BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.2 Profil Informan
Umur : 45 tahun Agama : Islam Suku : Chinese Status : Janda Masa Tahanan : 6 tahun Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AL adalah salah satu narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan. Beliau telah menjalani masa tahanan selama 1 tahun 7 bulan dari vonis hukuman selama 6 tahun dengan kasus peredaran narkoba. AL berprofesi sebagai pengedar lebih kurang selama 1 tahun.
Berdasarkan pernyataan AL, beliau tidak hanya sebagai pengedar, tetapi juga sebagai pengguna narkoba. Beliau telah menjadi pengguna ekstasi dan ganja selama 3 tahun dan menjadi pengguna sabu selama 7 tahun. AL mengatakan bahwa beliau sudah menjadi pengguna ekstasi dan ganja pada saat masih hidup bersama dengan mantan suami. AL adalah seorang janda yang memiliki 2 orang
anak. Anak pertama ialah perempuan berumur 21 tahun dan anak kedua, laki-laki berumur 11 tahun. AL sudah lama berpisah dengan suami dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Beliau mengatakan bahwa penyebab beliau berpisah karena suami tidak sanggup melihat perilakunya sebagai pengguna narkotika. Suami AL akhirnya memutuskan untuk pergi ke Pekanbaru dan membawa anak laki-laki mereka, sedangkan anak perempuan tinggal bersama AL dan kedua orang tuanya.
Semenjak itu, beliau tidak pernah lagi bertemu mantan suami beserta anak laki-lakinya. Beliau mengatakan bahwa mantan suaminya telah menikah lagi.
Semenjak AL berpisah dengan suaminya, beliau mengalami stres tingkat tinggi.
Akhirnya beliau diajak oleh temannya untuk menggunakan narkotika jenis sabu dan mulai dari situ beliau semakin kecanduan terhadap narkotika, khususnya narkotika jenis sabu. Karena perilakunya tersebut, beliau sempat ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian. Jadi, sebelum menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita, AL juga sudah pernah ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian dengan kasus penggunaan narkotika, bukan sebagai pengedar. Namun penahanan itu hanya selama 6 hari, karena beliau membayar uang tebusan untuk kasusnya tersebut.
Setelah menjadi pengguna dalam waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 7 tahun, AL akhirnya memutuskan untuk bekerja sebagai pengedar narkoba dengan alasan karena uang yang beliau miliki tidak akan cukup untuk terus menerus membeli obat terlarang tersebut. Ditambah lagi setelah ayah AL meninggal dunia, kebutuhan hidup beliau bersama anak perempuan dan ibunya semakin tidak mencukupi. Dari situlah beliau memulai untuk bekerja sebagai pengedar narkoba.
Awalnya beliau menjual narkoba kepada temannya sesama pengguna dan
berlanjut pada orang-orang yang berada di daerah sekitar rumahnya. Biasanya beliau melakukan komunikasi dengan konsumen melalui telepon genggam (handphone), begitu juga komunikasi beliau dengan bandar narkoba. Pelanggan AL mayoritas beretnis Tionghoa (Chinese) yang berprofesi rata-rata sebagai pengusaha. Menurut pengakuan AL, keuntungan yang beliau peroleh setiap penjualan bisa mencapai Rp200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah). Beliau mengatakan bahwa barang itu lebih sering dikonsumsi olehnya daripada dijual.
Sehingga keuntungan yang didapatkan juga tidak terlalu besar. Ketika orang tua beliau, yaitu ibunya mengetahui bahwa beliau berprofesi sebagai pengedar dan juga pengguna narkoba, beliau sering dimarahi oleh orang tuanya, namun beliau masih saja tetap melakukannya. Masyarakat yang berada di lingkungan rumah AL juga sudah mengetahui bahwa beliau adalah pengguna narkoba. Tak sedikit di antara mereka yang mencela perbuatan beliau. Bahkan keluarga besar dari Ayah AL juga membenci dan marah kepada beliau, bahkan tidak peduli lagi terhadapnya. Namun AL bersikap acuh tak acuh terhadap tanggapan orang lain terhadapnya, dan beliau masih saja tetap beprofesi sebagai pengedar sekaligus pengguna narkoba sampai akhirnya beliau ditangkap oleh pihak kepolisian.
2. Nama : AG Umur : 45 tahun Agama : Islam Suku : Aceh Status : Kawin Masa Tahanan : 8 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AG adalah informan kedua yang merupakan informan kunci dalam penelitian ini. Beliau adalah narapidana kasus narkotika yang berstatus residivis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan. Karena beliau telah menjalani masa tahanan sebanyak dua kali. Penahanan pertama beliau jalani selama 3 tahun 10 bulan dari vonis hukuman 6 tahun, tepatnya dari tahun 2010 sampai tahun 2013. Penahanan kedua ini, beliau jalani dalam waktu yang lebih lama, yaitu selama 8 tahun dan beliau telah menjalani masa tahanan selama 3 tahun. AG telah menikah sebanyak dua kali. Dari pernikahan pertama, beliau dikaruniai oleh 4 orang anak dan telah memiliki satu orang cucu. Anak pertama telah menikah, anak kedua dan ketiga sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dan anak keempat sedang duduk di bangku SMA. Pernikahan pertama AG berakhir, karena suaminya menikah lagi pada saat beliau masih menjalani proses tahanan. Setelah bebas dari masa tahanan pertama, tepatnya pada tahun 2013 akhir, AG memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Kemudian menikah lagi pada tahun 2015 dengan seorang laki-laki yang bekerja sebagai karyawan swasta.
AG mengatakan bahwa suami keduanya ini merupakan pengguna narkoba dan mereka berdua tertangkap oleh pihak kepolisian dalam waktu bersamaan. Namun bedanya AG dijerat kasus peredaran narkotika, sedangkan suami AG dijerat kasus penggunaan narkotika dan divonis hukuman selama 8 tahun.
Awal mulanya AG berprofesi sebagai pengedar ketika penghasilan dari suami pertama tidak mencukupi kebutuhan beliau dan anak-anaknya. Karena saat
itu, suami beliau tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Sementara anak-anak mereka masih memerlukan banyak biaya untuk keperluan sekolah. Ketika teman AG datang dari Malaysia, beliau ditawarkan untuk mencoba obat terlarang tersebut, tetapi beliau menolak. Kemudian teman beliau menyuruhnya untuk menjual obat tersebut. Karena pada saat itu kebutuhan dan keperluan anak-anak untuk bersekolah sangat kurang, akhirnya beliau menerima penawaran tersebut.
Dari pengakuan AG, beliau memiliki teman yang berkecimpung di penjualan narkoba, dan biasanya beliau menitipkan obat terlarang tersebut pada 2 orang teman beliau yang memang dikenal dan bisa dipercaya, karena masih ada ikatan persaudaraan di antara mereka. Beliau menyuruh mereka menjualnya dengan harga tertentu dan hanya tinggal menunggu hasil dari penjualan obat terlarang tersebut, lebih kurang dua hari lamanya. AG biasanya melakukan komunikasi dengan anggotanya melalui alat komunikasi telepon genggam (handphone), begitu juga komunikasi beliau dengan bandar narkoba. Adapun nominal keuntungan yang beliau peroleh bisa mencapai Rp10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) selama lebih kurang 2 hari. Biasanya keuntungan yang beliau peroleh tersebut digunakan sebagai kebutuhan hidup keluarga, seperti membayar sewa rumah, membayar uang sekolah anak-anaknya, dan kebutuhan lainnya. Beliau mengatakan bahwa penghasilan dari penjualan narkoba lebih besar sehingga mau tidak mau beliau melakukan perdagangan obat terlarang tersebut. Namun dari pengakuan AG, beliau tidak secara rutin melakukan perdagangan narkoba, hanya pada saat waktu tertentu saja, misalnya karena sudah tidak memiliki uang yang cukup untuk keperluan hidup keluarga, khususnya untuk keperluan anak-anak beliau. Ketika beliau tertangkap oleh pihak kepolisian untuk pertama kalinya,
beliau mendapat beberapa tanggapan baik dari masyarakat maupun keluarga.
Tidak sedikit dari mereka mencemooh beliau. Keluarga, terkhusus anak beliau sangat kaget dan kecewa ketika mengetahui bahwa Ibunya melakukan perdagangan obat terlarang tersebut. Namun beliau memberi pengertian pada anak-anaknya mengapa beliau melakukan hal tersebut ketika beliau dijenguk oleh keluarga.
Setelah AG keluar dari Lembaga Pemasyarakatan pada tahun 2013, beliau langsung memutuskan pergi ke Malaysia untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Setelah 1 tahun bekerja di sana, beliau dihubungi oleh temannya yang berada di Indonesia dan menawarkan pekerjaan dengan upah yang cukup besar.
Beliau tidak mengetahui pekerjaan apa yang akan diberikan oleh teman beliau kepadanya. Sampai pada akhirnya, pada tahun 2015 beliau kembali ke Indonesia dan langsung bertemu dengan temannya tersebut. Ternyata pekerjaan yang ditawarkan padanya tak lain adalah penjualan narkoba. Dengan dorongan kenaikan harga penjualan narkoba yang cukup tinggi, akhirnya beliau memulai kembali perdagangan obat terlarang tersebut. Untuk memperlancar kegiatan peredaran yang beliau lakukan, beliau memutuskan untuk menikah kembali dengan alasan agar masyarakat tidak mencurigainya. Suami keduanya tersebut merupakan seorang karyawan swasta yang terlibat dalam penggunaan narkoba (pemakai). Setelah beberapa bulan beliau melakukan perdagangan narkoba, akhirnya beliau dan suami keduanya tertangkap oleh pihak kepolisian, tepatnya di bulan April 2016. Namun berbeda dengan AG yang ditangkap karena kasus pengedaran narkotika, sang suami ditangkap karena kasus penggunaan narkotika
dan dijerat hukuman selama 8 tahun, sama dengan lama penahanan yang sedang dijalani oleh AG.
3. Nama : AI Umur : 35 tahun Agama : Islam Suku : Jawa Status : Kawin
Masa Tahanan : 4 tahun 9 bulan Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AI merupakan informan ketiga dalam penelitian ini. Beliau merupakan narapidana kasus peredaran narkotika yang divonis hukuman selama 4 tahun 9 bulan, dan telah menjalani masa tahanan selama lebih kurang 2 tahun. Dari pengakuan AI, beliau mengatakan bahwa beliau belum lama menjadi pengedar narkoba yaitu hanya lebih kurang 1 tahun. Berbeda dengan suami beliau yang sudah berprofesi sebagai pengedar narkoba selama lebih kurang 2 tahun.
AI memiliki tiga orang anak, anak pertama sedang menempuh pendidikan di bangku SMP, sedangkan anak kedua dan ketiga sedang menempuh pendidikan duduk di bangku SD. Namun, ketiga anaknya tersebut sudah lama tidak tinggal bersama AI beserta suami, dan mereka diasuh oleh sang nenek dan kakeknya. AI dan suaminya sudah tinggal berdua selama 4 tahun lamanya. Namun mereka berdua sering menjenguk sambil melepas rindu pada ketiga anaknya ke rumah orang tua beliau. AI mengatakan bahwa awal mulanya beliau terlibat dalam
peredaran narkotika karena masalah kebutuhan hidup di rumah tangganya yang tidak mencukupi. Beliau sudah berusaha mencari pekerjaan, seperti menjadi buruh cuci, namun upahnya sangat rendah. Selain itu, beliau juga sempat berdagang, namun barang dagangannya kurang laku. Sedangkan suami yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua.
Karena hal itu, akhirnya beliau disuruh oleh suaminya untuk ikut terlibat menjadi pengedar narkoba, sama seperti sang suami yang juga telah lama berprofesi sampingan sebagai pengedar obat terlarang tersebut. Adapun mekanisme yang beliau lakukan dalam peredaran narkotika ialah dengan menerima narkoba dari sang suami dan menjualnya pada orang yang dikenal, seperti teman-temannya yang beliau tahu sebagai pengguna narkoba. AI mengatakan bahwa sama sekali tidak mengetahui dari mana asal narkoba yang diperoleh dari suaminya tersebut.
Beliau hanya menjalankan tugasnya sebagai pengedar saja. Namun, setiap harinya ada orang-orang yang berbeda datang ke rumah AI dengan menggunakan sepeda motor untuk mengantarkan obat terlarang tersebut dalam jumlah yang cukup banyak kepada suami beliau. Dalam peredarannya, beliau sering berkomunikasi dengan konsumen (pelanggan) menggunakan telepon genggam (handphone).
Setelah ada yang memesan obat terlarang tersebut, narkoba biasanya diantar ke rumah pembeli, atau terkadang pembeli yang langsung menjemput obat terlarang tersebut. Keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan narkoba, beliau gunakan untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Profesi sebagai pengedar narkoba beliau jalani lebih kurang selama 1 tahun tanpa diketahui oleh keluarga beliau, khususnya kedua orang tua AI.
Pada tahun 2017, akhirnya peredaran yang AI lakukan bersama suami terciduk oleh pihak kepolisian. AI beserta suami akhirnya dibawa ke kantor polisi karena dugaan peredaran narkotika. Ketika pihak kepolisian menangkap beliau dan suami, semua orang di sekitar rumah mereka beramai-ramai melihat penangkapan yang dilakukan pada sepasang suami istri tersebut. Begitu juga, keluarga AI, serta kedua orang tuanya langsung terkejut dan kecewa. Pada hari itu juga, pihak yang berwajib langsung melakukan penahanan pada pasangan suami istri tersebut. Setelah putusan pengadilan, suami AI divonis hukuman selama lebih kurang 5 tahun dan AI divonis hukuman selama 4 tahun 9 bulan. AI mengatakan bahwa setelah berada di Lembaga Pemasyarakatan, beliau sering dikunjungi oleh kerabat dan juga keluarganya. Kedua orang tuanya juga selalu menasihati putrinya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan.
4. Nama : AK Umur : 43 tahun Agama : Islam Suku : Betawi Status : Janda
Masa Tahanan : 6 tahun 8 bulan Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AK adalah informan keempat dan merupakan informan kunci dalam penelitian ini. Beliau merupakan narapidana kasus narkotika yang berstatus residivis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan.
Karena beliau telah menjalani masa tahanan sebanyak dua kali. Penahanan pertama, beliau jalani selama 1 tahun 4 bulan, tepatnya dari tahun 2014 sampai tahun 2015. Penahanan kedua yang sedang beliau jalani sekarang sudah 3 tahun 5 bulan dari vonis hukuman yang cukup lama, yaitu 6 tahun 8 bulan.
AK memiliki 3 orang anak. Anak pertama dan kedua sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan anak ketiga sedang duduk di bangku SMA. Awal mulanya AK beprofesi sebagai pengedar dimulai dari sepeninggal suami beliau sejak tahun 2011. Saat itu, beliau tidak memiliki pekerjaan. Beliau telah mencoba untuk berdagang, namun hasil yang didapatkan tidak memadai untuk kebutuhan hidup keluarganya. Sementara anak-anak beliau yang saat itu semua sedang bersekolah memerlukan biaya. Akhirnya, beliau mencoba untuk bekerja sebagai pengedar narkoba. Adapun pelanggan pertama AK ialah temannya sendiri yang pengguna (pemakai) narkoba. Dari pernyataan AK, beliau mengatakan bahwa pelanggan beliau hanya orang-orang tertentu saja yang memang dikenal. Oleh karenanya, AK tidak memiliki banyak pelanggan seperti pengedar lainnya. Setiap ada pemesanan, obat terlarang tersebut diantar ke rumah pelanggan, dan kadang-kadang pelanggan AK yang menjemput barang tersebut ke rumah beliau. Biasanya, AK melakukan komunikasi dengan pelanggan menggunakan telepon genggam (handphone). Namun, dari pengakuan AK, transaksi juga bisa dilakukan pada saat bertemu dengan teman-temannya sambil bercerita dan mengobrol. Begitu juga komunikasi yang beliau lakukan dengan
sesama pengedar lainnya, biasanya pengedar lain mendatangi rumah beliau dan bercerita satu sama lain. AK mengatakan bahwa keuntungan yang diperoleh dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga, misalnya membayar tagihan air, tagihan listrik, dan biaya sekolah anak-anaknya. Dari pengakuan AK, beliau bekerja sebagai pengedar tidak lain karena beliau berkeinginan anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan sampai setinggi-tingginya.
Namun, seperti kata pepatah “Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”, hal inilah yang dialami oleh AK setelah ditangkap oleh pihak kepolisian. Setelah menjalani masa tahanan selama 1 tahun 4 bulan dari vonis hukuman yang seharusnya 2 tahun dengan pembebasan bersyarat, akhirnya AK bebas dari masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II Medan.
Setelah keluar, AK kembali menjalani profesi yang telah menjerumuskannya ke dunia penjara tersebut. Hal ini beliau lakukan karena tidak ada pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh beliau untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Beliau mencoba mencari kembali orang yang menjual narkoba (bandar) tersebut dengan menghubungi nomor teleponnya. Dari situ, beliau memulai kembali perdagangan obat terlarang tersebut. Menurutnya, perdagangan narkoba adalah cara untuk mendapatkan uang dengan cepat dan mudah. Beliau mengatakan bahwa keuntungan yang beliau dapatkan bisa mencapai Rp1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) dalam 1 hari. Keuntungan tersebut dapat beliau gunakan untuk keperluan hidupnya beserta anak-anak beliau. Namun pada tahun 2016, akhirnya AK kembali tertangkap oleh pihak kepolisian dan terjerat vonis hukuman selama 6 tahun 8 bulan.
5. Nama : AM Umur : 43 tahun Agama : Islam Suku : Jawa Status : Kawin
Masa Tahanan : 6 tahun 3 bulan Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AM adalah narapidana kasus narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan. Beliau merupakan informan kelima dalam penelitian ini. AL telah menjalani masa tahanan selama 1 tahun 1 bulan dari vonis hukuman selama 6 tahun 3 bulan. Beliau memiliki 3 orang anak, anak pertama sudah tamat SMA, anak kedua sedang menempuh pendidikan SMA, dan anak ketiga sedang menempuh pendidikan SMP. Karena AM telah berada di lembaga pemasyarakatan, ketiga anak beliau tinggal bersama dengan mertuanya.
AM mengatakan awal mulanya beliau terlibat dalam peredaran narkotika karena kebutuhan hidup di keluarganya yang tidak mencukupi. Sedangkan suami yang hanya bekerja sebagai supir tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Beliau juga berusaha untuk mendapatkan uang dengan memasak (catering) di acara pesta. Namun upahnya tetap tidak memadai untuk kebutuhan keluarga. Oleh karenanya, AM akhirnya terlibat dalam peredaran narkoba. Dari pengakuan AM, awalnya beliau diajak oleh pengedar yang merupakan teman AM yang rumahnya tidak jauh dari rumah beliau untuk bekerja sebagai kurir narkoba jenis sabu.
Pertama, beliau langsung menolak ajakan tersebut. Namun karena faktor ekonomi, akhirnya beliau menerima ajakan dari pengedar tersebut dan mulai bekerja sama dengannya. Adapun mekanisme yang beliau lakukan dengan berkomunikasi terlebih dahulu dengan pengedar melalui telepon genggam (handphone), kemudian mendatanginya untuk mengambil barang (narkoba) tersebut. Setelah itu, beliau mengantar barang yang sudah dipesan ke pelanggan sesuai alamat yang diberikan padanya. Kadang-kadang, pelanggan yang mendatangi langsung rumah beliau untuk mengambil obat terlarang tersebut. AM mengatakan bahwa upah yang beliau peroleh bisa mencapai Rp200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah) setiap satu kali transaksi. Beliau juga mengatakan terkadang keuntungan akan lebih besar diperoleh ketika penjualan lebih banyak, dan biasanya itu terjadi pada Sabtu malam (Malam Minggu). Ketika suami mengetahui bahwa AM bekerja sebagai kurir narkoba, sempat terjadi pertengkaran di antara mereka sampai pada kekerasan fisik. Namun, AM masih saja tetap bekerja sebagai kurir hanya untuk kebutuhan anaknya agar dapat bersekolah. Beliau mengatakan bahwa suami beliau sudah lama menjadi pengguna narkoba (pemakai) sebelum AM terlibat dalam peredaran narkotika. Tak lama menjadi kurir narkoba, akhirnya kegiatan peredaran narkoba yang dilakukan oleh AM sudah dipantau dan akhirnya beliau ditangkap oleh pihak kepolisian dan dijatuhi hukuman selama 6 tahun 3 bulan masa tahanan.
6. Nama : AP Umur : 32 tahun Agama : Islam
Suku : Melayu Status : Janda
Masa Tahanan : 5 tahun 3 bulan Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh cuci
AP adalah narapidana kasus narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan. Beliau merupakan informan keenam dalam penelitian ini. Selain menjadi pengedar, AP juga menjadi pengguna narkoba jenis sabu. Beliau telah menjadi pengguna selama lebih dari 4 tahun. AP memiliki 2 orang anak, anak pertama sedang menempuh pendidikan SMP kelas II, dan anak kedua sedang menempuh pendidikan SD kelas V. Setelah berpisah dengan suami, beliau tinggal bersama orang tuanya. Pekerjaan sehari-hari yang dilakukan oleh AP yaitu sebagai buruh cuci di daerah rumah beliau.
Awalnya AP bekerja sebagai pengedar karena ketidaktersediaan biaya untuk secara terus menerus membeli narkoba. Oleh karenanya, beliau memutuskan untuk sekaligus mengedarkan obat terlarang tersebut. Adapun mekanisme yang beliau lakukan dengan mendatangi bandar dan mengambil narkoba yang akan beliau jual. Biasanya AP menjual narkoba tersebut pada temannya yang pengguna (pemakai). Dari penjualan narkoba jenis sabu yang dilakukan oleh AP bisa mendapat keuntungan berkisar Rp200.000 – Rp300.000 setiap satu kali transaksi.
Berdasarkan pernyataan AP, beliau ditangkap oleh pihak kepolisian karena dijebak oleh temannya sendiri yang mengatakan bahwa polisi yang menangkap
beliau itu adalah pembeli narkoba. Saat beliau mendatangi pembeli yang merupakan polisi tersebut dan ketika ingin melakukan transaksi akhirnya beliau langsung diborgol oleh polisi. Ketika mengetahui beliau tertangkap, Ibu beliau langsung mendatangi kantor polisi untuk melihat keadaan AP. Ibunya sangat kecewa dan menangis. Kedua anak beliau tinggal bersama Ibu dari AP ketika beliau berada di Lembaga Pemasyarakatan. Beliau mengatakan bahwasanya beliau sering dijenguk oleh pihak keluarganya, terutama ibu dan anak-anaknya.
Setiap beliau dijenguk oleh ibunya, pasti beliau dibawakan bekal makanan dan diberikan nasihat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada saat keluar dari Lembaga Pemasyarakatan.
7. Nama : AR Umur : 41 tahun Agama : Islam Suku : Batak Status : Janda
Masa Tahanan : 8 tahun 1 bulan Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
AR merupakan informan ketujuh dan sekaligus merupakan informan kunci dalam penelitian ini. Beliau merupakan narapidana kasus narkotika yang berstatus residivis di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan.
Penahanan pertama, AR jalani di Tanjung Balai pada tahun 2007 dengan kasus
peredaran narkotika bersama dengan suami beliau. AR divonis hukuman selama 2 tahun, namun beliau mengurus pembebasan bersyarat sehingga hukuman yang beliau jalani hanya selama 1 tahun 3 bulan. Suami beliau divonis hukuman selama 5 tahun. Hal ini terjadi karena pada saat itu yang menjadi pengedar ialah suami beliau, dan beliau belum terlibat dalam peredaran narkotika. Setelah 3 bulan menjalani masa tahanan, akhirnya AR dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan, tepatnya pada tahun 2008 karena membuat keributan dengan teman satu kamar beliau. Adapun pengakuan dari AR, keributan itu terjadi karena teman beliau ketahuan selingkuh dengan suami beliau melalui telepon genggam (handphone). Sejak itu, AR tidak pernah berkomunikasi
peredaran narkotika bersama dengan suami beliau. AR divonis hukuman selama 2 tahun, namun beliau mengurus pembebasan bersyarat sehingga hukuman yang beliau jalani hanya selama 1 tahun 3 bulan. Suami beliau divonis hukuman selama 5 tahun. Hal ini terjadi karena pada saat itu yang menjadi pengedar ialah suami beliau, dan beliau belum terlibat dalam peredaran narkotika. Setelah 3 bulan menjalani masa tahanan, akhirnya AR dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Tanjung Gusta, Medan, tepatnya pada tahun 2008 karena membuat keributan dengan teman satu kamar beliau. Adapun pengakuan dari AR, keributan itu terjadi karena teman beliau ketahuan selingkuh dengan suami beliau melalui telepon genggam (handphone). Sejak itu, AR tidak pernah berkomunikasi