• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Sistem Prasarana dan Sarana

1) Penyediaan Perumahan

Bila kawasan telah dikembangkan sebagaimana rencana ke depan, penyediaan perumahan terutama akan ditentukan oleh spesifikasi kebutuhan berupa perumahan bagi tenaga kerja yang bekerja di bidang industri. Sesuai dengan prediksi penduduk ke depan sampai 256.800 jiwa (pendekatan kapasitas daya tampung ruang), maka bila satu keluarga terdiri dari 5 jiwa dan membutuhkan 1 unit rumah, maka jumlah unit rumah keseluruhan mencapai lebih 51.000 unit rumah, dan bila 4 jiwa per keluarga dibutuhkan 64.000 unit rumah. Bila asumsi ukuran keluarga lebih kecil, tentu akan dibutuhkan lebih banyak unit rumah.

Menurut Pedoman Teknis Pengembangan Kawasan Industri, dibutuhkan penyediaan unit hunian setiap 1,5 tenaga kerja. Artinya, untuk kegiatan industri di atas lahan seluas 5.500 Ha yang sekurang-kurangnya akan mengundang 275.000 tenaga kerja, dibutuhkan 180.000 unit rumah. Jadi hanya sepertiga jumlah rumah yang dapat disediakan di dalam kawasan perencanaan. Selebihnya harus dipenuhi di luar wilayah, baik di wilayah KTM Telang hingga Kawasan Gasing, di seberang Sungai Banyuasin, maupun di seberang Sungai Telang (tentunya perlu didukung transportasi darat dan penyeberangan/sungai yang handal di Sungsang, Tanjung Api-api, dan Bungakarang).

• Kebijakan perumahan di dalam kawasan perlu diorientasikan pada bentuk-bentuk hunian bagi tenaga kerja lajang dan keluarga kecil (muda). Untuk merespons mobilitas sosial, maka hunian sistem sewa akan lebih akomodatif. Oleh karena itu bentuk perumahan terutama berupa asrama maupun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) berlantai banyak (8~10 lantai).

• Untuk area pusat perkotaan, seperti di Kotabaru dan Bungkarang yang dicirikan sektor jasa, akan diperlukan hunian berupa apartemen.

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-91

• Untuk pengembangan lahan dapat menggunakan skema Kawasan Siap Bangun (kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (lisiba) maupun pembangunan properti lengkap.

• Alokasi perumahan sudah berada dalam batas standard, sebagaimana Pedoman Teknis Pengembangan Kawasan Industri. Disebutkan dalam pedoman bahwa untuk kawasan industri lebih dari 500 Ha perlu disediakan areal perumahan 10-30% dari luas lahan yang dapat dijual.

• Untuk permukiman di kawasan Industri, diseyogyakan bangunan fisk rumah, fasilitas berikut utilitas kawasan diserahkan kepada pihak swasta sepenuhnya, dan pemerintah kabupaten perlu melakukan pengawasan secara cermat, baik dalam pemberian izin serta pengawasan pembangunannya, mengingat kawasan tersebut dekat dengan hutan lindung.

• Untuk kota Sungsang yang sudah cukup padat perlu dilakukan penataan kembali perumahan.

2) Fasilitas Kesehatan

• Sesuai dengan standard pengadaan fasilitas kesehatan, maka kedua kota tersebut paling tidak masing-masing memiliki sebuah puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) dengan kelengkapan sarana dan prasarananya. Pengembangan lebih lanjut, unit puskesmas ini bisa ditingkatkan dengan pelayanan rawat inap atau rumah sakit kecil, (type D).

• Sedangkan pelayanan kesehatan yang berada di kawasan Kotabaru diserahkan kepada pihak ketiga/swasta untuk pengadaan fasilitas kesehatan, baik berupa poliklinik, puskesmas bahkan rumah sakit modern sekalipun (international hospital).

3) Fasilitas Pedidikan

• Kota Sungsang, Kotabaru, dan Bungakarang, serta blok-blok perumahannya yang akan dikembangkan, paling tidak memiliki unit

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-92

SD, SMP, dan SMA. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan spesifik kawasan berupa tenaga kerja industri, maka perlunys penyediaan fasilitas pendidikan kejuruan (SMK) dan khusus (Balai Pendidikan dan Pelatihan Teknik).

• Perguruan tinggi yang memiliki relasi fungsional dengan techno-park di Perkotaan Bungakarang, direkomendasikan untuk dibangun berdekatan, tepatnya di batas blok perumahan sehingga lebih menunjang suasana akademik dan tidak terlalu terganggu kesibukan kota. Perguruan tinggi diutamakan berupa institut ataupun akademi teknik, yang berperan menggalang riset pengembangan teknologi untuk langsung diaplikasikan dalam kegiatan industri dalam kawasan. 4) Fasilitas Perdagangan

• Kota yang direncanakan, perlu dilengkapi pasar, supermarket, shopping centre, jasa perbankan, dan sejenisnya.

• Untuk kota Sungsang disediakan sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terkait dengan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI). Untuk perkotaan Bungakarang juga diperlukan sebuah PPI dan TPI berupa pasokan ikan air tawar.

• Warung atau pertokoan, diserahkan saja pada mekanisme pasar, yaitu siapa saja (warga) yang akan mendirikan warung/toko (ruko), dimanapun mereka tinggal tidak perlu larangan, selama memiliki ijin-ijin yang dipersyaratkan dan mematuhi peraturan yang berlaku. • Kawasan permukiman pendukung kawasan industri, diberi

kebebasan kepada pihak ketiga untuk mendirikan dan mengoperasikan fasiltas perdagangan disana, baik pasar tradisional maupun pasar modern, selama memenuhi aturan pemerintah. • Untuk keseluruhan kawasan juga disediakan kawasan pusat bisnis

(Central Business District/CBD) yang terletak di lokasi yang terdekat

pelabuhan Tanjung Api-api, yakni junction/simpul Kotabaru. Selain sebagai pusat kendali bisnis, titik ini juga diperuntukkan bagi sebuah

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-93

trade centre untuk promosi wilayah dan produk kawasan

perencanaan.

5) Fasiltas Olah Raga, Rekreasi dan Peribadatan

• Adanya fasilitas rekreasi yang berkaitan dengan air, dan tent

• Khusus areal hutan mangrove yang masih lebat di utara Sungsang diarahkan pemanfaatannya sebagai areal eco-wisata.

• Fasilitas rekreasi yang berkaitan dengan air, dan tentunya berada di tepi S. Telang tidak jauh dari kota/permukimannya.

• Alokasi sebuah taman sentral, zona hijau yang mengakomodasi sport

venue utama dan hutan raya kawasan, terletak pada sisi seberang

barat jalan poros (arteri primer dan rel KA), termasuk lapangan golf yang menjadi kebutuhan pelengkap kawasan industri. Sedangkan sebagian lagi dari zona ini diperuntukkan bagi hutan tanaman keras sebagai kompensasi atas polusi yang dihasilkan dari proses produksi

(carbon trade-off)

• Kota Sungsang, Kotabaru (rencana), dan Bungakarang di bagian selatan wilayah perencanaan, masing-masing perlu ada sebuah masjid yang representatif, yang sekaligus dapat dijadikan land-mark kota.

6) Jaringan Transportasi

Usaha untuk mencapai tujuan pengembangan sistem transportasi dilakukan melalui pengembangan sistem jaringan jalan raya, jalan rel dan angkutan sungai. Adanya potensi arus regional dengan berbagai jenis moda angkutan barang berukuran sedang sampai besar yang melalui wilayah perencanaan perlu dicermati lebih dini kaitannya dengan tingkat keselamatan pengguna jalan raya. Daya tarik ekonomi yang cukup kuat di jalur utama menuju ke kawasan pelabuhan Tanjung Api-api juga menyebabkan bangkitan parkir sebagai konsekuensi perkembangan tata guna lahan. Dampak dari hubungan antara tata guna tanah dengan

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-94

transportasi harus diwadahi agar tidak mengganggu kelancaran arus lalulintas di jalan raya

7) Rencana Sistem Jaringan Utilitas • Telematika

Di masa mendatang pengembangan jaringan kabel akan semakin berkurang, digantikan oleh menara-menara BTS untuk jaringan nirkabel. Oleh karena itu perlu regulasi khusus untuk penyediaan infrastruktur tersebut, agar perkembangan menara dapat dibatasi sehingga tidak memberikan dampak teknis maupun visual terhadap wilayah.

• Pengairan dan Drainase

Secara konseptual, ada dua alternatif penyelesaian untuk pemanfaatan daerah rendah, yaitu sistem timbunan (land filing) dan sistem polder.

• Air Bersih

Pelayanan air bersih dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pelayanan bagi penghuni kawasan dan bagi kegiatan kawasan industri. Khusus untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penghuni kawasan, maka unit pengelolaan air (WTP: water treatment plant) agar diperoleh kualitas air bersih yang memenuhi standar baku mutu air yang diperkenankan.

Arah pengembangan jaringan, meliputi kriteria pendukung perencanaan jaringan, arahan sistem distribusi, kebutuhan/kapasitas air bersih, dan pola pengembangan jaringan air bersih yang memungkinkan dikembangkan.

• Energi

Untuk pemenuhan kebutuhan bagi aktivitas kawasan industri sampai dengan akhir tahun perencanaan (tahun 2029), maka dapat diperhitungkan sebagai berikut:

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-95

- Kebutuhan listrik /ha : 0,15 MVA /ha

- Kapasitas pembangkit listrik /unit : 25 MW - Kebutuhan pembangkit listrik : 37 unit

Kebutuhan pembangkit listrik merupakan kewajiban pihak pengelola kawasan industri.

• Pengelolaan Lingkungan Air Limbah

- Sistem pembuangan mandiri (individual system), yang dikenal dalam bentuk septic tank dan sejenisnya.

- Sistem pembuangan bersama (communal system), yang dikenal dalam bentuk: WC Umum (MCK), saluran pembuangan (sewerage system), septic tank individual dengan peresapan ke sumur peresapan dan sejenisnya.

- Pembuangan limbah cair dari aktivitas industri dengan pengolahan limbah cair terpadu, limbah cair yang berasal dari industri diwajibkan untuk menyediakan sistem pengolahan air limbah sebelum dibuang ke sungai atau saluran yang berada di wilayah perencanaan. Industri yang berskala besar sebelum beroperasi harus menyertakan dokumen Amdal maupun UKL/UPL, agar tidak terjadi penurunan daya dukung lingkungan di Wilayah Perencanaan.

• Pengelolaan Lingkungan Persampahan

Konsep dasar pengelolaan sampah padat yang dihasilkan di kawasan perencanaan adalah dengan konsep 4R, yaitu

- Reduce, minimisasi sampah dari sumber; - Reuse, memanfaatkan kembali sampah;

- Recovery, melakukan upaya untuk perolehan kembali bahan-bahan yang berguna;

- Recycle, melakukan pemrosesan sehingga menghasilkan produk lainnya;

Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-96

Dalam kaitannya dengan pembuangan dan pengolahan sampah, terdapat beberapa metode penanganan, yaitu sanitary landfill,

incinerator (pembakaran), pengomposan dan metode daur ulang

Gambaran Umum dan Permasalahan Pengembangan KEK Tanjung Api-Api III-1

BAB III.

GAMBARAN UMUM