A. Struktur Ruang
2. Rencana Sistem Jaringan Wilayah Sumatera Selatan
a. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Transportasi (1) Rencana Jaringan Jalan
Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 552/2009 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Provinsi dan untuk rencana pengembangannya adalah :
(a) Jalan Arteri Primer
• Ruas Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan
Menggala - Kayu Agung - Indralaya - Palembang - Jambi
• Ruas Lintas Tengah Sumatera yang mengubungkan
Kotabumi-Baturaja-Muara Enim - Lahat - Lubuk Linggau - Sarolangun.
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-61
• Ruas Lintas Penghubung Indralaya - Muara Enim yang menghubungkan antara Lintas Timur Sumatera dengan Lintas Tengah Sumatera
• Ruas Lubuk Linggau - Curup - Bengkulu yang
menghubungkan antara Lintas Tengah Sumatera dengan Lintas Barat Sumatera.
• Ruas Simpang Betung-Sekayu - Lubuk Linggau
• Ruas Palembang - Tanjung Api-Api.
• Ruas Lahat - Pagar Alam - Kaur.
• Jaringan jalan tol/bebas hambatan yang menghubungkan Kotabumi - Baturaja - Muara Enim - Lahat - Lubuk Linggau - Sarolangun.
(b) Jalan Kolektor Primer
• Ruas Sekayu - Simpang Belimbing;
• Ruas Palembang - Rambutan - Kayu Agung;
• Ruas Palembang - Rambuan - Tulung Selapan;
• Ruas Prabumulih - Baturaja;
• Ruas Tanjung Raja - Lubuk Batang;
• Ruas Kayu Agung - Martapura;
• Ruas Martapura - Gumawang - Tugumulyo;
• Ruas Martapura - Muara Dua - Liwa;
• Ruas Baturaja - Simpang;
• Ruas Muara Dua - Batas Bengkulu;
• Ruas Tebing Tinggi - Kepahiang;
• Ruas Pagar Alam - Pendopo;
• Ruas Mangunjaya - Nibung;
• Ruas Tugumulyo - Cengal - Tanjung Api-Api;
• Ruas Pangkalan Balai - Rantau Bayur - Penukal - Simpang Belimbing;
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-62
• Ruas Palembang - Mariana - Muara padang - Air Sugihan;
• Ruas Pangkalan Balai - Rantau Bayur - Penukal - Simpang;
• Ruas Simpang Meranjat - Muara Kuang - Cempaka;
• Ruang Lubuk Linggau - Musi Rawas.
(c) Jalan Khusus
Pengembangunan jaringan jalan khusus merupakan jalan yang diperuntukkan untuk lalu lintas barang yang bersifat eksklusif dan tidak diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Pengembangan jalan khusus ini merupakan peruntukkan untuk pengangkutan batubara dari tempat penambangan ke pelabuhan/terminal khusus batubara.
Penetapan dimensi jalan di wilayah Provinsi Sumatera Selatan mengacu kepada Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan, Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, yaitu :
• Jalan arteri primer, ROW 40 meter,
• Jalan kolektor primer, ROW 40 meter,
• Jalan lokal primer, ROW 22 meter,
Sedangkan lebar badan jalan yang diarahkan mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan adalah sebagai berikut :
• Jalan arteri primer lebar minimum 11 m.
• Jalan kolektor primer lebar minimum 9 m.
• Jalan lokal primer lebar minimum 7,5 m.
• Jalan arteri sekunder lebar minimum 11 m.
• Jalan kolektor sekunder lebar minimum 9 m.
• Jalan lokal sekunder lebar minimum 7,5 m.
(2) Rencana Pengembangan Terminal
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-63
• Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas dan
• Kecamatan Martapura Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
(b) Penetapan terminal tipe A :
• Pembangunan terminal multimoda di Karya Jaya, dan Alang-Alang Lebar Kota Palembang;
• Pembangunan terminal tipe A di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin;
• Pembangunan terminal tipe A di Sungsang Kabupaten Banyuasin;
• Pembangunan terminal tipe A di Kota Lubuk Linggau; • Pembangunan terminal tipe A di Baturaja Kabupaten OKU; • Pembangunan terminal tipe A di Kota Muara Enim;
• Pembangunan terminal tipe A di Kota Pagaralam;
• Pembangunan terminal tipe A di Kayu Agung (Kabupaten OKI);
• Pembangunan terminal tipe A di Kota Lahat. (c) Penetapan terminal B :
Pengembangan terminal tipe B di Pangkalan Balai, Sekayu, Muararupit, Inderalaya, Martapura, Muara Dua, Lahat, Pagar Alam, Prabumulih, Tebung Tinggi, Tugumulyo Sungai Lilin dan Banyuasin (Terminal Multimoda Terusan Sebalik) .
Menurut standar Ditjen Perhubungan Darat mengenai standar luas terminal, luas lahan terminal Tipe A minimal adalah seluas 46.988 m2, Tipe B minimal kebutuhan lahan seluas 34.510 m2, dan Tipe C minimal kebutuhan lahan seluas 10.926 m2.
Pengembangan terminal multi moda Karya Jaya di Kota Palembang yang merupakan proyek yang mengintegrasikan beberapa moda transportasi yang terdiri dari : angkutan kereta api (antara Kota Palembang dengan Kota Lampung, Lubuk Linggau
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-64
dan Pelabuhan Laut Tanjung Api-api), angkutan air/bus air di Sungai Musi dan angkutan bus kota (dalam dan luar kota) yang juga dilengkapi dengan fasilitas pergudangan/kargo dan kompleks pertokoan.
Selain terminal Karya Jaya di Palembang, pengembangan terminal multi moda juga akan dikembangkan pada masing-masing PKW yang merupakan pengembangan dari terminal-terminal tipe A dan tipe B yang ada menjadi terminal pemadu moda guna mengikatkan efesiensi dan pelayanan terminal yang ada.
(3) Rencana Rel Kereta Api dan Stasiun
Jaringan rel kereta api di Provinsi Sumatera Selatan menghubungkan beberapa wilayah, yaitu : Palembang - Prabumulih - Muara Enim - Lahat - Lubuk Linggau dan Palembang - Prabumulih - Baturaja - Tanjung Karang (Provinsi Lampung).
Pengembangan Sarana stasiun penumpang kereta api disatukan dengan sarana sarana terminal angkutan darat yang membentuk terminal pemadu moda yang mengintegrasikan beberapa Moda Transportasi yang terdiri dari : Angkutan Kereta api dan angkutan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Disamping itu Terminal Multimoda juga akan dilengkapi dengan gudang kargo dan kompleks pertokoan.
Tabel 2.5
Rencana Pengembangan Jalur Kereta Api Baru di Provinsi Sumatera Selatan
No Jalur Status Tipe Rel Keterangan
Rencana Pengembangan KA Internal
1 Tanjung Enim-TAA Rencana rel double-track Rencana PTBA dan PT. KAI 2 Lubuk
Linggau-Simpang-TAA
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Pemprov. Sumsel bersama mitra investor
3 Muara Enim-Prabumulih Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Rencana PT. BA dan PT. KAI
4 Lahat-Patratani (Kab.OI)-TAA
Rencana rel double-track Rencana PT.Andan dan PT.KAI
Rencana Pengembangan KA Regional
1 Tanjung Enim-Pelabuhan Linau
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-65
No Jalur Status Tipe Rel Keterangan
2
Lubuk Linggau-Kota Padang-Kepahiang-Pelabuhan Pulau Balai
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Sumsel-Bengkulu (Curup)
3 Palembang-Betung-Batas Jambi
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Sumsel-Jambi
4 Tanjung Enim-Srengsem (Prov. Lampung)
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Jalur KA shortcut Sumsel-Lampung
5 Lahat-Muara Belida (Dermaga)
Rencana pembangunan rel ganda (double track)
Sumber : Revisi RTRW Provinsi Sumatera Selatan, Tahun 2011 – 2031.
Pengembangan jalur kereta api khusus Batubara, meliputi pengembangan jalur khusus angkutan barang yang meliputi : a. Jalur ganda antara stasiun Sukacinta/Merapi - Stasiun
Kertapati;
b. Jalur Tanjung Enim - Stasiun Pulau Balai (Kota Bengkulu) yang merupakan lintas Sumatera Selatan - Bengkulu meliputi jaringan antara Tanjung Enim - Kota Padang;
c. Muara Enim - Tanjung Api-api (Kabupaten Banyuasin); d. Jalur lintas (short cut) antara Tanjung Enim - Baturaja;
e. Bangko Tengah (Kabupaten Muara Enim) - Srengsem (Lampung).
Dalam rencana pengembangan prasarana perkeretaapian di Sumatera Selatan, selain pengembangan jalur/track dan stasiun juga meliputi pengembangan prasarana sinyal kereta (railroad signal) dari sistem mekanik ke sistem elektrik dengan jaringan Fiber Optics/FO pada rute-rute antara :
a. Stasiun Kertapati - Prabumulih. b. Prabumulih - Lahat.
c. Lahat - Lubuk Linggau.
d. Muara Enim - Tanjung Enim Baru. e. Prabumulih - Martapura.
Selain itu pengembangan jalur kereta api dalam kerangka perkeretaapian nasional meliputi rehabilitasi jalur kerta api antara
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-66
stasiun Tarahan (Lampung) - Way Tuba (Lampung) - Lahat - Lubuk Linggau dan menghidupkan lintas yang sudah mati serta peningkatan spoor emplasemen lintas Muara Enim - Lahat, Martapura - Prabumulih dan Tarahan - Way Tuba (Lampung).
(4) Rencana Pengembangan Pelabuhan
Pelayanan angkutan laut di Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari angkutan barang dan penumpang yang dilayani oleh Pelabuhan Boom Baru dan Pelabuhan Sei Lais.
Rencana pengembangan sektor pelabuhan di Provinsi Sumatera Selatan dimasa yang akan datang pelabuhan yang ada di Palembang akan digantikan dengan Pelabuhan Tanjung Api-api di Kabupaten Banyuasin yang pada saat ini sedang dalam tahap pembangunan dengan luas 13.000 ha.
Pelabuhan tanjung Api-api ini akan melayani rute pelayaran regional, nasional dan internasional, dari kajian studi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut oleh Louis Berger Internasional Inc. 1995, Pelabuhan Tanjung Api-api mampu melayani tonase kapal dengan carrying capacity 3.000 TFEUS (Twenty Feet Equivalent
Unit).
Selain mampu meningkatkan kapasitas angkutan untuk jenis kapal-kapal bertonase besar, Pelabuhan Laut Tanjung Api-api itu sangat memungkinkan memperpendek alur jarak tempuh bagi armada laut. Bahkan sumber data yang ada memperlihatkan tujuan Tanjung Api-api ke Jakarta berjarak 266,67 mil/480 km. Tujuan Tanjung Api-Api ke Singapura hanya berjarak 250 mil/450 km, sedangkan ke Kuala Lumpur berjarak 402,78 mil/725 km. Dalam Peta Rencana Lokasi Pelabuhan laut Tanjung Api-api telah disiapkan beberapa pembangunan. Antara lain pelabuhan/terminal general kargo mencapai 80 Ha, pelabuhan laut sekitar 91 Ha, pelabuhan penyeberangan sekitar 21 Ha, 1
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-67
stock pile batubara sekitar 80 Ha, pelabuhan peti kemas seluas 80
Ha, pelabuhan/terminal curah cair (CPOIBBM/Migas/Pupuk/semen) di atas lahan sekitar 85 Ha.
Selain itu di Provinsi Sumatera Selatan terdapat pelabuhan/terminal khusus untuk angkutan batubara dan sumberdaya mineral lainnya (minyak) yang dimiliki dan dikelola oleh swasta. Pelabuhan khusus tersebut tersebar di 5 (lima) kabupaten/kota, yaitu di Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin serta terminal khusus batubara di Kabupaten Muara Enim dan Musi Rawas. Tatanan kepelabuhanan di Sumatera Selatan ini selain bertujuan mendukung pengembangan transportasi laut juga sebagai dukungan atas operasionalisasi TNI AL guna pertahanan dan keamanan nasional.
(5) Rencana Pengembangan Transportasi Udara
(a) Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, penambahan rute penerbangan dalam negeri terutama rute penerbangan antar provinsi di Pulau Sumatera (prioritas Kawasan BELAJASUMBA) dan rute penerbangan ke Pulau Jawa. Selain itu juga diperlukan perluasan area dan penambahan runway sehingga minimal bisa didarati oleh pesawat besar sekelas Airbus 330. (b) Bandara Silampari, peningkatan pelayanan melalui
pengembangan sarana dan prasarana bandara berupa perpanjangan runway dan fasilitas penunjang lainnya.
(c) Bandara Atung Bungsu, percepatan pembangunan bandara sebagai upaya untuk mengatasi hambatan aksesibilitas Kota Pagar Alam dengan ibukota provinsi dan wilayah lain.
(6) Rencana Pengembangan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP)
Rencana pengembangan angkutan sungai ini terutama pada : • Dermaga 35 Ilir.
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-68
• Dermaga Boom Baru. • Dermaga Sungai Lumpur. • Dermaga Keramasan. • Dermaga Kenten. • Dermaga Parit VIII. • Dermaga Muara Padang. • Dermaga Sungai Lais. • Dermaga Lematang. • Dermaga Tulung Selapan.
b. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Energi
Beberapa prasarana sumber energi yang akan dikembangkan di Provinsi Sumatera Selatan diantaranya meliputi :
• Pengembangan Jalur Transmisi Gas (Jaringan Transmisi PGN) • Peningkatan kapasitas produksi pada power plant
• Rencana pengembangan pembangkita listrik (PLTU, PLTGU, PLTA) • Rencana Pengembangan Jaringan Transmisi Interkoneksi
Sumatera-Jawa Dan Sumatera Lintas Timur
c. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Sumberdaya Air
Pengembangan prasarana sumberdaya air khususnya untuk pertanian merupakan dukungan atas program Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLPPB).
Pengembangan sistem prasarana sumberdaya air diarahkan untuk : • Meningkatkan ketersediaan air baku yang dapat dimanfaatkan
oleh berbagai sektor untuk seluruh wilayah melalui pembangunan waduk-waduk pada kawasan yang secara hidrologis, geologis dan topografis memungkinkan.
• Pembangunan waduk-waduk diarahkan untuk fungsi konservasi ekosistem, pengendalian banjir serta untuk menyuplai ke kawasan-kawasan strategis terdekat seperti daerah kawasan
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-69
industri, kawasan budidaya pertanian unggulan, kawasan pertambangan dan kota-kota pusat kegiatan.
• Pengamanan daerah dataran tengah yang juga merupakan daerah potensial air bawah tanah serta daerah aliran sungai utama melalui langkah-langkah pelestarian kawasan, pengamanan kawasan penyangga, pelestarian dan pengamanan sumberdaya air, pencegahan erosi dan pencegahan pencemaran air.
d. Rencana Pengembangan Prasarana Telekomunikasi
Pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan untuk melayani kebutuhan jasa telekomunikasi berupa telepon (kabel maupun non kabel), internet, telegram dan lainnya di wilayah perkotaan dan kawasan yang secara ekonomi akan tumbuh dan berkembang. Pengembangan jaringan telepon non selular direncanakan menjangkau sampai seluruh pusat kota kecamatan, maupun pengembangan kegiatan industri dan pengembangan permukiman baru. Untuk wilayah yang sulit dijangkau dengan menggunakan sistem kabel diarahkan pengembangan sistem wireless.
Pengembangan prasarana telekomunikasi di wilayah Provinsi Sumatera Selatan ditujukan untuk dapat melayani minimal 80% kebutuhan satuan sambungan telepon di kawasan perkotaan serta 30% penduduk di wilayah perdesaan.
e. Rencana Pengembangan Sarana Sosial Ekonomi
i. Rencana Pengembangan Sarana Perdagangan
Rencana pengembangan sarana perdagangan di Provinsi Sumatera Selatan diprioritaskan pada pembangunan pasar pada kecamatan-kecamatan yang belum memiliki pasar, dimana lokasi penempatan pasar tersebut disesuaikan dengan SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan.
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-70
Terlayaninya kebutuhan kesehatan masyarakat baik dari sisi jumlah maupun persebarannya, terutama berorientasi pada penyesuaian dengan pola konsentrasi pemukiman penduduk. Pemenuhan kebutuhan sarana kesehatan tersebut perlu juga didukung oleh penyediaan akses yang baik berdasarkan jangkauan pelayanan sarana kesehatan yang bersangkutan.
iii. Rencana Pengembangan Sarana Pengelolaan Lingkungan (a) Persampahan
Konsep penanganan masalah persampahan di Sumatera Selatan dimulai dari paradigma “mengurangi produksi
sampah” melalui pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
mulai dari rumah tangga sebagai penyumbang sampah terbesar sampai ke sampah industri.
Alternatif pengolahan sampah TPA open dumping dan sanitary
landfill.
(b) Pengolahan Limbah Rumah Tangga dan Lingkungan Permukiman
Sistem pengelolaan limbah rumah tangga dan permukiman diarahkan pengembangannya pada sistem pengelolaan limbah terpadu dengan dibangunnya sarana IPAL (instalasi pengelolaan air limbah) dan IPLT (instalasi pengolahan limbah tinja) pada tiap kelompok-kelompok permukiman di seluruh kawasan permukiman.
(c) Limbah Industri dan Pertambangan
Tujuan dari pengelolaan limbah industri dan pertambangan, terutama yang termasuk dalam kategori limbah B3 adalah untuk Mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga kembali ke fungsi awalnya. Pengelolaan
Kebijakan Terkait Pengembangan KEK Tanjung Api-Api II-71
limbah B3 sesuai dengan PP 19/1994 dan disempurnakan dengan PP 12/1995. Kemudian diganti dengan PP 18/1999 yang selanjutnya disempurnakan dengan PP 85/1999. Menurut PP 18/99 jo PP 85/99, pengertian limbah B3 : “setiap
limbah yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan/atau mencemarkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan kesehatan manusia”.
(d) Pengelolaan Sistem Drainase
Terintegrasi dalam kerangka pengendalian banjir skala provinsi diharapkan mampu mengendalikan banjir terutama pada kawasan-kawasan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (kawasan perdagangan, pusat kota, kawasan industri) serta kawasan permukiman penduduk.