BAB II : DISKURSUS TERJEMAH DAN SAJAK DALAM AL-QUR’AN
A. Terjemah : Akar dan Polemik
3. Hukum Menerjemahkan
Problematika menerjemahkan memang menjadi sebuah perbincangan sendiri dalam kajian ulum Al-Qur’an hingga mengundang perdebatan yang begitu besar di antara para peminat kajian. Selain karena sebagai firman Ilahiyah yang
31 Abdulla>h Yu>suf Ali>, Qur’an Terjemahan dan Tafsirnya, terjemah Ali Audah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), xx-xxi. Lihat juga, Kemenag RI, dan Terjemahanya, (Medinah: Mujamma’ Khadim al-Haramain asy-Syarifain, 1990), 30.
32 Arjan van Dijk “Early Printed Qur’ans: The Dissemination of the Qur’an in the West” dalam Journal of Qur’anic Studies, Note, Report and Correspondent Vol. 7 No. 2, Oktober 2005.
33 Lihat, Hamam Faizin, “Percetakan dari Venesia hingga Indonesia,” dalam Jurnal Esensia, XII no. 1 Januari (2011), 141-144.
32
mendandung mukjizat luar biasa yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun, menerjemahkan pun bukanlah persoalan mudah dan bahkan membutuhkan energi ilmu yang begitu besar.34 Lafazh dan kalimat dengan aspek balaghahnya mengandung nilai makna-makna yang tersembunyi untuk disingkap dalam kontekstual.
Terkait hukum penerjamahan, semenjak periode awal perkembangan Islam telah terjadi pro dan kontra di kalangan para ulama. Hal tersebut dapat dilihat ketika Abu> Hani>fah mengeluarkan fatwa bahwa menerjemahkan itu diperbolehkan dengan alasan bahw terjemah itu bukanlah. Berbeda dengan Imam Asy-Sya>fi’i> yang menolak secara tegas bahwa tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, karena terjemahan tidaklah mewakili maksud bahasa Arab terlebih bahasa.
Menengahi kedua pendapat tersebut, Ibnu Qutaibah berpendapat bahwa memungkinkan untuk diterjemahkan, tetapi harus dijelaskan kepada orang ‘ajam (orang selain Arab) bahwa terjemahan tersebut bukanlah, tetapi hanya interpratasi sementara dari yang harus ditafsirkan berdasarkan kedalaman bahasa itu sendiri.35
Penerjemahan dalam bahasa asing pada masa selanjutnya juga terhambat oleh fatwa para ulama36 yang secara tegas menolak bahkan mengharamkan gagasan tersebut. Di Mesir para ulama seperti Muhammad Ahmadi Z}awa>hir37 (Mantan Rektor al-Azhar dan Grand Syaikh Universitas al-Azhar tahun 1929-1935) menolak gagasan itu dengan mengirimkan surat kepada Ali> Ma>hir Pasya (Mantan Perdana Menteri Mesir) dan Syaikh Abba>s Jamal (Wakil Pembela Syariat). Hal serupa juga dilakukan oleh Syaikh Muhammad Sulaima>n yang menjabat Wakil Ketua Mahkamah Agung Mesir ketika itu sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap penerjemahan .38
Namun Hadi Ma’rifat dalam bukunya memberikan bantahan terhadap argumen tidak bolehnya menerjemahkan dengan menampilkan beberapa dalil terkait urgensi terjemahan ke dalam bahasa dunia. Dalil yang ia utarakan adalah QS. Al-Baqarah: 159 QS. A<li Imra>n : 138; QS. Al-An’a>m: 19; QS. Al-Nahl: 44; dan QS.
34 Afnan Fatani, "Translation and the Qur’an", dalam Leaman Oliver (ed), The Qur'an: an Encyclopedia, (Great Britain: Routeledge, 2006).
35 Egi Sukma Baihaki, “Orientalisme dan Penerjemahan ”, Jurnal Ilmu Ushuluddin, Vol. 16, No. 1, 06.
36 Penerjemahan pernah diterjemahkan dalam bahasa Barbar pada masa Dinasti Muwahidun di Spanyol (1142-1289 M), namun mereka memerintahkan unutk menghanncurkanya. Namun hal tersebut pada masa berikutnya para ulama mengeluarkan fatwa tentang kebolehan menerjemahkannya dengan melahirkan banyak terjemahan Al-Qur’an yang sangat banyak seperti dalam bahasa parsi yang diterjemahkan oleh Syaikh Sa’adi Asy-Syirazi (1313 M) dan terjemahan dalam bahasa Turki oleh Syaikh Waliyullah Dahlawi. Lihat, Abu Bakar Aceh, Sejarah Aceh, (Solo: Ramadhani, 1986), 40.
37 Muhammad Ahmadi al-Z}awa>hiri> menjadi Grand Syeikh al-Azhar setelah Must{afa>
al-Mara>ghi>. Setelah itu, Must{afa> al-Mara>ghi> kembali menjabat sebagai Grang Syeikh.
38 Muhammad Must}afa> Sya>t{ir Mis}ri>, al-Qaul as-Sadi>d fi> Hukmi Tarjuma>ti Al-Qur’a>n al-Maji>d, (T.t: Da>r al-Fikr, 1370 H/1951 M), 17-18. Lihat juga, M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, terj. dari bahasa Arab oleh Thoha Musawa (Jakarta: Al-Huda, 2007), 278-288.
33
Al-Furqa>n: 1.39 Pendapat Hadi tersebut berlandaskan pada fatwa yang dikeluarkan oleh Must{afa> al-Mara>ghi> yang membantah fatwa yang sebelumnya dengan memberi ruang kebolehan menerjemahkan dengan batas-batas dan syarat-syarat tertentu.
Beliau menulis dalam karyanya secara tegas sebagai berikut: “keliru jika ingin menilai bahwa tidak dapat diterjemahkan secara keseluruhan dengan alasan kemukjizatan yang dimilikinya.” Lebih tegas dalam pernyataanya ia menulis sebagai berikut:
قلحا لب ،ئطاخ ءاعدإ ،زجعم هنلأ هتجمرت نكيم لا هلك يمركلا نآرقلا نأب ءاعدلإا نإ ةيحان نم ةجمرت ليحتسيو ،ةيلصلأا تلالادلا ةيحان نم هتجمرت نكيم هنإ :لاقي نأ عبو ،ةيفرح ةجمرت مجترت نأ نكيم نآرقلا تايآ ضعب نإ ،ةعباتلا تلالادلا لا اهض
ةيفرح ةجمرت مجتري نأ نكيم .
40Sesungguhnya tidak mungkin dapat diterjemahkan secara keseluruhan adalah pendapat yang keliru. Yang benar ialah bahwa ia (Al-Qur’an) memungkinkan diterjemahkan dari sudut makna primer, dan tidak mungkin diterjemahkan dalam makna sekunder.
Memungkinkan sebagian ayat diterjemahkan secara harfiah, sedangkan sebagian yang lain tidak mungkin untuk diterjemahkan secara harfiah.
Selain Must{afa> al-Mara>ghi>, fatwa bolehnya menerjemahkan juga dikeluarkan oleh Muhammad Husain Ka>syiful Ghita> dalam menjawab permohonan oleh Abdurrahi>m Muhammad Ali> untuk diumumkan di Najaf Asyraf.41 Demikian pula Ayatulla>h Khu>’i> (w. 1992) dalam kitabnya al-Baya>n menyebutkan, bahwa menerjemahkan ke dalam bahasa selain Arab adalah salah satu pekerjaan mulia sebagai bentuk manifestasi dakwah tersebar diseluruh penjuru dunia. Namun penerjemahan tersebut perlu diperhatikan syarat dan ketantuan serta keilmuwan yang mumpuni baik ilmu bahasa, ilmu-ilmu dengan segala jenisnya dan lain sebagainya.42
39 Lihat, M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an , terj. dari bahasa Arab oleh Thoha Musawa (Jakarta: Al-Huda, 2007), 278-288. Terkait dengan penjelasan lebih rinci tentang hukum penerjemahan , Lihat, Jala>l al-Di>n Ibn al-T}a>hir al-Alu>sy, Ahka>m Tarjamah Al-Qur’a>n al-Kari>m (Beiru>t: Da>r Ibn Hazm, 1429 H/2008 M), 17-34. Lihat juga, Muhammad
‘Abd al-‘Az{i>m al-Zarqani>, 105- 125.
40 Muhammad Must{afa> al-Mara>ghi>, Bahs\ fi> Tarjama>t Al-Qur’a>n al-Kari>m wa Ahka>muha>, (Kairo: Majalah Al-Azhar, 1423 H), 35. Lihat juga, Muchlis M. Hanafi,
“Problematika Terjemahan: Studi pada Beberapa Penerbitan dan Kasus Kontemporer,”
Jurnal Suhuf, Vol. 4, No. 2, 2011, 178.
41 Syamsuddi>n Sarkhasi>, al-Mabsu>t}, Juz I, (Beiru>t: Da>r al-Ma’rifah, 1989 M/1409 H), 37. Lihat juga, M. Ha>di Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, terj. dari bahasa Arab oleh Thoha Musawa, (Jakarta: Al-Huda, 2007), 279.
42 Muhammad Fari>d Wujdi>, al-Adillah al-Ilmiah ‘ala> Jawa>zi Tarjamati Al-Qur’a>n ila> al-Lugha>ti al-Ajnabiyyah, (Kairo: Da>r al-Muqtabis, 1936 M), 58. Lihat juga, M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Qur’an, terj. dari bahasa Arab oleh Thoha Musawa (Jakarta: Al-Huda, 2007), 280-281.
34
Dari berbagai perdebatan di atas, nampaknya menjadi sebuah analisa bahwa pada hakekatnya Al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan secara literal secara keseluruhan sebagaimana argumen yang dibangun oleh Must{afa> al-Mara>ghi>. Sebab itu pula, maka dalam rangka menerjemahkan Al-Qur’an sangat membutuhkan kepada instrumen yang mumpu untuk mengetahui seluk beluk kosa kata agar tidak terjatuh dalam kesalahan dan kekeliruan dalam memahaminya. Jika saja bahasa cenderung dipahami secara literal, maka akan memunculkan stigma bahwa kandungan Al-Qur’an antara satu ayat dengan ayat yang lain itu layaknya saling bertentangan. Begitu pula jika dipahami secara bebas tanpa melibatkan ilmu dasar dalam penggaliannya maka akan jatuh pula pada distorsi terhadap makna Al-Qur’an yang mestinya harus dipahami berimbang antara makna literlek (harfiyah) dan makna secara lebih luas baik dalam maknawiyah dan juga tafsi>riyah. Oleh sebab itu penulis sependapat dengan apa yang disebutkan oleh Must}afa> al-Mara>ghi> terkait dengan cara, model, dan juga kriteria penerjemahan.