BAB V PENUTUP
C. Saran
4.2 Gambar Sebelum Diberi Sumber Pada Deskripsi Permainan Tradisional
4.3 Gambar Setelah Diberi Sumber Pada Deskripsi Permainan Tradisional Peneliti melakukan revisi yang terlihat pada gambar 4.2 atas saran dari dosen ahli I yang mengungkapkan bahwa pada deskripsi permainan tradisional anak sebaiknya dicantumkan sumber terkait dengan deskripsi permainan tersebut.
Peneliti setuju dengan saran dari dosen ahli I karena apabila tidak dicantumkan sumber dalam deskripsi maka data dari deskripsi permainan tersebut dapat dikatakan tidak akurat, sehingga perlu dicantumkan sumber dalam penulisan
86
deskripsi permainan tersebut. Selain itu, sumber yang dicantumkan dalam deskripsi permainan dapat membantu guru untuk memahami keaslian permainan tradisional yang terkait sebelum dimodifikasi oleh peneliti. Dengan demikian peneliti melakukan revisi dengan mencantumkan sumber pada deskripsi permainan tradisional yang dapat dilihat pada gambar 4.3.
Revisi yang ditampilkan pada bagian ini merupakan deskripsi permainan tradisional pembelajaran satu dari enam pembalajaran yang terkait dalam modul.
Alasan peneliti hanya menampilkan satu pembelajaran pada bagian revisi desain, karena pada bagian ini saran yang diberikan oleh dosen ahli I pada pembelajaran satu sampai enam memiliki kesamaan yaitu mengenai pemberian sumber pada deskripsi permainan tradisional. Kesamaan saran dari dosen ahli I tersebut yang menjadi alasan peneliti hanya menampilkan satu pembelajaran saja yang dapat dilihat pada gambar 4.2 sebelum direvisi dan 4.3 setelah direvisi.
Gambar 4.4 Sebelum Diberi Penekanan Materi
87
Gambar 4.5 Setelah Diberi Penekanan Materi
Peneliti melakukan revisi kedua pada gambar 4.4 berdasarkan saran dari dosen ahli I yang mengatakan bahwa pada cara bermain sebaiknya diberikan penekanan materi yang jelas agar guru mampu memahami materi yang disampaikan melalui cara bermain tersebut. Peneliti setuju dengan saran dosen ahli I, karena menurut peneliti penekanan materi dari cara bermain sangat dibutuhkan agar saat proses pembelajaran berlangsung guru tidak mengalamai kesalahan dalam penyampaian materi berdasarkan langkah-langkah permainan. Dengan demikian dapat dilihat pada gambar 4.5 peneliti telah melakukan revisi pada nomor 4 dan 5 bagian cara bermain. Pada nomor 4 peneliti menambahkan penekanan bahwa lagu satu-satu sayang ibu digunakan sebagai pengantar awal agar siswa mampu mengenal angggota keluarga sebagai ungkapan awal perkenalan diri, keluarga, dan orang-orang ditempat tinggalnya. Adapun manfaat lagu tersebut sebagai penghantar pada materi bahasa Indonesia. Selanjutnya revisi pada nomor 5 bagian cara bermain peneliti memberikan penekanan materi melalui kegiatan jika ada pemain yang kalah
88
maka pemain tersebut wajib memperkenalkan dan menjelaskan kedudukan dari anggota kelurga. Kegiatan tersebut digunakan untuk mencapai materi PPKn untuk mengenal silsilah keluarga.
Revisi kedua yang telah dilakukan oleh peneliti sama halnya dengan revisi pertama mengenai pemberian sumber pada deskripsi permainan tradisional. Karena revisi yang ditampilkan pada bagian ini merupakan cara bermain pembelajaran satu dari enam pembalajaran yang terkait dalam modul. Alasan peneliti hanya menampilkan satu pembelajaran pada bagian revisi desain, karena pada bagian ini saran yang diberikan oleh dosen ahli I pada pembelajaran satu sampai enam memiliki kesamaan yaitu mengenai penekanan materi pada cara bermain.
Kesamaan saran dari dosen ahli I tersebut yang menjadi alasan peneliti hanya menampilkan satu pembelajaran saja yang dapat dilihat pada gambar 4.4 sebelum direvisi dan 4.5 setelah direvisi.
Gambar 4.6 Sebelum Ukuran Kartu Permainan Dirubah
89
Gambar 4.7 Setelah Ukuran Kartu Permanan Dirubah
Peneliti melakukan revisi ketiga pada gambar 4.6 berdasarkan saran dari guru kelas I SD yang mengatakan bahwa ukuran contoh kartu permainan pada pembelajaran 5 terlalu kecil. Peneliti setuju dengan saran yang diberikan oleh guru kelas I SD, karena jika contoh gambar pada pembelajaran 5 terlalu kecil hal ini akan menjadi kesulitan khususnya bagi guru kelas I SD dalam memahami maksud dari gambar tersebut. Sehingga peneliti melakukan revisi pada gambar 4.7 dengan cara merubah ukuran gambar contoh kartu permainan menjadi lebih besar. Revisi yang dilakukan oleh peneliti sesuai saran ini diharapkan dapat membantu peneliti mengembangkan produk menjadi baik.
1.6 Uji Coba Produk
Setelah dilakukannya revisi hasil dari validasi, tahap selanjutnya adalah melakukan pengujian produk secara terbatas. Uji coba produk dilakukan oleh guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1 pada tanggal 29 Maret 2019 pukul 09.15 dan dilakukan selama 50 menit. Pada tahap uji coba produk guru hanya melakukan uji coba secara terbatas pada 6 siswa kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1. Uji coba produk
90
ini hanya dapat dilakukan guru pada pembelajaran dua. Alasan guru hanya melakukan uji coba pada pembelajaran dua ialah karena keterbatasan waktu dalam penelitian.
Pada tahap ini guru kelas 1 SD melakukan uji coba produk dengan memperhatikan rencana pelaksanaan pembelajaran harian yang menjadi pedoman guru pada proses pembelajaran. Selanjutnya pada inti pembelajaran guru melaksanakaan proses pembelajaran berpedoman pada materi dan langkah-langkah dari modifikasi permainan yang terdapat dalam modul pembelajaran. Setelah guru melakukan uji coba produk secara terbatas, selanjutnya guru mengisi kuesioner yang telah diberikan oleh peneliti dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan produk yang dikembangkan sebagai bahan ajar guru dalam menyampaikan materi ajar. Berdarsarkan hasil uji coba terbatas yang dilakukan oleh guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1 diperoleh skor rata-rata 4,5 dengan kategori “sangat baik’.
Setelah melakukan uji coba produk secara terbatas, guru menyampaikan kepada peneliti bahwa terdapat perbadingan sebelum menggunakan modul pembelajaran dan setelah menggunakan modul pembelajaran. Pertama perbandingan tersebut terdapat pada kemudahan guru menyampaikan materi ajar.
Menurut guru kelas 1 SD sebelum menggunakan modul pembelajaran guru harus menjelaskan terlebih dahulu konsep awal mengenai materi yang terkandung pada pembelajaran 2 secara rinci dan detail. Akan tetapi setelah menggunakan modul pembelajaran, melalui modifikasi permainan tradisional tersebut membuat guru lebih mudah menyampaikan materi ajar. Karena, dari kegiatan permainan tradisional tersebut siswa mampu memahami konsep awal dari materi yang terdapat pada pembelajaran 2. Selain itu media kartu permainan pada pembelajaran 2 juga
91
membantu guru dalam menjelaskan materi terkait pada mata pelajaran bahasa Indonesia KD 3.9 merinci kosakata dan ungkapan perkenalan diri, keluarga, dan orang-orang di temapat tinggalnya secara lisan dan tulis yang dapat dibantu dengan kosakata bahasa daerah.
Kedua, perbandingan terdapat pada antusias siswa saat mengikuti proses pembelajaran. Menurut guru kelas 1 SD sebelum menggunakan modul pembelajaran tidak sedikit dari siswa yang masih sibuk dengan kegiatan sendiri seperti halnya bermain pesawat kertas bahkan ada juga yang menggangu temannya yang sedang fokus belajar. Akan tetapi setelah menggunakan modul pembelajaran guru menyampaikan bahwa siswa terlihat lebih aktif pada proses pembelajaran melalui kegiatan permainan tradisional tersebut.
Sejalan dengan pendapat guru kelas 1 SD tersebut, peneliti juga melihat kesamaan pada saat pengamatan secara langsung pada uji coba terbatas. Dalam kegiatan proses pembelajaran berlangsung terlihat siswa dapat belajar secara mandiri melalui permainan. Selain itu antusias siswa dalam melakukan pembelajaran terlihat ketika siswa melakukan diskusi dengan siswa lain pada saat memecahkan persoalan materi ketika melakukan permainan.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak selain menjadi bahan ajar bagi guru untuk menyampaikan materi ajar, guru juga dapat membuat proses pembelajaran menjadi kreatif dan menarik. Tidak hanya berhenti di situ saja, manfaat modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional juga berguna bagi siswa pada proses pembelajaran. Selain siswa dapat
92
belajar secara mandiri, siswa juga dapat meningkatkan interaksi antar siswa dengan guru serta siswa satu dengan siswa lain.
1.7 Revisi Produk
Setelah peneliti memperoleh hasil uji coba produk terbatas yang dilakukan oleh guru kelas 1 SD, langkah selanjutnya peneliti melakukan revisi produk berdasarkan saran dari guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1. Guru kelas 1 SD mengatakan bahwa secara keseluruhan dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul pembelajaran dapat dikatakan sudah sangat baik. Akan tetapi guru kelas 1 SD memberikan saran mengenai isi modul pembelajaran agar ditambah dengan kegiatan refleksi pembelajaran. Alasan guru memberikan saran tersebut karena pada saat uji coba produk terbatas pada pembelajaran dua guru belum mendapatkan timbal balik dari siswa mengenai hal-hal apa saja yang dapat dipelajari siswa ketika melaksanakan proses pembelajaran dan guru juga tidak dapat mengetahui kelemahan ketika guru menyapaikan materi ajar. Selain itu guru juga menyampaikan tujuan dari refleksi pembelajaran kepada peneliti antara lain:
1) untuk mengetahui sejauh mana minat siswa mengikuti proses pembelajaran, 2) untuk mengetahui tingkat keberhasilan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru, dan 3) untuk mengetahui kekurangan guru dalam menyajikan materi dan penguasaan kelas.
Berdasarkan saran dari guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1, kemudian peneliti menindaklanjuti saran dari tersebut yang dapat dilihat pada gambar berikut:
93
Gambar 4.8 Refleksi Pembelajaran Pada Pembelajaran 2
Terlihat pada gambar 4.8 merupakan hasil revisi produk berdasarkan saran dari guru kelas 1 SD untuk memberikan refleksi pembelajaran pada pembelajaran 2. Berdasarkan hasil revisi produk peneliti mencantumkan dua pertanyaan pada bagian refleksi pembelajaran. Alasan peneliti menggunakan dua pertanyaan tersebut karena apabila siswa telah mejawab pertanyaan nomor satu, siswa juga dapat menjawab pertanyaan nomor dua. Karena pertanyaan nomor 1 akan membantu untuk mengungkapkan perasaan siswa selama mengkitu peroses pembelajaran yang dapat diungkapkan melalui gambar yang dipilih. Selanjutnya, ketika siswa sudah mampu mengungkapkan perasaan mereka dari situlah siswa dapat menjawab pertanyaan nomor 2 untuk menjelaskan kesan mereka sesuai dengan gambar yang mereka pilih. Melalui kesan tersebut siswa mampu menjelaskan mengenai hal-hal yang dapat mereka pelajari ketika proses pembelajaran serta siswa juga mampu mengungkapkan hal-hal yang belum mereka ketahui pada materi yang disampaikan.
94
Selanjutnya, revisi produk berdasarkan saran guru kelas 1 SD untuk memberikan refleksi pembelajaran tidak hanya berhenti pada bagian pembelajaran dua yang digunakan sebagai uji coba produk terbatas. Akan tetapi untuk menghasilkan produk yang lebih baik, peneliti akan melakukan revisi produk sesuai saran guru kelas 1 SD pada pembelajaran satu, tiga, empat, lima, dan enam.
B. Kajian Produk Akhir
Berdasarkan penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk akhir berupa modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak untuk kelas 1 SD tema 4 subtema 3. Produk akhir yang dikembangkan telah melalui tahap satu kali revisi dari beberapa ahli sehingga produk tersebut sudah dinyatakan layak digunakan dan masuk dalam katagori “sangat baik”. Sebelumnya peneliti sudah memperoleh beberapa komentar, saran dan masukkan dari dosen ahli dan guru kelas 1 SD untuk mengatahui kelemahan produk sehingga peneliti dapat memperbaiki hingga dinyatakan layak digunakan.
1. Sampul Modul Pembelajaran
Pada bagian sampul modul pembelajaran peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD pada saat melakukan validasi. Sehingga peneliti tidak melakukan revisi apapun pada bagian ini.
95 2. Isi Modul Pembelajaran
1. Kata Pengantar
Pada bagian kata pengantar peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD pada saat melakukan validasi. Sehingga peneliti tidak melakukan revisi apapun pada bagian ini.
2. Daftar Isi
Pada bagian daftar isi peneliti tidak melakukan revisi, karena peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD.
3. Deskripsi Permainan Tradisional
Pada bagian deskripsi permainan tradisional peneliti memperoleh saran dari dosen ahli I untuk menambahkan sumber pada kutipan deskrispi permainan tradisional. Berdasarkan saran dari dosen ahli I tersebut peneliti melakukan revisi pada pembelajaran satu sampai pembelajaran enam dengan mencantumkan sumber pada setiap deskripsi permainan tradisional. Revisi ini dilakukan agar produk yang dihasilkan memiliki data yang akurat, produk menjadi lebih baik, dan layak untuk digunakan.
4. Pemetaan Kompetensi Dasar
Pada bagian pemetaan kompetensi dasar peneliti tidak melakukan revisi, karena peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD.
96 5. Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran digunakan untuk mendeskripsikan materi yang terkait pada setiap kompetensi dasar setiap pembelajaran. Pada bagian materi pembelajaran peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD pada saat melakukan validasi. Sehingga peneliti tidak melakukan revisi apapun pada bagian ini.
6. Alat yang Digunakan
Pada bagian alat yang digunakan peneliti memperoleh masukkan dari guru kelas 1 SD untuk mengumbah ukuran kartu permainan pada pembelajaran 5 dari ukuran yang kecil menjadi besar. Sehingga peneliti melakukan revisi dengan mengubah ukuran menjadi lebih besar.
7. Cara Bermain
Pada bagian cara bermain peneliti memperoleh saran dari dosen ahli I untuk memberi penekanan materi yang terkait pada setiap urutan cara bermain. Sehingga peneliti melakukan revisi pada bagian cara bermaian dari pembelajaran satu sampai pembelajaran enam dengan memberi penekanan mengenai kaitan setiap urutan cara bermain dengan materi yang disampaikan. revisi ini dilakukan dengan harapan dapat membantu guru kelas 1 SD agar tidak terjadi kesalahan penyampaian materi dengan urutan cara bermain yang dilakukan.
97 8. Manfaat Permainan
Pada bagian manfaat permainan peneliti tidak melakukan revisi, karena peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD.
9. Evaluasi Pembelajaran
Pada bagian ini, evaluasi yang termuat dalam modul telah berpedoman dan mengukur indikator dari masing-masing mata pelajaran dari setiap pembelajaran yang termuat dalam tema yang dibahas. Selanjutnya, evaluasi pembelajaran peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD pada saat melakukan validasi. Sehingga peneliti tidak melakukan revisi apapun pada bagian ini.
10. Refleksi Pembelajaran
Pada refleksi pembelajaran merupakan isi baru dari modul pembelajaran.
Refleksi pembelajaran termuat pada isi modul berdasarkan saran dari guru kelas 1 SD setelah mendapatkan hasil dari uji coba produk terbatas. Sehingga peneliti melakukan revisi isi modul dengan menambahkan refleksi pembelajaran dari pembelajaran satu sampai pembelajaran enam.
11. Daftar Pustaka
Pada bagian daftar isi peneliti tidak melakukan revisi, karena peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD.
98 12. Biografi Penulis
Pada bagian biografi penulis peneliti tidak memperoleh komentar, saran, dan masukan dari dosen ahli I, dosen ahli II dan guru kelas 1 SD pada saat melakukan validasi. Sehingga peneliti tidak melakukan revisi apapun pada bagian ini.
C. Pembahasan
Penelitian dan pengembangan ini berawal dari adanya kebutuhan guru akan penambahan bahan ajar yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi ajar kepada siswa. Berdasarkan hasil kuesioner, tanggapan guru mengenai modul pembelajaran sebagai bahan ajar bagi guru untuk menyampaikan materi ajar sangat baik. Menurut guru, bahan ajar yang menarik bagi guru adalah bahan ajar yang memiliki komponen isi materi yang lengkap serta dilengkapi dengan strategi pembelajaran yang dapat membantu guru dalam membuat proses pembelajaran secara lebih kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, peneliti terdorong melakukan penelitian dan pengembangan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak untuk kelas 1 SD tema 4 subtema 3.
Meskipun guru telah memiliki bahan ajar untuk menyampaikan materi ajar kepada siswa dari sekolah, namun modul pembelajaran yang dikembangkan ini juga memiliki fungsi yang sama untuk membantu guru dalam menyampaikan materi ajar. Akan tetapi yang membedakan modul ini dengan bahan ajar yang ada di sekolah ialah cara penyampaian materi pada saat proses pembelajaran. Modul pembelajaran yang dikembangkan ini memiliki strategi yang menarik dalam proses pembelajaran dengan cara memodifikasi permainan tradisional anak. Peneliti
99
memodifikasi permaian tradisional ini karena peneliti mengadopsi manfaat permainan tradisional menurut Subagiyo (dalam Mulyani, 2016: 49-52) yang mengugkapkan bahwa permainan tradisional dapat meningkatkan anak lebih kreatif. Berdasarkan pendapat tersebut peneliti berharap dapat mengembangkan modul pembelajaran yang di dalamnya menciptakan suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga siswa dapat menjadi lebih lebih kreatif saat mengikuti pembelajaran. Karena tidak dapat dipungkiri jika siswa mampu belajar secara kreatif maka dari situ guru lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar.
Selain itu dalam pengembangannya, modul pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional anak ini memperhatikan perkembangan dan karakteristik anak usia SD kelas bawah. Karena sasaran dari pengembangan modul ini ialah membantu guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran pada kelas 1 SD.
Adapun karterisitik anak SD menurut (Hosnan, 2016: 58-60) yaitu: 1) senang bermain, 2) senang melakukan aktivitas, dan 3) senang melakukan kerja dalam sebuah kelompok. Sejalan dengan pendapat Hosnan berdasarkan ketiga karakteritik tersebut terlihat saat peneliti melakukan pengamatan pada uji coba produk secara terbatas. Karaktersistik siswa senang bermain dan senang melakukan aktivitas terlihat pada saat siswa melakukan uji coba terbatas. Pada saat uji terbatas siswa sangat antusias sekali ketika melakukan permainan tradisional, seluruh siswa dapat ikut serta melakukan permainan tersebut. Antusias seluruh siswa terlihat ketika mereka dapat mengikuti seluruh rangkaian dari awal permainan hingga akhir.
Selain itu, dalam permainan yang dimodimodifikasi oleh peneliti juga tidak lepas dari aktivitas siswa yang dapat belajar bersama dengan kelompok. Hal ini terlihat pada saat uji coba ketika siswa bersama kelompok saling berkoordinasi untuk
100
melakukan permainan, serta siswa dengan kelompok sama-sama belajar bersama untuk mempelajari materi dan menjawab persoalan dari materi tersebut.
Tidak hanya berhenti disitu saja, pada saat uji coba produk secara terbatas guru mengungkapkan bahwa permainan tradisional yang digunakan sebagai strategi penyampaian materi memiliki manfaat bagi siswa yang terlihat ketika guru membagi kelompok pemain dengan cara mengkelompokkan siswa pediam dengan siswa yang aktif. Pembagain kelompok dengan menggabungkan siswa pendiam dan siswa aktif tersebut ternyata memberikan dampak yang sangat baik. Dalam hal ini guru mengungkapkan bahwa ketika permainan berlangsung siswa yang tergolong pendiam terlihat lebih aktif pada saat melakukan permainan. Siswa yang tergolong pendiam tersebut mulai berani bertanya kepada siswa lain mengenai materi yang dibahas ungkapan perkenalan anggota keluarga “silsilah keluarga”. Selanjutnya, ketika dalam kelompok melakukan kegiatan diskusi siswa yang tergolong pendiam tersebut mulai berani mengungkapkan pendapatnya kepada siswa yang tergolong aktif dalam kelompok tersebut. Dari kegiatan permainan yang dilakukan secara kelompok tersebut dapat membantu siswa mengendalikan dan menyesuaikan diri mereka kepada orang lain. Manfaat tersebut sesuai dengan fungsi permainan tradisional menurut pendapat Subagiyo (dalam Mulyani, 2016: 49-52) yang mengungkapkan bahwa fungsi permainan tradisional diataranya digunakan sebagai proses belajar untuk mengembangkan kecerdasan emosi antar personal anak.
Melihat karakterisitik usia anak SD dan manfaat permainan tradisional yang telah dijelaskan di atas, ternyata memiliki kesamaan langsung dengan uji coba produk secara terbatas yang diamati oleh peneliti. Kesamaan lain juga terdapat pada pendapat menurut (Prastowo, 2014: 139) yang mengungkapkan fungsi modul bagi
101
guru ialah mengubah peran pendidik dalam mengajar. Sejalan dengan pendapat Prastowo tersebut guru mengungkapkan bahwa pada saat uji coba produk terbatasa guru mampu mengubah peran pendidik dalam mengajar. Hal ini terlihat ketika siswa melakukan permainan tradisional dari setiap urutan tersebut siswa mampu mengenal dan memahi konsep awal dari materi yang sedang dipelajari salah satunya dengan kegiatan bermain sambil bernyanyi. Tujuan siswa bernyanyi karena di dalam nyanyian tersebut memiliki hubungan dengan materi yang akan disampaikan. Selanjutnya melalui salah satu alat yang digunakan berupa kartu permainan dapat digunakan siswa untuk mempelajari lebih lanjut mengenai materi yang dibahas. Dari kegiatan tersebut yang awalnya menjadi tugas guru untuk menjelaskan pada awal proses pembelajaran untuk memberikan konsep awal dan penjelasan kepada siswa, sudah dapat ditemukan oleh siswa secara langsung melalui kegiatan permainan.
Tidak hanya berhenti di situ saja, sejalan dengan pendapat menurut (Yuliawati, 2013: 6) mengungkapkan salah satu keuntungan yang diperoleh dari penggunaan modul pada proses pembelajaran ialah meningkatkan motivasi siswa.
Hal tersebut terlihat dari beberapa penjelasan yang diungkapkan guru kelas 1 SD dan hal-hal yang ditemui oleh peneliti pada saat proses pembelajaran. Motivasi siswa terlihat ketika mereka melakukan permainan tradisional anak pada saat proses pembelajaran. Para siswa terlihat sangat antusias dan mereka terlihat bersemangat ketika mengerjakan evaluasi yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, dapat dilihat keuntungan dari penggunaan modul dalam proses pembelajaran sesuai dengan fungsi modul sendiri yang berguna sebagai bahan ajar yang dapat
102
membantu guru dalam menyampaikan materi ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak untuk kelas 1 tema 4 subtema 3 layak digunakan sebagai bahan ajar guru. Karena dalam hal ini modul yang dihasilkan selain digunakan guru sebagai bahan ajar untuk menyampaikan materi ajar, modul juga berfungsi untuk menciptakan proses pembelajaran secara kreatif dan inovatif. Tidak hanya berhenti disitu saja, modul yang dikembangkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran,
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak untuk kelas 1 tema 4 subtema 3 layak digunakan sebagai bahan ajar guru. Karena dalam hal ini modul yang dihasilkan selain digunakan guru sebagai bahan ajar untuk menyampaikan materi ajar, modul juga berfungsi untuk menciptakan proses pembelajaran secara kreatif dan inovatif. Tidak hanya berhenti disitu saja, modul yang dikembangkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran,