BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1Metode Penelitian
HASIL PENELITIAN
1. Gambaran pertambangan pasir di Kecamatan Tirtayasa
Pertambangan pasir laut di Kecamatan Tirtayasa adalah salahsatu bentuk kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan swasta, dimana pada saat ini ada 5 perusahaan pertambangan pasir laut yang berada di Kecamatan Tirtayasa yang sudah mendapatkan izin oprasi produksi dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, selain pertambanganpasir laut, ada juga pertambangan pasir pesisir pantai yang dikelola oleh masyarakat sekitar yang meiliki tanah tersebut. Namun, sampai saat ini pertambangan tersebut tidak memiliki izin dari pemerintah Daerah untuk beroprasi. Seriring dengan berjalannya pengoprasian pertambangan pasir laut di Kecamatan Tirtayasa, masyarakat Kecamatan Tirtayasa berunjukrasa kepada pemerintah daerah Kabupaten Serang menolak keberadaan pertambangan pasir di wilayah Kecamatan Tirtayasa. Namun, keinginan masyarakat tersebut tidak di respon oleh Pemerintah Daerah yang dirasa oleh masyarakat tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Minimnya bantuan dari Pemerintah Daerah dan perusahaan menjadi salahsatu keluhan masyarakat maupun aparatur Desa. Terlebih lagi, dana CSR yang di berikan oleh perusahaan pertambangan kepada masyarakat tidak secara merata masih banyak masyarakat yang tidak mendapatkan dana CSR tersebut dan nominalnya pun mereka anggap tidak sesuai dengan dampak yang diteria oleh masyarakat.
Selain itu juga, Kecamatan Tirtayasa yang mendominasi jumlah Rumah Tangga Sasaran/Penduduk Miskin adalah masyarakat yang berada di Desa-Desa yang berbatasan langsung dengan garis pantai diantaranya Desa Lontar. Desa Wargasara, Desa Tengkurak dan desa Kemanisan, yang mana sebagian besar penduduknya bermata penceharian sebagai nelayan dan petani rumput laut. Bukan hanya itu saja potensi yang dikembangkan di pesisir pantai Kecamatan Tirtayasa yaitu tempat wisata pesisir pantai dan tempat pelelangan ikan yang dirasa akan menambah penghasilan bagi masyarakat pesisir pantai Kecamatan Tirtayasa.
Namun, sudah hampir satu tahun pertambangan pasir di Kecamatan Tirtayasa sudah tidak beroprasi lagi karena alasan belum ada keputusan yang bersifat final dari pemerintah DKI Jakarta untuk proyek reklamasi di wilayah Utara DKI Jakarta.
2. Harapan (expektation)
Dalam indikator harapan (expectation) terdapat dua indikator yaitu tujuan dan sasaran dari Peran Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten dalam pemberian rekomendasi perizinan pertambangan mineral dan batubara (Studi kasus pemberian rekomendasi perizinan pertambangan pasir laut di Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang) terhadap fenomena pertambangan pasir laut.
Hasli di keluakanya Undang-Undang No 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahaan Daerah yang mana didalamnya berisikan bahwa urusahan tentang pengelolaan pertambangan di kuasai oleh Pemerintah Pusat dan
Daerah, ini menunjukan bahwa pemerintah Kabupaten/Kota tidak lagi diberi kewenangan dalam mengurus pertambangan di wilayahnya.
Tujuan dari diberikanya rekomendasi perizinan atau diberikannya izin pertambangan oleh Pemerintah itu sudah tercantum dalam sistem rumusan, arah kebijakan dan tujuan dari Dinas masing-masing yang terkait. Terlebih lagi, semuanya mempunyai mempunyai tujuan yang sama yaitu memajukan daerahnya dan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Selain itu juga, surat izin pertambangan dinilai sangat penting oleh perusahaan karena dengan itu legalitas perusahaan pertambangan dinilai semakin kuat. Namun semua itu tidak mudah didapatkan, perusahaan pemohon harus melewati beberapa tahapan dan melalui beberapa kajian dari Dinas Pertambangan dan Energi tujuannya supaya tidak ada pihak yang di rugikan.
Tujuan dari pemerintah dinilai sangat menguntungkan bagi kemajuan daerahnya itu sendiri. Pemerintah berusaha menggali potensi yang ada di Daerahnya tujuannya supaya membantu meningkatkan Pendapatan Daerah nya dan juga meningkatkan penghasilan dan menyerap tenaga kerja dari masyarakat.
Akan tetepi masyarakat menilai tujuan dari diberikannya perizinan pertambangan di wilayahnya di rasa tidak tepat sasaran, tidak sesuai dengan apa yang di inginkan oleh masyarakat. Karena fakta dilapangan hanya dapat menguntungkan beberapa pihak saja, namun hasilnya malah merusak kondisi alam sekitar, merusak ekosistem laut dan menghilangkan mata penceharian masyarakat.
3. Norma (Norma)
Norma merupakan salahsatu bentuk harapan, yakni harapan yang bersifat meramalkan(anticifatory) yaitu harapan tentang sesuatu perilaku yang akan terjadi dan harapan normatif yang artinya adalah keharusan menyertai peran. Kemudian Biddle & Thomas membagi lagi harapan normatif ini kedalam dua jensi, yakni:
a. Harapan yang terselubung (Cover) b. Harapan yang terbuka
Dengan demikian Peran Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten dalam pemberian rekomendasi perizinan pertambangan mineral dan batubara (Studi kasus pemberian rekomendasi perizinan pertambangan pasir laut di Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang) akan selalu berkaitan dengan peraturan, baik peraturan perundang-undangan maupun peraturan Pemerintah Daerah. Selain berkaitan dengan peraturan dalam menjalankan peranannya, DISTAMBEN akan berkaitan langsung dengan sosialisasi kepada masyarakat. Berikut ini adalah hasil penelitian indikator mengenai norma (norm).
Peraturan yang mendasari kewenangan pertambangan yang di kelola oleh pemerintahan Daerah dan Pemerintah Pusat adalah UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahaan Daerah, ini menjadikan pemerintah Kabupaten/Kota tidak lagi diberi kewenangan untuk mengtur segala urusan mengena pertambangan. Sejauh ini peraturan Undang-Undang Yang mengatur tantang Pertambanga adalah Undang-Undang No 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, sedangkan untunk peraturan yang mengatur tentang tatacara permintaan rekomendasi perizinan pertambangan tertuang dalam PP No 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Untuk mengatur urusan tentang wilayah pertambangan tertuang dalam PP No 22 tahun 2010 Tentang Wilayah pertambangan. Selain yang undang-undang yang mengatur tentang pertambangan, juga ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang lingkungan yaitu Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1997 (UUPLH) Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Dampak Lingkungan. Karena pertambangan tidak terlepa dari dampak kerusakan yang dihasilkan terhadap lingkungan, krena dengan peraturan tersebut dinilai dapat meminimalisir dampak lingkungan yang di timbulkan. Akan tetapi, sampai saat ini setaelah berlakunya UU No 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahaan Daerah, Provinsi Banten belum mempunyai Perda yang mengatur tentang pertambangan dan Perda yang mengatur tentang lingkungan Hidup.
Selain peraturan ada juga sosialisasi yang terdapat dalam indikator Norma (Norma). Sosialisasi dirasa sangatlah penting di berikan oleh pemerintah maupun Dinas Terkait kepada Masyarakat. Karena kebanyakan orang di Indonesia tidak mengerti tentang informasi yang disampaikan melalui Televisi maupun Berita Acara ( Koran). Sosialisasi menjadi alternatif yang sering dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten dan Pemerinah Daerah sebagai sarana untuk
menyampaikan informasi kepada masyarakat. Selain kepada masyarakat sosialaisasi juga di berikan kepada perusahaan, perusahaan tersbut di berikan arahan dan pelatihan sesuai dengan bidang yang gelutinya tujuannya adal agar terciptanya kesepahaman antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Namun, yang manjadi masalah adalah masyarakat tidak merasakan hal tersebut. Masyarakat menilai sosialisai yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dirasa sangat minim. Dengan kata lain sosoialisasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun Dinas terkait dalam Pertambangan dinilai sangat lemah.