BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.8 Stereotip Narapidana (Residivis) Kasus Narkotika
Secara umum stereotip adalah pelabelan atau ciri-ciri penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Selama ini karena budaya patriarkhi yang sangat internalize di dalam masyarakat melahirkan stereotip di dalam masyarakat dalam melihat keberadaan perempuan (Daulay, 2007). Adanya prasangka sosial bergandengan pula dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan
tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang bercorak negatif. Stereotip mengenai orang lain sudah terbentuk pada orang yang prasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul sewajarnya dengan orang-orang lain yang dikenal prasangka itu.
Stereotip bisa diartikan sebagai (attitudes) menunjukkan pada sikap, pandangan atau pemahaman yang terstandar secara kaku bercirikan penilaian (baik atau buruk) tanpa memerlukan atau menghindari bukti terhadap orang lain (bangsa, masyarakat, kelompok komunitas, suku, atau etnik tertentu) atau sesuatu peristiwa atau benda di luar kebiasaannya sepeti upacara adat, perilaku sosial, makanan, dan lain sebagainya (Rizal, 2017). Merupakan hal yang biasa ketika ada warga binaan yang telah bebas dari hukumannya tetap dianggap sebagai seorang bermental kriminalis. Namun, hal tersebut tentu saja sangat berpengaruh pada mantan narapidana dan kemungkinan mereka bisa mengulangi perbuatan pelanggaran pidananya lagi.
Dalam buku Studi Kebudayaan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia (Simon & Sunaryo, 2011) dikatakan bahwa berada dalam Lembaga Pemasyarakatan menimbulkan lima penderitaan, yaitu sebagai berikut :
Kehilangan kemerdekaan
Kehilangan relasi dengan lawan jenis
Kehilangan hak untuk memiliki barang pribadi dan pelayanan
Kehilangan otonomi
Kehilangan keamanan
Namun dari lima penderitaan yang dikenal dengan istilah “Pains Of Imprisonment” di atas, penderitaan paling hebat dan sifatnya berkepanjangan adalah stigma dari masyarakat. Adapun stigma merupakan konsep yang dikemukakan oleh Goffman (dalam Kurniawati, 2016), dimana seseorang atau individu dikucilkan, disingkirkan, didiskualifikasi, atau ditolak dari penerimaan sosial. Sedangkan dari segi sosiologis, stigma timbul dari proses interaksi yang melibatkan masyarakat sampai para individu menerima stigma dari masyarakat.
Stigma merupakan bentuk reaksi sosial dari masyarakat atas perilaku yang telah dilakukan oleh individu.
Sekeluarnya narapidana dari pemasyarakatan, ia membawa label penjahat.
Akibatnya yang bersangkutan sulit menjalani kehidupan sebagaimana masyarakat pada umumnya misalnya saja kesulitan dalam mencari pekerjaan. Tidak sedikit masyarakat yang seakan menjastifikasi keberadaan mereka sebagai mantan narapidana. Seperti yang dialami oleh salah satu narapidana yang merupakan residivis kasus narkotika, yaitu AL (45). Beliau mendapat stereotip dari masyarakat dimana beliau berada setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan.
Dari wawancara yang dilakukan, AL (45) mengatakan bahwa :
“...anggapan negatif pasti ada. Pas bebas ada juga orang yang bilang perempuan gak ada otak.” (Wawancara 21 Februari 2019).
Selain AL (45), informan berinisial AG (45) yang juga merupakan narapidana berstatus residivis juga menyampaikan pendapat serupa terkait dengan stereotip yang beliau terima di masyarakat setelah beliau bebas dari Lembaga Pemasyarakatan.
“...kadang aku minder juga karna dibilang perempuan gak bagus.”
(Wawancara 21 Februari 2019)
Dari pernyataan kedua informan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika mantan narapidana perempuan tidak diperlakukan secara adil sebagai warga masyarakat biasa yang telah menebus kesalahan, maka akibat yang paling buruk adalah mereka akan dapat mengulangi kembali tindakan pelanggaran hukumnya, seperti yang dialami oleh informan AL (45) dan AG (45) yang menjadi narapidana untuk kedua kalinya dengan kasus yang sama, yaitu kasus narkotika.
Adapun ketidakadilan yang dialami oleh mantan narapidana perempuan secara singkat dapat dijelaskan dalam bentuk skema gambar berikut ini.
Sumber: Kurniawati, 2016
Gambar 4. 2 Stigma Sebagai Suatu Ketidakadilan Yang Dialami Oleh Mantan Narapidana Perempuan
Teridentifikasi Ketika Menjadi Narapidana
Terlegitimasi Ketika Keluar Penjara
Diwujudkan Dalam Steriotipe, Marginalisasi, Subordinasi dan Dominasi
Ketidakadilan Mantan Narapidana Perempuan
Proses stigma sebagai suatu ketidakadilan yang dialami oleh mantan narapidana perempuan pada dasarnya bukan terjadi ketika menjadi mantan narapidana perempuan. Namun, terjadinya ketika masih menjadi narapidana perempuan. Kondisi tersebut dikarenakan ketidakadilan itu muncul karena efek dari tindakan kriminal yang dilakukan oleh perempuan. Dengan logika seperti itu seharusnya perempuan dapat mengidentifikasi bahwa ketidakadilan yang dialami pada dasarnya sudah terjadi ketika masih menjadi narapidana perempuan.
4.9 Upaya Menghadapi Stereotip Narapidana (Residivis) Kasus Narkotika Tidak dapat dipungkiri bahwa bagi mantan narapidana yang sudah bebas atau keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) tidak mudah untuk kembali dan berbaur di tengah masyarakat. Meskipun bebas, mantan tahanan atau narapidana tersebut tetap dianggap orang cacat sosial dan sampah masyarakat karena perilaku pidana yang pernah dilakukan. Terlebih lagi ketika perilaku pidana tersebut dilakukan oleh kaum perempuan yang dalam pandangan masyarakat bahwa kejahatan peredaran narkotika yang tergolong dalam kejahatan extraordinary tersebut jarang dilakukan oleh para kaum perempuan.
Dalam pembahasan sebelumnya, mengenai stereotip yang diterima oleh mantan narapidana disampaikan bahwa ada stereotip yang diberikan masyarakat pada mereka, seperti stereotip “perempuan gak ada otak”, kemudian “perempuan gak bagus”, dan lain sebagainya. Sehingga stereotip ini memunculkan upaya mantan narapidana dalam menanggapi stereotip tersebut. Seperti yang disampaikan salah satu informan berinisial AG (45) yang menerima stereotip
“perempuan gak bagus” dari masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Adapun upaya yang beliau lakukan dalam menghadapi stereotip itu beliau sampaikan pada saat wawancara.
“...caranya cuek aja. Kalopun mereka tau, saya pura-pura tidak tau. Lagian kalo ada yang bilang gitu aku cuma bilang udah bagus hidup kalian rupanya, urus urusan kalian, aku urus urusanku.”
(Wawancara 21 Februari 2019)
Selain AG (45), informan berinisial AL (45) juga mendapat stereotip negatif dari masyarakat tempat beliau tinggal. Masyarakat menyatakan bahwa beliau adalah “perempuan gak ada otak”. Adapun upaya dalam menghadapi stereotip tersebut disampaikan AL (45) pada saat wawancara berlangsung.
“...cara nanggapinya gak open, gak peduli apa kata orang, gak peduli, yang penting kan gak ganggu orang.” (Wawancara 21 Februari 2019)
4.10 Analisis Tindakan Sosial Narapidana Wanita Kasus Narkotika
Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Ritzer, 2004). Menurut Weber, suatu tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati tidak masuk dalam kategori tindakan sosial. Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan sosial ketika tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada orang lain (individu lainnya).
Meski tak jarang tindakan sosial dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Bahkan tindakan dapat berulang kembali dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Turner, 2012).
Bagi beberapa informan yang telah diwawancarai bahwa tindakan sosial yang dilakukan oleh mereka yang bekerja sebagai pengedar narkoba mayoritas mengarah pada tindakan rasionalitas instrumental. Menurut Weber, tindakan rasionalitas instrumental meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Individu dilihat sebagai memiliki macam-macam tujuan yang mungkin diinginkannya, dan atas dasar suatu kriterium menentukan satu pilihan di antara tujuan-tujuan yang saling bersaingan ini. Individu lalu menilai alat yang mungkin dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan yang dipilih. Jika dihubungkan dalam konteks penelitian ini, informan dalam hal ini narapidana wanita kasus narkotika secara sadar melakukan peredaran narkotika tersebut, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, namun pada akhirnya tujuan dari peredaran yang mereka lakukan karena faktor kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Seperti penuturan dari salah satu informan berinisial AG (45) yang menyatakan bahwa beliau bekerja sebagai pengedar karena ingin memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“...saya udah 2 kali ketangkap. Dan kalo dibilang samanya tujuannya. Memang untuk biayai keluarga. Kalo yang pertama memang betul-betul untuk keluarga, untuk anak sekolah. Karna disitu anak pas semua lagi sekolah, butuh biaya. Kalo kedua pengen kerja itu lagi ya untuk kebutuhan keluarga juga la, untuk sewa rumah, uang sekolah anak-anak.”
Dari pernyataan informan di atas, tindakan yang beliau lakukan agar dapat mencapai tujuan, yang dalam hal ini pemenuhan kebutuhan keluarga dilakukan dengan menggunakan alat yaitu bekerja sebagai pengedar narkoba. Beliau sebagai perempuan yang biasanya hanya bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga terpaksa
harus melakukannya karena untuk tercapainya tujuan yang telah dipaparkan di atas. Dengan penahanan yang beliau terima selama dua kali terlihat bahwa faktor situasi dan kondisi ekonomi yang akhirnya mendorong beliau dan memutuskan untuk bekerja sebagai pengedar narkoba. AG (45) menyadari bahwa tindakan beliau tersebut merupakan perilaku menyimpang di masyarakat bahkan digolongkan sebagai kejahatan extraordinary. Namun, didorong oleh faktor ekonomi yang beliau alami menuntut agar beliau dapat memenuhi tujuan tersebut dengan cara apapun termasuk dengan menjadi pengedar narkoba.
Bukan hanya informan AG (45) saja yang melakukan hal serupa, informan berinisial AR (41) juga menyatakan bahwa keterlibatan beliau dalam peredaran narkotika didasarkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.
“...kalo penangkapan pertama itu memang aku gak ada tujuan apa-apa buk, karna memang aku gak melakukannya. Aku ajapun gak tau kalo suamiku pengedar. Pas kami ketangkap itu baru aku tau. Kalo kedua iya memang aku melakukannya. Ya cemanalah anak kita kan makin lama makin besar. Banyak kebutuhan yang mau dicukupi. Suami awak kan udah gak ada, udah pisah kami disitu.Banyak juga sih karna main laki-laki, saya memang untuk bahagiakan anak, bayar sewa rumah aja udah berapa, uang sekolah, beli buku, transport pulang balek untuk 3 orang aja udah berapa, belum lagi sakitnya.” (Wawancara 28 Februari 2019)
Adapun AR (41) merupakan narapidana berstatus residivis yang telah menjalani dua kali masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan. Adapun tindakan sosial yang mengawali penangkapan pertama beliau mengarah pada tindakan afektif. Menurut Weber, tindakan afektif ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Tipe tindakan ini benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologis, atau kriteria rasionalitas lainnya. Penahanan pertama beliau di Lembaga
Pemasyarakatan bukan karena keterlibatan beliau dalam peredaran narkoba.
Namun beliau menerima penahanan tersebut karena awalnya yang menjadi pengedar narkoba ialah suami beliau. Namun karena faktor afeksi yang menyebabkan beliau rela bertindak secara irrasional, dimana beliau menerima penahanan di Lembaga Pemasyarakatan, padahal beliau pada saat itu belum terlibat dalam peredaran narkoba tersebut. Namun dari pernyataan AR (41), tindakan beliau yang bekerja sebagai pengedar narkoba pada penahanan kedua memang benar dilakukan olehnya. Hal ini mengarah pada tindakan rasionalitas instrumental, di mana beliau bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena alasan faktor ekonomi, dan pada saat itu situasi beliau telah berpisah dengan suaminya. Sehingga cara apapun akan dilakukannya untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya beserta anak-anaknya yang berusaha beliau penuhi dengan cara apapun, termasuk bekerja sebagai pengedar narkoba.
Dalam klasifikasi empat tipe tindakan yang diuraikan oleh Weber (dalam Jones, 2016) terlihat bahwa tindakan rasionalitas instrumental menduduki posisi tertinggi dari tindakan sosial yang dilakukan oleh narapidana wanita kasus narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Medan. Dalam klasifikasi tersebut dikatakan bahwa :
“Tindakan ini paling efisien untuk mencapai tujuan ini, dan inilah cara terbaik untuk mencapainya”. (Jones, 2016)
Jika pernyataan di atas dikaitkan dengan tindakan sosial yang dilakukan oleh narapidana wanita, maka tindakan yang dimaksud ialah bekerja sebagai pengedar narkoba dengan tujuan adalah pemenuhan kebutuhan hidup keluarga (faktor ekonomi).
Untuk lebih jelasnya, tindakan rasionalitas narapidana wanita kasus narkotika dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Tabel 4. 13 Proses Tindakan Sosial Peredaran Narkotika
No. Informan Proses
AM (43) Sugesti teman Kurir narkoba Upah yang diperoleh cukup besar
Sugesti teman Kurir narkoba Pemenuhan
kebutuhan hidup keluarga
8.
AS (31)
Sugesti suami Kurir narkoba Suami juga bekerja sebagai pengedar narkoba
9.
AU (40) Sugesti teman Kurir narkoba Upah yang diperoleh cukup besar
Dari data tabel di atas, terlihat bahwa tindakan rasional narapidana wanita terlibat dalam peredaran narkotika tidak hanya didasarkan pada tindakan rasionalitas instrumental, yaitu dengan tujuan tertentu, dalam hal ini pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Namun di samping itu, terdapat tindakan rasional berlandas pada tindakan afektif, dalam hal ini keterlibatan narapidana selaku istri dipengaruhi oleh suami yang lebih dahulu bekerja sebagai pengedar narkoba.
Adanya suatu ikatan atau hubungan perkawinan, menyebabkan istri juga ikut terlibat dalam peredaran narkotika.
4.11 Analisis Stereotip Narapidana Wanita (Residivis) Kasus Narkotika Taylor dan Porter (dalam Susetyo, 2010) secara umum membedakan stereotip dalam beberapa jenis, yaitu stereotip rasial-etnis, stereotip kultural, dan stereotip gender. Fakih (2004) berpendapat bahwa stereotip gender merupakan pelabelan terhadap jenis kelamin tertentu. Adapun sasarannya lebih banyak dikenakan pada perempuan. Misalnya stereotip yang menganggap bahwa perempuan bersolek adalah untuk memancing perhatian lawan jenisnya. Maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotip ini. Bahkan seringkali perempuan yang menjadi korban justru menjadi pihak yang dipersalahkan. Sama halnya dalam konteks penelitian ini di mana terdapat stereotip yang dialami oleh narapidana wanita kasus narkotika karena
mereka berjenis kelamin perempuan. Hal ini didasarkan pada pemikiran masyarakat yang menganggap bahwa pada umumnya perempuan jarang melakukan tindakan kejahatan, sehingga ketika fakta yang ada di masyarakat bahwa terdapat perempuan yang melakukan tindakan kejahatan seperti peredaran narkotika, masyarakat langsung memberikan stereotip negatif pada perempuan tersebut, di mana stereotip itu sampai kapan pun akan melekat dalam diri perempuan tersebut. Seperti yang disampaikan salah satu informan penelitian yang mendapat stereotip negatif oleh masyarakat. Dari wawancara yang dilakukan, AL (45) mengatakan bahwa :
“...anggapan negatif pasti ada. Pas bebas ada juga orang yang bilang perempuan gak ada otak.” (Wawancara 21 Februari 2019).
Stereotip negatif tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pada diri setiap individu. Karena stereotip yang diberikan oleh masyarakat dapat menyebabkan seorang perempuan tidak memiliki akses, misalnya dalam hal bekerja. Perempuan yang telah dilekatkan stereotip negatif akan susah dalam mencari pekerjaan, dan hal ini justru akan mengakibatkan perempuan tersebut bisa saja mengulangi kejahatan serupa dengan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Karena hanya bekerja sebagai pengedar narkotika yang dapat ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sehingga tidak jarang perempuan yang telah ditahan sebanyak dua kali penahanan atau lebih memaparkan bahwa alasan melakukan tindakan serupa karena susah dalam hal mencari pekerjaan di masyarakat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai orang (manusia) yang memiliki alat reproduksi yaitu vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Perempuan memiliki sifat dasar yang melekat dalam dirinya yang dikontruksikan secara sosial dan budaya dalam masyarakat, seperti sifat lembut, penyayang, memiliki empati yang tinggi dan jarang melakukan tindak kejahatan. Menurut Hurwitz (dalam Sumarauw, 2013) adapun penyebab angka rata-rata kejahatan bagi wanita lebih rendah dari pada laki-laki disebabkan karena beberapa hal antara lain.
(1) Wanita secara fisik kurang kuat, ada kelainan-kelainan psikis yang khas.
(2) Terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja, di rumah, wanita kurang minum-minuman keras.
Namun faktanya, terdapat perempuan yang melakukan tindakan kejahatan seperti peredaran narkotika. Setelah dilakukan penelitian, terdapat motif dan tujuan perempuan melakukan peredaran narkotika tersebut, tidak hanya itu, juga terdapat faktor-faktor yang melatarbelakangi tindakan si pelaku.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan mayoritas narapidana wanita menyatakan bahwa motif dan tujuan mereka melakukan peredaran narkotika yaitu untuk pemenuhan kebutuhan keluarga. Namun, di samping itu ada juga yang
menyatakan bahwa bekerja sebagai pengedar narkoba karena keinginan untuk mengkonsumsi narkoba secara terus-menerus tanpa harus bersusah payah dalam membeli narkoba tersebut. Karena dengan bekerja sebagai pengedar, informan juga dapat mengkonsumsi obat terlarang tersebut kapanpun beliau mau. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi narapidana wanita melakukan peredaran narkotika dikelompokkan dalam beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor ekonomi. Dalam faktor lingkungan sosial terbagi menjadi 2, yaitu faktor keluarga, dan faktor lingkungan tempat tinggal/teman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Agustina, dkk, faktor keluarga dapat menjadi penyebab seseorang terlibat dalam peredaran narkoba apabila suami adalah bandar atau pengedar narkotika. Istri akan dipengaruhi suami untuk terlibat dalam peredaran narkotika tersebut. Dengan memanfaatkan istri sebagai kurir narkotika akan menimbulkan rasa aman bagi suami dalam menjalankan bisnis haram tersebut. Adanya ikatan perkawinan menjadikan istri sebagai kurir cenderung tidak berani melakukan hal macam-macam yang akan membahayakan dirinya maupun suaminya. Selain itu, kegagalan dalam berumah tangga yang menyebabkan mental dan kejiwaan mereka terganggu juga dapat menyebabkan informan mengkonsumsi narkoba, dan setelah itu bekerja sebagai pengedar narkoba. Dari hasil wawancara juga didapati bahwa informan yang menyatakan bahwa faktor peredaran narkotika yang ia lakukan karena daerah tempat tinggal beliau merupakan lingkungan narkoba, sehingga lingkungan mendorong beliau untuk bekerja sebagai pengedar narkoba.
Mengingat pemikiran masyarakat yang menganggap bahwa pada umumnya perempuan jarang melakukan tindakan kejahatan, sehingga ketika fakta yang ada
di masyarakat bahwa terdapat perempuan yang melakukan tindakan kejahatan seperti peredaran narkotika, masyarakat langsung memberikan stereotip negatif pada perempuan tersebut, di mana stereotip itu sampai kapan pun akan melekat dalam diri perempuan tersebut. Karena stereotip yang diberikan oleh masyarakat dapat menyebabkan seorang perempuan tidak memiliki akses, misalnya dalam hal bekerja. Perempuan yang telah dilekatkan stereotip negatif akan susah dalam mencari pekerjaan, dan hal ini justru akan mengakibatkan perempuan tersebut bisa saja mengulangi kejahatan serupa dengan yang pernah ia lakukan sebelumnya.
5.2 Saran
Pada akhirnya, saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berkut :
1. Keluarga sebagai lingkungan sosial primer diharapkan dapat saling menopang dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Sehingga alasan ekonomi tidak lagi menjadi alasan utama seorang individu untuk memilih bekerja sebagai pengedar narkotika.
2. Lembaga Pemasyarakatan diharapkan dapat membantu narapidana kasus narkotika untuk mengasah keterampilan bekerja para narapidana.
Sehingga tidak ada alasan bagi para narapidana bekerja menjadi pengedar narkoba karena tidak memiliki akses untuk bekerja di ruang publik. Karena dengan memiliki keterampilan bekerja, narapidana dapat bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang ia miliki sehingga tidak tergantung sepenuhnya pada orang lain.
3. Masyarakat diharapkan dapat menjadi agen atau pihak yang membantu narapidana untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak langsung memberikan stereotip negatif pada narapidana tersebut.
4. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi Agent of Change bagi permasalahan mengenai peredaran narkotika yang dilakukan oleh perempuan, yaitu dengan memberikan pemberdayaan serta pengabdian pada masyarakat terkait dengan masalah narkoba.
5. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melengkapi kajian penelitian ini secara lebih mendalam, baik secara kajian sosiologis maupun kajian-kajian lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Daulay, Harmona. (2007). Perempuan dalam Kemelut Gender. Medan: USU Press Echols, John M. dan Hassan Shadily. (1983). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:
Gramedia
Faisol, M. (2011). Hermeneutika Gender Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith. Malang: UIN-Maliki Press
Fakih, Mansour. (2004). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Belajar
Hamzah, Andi. (1993). Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Handayani, Trisakti & Sugiarti. (2008). Konsep dan Teknik Penelitian Gender.
Malang: UMM Press
Hanurawan & Diponegoro. (2005). Psikologi Sosial Terapan dan Masalah-Masalah Sosial. Yogyakarta: UAD Press
Johnson, Doyle Paul. (1988). Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid I (Robert M. Z. Lawang, Penerjemah). Jakarta: PT Gramedia
Johnson, Doyle Paul. (1990). Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid II. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Jones, Pip., Liz Bradbury dan Shaun Le Boutillier. (2016). Pengantar Teori-Teori Sosial (Achmad Fedyani Saifuddin, Penerjemah). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Kartono, Kartini. (2004). Patologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers
Moleong, Lexy. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Muladi. (1992). Lembaga Pidana Bersyarat. Bandung: Alumni.
Mulyana, Deddy. (2000). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Narwoko & Suyanto. (2009). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta:
Kencana
Ollenburger, Jane C dan Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita (Budi Sucahyono & Yan Sumaryana, Penerjemah). Jakarta: PT Rineka Cipta Panjaitan, Petrus Irawan dan Pandapotan Simorangkir. (1995). Lembaga
Pemasyarakatan dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ritzer, George. (2004). Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda.
Jakarta: Rajawali Pers
Setiadi, Elly M dan Usman Kolip. (2011). Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial : Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya.
Jakarta : Kencana Prenada Media Grup
Sihite, Romany. (2007). Perempuan, Kesetaraan, Keadilan : Suatu Tinjauan Berwawasan Gender. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Schneider, David J. (2004). The Psychology Of Stereotyping. New York: The Guilford Press
Simon, R.A. Josias & Thomas Sunaryo. (2011). Studi Kebudayaan Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Bandung: Lubuk Agung
Sobur, Alex. (2009). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Sodik, Mohammad. (2004). Telaah Ulang Wacana Seksualitas. Yogyakarta: PSW
Sodik, Mohammad. (2004). Telaah Ulang Wacana Seksualitas. Yogyakarta: PSW