BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.2 Landasan Teoritis
2.2.3 Fungsi Sintaksis Arab
Fungsi dalam istilah linguistik adalah hubungan antara satuan-satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal, atau fonologis dalam suatu deret satuan-satuan. Fungsi juga berarti peran unsur dalam suatu ujaran dan hubungannya secara struktural dengan unsur lain. Adapun fungsi sintaksis adalah peran sebuah unsur dalam satuan sintaksis yang lebih luas (misal : nomina berfungsi sebagai subyek atau obyek dalam kalimat) (Kridalaksana dalam Kuswardono 2018 : 88).
Fungsi sintaksis dalam bahasa Arab, apabila diklasifikasikan berdasarkan i’ra>b-nya terbagi menjadi tiga :
1. Marfu>‘atul asma>
Marfu>‘atul asma> merupakan ism-ism (nomina) yang dibaca raf’ (nominatif).
Marfu’atul asma’ ini ada tujuh macam, meliputi: fa>‘il (agent), na>ib fa>‘il (pro-agent), mubtada’ (topic), dan khabarnya (comment), ism ka>na wa akhwatuha (noun of to be), khabarnya inna wa akhwatuha (comment of indeed), dan ta>bi’
(follower) yang meliputi empat macam: na’t (descriptive), ‘atf (attracted), taukid (confirmative), dan badal (substitute) (AlGhani 2011:9).
1) Fa>‘il (agent)
Fa>‘il (agent) adalah ism (nomina) yang dibaca raf’ (berkasus nominatif) yang sebelumnya didahului oleh fi’l (ma’lum) (AlGhani 2011:9). Fa>’il adalah ism (nomina) yang dibaca raf’ (nominatif) yang disandarkan pada fi’l ma’lu>m atau serupa dengan fi’l yang disebutkan sebelumnya dan menunjukkan arti pelaku atau yang melakukan pekerjaan (AlHasyimi 2012:87) contoh ٌد يَزٌَماَق.
2) Na>ib fa>‘il (pro-agent)
Na>ib fa>‘il adalah ism (nomina) yang dibaca raf’ (nominatif) yang menggantikan posisi fa’il secara i’ra>b-nya, bukan secara maknanya, dengan merubah wazan: ٌَلَعَف menjadi ٌَلِع ف, dan wazan ٌلَع فَي menjadi
ٌ
لَع ف ي, contoh: ٌر مَلأاٌَيِض ق (Nursiyo 2012:196).
3) Mubtada’ (topic)
Mubtada adalah ism (nomina) yang dibaca raf’ (nominatif) yang sepi dari
‘a>mil lafdzi, contoh: ٌَِّللّاٌٌلو سَرٌٌدَّمَح م (Muhammad tanpa tahun:122).
4) Khabar (comment)
Khabar adalah sesuatu yang disandarkan kepada mubtada’-nya dan menjadi keterangan dari mubtada’-nya, contoh:انبرٌ الله (Isma’il, 2000:102).
5) Ism ka>na (noun of to be) dan saudara-saudaranya
Ka>na dan saudaranya beramal me-raf’-kan ism-nya dan me-nashb-kan khabar-nya. Adapun saudara-saudaranya meliputi: ٌ،ىَس ٌمَأٌ ،ناَك
ٌَصٌ ،َتاَبٌ ،َّلَظٌ ،ىح ضَأٌ ،َحَب صَأ اَمٌ ،َلاَزاَمٌ ،َس ي َلٌ ،َرا
ا
ٌَ
مٌ ،َكَف ن ا
ٌ
ٌ
َحربٌامٌ،ماٌَدٌاَمٌ،َئِتَف, contoh: ٌَِّللّاٌَلو سَرٌٌدَّمَح م ٌناََ ك (AlGhani 2011:268).
6) Khabar inna (comment of indeed) dan saudaranya
Inna dan saudaranya beramal me-nashb-kan ism-nya dan me-raf’-kan khabar-nya. Adapun saudaranya meliputi:ٌ،َت ي َلٌ،َّن أَكٌ،َّنِك َلٌ،َنَأٌ،َّنِإ
ٌَّلَع َل , contoh: ٌمِئاَقٌاًد يَزٌَّنِإ (AlGhani 2011:291) 7) Ta>bi’ (follower)
Ta>bi’ merupakan lafadz yang mengikuti kata yang di-raf’-kan. Ta>bi’ ini terdapat empat macam meliputi: na’t (descriptive), ‘atf (attracted), taukid (confirmative), dan badal (substitute). Na’t adalah ism (nomina) yang mengikuti kata sebelumnya dalam i’ra>b-nya (raf’, nashb, dan ja>rnya), mudzakar muannats-nya, ma’rifat nakirah-nya, dan mufrad mutsanna jamak-nya. contoh: ٌلِضاَف لاٌدَّمَح مَءاَج (Nursiyo 2012:184).
‘Atf adalah tabi’ (kata yang ikut) pada matbu>’-nya (kata yag diikuti) yang memakai perantara salah satu dari sepuluh huruf ‘atf. Huruf-huruf ‘atf itu
meliputi نكلٌ،لاٌ،لبٌ،ا مإٌ،وأٌ،مأٌ،ى تحٌ، مثٌ،فٌ،وcontoh:
ٌ
رَم عٌَو دَّمَح مَءاَج (Muhammad tanpa tahun:318-320).
Taukid adalah kata yang mengikuti i’ra>b sebelumnya yang berfungsi sebagai penguat, contoh: ٌه س فٌنٌ َ دَّمَح مٌَءاَج (Nursiyo 2012:188).
Badal adalah kata ganti yang mengikuti i’ra>b sebelumnya (mubdal minhu) yang berfungsi sebagai penjelas dari mubdal minhu-nya tanpa lantaran huruf ‘atf yang bermakna “yaitu”, contoh: ٌِف و رٌعَم لاِبٌٌدَّمَح ماَن دِ يَسَرَمَأ (Nursiyo 2012:195).
2. Manshu>batul Asma>
Manshu>batul asma> adalah ism-ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif).
Manshu>batul asma ini meliputi: maf’u>l bih (direct patient), mashdar (absolute patient), Zharaf zaman (circumstantial of time), Zharaf makan (circumstantial of place), h}al (status), tamyiz (distinctive), mustasna (excluded), ism la (noun of no), munada, maf’u>l min ajlih (causal patient), maf’u>l ma’ah (concomitant patient), khabar ka>na dan saudaranya (comment of to be), ism inna dan saudaranya (noun of inndeed), dan ta>bi’ (follower) yang terdiri atas empat meliputi na’t (descriptive), ‘atf (attracted), taukid (confirmative), dan badal (substitute) (AlGhani 2011:12).
1) Maf’u>l bih (direct patient)
Maf’u>l bih adalah ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif) yang menjadi sasaran pekerjaan (objek penderita). contoh: ٌَسَرَف لاٌ ت بِكَر (Muhammad tanpa tahun:194).
2) Mashdar (absolute patient)
Mashdar atau dengan kata lain disebut dengan maf’u>l muthlaq adalah mashdar pelengkap yang mengukuhkan ‘a>mil-nya, menjelaskan macam atau bilangannya, contoh: اًٌب رَضٌ اًد يَزٌ ت بَرَض (Muhammad tanpa tahun:214).
3) Zharaf zaman (circumstantial of time)
Zharaf zaman adalah ism (nomina) yang menunjukkan arti masa (waktu) yang dibaca nashb (akusatif) dengan memperkirakan makna “يف”, yang artinya pada atau dalam, contoh:ٌٌِسيِمَخ لاٌٌَم وَيٌ ت م ص (Muhammad tanpa tahun:220).
4) Zharaf makan (circumstantial of place)
Zharaf makan adalah ism (nomina) yang menunjukkan arti tempat yang dibaca nasb (akusatif) dengan memperkirakan makna “يف”, yang artinya di, contoh:ت يَب لاٌٌَماَمَأٌ ت سَلَج (Muhammad tanpa tahun:221).
5) H}al (status)
H}al adalah ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif) yang menjelaskan keadaan fa>‘il atau maf’u>l, atau keduanya yang belum jelas, contoh: ٌَءاَج اًٌبِكاَرٌ د يَز (Muhammad tanpa tahun: 235)
6) Tamyi>z (distinctive)
Tamyi>z adalah ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif) yang menjelaskan dzat atau nisbat yang masih samar, contoh: ٌ ت يَرَت شِا اًمَل غٌَن يِر شِع (Muhammad tanpa tahun: 244).
7) Mustasna (excluded)
Mustatsna adalah ism yang disebutkan setelah h}arf istitsna’ yang hukumnya berbeda dari sebelumnya dalam segi makna contoh : ٌَماَق اًد يَزٌَّلاِإٌ م وَق لا (Isma’il 2000:157)
8) Munada
Munada adalah ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif) sebab kemasukan huruf nida’ (panggil) اي yang diserupakan dengan fi’l, contoh: ٌِ للّاٌٌد َبَعٌاَي (Nursiyo 2012:166).
9) Ism la (noun of no)
Ism la merupakan salah satu penyebab i’ra>b nashb (akusatif), contoh:
ٌِرا دلاٌيِفٌٌَل جَرٌَلا.
10) Maf’u>l min ajlih (causal patient)
Maf’u>l min ajlih adalah ism atau nomina (bentuk mashdar) yang dibaca nasb (akusatif) untuk menjelaskan sebab atau alasan terjadinya perbuatan, contoh: دَّمَح مِلًٌٌلاَل جٌِاٌ د يَزٌَماَق (Muhammad tanpa tahun:227).
11) Maf’u>l ma’ah (concomitant patient)
Maf’u>l ma’ah adalah ism (nomina) yang dibaca nasb (akusatif), yang disebutkan sesudah wawu yang bermakna ma’a (serta), untuk menjelaskan bahwa dilakukannya suatu pekerjaan adalah bersamaan dengan ism tersebut, dan jatuh sesudah jumlah fi’liyah atau ismiyah yang mengandung makna fi’l, contoh: ٌَش يَج لاٌ َوٌ ر يِمَلأاٌ َءاَج (Muhammad tanpa tahun:231).
12) Khabar ka>na (noun of to be) dan saudara-saudaranya
Ka>na dan saudaranya beramal me-raf’-kan ism-nya dan me-nasb-kan khabar-nya. Adapun saudara-saudaranya meliputi:ٌ،ىَس ٌمَأٌ ،ناَك
ٌَصٌ،َتاَبٌ،َّلَظٌ،ىح ضَأٌ،َحَب صَأ اَمٌ،َس ي َلٌ،َرا
ٌ اَمٌ،َلاَز ا
،َكَف ن
ٌ اَم
ٌ
،ٌَماٌدٌاََ مٌ،ٌَئِتَف contoh: ٌَِّللّاٌٌَلو سَرٌ دَّمَح م ٌَناَك (AlGhani 2011:268) 13) Ism inna (comment of indeed) dan saudaranya
Inna dan saudaranya beramal me-nasb-kan ism-nya dan me-raf’-kan khabar-nya. Adapun saudaranya meliputi: ٌٌ،َت ي َلٌ،َّن أَكٌ،َّنِك َلٌ،َنَأٌ،َّنِإ
ٌَّلَع َل , contoh: ٌمِئاَقٌاًد يَزٌَّنِإ (AlGhani 2011:291) 14) Ta>bi’ (follower)
Ta>bi’ merupakan lafadz yang mengikuti kata yang di-nasb-kan. Ta>bi’ ini terdapat empat macam, meliputi: na’t (descriptive), ‘atf (attracted), taukid (confirmative), dan badal (substitute). Na’t adalah ism (nomina) yang mengikuti kata sebelumnya dalam i’ra>b-nya (raf’, nasb, dan ja>r-nya), mudzakar muannatsnya, ma’rifat nakirah-nya, dan mufrad mutsanna jamak-nya, contoh: ٌَلِضاَف لاٌاًدَّمَح مٌ ت يَاَر (Nursiyo 2012:184).
‘Atf adalah tabi’ (kata yang ikut) pada matbu>’-nya (kata yag diikuti) yang memakai perantara salah satu dari sepuluh huruf ‘atf. Huruf-huruf ‘atf itu meliputi ،و ،ف ،مث ،وأ ،مأ ا مإ لب، لا، نكل، ىتح،
contoh:ٌاًٌر مَعٌَوٌاًدَّمَح مٌ ت يَأَر (Muhammad tanpa tahun:318-320).
Taukid adalah kata yang mengikuti i’ra>b sebelumnya yang berfungsi sebagai penguat, contoh: اٌهَس َ فَنٌَةَشِئاَعٌ ت يَأَر (Nursiyo, 2012:188).
Badal adalah kata ganti yang mengikuti i’ra>b sebelumnya (mubdal minhu) yang berfungsi sebagai penjelas dari mubdal minhu-nya tanpa lantaran
huruf ‘atf yang bermakna “yaitu”, contoh:ٌاًدَّمَح مٌ اَنَدِ يَسٌ ت مِ ظَع
ٌ
ِه يَلَعٌِمَلَّسلاَوٌِةَلَّصلاِب (Nursiyo 2012:195).
3. Makhfu>dhatul asma
Makhfu>dhatul asma adalah ism-ism (nomina) yang dibaca ja>r (genetif).
Makhfu>dhatul asma itu ada tiga macam meliputi (AlGhani 2011:16).
1) Ism yang di-ja>r-kan dengan h}arf
Ism yang di-ja>r-kan dengan h}arf ini meliputi ism (nomina) yang didahului oleh salah satu h}arf ja>r. H{arf ja>r meliputi ٌ،يِفٌ،ىَلَعٌ، نَعٌ،ى َلِإٌ، نِم
ٌ
ذ ن مٌ، ذ مٌ،تٌ،بٌ،َوٌ،لٌ،كٌ،بٌ،َّب ر, contoh: ٌِتٰوٰمَّسلاٌيِفٌاَمٌٌَِِّللّ
2) Ism yang di-ja>r-kan dengan idha>fah
Ism yang di-ja>r-kan karena idha>fah, Idha>fah adalah gabungan dua kata atau lebih. Kata yang pertama disebut mudha>f tanpa Al (لا), tanpa tanwin (ٌَ ًََ), dan tanpa nun (ن). Kedua disebut mudha>f ‘ilaih, mudha>f ‘ilaih hukumnya ja>r. seperti contoh: ٌِه قِف لاٌ باَتِك (Nursiyo 2012:58).
3) Ta>bi’(Follower)
Ta>bi’ merupakan lafadz yang mengikuti kata yang di-ja>r-kan. Ta>bi’ ini terdapat empat macam meliputi: na’t (descriptive), ‘atf (attracted), taukid (confirmative), dan badal (substitute). Na’t adalah ism (nomina) yang mengikuti kata sebelumnya dalam i’ra>b-nya (raf’, nasb, dan ja>rnya), mudzakar muannats-nya, ma’rifat nakirah-nya, dan mufrad mutsanna jamak-nya. contoh: ٌِلِضاَف لاٌ دَّمَح مٌىَلَعٌ تم لَس (Nursiyo 2012:184).
‘Atf adalah kata yang mengikuti i’ra>b sebelumnya dengan menggunakan salah satu huruf ‘atf. Huruf-huruf ‘atf itu meliputi ٌ،وأٌ ،مثٌ ،فٌ،و
ٌىتح،نكل،لاٌ،لبٌ،ا مإٌ،مأ, contoh:ٌٌمٌيٌِرَكٌَوٌ دَّمَح مٌىَلَعٌ تم لَس (Nursiyo 2012:191).
Taukid adalah kata yang mengikuti i’ra>b sebelumnya yang berfungsi sebagai penguat, contoh: ٌِهِل كٌِن يِدلاٌىَلَعٌ هَرِه ظ يِل (Nursiyo 2012:188).
Badal adalah kata ganti yang mengikuti i’ra>b sebelumnya (mubdal minhu) yang berfungsi sebagai penjelas dari mubdal minhu-nya tanpa lantaran huruf
‘atf yang bermakna “yaitu”, contoh:ٌ دَّمَحٌمٌاَنِدِ يَسٌىَلَعٌٌ ت مَّلَسٌَوٌ ت يَّلَص (Nursiyo 2012:195).
2.2.4 I’rab dab Bina’
2.2.4.1 I’rab
I’ra>b adalah perubahan akhir kata karena berbagai ‘a>mil yang masuk pada-nya, baik perubahan itu secara lafdzi> atau taqdiri> (Muhammad tanpa tahun : 6).
Pengertian tersebut sejalan dengan pemikiran AlGhani (2011:6). Kemudian I’ra>b menurut AlHasyimi (2012:23) adalah perubahan keadaan akhir kata karena perbedaan ‘a>mil yang masuk baik secara lafdzi> maupun taqdiri>. Sedangkan Yahya (2012 : 22) juga memberikan pengertian i’rab menurut ahli nahwu ialah berubahnya akhir-akhir kalimat disebabkan ‘amil yang masuk kepadanya, baik berubah kira-kira maupun lafadznya.
I’ra>b terbagi menjadi empat macam meliputi: raf’, nashb, ja>r, dan jazm. I’ra>b yang hanya bisa masuk pada kasus nomina (ism) itu hanya ada tiga meliputi: i’ra>b raf’ (nominatif), nashb (akusatif), dan ja>r (genetif), sedangkan i’ra>b yang bisa masuk pada modus verba (fi’l) hanya ada tiga meliputi raf’ (indikatif), nashb (subjungtif), dan jazm (jusif) (AlGhani 2011:6).
Setiap kasus nomina baik itu i’ra>b raf’ (nominatif), nasb (akusatif), dan ja>r (genetif) memiliki ciri gramatikal masing-masing, sebagai berikut :
1. Nominatif (raf’)
Dalam kasus nominatif ini terdapat tiga tanda gramatikal meliputi : dhammah, wawu, dan alif.
1) Dhammah
Dhammah menjadi penanda gramatikal untuk kategori ism bertempat pada (1) ism mufrad, contoh: ٌ ف يَّضلاٌَءاَج (telah datang seorang tamu), (2) jama’
taksir, contoh: ٌ لاَف طَلأاٌ َماَص (telah berpuasa para anak kecil), (3) jama’
muannats salim, contoh: ٌتاَمِل س م لاٌ تَعَمَت جِا (telah berkumpul para perempuan islam) (AlGhani 2011: 69-71).
2) Wawu
Wawu menjadi penanda gramatikal untuk kategori ism yang bertempat pada dua tempat yaitu (1) jama’ mudzakar salim, contoh:ٌَن و دِهَت ج م لاٌ َحَجَن (telah sukses para lelaki yang bersungguh-sungguh), dan (2) asmaul khamsah, contoh: ٌَكٌو بَأٌَءاَج (telah datang ayahmu) (AlGhani 2011:76-77).
3) Alif
Alif menjadi penanda gramatikal untuk kategori ism yang bertempat pada satu tempat yaitu ism tasniyah, Contoh: ٌِناَبِلاَّطلاٌَرَضَح (telah hadir dua siswa laki-laki) (AlGhani 2011:79).
2. Akusatif (Nasb)
Kasus akusatif (nashb) ini mempunyai empat tanda gramatikal, meliputi:
fathah, alif, kasrah, ya (AlGhani 2011:91) 1) Fathah
Fathah menjadi penanda gramatikal untuk kategori ism yang bertempat pada (1) ism mufrad, contoh: ًٌل جَرٌ ت يَاَر (aku telah melihat seorang laki-laki), (2) jama’ taksir, contoh: ًٌلااَف طٌَأٌ ت مَر كَأ (aku telah memuliakan para anak kecil) (AlGhani 2011:92).
2) Alif
Alif menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (1)asmaul khamsah, contoh: ٌَكاَبٌَأٌ ت يَاَر (aku telah melihat ayahmu) (AlGhani 2011:94).
3) Kasrah
Kasrah menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (1) jama’
muannats salim, contoh: ٌِتاَصِل خ م لاٌ َّللّاٌ مِر ك ي (Allah memuliakan para perempuan yang ikhlas) (AlGhani 2011:95).
4) Ya
Ya menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (1) ism tasniyah, contoh: ٌِن يَباَتِكٌ لاٌ تٌأَرَق (saya telah membaca dua buku), (2) jama’
mudzakar salim, contoh: ٌَن يِنِم ؤ م لاٌ َّللّاٌَرَصَن (Allah telah menolong para lelaki yang beriman) (AlGhani 2011:97-98).
3. Genetif (ja>r)
Kasus genetif (ja>r) mempunyai tiga tanda gramatikal meliputi: kasrah, ya, dan fathah (AlGhani 2011:105).
1) Kasrah
Kasrah menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (1) Ism mufrad munsharif, contoh: ٌدٌَّمَح مٌ ى َلِإٌ ت بَهَذ (saya telah menghadap ke muhammad), (2) jama’ taksir munsharif, contoh: ٌلاَف طٌَأِبٌ ت دِعَس (saya telah membahagiakan anak-anak) (3) jama’ muannats salim, contoh:
ٌ
تاَرَفاَسٌمِبٌ ت رَرَم (saya telah bertemu dengan orang-orang musafir) (AlGhani 2011:105-107).
2) Ya
Ya menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (1) asmaul khamsah, contoh: ٌَك يِبَأٌىَلَعٌ ت مَّلَس (saya telah memberi hormat kepada ayahmu), (2) ism tasniyah, contoh: ٌِن يَق يِدَصٌ ى َلِإٌ ت بَهَذ (saya telah menghadap kepada kedua teman), (3) jama’ mudzakar salim, contoh: ٌىلَعٌ ت مَّلَس
ٌَن يِحِجاَّنلا (saya telah memberi hormat kepada orang-orang yang sukses) (AlGhani 2011:107-108).
3) Fathah
Fathah menjadi penanda gramatikal yang bertempat pada (ism ghoiru munsharif, contoh:ٌدََم حَأِبٌ ت رَرَم (saya telah bersua dengan ahmad) ٌ (AlGhani 2011:108).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa i’ra>b adalah perubahan akhir kata yang disebabkan oleh ‘a>mil yang masuk. I’ra>b terdiri atas empat macam meliputi i’ra>b raf’, nashb, ja>r dan jazm. Namun untuk kasus nomina atau i’ra>b yang masuk pada ism itu hanya meliputi tiga i’ra>b saja yaitu raf’ (nominatif), nashb (akusatif), dan ja>r (genetif), sedangkan untuk i’ra>b yang masuk pada fi’l (verba) meliputi raf’ (indikatif), nashb (subjungtif), dan jazm (jusif). Dan setiap i’ra>b itu memiliki ciri gramatikal tersendiri begitu pula pada kasus nomina.
2.2.4.2 Bina’
Bina>‘ (mabni) adalah tetapnya keadaan akhir kata dalam harakat atau sukun (jika akhir kata itu diharakati dhummah, maka selamanya harus di-dhummah, tidak boleh di-kasrah, di-fathah, atau di-sukun, sekalipun dimasuki ‘a>mil yang berbeda (Muhammad tanpa tahun : 8). Sedangkan bina>’ adalah tetapnya akhir sebuah kata pada satu keadaan, walaupun didahului oleh berbagai ‘a>mil yang berbeda, maka
‘a>mil tersebut tidak memberikan dampak pada kata tersebut (AlGhulayaini 9191:14).
Bina>‘ itu terdapat empat macam meliputi dhummah, fathah, kasrah, dan sukun. Bina>‘ tersebut terdapat pada ism, fi’l, dan h}arf (AlHasyimi, 2012:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bina>’ adalah tetapnya akhir sebuah kata baik karena ‘a>mil yang masuk itu berbeda, dan macamnya ada empat meliputi: dhummah, fathah, kasrah dan sukun.
44 BAB III
METODE PENELITIAN
Pada pembahasan ini akan diterangkan tentang metode penelitian yang meliputi jenis dan desain penelitian, data dan sumber data, teknik pengunpulan data, teknik analisis data, dan instrumen penelitian.
3.1 Jenis dan Desain Peneltian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian ini mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaannya dengan fenomena lain. Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi, atau pengubahan pada variabel-variabel bebas , tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya (Sukmadinata 2009 : 72-73).
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan data dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono 2015 : 15).
Alasan penelitian ini digolongkan dalam jenis penelitian kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa ism fa<’il yang beramal (nomina agentif berperilaku
verba) dalam kitab suci Alquran, yang dibahas dalam penelitian ini tidak berhubungan dengan angka-angka.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka (library research). Studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan
metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian (Zed dalam Syarifah 2018 : 51).
3.2 Data dan Sumber Data
Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta atau juga dapat didefinisikan data merupakan kumpulan fakta atau angka atau segala sesuatu yang dapat dipercaya kebenarannya sehingga dapat digunakan sebagai dasar menarik suatu kesimpulan (Siregar 2010 : 128). Data dalam penelitian ini adalah ism fa’il yang beramal (nomina agentif berperilaku verba) dalam kitab suci Alquran.
Sedangkan sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto dalam Syarifah 2018 : 52). Sumber data pada penelitian ini diperoleh dari Alquran.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sunber primer dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan gabungan keempatnya (Sugiyono 2015 : 308-309).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Karena data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa dokumen.
3.4 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono 2015 : 335). Sedangkan analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan
untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat diinterpretasikan temuannya kepada orang lain (Zuriah 2009 : 217).
Tahapan analisis data merupakan tahapan yang sangat menentukan, karena pada tahapan ini, kaidah-kaidah yang mengatur keberadaan objek penelitian harus sudah diperoleh (Mahsun 2014:117). Adapun Metode analisis data adalah cara menguraikan dan mengelompokkan satuan lingual sesuai dengan pola-pola, tema-tema, kategori-kategori, kaidah-kaidah, dan masalah-masalah penelitian. Terdapat dua metode analisis data yakni metode padan atau identity method dan metode agih atau distributional method (Muhammad 2011:233).
Metode yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini menggunakan metode padan intralingual, Karena dalam penelitian ini, peneliti berusaha memandankan atau menyamakan temuan data dari ayat Alquran dengan ilmu sharf khususnya pada kajian nomina agentif yang berperilaku verba yang kemudian dianalisis serta memadankan atau menyamakan dengan ilm nachw pada bagian fungsi sintaksis dan penanda gramatikalnya
Untuk lebih jelasnya, peneliti menggunakan langkah-langkah dalam menganalisis data dengan menggunakan metode padan intralingual adalah sebagai berikut:
1. Peneliti mengumpulkan kalimat atau ayat yang di dalamnya terdapat kata yang termasuk nomina agentif yang berperilaku verba (ism fa<’il yang beramal)
2. Peneliti mengidentifikasi data atau kata dari ayat tersebut dari segi jenis serta wazan (pola) nya.
3. Peneliti menganalisis fungsi sintaksis serta penanda gramatikal dari data dalam ayat tersebut.
4. Peneliti menyimpulkan data ism fa<’il yang beramal yang ditemukan dalam Alquran.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul, sehingga tepatlah jika hubungan antara instrumen dengan data ini dikemukakan dalam ungkapan: “garbage tool garbage result” merupakan hubungan antara instrumen dengan data. itulah sebabnya menyusun instrumen bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dipahami (Arikunto 2009:134). Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri (Siregar 2010 : 307).
Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kartu data dan lembar rekapitulasi. Kartu data akan mempermudah peneliti dalam mengumpulkan data dan mencegah adanya data yang tertinggal.
Berikut ini adalah contoh format kartu data pada penelitian ini yang digunakan untuk menganalisis Ism Fa<’il yang Beramal (nomina agentif berperilaku verba) dalam kitab suci Alquran.
Tabel 3.1 Format Kartu Data Identitas
No.Kartu Data Alquran Surah No.Ayat
1 Al Baqarah 30
Ayat ٌٌ ٌُةَفي لَخٌ ِض رَ لأاٌ ىٌِفٌُل عاَجٌ ى ِنِإٌ ِةَكِئٰٰٓلَم لِلٌَك بَرٌ َلاَقٌ ذِإَو
ٌَوٌَءآَم ِدلاٌ كِف سَيَوٌاَهيِفٌ دِس ف يٌنَمٌاَهيِفٌ لَع جَتَأٌ۟آٰو لاَق
ٌ ن حَن
ٌَ
لاٌاَمٌ مَل عَأٌٰٓى ِنِإٌَلاَقٌ ٌَك َلٌ س ِدَق نَوٌَكِد مَحِبٌ ح ِبَس ن
ٌ
ٌَ نو مَل عَت Bersambung ...
Lanjutan ...
Terjemah Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Data ُل عاَج
Pembentukan kata pembentukannya yaitu dari fi’l ma<dliلعج kemudian ditambahkan alif karena dari jenis fi’l tsula<tsi< mujarrad.
Wazan لعاف
Perilaku menashabkan ma’mu<lnya atau nomina sesudahnya (ًٌةَف يِلَخ)karena mencakup salah satu syarat yaitu berkedudukan sebagai khabar Kasus Nomina agentif Nominatif
Ma’mul Akusatif
Fungsi Sintaksis Nomina agentif Khabar inna
Ma’mul Maf’ul bih
Penanda Gramatikal Nomina agentif Dlammah zhahirah
Ma’mul Fathah zhahirah
Keterangan Kata (ُل عاَج) pada ayat di atas merupakan nomina agentif yang mengikuti model pola (لعاف) karena dari jenis fi’l tsula<tsi<
mujarrad. Adapun perilakunya yaitu menashabkan ma’mu<lnya atau nomina sesudahnya(ًٌةَف يِلَخ)karena mencakup salah satu syarat yaitu berkedudukan sebagai khabar. Kata (ُل عاَج) pada ayat tersebut berkasus nominatif yang berfungsi sebagai khabar inna dengan penanda gramatikal berupa dlammah zhahirah karena ism mufrod.
sedangkan Kata (ًٌةَف يِلَخ) berkasus akusatif yang berfungsi sebagai maf’ul bih dengan penanda gramatikal berupa fathah zhahirah karena ism mufrod
Keterangan :
a. Baris pertama merupakan identitas yang berisi urutan nomor kartu, surah, dan nomor ayat yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal yang ditemukan dalam Alquran.
b. Baris kedua merupakan ayat Alquran.
c. Baris ketiga merupakan terjemahan ayat tersebut.
d. Baris keempat merupakan data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal.
e. Baris kelima merupakan asal pembentukan kata dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal.
f. Baris keenam merupakan wazan (model pola) dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal.
g. Baris ketujuh merupakan perilaku dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal.
h. Baris kedelapan merupakan kasus dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal beserta ma’mulnya.
i. Baris kesembilan merupakan fungsi sintaksis dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal beserta ma’mulnya.
j. Baris kesepuluh merupakan penanda gramatikal dari data ayat Alquran yang menunjukkan (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal beserta ma’mulnya.
k. Baris kesebelas merupakan keterangan keseluruhan data tentang (nomina agentif berperilaku verba) ism fa>’il yang beramal dalam ayat tersebut.
Berikut ini beberapa lembar rekapitulasi data yang berfungsi untuk merekap data yang telah terkumpul, kemudian data tersebut dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori tertentu.
Tabel 3.2 Lembar Rekapitulasi Model Pola Nomina Agentif Berperilaku Verba
No Model Pola No. Kartu Data Jumlah
1 لِعاف
2 لِعفم
3 لِعافم
4 لِعفم
5 لِعفتم
6 لِعافتم
7 لِعفنم
8 لِعتفم
9 ٌٌّلعفم
10 لِعفتسم
11 لِعوعفم
12 ل ِوعفم
13 ٌٌّلاعفم
14 لِلعفم
15 لِلعفتم
16 لِعوفتم
17 لِو عفتم
18 لِيعفتم
19 للنعفم
20 ٌللعفم
Total Keterangan :
a. No : Nomor urut pada lembar rekapitulasi
b. Model Pola : Model pola data yang merupakan nomina agentif berperilaku verba
c. No. Kartu data : Urutan kartu data yang memuat nomina agentif berperilaku verba
d. Jumlah : Jumlah kartu data yang memuat nomina agentif berperilaku verba
e. Total : Jumlah keseluruhan kartu data yang memuat nomina agentif berperilaku verba
Tabel ini digunakan untuk merekap hasil temuan data-data yang ada dalam Alquran dan untuk menjelaskan jumlah total data nomina agentif berperilaku verba
Tabel ini digunakan untuk merekap hasil temuan data-data yang ada dalam Alquran dan untuk menjelaskan jumlah total data nomina agentif berperilaku verba