• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : ACEH DAN KAJIAN AL-QUR’AN

A. Tipologi dan Peran Ulama

Dalam interaksi sosial kemasyarakatan ditemukan berbagai model manusia, ada di antara mereka yang menjadi kalangan masyarakat biasa dan ada pula yang menjadi tokoh serta panutan untuk masyarakat. Ditinjau dari aspek panutan, maka itu pun terbagi kepada dua bagian, ada yang panutannya adalah pemimpin desa, kecamatan, hingga presiden sebagai pemegang kuasa tertinggi dalam sebuah negara.

Dan yang paling menjadi perhatian adalah menjadi sesosok agamawan sebagai teladan dalam kehidupan baik dalam interaksi sosial dengan lingkungan sekitar dan juga interaksi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka penulis berpendapat,

6 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Umum dan Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 128.

7 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, cet. ke 3, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 64.

88

ulama memiliki peran lebih besar ketimbang pemimpin sebuah negara, karena ulama menjadi penyeimbang dari semua aspek kehidupan dengan ilmu yang telah dipelajari mereka.

Ulama telah mengammbil bagian penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Mereka menjadi roel model atau panutan di mana pun dan kapun, di mana dan geriknya selalu di pantau oleh masyarakat lainnya. Dalam realitas di lapangan terkadang para ulama bisa terpecah klasifikasinya berdasarkan pada perilaku mereka. Maka tak heran jika Ahdi Makmur yang membagikan klasifikasi ulama ke dalam dua katagori secara garis besar, yaitu ulama>’ al-a>khirah dan ulama>’

al-dunya.8 Selanjutnya ia membedakan ulama ke dalam beberapa kelompok dengan melihat profesi mereka. Dengan demikian, terdapat ulama yang bekerja sebagai guru agama, juru dakwah, pegawai atau pejabat pemerintah dan politikus.9 Demikian halnya dengan Dhofier yang mengelompokkan ulama berdasarkan disiplin ilmu yang mereka kuasai, yaitu ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu naqliyah dan ilmu-ilmu

‘aqliyah. Dengan demikian, terdapat ulama (tradisional) yang hanya menguasai ilmu-ilmu agama, dan ulama (intelektual), yaitu mereka yang menguasai ilmu-ilmu agama dan juga ilmu-ilmu ‘aqliyah.10

Klasifikasi lainnya adalah berdasarkan penguasaan ulama terhadap jenis-jenis kajian ilmu keagamaan. Maka tidak heran jika terdapat ulama fiqh, ulama hadits, ulama tafsir, dan ulama tasawuf. Kategori lain adalah berdasarkan penguasaan dan pengamalan ilmu yang dimiliki oleh mereka, sehingga melahirkan ulama yang berilmu tetapi hanyalah untuk dirinya sendiri, ulama yang mengamalkan ilmunya buat dirinya dan juga orang lain, dan ulama yang berilmu tetapi dia sendiri tidak mengamalkannya, kecuali kepada orang lain.11

Dalam konteks pemikiran keagamaan, ulama bisa dipandang sebagai ulama tradisional (mereka yang terikat kuat dengan teks-teks Islam klasik) dan ulama modern (mereka yang berani membuat ijtihad tanpa harus terikat dengan teks-teks

8 Al-Ghaza>li> membagi ulama menjadi dua, pertama, ulama akhirat, kedua ulama su’

(ulama buruk) atau ulama dunia. Ulama yang mendapat gelar Hujjatul Islam ini menegaskan pentingnya mengetahui perbedaan kedua model ulama di atas, karena keduanya bagaikan timur dan barat atau langit dan bumi. Ulama su’ atau ulama dunia menurut al-Ghazali adalah mereka yang menggunakan ilmunya untuk mencari kenikmatan dunia, memperoleh kekuasaan dan posisi yang terhormat di hadapan masyarakat. Tipikal ulama inilah yang mendapat ancaman keras dari beberapa ayat dan hadis. Lihat https://serambimata.com/2018/09/20/definisi-ulama-menurut-imam-al-ghazali/. Diakses pada tanggal 12 Desember 2019.

9 Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, cet. I, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), 31-32, lihat juga, Kartodirdjo, Sartono (ed.), Elite dalam Perspektif Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1983).

10 Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1985), 57. Lihat juga, Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, cet. I, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), 32.

11 Hadariansyah, AB, ”Ulama dalam Tinjauan Normatif dan Historis Keindonesiaan”, Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, No. 5, Vol. 1 (2006), 105-106. Lihat juga, Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, cet. I, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), 32.

89

klasik). Ulama tradisional mencakup elit agama yang memiliki cakupan pemikiran tekstual dan kurang melihat realitasdan fakta yang terjadi di sekitarannya secara rasional akal dan pikiran, dan hanya memperhatikan aspek ibadah saja yang menjadi amala n kesehariannya secara vertikal. Sedangkan ulama modern adalah lawan dari ulama kalangan tradisional yang memiliki karakter pemikiran lebih luas dan memahami kontekstual realitas yang terjadi dalam segala lini kehidupan manusia mulai dari aspek eksoterik hingga aspek muamalah.12

Respon terhadap berbagai persoalan serta tantangan yang dihadapi oleh umat Islam dan seluruh masyarakat lainnya menjadi penyebab munculnya pengelompokan ulama menjadi ulama tradisonal dan ulama modern. Dalam konteks Asia Tenggara khususnya yang didiami oleh para suku Melayu seperti di Singapura dan Malaysia, terlihat perbedaan antara ulama kaum muda dan kaum tua dalam pandangan serta dukungan pilitik dan juga sikap keagamaan mereka. Hal ini bisa disorot manakala mereka dihadapkan secara sekaligus menjadi penentang dan pembangkang bagi penguasa. Mereka akan lebih memilih untuk berbeda karena faktor politik, bukan karena faktor keagamaan dalam sikap dan perilaku mereka, sehingga berefek pada patologi sosial kemasyarakatan.13

Dari kalangan ulama muda juga muncul lagi dua kelompok yang tinjau dari sikap dan perilaku mereka dalam merespon fakta sosial. Pertama, mereka yang merespon fakta tersebut dengan cara-cara yang ekstrim dan radikal dengan dalih teks keagamaan dan dalil-dalil syariat lainnya yang dipahami secara tekstual. Kedua, mereka para ulama muda yang merespon kejadian dan fakta sosial dengan sebuah kebajiakan dengan mengedepankan segala kearifan. Dan kelompok ini disebut juag dengan ulama muda yang bersikap moderat dalam memahami teks-teks keagamaan dengan perpaduan akal pikiran secara bijak. Karena itu Rahman memberi sebuah istilah baru kepada para ulama muda kelompok pertama dengan sebutan revivalis (revivalists). Sedangkan bagi kelompok yang kedua diberikan sebuah sebutan dengan kelompok modernis (modernists) atau juga reformis (reformists).14 Berbeda pula dengan Harun Nasution yang menyebut ulama kelompok pertama dengan istilah radikal atau ‘pemurni’, dan untuk kelompomk kedua dengan istilah ‘ pembahru’ atau moderat. 15

Masdari memaparkan bahwa setidaknya ada tiga corak ulama secara garis besar, yaitu ulama pembaharu (mujaddid), ulama pejuang (muja>hid) dan ulama pemersatu (mus}lih). Bagaimanapun, pengkategorian ini adalah sebuah harapan yang ingin dia wujudkan dalam figur seorang ulama (ulama ideal) yang diharapkan,

12 Silfia Hanani, ”Peranan Ulama dalam Penyebaran Islam”, diakses dari www.karyanet.com.my, (2019).

13 Muhamed Nawab Mohamed Osman, ”Towards a History of Malaysian Ulama”, Makalah diterbitkan oleh The Institute of Defence and Strategic Studies (IDSS), Singapore, No. 122, (22 February 2007).

14 Amilah Ibnti Awang Abd. Rahman, “Islamic Revivalism in the Easthern Malay States: The Role of Haj Abas Mohamad in Propagiting Islam”, Journal of Islam in Asia, No.

3, Vol. 1, (2006), 151-175.

15 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Ibntang, 1975), 54.

90

sehingga seorang ulama tidak saja menjadi pembaharu, tetapi juga menjadi pejuang dan pemersatu bagi setiap kalangan dan stakeholder.16

Begitu juga dengan Zaman menyebutkan bahwa terbagi kepada ulama pemurni sebagai “islamists”, dan juga ulama pembaharu sebagai “peripheral ulema”. Di kalangan para ulama “islamists” ada yang berafiliasi radikal dan ada yang moderat dalam segala tingkah laku perbuatan.17 Raharjo, seorang intelektual Islam di Indonesia, seperti dikutip oleh Moesa menyebutkan bahwa ulama yang berupaya menyesuaikan diri dengan zamannya sebagai akibat dari pada proses pemoderenan atau perubahan sosial adalah ulama yang suka beradaptasi.18 Mereka adalah kebalikan dari pada ulama yang menolak segala aspek perkembangan zaman, perubahan sosial, dan modernisasi. Tetapi ada juga ulama yang merespon perubahan yang terjadi dalam masyarakat secara moderat agar tercipta sebuah keamajuan dalam segala aspek tanpa melupakan nilai-nilai keagamaan telah mutlak. Mereka inilah kelompok ulama yang selalu bersikap kreatif dan mengutamakan pendekatan dialogis dalam menghadapi berbagai masalah atau tantangan di masyarakat dan menjawab segala persoalan mereka.

Ditinjau dalam kacamata kekuasaan atau politik, ulama dapat dikelompokan menjadi dua kelompok. Pertama, ulama birokrat, yaitu ulama pejabat atau disebut juga dengan ulama pemerintah. Klasifikasi ini menunjukkan kepada mereka para ulama yang terlibat dalam berbagai aktivitas kenegaraan dan mengambil peran sebagai pemberi masukan kepada pelaku kekuasan dalam aspek sosial keagamaan agar terciptanya nilai keberagamaan yang moderat dan sesuai dengan tatanan perpaduan antara undang-undang kenegaraan dan undang-undang keagamaan.

Kedua, ulama bebas, yaitu ulama yang berusaha mengambil jarak dengan penguasa atau para tokoh politik. Ulama terakhir ini lebih senang atau cenderung melibatkan diri dalam aktivitas sosial dan keagamaan semata dan fokus untuk membina umat.

Karena itu Gilani menjelaskan secara lebih spesifik terhadap dua kelompok ulama tersebut. Baginya ulama pemerintah atau ulama pejabat adalah kelompok ulama yang loyalitas terhadap pemerintah, sehingga berakibat pada hilangnnya wibawa dan jauhnya penghormatan masyarakat kepada mereka. Sedangkan ulama bebas adalah kelompok ulama yang menolak diperintah oleh penguasa demi menjaga otoritas keulamaannya sebagai teladan bagi masyarakat dalam interaksi sosial keagamaan.19

Cahyono dalam tulisannya tentang peranan ulama dalam organisasi semi politik di Indonesia yang berorientasi kepada pemerintah, yaitu Golongan Karya, telah menggolongkan ulama ke dalam ulama pro-rezim dengan spesifikasi dan ciri-ciri rasional, modern, pragmatis, logis, dan development-minded. Dan ulama anti

16 Masdari, ”Mengindentifikasi Tipologi Ulama Pewaris Nabi”, dalam Masdari &

Zulfa Zamalie (eds.) Khazanah Intelektual Ulama Banjar, (Banjarmasin: PPIK, 2003).

17 Muhammad Qasim Zaman, The Ulama in Contemporary Islam, Custodians of Change, (Princeton & Oxford: Princeton University Press, 2002), 57. Lihat juga, Iftikhar Zaman, ”Sunni ’Ulama”, dalam John L. Esposito (ed.) The Oxford Encyclopedia of the Islamic World, Vol. 4, (New Yok &Oxford: Oxford University Press, 1995), 258-261.

18 Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai, Konstruksi Sosial Berbasis Agama, (Yogyakarta: Lkis, 2007), 63.

19 S. M.Yunus Gilani, “Ilm, ’Ulum and the ’Ulama”, Jorunal Hamdard Islamicus, No. 13, Vol. 4 (2000), 52.

91

rezim, yaitu ulama yang dogmatik, emosional, tidak rasional, dan berpandangan atau berideologi sempit. Karena pandangan tersebut maka siapa pun yang berbeda dengannya akan dianggap sesat dan tidak sesuai dengan agama.20

Dalam konteks negara Malaysia, Kamar mengklasifikasikan ulama ke dalam dua kategori besar. Pertama adalah ulama formal, yang bekerja di jabatan kerajaan atau pemerintahan dan berorientasi kepada UMNO, dan mereka milik Persatuan Ulama Malaysia yang didirikan pada tahun 1974. Kedua adalah ulama informal, yang sebahagian besar bekerja dalam bidang usaha sendiri, dan secara politik mereka adalah milik Parti Islam se-Malaya (PAS) yang sebelumnya bernama Persatuan Ulama se-Malaya yang berdiri pada tahun 1951. Di Malaysia, ulama memang mempunyai peranan politik yang penting.21 Di antara pemimpin politik yang dihormati bisa dilihat daripada sudut pandang agama, tetapi juga dapat berdasarkan simbol-simbol sosio-kultural para ulama.22 Di Indonesia, ulama juga telah menggerakan rakyat dalam menentang pemerintah Belanda melalui perang jihad.23

Akan tetapi, jika dilihat dari pada tanggapan atau reaksi ulama ke atas tradisi dan perubahan dalam masyarakat, ulama bisa digolongkan ke dalam empat kelompok, yaitu fundamentalis, tradisionalis, modernis dan pragmatis. Dengan menggunakan analogi dari pada berbagai tipologi pembaharu Islam seperti yang ditulis oleh Zohair Husain, mereka mempunyai ciri-ciri atau karakteristik masing-masing berdasarkan latar belakang yang mempengaruhi kehidupan mereka baik dalam ruang lingkup kehidupan dan bahkan pendidikan yang mereka tempuh dalam wilayah formal atau pun tidak formal.24

Pertama adalah ulama fundamentalis. Mereka sangat wara dan puritan, mendukung pendirian negara Islam melalui semangat puritan, percaya bahwa kelompok fundamentalis dengan jujur dan penuh pengabdian akan melaksanakan tugas dengan sangat baik dalam memimpin negara Islam yang benar, akan membuat dan menjalankan perundang-undangan Islam baik yang tertulis maupun yang ada dalam semangat atau ghirah Islam, sangat fatalistis, tetapi juga sangat aktif dalam penyebaran faham Islam puritan, percaya ada dunia dikotomi antara da>r al-Isla>m dan da>r al-Harb, puritan, fanatis, tekstual, revolusionir, dan percaya bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Tuhan.25

20 Greg Fealy, ”Peranan Ulama dalam Golkar, 1971- 1980, dari Pemilu sampai Malari” oleh Hero Cahyono, Journal of Southeast Asian Studies, No, 25, Vol. 2, (1994), 424.

21 Ahmad Kamar, Malay and Indonesian Leadership in Perspective, (Kuala Lumpur: Ahmad Kamar Ibn Abdul Rahman, 1984), 39.

22 Ahmad Kamar, Malay and Indonesian Leadership in Perspective, (Kuala Lumpur: Ahmad Kamar Ibn Abdul Rahman, 1984), 37.

23 Alfian, ”The Ulama in Acehnese Society”, dalam Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique & Yasmin Husain (eds.) Reading on Islam in Southeast Asia, (Singapore: Institute of Asian Studies, 1985).

24 Alfian, ”The Ulama in Acehnese Society”, dalam Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique & Yasmin Husain (eds.) Reading on Islam in Southeast Asia, (Singapore: Institute of Asian Studies, 1985).

25 Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, cet. I, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), 35-36.

92

Kedua adalah ulama tradisionalis. Mereka adalah juga sangat wara’, relatif dogmatis dan ortodoks, tetapi toleran dalam batas tertentu terhadap adat-istiadat setempat, kebanyakan berpendidikan Islam informal, sering kali menolak pemikiran dan praktik non-Islam, berasal dari the ranks of the ulama, pemikiran dan praktik mereka diilhami oleh pandangan Islam klasik dan pertengahan, sangat terikat kepada taqlid, menentang ijtihad, sangat menentang pemikiran, praktik dan kelembagaan yang berasal dari negara Sosialis dan Barat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, mengutuk dengan lembut sekularisasi, hanya sedikit yang ingin menentang arus proses sekularisasi, percaya bahwa kelemahan dunia Islam disebabkan oleh kolonisasi, neokolonisasi, dan kegagalan merangkul semangat Islam, mendukung pendirian negara Islam dengan sistem teokratis tradisional, percaya bahwa ulama tradisional akan menjalankan negara Islam sebagai pengawal dan penerjemah utama dari pada syari’ah, sangat fatalistis dan seringkali bersifat pasif dan tidak berpolitik, ingin membentuk dan menjalankan perundang-undangan Islam baik secara tertulis maupun yang ada dalam semangat, percaya ada dunia dikotomi da>r al-Isla>m dan da>r al-Harb, reaksionis dan konservatif.26

Ketiga adalah ulama modernis. Mereka adalah wara hingga sangat wara, tetapi tidak kaku atau puritan, berpendidikan formal dan informal tetapi tidak semata belajar agama, terpengaruh secara signifikan oleh pemikiran-pemikiran dan amalan-amalan yang berasal dari Barat, bisa juga berasal dari the ranks of the ulama tetapi mayoritas tidak, bercermin kepada Islam klasik dan juga negara kapitalis dan sosialis dalam pemikiran dan tindakan, menentang taqlid dan semua tradisi yang dianggap membatasi kemajuan masyarakat Islam, sangat bersemangat dalam mendukung ijtihad, ijtihad harus dilaksanakan oleh semua orang Islam, menentang pemikiran dan amalan sekuler dan modern yang tidak sesuai dengan Islam meskipun seringkali toleran dalam batas-batas tertentu, menentang secara terbuka sekularisasi ajaran yang bersifat prinsipal tetapi cukup toleran untuk menyesuaikan dengan kehidupan masa kini, percaya bahwa kemunduran negara Islam disebabkan oleh faham ortodoks yang dogmatis, doktriner dan kaku, yang diusung oleh kelompok fundamentalis dan tradisionalis, pendukung ijtihad dan penghentian bid’ah sebagai tindakan kontra produktif, lebih menyukai sebuah negara dengan sistem demokratis liberal, orang-orang modern dianggap berkompeten bagi memimpin sebuah negara Islam yang modern, berkeinginan membentuk dan melaksanakan perundang-undangan yang tertulis dan sejalan dengan spirit Islam, pembaharu Islam yang sangat dinamis, tetapi bersikap moderat terhadap faham fatalistis, hampir tidak mempersoalkan adanya dikhotomi antara daral-Islâm dan daral-Harb, apologitis, sinkretis dan progresif.27

Keempat, ulama pragmatis adalah para ulama yang memiliki sifat yang cukup wara’ dan zuhud, nominal dan sangat liberal, mayoritas berpendidikan sekuler, formal dan informal, sangat dipengaruhi oleh pemikiran, cita-cita dan praktik yang berasal dari Barat dan non-Islam, tidak berasal dari the ranks of the ulama, memilik cara pandang yang penuh dengan filosofis bertujuan untuk melakukan pembangunan dalam aspek sosio-ekonomi. Di samping itu juga

26 Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, 36.

27 Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, 36-37.

93

menentang taklid buta dan semua tradisi dan kebiasaan yang dianggap dapat mempengaruhi kemajuan masyarakat Islam, senang melihat umat Islam menikmati haknya untuk melaksanakan ijtihad, tidak ada keraguan dalam menerima pemikiran, cita-cita dan kelembagaan yang sekular dan modern, sangat mendukung sekularisasi, percaya bahwa keruntuhan dunia Islam disebabkan oleh faham ortodoks yang dogmatis, doktriner dan kaku yang diusung oleh kelompok fundamentalis dan tradisionalis, percaya bahwa kelemahan ijtihad sebagai sebuah sumber penyebab kemunduran dunia Islam, menentang munculnya negara Islam, lebih menyukai negara sekuler, percaya bahwa para politisi Muslim lebih berkompeten dibanding dengan ulama dalam memimpin dan menjalankan negara nasional yang modern, berkeinginan membentuk dan mengaplikasikan perundang-undangan yang bersifat sekuler (bukan sistem perundang-undangan Islam), percaya kepada sistem demokrasi parlimenter (bukan teokratis), berdasarkan faham kebangsaan karena Islam juga bersifat retorikal dan simbolis, tidak begitu fatalistis tetapi sangat dinamis, sama sekali tidak setuju dengan adanya dikotomi antara da>r al-Isla>m dan da>r al-Harb, sekular, oportunistik, manipulator, adaptasionis dan liberal.28

Dilihat dari kacamata sosiologi, pembagian ulama juga dapat diklasifikasikan kepada dua tipologi, yaitu ulama modern dan ulama tradisional.

Pengelompokan ini didasarkan pada wacana anologi para tokoh seperti Durkheim dan Tonnies dengan melihat pada ciri da model masyarakat dalam tingkah laku mereka.29 Kriteria masyarakat modern dan tradisional terlihat pada pekerjaan dan kehiduapan, peranan kekeluargaan dan juga ikatan individu, cara pandang dan pola berfikir dan juga orientasi dalam mengelola waktu.30 Begitu juga ada yang mengelompokkan ke dalam model modern dan tradisional bisa dilihat dari struktur sosial, perbedaan budaya, kesan terhadap perubahan sosial yang menjadi patokan kelompok yang bersangkutan dengan berlandaskan pada kriteria yang utama dan menjadi prioritas.

Penulis memberikan sebuah kesimpulan analisis dan cara pandanga tersendiri dari berbagai teori yang telah dikemukakan bahwa ulama setidaknya dapat digolongan ke dalam tiga golongan secara fungsi dalam semua ruang lingkup.

Pertama, ulama ideologis yang aspek pemikirannya sangat berhati-hati dalam perkara keagamaan dan segala persoalan harus dengan penuturan teks-teks keagamaan yang ada. Kedua, ulama akomodatif yang berusaha mengkompromi setiap pendapat yang ada dan kemudian ia berusaha untuk melihat titik temua setiap jejak pendapat tersebut. Dan ketiga adalah ulama epistemologis yang tidak menerima secara langsung segala persoaan dan tidak juga menolaknya. Hanya saja ia butuh kepada konfirmasi pada nilai-nilai ilmu pengetahuan yang ada agar menghasilkan sebuah ketentuan dan kesimpulan untuk pembenaran dan juga menyalahkan sebuah pendapat.

28 Ahdi Makmur, Ulama dan Pembangunan Sosial, 37.

29 Gordon Marshall, ”Talcott Persons”, dalam A Dictionary of Sociology, (Oxford:

Oxford University Press,1998). Lihat juga, Wan Hashim Wan Teh, ”Perubahan Sosial:

Teori-teori Klasik dan Moden”, Jurnal Antropologi dan Sosiologi, No. 12, (1984), 39-54.

30 Andraw Webster, Introduction to the Sociology of Development, (London:

Macmillan Publishers Ltd., 1984). 134.

94 Aceh dan Ulama

Kajian tentang ulama dan ke-Acehan memang begitu menarik dibahas, karena berbicara tentang tentang Aceh adalah bicara lingkaran syariat Islam yang begitu kental. Ada sebuah kajian menarik yang dilakukan oleh Abdullah dalam bukunya Agama dan Perubahan Sosial. Salah satu bagiannya adalah mengupas terkait dengan peran ulama di daerah Aceh dan Sulawesi Selatan. Dalam konteks Aceh, ia menguraikan secara lebih mendalam bagaimana kesungguhan ulama Aceh, yang dalam realitasnya berada di luar struktur kekuasaan, tetapi selalu maju ke depan sebagai pemimpin rakyat ketika melawan penjajah Kolonial Belanda dan berhadapan dengan para uluhbelang (ulee balang) yang memihak kepada Belanda.31 Begitu pula dengan peran lembaga pendidikan yang disebut dengan dayah sebagai intitusi yang mengahasilkan banyak ulama dalam mengembangkan nilai-nilai Islam.32

Berdasarkan teori yang ditawarkan oleh para pakar di atas pula terhadap klasifikasi para ulama dari berbagai sudut pandang dengan melihat kesesuaian objek kajian tulisan ini pada realitas yang ada di lapangan. Setelah melihat itu semua maka penulis menemukan agaknya ada tiga model klasifikasi ulama yang ada di lingkungan masyarakat Aceh yang menjadai rujukan dan paduan meraka dalam segala persoalan kehidupan, terutama yang menyangkut dengan persoalan keagamaan. Klasifikasi tersebut bisa penulis uraikan adalah, yaitu Ulama Dayah, Ulama Kampus, dan Ulama Pemerintah (MPU). Perlu pula penulis garis bawah bahwa dalam Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU)33 Aceh, para anggotanya diisi

31 Taufik Abdullah, dkk, Agama dan Perubahan Sosial, (Jakarta: CV. Rajawali, 1983). 21-35.

32 Taufik Abdullah, dkk, Agama dan Perubahan Sosial, 21-35.

33 Pada malam 17 Ramadhan 1422 H (3 Desember 2001 M) melalui iqrar sumpah, terbentuklah MPU Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang independen, bermitra sejajar dengan Pemerintah Aceh dan DPRA untuk masa khidmat 2001-2006. Melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh dan Qanun Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Ulama mengukuhkan dan memperkuat kedudukan MPU Aceh sebagai mitra sejajar Pemerintah Aceh dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, terumata pembangunan syariat Islam. Kedudukan Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh sama dengan kedudukan Majelis Ulama Indonesia baik di tingkat pusat maupun di tingkat provinsi lainnya. Hanya saja berbeda nama karena disebabkan oleh keistimewaan yang diberikan kepada Aceh atas provinsi lain melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Hal itu

33 Pada malam 17 Ramadhan 1422 H (3 Desember 2001 M) melalui iqrar sumpah, terbentuklah MPU Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang independen, bermitra sejajar dengan Pemerintah Aceh dan DPRA untuk masa khidmat 2001-2006. Melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh dan Qanun Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Ulama mengukuhkan dan memperkuat kedudukan MPU Aceh sebagai mitra sejajar Pemerintah Aceh dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, terumata pembangunan syariat Islam. Kedudukan Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh sama dengan kedudukan Majelis Ulama Indonesia baik di tingkat pusat maupun di tingkat provinsi lainnya. Hanya saja berbeda nama karena disebabkan oleh keistimewaan yang diberikan kepada Aceh atas provinsi lain melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Hal itu