• Tidak ada hasil yang ditemukan

III 85 Gambar 3.1 Peta Peta Orientasi Kawasan Strategisl Kabupaten Ende

3.1.3.1. Pengembangan Pola Ruang

3.1.3.1.1. Arahan Pengembangan Pola Ruang dan Struktur Ruang 1. Arahan Pengembangan Pola Ruang

Pola ruang wilayah menggambarkan rencana sebaran kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan cagar budaya, dan kawasan rawan bencana alam.

Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan perikanan dan kelautan, kawasan perkebunan, kawasan peternakan, kawasan pariwisata, kawasan permukiman, kawasan industri, dan kawasan pertambangan.

A.Arahan Pengembangan Kawasan Lindung dan Budidaya

1. Kebijakan Pengembangan Pola Ruang Wilayah terdiri atas penetapan kawasan lindung dan budaya meliputi :

a. Pemantapan fungsi kawasan lindung yang mencakup kawasan hutan lindung, kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan cagar alam dan pelestarian alam, kawasan taman nasional, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, kawasan rawan bencana alam dan kawasan lindung lainnya dengan menetapkan fungsi utamanya adalah fungsi lindung dan tidak boleh dialihfungsikan untuk kegiatan budidaya;

RPIJM KABUPATEN ENDE

III - 86

b. Pengembangan kawasan budidaya melalui optimasi fungsi kawasan pada kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan perkebunan, kawasan perikanan, kawasan peternakan, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan dan objek pariwisata, kawasan permukiman, kawasan eksploitasi sumber daya air dan mineral serta ruang terbuka hijau (RTH) dalam mendorong ekonomi dan kesejahteraan masyarakat; serta

c. Pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sesuai dengan fungsi sebagai penopang kelestarian liungkungan hidup dan mendorong pertumbuhan wilayah melalui pelestarian sumberdaya pesisir dan mendorong perkembangan fungsi budidaya pesisir untuk perikanan, permukiman, pariwisata, dan prasarana perhubungan.

2. Arahan Pengembangan Kawasan Lindung, meliputi :

a. Pengembangan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya sebagai hutan lindung dan kawasan resapan air dengannya dengan menjaga fungsi perlindungan pada kawasan tersebut dengan tidak mengijinkan untuk peruntukan budidaya yang dapat merusak kawasan lindung ini; sedangkan pada kawasan yang telah mengalami perubahan maka dilakukan pengembalian fungsi perlindungan baik sebagai hutan lindung maupun sebagai kawasan resapan air;

b. Pengembangan kawasan perlindungan setempat dengan pembatasan kegiatan yang tidak berkaitan dengan fungsi ini guna perlindungan perairan, sedangkan fungsi tambahan yang tidak mengganggu fungsi ini tetap diijinkan sejauh tidak mengganggu fungsi perlindungan setempat seperti pengembangan wisata ekologi di pesisir dan tepi sungai, fungsi transportasi, hankam dsb;

c. Pengembangan kawasan cagar alam dan pelestarian alam ini hanya diperuntukkan bagi kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kawasan diantaranya memelihara habitat dan ekosistem khusus yang ada dan sifatnya setempat yang nantinya dapat meningkatkan nilai dan fungsi kawasan dengan menjadikannya sebagai tempat wisata, objek penelitian, kegiatan pecinta alam yang pelaksanaan dan pengelolaannya secara bersama;

d. Pengembangan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan pengamanan kawasan dan/atau benda cagar budaya dan sejarah dengan melindungi tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah atau situs purbakala juga pemberian insentif bagi yang melestarikan benda cagar budaya; e. Pengembangan kawasan rawan bencana alam dengan menghindari kawasan yang rawan terhadap bencana alam gunung api, gempa bumi, bencana geologi, tsunami, banjir, longsor dan bencana alam lainnya sebagai kawasan terbangun selanjutnya pada kawasan rawan bencana tersebut di antisipasi dengan bangunan tahan gempa serta peringatan dini dari kemungkinan adanya bencana alam; serta

f. Pengembangan kawasan lindung lainnya meliputi kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pengungsian satwa dimana ekosistemnya harus dipelihara guna

RPIJM KABUPATEN ENDE

III - 87

menjaga keberlanjutan kehidupan satwa dalam skala lokal, menjadikan kawasan sebagai obyek wisata dan penelitian saat terjadi pengungsian satwa.

3. Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya meliputi :

a. Pengembangan kawasan hutan produksi dengan tetap mempertahanklan fungsi kawasan sebagai hutan produksi, melakukan peningkatan nilai tambah kawasan melalui penanaman secara bergilir, tebangan pilih dan pengelolaan bersama masyarakat; pada kondisi khusus dimana akan dilakukan alih fungsi maka harus dilakukan pengganti lahan setidaknya tanaman tegakan tinggi tahunan yang berfungsi untuk menggantikan fungsi hutan;

b. Strategi pengembangan kawasan pertanian dilakukan melalui: penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan, pengembangan spesialisasi komoditas pada setiap wilayah, pengembangan intensifikasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, pengembangan sentra produksi dan agropolitan, serta pelarangan alih fungsi pada lahan pertanian berkelanjutan;

c. Pengembangan kawasan perkebunan dilaksanakan melalui peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil perkebunan dengan teknologi tepat guna guna mendorong kualitas produk perluasan pemasaran dan pengolahan hasil produk perkebunan serta peningkatan partisipasi masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan;

d. Pengembangan kawasan perikanan dengan mengoptimalisasikan kawasan perikanan tangkap di wilayah utara Kabupaten Ende melalui pengembangan tempat pendaratan ikan (TPI) serta mendorong pengembangan budidaya perikanan tambak/air tawar sebagai salah satu sektor perekonomian yang mulai berkembang yang difasilitasi oleh adanya industri olahan perikanan;

e. Pengembangan kawasan peternakan melalui pengembangan dan pengelolaan hasil peternakan dengan industri peternakan yang ramah lingkungan yang didukung dengan adanya pengembangan cluster sentra produksi peternakan (terutama terkait dengan industri pakan ternak dan pemanfaatan kotoran ternak);

f. Pengembangan kawasan pertambangan dilakukan melalui peningkatan nilai ekonomis hasil pertambangan dengan melakukan pengolahan hasil tambang disertai penetapan pengolahan pasca penambangan dengan cara pengembalian rona alam melalui pengembangan kawasan hutan atau perkebunan, pengembangan permukiman atau sebagai kawasan budidaya lainnya;

g. Pengembangan kawasan peruntukan industri melalui pengembangan kawasan industri secara khusus yang ditunjang dengan promosi dan pemasaran hasil industri terutama untuk industri kecil dan home industri diperlukan juga adanya pengembangan dan pemberdayaan untuk pengolahan hasil pertanian, peternakan, perkebunan yang diikuti dengan peningkatan kegiatan koperasi usaha mikro, kecil dan menengah serta menarik investasi;

h. Pengembangan kawasan dan objek pariwisata melalui pengembangan obyek wisata andalan melalui peningkatan promosi yang dikaitkan dengan kalender wisata dalam skala nasional, penyediaan sarana dan prasarana wisata, serta

RPIJM KABUPATEN ENDE

III - 88

pelestarian kawasan potensi pariwisata dan perlindungan budaya penunjang pariwisata;

i. Pengembangan kawasan permukiman dengan pengembangan permukiman perdesaan disesuaikan dengan karakter fisik, sosial-budaya dan ekonomi masyarakat perdesaan yang didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana permukiman perdesaan dan peningkatan kualitas permukiman perkotaan melalui pengembangan perumahan terjangkau dan layak huni;

j. Pengembangan kawasan peruntukan lainnya yaitu berupa eksploitasi sumber daya air dan mineral melalui pelestarian daerah di sekitar kawasan eksploitasi sumberdaya air dan mineral dengan melalukan reboisasi di daerah sekitarnya untuk menjaga agar siklus daur hidrologi berjalan sebagaimana mestinya sehingga dapat mempertahankan debit air yang ada serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar untuk menjaga kawasan eksploitasi sumberdaya air dan mineral agar tidak terjadi pencemaran terhadap kualitas dan kebersihan air tersebut;

B. Arahan Pengembangan Pola Ruang Terkait Bidang Cipta Karya 1. Kawasan Peruntukan Permukiman

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kawasan peruntukan permukiman ditetapkan dengan kriteria:

a. Berada di luar kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana; b. Memiliki akses menuju pusat kegiatan masyarakat di luar kawasan; dan/atau c. Memiliki kelengkapan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung.

Di Kabupaten Ende penggunaan lahan untuk pengembangan kawasan permukiman dibedakan atas dua jenis, yaitu kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman pedesaan. Rencana pengembangan untuk kawasan permukiman adalah daerah perkotaan, perdesaan, pusat pertumbuhan, sepanjang jalan dengan radius 100 m, antara Perkotaan Ende dengan perkotaan lainnya. Dengan luas total pengembangan permukiman sebesar 12.878 Ha.

a. Kawasan Permukiman Perdesaan

Kebijakan penataan ruang untuk kawasan permukiman pedesaan meliputi :

 Program perbaikan kawasan permukiman dengan pemenuhan persyaratan kualitas fisik rumah.

 Penataan kawasan pedesaan dengan mempertimbangkan keseimbangan fungsi antara pengembangan permukiman dengan pengembangan fungsi lainnya.

 Penyediaan sarana dan prasarana permukiman, seperti air bersih, drainase, persampahan, listrik, bangunan pendidikan, pasar, dll.

RPIJM KABUPATEN ENDE

III - 89

 Pemenuhan kebutuhan perumahan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.

 Permukiman lahan perdesaan berdasarkan deliniasi rencana kawasan perdesaan meliputi Kecamatan seluruh Kecamatan di Kabupaten Ende kecuali Kecamatan Ende Tengah.

 Memanfaatkan lokasi bekas pertambangan sebagai kawasan permukiman baru yang sebelumnya dilakukan pengurukan tanah terlebih dahulu dengan syarat lahan bekas tambang tidak produktif untuk dijadikan kawasan hijau.

b. Kawasan Permukiman Perkotaan

Untuk pengembangan kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Ende arahan kebijakan yang ditetapkan mengacu pada :

 Memperhitungkan kecenderungan perkembangan pembangunan permukiman baru

 Memperhitungkan daya tampung perkembangan penduduk dan fasilitas/prasarana yang dibutuhkan

 Penggunaan lahan eksistingnya

Berdasarkan acuan-acuan tersebut di atas arahan pengelolaan kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Ende lebih diarahkan pada penggunaan lahan non produktif dengan kebijakan penataan ruang secara rinci meliputi : 1) Pemenuhan kebutuhan perumahan dengan penambahan luas kawasan

permukiman perkotaan di lahan yang tingkat produktivitasnya rendah, yaitu lahan pertanian kering (tegalan, tambak, lokasi bekas pertambangan dan lain- lain)

Tindakan preventif terhadap dampak bencana yang terjadi di kawasan rawan bencana alam, untuk pengembangan permukiman, maka di ambil tindakan:

 Pembuatan tanggul (alami maupun buatan) disepanjang permukiman daerah pantura untuk menghalangi air laut pasang sehingga tidak merusak permukiman yang ada.

 Pembuatan tanggul di kawasan permukiman di sepanjang aliran sungai.

 Mencegah timbulnya permukiman baru di sekitar kawasan pesisir khusunya disempadan pantai.

2) Penyediaan ruang terbuka hijau di kawasan permukiman dengan memperhatikan proporsi ketersediaan ruang terbuka hijau dan infrastruktur penunjang permukiman terhadap luas total sebesar 40%.

3) Permukiman lahan perkotaan berdasarkan deliniasi rencana kawasan perkotaan meliputi Kecamatan Ende, Ende Tengah, Ende Timur, Ende Utara, Ende Selatan, Detusosko dan Kecamatan Ndona.

RPIJM KABUPATEN ENDE

III - 90