• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.4 Motif dan Tujuan Narapidana Kasus Narkotika

Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Motif merupakan suatu pengertian yang mencakup semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan individu tersebut berbuat sesuatu. Misalnya, apabila seseorang merasa lapar, itu berarti kita membutuhkan atau menginginkan makanan. Motif menunjuk pada hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu. Apabila dorongan dasar itu bersifat bawaan, maka motif itu hasil proses belajar.

Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Tingkah laku juga disebut tingkah laku secara refleks dan berlangsung secara otomatis dan mempunyai maksud-maksud tertentu walaupun maksud itu tidak senantiasa sadar bagi manusia. Motif-motif manusia dapat bekerja secara sadar, dan juga secara tidak sadar bagi diri manusia. Berbicara mengenai motif secara umum, tentu tidak terlepas dari pengertian motif dari segi aspek sosial. Motif sosial adalah motif yang timbul untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Motif timbul karena adanya kebutuhan/need. Kebutuhan (need) dapat dipandang sebagai kekurangan adanya sesuatu, dan ini menuntut segera pemenuhannya, untuk segera mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai suatu kekuatan atau dorongan alasan, yang menyebabkan bertindak untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga kalau digambarkan prosesnya sebagai berikut:

Hal ini dibuktikan dari beberapa pernyataan yang disampaikan oleh informan dalam hal ini narapidana wanita kasus narkotika, yang menyatakan bahwa terdapat motif dan tujuan mereka melakukan peredaran narkotika di lingkungan masyarakat. Salah satu informan tersebut berinisial AG (45), beliau mengatakan bahwa :

“...saya udah 2 kali ketangkap. Dan kalo dibilang samanya tujuannya. Memang untuk biayai keluarga. Kalo yang pertama memang betul-betul untuk keluarga, untuk anak sekolah. Karna Kebutuhan

(Need)

Perilaku Motif dan Tujuan

disitu anak pas semua lagi sekolah, butuh biaya. Kalo kedua pengen kerja itu lagi ya untuk kebutuhan keluarga juga la, untuk sewa rumah, uang sekolah anak-anak.” (Wawancara 21 Februari 2019)

Berdasarkan pernyataan AG (45), terlihat bahwa tujuan utama beliau bekerja sebagai pengedar narkoba yaitu untuk pemenuhan kebutuhan keluarga.

Sama halnya dengan yang disampaikan oleh informan berinisial AK (43), yang mengatakan bahwa :

“...tujuan saya sebenarnya jualan itu karna memang untuk kebutuhan keluarga, buat anak sekolah, bayar listrik, bayar air, gak mungkin lah kan orang yang bayar. Kalo anak gak sekolah kian mungkin cukup.” (Wawancara 22 Februari 2019)

Namun, berbeda dari pernyataan yang disampaikan oleh informan AG (45) dan AK (43), seorang narapidana berinisial AL (45) menyatakan motif dan tujuan yang berbeda mengenai peredaran narkotika yang beliau lakukan. Berikut pernyataannya :

“...niatku itu sebenarnya jadi pengedar karna pengen pake kak, bukan untuk cari untung. Karna kalo make aja gak sanggup la beli terus. Kalo misalnya jual kan, bisa sebagian kupake bisa sebagian kujual. Pande-pandeku la ngatur timbangannya.” (Wawancara 21 Februari 2019)

Berdasarkan pernyataan informan berinisial AL (45) dapat dikatakan bahwa motif dan tujuan utama beliau bekerja sebagai pengedar narkoba karena keinginan untuk mengkonsumsi narkoba secara terus-menerus tanpa harus bersusah payah dalam membeli narkoba tersebut. Karena dengan bekerja sebagai pengedar beliau juga dapat mengkonsumsi obat terlarang tersebut kapanpun beliau mau. AL (45)

juga menggunakan strategi berjualan yang dapat dikatakan curang dengan tujuan agar narkoba yang beliau jual kepada pengguna narkoba yang lain tidak merugikan baginya.

Tabel 4. 6 Motif dan Tujuan Narapidana

No. Nama Motif dan Tujuan

1. AL “...niatku itu sebenarnya jadi pengedar karna pengen pake kak, bukan untuk cari untung. Karna kalo make aja gak sanggup la beli terus. Kalo misalnya jual kan, bisa sebagian kupake bisa sebagian kujual. Pande-pandeku la ngatur timbangannya.”

2. AG “...saya udah 2 kali ketangkap. Dan kalo dibilang samanya tujuannya. Memang untuk biayai keluarga. Kalo yang pertama memang betul-betul untuk keluarga, untuk anak sekolah. Karna disitu anak pas semua lagi sekolah, butuh biaya. Kalo kedua pengen kerja itu lagi ya untuk kebutuhan keluarga juga la, untuk sewa rumah, uang sekolah anak-anak.”

3. AI “...tujuan saya sebenarnya untuk bantu suami. Karna kan suami juga berkecimpung disitu. Jadi yaudah, saya pun ikut terlibat lah. Keuntungannya ya kami buat untuk kebutuhan keluarga.”

4. AK “...tujuan saya sebenarnya jualan itu karna memang untuk kebutuhan keluarga, buat anak sekolah, bayar listrik, bayar air, gak mungkin lah kan orang yang bayar. Kalo anak gak sekolah kian mungkin cukup.”

5. AM “...saya kerja itu ya demi anak supaya bisa sekolah, karna pikiran saya anakku cemana supaya sekolah, itu aja. Gak lebih gak kurang sebatas untuk anak sekolah, buat sewa rumah, karna rumah masih nyewa.”

6. AP “...saya kan kak jadi pengedar karna mikir daripada beli bagus mengedarkan. Sekali jual bisa sampe 200-300. Jadi udah make sabu, dapat keuntungan juga.”

7. AR “...kalo penangkapan pertama itu memang aku gak ada tujuan apa-apa buk, karna memang aku gak melakukannya. Aku ajapun gak tau kalo suamiku pengedar. Pas kami ketangkap itu baru aku tau. Kalo kedua iya memang aku melakukannya. Ya cemanalah anak kita kan makin lama makin besar. Banyak kebutuhan yang mau dicukupi. Suami awak kan udah gak ada, udah pisah kami disitu.Banyak juga sih karna main laki-laki, saya memang untuk bahagiakan anak, bayar sewa rumah aja udah berapa, uang sekolah, beli buku, transport pulang balek untuk 3 orang aja udah berapa, belum lagi sakitnya.”

8. AS “...udah pisah sama suami, anak udah sekolah, mau kerja gak tau kerja apa, mau ngadu ke keluarga sementara orang tua di Batam.”

9. AT “...karna suami sikit-sikit minta duit, anak-anak juga kan perlu sekolah, makanya saya melakukan itu. Paling sikit aja 1 juta harus ada awak pegang kalo mau jenguk bapak (suami), disitulah ongkos, belanja untuk bapak, uangnya untuk di dalam.”

10. AU “anak kan mau sekolah SMP, gadak baju sekolahnya. Daripada aku kerja yang enggak-enggak (PSK), mending aku kerja gini (kurir narkoba).”