• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN MIKRO KEK TANJUNG API-API

PENGEMBANGAN KEK TANJUNG API-API

3.2 GAMBARAN MIKRO KEK TANJUNG API-API

Tanjung Api-Api adalah kawasan untuk Pelabuhan laut yang berlokasi di pesisir timur pulau Sumatera tepatnya di Muara sungai Banyuasin atau berhadapan dengan Selat Bangka. Kawasan tersebut berjarak 70 km dari sebelah Utara Kota Palembang ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Letak geografis kawasan Tanjung Api-Api adalah 102° 17 Lintang Selatan dan 104°50’ Bujur Timur.

Kawasan ini dipilih berdasarkan rekomendasi yang telah dibuat oleh E.G Frankel Inc. Boston USA, setelah melakukan penelitian dan mempelajari secara mendalam mengenai kemungkinan kawasan untuk mendirikan pelabuhan laut di pesisir timur pulau Sumatera pada tahun 1976. Banyak juga yang telah melakukan penelitian seperti Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 1993 dan lois Berger International Inc, tahun 1966 yang telah merencanakan kawasan Tanjung Api-Api cocok untuk dikembangkan menjadi pelabuhan laut untuk Propinsi Sumatera Selatan tetapi juga tiga menjadi propinsi di wilayah ini seperti Propinsi Lampug, Bengkulu dan Jambi.

Gambaran Umum dan Permasalahan Pengembangan KEK Tanjung Api-Api III-32

Beberapa hal yang menarik dan menjanjikan Pelabuhan Laut Tanjung si Api-Api yaitu:

• Kawasan Tanjung Api-Api merupakan kawasan ekonomi yang bergairah dikarenakan dapat menghasilkan income bagi propinsi, investor dan kawasan itu sendiri, setelah melakukan investasi di kawasan tersebut.

• Kondisi fisik tanah dan laut Tanjung Api-Api sangat cocok untuk konstruksi pelabuhan laut seperti air yang dalam, sedimentasi yang baik, arus laut, kondisi fisik tanah.

• Dukungan yang luas dari penduduk setempat sebagai pernyataan resmi kepada pemerintah provinsi sebagai wakil rakyat untuk mengembangkan pelabuhan laut di Tanjung Api-Api.

• Akses jalan yang menghubungkan kawasan pelabuhan laut Tanjung Api-api dengan Ibukota Provinsi Sumatera Selatan yang pada tahun 2008 sedang dalam tahap pembangunan saat ini telah diselesaikan dan dapat digunakan. • Fasilitas yang tidak kalah pentingnya untuk mendukung pembangunan

pelabuhan laut Tanjung Api-api. Selain akses jalan; menyediakan listrik untuk kebutuhan industri;perkantoran dan perumahan; ketersediaan air bersih; dan fasilitas telekomunikasi; tidak hanya itu, juga yang menjadi pertimbangan serius adalah pembangunan rel kereta api sebagai sarana angkutan alternatif. • Rel kereta api yang ada sekarang akan diperpanjang kekawasan pelabuhan

laut Tanjung Api-api sehingga transportasi batu bara dari lokasi tambang dapat langsung di bawa ke pelabuhan laut Tanjung api-api. Jalur pipa minyak dan gas juga direncanakan ke dalam skenario pembangunan pelabuhan laut Tanjung Api-api, sehingga ekspor minyak dan gas alam dapat dilakukan secara cepat dari ladang-ladang minyak dan gs yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.

• Dengan menyediakan tenaga listrik, fasilitas telekomunikasi dan air minum diharapkan dapat mempercepat pembangunan kawasan pelabuhan Laut

Gambaran Umum dan Permasalahan Pengembangan KEK Tanjung Api-Api III-33

Tanjung Api-api dan sekitarnya yang rencana pembangunannya telah dikembangkan.

3.2.1 Sumberdaya Alam KEK A. Sumber Daya Tanah

Morfologi tanah dalam kawasan perencanaan KEK Tanjung Api-Api secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu :

a. Hamparan tanah alluvial

Tanah alluvial ini termasuk tanah mineral yang selalu jenuh air, dan biasanya tersebar di sepanjang punggung delta atau bagian tengah memanjang dari pangkal sampai ujung delta yang menjorok ke arah laut. Tanah aluvial yang berbahan aluvium ini pada umumnya homogen dan bisa mencapai kedalaman 2 meter. Sedangkan pada kawasan yang telah dibudidayakan penduduk sebagai lahan pertanian maupun kebun kelapa, telah terbentuk lapisan organik di permukaan tanah dengan tebal lapisan sekitar 5-10 sentimeter. Pada dasarnya morfologi tanah semacam ini belum menampakkan diferensiasi horison yang nyata. Perbedaan visual menunjukkan bahwa lapisan tanah dapat terbentuk tipis karena pengaruh timbunan bahan organik di lapisan permukaan dan naik turunnya permukaan air tanah yang termasuk dangkal yaitu sekitar 60 sentimeter dari permukaan tanah pada saat musim kemarau (surut) dan dapat mencapai 20 sampai 30 sentimeter dari permukaan tanah pada saat musim hujan (pasang). Kondisi ini menyebabkan tanah selalu dalam kondisi lembab, bersifat liat serta memiliki koefisien kembang–kerut cukup besar.

Tanah aluvial pada umumnya tidak terkonsolidasi dengan baik, tetapi dapat memadat jika mengalami masa kering yang berkepanjangan. Sedangkan tanah aluvial di kawasan pasang surut selalu dalam kondisi lembab sampai basah, sehingga tanah – tanah semacam ini bukanlah bahan konstruksi yang siap dimanfaatkan.

Gambaran Umum dan Permasalahan Pengembangan KEK Tanjung Api-Api III-34

b. Hamparan Tanah organik

Tanah organik dapat berkembang dalam ekosistem rawa terutama pada bagian daratan yang memiliki cekungan dan bagian landaian daratan yang memungkinkan air pasang menggenangi tempat tersebut dalam waktu relatif lama. Daerah cekungan ini pada saat hujan akan tergenang air dan menjadi lembab saat musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kawasan rawa lebak, dengan akumulasi bahan organik di atas lapisan mineral (bahan aluvium) setebal lebih kurang 20-30 sentimeter. Sedangkan di bagian landaian daratan karena siklus pasang-surut menyebabkan tempat tersebut memiliki genangan menahun. Dengan vegetasi lebat, sedimentasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna menyebabkan terjadinya lahan gambut, yang memilki ketebalan gambut antara 1 sampai dengan 8 meter. Lahan gambut ini merupakan ekosistem yang paling cocok bagi tumbuh dan berkembangnya hutan mangrove.

Terdapat tiga kemungkinan perkembangan tanah di kawasan ini yaitu tanah aluvial, tanah organik baik organosol maupun histosol dalam kawasan aluvial yang berada di bawah ekosistem hutan, maupun tanah gambut terutama kawasan – kawasan rawa dan lebak yang belum dibuka dengan heterogenitas vegetasi rapat, serta gleysol yaitu pada dataran banjir atau dataran pasang yang tergenang dalam waktu lama.