“TERWUJUDNYA MASYARAKAT ENDE LIO SARE PAWE”
RUMUSAN STRATEG
3.2.1.3. Penetapan Kawasan Permukiman Perioritas
Kawasan permukiman prioritas merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan yang keberadaannya di kawasan perkotaan dimana lebih diutamakan untuk dikembangkan dan atau ditangani.
Secara harfiah, kawasan prioritas dipahami sebagai kawasan yang diutamakan pembangunannya dibandingkan dengan kawasan lainnya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu (dikembangkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia). Selain itu, kawasan prioritas juga dipahami sebagai bagian dari suatu wilayah administrasi pemerintahan yang memiliki karakteristik dan/atau persoalan khusus yang menyebabkan kawasan ini perlu untuk diprioritaskan atau diberikan perhatian khusus dalam penanganannya. Apabila ada kesalahan dalam mengantisipasi pola penanganan dan pemberian prioritas pada kawasan dengan kebutuhan khusus tersebut akan berdampak terhadap proses dan capaian tujuan pembangunan perkotaan secara keseluruhan. Berdasarkan pemahaman ini, maka yang disebut sebagai kawasan permukiman prioritas adalah kawasan permukiman yang berada di dalam kawasan perkotaan yang perlu untuk diutamakan pembangunannya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan-pertimbangan tersebut dirumuskan dari hasil pemaknaan terhadap teori/konsep pembangunan permukiman, peraturan dan kebijakan yang berlaku, serta kondisi eksisting kawasan permukiman yang berkembang yang merupakan hasil kesepakatan dari semua pihak yang terkait. Dasar pertimbangan dalam penentuan kawasan permukiman prioritas, yaitu:
a. Teori atau Konsep Pembangunan Permukiman, dimana teori/konsep utama yang digunakan adalah teori/konsep yang menjelaskan tentang elemen-elemen yang membangun permukiman sebagaimana yang dikemukakan oleh Doxiadis (1968:21-35). Elemen-elemen tersebut meliputi: (1) kondisi fisik lingkungan (nature), (2) manusia (man), (3) masyarakat (society), (4) layanan (shell), dan (5) jaringan infrastruktur (network). Dalam konteks penentuan kawasan permukiman prioritas, kelima elemen ini diterjemahkan sebagai berikut:
1. Kondisi fisik lingkungan (nature) adalah kondisi lingkungan yang memberikan dasar dimana permukiman berkembang atau dibangun yang meliputi kondisi geologi, topografi, kondisi tanah, ketersediaan air, dan sejenisnya;
2. Manusia (man) adalah kebutuhan tiap individu terhadap permukiman yang pada akhirnya membentuk preferensi tiap individu akan permukiman, yang meliputi kebutuhan biologis
RPI2JM KAB. ENDE III - 178
(ruang, udara, suhu, dan sebagainya), kebutuhan emosional (keamanan, keindahan, dan sebagainya), nilai moral yang dianut, dan sebagainya;
3. Masyarakat (society) adalah kondisi masyarakat di dalam kawasan, yang meliputi tingkat kepadatan penduduk, pola budaya yang berkembang, tingkat pendidikan masyarakat, tingkat kesejahteraan masyarakat, dan sebagainya;
4. layanan (shell) adalah layanan jasa dimana manusia tinggal yang membangun fungsi kawasan, seperti kondisi rumah (tingkat kepadatan bangunan, kondisi fisik bangunan, dan sebagainya), jasa sosial (rumah sakit, sekolah, dan sebagainya), pasar, pusat perbelanjaan, fasilitas rekreasi, dan sebagainya; dan
5. jaringan infrastruktur (networks) adalah infrastruktur baik yang sifatnya buatan maupun alami yang memberikan fasilitasi terhadap fungsi permukiman itu sendiri, yang setidaknya meliputi infrastruktur bidang cipta karya, yaitu jalan lingkungan, air minum, sanitasi/limbah, persampahan, drainase, serta penataan bangunan dan lingkungan.
b. Arah Kebijakan Kabupaten Ende, merupakan arah kebijakan, strategi, dan program yang digunakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Ende sebagai dasar untuk mengarahkan pembangunan.
c. Karakteristik permukiman eksisting yang berkembang saat ini menunjukkan perlu untuk ditangani segera, baik yang berorientasi pada menangani persoalan maupun mendorong pembangunan. Kondisi ini perlu dilihat karena apabila tidak segera ditangani atau diantisipasi akan menimbulkan beberapa kondisi berikut:
pembangunan yang tidak terkendali dalam jangka pendek; munculnya persoalan ikutan lainnya;
menimbulkan konflik sosial; dan perlambatan pembangunan
Berdasarkan poin dasar pertimbangan diatas, dilakukan proses penyusunan terhadap 2 (dua) jenis kriteria dan indikator yang menjadi alat ukur dalam proses penentuan kawasan permukiman prioritas di Kabupaten Ende. Kedua jenis kriteria dan indikator tersebut yaitu :
1. Krieria dan indikator pertimbangan kondisi eksisting kawasan 2. Kriteria dan indikator kesesuaian dengan kebijakan pembangunan
RPI2JM KAB. ENDE III - 179 3.2.1.3. Kriteria dan indikator penentuan kawasan permukiman prioritas
Secara umum, kriteria dipahami sebagai suatu ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu, adapun secara rinci di dalam Panduan Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP) Tahun 2014 yang dimaksud dengan kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan dalam pemilihan kawasan, dimana ukuran tersebut didasarkan pada tinjauan akademis dan menjadi kesepakatan semua pihak yang terkait. Kriteria ini dalam proses analisis
perlu dilengkapi dengan alat ukur serta nilai ukur yang jelas yang biasa dikenal dengan indikator dan parameter.
Terkait dengan hal ini, indikator dipahami sebagai penetapan kriteria untuk mengukur dan menjamin terpenuhinya pencapaian program atau kegiatan (Panduan Penyusunan RP2KP, 2014) atau dapat juga dipahami sebagai sesuatu yang dapat menjadi petunjuk atau yang dapat mengukur dan/atau menjamin terpenuhinya penetapan sesuatu. Adapun parameter dipahami sebagai nilai dari indikator yang digunakan untuk mengukur atau mengelompokkan suatu kondisi tertentu.
Berdasarkan pada pemahaman ini, maka kriteria dan indikator dapat diturunkan dari dasar pertimbangan yang digunakan, dengan rincian sebagai berikut:
a. Kriteria dan indikator untuk pertimbangan kondisi eksisting kawasan permukiman di dalam kawasan perkotaan
b. Kriteria dan indikator untuk menilai/memetakan kondisi eksisting kawasan
permukiman di dalam kawasan perkotaan di Kabupaten Ende setidaknya dapat dilihat dari elemen-elemen pembentuk permukiman, yang meliputi: (1) kondisi fisik lingkungan (nature), (2) manusia (man), (3) masyarakat (society), (4) layanan (shell), dan (5) jaringan infrastruktur (network). Dari kelima elemen tersebut, elemen kondisi fisik lingkungan (nature) dan manusia (man) dapat tidak dipertimbangkan. Hal ini dikarenakan
RPI2JM KAB. ENDE III - 180
elemen kondisi fisik lingkungan ini diasumsikan sudah dipertimbangkan di dalam pemilihan lokasi kawasan permukiman, sedangkan elemen manusia sifatnya terlalu individu atau orang per orang. Berdasarkan hal ini, maka kriteria, sub-kriteria, dan indikator yang digunakan dalam penentuan indikasi kawasan permukiman prioritas untuk pertimbangan pendekatan persoalan dapat dilihat sebagaimana pada Tabel 3.39 berikut.
KARAKTERISTIK KRITERIA INDIKATOR PARAMETER
Tingkat kepadatan penduduk Jumlah penduduk per luas
kepadatan ≥ 50 jiwa/ha = 5
kawasan
kepadatan 25 - 50 jiwa/ha = 3
Kondisi Masyarakat
kepadatan < 25 jiwa/ha = 1
Tingkat kesejahteraan Prosentase jumlah penduduk penduduk miskin ≥ 50% = 5
masyarakat miskin per total penduduk
penduduk miskin 25 - 50% = 3
penduduk miskin < 25% = 1
Tingkat kepadatan Jumlah bangunan perumahan
kepadatan ≥ 100 rumah/ha = 5 Kondisi lingkungan
permukiman per luas kawasan
kepadatan 60 - 100 rumah/ha = 3
perumahan
kepadatan < 60 rumah/ha = 1
RPI2JM KAB. ENDE III - 181
KARAKTERISTIK KRITERIA INDIKATOR PARAMETER
tidak layak huni terhadap permanen ≥ 50% = 5
total rumah (jenis, kondisi
jumlah rumah semi dan non material lantai, dinding, atap,
permanen 25 - 50% = 3 ventilasi)
jumlah rumah semi dan non
permanen < 25% = 1
Jarak antar bangunan Tingkat kerapatan bangunan
jarak bangunan < 1,5 m = 5
jarak bangunan 1,5 - 3 m = 3
jarak bangunan > 3 m = 1
Tingkat pelayanan air Prosentase jumlah rumah rumah tangga yang terlayani air
bersih/air minum tangga yang terlayani air bersih ≥ 80% = 1
bersih rumah tangga yang terlayani air
bersih 50-80% = 3
rumah tangga yang terlayani air
bersih < 50% = 5
Tingkat pelayanan listrik Prosentase jumlah rumah rumah tangga yang terlayani
tangga yang terlayani listrik listrik< 50% = 5
rumah tangga yang terlayani
listrik 50-80% = 3
rumah tangga yang terlayani
listrik≥ 80% = 1
Tingkat pelayanan air Ketersediaan MCK di dalam tingkat pelayanan < 30% = 5
Tingkat pelayanan limbah/sanitasi kawasan
tingkat pelayanan 30-60% = 3 infrastruktur
tingkat pelayanan ≥ 60% = 1 permukiman
RPI2JM KAB. ENDE III - 182
lingkungan
kondisi jalan 50 - 80% = 3
kondisi jalan > 80% = 1
Tingkat pengelolaan Daerah yang terlayani daerah yang tidak terlayani = 5
persampahan pelayanan persampahan
daerah yang cukup terlayani = 3
daerah yang terlayani = 1
Tingkat pelayanan drainase Daerah yang terlayani daerah yang belum terlayani
jaringan drainase jaringan drainase = 5
Daerah yang cukup terlayani
jaringan drainase = 3
daerah yang terlayani jaringan
drainase = 1
Kerawanan kawasan terhadap Keberadaan kondisi rawan Tinggi = 5
bencana alam bencana alam di dalam
Kebencanaan Sedang = 3
RPI2JM KAB. ENDE III - 183
KARAKTERISTIK KRITERIA INDIKATOR PARAMETER
Kesesuaian dengan arahan Kesesuaian kawasan
luas permukiman yang tidak sesuai
pola ruang RTRW Kab Ende permukiman eksisting dengan
dengan arahan pola ruang > 50%
arahan pola ruang untuk (Buruk) = 5
pengembangan kawasan
luas permukiman yang tidak sesuai
permukiman
dengan arahan pola ruang 25 - 50%
Kesesuaian dengan (Sedang) = 3
arah kebijakan
luas permukiman yang tidak sesuai
pembangunan
dengan arahan pola ruang < 25% (Baik)
= 1
Kesesuaian dengan arahan Kesesuaian kawasan sebagai
sesuai = 5
pengembangan Kawasan pengembangan kawasan
cukup sesuai = 3
Strategis Nasional strategis
tidak sesuai = 1
Kontribusi dalam Keefektifan dalam Multiplier effect dari kawasan Efektif = 1
Penanganan Penanganan Permasalahan permukiman terhadap Cukup Efektif = 3
Permasalahan Kabupaten/Kota
kabupaten/kota tinggi
Tidak Efektif =5
Kabupaten/kota
RPI2JM KAB. ENDE III - 184