• Tidak ada hasil yang ditemukan

Standar Operasional Prosedur (SOP)

Dalam dokumen TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM (Halaman 109-114)

HASIL PENELITIAN

4.3. Pelaksanaan Penelitian

4.4.4. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Prosedur Operasi Standar adalah : suatu gambaran terstruktur dan tertulis tentang langkah-langkah yang telah disepakati bersama oleh seluruh institusi pelaksana tentang siapa yang melakukan apa, saat kapan, dimana dan bagaimana pelaksanaannya.

Informan A mengatakan bahwa:

“Standar prosedur khusus untuk penanganan bencana belum ada kami susun, tetapi menurut saya SOP yang ada di rumah sakit ini sudah dapat menangani pelayanan bagi korban bencana, nyatanya kami dapat menangani pelayanan pengobatan bagi pengungsi dalam masa tanggap darurat ini, tapi mungkin SOP pada waktu tanggap darurat perlu juga dipikirkan siapa tahu tiba-tiba ada korban dalam jumlah yang besar,.. Standar prosedur pelayanan kami tertuang dalam standar pelayanan minimal rumah sakit dan SOP setiap pekerjaan ada, untuk pedoman kerja mereka agar pekerjaan lebih tertib, mengurangi terjadinya kesalahan dalam melakukan pelayanan (A. 13 Mei 2014)

Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus untuk penanganan bencana belum disusun tetapi informan A beranggapan bahwa SOP yang telah ada di RSU Kabanjahe sudah dapat menangani korban bencana erupsi Gunung Sinabung dengan

baik. SOP menurutnya adalah sebagai pedoman kerja agar pekerjaan lebih tertib dan dapat mengurangi kesalahan dalam melakukan tindakan pelayanan.

Informan B juga berpandapat :

“SOP harus ada di setiap rumah sakit selain untuk kebutuhan penilaian akreditasi…untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit,… tetapi kita belum menpunyai SOP khusus untuk penanganan bencana .…..selama ini penanganan bencana menggunakan SOP yang ada, dan kami dapat menangani pasien dalam masa tanggap darurat dengan baik, semua pegawai rumah sakit sudah kita sosialisasikan tentang SOP yang ada di RSU Kabanjahe., tetapi ke depannya itu perlu juga…kita kan tidak tahu bencana kedepannya seperti apa..nga bisa di prediksi (B, 20 Mei 2014)

Informan B beranggapan bahwa Standar Operasional Prosedur khusus untuk penanganan bencana ke depannya diperlukan mengingat bencana yang tidak dapat diprediksi tetapi untuk saat ini SOP khusus untuk penanganan bencana tidak ada disusun tetapi menurutnya SOP yang ada di RSU Kabanjahe sudah dapat menangani korban bencana erupsi dengan baik karena semua SOP sudah disosialisasikan ke semua SDM rumah sakit.

Sedangkan J berpendapat bahwa :

“SOP khusus untuk penanganan bencana kami tidak tahu ..saya rasa tidak ada karena tidak ada disosialisaikan kepada kami, tapi saya kira dengan SOP yang sudah ada kami dapat melayani pengungsi yang berobat ke sini dengan baik

…di IGD ada SOP nyjuga, jadi kami harus bekerja sesuai dengan SOP yang ada .. saya bekerja di IGD sudah cukup lama dan kami sering bergiliran di IGD jadi kalau ada perawat atau petugas yang baru terpaksa kita ajarin tentang SOP nya karena tidak ada dokumen tertulis yang didapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat

(J. 23 Mei 2014)

Informan J tidak mengetahui apakah di RSU Kabanjahe mempunyai standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk penanganan bencana karena tidak ada

disosialisasikan kepada pegawai di IGD tetapi menurutnya Standar operasional prosedur yang sudah ada di RSU Kabanjahe sudah cukup baik untuk menangani pengungsi.

4.4.5. Ketersediaan Anggaran

Rencana Anggaran adalah suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran yang lain yang mencakup jangka waktu satu tahun. Berikut cuplikan hasil wawancara mendalam dengan informan tentang ketersediaan anggaran Rumah Sakit dalam penanggulangan bencana :

Informan C mengatakan :

“Penyusunan rencana anggaran setiap tahun, kami usulkan berdasarkan rencana strategi yang telah disusun dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015, jadi untuk anggaran tahun ini yang berkenaan untuk kegiatan penanggulangan bencana, secara spesifik tidak ada……. anggaran yang khusus untuk penanggulanan bencana belum ada dianggarkan.” (C. 6 Mei 2014)

Informan B beranggapan bahwa perencanaa anggaran di susun setiap tahunnya berdasarkan rencana strategi yang telah disusun dalam jangka waktu lima tahun, yaitu tahun 2011 s/d 2015. dan oleh karena itu anggaran khusus untuk penangulangan bencana tidak tersedia/belum ada dianggarkan

Informan A juga berpendapat :

… Kalau anggaran setiap tahunnya kita sesuaikan dengan rencana strategi, jadi dalam renstra belum ada kita rencanakan kegiatan tentang penanggulangan bencana baik pra bencana maupun masa tanggap darurat, (A. 13 Mei 2014).

Informan A beranggapan bahwa penyusunan anggaran setiap tahunnya disesuaikan dengan rencana strategi yang ada dan dalam rencana strategi belum ada pengganggaran untuk penanggulangan bencana baik pra bencana maupun untuk masa tanggap darurat.

Informan B juga menagatakan :

“Belum ada dana khusus dari rumah sakit untuk penanganan bencana baik sebelum bencana maupun dalam masa tanggap darurat ya..seperti sekarang ini….karena berdasarkan Permendagri No 13 tahun 2006 belum ada rumahnya… sebenarnya kita harapkan Pemda mengalokasikannya, apalagi sekarang udah ada BPBD Karo….. Tahun 2014 ini pun belum ada dana yang diusulkan untuk kegiatan penanggulangan bencana,.. mudah-mudahan tahun 2015 kita coba membuat usulkan kegiatan (B. 3 Mei 2014)

Informan B menginginkan agar anggaran untuk penanggulangan bencana ada dialokasikan oleh pemerintah setempat karena dalam anggaran rumah sakit umum Kabanjahe belum dianggarkan dana khusus untuk penanganan bencana baik pra bencana maupun saat terjadi bencana karena menurutnya alokasi anggaran untuk penanganan bencana tidak ada dalam Permendagri no. 13 tahun 2006

Rangkuman :

Umumnya Informan kurang mengetahui secara jelas tentang rencana penanggulangan bencanarumah sakit (Hosdip) tetapi mereka menyadari bahwa Hosdip itu penting untuk RSU Kabanajehe mengingat daerah Kabupaten Karo termasuk rawan bencana gunung api dan RSU Kabanjahe belum ada disusun dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit, tetapi Rumah Sakit Umum Kabanjahe dalam penanganan korban bencana erupsi gunung Sinabung sudah membentuk Tim Penanggulangan bencana pada tanggal 16 September 2013 pada

waktu terjadi erupsi Gunung Sinabung yaitu dengan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit dengan Nomor : 938/RSU/IX/2013 tentang Susunan Tim Penanggulangan Bencana

Dalam hal perencanaan sumber daya manusia kesehatan untuk kepentingan penanggulangan bencana tidak dilakukan karena kurang mengetahui tentang perencanaan SDM kesehatan untuk penanggulangan bencana dan jumlah SDM Kesehatan yang ada di RSU Kabanjahe mencukupi dalam penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung dan selama ini dapat ditangani dengan baik. Penanganan bencana memerlukan tenaga-tenaga terlatih dan terampil dalam melakukan pelayanan kesehatan bagi korban bencana. Terutama SDM kesehatan yang menangani kegawatdaruratan di Ruang Instalasi Gawat Darurat. SDM kesehatan Rumahn Sakit Umum Kabanjahe sebagian sudah pernah mengikuti pelatilan PPGD (pertolongan pertama gawat darurat), BTLS untuk para perawat dan semua dokter umum sudah pernah mengikuti pelatihan ATLS dan ACLS

RSU Kabanjahe, dalam menyusun perencanaan untuk fasilitas, sarana dan prasarana Rumah Sakit tidak ada khusus di rencanakan untuk sarana dan prasararana.

Perencanaan tahunan yang dilakukan mengikuti agenda Rumah Sakit Umum Kabanjahe yang termuat dalam Rencana Strategi Tahun 2011 s/d 2015.

Standar Operasional Prosedur Khusus penanganan bencana belum ada di susun dan selama dalam penanganan korban bencana erupsi Gunung Sinabung RSU Kabanjaeh menggunakan SOP yang sudah ada dan SOP tersebut tertuang dalam Standar pelayanan Minimal RSU kabanjahe

Dalam Penyusunan anggaran Rumah Sakit Umum Kabanjahen kegiatan penanggulangan bencana baik pada saat pra bencana, bencan dan pasca bencana belum ada diusulkan karena pihak rumah sakit menyusun anggaran berdasarkan rencana strategis RSU Kabanjahe tahun 2011 sampai dengan tahun 2015. Tetapi dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri RI nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 48 tentang belanja tak terduga dimana belanja tak terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan diharapkan tidak berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya. Jadi dalam penangan bencana korban erupsi Gunung Sinabung pihak rumah sakit umum Kabanjahe menggunakan dana dari belanja tak terduga dan belanja rutin.

4.5. Pelaksanaan

Dalam dokumen TESIS. Oleh LISBETH PAKPAHAN /IKM (Halaman 109-114)