• Tidak ada hasil yang ditemukan

58

Tabel 8 Kompisisi Jenis Profesi di Kawasan

No Jenis Mata Pencaharian Jumlah Prosen (%)

1 Pegawai Negeri Sipil 1.538 12.08

2 Pegawai Swasta 1.940 15.37

3 Pedagang 2.069 16.00

4 ABRI dan POLRI 615 5.00

5 Petani/nalayan 1.826 15.54

6 Buruh 4.331 34.01

7 Pensiunan/penganguran 414 3.00

Jumlah 12.733 100.00

Tabel 9 Komposisi Tingkat Pendapat per bulan Masyarakat di Kawasan.

Jumlah Responden (%) No. Tingkat Pendapatan Per bulan

(rupiah) Frekwensi Prosentase

1. < Rp. 750.000,- 16 26.55 2. Rp. 750.000, - Rp. 1.000.000,- 14 23.30 3. Rp. 1.000.000, - Rp. 1.250.000,- 10 17 4. Rp. 1.750.000, - Rp. 1.500.000,- 8 13.30 > Rp. 1.5.000.000,- 7 11.65 Tidak menjawab 5 8.30 Jumlah 60 100.00

Keterangan: Hasil survey kuisioner (n=60)

Sarana perekonomian ditandai dengan adanya 276 warung 30 toko, 12 toko material, 20 rumah makan, 12 peternakan, 35 ind ustri rumah tangga, termasuk usaha bier pletok sari buah belimbing, kue-kue dan dodol, serta kue bawang, wajik dan akar kelapa.

Sosial Budaya

Aktivitas sosial budaya dan kesenian Betawi di kawasan secara umum masyarakat Setu Babakan masih melaksanakan kegiatan upacara budaya secara utuh terutama pada RW 08 (mayoritas penduduk Betawi asli). Sedangkan pada RW 05 dan RW 07 sudah jarang melakukannya (penduduk campuran) dan untuk RW 06 sudah tidak melakukan kegiatan (mayoritas penduduk pendatang).

Aktivitas budaya yang masih dilakukan meliputi:

1) Aktivitas upacara adat yang berkaitan dengan adat istiadat dan tata cara hidup (mengaji, tamat qur’an,ngubak empang, kerja bakti).

2) Aktivitas upacara adat istiadat yang berkaitan dengan daur kehidupan manusia (upacara pengantin, nujuh bulan, akekah, cukur tambut, sunatan,

59

kerja bakti, ngubak empang).

3) Upacara yang berkaitan dengan keagamaan (mengaji, tamat Qur”an, , Idul Fitri, Idul Adha, Nispu, Maulid Nabi, Kematian).

Presentasi masyarakat Betawi dan non Betawi yang masih melakukan upacara adat tersaji pada Tabel 10.

Tabel 10 Presentasi Masyarakat Betawi dan Non Betawi yang masih Melakukan Upacara adat.

Melakukan Upacara Adat Istiadat (%)

No Kegiatan Upacara Adat

Betawi Non Betawi

1. Kelahiran 36.84 25.80

2. Pemberian nama 26.32 22.58

3. Khitanan 52.63 51.61

4. Pertunangan 26.32 25.80

5. Pesta Perkawinan 57.89 51.61

6. Tujuh Bulan Kehamilan 52.63 25.80

7. Peringatan Tiga Hari Wafat 57.89 58.06

8. Peringatan Empatpuluh Hari Wafat 57.89 32.26

Sumber Bintal DKI, 2002

Aktivitas kesenian Betawi di Setu Babakan, menurut Biro Bina Mental dan Spritual DKI Jakarta (2000) meliputi: (1) Kesenian Tari seperti, tari zapin, topeng, samrah, ondel-ondel, (2) Kesenian Drama seperti, Le nong Betawi, jinong,

Umbruk Betawi, (3) Kesenian Musik seperti, keroncong tugu, rebana, gambang kromong, tanjidor (Tabel 11). Kegiatan kesenian dilakukan karena kesadaran umum diantara masyarakat Betawi pada umumnya. Identifikasi kegiatan budaya tersaji pada Lampiran 2, 3, 4.

Menurut Yasmin (l997) secara umum jenis kesenian Betawi yang sudah mulai bangkit kembali dan terkelola dengan baik adalah seni tari seperti: Lenong, Jinong, Jipeng, Topeng, dan Blantek Kegiatan seni musik tradisional Betawi, meliputi: (1) Gambang kromong, (2) Tanjidor, (3) Gamelan Topeng dan Rebana. Semua bentuk kesenian musik dan tari tersebut pada umumnya sebagai pengiring/ kelengkapan kegiatan hajatan/keramaian. Aktivitas pentas kesenian saat ini sudah terjadwal cukup baik dengan frekuensi pertunjukan rutin minimal satu kali pertunjukan dalam satu minggu, dengan tampilan yang berbeda-beda dan pemain yang berbeda serta diatur sesuai jadwal pertunjukan. Beberapa contoh kegiatan aktivitas budaya di kawasan tersaji pada Gambar 28.

60

Tabel 11 Jenis Kegiatan Kesenian yang Terdapat Kawasan

Tari Drama/Teater Musik

Tari Topeng 1. Teater peran dengan tutur Gambang Kromong Asli Gambang Kromong Rancak Tari Topeng Tanjidor Lenong (denes, preman) Gambang Kromong Rancang Tari Topeng Lenggo Jinong Gambang Kromong Kombinasi

Tari Zapin Samrah Tanjidor

Tari Lenggo Wayang (golek,kulit Betawi) Keroncong Tugu Tari Belenggo Rebana Demuluk Gamelan Ajeng Tari Belenggo Ajeng Rancak Gamelan Topeng

Tari Cokek Buleng Samrah/samra

Tari Pencak Silat Ubruk Betawi Rebana Ketimpring Tari Samrah Topeng Betawi Rebana Ngarak Ondel-ondel Sahibulhikayat Rebana Maulid Permainan Unjulan/tari unjul 2. Teater tanpa Tutur Rebana Hadroh

Ondel-ondel Rebana Dor Gembokan Rebana Qosidah

Rebana Maukhid Rebana Burdah Rebana Biang

Gambar 28 Kegiatan Budaya Di Setu Babakan, (a) Sepasang Pengantin (b) Ngarak Penganten sunat, (c) Tari Topeng, (d) Lenong Denes

(c)

( b) (a)

61

Kegiatan kesenian saat ini sudah terealisasi dengan baik karena ditunjang oleh fasilitas panggung terbuka dan plasa. Secara umum kegiatan kesenian dilakukan pada siang hari, tetapi kadang-kadang juga dilakukan pada malam hari. Walaupun sedikitnya jumlah penonton yang diduga karena kurangnya promosi dari pihak pengelola maupun Pemda Dinas Pariwisata DKI dan LKB. Disamping kegiatan dan upacara adat, juga terdapat permainan tradisional (rakyat) seperti, main galah asin, tok kadal, blengket, dampu, tak ingglo, monyet -monyetan, jalangkung,

congklak. Pada umumnya permainan tersebut dilakukan pada pekarangan. Gambar 29 menunjukan persebaran kegiatan budaya Betawi di kawasan.

Kebijakan Peraturan dan Rencana Pengembangan

Dalam Peraturan Daerah No. 6 tahun l999 mengenai Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta pada pasal 74 dijelaskan tentang Pengembangan wilayah Selatan sebagai daerah resapan air. Untuk pengembangan kawasan PBB, merupakan kebijakan Pemda yang berkaitan dengan sektor pertanian, peternakan, pariwisata, dan konservasi lingkungan.

Rencana pengembangan Setu Babakan dari 32 ha menjadi 35 ha dan Setu Mangga Bolong 11 ha menjadi 17 ha. Meliputi lahan tidur disekitar ke dua Setu. Perluasan kedua danau tersebut bertujuan menjadikan kawasan Perkampungan Budaya Betawi menjadi wisata yang kegiatannya sesuai dengan ruang lingkung budaya Betawi. Pengembangan kawasan Setu Babakan selain sebagai kawasan wisata budaya juga akan dikembangakan menjadi wisata air dan agro (Kep. Gub DKI Jakarta No. 92 Tahun 2000). Pengembangan tersebut memanfaatkan potensi sumberdaya alam danau dan vegetasi khas kawasan. Pengembangan juga disesuaikan dengan pola penggunaan lahan dan ruang lingkup budaya Betawi dengan segala aktivitasnya.

Rencana Pengembangan secara umum terbagi menjadi dua (2) kebijakan yaitu: 1) Kebijakan yang menyangkut pengaturan angka kerapatan bangunan,

dengan penetapan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sebesar 10-20 %. Garis Sempadan Bangunan (GSB) 3 meter untuk bangunan bagian dalam dan 10 meter untuk bangunan bagian luar tepi jalan utama.

62

63

2) Kebijakan tata guna lahan di daerah studi diikuti dengan Pola pembangunan yang mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Tahun 2005 dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK).

Pemilihan kampung Babakan sebagai Perkampungan Budaya Betawi berdasarkan kemudahan dalam pegembangan ‘land use” secara optimal dan mampu menarik investasi, meminimalkan penggusuran dan kemudahan akses.

Status dan Fungsi Kawasan

Status Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong sebagai daerah

Perkampungan Budaya Betawi yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No. 92 Tahun 2000, dan diperkuat oleh Raperda No.17 Tahun dan Perda tanggal 21 Mei 2004 tentang Penataan Lingkungan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Kotamadya Jakarta Selatan. Kampung Setu Babakan (danau/setu) berfungsi sebagai waduk irigasi dan pengendali tata air dan rekreasi lokal (wisata air dan olah raga air).

Maka kedudukan kampung Babakan memerlukan pengelolaan meliputi manajemen lingkungan. Kegiatan yang ada dalam tapak diharapkan dapat :

1) Menciptakan Kawasan Perkampungan Budaya Betawi bernuansakan khas tradisional yang indah, serasi dengan lingkungan yang nyaman serta bersahabat dan mempunyai nilai jual bagi masyarakat turis lokal, nasional dan internasional.

2) Meciptakan sarana penghijauan dalam rangka menunjang program “langit biru” (KDB) 10-20%) dengan penanaman pohon buah kecapi, ceremai, gandaria, bacang, nam-nam, gowok, salak dan lainnya.

3) Menggunakan lahan di sekitar lokasi difungsikan sebagai ruang terbuka hijau sehingga menyerap air hujan dan mempertahankan keberadaannya serta perlindungan sebagai hutan kota Propinsi DKI Jakarta, khususnya di kawasan Barat Universitas Indonesia.

4) Menampung resapan air, bagi Jagakarsa dimusim hujan dan penampungan air bagi Jakarta Selatan serta mengantisipasi banjir dimusim hujan.

5) Memberikan ragam pariwisata untuk tujuan wisata, melalui Pembangunan Budaya Betawi sebagai wisata.

64

6) Menjadikan sarana rekreasi dan hiburan (rekreaif dan edukatif), melalui pemanfatan Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong sebagai rekreasi alam yang segar.

7) Menjadikan kawasan Perkamp ungan Budaya Betawi sebagai pusat informasi, pusat penelitian dan kreatifitas dalam pengembangannya sebagai sarana wisata budaya.

8) Meningkakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Devisa Negara, melalui kerja sama dengan biro-biro perjalanan.

9) Menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat melalui pembangunan Proyek

10) Mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat setempat melalui

pemanfaatan potensi alam sekitar kawasan dan pemberdayaan masyarakat Betawi pada umumnya melalui bidang jasa, tontonan/pertunjukan seni-budaya secara berkala terencana, berkala, terpadu dan berkesinambungan. Fungsi- fungsi kawasan tersebut diatas bersifat:

1) Sebagai pusat informasi dalam bidang kebudayaan maupun ilmu lainnya, yang dapat menunjang serta berkaitan dengan pembinaan kebudayaan Betawi.

3) Sebagai wadah kreativitas pengembangan dan berfubgsi sebagai pusat penelitian pengetahuan seniman dan melatih kreatifitas dengan menampilkan secara tetap melalui pertunjukan dan pameran.

4) Sebagai ruang kegiatan rekreatif dan tempat komunikasi antara seniman- seniman Betawi, wadah hiburan bagi masyarakat dengan pertunjukan kesenian Betawi.

5) Mendidik masyarakat dan generasi muda untuk mengenal lebih dalam dan dapat mengembangkan kebudayaan Betawi dalam pendidikan non formal

Pengelolaan dan Master Plan

Secara umum pengelolaan kawasan dibawah oleh suku Dinas Pariwisata dan Pemda DKI dan pihak Kelurahan Srengseng Sawah serta Kecamatan Jagakarsa. Struktur organisasi pengelolaan kawasan (surat Keputusan Kepala

65

Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Propinsi DKI Jakarta no 105/2004) tentang pengangkatan perangkat pengelola Perkampungan Budaya Betawi dan susunan perangkat pengelolaan kawasan. Saat ini kelembagaan belum terstruktur dengan baik, sehingga pihak yang terkait tidak mengetahui dengan pasti posisi hak dan kewajiban masing- masing. Kelembagaan pengelola kawasan meliputi Biro Bina Program dan Dinas-dinas Pariwisata, Perikanan, Pertamanan, Pertanian, Kehutanan, Kebudayaan, serta jajaran Pemerintahan Walikota Jakarta Selatan dan Kelurahan Srengseng Sawah. Pengelolaan kawasan pada daerah yang telah terbangun dan tidak terbangun dilakukan secara individu oleh masyarakat pemilik lahan/bangunan. Sedangkan untuk area rekreasi yang ada saat ini secara oprasional, dikelola dilakukan oleh Satuan Gerakan Sosial Perkampungan Budaya Betawi (SGSPBB). Sedangkan pengelolaan danau dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Dirjen Pengairan DKI. Susunan Perangkat Pengelolaan pada Lampiran 5. Pengelolaan Perkampungan Budaya Betawi saat ini terbagi menjadi: (1) Pengelolaan permukiman, dilakukan secara individual oleh masyarakat sebagai pemilik tanah dan bangunan. Sedangkan untuk pengaturan kerapatan bangunan (GSB, KLB dan GSJ). dikelola oleh Pemda Jakarta Selatan, (2) Pengelolaan pengunjung, dikelola oleh pihak pengelola (SGSPBB), Intensitas pengunjung kawasan masih tergolong rendah dan mengusahakan agar banyak banyak pengunjung yang datang dengan meningkatkan promosi, (3) Pengelolaan promosi dan informasi, secara oprasional pengelolaan yang berkaitan dengan promosi dan informasi tentang Perkampungan Budaya Betawi dilakukan oleh LKB (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta) dan pihak pengelola yang ada di lapang (kawasan) saja. Promosi masih terbatas belum berkembang ke media yang ada, kalaupun ada masih sangat minim. Target dari Pemda dan para stake holder

adalah pengunjung asing. (4) Pengelolaan Perkampungan Budaya Betawi belum banyak melibatkan peran serta masyarakat, kalaupun ada masih sangat terbatas. Kehidupan sosial budaya masyarakat mempunyai daya tarik dalam wisata budaya ini. Aktivitas keseharian penduduk dalam nuansa sederhana dan terbuka terhadap pendatang.

Rencana pengembangan bertolak dari perkembangan sistem otonomi daerah DKI Jakarta dalam meningkatkan PAD maka Pemda merencanakan kawasan

66

sebagai wisata budaya dengan melibatkan masyarakatnya. Berdasarkan tata ruang

masterplan Perkampungan Budaya Betawi, yang direncanakan sebagai kawasan yang dapat ditemukan dan dinikmati kehidupan bernuansa Betawi dan berupa komunitas Betawi, keasrian alam Betawi, dan tradisi Betawi, kebudayaan yang merupakan sumber informasi dan dokumentasi tentang kebetawi-an (Biro Bina Program Pemda DKI Jakarta, 20001).

Konsep dasar perencanaan Perkampungan Budaya Betawi, secara umum adalah meningkatkan harkat dan martabat warga masyarakat Betawi melalui penataan ruang dalam batas wilayah kehidupan masyarakat berdasarkan nilai- nilai tradisi serta sosial budaya yang berkembang. Penerapan bentuk arsitektur tradisional Betawi dalam usaha memperkuat karakater dan identitas kawasan. (Proposal Pembangunan Perkampungan Budaya Masyarakat Betawi, l998).

Master Plan Perkampungan Budaya Betawi 2000-2010 secara umum terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu: Zona Dinamis dan Zona Statis. Masterplan 2010 Perkampungan Budaya Betawi dapat diperjelas sebagai berikut yaitu:

A. Zona Dinamis

1) Zona Kampung, sebagai area perkampungan tempat pertumbuhan dinamis dari kebudayaan Betawi yang tetap mempertahankan nilai- nilai budaya Betawi yang paling berharga dari masyarakat itu. Zona tersebar merata diatas lahan- lahan terbuka (kebun dan halaman) milik penduduk. Kebun penduduk/pekarangan sebagai obyek wisata agro juga berfungsi sebagai penunjang ekonomi penduduk melalui pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan kawasan dilakukan mengacu pada daerah resapan air, dan ketentuan luas area yang diizinkan untuk dibangun dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan). 20 % dari luas area Untuk daerah yang memiliki fungsi campuran (mixed use) dapat dinaikan menjadi 25 % 2) Zona fasilitas penunjang (3.15 %), sebagai area yang menunjang kegiatan

penduduk (pendidikan, keagamaan, kesehatan). B. Zoning Statis

1) Zona kesenian (1.21%), yaitu area menampung kegiatan kesenian Betawi (tari, drama, musik)

67

dan pengembangannya serta nilai- nilai sejarah dari tempo dulu hingga kini. 3) Zona keagamaan (0.36%), area yang menampung kegiatan keagamaan . 4) Zona wisata Agro (48.8% dan ruang terbuka), area yang menyajikan dan menampung perjalanan wisata perkebunan (agro) tanaman buah-buahan dan menikmati hasil kebun dan hasil prosessing tanaman khas kawasan . 5) Zona wisata Air (ruang terbuka hijau), sumberdaya air Setu Babakan dan

Setu Mangga Bolong, adalah area yang menampung kegiatan wisata air (dayung, memancing) sebagai obyek utama rekreasi (Core Destination) yang dapat memberikan nilai ekonomi dan ekologis bagi penduduk PBB. 6) Zona Industri, areal yang melindungi dan mengembangkan industri yang ada saat ini (home industri). Area ini akan menyebar di dalam kawasan Perkampungan Budaya Betawi.

Penataan fasilitas penunjang di Perkampungan Budaya Betawi terbagi atas: 1) Sistim lalu lintas, jalan (19.70 %), sebagai fasilitas parkir kendaraan yang masuk hanya sampai tempat parkir saja dan terbagi pada beberapa lokasi (gerbang masuk). Pencapaian ke pusat kegiatan dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan sado/delman. Hanya kendaraan penduduk penghuni PBB dapat sampai ke lokasi parkir masing- masing (pribadi atau komunal) dengan sistim identifitas (stiker).

2) Arsitektur Bangunan, di PBB dengan konsep arsitektur tradisional. Konsep tradisional arsitektur Betawi yang mencerminkan arsitektur Betawi yang memiliki ciri dan tipologi tertentu, bentuk bangunan, penataan ruang dalam, maupun ornamen-ornamen lainnya yang didukung oleh penataan ruang luar berupa pekarangan dan kebun yang merupakan obyek wisata agro.

3) Ruang Terbuka (26 .06%). Penataan ruang terbuka hijau alami maupun buatan bersifat aktif, dapat dicapai secara fisik maupun visual.

Kriteria perencanaan kawasan Perkampungan Budaya Betawi adalah: (a) Mempertahankan rencana kerapatan bangunan penduduk wilayah, (b) Sesuai dengan rencanan tataguna tanah wilayah, (c) Memperhatikan rencana jaringan jalan wilayah, (d) Memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan wilayah.

68

Konsep pembangunan Perkampungan Budaya Betawi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pariwisata, dan penunjang usaha budidaya dilakukan secara bertahap meliputi VI tahap yaitu, (a) Tahap I priode 2000-2002, kelembagaan, traffic management, sarana dan prasarana, jalan, (b) Tahap II priode 2002-2004, perluasan danau, peningkatan fasilitas wisata, (c) Tahap III priode 2003-2005, peningkatan sarana failitas sosial dan umum, (d) Tahap IV priode 2003-2005, perluasan RTH, fasilitas jalan, sirkulasi wisata, (e) Tahap V priode 2006-2008, peningkatan sarana dan prasarana fasilitas sosial dan fasilitas umum, fasilitas RTH, fasilitas wisata agro, (f) Tahap VI priode 2008-2010, peningkatan sarana dan prasarana pada daerah hijau, jalan.

Aspek Wisata

Aktivitas Pengunjung

Ada dua tipe kunjungan di Perkampungan Budaya Betawi yaitu, menonton pertunjukan budaya dan menikmati keindahan visual (danau) kawasan Aktivitas menonton pertunjukan meliputi, kegiatan budaya, kesenian tari, musik, drama. Sedangkan menikmati keadaan visual danau seperti, duduk-duduk, memancing, naik perahu. Aktivitas kegiatan pengunjung di kawasan dalam katagori masih sangat terbatas karena belum tersedianya fasilitas wisata. Jumlah pengunjung yang berkunjung kawasan sejak diresmikan tanggal 20 Januari tahun 2001 (untuk umum dibuka pada bulan Juli 2002),.jumlah belum seperti yang diharapkan. Jumlah pengunjung perhari dalam berkisar ±50 sampai ± 75 orang/hari, kecuali pada hari sabtu dan minggu serta hari libur dapat mencapai berkisar ±300 sampai ±500 orang/hari. Untuk itu diharapkan partisipasi masyarakat di dalam maupun diluar kawasan untuk melakukan promosi semaksimal mungkin agar kawasan dapat lebih dikenal oleh masyarakat di luar kawasan (Jakarta Selatan dan diluar Jakarta khususnya JABOTABEK) (Tabel 12). Berdasarkan survei terhadap pengunjung (100 responden), aktivitas pengunjung berjalan 21%, duduk-duduk 15%, sepeda air 10 % memancing 10 %, memotret 5%, dan melihat upacara adat budaya 9 %. Menonton pertunjukan kesenian Betawi menjadi aktivitas paling utama sebesar 25%, mempelajari/ melakukan penelitian 5%. Tabel 13 memperlihatkan jenis aktivitas wisata.

69

Tabel 12 Jumlah Pengunjung Perkampungan Budaya Betawi

Jumlah Pengunjung

No Tahun Pertahun Rata-rata/bulan

1 Tahun 2001-2002 30.103 2.508

2 Tahun 2002-2003 49.375 4.115

3 Tahun 2003-2004 51.919 4.327

Tabel 13 Jenis Aktivitas Wisata

Jumlah

No Jenis Aktivitas Responden (%)

1. Berjalan-jalan 21 21

2. Duduk-duduk 15 15

3. Sepeda air 10 10

4. Memancing 10 10

5. Memotret 5 5

6. Menikmati pertunjukan kesenian 25 25

9. Mempelajari upacara adat istiadat budaya 9 9

10. Melakukan penelitian 5 5

Jumlah 100 100 Atraksi dan Obyek Wisata

Atraksi dan obyek wisata merupakan perpaduan kegiatan utama dari wisata dengan cara menikmati keindahan visual pola permukiman dan danau serta aktivitas budaya. Atraksi wisata yang ada dalam katagori sangat terbatas. Tetapi ada beberapa atraksi paling banyak mendatangkan pengunjung seperti pertunjukkan seni yang disajikan setiap hari sabtu dan minggu serta hari libur nasional atau keagamaan. (Tabel 14).

Tabel 14 Jenis Atraksi pada Kawasan Ruang

No Jenis Aktivitas

Rumah Pekarangan Arena Danau

Keterangan

A Tata cara hidup

1. -Kelahiran Tidak tentu

2. -Perkawinan Bulan tertentui 3. -Sunatan Bulan tertentu

4. -Kematian Tidak tentu

5. -Pengajian Setiap saat

70

Tabel 14 Jenis Atraksi pada Kawasan

B Kesenian/ Pagelaran seni Musik

1 -Gambang Kronong Setiap saat

2 -Qosidah Setiap saat

3 -Samrah Setiap saat

Drama

a.Drama dengan Tutur Setiap saat

1 -Lenong Bulan tertentu

2 -Wayang kulit Setiap saat

b.Tanpa Tutur Tari

1 -Japong Setiap saat

2 -Topeng Setiap saat

3 -Silat Beksi Bulan tertentu

4 -Belajar Kelompok Setiap saat

5 -Shooting film Setiap saat

C Mata Pencaharian

1 Menyala Ikan Setiap saat

2 Memancing Setiap saat

3 Ngubak Empang Waktu tertentu

4 Rekreasi Danau Setiap saat

5 Industri Rumah Tangga Setiap saat

Seluruh atraksi diselengarakan sesuai dengan jadwal pertunjukan yang telah disusun selama satu (1) bulan kedepan. Kegiatan wisata di kawasan dalam kawasan dibuka untuk umum pada 9.00 s/d 22.00 wib. Tetapi karena kegiatan promosi kurang digalakkan, sehingga tidak banyak warga masyarakat DKI yang mengetahuinya. Hal ini berpengaruh pada jumlah dan asal penonton. Penonton yang datang hanya dari dalam dan sekitar kawasan saja.

Fasilitas Penunjang Wisata

Fasilitas wisata yang tersedia adalah, (1).Jaringan jalan wisata kawasan (masih belum tertata dengan sempurna), (2) Lahan parkir untuk 15 mobil ± 100 m″, (3) Kantor pengelola luas bangunan ± 1.64 m″, berkaitan dengan adminstrasi kawasan, (4) Wisma dengan luas ± 150 m″, direncanakan untuk menginap bagi para pengunjung, (5) Galeri ± 165 m″, tempat menyimpan segala sesuatu yang berkaitan dengan benda-benda seni atau bersejarah, (6) Rumah adat luas ± 165 m″

(rumah contoh), (7) Panggung terbuka luas bangunan ± 355 m″, sebagai sarana fasilitas pertunjukan, untuk menampung kegiatan seperti kesenian, musik dan tari, (8) Ruang terbuka, plasa sebagai sarana untuk kegiatan latihan menari,

71

pencak silat dan untuk menonton pertunjukan pagelaran dan untuk kegiatan, pengajian bersama, latihan tari atau kegiatan lain. (9) Darmaga pemancingan sebagai sarana wisata air, tarif naik perahu sebesar Rp. 5.000, per/orang, bangku-bangku tama n, dan jumlah perahu ± 10 buah perahu. (10) Bangku-bangku-bangku, sebagai tempat beristirahat dan menikmati keadaan visual danau, (11) Mussolla, tempat beribadah bagi para pengunjung, (12) Lampu penerangan, sebagai penerangan pada malam hari, (13) Toilet, belum tersedia toilet secara layak, (14) Kios/warung-warung, berada di areal di tepi danau. Gambar 30 tersaji fasilitas penunjang wisata rekreatif.

Gambar 30 Fasilitas Wisata di Kawasan, (a) Fasilitas Loket Pembayaran, (b) Fasilitas Wisata Air.

Sirkulasi pada Kawasan

Jalur sirkulasi dalam kawasan menuju pusat aktivitas wisata mempergunakan jalan aspal dan jalan coneblok. Jalan dalam kawasan saat ini merupakan jalan lingkungan perkampungan setu Babakan dengan panjang jalan aspal 1.500 meter dan lebar jalan 3 meter dan jalan conblok panjang jalan 250 meter. Jalan tanah dengan lebar jalan 1.5–2 meter, panjang jalan 300 meter dan jalan kerikil/krakal/plesteran sebagai jalan lingkungan 210 meter. Proses terjadinya jalan diawali jalan setapak yang tidak beraturan kejalan perkerasan berjalan secara alamiah, sehingga banyak persimpangan dan jalan buntu. Sirkulasi wisata diawali dari pintu gerbang sipitung. menuju lahan parkir langsung masuk area wisata, dimana tempat (plasa) dan akhirnya menyebar kearah danau atau ke daerah permukiman dan kebun penduduk. Area jalan sepanjang tepi danau,

72

kawasan paling aktif dipergunakan untuk duduk-duduk, memancing dan menikmati visual danau. Pada sisi tepi danau terdapat warung-warung sebagai tempat pembibitan tanaman buah-buahan

(mangga, belimbing, durian) dan tanaman hias/nursery (palem, balanceng, lidah mertua), serta ditanami dengan tanaman langka (sawo durian, buni).

Pintu gerbang kawasan terdiri atas2 (dua buah) yaitu:

1) Dua buah Pintu Gerbang Utama berada di sebelah barat lokasi. Pertimbang letak pintu gerbang utama karena datangnya pengunjung potensial dari arah timur. Pintu gerbang Si Pitung sudah terbangun di sisi sebelah barat.

Posisi ini tampaknya belum terintegrasi dengan rencana pengembangan kawasan dan jalan Moh Kahfi II pada sisi sebelah timur sungai, sehingga kemungkinan akan terkena pelebaran jalan. Posisi ini tampaknya belum terintegrasi dengan rencana pengembangan kawasan dan jalan Moh Kahfi II pada sisi sebelah timur sungai, sehingga kemungkinan akan terkena pelebaran jalan.

2) Pintu gerbang kedua terletak di sebelah Timur sebagai pintu alternatif keluar pada jalan Srengseng Sawah. Penempatan pintu gerbang ini hanya untuk motor, mobil parkir, serta pangkalan ojek.

Letak pintu gerbang cukup jelas, saat ini hanya satu pintu masuk dari arah jalan Moh Kahfi II sehingga menyulitkan bagi pengunjung untuk mencapai lokasi. Untuk keamanan dalam kawasan inti terdapat pintu penghubung, sebagai tindakan keamanan pada saat malam hari (Gambar 31).

Gambar 31 Pintu Gerbang, (a) Si Pitung, (b) Penghubung

73