BAB III : ACEH DAN KAJIAN AL-QUR’AN
C. Analisis Respon Ulama Aceh Terhadap Al-Qur’an Al-Karim dan
1. Persamaan Bunyi dan Irama
Para ahli sastra sering kali menggunakan model-model irama dan bunyi yang indah agar memberi kesan menarik ketika didengar sehingga bisa
87 William Pickthall adalah seorang novelis yang terlahir dalam sebuah keluarga yang tergolong menegah ke atas di Horrow Inggris dan kepiawannya diakui oleh H.G. wells, DH. Lawrence dan E.M. Forster dari kalangan jurnalis, kepala sekolah juga pemimpian agama dan politik. Ia banyak melakukan rihlah ilmiyyah ke berbagai negara Timur tengah sehingga ia dikenal dengan ahli dalam persoalan Timur Tengah. Pada pada pertengahan perjalanannya tersebut ia memeluk agama Islam yang sebelumnya ia beragama Kristen.
Banyak karya tulis yang ia hasilkan ketika ia menjadi pejabat dalam pemerintahan Nizam di Hayderabad. Muhammad Marmaduke Pickthall, The Meaning of the Glorious Koran, (Kuwait: Da>r al-Isla>miyya).
88 Hamka dalam “Kata Pengantar” Al-Qur’an Al-Karim Bacaan Mulia, xvi
89 Surahman Amin, “Al-Qur’an Berwajah Puisi Telaah Atas Al-Qur’an Bacaan Mulia Karya HB. Jassin”, Jurnal Kawistara, Vol. 6, No. 3, 22 Desember 2016, 234.
109
menyampaikan sebuah sabstansi secara baik. Bahkan oleh para pembaca akan mendapatkan kesan keindahan tidak saja pada aspek irama yang begitu beralun-alun, tetapi juga pada irama yang membuat seperti tersontak-sontak dan terkadang terhenti secara tiba-tiba ketika dibacakan. Sajak itu dilantunkan sesuai dan begitu merdu dengan ulangan-ulangan bunyi dan bukan saja di ujung baris. Dalam hal hikayat dan sajak Aceh yang berkonotasi pada sebuah karangan puitis dengan setiap baris terdiri dari sepuluh suku kata dan pada akhir barisnya terdapat bunyi yang sama. Format dan gaya penulisannya pada kebiasaan ditulis bergandengan dengan bait-bait berjumlah empat baris.90
Melihat definisi bunyi dalam konteks puisi adalah segala sesuatu yang menghasilkan rima dan ritma. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Marjorie Boultan menyebut rima sebagai phonetic form. Jika berpadu dengan ritma, bentuk fonetik itu akan mampu mempertegas makna puisi.91 Pembicaraan tentang rima akan mencakup orkestrasi bunyi, simbol bunyi, kiasan suara, dan lambang rasa, sedangkan ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangaan bunyi, kata, frasa, dan kalimat.
Bunyi dalam puisi berfungsi sebagai orkestrasi, yaitu untuk menimbulkan bunyi musik. Bunyi konsonan dan vokal disusun begitu rupa sehingga menimbulkan bunyi yang merdu dan berirama seperti bunyi musik. Dari bunyi musik murni ini dapatlah mengalir perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya (pembacanya). Dalam tataran ini dikenal dua kombinasi bunyi yang menghasilkan bunyi seperti bunyi musik, yaitu efoni92 dan kakafoni.93
Mahjiddin Jusuf dalam menerjemahkan Al-Qur’an telah menempuh metode sebagaimana disebutkan dalam teori persamaan bunyi di atas. Hal itu dapat dilihat dalam surah al-Fa>tihah yang terdapat dalam surah al-Fa>tihah ayat 1 dan 2:
Ngon nama Allah lon puphon surat Tuhan Hadharat nyang Maha Murah Tuhanku sidroe geunaseh that-that Donya akhreat rahmat Neulimpah Sigala pujo bandum lat-batat Bandum nyan meuhat milik Potallah Nyan peujeut alam timu ngen barat
90 Mahjiddin Jusuf, Al-Qur’an al-KarimTerjemah Bebas Bersajak, xxii.
91 Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1991), 90.
92 Efoni diartikan sebagai bunyi yang indah atau komIbnasi bunyi-bunyi yang merdu. Orkestrasi bunyi merdu ini biasanya dapat atau untuk menggambarkan kerasaan mesra, kasih sayang atau cinta, serta hal-hal yang menggembirakan. Pada sajak-sajak MDDM orkestrasi jiwa ini ada yang bernada efoni, sperti rasa syukur, nikmatnya rindu, nada-nada optimis, juga yang bernada kakafoni seperti pada perasaan khauf (takut) kepada Allah dan berlindung diri kepada Allah daari kejahatan dunia dan kehidupan. Lihat, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987), 28.
93 Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987), 27.
110 Bandum lat-batat peuneujeut Allah.94
Jika diterjemahakan dalam bahasa Indonesia maka akan mengandung arti sebagai berikut:
Dengan nama Allah ku mulai surat Tuhan Hadharat yang Maha Pemurah Tuhanku Esa Maha Pengasih
Dunia akhirat rahmat berlimpah Segala puji seru sekalian alam Semua itu adalah milik Allah
Yang Menciptakan alam Timur dan Barat Semua isinya ciptaan Allah
Bandingkan dengan terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai berikut;
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Fa>tihah: 1-2)
Begitu pula ketika ia melakukan proses penerjemah pada surat Ya>si>n ayat 37. Dalam penerjemahannya, Mahjiddin berusaha semaksimal mungkin untuk mencari sebuah kosa kata lain yang dianggap lebih cocok dan efektif. Bahkan ia juga mencari sebuah padadan kata dalam bahasa asli yang bertujuan untuk memadankannya dengan bunyi kalimat akhir itu lebih sepadan dan terdengar puitis ketika diucapkan oleh pembacanya. Hal itu dapat dilihat dari terjemahan dibawah ini:
Timoh di Lampoh kuruma ngon inab Babah han seungap ta pajoh bagah Teupanca ngon krueng ie jeureungeh that
Jika diterjemahakan dalam bahasa Indonesia maka akan mengandung arti sebagai berikut:
Tumbuh di kebun kurma dan anggur
Mulut pun tidak berhenti memakan begitu cepat Terpancar dari sungai air yang begitu jernih
Bila memperhatikan pada akurasi makna terjemahan, maka kata inab dalam terjemahan di atas bukanlah bahasa Aceh. Melainkan itu adalah kosa kata dalam bahasa Arab, di mana oleh penerjemah melakukan penyesuaian terhadap sajak akhir agar nampak keindahan bunyi dan irama ketika dibacakan.
Cara menyusun baris-baris sajak pun perlu pertimbangan. Dari sudut irama yang bertalian dengan pengaturan nafas, dari sudut keteraturan bunyi demi kenikmatan pendengaran dan juga dari sudut kesatuan isi kalimat atau bagian-bagian
94 Mahjiddin Jusuf, Al-Qur’an Al-Karim Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh, (Banda Aceh: Pusat penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) Aceh, 2007), 1.
111
kalimat. Bunyi-bunyi ini dapat pula diperkuat kesannya dengan memperhatikan irama susunan kalimat dan mencari kata-kata yang tepat menciptakan irama kalimat ini. Misalnya dengan mencari sinonim-sinonim yang terdiri dari jumlah suku kata tertentu. Jelaslah bahwa untuk mendapatkan terjemahan yang puitis efektif diperlukan perbendaharaan kata yang luas untuk memungkinkan irama yang lebih harmonis dalam hubungan kandungan makna. Kata-kata sinonim diperlukan supaya ada variasi dalam pengungkapan, sesuai dengan keindahan bunyi dan keserasian irama.95 Dalam konteks persajakan Aceh, jika ada sebuah suku kata yang terbuka dan bergaung an dan ang maka akan memberi kesan yang indah dan merdu. Itu sebabnya penerjemah begitu mudah mendapatkan kosa kata yang enak didengar persajakan yang lebih bagus.
Al-Qur’an merupakan wahyu yang memiliki otoritas tunggal dari Tuhan dan tidak dapat diganggu gugat, maka para tim penyunting mencoba melakukan pemeriksaan terhadap kesahihan arti yang telah diterjemahkan. Dan setelah proses itu pun ternyata banyak ditemukan beberapa tempat yang dianggap perlu untuk dikoreksi demi kesempurnaan dan mendapat pemahaman yang sempurna terhadap makna ayat Al-Qur’an. Dalam proses pengerjaan itu pula, para tim tidak pernah terlepas dari konsultasi dengan penerjemah sendiri. Jika saja didapatkan sebuah kata atau kalimat yang perlu diubah, maka tim meminta Mahjiddin yang menukar kata atau kalimat bait tersebut. Maka bila dinilai dalam tinjauan estetis serta nilai seni yang ingin ditampilkan, maka karya Mahjiddin tergolong ke dalam terjemahan Astetis-Puitis, karena terjemahan ini mementingkan dampak efektif, emosi dan nilai rasa dari satu versi bahasa yang orisinal.
Pada edisi kedua terdapat beberapa revisi yang dilakukan oleh Tim Penyunting. Di antarannya mengenai perubahan arti yang dianjurkan oleh Tim Penyunting tentang catatan bagi huruf-huruf yang ada di awal surah. Pada awalnya, huruf-huruf ini hanya ditulis teks latinnya saja, namun kemudian diusul untuk memberi komentar atau gambaran maksud terjemahan, yang pada dasarnya bukanlah terjemahan.
Berikut contoh lain penerjemahan ayat 143 dalam surah al-An’am:
ُ
ُُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُُ
ُ
.ُ.ُ.
ُ
Na lapan pasang keubiri dua Kameng pih dua takheun ci peugah
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:
Ada delapan pasang domba dua Kambing pun dua katakanlah
Tim Penyunting merasa bahwa terjemahan di atas kurang tepat dan perlu direvisi dan disusun dengan baik menjadi:
Lapan binatang meupasang-pasang
95 Bilmauidhah, “Puitisasi Terjemahan Qur’an: Studi Analisis Terjemah Al-Qur’an Bersajak Bahasa Aceh”, Tesis pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010), 94.
112 Keubiri, kameng takheun ci peugah Diterjemahakan sebagai berikut:
Delapan binatang berpasang-pasang Domba, kambing katakanlah
Jika dialih bahasakan dalam bahasa Indonesia maka akan mengandung arti sebagai berikut:
“(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: …”. (QS. Al-An’a>m: 143)
Dalam ayat lain, Tim Penyunting juga menemukan ketidak akuratan dan harus dilakukan upaya perbaikan, yaitu surah al-Ahzab: 4 sebagai berikut:
ُ
Oleh Mahjiddin pada awalnya memberikan terjemahan pada edisi pertama dengan:
Bak sidroe ureung na dua ate Hana roe Neubri meunan le Allah Meunyoe ta zihar peurumoh gata Ngon rueng ma gata saban that leupah Diterjamahkan sebagai berikut:
Pada diri seseorang terdapat dua hati Tidak akan diberikan demikian oleh Allah Apabila kalian menzihar isteri kalian Dengan punggung ibumu secara berlebihan
Baris keempat bait pertama dikhawatirkan dapat meragukan pembaca.
Karena itu tim menganjurkan untuk diperjelas. Kemudian bait ini digubah menjadi:
Bak sidroe ureung na dua ate Hana roe Nebri meunan le Allah Meunyo ta zihar peurumoh gata Ngon rueng ma gata takheun sa leupah Artinya sebagai berikut:
Pada diri seseorang terdapat dua hati Tidak akan diberikan demikian oleh Allah Apabila kalian menzihar isteri kalian Dengan punggung ibumu secara berlebihan
113
Perubahan terakhir yang dilakukan adalah mengenai terjemah kata sumpah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah baik menggunakan nama atau dirinya sendiri ada pula dengan makhluknya. Dalam beberapa ayat, Allah mengawali sumpahnya dengan kata la yang berarti tidak. Mahjiddin memilih kecendrungan bahwa kata la tersebut harus diartikan, tidak boleh dianggap tidak ada. Karena itu ayat 75 surah al-Wa>qi’ah diterjemahkan dengan:96
Han Lonmeusumpah ngon teumpat binatang Teumpat-teumpat nyan di langet luah Artinya sebagai berikut:
Tidak Aku bersumpah dengan tempat binatang Tempat-tempat itu ada di langit luas
Kedelapan kata sumpah yang diawali dengan kata la seperti disebutkan di atas ia terjemahkan dengan Han Lonmeusumpah. Persoalan inilah yang menjadi topikdiskusi para tim penyunting yang terakhir dengan penerjemah. Melalui diskusi sesama tim penyunting, memutuskan untuk mengikuti kecenderungan umum kebanyakan buku tafsir, dan karena itu mengubah arti kedelapan sumpah yang diawali dengan kata la menjadi Ulon meusumpah. Dengan demikian terjemahan surat al-Waqi’ahmenjadi:
Ulon meusumpah ngon teumpat bintang Teumpat-teumpat nyan di langet luah Aku bersumpah dengan tempat binatang Tempat-tempat yang ada di langit luas
Dalam konteks ini, Hisyami Yazid97 memberi komentar bahwa terjemahan dalam ayat ini memang telah cukup mewakili secara pemahaman dan penafsiran secara lebih luas. Tetapi perlu ditekankan bahwa pada baris kedua dalam terjemahan tersebut agak berlebihan jika diterjemahkan dengan Tuhan Hadharat. Karena memang secara tekstual kalimat bismillah terkandung terjemah yang menunjuki kepada arti tersebut.98 Menurutnya lagi, bahwa meskipun dalam diri kalimat bismilla>h tekandung takdir abtadi’u, tetapi tidak serta merta diberikan tambahan terjemahan lon peuphon surat, karena akan memberikan makna dan pemahaman
96 Mahjiddin Jusuf, Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahan Bebas Bersajak, xxvi
97 Hisyami Yazid adalah Dosen pada prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Pernah mengeyam pendidikan di Dayah Aceh dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Mesir. Setalah menamatkan pendidikannya di Universitas Islam itu, ia melanjutkan kembali pendidikannya pada Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Setalah menamatkan Program Magisternya, ia melanjutkan kembali pada program Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan sekarang ia aktif mengajar dan aktif pula pada Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh.
98 Wawancara dengan Hisyami Yazid, tanggal 03 Oktober 2019, di kediaman Jeulingke, Kota Banda Aceh.
114
yang keliru dan mengambang bagi mereka yang hendak membacanya secara pemahaman literlek.99
Komentar tersebut sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Fauzi Shaleh, bahwa menurutnya hal tersebut memang patut diberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan oleh Mahjiddin. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa meskipun demikian karya tersebut adalah sebuah karya hasil tangan manusia yang tentu tidak luput dari kekurangan.100 Menurutnya, dalam ayat ini haruslah diberikan beberapa catatan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan arti ayat Al-Qur’an.
Sebab jika tidak diberikan penjelasan lebih lanjut maka dikhawatirkan akan terjadi penambahan makna Al-Qur’an yang berujung kepada tahrif101 Al-Qur’an.
Demikian pula komentar yang diberikan oleh Muhammad Yusuf A.
Wahab102, bahwa haruslah sangat berhati-hati dalam upaya menerjemahkan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang sangat sakral sebagai pedoman dalam setiap kehidupan. Jika ayat-ayat tersebut diterjemahkan tanpa mengikuti kaedah-kaedah yang telah ditetapkan oleh para ulama yang muktabar maka sangat dikhawatirkan terjatuh dalam kekeliruan yang menyebabkan terrdistrosinya kandungan Al-Qur’an sebagaimana yang diinginkan. Boleh saja menerjemahkan Al-Qur’an dengan menyesuikan bunyi dan sajak, teteapi harus menjadi perhatian pula bahwa jangan karena hendak mengindahkan bunyi dan rima akhir tetapi mengabaikan kaedah yang ada, sehingga arti yang seharusnya ditimbulkan dalam terjemahan harus terhilangkan karena aspek-apek yang mengharuskan penyesuaian puisi.103
Bila melihat komentar dari ketiga pakar ini, maka dapat disimpulkan bahwa pendapat mereka dalam hal ini tergolong dalam ulama yang kritis epistemologis dengan mempertimbangkan syarat-syarat dalam aspek penerjemahan Al-Qur’an.
Sekalipun dalam pernyataan mereka memang hampir menyentuh wilayah kritis ideologis atau juga teologis. Argumentasi memang sungguh sangat memiliki latar
99 Wawancara dengan Hisyami Yazid, tanggal 03 Oktober 2019, di kediaman Jeulingke, Kota Banda Aceh.
100 Wawancara dengan Fauzi Shaleh, tanggal 02 Oktober 2019, di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
101 Dalam Lisa>n al-`Arab, Ibn al-Manzu>r menulis bahwa yang dimaksud dengan tahrif adalah pengubahan huruf dari maknanya, atau kata dari artinya yang berdekatan, sebagaimana orang Yahudi mengubah makna-makna (ayat) Taurat dengan yang serupa. Ar-Ra>ghib al-Asfaha>ni> menulis dalam al-Mufrada>t fi> Ghari>bAl-Qur’a>n bahwa yang dimaksud dengan tahri>f itu adalah menjadikan suatu kata pada keadaan yang memungkinkan dapat diarahkan pada dua makna (atau lebih). Lihat, Ibn Manzu>r, Lisa>n al-Arab, cet. ke 3, jilid 9 (Beiru>t: Da>r as-Shadir, 1994), 42. Lihat juga, Ar-Ra>ghib al-Asfa>ha>ni>, al-Mufrada>t fi> Ghari>b Al-Qur’a>n (Beiru>t: Da>r al-Ma’`ri>fah, tt), 114. Lihat juga, M. Nur Kholis Setiawan, “Book Review: Syi’ah dan Wacana Perubahan Qur’an, Tahrif Qur’an, dalam Jurnal Al-Jami’ah, Vol. 43, No. 1, 2005/1426 H.
102 Muhammad Yusuf A Wahab adalah pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunib, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) dan ketua Barisan Muda Umat (BMU) yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan.
103 Wawancara dengan Muhammad Yusuf A. Wahab, tanggal 15 Oktober 2019, di kediaman Lambhuk, Kota Banda Aceh.
115
belakang yang begitu kuat dengan landasan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang harus dipertimbangkan dari segela aspek untuk diterjemahkan. Begitu pula bila memperhatikan teori dalam sub bab di atas, akan ditemukan bahwa pemikiran mereka sangat identik dengan kelompok ulama tradisionalis dalam arti bahwa mereka adalah kelompok ulama yang memang toleran, tetapi mereka juga memperhatikan aspek-aspek tertentu dan penuh kehati-hatian agar tidak terjatuh dalam kesalahan fatal bahkan menjadi liberal dalam pemikiran.
Di samping karena pemikiran mereka yang tradisionalis, menurut hemat penulis mereka juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang terlahir dari pesantren-pesantren tradisonal di Aceh. tetapi harus digaris bawahi bahwa pemikiran meraka tidak sampai pada tahap fundamentalis yang segala sesuatu dipertimbangkan berdasarkan pada teks keagamaan secara tekstualistis dengan mengabaikan aspek kontekstulis.
Faisal Ali104 sebagai Wakil ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga memberikan komentar menarik yang berbeda dengan Muhammaad Yusuf A. Wahab. Menurutnya karya Mahjiddin tersebut adalah sebuah gambaran bahwa bahasa Aceh juga mampu menjadi sebuah bahasa yang mampu mentransformasi nilai-nilai keagamaan baik yang berasal Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam ajaran Islam. Ia menambahkan bahwa karya ini merupakan sebuah karya yang perlu diberikan apresiasi yang besar dan bahkan mampu menyalurkan substansi Al-Qur’an dalam bentuk sastra lokal. Lebih spesifik ia mengatakan bahwa tidaklah mengapa menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk puisi dengan menyesuaikan bait-bait akhir dalam bentuk sajak ab ab. Terlebih jika melihat karya Mahjiddin di mana di dalamnya tidak mengandung distorsi-distorsi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan lebih dalam Mahjiddin Jusuf telah mampu menyalurkan substansi Al-Qur’an dengan baik dalam pendetakan budaya orang Aceh.105
Pola pemikiran Faisal Ali tergolong modernis-akomodatif, sekali pun Faisal berlatar belakang pendidikan pesantren tradisional tetapi tidak membuatnya berpola pikir tradisionalis sebagaimana kelompok ulama di atas dan tidak juga berpola pikir pragmatis yang mengakibatkan ia terjatuh dalam kontestualitas dan mengabaikan teks keagamaan. Munculnya pemikiran Faisal Ali yang modernis barangkali dilatar belakangi oleh faktor posisinya dalam struktur ulama pemerintah di Provinsi Aceh, yaitu Majelis Permusyawaratan Ulama (Aceh). Berdasarkan pada teori bahwa ulama pemerintah adalah ulama yang terlibat dalam aktivitas kenegaraan dengan segala administrasi di dalamnya.
Di samping itu, dalam karya tersebut juga penulis mendapatkan di beberapa tempat dengan kekeliruan atau kesalahan penulisan yang dilakukan oleh penerjeman. Misalnya pada penulisan kata mukjidat dalam surat al-Ra’du ayat 38, seharusnya ditulis dengan mukjizat. Di samping itu jua terdapat dalam surat al-Nahl ayat 116, narasi kosa kata hareum (artinya haram), ditulis dengan hareuen. Boleh
104 Faisal Ali adalah Pimpinan Dayah Mahyal Ulum A-Aziziyah, Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Menjabat sebagai wakil ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh.
105 Wawancara dengan Faisal Ali (Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh), tanggal 14 Januari 2020 di hotel Blue Sky Jakarta Pusat.
116
jadi masih terdapat beberapa kekeliruan lainnya di beberapa tempat lain, namun hal ini akan menjadi bagian dari masukan para tim penyunting dan dan telah dilakukan revisi untuk penerbitan edisi terbaru yang kedua. Tetapi menurut hemat penulis bahwa boleh jadi kesalahan ini adalah hanya kesalahan penulisan yang tidak menjadi substansial dari sebuah terjemahan dan tidak boleh jadi pula terdapat unsur kesengajaan dari penulis.