BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.3 Gambaran Kehidupan Narapidana Kasus Narkotika
Menurut UU No 12 Tahun 1995, pengaturan mengenai lokasi warga binaan pemasyarakatan jenis kelamin wanita, ditempatkan pada ruang terpisah.
Pemisahan tersebut sudah tentu mempunyai tujuan yang mendasar. Misalnya, terjadi hubungan gelap antara napi perempuan dan laki-laki yang sudah tentu menjadi larangan di dalam lapas atau pun hal-hal lain yang tidak diinginkan.
Dasar itulah sehingga dibentuk lembaga pemasyarakatan khusus wanita, salah satunya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Medan.
Kehidupan seorang tahanan dan narapidana berbeda dengan kehidupan seseorang dalam masyarakat pada umumnya. Ketika seseorang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), hak-haknya dibatasi oleh peraturan dan norma yang berlaku di Lapas tersebut. Hal ini karena kebebasan yang dimilikinya hilang saat hakim sudah menjatuhkan vonis dan menghilangkan kemerdekaan orang tersebut (Santoso, 2007). Oleh karena itu, lembaga pemasyarakatan digolongkan ke dalam salah satu institusi yang bersifat total (total institution), sebagaimana didefinisikan oleh Goffman (dalam Kartikawati, 2012) bahwa institusi total ialah :
“Tempat-tempat tinggal dan bekerja sejumlah orang yang dikondisikan sama dipisahkan dari masyarakat yang lebih luas untuk waktu yang cukup lama, bersama-sama menjalani kehidupan dan diatur secara formal berdasarkan jadwal-jadwal yang ketat.”
Istilah institusi total dipakai untuk menganalisis lembaga-lembaga yang membatasi perilaku individunya melalui proses birokratis, sehingga menyebabkan terisolasi secara fisik dari aktivitas normal di sekitarnya, seperti yang terjadi pada rutan atau lembaga pemasyarakatan. Ciri-ciri institusi total menurut Goffman (dalam Ginting, 2016) antara lain dikendalikan oleh kekuasaan (hegemoni) dan
memiliki hirarki yang jelas. Di dalam institusi total ini, semua kegiatan di situ diatur oleh norma-norma atau aturan-aturan yang ada sesuai dengan pranata-pranatanya yang dijalankan oleh dan melalui kekuasaan “pejabat” asrama.
Dalam konteks lembaga pemasyarakatan, Sipir (Petugas Lapas), merupakan orang yang berkuasa penuh dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan warga binaannya. Pemenuhan kebutuhan setiap warga binaan sudah diatur melalui aturan-aturan yang ketat, mulai dari proses karantina, masuk blok sel, penempatan kamar sel, dan kegiatan pembinaan. Semua proses ini diawasi, diatur, dan dijalankan oleh para petugas berdasarkan hirarki kekuasaan yang ketat.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan yang menjadi warga binaan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Medan, tak jauh berbeda dengan lapas-lapas yang ada di Indonesia. Keseragaman tersebut disebabkan oleh aturan-aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai landasan untuk dipatuhi warga binaan pemasyarakatan. Pada kesehariannya, narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Medan, difokuskan pada pembinaan itu sendiri. Dalam buku Studi Kebudayaan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia (Simon & Sunaryo, 2011) dinyatakan bahwa pembinaan narapidana adalah sebuah sistem. Pendekatan terhadap narapidana saat masih lembaga kepenjaraan menekankan security approach, sedangkan dalam sistem pemasyarakatan digunakan pendekatan pembinaan (treatment approach).
Pembinaan yang dilakukan diharapkan menimbulkan efek jera dan mereka tidak mengulangi lagi perbuatan melanggar hukum tersebut. Selain pembinaan yang dilakukan, para petugas juga menekankan agar setiap narapidana lebih memperkuat agama sesuai kepercayaannya masing-masing.
Menurut Harsono (dalam Simon & Sunaryo, 2011) pembinaan narapidana tidak hanya pembinaan mental-spiritual saja (pembinaan kemandirian), tapi juga pemberian pekerjaan selama berada di Lembaga Pemasyarakatan (pembinaan keterampilan). Pelaksanaan pembinaan dalam sistem pemasyarakatan pada prinsipnya terdiri atas 2 bagian yaitu intramural treatment dan ekstramural treatment. Intramural treatment artinya pembinaan tersebut dilaksanakan di dalam Lembaga Pemasyarakatan dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, kesehatan jasmani-rohani. Intramural treatment dalam pelaksanaannya meliputi pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Sedangkan ekstramural treatment yaitu pembinaan yang dilakukan di luar lembaga pemasyarakatan, bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kemampuan narapidana selama dalam Lembaga Pemasyarakatan, meliputi pemberian asimilasi, Cuti Menjelang Keluarga (CMK), Cuti Menjelang Bebas (CMB), dan Pembebasan Bersyarat (PB).
Gambaran konsepsional pembinaan begitu luas dan mempunyai banyak segi, oleh karena itu perlu digali bagaimana pendapat narapidana terhadap pembinaan itu sendiri, bagaimana proses pembinaan dilaksanakan, bentuk pembinaan yang diinginkan narapidana, serta keikutsertaan narapidana dalam pembinaan. Seperti yang disampaikan oleh salah satu informan berinisial AR (41) pada saat wawancara yang menyatakan pendapatnya terkait dengan pelaksanaan kegiataan keagamaan di Lapas Wanita Kelas II A Medan.
“...kami kalo misalnya gak ikut pengajian atau kalo yang kristen gak ikut kebaktian, gak bisa ngurus PB (Pembebasan Bersyarat)
misalnya ngajar ngaji kalo misalnya kita pintar ngaji, kalo gak ya disuruh bersihkan taman atau nyapu. Pokoknya harus ada la kegiatan kita disini kak. Apalagi kalo kita mau ngurus PB tadi.
Kalo gak ada payah kak.” (Wawancara 28 Februari 2019)
Berdasarkan pernyataan AR (41), kegiatan keagamaan harus dijalankan oleh para narapidana agar mereka dapat mengurus PB (Pembebasan Bersyarat).
Walaupun hal tersebut terkesan ada unsur pemaksaan oleh petugas Lapas, namun dengan begitu para narapidana dapat lebih meningkatkan nilai religiusitas mereka masing-masing saat berada di Lembaga Pemasyarakatan, sehingga ketika mereka bebas mereka dapat menjadi individu yang lebih baik lagi di tengah masyarakat.
Sejauh ini, peraturan yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Medan dijalankan dengan cukup baik oleh petugas Lapas. Jika terdapat narapidana yang melanggar peraturan maka akan dikenakan sanksi atau hukuman.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu informan berinisial AP (32) yang mengatakan bahwa :
“...disini petugasnya sangat ketat kak, beda waktu saya di rutan yang depan LP ini (rutan perempuan). Kalo disini petugasnya suka jalan sana jalan sini, ngawasi kita. Kalo ketauan aja merokok langsung disuruh jalan jongkok ngelilingi lapangan. Makanya kadang kalo awak merokok suka sembunyi-sembunyi la, sambil nengok-nengok manatau petugas lewat.” (Wawancara 26 Februari 2019)
Dari pernyataan informan tersebut dapat dikatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh para petugas Lembaga Pemasyarakatan Wanita terhadap warga binaan pemasyarakatan cukup baik. Walaupun di samping itu, masih terdapat narapidana yang belum mematuhi sepenuhnya peraturan yang ada di Lapas, misalnya saja larangan agar tidak merokok. Setidaknya mereka mengetahui bahwa
pengawasan dilakukan secara ketat oleh petugas Lapas. Jika larangan tersebut dilanggar, maka narapidana yang bersangkutan akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan tersebut.
Hal senada terkait dengan pengawasan petugas Lapas juga disampaikan oleh salah satu informan berinisial AS (31) yang mengatakan bahwa :
“...kalo ibu-ibu ini (petugas Lapas) suka kali merepet kak, pokoknya apa yang kita buat kalo salah pasti langsung dimarahi.
Kadang kan maunya kita pake baju agak pendek yakan, gak berlengan gitu bajunya. Udalah kalo udah ditengok sama ibu-ibu ini pasti langsung lah kita dipanggil ke binpas, langsung lah kita dimarahi, baru disuruh la langsung ganti baju. Pokoknya diawasi betul la kak kita disini.” (Wawancara 28 Februari 2019)
Dari penuturan AS (31), terlihat bahwa petugas Lapas tidak hanya mengawasi warga binaan pemasyarakatan dari segi perilakunya saja, tetapi juga mengawasi mereka dari segi berpakaian agar terlihat sopan dan rapi.