• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : ACEH DAN KAJIAN AL-QUR’AN

C. Analisis Respon Ulama Aceh Terhadap Al-Qur’an Al-Karim dan

5. Fawa>tih} al-Suwar (Ayat Munqata’ah)

Para ulama semanjak dahulu telah menkaji secara lebih mendalam terkait fenomenas fawa>tih} al-Suwar dalam Al-Qur’an sebagai ayat awal disebagian besar surat-surat dalam Al-Qur’an. Imam al-Zarkasyi misalnya dalam al-Burha>n fi> Ulu>m Al-Qur’a>n membahas satu bab dalam kitab tersebut berjudul fi> Asra>r al-Fawa>tih} wa al-Suwar,176 Ibnu Abi> al-Is}ba’ dalam karyanya Ba>di>’ Al-Qur’a>n membahas dan mengkaji secara khusus dalam satu bab berjudul al-Khawa>hir al-Sawa>nih fi> Asra>r al-Fawa>tih}. Begitu pula dengan al-Suyu>t}i> dalam al-Itqa>n fi> Ulu>m Al-Qur’a>n menjelaskan persoalan tersebut dengan memberi dalam satu bab berjudul Awa>il

175 Wawancara dengan Teungku Hasanoel Basri HG, tanggal 08 Februari 2020, di Bandara Soekarnoe Hatta, Tangerang Selatan.

176 Muhammad Ibn Abdilla>h al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n , Juz I, (Kairo: al-Halabi, 1957), 164.

134

suwa>r.177 Huruf fawa>tih} al-Suwa>r atau disebut juga dengan huruf munqat}a’ah yang terdapat pada awal surat oleh para ulama tidak memberikan sebuah terjemahan kepada huruf tersebut, melainkan hanya menerjemahkannya berdasarkan bunyi yang ada pada huruf tersebut. Seperti alif la>m mi>m, alif la>m ra>, alif la>m mi>m s}a>d dan lain-lain yang bisa didapatkan dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an. Karena sebab tidak diterjemahkan ayat dan huruf tersebut, maka para ulama pun mengklasifikasikannya dalam ayat-ayat mutasya>biha>t.178

Berhubung itu adalah ayat mutasya>biha>t mayoritas para mufassir tidak melakukan tafsir terhadap ayat tersebut dan hanya memberikan dengan kata Alla>hu a’lam bimura>dihi. Bahkan oleh Ibnu Kas\ir memberi komentar bahwa lafal tersebut mengandung nilai mukjizat (i’ja>z Al-Qur’a>n )179 yang tidak diketahui oleh manusia karena keterbatasan kemampuan yang ada pada diri mereka.180

Bila melihat dalam setiap surat Al-Qur’an, maka akan ditemukan berbagai macam bentuk redaksi fawa>tih} al-Suwa>r. Ada yang terdiri dari satu huruf, tiga huruf atau lebih. Fawa>tih} al-suwa>r dalam satu huruf bisa ditemukan dalam tiga surat, yaitu surah S\a>d, surah Qa>f, dan surah al-Qalam. Ada pula yang terdiri dari dua huruf ditemukan pada sepuluh surah, yaitu: surat al-Mukmi>n (40): 1; surat asy-Syu>ra> (42):

1; surat az-Zukhru>f (43): 1; surat al-Dukha>n (44): 1; surat al-Jas\iyah (45): 1; surat al-Ah}qa>f (46): 1; yang diawali huruf ha> mi>m; surat Tha>ha> (20): 1 yang diawali dengan huruf t}a> ha>; surat an-Naml (27): 1 yang diawali t}a si>n; surat Ya> Si>n (36): 1 yang diawali dengan ya> si>n. Sedangkan yang terdir dari tiga huruf akan dijumpai dalam tiga belas surah, yaitu: surat al-Baqarah (20): 1;surat Ali> Imra>n (2): 1; surat al-Ankabu>t (29):1; surat al-Ru>m (30): 1; suratLuqma>n (31): 1; surat as-Sajdah (32):

1 yang diawali dengan huruf alif la>m mi>m;surat Yu>nus (10): 1; surat Hu>d (11): 1;

177 Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, Al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n , Juz II, (Kairo: Al-Maktabah al-Taufi>qiyyah, tt.), 12, 43 dan juga lihat al-Itqa>n Juz II dalam bab Aya>t al-Mutasya>biha>t, 133.

178 Ayat-ayat mutasya>biha>t merupakan lawan kata ayat-ayat muh}kama>t. Lihat, Q.S.

Ali ‘Imran: 7. Pengertian tentang ayat-ayat mutasya>biha>t maupun muhkama>t masih diperdebatkan di kalangan ulama. Namun satu definisi yang dapat diambil antara lain, ayat muhkama>t yaitu ayatayat yang dapat diketahui maksudnya. Dengan demikian ayat mutasya>biha>t yaitu ayat yang tidak dapat diketahui maksudnya, kecuali Allah. Di antara ayat-ayat yang termasuk ayat mutasya>biha>t ialah ayat-ayat tentang keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya, hakikat hari akhir, tanda-tanda kiamat dan huruf-huruf di permulaan surat.

Lihat, Manna>’ Khali>l al-Qat{t{a>n, Maba>his\ fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n , 207.

179 I’ja>z berarti melemahkan. I’ja>z Al-Qur’a>n bermakna pengokohan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang mampu melemahkan berbagai tantangan untuk penciptaan karya sejenis. Lihat, al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m Al-Qur’a>n , jilid 2, 331. I’ja>z Al-Qur’a>n dalam kaitannya dengan fungsi kerasulan Nabi Muhammad berarti memperlihatkan kebenaran kerasulan dan fungsi kenabiannya serta kitab suci yang dibawanya. Selain itu, untuk memperlihatkan kekeliruan bangsa Arab yang menentangnya, karena tantangan-tantangan yang dilontarkan Allah dalam Al-Qur’an tidak dapat mereka layani. Lihat, Sya’ba>n Muhammad Isma>il, al-Madkhal li Dira>sah Al-Qur’a>n wa al-Sunnah wa al-‘Ulu>m al-Isla>miyyah (Kairo: Da>r al-Ansa>r, t.th), 323.

180 Muhammad ‘Ali> al-S{a>bu>ni>, Safwah al-Tafa>sir, jilid 1, (Beirut: Da>r al-Fikr, 2001), 25.

135

surat Yu>suf (12): 1; surat Ibra>hi>m (14): 1; surat Al-Hijr (15): 1; surat al-Qashash (28): 1 yang diawali dengan huruf tha si>n mi>m. Terdiri atas empat huruf, terdapat pada dua tempat: surat al-A’ra>f (7): 1yang diawali huruf alif mi>m s}a>d dan surat ar-Ra’d (13): 1 yang diawali dengan huruf alif la>m mi>m ra>’. Terdiri dari lima huruf, terdapat pada satu tempat: surat Maryam (19): 1 yang diawali dengan huruf ka>f ha>

ya> ‘ain s}a>d.

Adapun dalam aplikasi yang dilakukan oleh Mahjiddin dalam proses menerjemahkan huruf-huruf potong tersebut ia hanya memberikan penjelasan dan pemberitahuan sebagai berikut:

Tuhan nyang teupue meukeusud ayat Sabab Hadharat hana Neupeugah Tuhan yang mengetahui maksud ayat Sebab Hadharat tidak mengatakannya

Yusni Saby memberikan komentar terkait penerjemahan tersebut bahwa Mahjiddin telah menempuh jalur metode sebagaimana dilakukan oleh para ulama terhadap ayat-ayat mutasya>biha>t. Sebab memang sejatinya ayat tersebut tidak daat ditafsirkan dengan segala keterbatasan yang diberikan Allah Swt kepada manusia.

Dalam kesempatan yang sama Allah pula ingin menunjukkan kepada manusia akan keterbatasan mereka dan menampakkan bahwa Ia Maha Mengetahui segala sesuatu.181

Yusni Saby memang menjadi bagian Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Tetapi ia juga sekaligus menjadi bagian dari akademisi kampus yang berlatar belakang ilmu sejarah dan berpendidikan di Barat pada McGill University Canada, Amerika Serikat. Dilihat dari basik pendidikan memang ia adalah seorang modernis. Sikapnya terhadap karya Mahjiddin adalah sangat baik dan mendapatkan apresiasi yang sangat baik darinya, dan bahkan ia menjadi bagian dari Tim Penyunting kedua dari karya tersebut.

Begitu pula komentar Muhammad Yusuf A. Wahab, bahwa menurutnya hal ini sudah sesuai dengan kaidah-kaidah yang digagas oleh para ulama tafsir baik dari masa dahulu hingga sekarang. Begitu pula sudah sesuai dengan kaidah-kaidah Al-Qur’an dan juga Hadis sebagai ajaran pokok dari umat Islam yang sangat konsisten menjaga keotentikannya sendiri dengan segala pengakuan yang ada di dalamnya.

Hal itu tentu berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang keotentikannya tidak bisa dipertahankan sama sekali. Begitu pula dengan kitab agama lain yang segala isisnya telah banyak sekali mengandung distorsi dan campur tangan manusia, sehingga memberikan ruang kotor kemurnian agama.182

Sebagaimana telah penulis sebutkan di atas bahwa pola pemikiran yang dianut oleh Muhammad Yusuf A. Wahab adalah berkarakter tradisonalis-modernis yang dengan kuat mempertahankan tradisi turas\ yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu. Tetapi dalam mempetahankan tradsi tersebut ia sangat loyal

181 Wawancara dengan Profesor Yusni Saby, tanggal 21 Oktober 2019, di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

182 Wawancara dengan Teungku Muhammad Yusuf A. Wahab, tanggal 15 Oktober 2019, di kediaman Lambhuk, Kota Banda Aceh.

136

dengan keadaan disekitarnya dalam konteks penyesuaian segala hal yang dapat disesuaikan dengan teks agama baik Al-Qur’an maupun hadis.

Dengan demikian, Mahjiddin telah melakukan sebuah pendekatan penafsiran terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan oleh banyak ulama baik dari kalangan salaf maupun khalaf. Di mana para ulama tersebut dahulunya ketika menjumpai huruf potong dalam beberapa surat hanya memberi komentar “Allahlah yang mengetahui maksudnya”. Dan ini sejalan begaimana yang dilakukan oleh Mahjiddin. Meskipun sejatinya itu bukanlah terjemahan yang dialamatkan kepada ayat-ayat yang oleh para ulama menggolongkannya dalam ayat mutasya>biha>t.183 Karena itu pula disepakati oleh para ulama untuk tidak diterjemahkan dan bahkan ditafsirkan dengan analogi manusia dan hanya Allah yang mengetahuinya.184 Tetapi pandangan tersebut berbeda dengan apa yang diutarakan oleh al-T{abari> dan A<isyah bintu Sya>t}i>’ yang mengatakan bahwa penafsiran terhadap fawa>tih} al-suwar telah menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Hal itu karena dilatarbelakangi oleh metode dan pendekatan interpretasi penafsiran terhadap maksud Al-Qur’an secara keseluruhan.185