IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
4.1.1. Keadaan Geografis
Nama Desa Bukit Suban diambil dari nama sebuah Bukit Dua Belas yang berdekatan dengan Bukit Pal yang konon diceritakan oleh orang-orang rimba, dihuni oleh burung-burung yang diberi nama Suban. Pemukiman penduduk desa pertama kali adalah para SAD dan Kemudian diadakan program pemerintah Transmigrasi dari Pulau Jawa (Sunda, Jawa Timur, dan Jawa Tengah) sekitar tahun 1984, tepatnya di KUPT. Maksud kedatangan penduduk ke desa ini pertama kali adalah sebagai peserta transmigrasi yang dikirim oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan hasil perkapita yang saat orde baru atau kita kenal dengan Repelita Pembangunan. Desa Bukit Suban terletak di ujung sebelah Utara Kabupaten Sarolangun yang berbatasan dengan Kabupaten Merangin, secara geografis desa ini berada pada Ulu Sungai Air Hitam dan secara administratif Desa Bukit Suban berada di Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Desa ini memiliki luas wilayah 15.00 ha yang berbatasan langsung dengan:
a) Sebelah Utara : Taman Nasional Bukit Dua Belas b) Sebelah Selatan : Desa Papit
c) Sebelah Barat : Desa Bunga Antoi d) Sebelah Timur : Desa Pematang Kabau
Berikut ini adalah peta daerah penelitian yang dapat dilihat pada gambar 3
Gambar 3. Peta Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di desa bukit suban dan melibatkan SAD yang berada di desa Bukit Suban lokasi yang diantaranya adalah Sako Selingsing, Bendungan, Punti Kayu 2 dan Siliwang, akses yang di gunakan untuk masuk kedalam lokasi tersebut bisa menggunakan kendaraan bermotor tetapi jika tempat jika ada tempat atau lokasi yang sulit d tempu dengan motor maka mengharuskan berjalan kaki.
4.1.2. Gambaran Umum Kehidupan SAD
Suku Anak Dalam mempunyai tiga jenis rumah yaitu, rumah godong, rumah ditanoh dan sudung untuk saat ini di daerah penelitian masih terdapat beberapa sudung yang menggunakan plastik atau perlak warna hitam untuk dijadikan atap rumahnya dalam beraktivitas seperti memasak, berkumpul dengan keluarga tergabung dalam rumah ini. Dikarenakan hal ini pemerintah setempat juga memberikan program bantuan yaitu pembuatan rumah bagi komunitas SAD dan
mensyaratkan adanya identitas kependudukan.
Disamping bangunan tempat tinggal, dalam satu lingkungan keluarga besar terdapat pondok tanpa atap sebagai tempat duduk-duduk dan menerima tamu. Kini terdapat tiga kategori kelompok pemukiman SAD Petama SAD bermukim didalam hutan dan hidup berpindah-pindah. Kedua kelompok yang hidup didalam hutan dan menetap. Ketiga adalah kelompok yang pemukimnya bergandengan dengan pemukiman orang luar cara berpakaiannya pun kini bervariasi, yaitu: (1) bagi yang tinggal di hutan dan berpindah-pindah pakaiannya sederhana sekali, yaitu cukup menutupi bagian tertentu saja. (2) yang tinggal di hutan tetap menetap, di samping berpakaian sesuai dengan tradisinya, juga terkadang menggunakan pakaian seperti masyarakat umum seperti baju, sarung atau celana, (3) yang tinggal berdekatan dengan pemukiman masyarakat luar atau desa, berpakaian seperti masyarakat desa lainnya. Di Desa Bukit Suban pada beberapa komunitas yang dilakukan ini mampu membuat mereka meninggalkan daerah asalnya, dan bergabung dengan desa.
Untuk cara berpakaian SAD masih ada yang menggunakan cawat bagi laki-laki sedangkan untuk kaum perempuan menggunakan kemben. Kemben merupakan kain sarung biasa yang digunakan untuk menutupi tubuh dari atas sampai mata kaki dan sampai di atas dada bagi perempuan yang belum menikah ataupun yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. Sedangkan perempuan yang mempunyai anak, kemben yang mereka gunakan dipakai dari atas mata kaki sampai dengan pinggang. Sedangkan Cawat merupakan pakaian yang digunakan oleh kaun laki-laki untuk menutupi daerah kemaluannya saja, cawat terbuat dari kain dan dililitkan menjadi cawat, tetapi di daerah penelitian pakaian ini sudah
sangat jarang di gunakan, dengan berkembangnya zaman serta adanya interaksi Suku Anak Dalam dengan masyarakat luar sebagian besar telah memiliki dan menggunakan pakaian layaknya seperti masyarakat luar.
Suku Anak Dalam berladang di hutan dengan menanam singkong, ubi jalar, dan cabe untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain berladang Suku Anak Dalam juga berburu untuk memperoleh makanan berupa hewan buruan, Namun saat ini SAD di desa Bukit Suban sudah banyak mempunyai kebun karet dan kelapa sawit, sehingga makanan pokok sehari-harinya sama dengan masyarakat luar.
4.1.3. Struktur Organisasi-Organisasi Kantor Desa Bukit Suban
Uraian tugas dan fungsi masing-masing satuan organisasi Desa Bukit Suban Gambar diatas merupakan sturktur organisasi pemerintahan di Desa Bukit Suban pada November 2021, struktur organisasi merupakan tingkatan pembagian tugas, fungsi, dan peran anggota organisasi berdasarkan jabatannya. Biasanya pembuatan struktur ini berguna untuk membuat proses kerja agar menjadi lebih mudah, berjalan efektif, efisien, serta optimal. Kecamatan Air Hitam adalah sebagai berikut :
A. Kepala Desa
Gambar 4. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun
Kepala Desa berkedudukan sebagai Kepala Pemerintahan Desa yang memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Kepala Desa memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut : menyelenggarakan Pemerintahan Desa, seperti tata praja Pemerintahan, penetapan peraturan di desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, melakukan upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah;
melaksanakan pembangunan, seperti pembangunan sarana prasarana perdesaan, dan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan; pembinaan kemasyarakatan, seperti pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, sosial budaya masyarakat, keagamaan, dan ketenagakerjaan; pemberdayaan masyarakat, seperti tugas sosialisasi dan motivasi masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna; Menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan lembaga lainnya.
B. Perangkat Desa
Sekretariat desa dipimpin oleh Sekretaris Desa dan dibantu oleh unsur staf sekretariat yang meliputi urusan tata usaha dan umum, urusan keuangan, dan urusan perencanaan. Masing-masing urusan tersebut dipimpin oleh Kepala Urusan (Kaur). Sekretaris Desa berkedudukan sebagai unsur pimpinan Sekretariat Desa sekretaris Desa bertugas membantu Kepala Desa dalam bidang administrasi pemerintahan. Sekretaris Desa mempunyai fungsi: melaksanakan urusan
ketatausahaan seperti tata naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi. Melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat desa, penyediaan prasarana perangkat desa dan kantor, penyiapan rapat, peng administrasi an aset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum.
Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, dan administrasi penghasilan Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan desa lainnya.
4.1.4 Keadaan Penduduk
Desa Bukit Suban merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku, mulanya desa ini dihuni oleh para Suku Anak Dalam dan pendatang dari Pulau Jawa sekitar tahun 1984/1985, Maksud kedatangan penduduk ke desa ini pertama kali adalah sebagai peserta Transmigrasi yang diadakan dari Dinas Nakertran. Pada saat menetap pemerintah mengharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga akan beras, dan bahan pangan lainnya. Kemudian masyarakat mulai mengolah lahan untuk tanaman pangan (padi) dan selanjutnya menanam kelapa sawit, karet, yang ternyata hasilnya cukup baik dan berkembang sampai saat sekarang.
Kehidupan masyarakat Desa Bukit Suban yang didukung oleh sumberdaya tanah darat dan tanah gambut mengakibatkan terdapat 2 kelompok besar sumber mata pencaharian utama masyarakat desa yaitu perkebunan Kelapa Sawit dan perkebunan Karet. Sedangkan SAD di Desa Bukit Suban atau yang biasa disebut dengan Orang Rimba merupakan salah satu suku minoritas yang tersebar di Pulau Sumatra, mereka memiliki pola hidup yang bergantung dengan sumber daya hutan. Mereka hidup dengan cara berburu, mengumpul, dan meramu, walaupun di
antara mereka yang telah menetap di Desa Bukit Suban sudah banyak yang telah memiliki lahan karet, sawit ataupun pertanian lainnya.
4.2. Identitas Informan