BAB III METEDOLOGI PENELITIAN
D. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada Implementasi Program Keluarga Harapan Dalam Kesejahteraan Masyarakat. Sasaran dari penelitian yaitu;
a. Implementasi bantuan program keluarga harapan terhadap pendidikan dan kesehatan seperti, batuan dalam pendidikan untuk anak yang sedang menempuh pendidikan dan kesehatan seperti ibu hamil, disabilitas berat, lanjut usia dll.
b. Faktor yang mempengaruhi implementasi, faktor pendorongnya yakni kebutuhan masyarakat terhadap bantuan program keluarga harapan dimana meringankan dalam pendidikan dan kesehatan itu sendiri penghambatnya yakni kurang meratannya bantuan program keluarga harapan sehingga banyak sebagian orang yang dimana berhak dapat bantuan justru tidak mendapat bantuan.
E. Instrument Penelitian
Peneliti di bidang penelitian kualitatif mutlak diperlukan.Peran peneliti dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai pengamat partisipan atau pengamat penuh.Peneliti di lapangan kemudian melakukan pengamatan dengan mengunjungi subyek penelitian subyak atau informan dalam hal ini pemerintah
daerah dan toko tradisional serta toko masyarakat, dan mencari berbagai sumber dokumen yang diperlukan.
Penulis di sini bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data.Instrumen non-manusia juga dapat digunakan seperti pedoman wawancara, pedoman observasi, kamera, tetapi fungsinya terbatas untuk mendukung tugas peneliti sebagai instrumen.Oleh karena itu, keberadaan peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif sangat diperlukan. Dalam proses pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan wawancara, peneliti bertindak sebagai pengamat peserta aktif. Maka untuk itu peneliti harus berperilaku sebaik-baiknya, berhati-hati dan sungguh-sungguh dalam mengambil data sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Untuk mendapatkan data sebanyak mungkin, terperinci dan asli, selama penelitian di lapangan, para peneliti itu sendiri atau dengan bantuan orang lain adalah alat atau instrumen pengumpulan data utama. Untuk mendukung pengumpulan data dari sumber-sumber di lapangan, para peneliti juga menggunakan:
1. Observasi dimana diharapkan peneliti dapat memperoleh data lengkap dan rinci.
2. Pedoman wawancara sebagai bahan atau pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan kepada informan
3. Pedoman dokumentasi sebagai data awal atau dokumen yang dimana menunjang analisis dalam penelitian.
4. Notebook, kertas, pensil, dan pena sebagai alat perekam data. Yang berfungsi sebagai alat untuk mencatat atau merekam sesuatu yang berkaitan dengan penelitian.
Kehadiran peneliti di lokasi penelitian dapat mendukung validitas data yang dapat memenuhi keaslian atau keasliannya.
F. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan informan sebagai sumber data. Informan yaitu individu yang diharapkan dapat menjadi mitra peneliti. Ada pun sumber data yang digunakan yaitu :
1. Data primer : data yang diperoleh dilapangan bersumber dari informan utama, informan kunci, dan informan tambahan.
2. Data sekunder : sumber data sekunder yang digunakan adalah literatur yang berkaitan dengan metode penelitian, dan kajian tentang kearifan lokal. Selain itu, peneliti juga mengambil hasil kepustakaan penelitian terdahulu atau penelusuran hasil penelitian terdahulu yang ada relevansinya dengan pembahasan penelitian.
G. Teknik Pengumpulan Data
Penulis menggunakan tiga metode pengumpulan data dalam penelitian yang dilakukan, yaitu:
1. Observasi
Observasi disebut pula dengan pengamatan meliputi penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Metode observasi merupakan suatu teknik penelitian dalam pengumpulan data
dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti. Dengan teknik ini diharapkan peneliti dapat memperoleh data lengkap dan rinci tentang penerima bantuan PKH yang ada di desa Gentungang.
2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu cara pengumpulan data dengan melibatkan dua pihak, yaitu antara pewawancara dan informan, dimana teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (indepth interview), untuk memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka secara langsung. Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah informan kunci dan informan tambahan. Informan kunci adalah orang yang dianggap dapat memberikan data utama yang dapat dijadikan bahan penelitian dalam hal ini penerima bantuan PKH. Sedangkan informan tambahan adalah orang yang dianggap dapat memberikan data tambahan untuk mendukung penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi penelitian merupakan pengumpulan data dengan cara melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang berisi data yang menunjang analisis dalam penelitian. Metode dokumentasi peneliti gunakan untuk mendapatkan data berupa dokumen yang berfungsi untuk melengkapi data penelitian penulis.
H. Teknik Analisis Data
Menurut Spradley (1980), analisis dalam jenis penelitian apapun, adalah merupakan cara berpikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menetukan bagian, hubungan antara bagian dan hubungannya dengan keseluruhan (Spradley dalam Sugiyono, 2009). Di dalam aktivitas analisis data, terdiri dari tiga hal utama yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.
1. Reduksi Data
Dalam studi ini, para peneliti fokus pada data lapangan yang telah dikumpulkan, mengurangi data yang berarti meringkas, memilah-milah data penting dan kurang penting, kemudian berfokus pada data penting yang dicari untuk tema dan pola. Data yang berkurang akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan lebih mudah bagi peneliti untuk mengumpulkan data lebih lanjut dan mencarinya jika perlu.
2. Penyajian Data
Setelah data dikurangi (reduksi), langkah selanjutnya adalah menyajikan data.Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk deskripsi wawancara,bandingkan dengan teori dan diskusi. Miles dan Huberman(1984) menyatakan bahwa itu paling sering digunakan untuk menyajikan datadalam penelitian kualitatif juga dengan teks naratifbisa dalam bentuk grafik, matriks, jaringan (jaringan)
3. Verifikasi Data (Pengambilan Kesimpulan)
Setelah dibuat dalam penyajian data yang mencukupi dan memilikibeberapa data yang relevan dari informan maupun dari observasi yangtelah dikumpulkan maka dilakukanlah penarikan kesimpulan.
I. Teknik Keabsahan Data
Moleong Lexi J, Metodologi Penelitian Kualitatif (2006:327)teknik yang digunakan dalam pemeriksaan keabsahan data adalah perpanjangan keikut sertaan, ketekunan pengamatan, tiangulasi, pengecekan sejawat, analisi kasus negatif, kecukupan referensial, dan pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam penelitian. Menurut Sugiyono, teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Menurut Sugiyono ada tiga macam triangulasi data yaitu :
1. Triangulasi Sumber
Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang perilaku murid, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dapat dilakukan ke guru, teman murid yang bersangkutan dan orang tuanya. Data dari ketiga sumber tersebut, tidak biasa diratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana yang spesifik dari tiga sumber data tersebut. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan
suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member chek) dengan ketiga sumber data tersebut.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner.Bila dengan teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk mestikan data mana yang dianggap benar.Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.
3. Triangulasi Waktu
Waktu juga sering mempengruhi kredibilitas data. Data yang dikumpul dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu, dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga ditemukan kepastian datanya.
Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil
penelitian, dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukan pengumpulan data.
J. Etika Penelitian
1. Menghormati harkat dan martabat manusia.
2. Menjaga rahasia subyek penelitian.
3. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan.
Meminta izin ke informan ketika hendak ingin mengambil data
BAB IV
GAMBARAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian
Desa Gentungan merupakan desa hasil pemekaran wilayah desa Mandalle yang berada pada wilayah kecamatan Bajeng Barat. Desa Gentungan terletak sekitar 2 km dari ibu kota kecamatan bajeng barat dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbetasan dengan desa Tanabangka, kemudian sebelah timur dan selatan berbetasan dengan wilayah kecamatan Bontonompo, sebelah barat berbatasan dengan desa Parangmata dan desa Pa’rasangan Beru yang masing-masing berada pada wilayah kecamatan Galesong Kabupaten Takalar.
B. Letak Geografis
Kabupaten Gowa beradapada 119.3773 Bujur Barat dan 120.0317 Bujur Timur, 5.082934286 Lintang Utara dan 5.577305437 Lintang Selatan. Kabupaten yang berada di daerah selatan dari Selawesi Selatan merupakan daerah otonom ini, di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian Baratnya dengan Kota Makassar dan Takalar.
Wilayah administrasi Kabupaten Gowa terdiri dari 18 kecamatan dan 167 desa/kelurahan dengan luas sekitar 1.883,33 kilometer persegi atau sama dengan 3,01 persen dari luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Wilayah
Kabupaten Gowa sebagian besar merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26 persen. Ada 9 wilayah kecamatan yang merupakan dataran tinggi yaitu Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Dari total luas Kabupaten Gowa 35,30 persen mempunyai kemiringan tanah di atas 40 derajat, yaitu pada wilayah kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya dan Tompobulu. Kabupaten Gowa dilalui oleh banyak sungai yang cukup besar yaitu ada 15 sungai. Sungai dengan luas daerah aliran yang terbesar adalah Sungai Jeneberang yaitu seluas 881 km² dengan panjang 90 km.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gowa Nomor 7 Tahun 2005, Kecamatan Bajeng Barat membawahi 7 desa, yaitu:
1. Desa Gentungang 2. Desa Tanabangka 3. Desa Borimatangkasa 4. Desa Mandalle 5. Desa Manjalling 6. Desa Kalemandalle 7. Desa Bontomanai
Ibukota Kecamatan Bajeng Barat adalah Romangbone Desa Borimatangkasa.Dengan jarak 15 km dari ibukota kabupaten gowa.Jumlah penduduk Kecamatan Bajeng Barat tercatat sebanyak 22.933 jiwa, terdiri dari laki-laki 11.171 jiwa dan perempuan 11.726 jiwa. Komposisi Penduduk menurut usia seperti tertera dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1.Komposisi Luas Wilayah, Rumah Tangga dan Jumlah Penduduk Berdasarkan Desa di Kecamatan Bajeng Barat Desa Luas Wilayah
(Km2) Rumah Tangga Penduduk
Gentungang 3,30 1.445 5.603
Tanabangka 2,40 874 3.502
Borimatangkasa 3,12 897 3.391
Mandalle 1,98 774 2.958
Manjalling 3,48 956 3.669
Kalemandalle 2,96 838 3.231
Bontomanai 1,79 594 2.303
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)Bajeng Barat dalam angka 2020
Penduduk Kecamatan Bajeng Barat yang umumnya berprofesi sebagai petani, sedangkan sector non pertanian umumnya bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup besar hal ini dapat dilihat dari konstribusi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang setiap tahunnya mencapai 100%.
Desa Gentungang merupakan desa yang terletak di Kecamatan Bejeng Barat di Kabupaten Gowa, memiliki luas 572,87 Ha. Batas-batas administratifnya adalah sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bontonompo, sebelah utara berbatasan dengan Desa Bontomnai dan Tanabangka, sebelah barat berbatasn dengan Kabupaten takalar, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bontonompo. Secara astronomi terletak antara 119°23'0"E sampai 119°26'0"E dan 3°17'0"S sampai 3°19'0"S.
C. Keadaan Penduduk
Keadaan social masyarakat Desa Gentungan Kab.Gowa sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian penrajin batu merah dan bertani.Masyarakat Desa Gentungan menggunakan bahasa sehari-hari mereka dalam berinteraksi menggunakan bahasa Makassar.
Pada umumnya kebiasan masyarakat Desa Gentungan masih mengedepankan sikap saling tolong menolong dan saling bergotong royong, seperti masyarakat desa lainnya kehidupan masyarakat Desa Gentungan masih terbilang jauh dari kata sejahtera itu dikarenakan kondisi ekonominya yang kurang.
Jumah penduduk Desa Gentungang sebanyak 5603 jiwa, dan sebanyak 1445 rumah tangga dengan 2709 jiwa penduduk laki-laki dan 2917 jiwa penduduk perempuan. (Data Badan Pusat Statistik Bajeng Barat dalam angka 2020)
D. Jenis potensi umum Desa Gentungan
Tabel 4.2 Jenis Potensi umum Desa Gentungang
NO
Jenis Potensi Umum Volume Material
2
SD/MIS
SMA
SLTP/MTS
SPAS
TK
PAUD
4 Unit 1 Unit 0 Unit 2 Unit 4 Unit 4 Unit
7
Prasarana Olahraga
Lapangan sepak bola
Lapangan Volly
Lapangan Takraw
Tennis Meja
Lapangan Badminton
1 Unit 1 Unit 1 Unit 0 Unit 1 Unit
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Bajeng Barat dalam angka 2020
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Implementasi Program Keluarga Harapan dalam Kesejahteraan Masyarakat.
Implementasi merupakan tahap penting dalam sebuah kebijakan, tanpa implementasi suatu kebijakan tidak dapat berjalan baik.Kebijakan merupakan suatu tindakan yang berorientasi pada tujuan dan bukan merupakan keputusan tunggal atau sepihak, tetapi berdiri dari beberapa pilihan untuk mencapai tujuan tertentu demi kepentingan rakyat banyak.Kebijakan publik dibuat untuk merespon masalah suatu kelompok atau kebutuhna kongkret yang berkembang di masyarakat.Tindakan yang dibuat terangkum dalam keputusan Pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang ataupun peraturan-peraturan pemerintah yang terkait.
Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan salah satu bentuk kebijakan public subtantif, kebijakan subtantif merupakan kebijakan yang memberikan tekanan pada subject metter dari apa yang dibutuhkan warga.
Jadi, PKH dikatakan sebagai kebijakan subtantif karena Program Keluarga Harapan merespon masalah kemiskinan dikalangan masyarakat serta berupaya untuk mensejaterakan masyarakat miskin suatu daerah melalui bidang pendidikan dan kesehatan.
a. Tahapan Pelaksanaan PKH
Pelaksanaan PKH di Desa Gentungang dibantu oleh pendamping yang tinggal di Desa Gentungang sehingga mampu memantau keberlangsungan PKH supaya lebih terjaga dan berhasil. Pendamping PKH lebih menghabiskan waktunya berada dilapangan dibandingkan di kantor.
Pendamping PKH sebagian besar melakukan kegiatan dilapangan seperti mengadakan pertemuan dengan Ketua Kelompok PKH di Desa Gentungang, berkunjung serta berdiskusi. Pertemuan yang dilakukan bertujuan untuk memberikan motivasi dan dorongan untuk memiliki kemandirian setelah keluar dari anggota penerima PKH agar anggota PKH berkurang.
Adapun tahapan dalam pelaksanaan bantuan PKH, sesuai hasil wawancara terhadap pendamping PKH mengatakan:
“..Iya sudah berjalan dengan baik, itu tahapan-tahapannya, pertama melakukan observasi lapangan dan mendata orang yang tidak mampu kemudian berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memverifikasi apakah layak mendapatkan PKH atau tidak..” (Zulkifli/24/12/2020) 1. Melakukan Observasi Lapangan
Pendamping PKH melakukan observasi ke rumah - rumah masyarakat yang nantinya menerima bantuan PKH ini, 6 dusun di desa gentungang untuk memastikan atau mencocokkan apakah memang pantas untuk menerima ini bantuan atau tidak.
2. Mendata Orang Tidak Mampu
Setelah Melakukan Observasi pendamping PKH akan mendata masyarakat miskin yang nantinya menerima bantuan PKH, bantuan
PKH ini memiliki skema bantuan yang terbagi ke beberapa jenis bantuan yang berfokus pada ibu hamil, keluarga yang memiliki anak balita, dan anak yang masih sekolah baik SD, SMP dan SMA, selanjutnya bantuan kepada lanjut usia yang diatas 70 tahun serta disabilitas berat.
3. Berkordinasi dengan Pemerintah Desa
Setelah melakukan observasi dan mendata masyarakat miskin penerima bantuan PKH, tahapan selanjutnya yakni pendamping PKH akan berkordinasi dengan pemerintah desa tentang data yang sudah didapat mencocokkan apakah memang pantas menerima bantuan dan melihat lagi apakah memang masuk dalam skema bantuan PKH. Bantuan ini merupakan bantuan bersyarat memiliki beberapa persyaratan yang harus terpenuhi sehingga bisa mendapatkan bantuan ini.
4. Memperivikasi Layak Tidaknya Menerima Bantuan
Tahapan terakhir dalam pelaksanaan PKH ini setalah berkordinasi kepada pemerintah desa data yang didapat pendamping PKH akan disetor ke desa untuk di verifikasi kelayakannya kemudian disetor ke pusat untuk divalidasi datanya jadi penentu penemima bantuan PKH ini dari pusat karena nanti nama-nama penerima bantuan akan dikeluarkan oleh pusat atau KEMENSOS.
Kemudian setelah nama-nama penerima bantuan PKH keluar desa akan mengadakan pertemuan kepada masyarakat penerima bantuan dan sosialisasi tentang mekanisme nantinya dalam menerima bantuan PKH ini.
“..waktu itu saya dikasih surat undangan dan pemberitahuan dari kepala Dusun kalau keluarga saya berhak mendapatkan bantuan PKH. Terus saya sama ibu-ibu lain dikumpulkan di kantor Desa dan diberi arahan dari pendamping tentang PKH ..’”(Jumasiah/25/12/2020)
Penerima bantuan PKH membenarkan adanya sosialisasi yang dilakukan desa kepada masyarakat penrima bantuan PKH sebelum menerima bantuan agar masyarakat tidak bingung dalam menerima bantuan PKH nantinya.
b. Kriteria Keluarga Penerima Manfaat PKH
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga miskin yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH. Kriteria keluarga penerima manfaat PKH adalah keluarga miskin yang memenuhi minimal salah satu syarat, seperti
1) ibu hamil/menyusui,
2) memiki anak berusia 0 sampai dengan 5 tahun 11 bulan.
3) Memiliki anak SD/MI atau sederajat, memiliki anak SMP/MTs atau sederajat. Memiliki anak anak SMA/MA atau sederajat.
4) PKH juga diberikan kepada keluarga dengan anak usia 6 sampai dengan 21 tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar 12 tahun.
5) Selain itu PKH juga diberikan untuk keluarga lanjut usia diutamakan mulai dari 70 tahun dan
6) penyandang disabilitas diutamakan penyandang disabilitas berat.
Penerima bantuan PKH, masyarakat yang pantas mendapat bantuan sesuai dengan persyaratan penerima bantuan PKH ini. Sesuai dengan wawancara terhadap informan:
“..Yang dapat ini yang benar-benar orang miskin yang pantas dapat.
Kalau masalah tepat sasarannya, tugas kita ini sebagai pendamping PKH cuman pergi mendata orang-orang miskin baru nanti di validasi datanya kemudian di kirim ke kemensos, kalau masalah yang dapatnya, dari pihak kemensos yang menetukan siapa yang dapat setelah divalidasi ulang itu data-data..”(Zulkifli/2412/2020)
Adapun hasil wawancara terhadap masyarakat penerima bantuan PKH di desa Gentungang
“..Kalau masalah tepat sasarannya kurasa tepat sasaranmi karna orang tidak mampuji yang dapat tapi masih banya yang kurang mampu yang tidak dapat karna tidak memenuhi syarat karna PKH ini bantuan nia syaratna contona saya nia’ anakku sekolah dan tidak mampuka jadi dapatka.”(Jumasiah/25/12/2020)
Dari hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa yang menerima bantuan PKH ini adalah orang-orang yang memang pantas mendapat bantuan ini karena sebelum menentukan penerima bantuan ada pendataan yang dilakukan pendamping PKH yang nantinya akan divalidasi datanya apakah memang pantas menerima, dalam pelaksanaan bantuan PKH ini sudah bisa dikatakan berjalan sesuai dengan aturan dilihat data penerima bantuan PKH ini.
c. Besar Bantuan yang Diterima Peserta PKH
Besar bantuan PKH sesuai dengan skema bantuan kriteria besar bantuan yang didapat dari hasil wawancara terhadap pendamping PKH mengatakan:
“..Iya sesuaimi, karena memang sudah ada ketentuannya ada skemanya, kaya kategori Ibu hamil dan Anak Usia Dini atau memiliki balita yang na dapat itu 3.000.000/tahun. Tapi na dapat pertiga bulan jadi 750.000 nadapat. Kategori Anak Sekolah SD,SMP,SMA berbeda-beda na dapat kaya SD 900.000/tahun jadi yang na dapat pertiga bulan 225.000, SMP 1.500.000/tahun pertiga bulan 375.000, SMA 2.000.000/tahun jadi pertiga bulan 500.000 itu kalau anak sekolah, kalau lanjut usia sama disabilitas berat yang na dapat pertahun 2.400.000/tahun pertiga bulan 600.000..” (Zulkifli/24/12/2020)
Adapun data table besar bantuan yang diterima peserta PKH beserta status penerima.
Table 5.1 skema bantuan PKH
No Kategori Indeks/Tahun (Rp) Indeks/Per 3 Bulan (Rp)
1. Ibu Hamil 3.000.000 750.000
2. Anak Usia Dini 3.000.000 750.000
3. Anak Sekolah SD 900.000 225.000
4. Anak Sekolah SMP 1.500.000 375.000
5. Anak Sekolah SMA 2.000.000 500.000
6. Lanjut Usia 70+ 2.400.000 600.000
7. Disabilitas Berat 2.400.000 600.000
Sumber:kementrian sosial republik Indonesia
Adapun tentang besar bantuan PKH ini menurut masyarakat penerima bantuan mengatakan:
“..Kalau masalah besarnya, ya begitumi setidaknya sudah memenuhi kebutuhan lah cuman kaya berkurangmi sekarang beda sebelumnya, karena kan 2 anak ku yang masih sekolah kemarin dapat semuai tapi sekarang satumami dapat karena ada pengurang bede..”(Nursina/26/12/2020)
Dari hasil wawancara diatas besar bantuan PKH ini sudah memenuhi kebutuhan penerima bantuan baik digunakan untuk keperluan sehari-hari serta digunakan untuk membelikan keperluan sekolah anaknya. Sesuai dengan tujuan bantuan PKH ini untuk keperluan pendidikan, kesehatan, keperluan sahari-hari
d. Efektifitas Pelaksanaan PKH
Adapun dari hasil wawancara tentang efektivitas pelaksanaan PKH ini menurut informan antara lain:
“..Iya sudah efektif tapi tetap ada saja masalah yang dihadapi misalnya ada beberapa masyarakat yang sudah didata tapi tidak dapat bantuan namun yang terlibat dalam pelaksanaan PKH dari pihak pemerintahan setempat sampai dengan pendamping PKH, saya rasa semua sudah menjalankan tugasnya dengan baik kami turun lansung ke lapangan untuk mendata dan melihat secara langsung masyarakat yang kurang mampu..” (Zulkifli/24/12/2020)
Dari wawancara orang terlibat dalam bantuan ini sudah melaksanakan tugasnya masing-masing.Dengan adanya program PKH tersebut dapat membantu para masyarakat yang kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan biaya pendidikan untuk anak-anaknya.Dari implementasi dari PKH tersebut bisa tersalurkan tepat sasaran sesuai dengan kondisi masyarakat dilapangan.
2. Faktor yang mempengaruhi Implementasi Program Keluarga Harapan Melihat implementasi PKH dilapangan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.faktor-faktor ini yang menunjang berjalannya program tersebut apakah dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Diharapkan implementasi program PKH ini bisa tepat sasaran dan dapat membantu masyarakat yang kurang mampu dalam segi ekonomi dan pendidikan.
Masyarakat Desa Gentungang pada umumnya menggantungkan hidup
Masyarakat Desa Gentungang pada umumnya menggantungkan hidup