatan di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

(40)

2. Pengorganisasian (Organization)

Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat, yaitu proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer (Terry & Rue, 2009) Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber- sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil. ungsi dari pengorganisasian yaitu kegiatan yang mengatur tugas, wewenang, dan tanggung jawab serta.

Pengorganisasian yang baik dapat menempatkan orang – orang pada tugas yang tepat

3. Pelaksanaan (Actuating)

Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama

4. Pengawasan (Controlling)

Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat utk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan

2.1.2. Unsur Manajemen

George R. Terry dalam bukunya Principle of Management mengatakan, ada enam sumber daya pokok dari manajemen, yaitu:

(41)

1. Man

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan.

Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.

2. Materials

Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidak dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

3. Machines

Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.

4. Methods

Sedangkan metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan- pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik,

(42)

sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

5. Money

Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

6. Markets

Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

(43)

2.4. Manajemen Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi dan kehidupan soasial ekonomi masyarakat yang tetap mampu meningkatkana pelayanan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat sehingga agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tinginya. (UU, RI. No. 44 Tahun 2009). Rumah sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan harus dikelola dengan baik, alat pengelolanya adalah manajemen. Tugas dari manajemen adalah mengkreasikan berbagai keadaan lingkungan dengan tehnik yang efektif sehingga dapat berkembang dan dilaksanakan guna mencapai tujuan. Kegunaan tugas manajemen adalah dalam hal pemenuhan kualitas pelayanan kesehatan. Tampa tugas manajemen yang baik akan sulit dicapai pelayanan kepada pasien dengan baik sebagai perwujudan dari fungsi manajemen. (Sabarguna, BS. 2009)

Manajemen profesional berarti melaksanakan manajemen dengan tatacara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka diperlukan orang yang terlatih secara benar dan tepat. Dalam rangka melaksanakan pelayanan yang berorietasi pada pasien dan menjaga mutu pelayanan perlu adanya manajemen yang handal.

Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit

(44)

dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Rumah sakit sebagai suatu sistem mempunyai menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi.

Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, rehabilitasi medik dan pelayanan perawatan. Pelayanan tersebut dilaksanakan melalui unit gawat darurat, unit rawat jalan dan unit rawat inap. (Satrinegara, 2009)

2.4.1. Fungsi Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah salah satu fungsi manajemen yang penting oleh karena itu perencanaan memegang peranan strategis untuk keberhasilan pelayanan rumah sakit.

Dengan menerapkan sistem perencanaan yang baik, maka manajemen rumah sakit sudah memecahkan sebagian masalah pelayanan yang dihadapi sebuah rumah sakit, karena upaya pengembangan rumah sakit didasarkan pada kebutuhan pengguna jasa pelayanan kesehatan (A.A. Gde Muninjaya)

Perencanaan manajerial akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

2.4.2. Fungsi Pelaksanaan (Actuating)

Rumah sakit adalah organisasi yang sangat kompleks. Kompleksitas fungsi actuating di sebuah rumah sakit dipengaruhi oleh dua aspek yaitu :

(45)

a. Sifat pelayanan kesehatan yang berorientasi konsumen penerima jasa pelayanan (customer service). Hasil perawatan pasien sebagai customer rumah sakit ada tiga kemungkinan yaitu sembuh sempurna, cacat atau mati.

b. Pelaksanaan fungsi actuating sangat kompleks karena tenaga yang bekerja di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis profesi.

Sehubungan dengan kompleksitas sistem ketenagaan dan misi yang harus diemban rumah sakit, penerapan fungsi pelaksanaan (actuating) Rumah sakit akan sangat tergantung dari empat faktor, faktor pertama adalah kepemimpinan Direktur Rumah Sakit; kedua adalah koordinasi yang dikembangkan oleh masing-masing wakil Direktur dengan SMF dan kepala instalasinya; ketiga komitmen dan profesionalisme tenaga medis dan non medis di rumah sakit; dan keempat adalah pemahaman pengguna jasa pelayanan (pasien dan keluarganya) akan jenis pelayanan tersedia di rumah sakit.

2.4.3. Fungsi Koordinasi

Koordinasi menurut G.R. Terry adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan. Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang sesuai dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara anggota (Hasibuan, 2009).

(46)

Menurut Hasibuan (2009), terdapat 2 (dua) tipe koordinasi, yaitu:

1. Koordinasi vertikal adalah kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan oleh atasan terhadap kegiatan unit-unit, kesatuan-kesatuan kerja yang ada di bawah wewenang dan tanggungjawabnya

2. Koordinasi horizontal adalah mengkoordinasikan tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilakukan terhadap kegiatan- kegiatan dalam tingkat organisasi (aparat) yang setingkat.

Koordinasi (coordination) adalah salah satu dari kegiatan yang dilaksanakan dalam “manajemen bencana” yang dikenal dengan empat C yaitu command (komando), control (pengendalian); coordination (koordinasi) dan communication (komunikasi). Dilakukan karena melibatkan multi sektor yang terkait dalam penanganan bencana. (Rowland, 2004).

Tujuan utama koordinasi di dalam konteks bencana adalah berupa efektivitas di respon terhadap bencana dimaksud. Koordinasi yang solid sering dinyatakan terbukti mampu mengurangi kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh suatu bencana dan sekaligus merupakan faktor sukses utama di dalam penanganan bencana. Fase tanggap-darurat yang terkoordinasikan dengan baik merupakan faktor kunci di dalam efektivitas tanggap-darurat terkait. Kurangnya koordinasi juga sekaligus merupakan salah satu sebab, di antara beragam sebab yang ada, gagalnya sebuah tanggap-darurat bencana.

Dalam penanggulangan bencana pada masa tanggap darurat Direktur Rumah Sakit Kabupaten/Kota melakukan koordinasi baik lintas program maupun lintas

(47)

sektor dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit Provinsi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pada saat bencana Direktur Rumah Sakit Kabupaten/Kota melakukan kegiatan : (Kepmenkes RI. No. 145 Tahun 2007)

1. Menghubungi lokasi bencana untuk mempersiapkan instalasi gawat darurat (IGD) dan ruang perawatan untuk menerima rujukan penderita dari lokasi bencana dan tempat pengungsian

2. Menyiapkan IGD dan instalasi rawat inap untuk menerima rujukan penderita dari lokasi bencana atau tempat penampungan pengungsi dan melakukan pengaturan jalur evakuasi

3. Menghubungi Rumah Sakit provinsi tentang kemungkinan adanya penderita yang akan dirujuk

4. Menyiapkan dan mengirimkan tenaga dan peralatan kesehatan ke lokasi bencana.

2.4.3.1. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)

SPGDT adalah sistem koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita. Dalam keadaan sehari-hari maupun bencana penanganan pasien gawat darurat melibatkan pelayanan pra Rumah Sakit, di Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit, memerlukan penanganan terpadu dan pengaturan dalam sistem. gawat darurat baik dalam keadaan bencana maupun sehari- hari (SPGDT- S/B). SPGDT terdiri dari unsur Pra Rumah Sakit, Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit yang berpedoman pada respon cepat yang menekankan “Time

(48)

Saving is life and limb saving” yang melibatkan musyawarah umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat dan komunikasi

Semua petugas medis di rumah sakit bisa terlibat dalam pengelolaan bencana. Semua petugas wajib melaksanakan sistem komando bencana dan berpegang pada Sistem Penanggulangan Gawat Darurat sehari-hari dan bencana Nasional pada semua keadaan darurat medis baik dalam keadaan bencana atau sehari- hari. Semua petugas harus waspada dan memiliki pengetahuan yang cukup dalam usaha penyelamatan pasien. (Dirjen Bina Pel. Medik RI. 2006)

SPGDT sehari hari adalah SPGDT yang diterapkan pada pelayanan gawat darurat sehari hari terhadap individu seperti penanganan kasus serangan jantung, stroke, kecelakaan kerja kecelakaan lalulintas, dsb. Sedangkan SPGDT bencana adalah sistem penanggulangan gawat darurat terpadu yang ditujukan untuk mengatur pelaksanaan penanganan korban pada bencana. SPGDT bencana pada dasarnya merupakan eskalasi dari SPGDT sehari hari, oleh karena itu SPGDT bencana tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik bila SPGDT sehari hari belum dapat dilakukan dengan baik. Perlu ditekankan bahwa SPGDT ini harus terintegrasi dengan sistem penanggulangan bencana di daerah setempat, dalam hal ini adalah satuan koordinasi pelaksana penanggulangan bencana dan pengungsi (satkorlak PBP).

2.4.3.2. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

Dalam amanat Undang-undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk perlindungan terhadap bencana, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan

(49)

Pancasila, telah dituangkan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. (Perka BNPB No. 3 Tahun 2008). Pemerintah dan pemerintah Daerah menjadi penanggungjawab penyelenggaraan Penanggulangan bencana untuk itu telah dikeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Di setiap Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/kota agar dapat membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala Daerah dan secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah (Sekda).

Pembentukan BPBD paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Menteri Dalam Negeri di tetapkan. BPBD menyelenggarakan fungsi; koordinasi;

pengkomandoan dan Pelaksana. Rapat koordinasi diadakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

Pengkoordinasian harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Pengkoordinasian dilaksanakan BPBD melalui koordinasi dengan satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di daerah dan instansi vertikal yang ada di daerah, lembaga usaha, dan pihak lain yang diperlukan pada tahap pra bencana, bencana dan pasca bencana, termasuk koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit yang ada di Daerah bencana. (Permendag. RI No. 46 Tahun 2008).

(50)

2.5. Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik faktor alam, dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No. 24 tahun 2007).

WHO, 2007 mendefinisikan bencana sebagai sebuah gangguan fungsi yang serius dari suatu komunitas atau masyarakat, yang menyebabkan banyak korban, kerugian materi, ekonomi atau lingkungan yang melebihi kemampuan mayarakat dalam mengatasinya. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian materi maupun korban manusia, lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

2.3.1. Bencana Erupsi Gunungapi

Gunung api adalah lubang atau rekahan pada kerak bumi tempat keluarnya magma, gas dan fluida lainnya ke permukaan bumi. Di dunia terdapat 1500 gunungapi aktif, rata-rata 50 (lima puluh) gunungapi mengalami erupsi (letusan) tiap tahun. Dibandingkan bencana alam lain yang cukup besar (banjir, tanah longsor, gempa bumi dan angin topan) bencana gunungapi relatif tidak terlalu mengancam manusia. Meskipun demikian bencana gunungapi secara lokal dapat sangat destruktif dan pada kejadian tertentu di mana letusannya yang sangat dahsyat dapat mengubah

(51)

iklim global dan bahkan dapat mengubah sejarah manusia. (Muhammadiyah dan kesiapsiagaan Bencana, 2008)

2.3.2. Elemen Letusan Gunung Api 1. Aliran Piroklastik

Aliran/longsoran abu, fragmen batuan dan gas dengan temperatur dan kecepatan tinggi. Seperti yang terjadi di Merapi 2006. Kalau mencapai pemukiman akan berbahaya sekali. Kecepatannya bisa 80-90Km/jam atau lebih.

3. Lahar

Campuran deposit aktivitas gunung api (tephra) dengan air dan mengalir menuruni lereng. Seperti banjir bandang misal saat meletus Gunung Pinatubo di Philipina, banyak jatuh korban karena aliran lahar dingin akibat hujan yang terus-menerus setelah letusan.

4. Longsor

Runtuhnya Massa batuan di lereng gunung api.

5. Aliran Lava

Lava basalt yang mengalir dari lubang erupsi. Lava andesit-riolit membentuk kubah lava. Tipe Hawaiian lava turun ke tempat yang lebih rendah pelan tapi membakar semua yang dilewatinya. Di Indonesia jarang yang seperti ini, biasanya lava membentuk kubah lava. Berbahaya kalau konstruksinya tidak kuat bisa terjadi longsor.

(52)

6. Tehpra

Jatuhan fragmen batuan dan lava (abu, bom dan blok volkanik) yang terlontar ke udara. Tehpra mempunyai ukuran dari yang kecil sampai besar. Kalau lontarannya jauh akan mempengaruhi cuaca dan material yang jatuh lapisannya akan menutupi apapun dan terkadang sangat tebal.

7. Gas Volkanik

Gas bersifat asam dan gas mematikan lainnya, yang terlepas saat erupsi volkanik.

Pernah terjadi di kawah Sinila Dieng. Di Kamerun di danau kawah karena aktifitasnya mengakibatkan gas CO2 terkonsentrasi dan sangat kuat menyebabkan kematian pada ternak serta penduduk sekitar danau, korban sekitar 1000-2000 orang.

8. Gempa Bumi

Gempa volkanik jauh Iebih kecil dari pada gempa tektonik, namun dapat memicu longsornya kubah lava dan struktur gunung api yang tidak stabil. Dari segi ukuran lebih kecil dari gempa tektonik, karena kecil tidak terasa tapi ada.

9. Tsunami

Tsunami dapat terjadi jika material volkanik dan gunung api di laut atau lepas pantai longsor ke laut dalam jumlah sangat besar. Misal letusan Krakatau pada tahun 1883. Korban sekitar 36 ribu jiwa.

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Pikir Penelitian Perencanaan 1.  Hosdip (Tim PB) 2.  SDM Kes. 3.  Fasilitas RS 4
Gambar 5.1. Koordinasi RSU Kabanjahe dalam Penanganan Bencana Erupsi  Gunung Sinabung Tahun 2014

Referensi

Dokumen terkait

Video game memiliki potensi yang besar sebagai media untuk mengajarkan perilaku santun dalam berinteraksi dengan media sosial melalui umpan balik langsung yang

Universitas Negeri

[r]

Kajian terhadap Tugas Akhir Skripsi mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY selama tahun 2013-2016 cenderung menggunakan pendekatan kualitatif

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:(1) Berdasarkan analisis deskriptif terhadap Variabel X

Belajar Matematika Siswa Materi Bangun Ruang Sisi Datar Kelas VIII SMPN 01.

adalah fungsi yang digunakan untuk menangani laporan penjualan sehingga dapat

Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar ... Besarnya Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar