BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Prosedur Penelitian
1. Hasil Penelitian Pengembangan
Langkah awal dalam penelitian dan pengembagan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak untuk kelas 1 tema 4 subtema 3 adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Peneliti melakukan analisis kebutuhan berdasarkan langkah-langkah pengembangan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak yang telah diuraikan dalam bab III, peneliti mengembangkan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak hingga langkah ketujuh yaitu:
1.1 Potensi dan Masalah
Proses yang dilakukan sebagai langkah awal penelitian dan pengembangan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan observasi dan wawancara dengan guru kelas I SD Kanisius Pugeran 1. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas I SD Kanisius Pugeran 1 peneliti
68
menemukan tiga potensi yaitu mengenai peranan permainan tradisional, penggunaan metode diskusi dan tanya jawab, penggunaan metode belajar di luar kelas, dan lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan pembelajaran.
Potensi pertama yang ditemui oleh peneliti ialah dari hasil observasi, adapun potensi tersebut yaitu peranan permainan tradisonal anak dalam aktivitas siswa di lingkungan sekolah. Pada saat jam istirahat terlihat 3 siswa dan 2 siswi kelas 1 SD melakukan permainan tradisional hula hoop. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari hasil wawancara dengan guru kelas 1 SD yang mengungkapkan bahwa permianan tradisional anak yang dimainkan siswa dilingkungan sekolah ialah hula hoop. Dikatakan sebagai potensi apabila permainan tradisional dapat dimanfaatkan dengan baik pada proses pembelajaran, hal tersebut dapat membantu siswa memahami materi. Selain siswa dapat bermain, siswa juga dapat memahami matei yang disampaikan melalui permainan.
Selanjutnya, melalui permainan tradisional tersebut siswa mampu meningkatkan interaksi antara siswa satu dengan siswa yang lain. Selain itu, peranan permainan tradisional dalam kegiatan belajar tersebut dapat membantu guru dalam merencakana strategi pembelajaran agar siswa lebih fokus dan aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga dibutuhkan bahan ajar bagi guru yang di dalamnya memuat permainan tradisional anak dengan tujuan guru dapat menyampaikan materi ajar dengan cara yang kreatif dan inovatif. Namun sayangnya dalam hal ini permainan tradisional yang sering dimainkan oleh siswa hanya hula hoop saja. Seharusnya ada kegiatan pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mengenal dan memainkan permainan tradisional lain yang dapat dilakukan oleh siswa kelas 1 SD.
69
Potensi selanjutnya diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas 1 SD. Berikut merupakan rangkuman hasil wawancara guru kelas 1 SD yang mendukung adanya potensi:
Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Wawancara Pemerolehan Potensi Penelitian
No Daftar Pertanyaan Rangkuman Hasil Pertanyaan Wawancara
1 Metode apa yang biasanya digunakan untuk menghadapi situasi di dalam kelas?
Metode yang digunakan ialah diskusi dan tanya jawab.
2 Mengapa Bapak/Ibu guru memilih metode tersebut yang digunakan dalam proses belajar mengajar?
Metode tanya jawab digunakan dengan tujuan agar siswa lebih fokus dan sedikit tenang dalam proses pembelajaran.
3 Apa saja langkah-langkah untuk mencapai metode tersebut?
Langkah-langkah yang digunakan dalam mencapai metode tanya jawab tersebut ialah guru menjelaskan tujuan tanya jawab hal ini digunakan agar siswa tetap berpusat dengan kegiatan pembelajaran. Guru menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan. Kemudian, guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya.
4 Apakah Bapak/Ibu guru pernah mencoba metode lain dalam proses belajar mengajar?
Guru pernah menggunakan metode lain untuk belajar yaitu dengan cara mengajak siswa belajar di luar kelas.
5 Menurut Bapak/Ibu apakah metode lain yang digunakan tersebut lebih efektif dari yang biasanya digunakan?
Metode yang digunakan efektif, karena siswa lebih aktif mereka sedikit belajar secara mandiri.
6 Menurut Bapak/Ibu sejauh mana hasil dari penerapan metode yang digunakan tersebut?
Hasil dari penerapan metode lainyang digunakan tersebut siswa terlihat lebih aktif dan siswa dapat belajar lebih mandiri untuk menemukan jawaban dari persoalan yang diperoleh berdasarkan dari kegiatan belajar di luar kelas.
7 Apa saja permainan tradisional yang sering dimainkan siswa di lingkungan sekolah?
Permainan tradisional yang dimainkan siswa dilingkungkan sekolah ialah hula hoop.
8 Apakah lingkungan sekolah
mendukung proses
implementasi permainan tradisonal untuk menyampaikan pembelajaran berbasis tematik?
Iya. Lingkungkan sekolah mendukung implementasi permainan tradisonal untuk menyampaikan pembelajaran berbasis tematik.
Pelaksanaannya dapat dilakukan di halaman sekolah yang biasa digunakan untuk upacara atau bisa di lapangan basket sekolah.
70
Potensi kedua yang diperoleh peneliti ialah dari hasil wawancara kepada guru kelas 1 SD. Guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1 mengungkapkan bahwa menggunakan metode diskusi dan tanya jawab pada proses pembelajaran. Metode Diskusi dan tanya jawab dikatakan sebagai potensi karena dapat membantu guru untuk merangsang siswa agar lebih kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide baru. Melalui diskusi dan tanya jawab juga dapat digunakan guru untuk membiasakan siswa bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan. Tidak hanya berhenti disitu saja, metode disukusi dan tanya jawab dapat melatih siswa untuk mengemukakan pendapat atau gagasan secara langsung dihapan siswa lainnya hal tersebut juga digunakan untuk membentuk rasa percaya diri siswa. Akan tetapi metode diskusi dan tanya jawab akan lebih menarik jika disertai dengan sebuah kegiatan yang dapat membantu siswa menemukan jawaban dari persoalan yang sedang menjadi topik pembahasan dalam pembelajaran. Dengan demikian seharusnya ada kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh siswa secara langsung agar pembelajarn dapat berjalan secara menarik, dan siswa dapat membahas persoalan yang terkandung dalam kegiatan tersebut melalui kegiatan diskusi dan tanya jawab.
Potensi ketiga yang diperoleh peneliti ialah dari hasil wawancara kepada guru kelas 1 SD. Guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1 mengungkapkan bahwa pernah menggunakan metode belajar di luar kelas dengan cara observasi atau pengamatan. Metode yang digunakan guru ini dapat menjadi potensi, karena berdasarkan hasil wawancara yang diungkapkan oleh guru kelas 1 SD pada saat proses pembelajaran berlangsung siswa terlihat lebih aktif. Selama proses pembelajaran di luar kelas berlangsung siswa, siswa dapat belajar secara mandiri
71
untuk memecahkan persoalan atau menemukan jawaban dari materi yang sedang dipelajari. Selanjutnya, siswa juga dapat meningkatkan relasi antara siswa satu dengan siswa lain. Dengan demikian, proses pembelajaran yang dilakukan menjadi lebih kreatif dan inovatif. Akan tetapi dalam hal ini guru hanya melakukan satu kali pembelajaran di luar kelas. Seharusnya guru dapat memanfaatkan metode pembelajaran di luar kelas lebih dari satu kali dengan cara mengakaitkan kegiatan pembelajaran dengan materi yang disampaikan. Dengan harapan guru dapat menyampaikan informasi atau pesan yang terkandung di dalam materi secara lebih kreatif dan inovatif.
Potensi keempat yang diperoleh peneliti juga diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 1 SD. Potensi keempat yang diperoleh peneliti memiliki hubungan dengan potensi ketiga yaitu mengenai lingkungan sekolah yang mendukung dalam pelaksanaan belajar di luar kelas. Dikatakan sebagai potensi karena apabila lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menunjang proses pembelajaran maka akan menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik. Selain siswa dapat belajar dari lingkungannya, guru juga dapat memanfaatkan sarana yang dapat digunakan di luar kelas untuk menyampaikan materi ajar dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara guru juga menyampaikan bahwa pemanfaatan lingkungan sekolah yang digunakan untuk proses belajar dapat dilakukan di halaman sekolah yang digunakan untuk upacara dan lapangan basket sekolah di SD Kanisius Pugeran 1. Akan tetapi pada nyatanya lingkungan sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran sangat jarang digunakan oleh guru kelas 1 SD. Dengan demikian diharapkan ada kegiatan pembelajaran yang
72
dapat dilakukan di lingkungan sekolah, sehingga terciptanya pembelaharan yang kreatif dan inovatif.
1.2 Pengumpulan Data
Setelah menemukan potensi dan masalah di lapangan, langkah selanjutnya ialah pengumpulan data atau informasi. Hal ini digunakan untuk mengumpulkan data sebagai analisis kebutuhan. Data analisis ini diperoleh dari kegiatan observasi dan wawancara dengan guru kelas I Ibu Valentine Febrina W, S.Pd. SD Kanisius Pugeran 1 yang beralamatkan di Jl. Suryodiningratan No.17, Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55142 dan kegiatan observasi dan wawancara dilakukan pada hari rabu, tanggal 9 januari 2019. Adapun hasil dari observasi dan wawancara adalah sebagai berikut:
1.2.1 Hasil dan Pembahasan Wawancara Analisis Kebutuhan
Dalam penelitian ini wawancara digunakan mengumpulkan informasi yang digunakan untuk mengembangkan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak yang nantinya akan digunakan oleh guru sebagai bahan ajar atau sumber refrensi dalam menyampaikan materi ajar dan menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Berikut merupakan daftar pertanyaan beserta rangkuman jawaban dari hasil wawancara yang dilakukan kepada guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1 adalah sebagai berikut di dalam tabel:
73
Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
No Daftar Pertanyaan Rangkuman Hasil Pertanyaan Wawancara 1 Bagaimana karakter belajar
siswa kelas 1?
Siswa masih senang belajar bersama temannya atau berkelompok dengan temannya.
2 Bagaimana kondisi proses belajar mengajar di dalam kelas?
Masih banyak siswa yang asik dengan kegiatan mereka sendiri, bahkan ada beberapa siswa yang menganggu temannya saat belajar.
3 Apakah saat proses
pembelajaran siswa sering melakukan aktivitas lain, seperti halnya bermain?
Iya. Pada saat proses pembelajaran tidak sedikit dari siswa yang asik dengan kegiatannya sendiri seperti bermain pesawat kertas yang dilemparkan ke arah temannya.
4 Adakah rencana untuk mengimplementasi sebuah permainan tradisional ke dalam proses pembelajaran?
Ada, akan tetapi guru masih memikirkan strategi yang akan digunakan dalam proses penyampaian materi.
5 Menurut Bapak/Ibu guru apakah siswa mengetahui jenis-jenis permainan tradisional?
Menurut guru, tidak banyak dari siswa yang mengetahui permainan tradisional. Karena pada saat jam istirahat tidak sedikit dari siswa yang bercerita tentang game yang ada di hand phone ataupun alat-alat lainnya yang mengandung unsur modern.
6 Apakah Bapak/Ibu guru memiliki sumber refrensi/
modul panduan
pembelajaran tematik selain modul guru?
Sejauh ini belum, guru masih menggunakan buku pegangan guru pada pembelajaran tematik.
7 Bagaimana tanggapan
Bapak/Ibu guru jika permainan tradisional sebagai sarana implementasi proses pembelajaran tematik?
Permainan permainan tradisional sebagai sarana implementasi proses pembelajaran tematik terlihat akan menarik. Selain dapat memahami materi, siswa dapat meningkatkan interaksi mereka dengan siswa yang lain.
8 Bagaimana tanggapan
Bapak/Ibu guru apabila ada modul pembelajaran sebagai pegangan guru dengan mengimplementasikan permainan tradisional dalam menyampaikan materi yang akan dicapai?
Sangat setuju. Karena dari modul tersebut guru memiliki panduan untuk menyampaikan materi ajar secara menarik dan guru dapat menciptkan lingkungan belajar yang lebih kreatif.
Berdasarkan dari hasil wawancara yang digunakan sebagai analisis kebutuhan, narasumber menyampaikan beberapa informasi yang terkandung dalam wawancara. Informasi yang diperoleh tersebut dapat menjadi data yang dapat digunakan peneliti sebagai dasar pengembangan produk. Adapun informasi yang
74
diungkapkan oleh narasumber ialah sebagai berikut: Pertama, kondisi belajar siswa di kelas. Narasumber menyampaikan bahwa pada saat proses pembelajaran berlangsung, masih terlihat beberapa siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Bahkan, ada diantara mereka yang menggangu siswa lain saat belajar. Kondisi belajar yang seperti ini dapat menimbulkan suatu masalah bagi siswa, karena siswa tidak dapat fokus terhadap proses pembelajaran serta materi ajar yang disampaikan oleh guru tidak dapat diterima dengan baik. Kedua, pengetahuan siswa mengenai permainan tradisional anak. Narasumber menyampaikan bahwa pada saat jam istrirahat saat jam istirahat tidak sedikit dari siswa yang bercerita tentang game yang ada di hand phone ataupun alat-alat lainnya yang mengandung unsur modern. Hal ini dapat membawa pengaruh kurang baik bagi siswa, karena dapat menciptkan kondisi di dalam kelas siswa bersikap individu atau hanya melakukan relasi dengan kelompoknya saja. Ketiga, ketersediaan bahan ajar guru. Narasumber mengungkapkan sejauh ini hanya ada buku pengangan guru tematik saja yang digunakan guru untuk menyampaikan materi ajar. Sehingga guru hanya berpedoman dengan satu sumber refrensi saat menyampaikan materi ajar.
Berdasarkan beberapa informasi dari kegiatan wawancara, narasumber menyampaikan bahwa sangat setuju apabila ada modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak sebagai bahan ajar guru untuk menyampaikan materi ajar. Dalam hal ini selain modul dapat menambah sumber referensi guru sebagai bahan ajar dan guru dapat menyampaikan informasi atau pesan yang terkandung dalam materi secara lebih kreatif. Selain itu dalam penerapan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak diharapkan dapat meningkatkan rasa
75
antusias siswa untuk belajar dan meningkatkan interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa lain.
1.2.2 Hasil dan Pembahasan Observasi Analisis Kebutuhan
Dalam penelitian ini observasi digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas dan kegiatan yang dilakukan siswa di jam istirahat. Hal ini dimaksudkan dapat memperkuat data yang digunakan untuk mengembangkan modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak yang nantinya akan digunakan oleh guru sebagai bahan ajar atau sumber refrensi dalam menyampaikan materi ajar dan menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Adapun hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
Pertama, proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran di kelas dilakukan dengan metode diskusi dan tanya jawab. Dalam penyampaian materi ajar terlihat guru tidak menggunakan sebuah media sebagai sarana penyampaian materi, guru hanya fokus menjelaskan materi yang termuat pada bahan ajar yang digunakan sebagai pedoman. Selain itu, pada saat pembelajaran berlangsung tidak sedikit dari siswa yang sibuk dengan aktivitas lain di luar materi ajar yang disampaikan oleh guru. Bahkan ada satu siswa yang menggangu siswa lain yang sedang fokus mengikuti proses pembelajaran dengan cara mengambil buku tulis siswa yang diganggu tersebut. Tidak hanya itu saja, terlihat 2 orang siswa pada proses pembelajaran mereka membuat peswat dari kertas kemudian saling melemparkan ke arah siswa yang lain yang sedang fokus mengikuti proses pembelajaran.
Kedua, kegiatan siswa pada jam istirahat. Pada saat jam istirahat berlangsung terlihat tidak sedikit dari siswa yang berkelompok dan menceritakan game yang ada di hand phone ataupun alat-alat lainnya yang mengandung unsur
76
modern. Bahkan ada siswa yang sampai hafal mengenai tokoh-tokoh dan cara bermain yang dilakukan pada game tersebut. Selain itu dari hasil pengamatan hanya ada beberapa siswa yang melakukan kegiatan di luar kelas dengan cara melakukan permainan tradisional hula hoop.
Berdasarkan hasil observasi di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat dikatakan kurang kondusif dan efisien karena masih banyak beberapa siswa yang kurang fokus saat pembelajaran berlangsung. Selanjutnya, kegiatan siswa pada jam istirahat siswa kurang melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan relasi antara siswa satu dengan siswa lain. Dengan demikian dibutuhkan sebuah bahan ajar bagi guru yang di dalamnya dapat menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan permainan untuk menyampaikan materi ajar. Selain itu diharapkan siswa dapat memahami materi ajar yang disampaikan oleh guru dan siswa juga dapat meningkatkan relasi anatara siswa satu dengan siswa lain.
1.3 Desain Produk
Langkah selanjutnya adalah merancang modul pembelajaran menggunakan permainan tradisonal anak sesuai dengan hasil analisis kebutuhan observasi dan wawancara dengan guru kelas 1 SD Kanisius Pugeran 1. Untuk mencapai rancangan yang berhasil tersebut, perlu adanya beberapa pedoman dalam setiap langkah yang diambil untuk proses pengembangan. Adapun pedoman dalam pembuatan modul pembelajaran tersebut ialah sebagai berikut:
77 1.3.1 Konsep Modul
Peneliti mengembangakan modul pembelajaran yang berjudul “Modul Pembelajaran Menggunakan Permainan Tradisional Anak Untuk Kelas 1 Tema 4 Subtema 3”. Desain modul pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti melewati tahap sebagai berikut: 1) Tema, desain awal modul pembelajaran peneliti menentukan tema yang digunakan sebagai pedoman untuk menentukan materi yang akan dibahas di dalam modul. 2) Subtema, pemilihan subtema digunakan untuk memfokuskan materi yang dibahas dari ruang lingkup yang telah dipetakan pada tema agar materi yang dibahas lebih rinci dan jelas melalui pembahasan pembelajaran satu sampai pembelajaran enam. 3) Pemetaan kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI dan KD), peneliti melakukan pemetaan KI dan KD agar peneliti mengetahui materi yang terkait setiap mata pelajaran dalam pembelajaran tematik dengan tujuan materi yang terkait dapat tersampaikan dengan baik pada setiap pembahasan antara pembelajaran satu sampai pembelajaran enam. 4) Menentukan permainan tradisional anak, permainan yang tradisional yang telah dipilih kemudian dimodifikasi. Modifikasi dari permainan tradisional tersebut harus memiliki kegiatan yang digunakan untuk menyampaikan materi, agar materi ajar yang dibahas dapat tersampaikan dengan baik.
1.3.2 Format dan Ukuran Modul
Modul pembelajaran ini berukuran A5 (14,8 cm x 21 cm) dan memiliki 37 halaman termasuk cover dan biografi penulis. Modul ini terdiri cover, kata pengantar, daftar isi, isi modul (pengertian permainan tradisional, kompetensi dasar, materi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, alat yang digunakan dalam
78
permainan, langkah-langkah modifikasi permainan tradisional anak, dan manfaat dari permainan), daftar pustaka, dan biografi penulis.
1.3.3 Judul Modul
Judul modul dari modul pembelajaran ini adalah “Modul Pembelajaran Menggunakan Permainan Tradisional Anak Untuk Kelas 1 Tema 4 Subtema 3”.
Modul ini memiliki isi mengenai bahan ajar yang digunakan guru untuk menyampaikan materi pada pembelajaran tematik dengan menggunakan permainan tradisional anak. Berikut adalah gambar sampul depan judul modul pembelajaran menggunakan permainan tradisional anak:
Gambar 4.1 Judul Modul Pembelajaran
79 1.3.4 Teknik Pengerjaan
Pengerjaan modul ini menggunakan teknik gabungan yaitu desain permainan tradisional anak dibuat melalui program photoshop kemudian untuk menuliskan kata pengantar, daftar isi, isi modul (pengertian permainan tradisional, kompetensi dasar, materi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, alat yang digunakan dalam permainan, langkah-langkah modifikasi permainan tradisional anak, dan manfaat dari permainan), daftar pustaka, dan biografi penulis peneliti menggunakan program micrososf word yang kemudian dipindah dalam bentuk PDF.
1.3.5 Warna
Warna yang digunakan dalam modul pembelajaran merupakan warna-warna yang cerah dan sederhana. Dengan kesederhanaan warna-warna yang dibuat tersebut, diharapkan dapat membantu guru dalam memahami isi modul dan membuat guru merasa tertarik untuk membaca modul tersebut.
1.3.6 Teknik Cetak
Jenis kertas yang digunakan untuk mencetak cover modul ialah kertas ivory 230 gsm sedangkan jenis kertas yang digunakan peneliti untuk mencetak isi buku adalah Art Paper 150 gsm. Teknik penjilidan yang digunakan menggunakan teknik penjilidan stapler tengah, sementara untuk isi modul menggunakan teknik cetak bolak-balik.
80 1.4 Validasi Desain
Hasil validasi desain modul pembelajaran dilakukan kepada dua dosen ahli dan satu guru kelas 1 SD. Validasi digunakan untuk menunjukkan kualitas desain modul pembelajaran yang telah dibuat. Berikut merupakan hasil data validasi modul pembelajaran:
1.4.1 Data Hasil Validasi Dosen Ahli I
Validasi modul pembelajaran ini dilakukan oleh dosen ahli I yang juga merupakan salah satu dosen aktif di Universitas Sanata Dharma. Validasi dilakukan pada tanggal 27 Maret 2019. Aspek yang dinilai dari produk meliputi isi modul dan bahasa, desain modul, dan tujuan pembuatan modul.
Hasil validasi dosen ahli I diperoleh skor rata-rata 4,8. Berdasarkan skala konversi yang sudah ditentukan dan diperoleh bahwa produk penelitian dan pengembangan ini termasuk dalam kategori “sangat baik”. Pada saat diskusi bersama dengan peneliti, dosen ahli I menyampaikan bahwa secara keseluruhan komponen modul sudah baik dan layak untuk digunakan oleh guru kelas 1 SD sebagai bahan ajar untuk menyampaikan materi ajar kepada siswa. Akan tetapi, dosen ahli I juga memberikan masukan mengenai beberapa hal yaitu pemberian sumber dalam deskripsi permainan tradisional pada setiap pembelajaran dan penekanan materi pada cara bermain setiap pembelajaran. Pertama pemberian sumber dalam deskripsi permainan tradisional pada setiap pembelajaran. Pemberian sumber tersebut ditunjukkan sebagai data yang akurat mengenai deskripsi permainan tradisional yang termuat dalam modul yang nantinya akan dimodifikasi untuk menyampaikan materi ajar. Kedua, penambahan isi modul yaitu penekanan
81
materi pada cara bermain setiap pembelajaran. Hal ini ditunjukkan agar guru mampu memahami setiap materi yang terkandung pada setiap bagian cara bermain, agar pada saat permainan tradisional yang telah dimodifikas dilaksanaan tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian materi ajar.
Berdasarkan beberapa hal yang telah disampaikan oleh dosen ahli I, dengan demikian dosen ahli I menyimpulkan bahwa modul pembelajaran menggunakan permainan tradisonal anak layak digunakan dengan revisi sesuai saran.
1.4.2 Data Hasil Validasi Dosen Ahli II
Validasi modul pembelajaran ini dilakukan oleh dosen ahli II yang juga merupakan salah satu dosen aktif di Universitas Sanata Dharma. Validasi dilakukan pada tanggal 13 Maret 2019. Aspek yang dinilai dari produk meliputi isi modul dan bahasa, desain modul, dan tujuan pembuatan modul.
Hasil validasi dosen ahli II diperoleh skor rata-rata 4,27. Berdasarkan skala konversi yang sudah ditentukan dan diperoleh bahwa produk penelitian dan pengembangan ini termasuk dalam kategori “sangat baik”. Dosen ahli II juga
Hasil validasi dosen ahli II diperoleh skor rata-rata 4,27. Berdasarkan skala konversi yang sudah ditentukan dan diperoleh bahwa produk penelitian dan pengembangan ini termasuk dalam kategori “sangat baik”. Dosen ahli II juga