KECAMATAN AIR HITAM
SKRIPSI
DIAN FITRIA ANGGRAINI
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI 2022
KECAMATAN AIR HITAM
DIAN FITRIA ANGGRAINI D1B018107
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Jurusan Agribisnis Pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI 2022
Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam. Dibimbing oleh bapak Dr. Fuad Muchlis S.P., M.Si. dan bapak Ir. Elwamendri, M.Si.
Penelitian ini bertujuan untuk; (1) Mengetahui pelayanan administrasi kependudukan terhadap komunitas Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam. (2) Menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambat Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam dalam memperoleh Identitas Kependudukan. (3) Menganalisis kualitas pelayanan administrasi kependudukan terhadap komunitas Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bukit Suban dengan jumlah informan sebanyak 10 orang baik dari pihak desa, camat, beberapa tokoh dan masyarakat SAD. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data interaktif menggunakan konsep pelayanan administrasi kependudukan dan konsep penghidupan masyarakat SAD. Hasil penelitian ini menunjukan (1) Aparat Desa Bukit Suban telah melakukan pelayanan administrasi secara prima, dengan perlakuan secara khusus yang ditujukan kepada SAD, serta penyediaan sarana dan prasarana secara lengkap mempermudah masyarakat SAD dalam memiliki identitas kependudukan. (2) Faktor pendukung masyarakat SAD untuk melakukan perekaman identitas penduduk adalah: tersedianya fasilitas, kebutuhan di bidang ekonomi, dan lingkungan. Faktor penghambat masyarakat SAD dalam mendapatkan identitas kependudukan adalah: kurangnya pendidikan atau pengetahuan tentang pentingnya KK dan KTP, akses yang tidak memadai serta budaya yang masih sangat kental. (3) Aparat Desa Bukit Suban telah melakukan pelayanan administrasi secara prima, pelayanan dari segi bukti fisik (tangible) yang telah mendatangkan DUKCAPIL Sarolangun. Kehandalan (reliability), masyarakat SAD merasa puas dengan pelayanan pemerintah desa.
Daya tanggap (responsiveness) pegawai membantu masyarakat SAD yang membutuhkan pelayanan. Jaminan (Assurance) memberikan rasa aman bagi masyarakat SAD untuk melakukan perekaman dan pengisian data. Dan empati (empathy), yaitu dengan memberikan kesan yang peduli terhadap masyarakat SAD.
Kata Kunci : Masyarakat SAD, Pelayanan Administrasi Kependudukan.
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Dian Fitria Anggraini NIM : D1B018107
Jurusan : Agribisnis
Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini belum pernah diajukan dan tidak dalam proses pengajuan dimanapun atau oleh siapapun juga.
2. Semua sumber kepustakaan dan bantuan dari pihak yang diterima selama penelitian dan penyusunan skripsi ini telah dicantumkan atau dinyatakan pada bagian yang relevan dan skripsi ini bebas dari plagiarisme.
3. Apabila kemudian hari terbukti bahwa skripsi ini telah diajukan atau dalam proses pengajuan oleh pihak lain dan terhadap plagiarisme di dalam skripsi ini maka penulis bersedia menerima sanksi dengan Pasal 12 Ayat (1) Butir (g) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pengulangan plagiat di perguruan tinggi yakni pembatalan ijazah.
Jambi, 20 Desember 2022 Yang membuat pernyataan
Dian Fitria Anggraini D1B018107
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 26 Juni 2000 dengan nama Dian Fitria Anggraini. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Nasir dan Ibu Asmawati. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Al- Fallah pada tahun 2012, dilanjutkan dengan menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Islam Assyafi pada tahun 2015.
Melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Daar El Qolam 2 dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis diterima di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi melalui jalur Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN).
Penulis mengikuti program Matching Fund yang di rekognisi menjadi mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semester ganjil tahun 2021/2022 di Desa Bukit Suban dan Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Penulis melaksanakan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam” dibawah bimbingan Dr. Fuad Muchlis, S.P, M.Si. dan Ir. Elwamendri, M.Si. Pada Hari Jumat, Tanggal 16 Desember 2022 penulis melaksanakan ujian skripsi dan dinyatakan lulus dengan menyandang gelar Sarjana Pertanian (S.P).
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa karena atas rahmat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana (S1) pada Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Kedua orang tua tercinta Bapak Nasir dan Ibu Asmawati atas semua bentuk dukungan, kerja keras, curahan kasih sayang, nasehat serta doa yang selalu diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi. Adik tercinta, serta keluarga besar H. Nawawi dan M. taher yang selalu menghibur, memberi dukungan doa dan semangat kepada penulis selama pendidikan di Perguruan Tinggi.
2. Dosen pembimbing Skripsi Bapak Dr. Fuad Muchlis, S.P, M.Si. Selaku Dosen Pembimbing I dan bapak Ir. Elwamendri, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang selalu sabar membimbing, meluangkan waktu, memberikan semangat, motivasi dan nasehat kepada penulis dari awal proses penentuan judul hingga selesainya penelitian skripsi.
3. Ibu Dosen Penguji, ibu Dr. Rosyani, M.Si. selaku penguji utama, Ibu Fendria Sativa, S.P., M.Si. selaku Dosen Penguji Anggota I dan Ibu Siti Kurniasih, S.P., M.Si. selaku Dosen Penguji anggota II yang telah memberikan arahan, kritik dan saran perbaikan kepada penulis untuk penyempurnaan skripsi.
4. Dekan Fakultas Pertanian Bapak Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si. IPU., Ibu Dr.
Mirawati Yanita, S.P., M.M., CIQaR., CIQnR selaku ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, Bapak Ir. Jamaludin, M.Si. selaku sekretaris Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, Ibu Ir. Yusma Damayanti, M.Si.
selaku Ketua Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian serta Kak Zuria Lupita, S.Pd. M.Pd. dan Bapak Surip yang telah membantu dan memperlancar urusan yang berkaitan dengan administrasi dan informasi akademik.
5. Dosen pembimbing akademik bapak Dr. Fuad Muchlis, S.P., M.Si. yang telah membimbing, memotivasi, dan memberikan nasehat serta arahan
6. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat sehingga menjadi dasar dalam penulisan skripsi ini dan para pegawai beserta staf Bagian Akademik Fakultas Pertanian yang telah banyak membantu penulis.
7. Bapak Heri Sopyan, saudara Bejujung dan Besiar yang telah rela meluangkan waktunya dengan kondisi hujan dan panas mengantarkan penulis penelitian dan menemui informan serta memberikan semua informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
8. Sahabat - sahabat terbaik Eza Almika Sari, S.P., Olivia Nada Cantika, S.P., Anatia Pubawarni, S.P., Syara Nayla Ulayya, S.P., dan Oktania Islami Putri, S.P. yang telah menjadi teman seperjuangan dari awal kuliah dan selalu saling memberikan motivasi, semangat dan doa. Terimakasih telah mendengarkan banyak keluh kesah, menghibur dan memberikan banyak bantuan.
9. Sahabat – sahabat pejuang skripsi Agus Haryono Simbolon, S.P., Rezky Hijrah, S.P., David Mardi Syahputra Silaen, S.P., Rahma Suzeta, S.P., Euis Neni Rohayati, S.P., Reyhan Maulana, S.P., Rindi Febrianita, S.P., Saleh Umar Sodik, S.P., Desri Miniscere Saragih, S.P., Novri Purba Silangit, S.P., yang telah membantu memberikan informasi dan bantuan – bantuan yang sangat berarti dalam proses penulisan skripsi dari mulai seminar proposal sampai sidang skripsi.
10. Sahabat terkasih Euis Fitriani, Ida Syahidah, dan Sausan Afifah. yang selalu mendengarkan curhatan, menghibur, memberikan bantuan, perhatian, menemani kegabutan dan selalu siap direpotkan. Terimakasih atas segala sesuatu yang diberikan kepada penulis.
11. Teman - teman seperjuangan kelas G agribisnis yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu yang telah menjadi teman berdiskusi, mewarnai perkuliahan, memberi bantuan, semangat dan berjuang bersama selama perjalanan studi dari awal masuk kampus hingga akhir studi menuju Sarjana Pertanian (S.P).
membantu, memberikan arahan, solusi, dukungan, semangat, doa dan partisipasi kepada penulis dari mulai seminar proposal, seminar hasil dan sidang skripsi.
13. Teman – Teman Matching Fund yang telah menemani dan memberikan motivasi penulis dalam proses penulisan skripsi.
14. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dan mempermudah penulis menyelesaikan tugas akhir. Semoga kebaikan kalian semua dibalas oleh Allah SWT.
15. Last but not least, I wanna thank me, I wanna thank me for believing in me, I wanna thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for having no days off, I wanna thank me for never quitting, I wanna thank me for always being a giver, And tryna give more than I receive, I wanna thank me for tryna do more right than wrong, I wanna thank me for just being me at all times.
QUOTES
“Allah promised you not one but twice, for indeed, with hardship (will be) ease indeed, with hardship (will be) ease”
-As Sharah 4,5
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr.
Fuad Muchlis S.P.,M.Si. Selaku dosen Pembimbing Akademik serta Dosen Pembimbing 1 dan bapak Ir. Elwamendri, M.Si. Selaku Dosen Pembimbing 2 yang telah memberikan banyak bimbingan, saran dan pengarahan kepada penulis dalam pembuatan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua beserta keluarga dan sahabat-sahabat atas doa dan dukungan nya yang telah bersedia membantu menyumbangkan pemikirannya dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih perlu penyempurnaan. Untuk kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat di harapkan demi penyempurnaan skripsi ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi kita semua. Atas perhatian membaca, penulis ucapkan terimakasih.
Jambi, Desember 2022
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Kegunaan Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Suku Anak Dalam ... 9
2.1.1. Kehidupan Suku Anak Dalam... 9
2.1.2. Organisasi Sosial Suku Anak Dalam ... 13
2.1.3. Budaya Suku Anak Dalam ... 14
2.2 Administrasi Kependudukan ... 15
2.2.1. Ruang Lingkup Administrasi ... 17
2.2.2. Administrasi Pemerintahan Desa dan Ruang Lingkupnya .. 23
2.2.3. Administrasi Kependudukan... 24
2.2.4. Kependudukan ... 25
2.3 Pelayanan Publik ... 29
2.3.1. Pengertian Pelayanan Publik ... 29
2.3.2. Klasifikasi Pelayanan Publik ... 30
2.3.3. Standar Pelayanan Publik ... 31
2.3.4. Indikator Pelayanan Publik. ... 33
2.4 Penelitian Terdahulu ... 34
2.5 Kerangka Pemikiran ... 36
2.6. Hipotesis ... 38
III. METODE PENELITIAN ... 40
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 40
3.2 Sumber Dan Metode Pengumpulan Data ... 40
3.2.1. Sumber Data ... 40
3.2.2. Metode Pengumpulan Data ... 41
iii
3.3. Penentuan Informan ... 42
3.4. Instrumen Penelitian ... 45
3.5 Validasi Data ... 45
3.6. Metode Analisis Data... 46
3.7. Konsepsi Pengukuran ... 47
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 49
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 49
4.1.1. Keadaan Geografis ... 49
4.1.2. Gambaran Umum Kehidupan SAD ... 50
4.1.3. Struktur Organisasi-Organisasi Kantor Desa Bukit Suban ... 52
4.1.4 Keadaan Penduduk ... 54
4.2. Identitas Informan... 55
4.2.1. Umur Informan ... 55
4.2.2. Tingkat Pendidikan Informan ... 56
4.2.3. Mata Pencaharian Informan ... 58
4.3 Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam .. 60
4.3.1. Pelayanan Umum ... 60
4.3.2 Sarana dan Prasarana ... 65
4.4 Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat Kepemilikan Identitas Kependudukan ... 67
4.4.1. Faktor Pendukung ... 67
4.4.2. Faktor Penghambat ... 75
4.5 Analisis Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam ... 80
4.5.1. Kehandalan ... 80
4.5.2. Ketanggapan... 81
4.5.3. Keyakinan ... 83
4.5.4 Empati ... 84
4.5.5. Berwujud ... 86
4.6 Implikasi Penelitian... 89
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 91
5.1. Kesimpulan ... 91
5.2 Saran ... 92
DAFTAR PUSTAKA ... 93
LAMPIRAN ... 96
iv
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Suku Anak Dalam yang Berada di Desa Bukit Suban Kecamatan Air
Hitam. ... 2
2. Suku Anak Dalam yang Telah Tercatat dan Terdaftar di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam. ... 6
3. Informan Yang Diteliti Dari Penelitian Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Jambi. ... 43
4. Identitas Informan Berdasarkan Umur Infroman ... 55
5. Tingkat Pendidikan Informan ... 57
6. Jenis Sekolah di Desa Bukit Suban Khusus Suku Anak Dalam 2022 . 58
7. Mata Pencaharian Informan ... 60
8. Jenis Pelayanan Di Kantor Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam . 61
9. Jenis Perlakuan Pelayanan Administrasi Bagi Suku Anak Dalam Desa Bukit Suban. ... 63
10. Perbedaan Perlakuan Pelayanan Antara Masyarakat Desa Dan Masyarakat Suku Anak Dalam Di Kantor Desa Bukit Suban ... 64
11. Sarana dan Prasarana yang Tersedia di Kantor Desa Bukit Suban... 66
12. Waktu Pelayanan yang Tersedia Di Kantor Desa Bukit Suban... 67
13. Bantuan dari Pemerintah yang Mensyaratkan Identitas Kependudukan bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban. ... 71
14. Masyarakat SAD yang Menerima Bantuan PKH ... 71
15. Masyarakat SAD yang Menerima Bantuan BPNT ... 72
16. Kepemilikan Identitas Kependudukan Masyarakat Suku Anak Dalam Desa Bukit Suban Berdasarkan Lokasi Pemukiman. ... 74
17. Jarak Dari Desa Bukit Suban Menuju Lokasi Perekaman yang Berada di DUKCAPIL Sarolangun... 76
18. Status Kepemilikan Identitas Kependudukan Masyarakat Suku Anak Dalam Berdasarkan Lokasi Pemukiman di Desa Bukit Suban... 79
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Skema Kerangka Pemikiran ... 38 2. Model generalisasi penelitian kualitatif. Sampel purposive, hasil A
dapat ditransfer kan hanya ke B, C, D. ... 44 3. Peta Daerah Penelitian ... 50 4. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Bukit Suban Kecamatan Air
Hitam Kabupaten Sarolangun ... 52 5. Sarana Prasarana Desa Bukit Suban ... 66 6. Akses Jalan Menuju Punti Kayu 2 ... 76
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Pedoman Wawancara Penelitian Skripsi ... 96 2. Data Masyarakat SAD Dan Status Kepemilikan Identitas
Kependudukan Di Desa Bukit Suban... 100
1
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang mempunyai banyak suku bangsa dan ciri khas yang beragam. Suku bangsa merupakan sekumpulan manusia yang bersatu dalam budaya, karakteristik suatu kewarganegaraan atas ras, bahasa dan agama yang sama, kesamaan ini didasarkan atas garis keturunan.
Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau yang banyak didiami oleh Bangsa Melayu yang terbagi ke dalam beberapa suku. Suku tersebut ialah Suku Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, dan lain sebagainnya. Di Provinsi Jambi saat ini masih terdapat suku atau kelompok masyarakat yang belum berakulturasi dengan masing-masing kelompok masyarakat pasca tradisional, mereka dikenal dengan sebutan Suku Anak Dalam (SAD). Menurut Noor dalam Jauhari (2012) penduduk yang mendiami Jambi adalah masyarakat yang dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok penduduk yang telah lama menetap dimana mereka menetap di Jambi dari zaman nenek moyang sampai saat ini, lalu ada kelompok masyarakat pendatang.
SAD merupakan kelompok penduduk yang sudah lama menetap di Jambi dari zaman nenek moyang sampai saat ini, sebagian dari mereka menyebut dirinya dengan sebutan Orang Rimbo. Adat penghidupan SAD dan pola penghidupan mereka masih mengikuti ajaran leluhurnya mereka masih kental dengan adat istiadat yang mereka terapkan sejak dulu dan mereka juga masih menggunakan hukum adat yang menjadi acuan hukumnya, komunitas SAD memegang teguh dan menghormati penuh semua aturan dan hukum adat yang telah dimiliki secara turun temurun. Selain itu warganya sangat menghormati pimpinan kelompoknya, untuk menjaga keharmonisan dan mempertahankan kebudayaan, komunitas SAD
sejak awal telah memiliki sistem pemerintahan secara adat. Setiap suku dipimpin oleh seorang tetua adat atau ketua kelompok yang disebut temenggung.
SAD memiliki pola hidup yang berpindah pindah tidak menetap atau nomaden, mereka pindah dari tempat satu ke tempat lainnya di dalam hutan mereka menerapkan pola hidup berburu, dan meramu, meskipun ada sebagian SAD yang telah keluar dari hutan dan tinggal menetap di desa mereka masih menggantungkan sumber penghidupannya kepada hutan, terutama untuk bertani dan berkebun. Hutan memegang peran penting bagi SAD, hutan merupakan sumber kehidupan bagi mereka hasil hutan digunakan menjadi bahan makanan adapun yang menjual hasil hutan dengan masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan sehari hari (Rosyani, 2020). Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam merupakan salah satu desa yang memiliki SAD ada sebagian yang telah menetap ada pula sebagian yang masih tinggal di dalam hutan lalu berpindah pindah.
Jumlah populasi SAD dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Suku Anak Dalam yang Berada di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam.
No Nama Kelompok Lokasi Jumlah Populasi
1 Kelompok Saidun Punti kayu 2 70
2 Kelompok Nggrip Bendungan 136
3 Kelompok Ninjo Siliwangi 133
4 Kelompok Selambai Sako Selingsing 56
Jumlah 395 Orang
Sumber : Kantor Desa Bukit Suban, 2021. (lampiran 2)
Sebagian SAD yang memiliki pola hidup nomaden di dalam hutan, mereka bertahan hidup dengan cara bertani yang berpindah pindah dan masih bergantung dengan hutan. Mereka hidup dalam kemiskinan dikarenakan hasil hutan tidak selalu memenuhi kebutuhan hidup mereka secara terus menerus yang dimana
dalam masa seperti ini mereka harus berkelana lagi untuk mencari penghidupan lebih lanjut. Pengembangan perkebunan sawit yang berada di Desa Bukit Suban telah menyebabkan masyarakat kehilangan kawasan hidup untuk mengembangkan sistem sosial mereka. Saat ini kelompok SAD yang tergusur terpaksa harus membangun pemukiman-pemukiman sementara atau sudung. Pola permukiman yang dikembangkan saat ini tidak berbeda dengan saat mereka masih mengembangkan sistem berburu meramu. Perbedaan hanya terletak pada material bangunan yang digunakan. Jika dulu material bangunan yang digunakan adalah kulit kayu untuk dinding dan anyaman daun sebagai atap, maka pada saat ini mereka menggunakan terpal berbahan plastik sebagai atap layaknya orang berkemah.
Kelestarian fungsi lingkungan juga berdampak terhadap kelangsungan dan keberlanjutan hidup SAD, Menyempit hutan alam yang selama ini menjadi ruang hidup (Bediom) membuat mereka kian tersisih. Kehilangan hutan, kehilangan mata pencaharian, kehilangan dari sumber-sumber daya alam yang dimiliki merupakan masalah yang memperlihatkan akses mereka terhadap hutan, SAD termasuk sebagai kelompok yang harus ‘ditolong’, ‘dibantu’, atau ‘diselamatkan’
dari berbagai masalah yang akan menjadi ancaman dalam keberlangsungan hidupnya kelak. Beberapa kebijakan dan beberapa program untuk membantu mereka yang kurang mampu telah di buat oleh pemerintah hanya saja sebagian dari masyarakat SAD yang masih belum terlibat dalam jaringan pelayanan dan pembangunan baik di bidang sosial maupun politik hal ini menyebabkan mereka memiliki keterbelakangan sosial dan terisolasi secara fisik maupun secara administrasi.
Peran pemerintahan desa setempat tentang pelayanan publik sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat SAD, di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam ada sebagian masyarakat SAD yang telah memiliki identitas kependudukan berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), ada pula sebagian dari mereka yang belum memiliki identitas kependudukan.
Masyarakat SAD membutuhkan pelayanan dalam pembangunan karena pada dasarnya manusia tidak dapat dipisahkan dari pelayanan, dalam rangka mempertahankan kehidupan dan memenuhi kebutuhan hidupnya mereka membutuhkan pelayanan. Pelayanan yang dibutuhkan oleh manusia terbagi menjadi dua yaitu pelayanan secara fisik dan pelayanan secara administrasi yang diberikan selaku anggota organisasi, baik itu secara massa ataupun negara.
Peran pemerintah desa dalam memenuhi kebutuhan pelayanan pembangunan sangat dibutuhkan demi mewujudkan masyarakat yang berkembang dan sejahtera. Dalam pembangunan desa sesuai dengan Undang- Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa, yang dimana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan desa serta penanggulangan kemiskinan melalui: (1) penyediaan kebutuhan dasar, (2) pembangunan sarana dan prasarana, (3) pengembangan potensi ekonomi lokal, (4) pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan. Dengan adanya peraturan pelaksanaan Undang-Undang tersebut tentunya pemerintah mengeluarkan program-program tertentu baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah hal ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat pedesaan contohnya dalam penyediaan kebutuhan dasar, pemerintah memberikan bantuan yang berupa sembako yang dikenal dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Tani untuk mendapatkan bantuan bibit dan pupuk yang berguna untuk
melengkapi kebutuhan hidup sehari hari mengingat Suku Anak Dalam bertahan hidup di hutan dengan bercocok tanam tentu bantuan dari pemerintah ini sangat dibutuhkan oleh mereka. Salah satu syarat untuk mendapatkan BPNT dan Kartu Tani adalah memiliki KK dan KTP yang artinya warga tersebut telah terdaftar sebagai warga negara secara administrasi. Jika telah diakui secara hukum negara maka hak-hak pembangunan nya harus segera dipenuhi.
SAD merupakan warga asli Indonesia karena salah satu syarat untuk menjadi warga negara Indonesia adalah tinggal lima tahun di Indonesia dengan menetap atau sepuluh tahun tetapi tidak menetap, sementara SAD mendiami wilayah di Indonesia lebih dari lima sampai sepuluh tahun. Aparat desa sering mengabaikan kepentingan SAD yang seharusnya mereka lebih didahulukan mengingat pola penghidupan mereka berbeda dengan masyarakat pada umumnya.
Masyarakat desa yang memiliki identitas kependudukan mendapatkan bantuan berupa kartu keluarga harapan, kartu Indonesia pintar, tetapi SAD baik mereka yang memiliki identitas kependudukan maupun belum mempunyai identitas ada sebagian besar yang tidak mendapatkan bantuan tersebut. Di samping mereka belum mempunyai identitas kependudukan, mereka mempunyai pola hidup yang berpindah pindah sehingga sulit dicapai oleh aparat tertentu yang mengakibatkan hak-hak kewarganegaraan yang terabaikan. Jika mereka terdaftar secara administrasi maka masyarakat SAD pun akan mendapatkan hak-haknya dalam pelayanan pembangunan sebagai warga negara baik itu berupa tunai maupun non tunai. Dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Suku Anak Dalam yang Telah Tercatat dan Terdaftar di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam.
No Nama Kelompok Lokasi
Jumlah Kepala Keluarga
Yang Terdaftar
Di Desa
Jumlah Keluarga
Yang Memiliki
KK
Jumlah Keluarga
Yang Tidak Memiliki
KK
1 Kelompok Saidun Punti Kayu 2 21 16 KK 5
2 Kelompok Nggrip Bendungan 39 20 KK 19
3 Kelompok Ninjo Siliwangi 32 4 KK 28
4 Kelompok Selambai Sako Selingsing
13 7 KK 6
Jumlah 105 47 58
Sumber: Kantor Desa Bukit Suban, 2021. (lampiran 2)
Berdasarkan grand tour yang peneliti lakukan permasalahan yang dihadapi oleh SAD di Desa Bukit Suban yaitu masih banyak masyarakat SAD yang belum mempunyai identitas kewarganegaraan yang resmi dari negara, dalam pengurusan identitas tersebut, tentunya memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.
SAD yang serba kekurangan terutama dalam hal pengetahuan, mereka belum tentu memahami kegunaan dari memperoleh identitas kependudukan dan bagaimana proses kepemilikan identitas kependudukan, dengan memiliki identitas kependudukan salah keuntungan nya adalah pemerintah memfasilitasi petani, warga yang tergabung dalam kelompok tani baik berupa penyaluran sarana produksi ataupun pelatihan tentang pertanian. SAD bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui kelompok tani tersebut melihat dari segi petani hutan, petani perkebunan, pembibitan bahkan pengolahan obat herbal yang hasilnya akan mencukupi kebutuhan bagi SAD.
Dikarenakan fasilitas pemerintah hanya pada kelompok tani maka warga SAD yang belum memiliki identitas kependudukan tidak bisa bergabung dalam kelompok tani untuk mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Dari uraian tersebut
maka dapat diketahui bahwa pelayanan administrasi kependudukan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pemenuhan hak- hak kewajiban bernegara bagi masyarakat SAD. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “Analisis Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam”
1.2. Rumusan Masalah
Pelayanan administrasi kependudukan berperan penting dalam hal pembangunan, yang berfokus pada data kependudukan yang lengkap dan akurat.
Hal tersebut akan memudahkan pengambilan keputusan dalam merumuskan kebijakan dan penyusunan program baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik, penganggaran, hingga perencanaan pembangunan berkelanjutan. Manfaat dari kepemilikan dokumen kependudukan tidak hanya mendapatkan bantuan sosial saja melainkan dapat berguna untuk memberikan kejelasan identitas dan status bagi penduduk baik itu individual maupun kelompok, memberikan kepastian hukum, memberikan perlindungan hukum dan kenyamanan bagi pemiliknya, serta memberikan manfaat bagi kepentingan administrasi dan pelayanan publik lainnya. Dengan penghidupan SAD yang memiliki keterbelakangan sosial, hidup dalam kemiskinan sehingga dimarginalkan oleh kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka artinya masih ada masyarakat SAD yang telah memiliki identitas kependudukan tetapi hak berwarga negaranya belum terpenuhi. Berdasarkan pada uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1 Bagaimana pelayanan administrasi kependudukan terhadap komunitas Suku Anak Dalam Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam?
2 Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat Bagi Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam dalam memperoleh Identitas Kependudukan?
3 Bagaimana kualitas pelayanan administrasi kependudukan terhadap komunitas Suku Anak Dalam Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam?
1.3. Tujuan Penelitian
Rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas akan melahirkan tujuan – tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Adapun tujuan dari perumusan masalah tersebut adalah:
1. Mendeskripsikan pelayanan administrasi kependudukan di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam terhadap komunitas Suku Anak Dalam.
2. Mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat Bagi Suku Anak Dalam Di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam dalam memperoleh Identitas Kependudukan.
3. Menganalisis kualitas pelayanan administrasi kependudukan terhadap komunitas Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam.
1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini yaitu:
1. Sebagai bahan untuk melengkapi skripsi yang merupakan salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana di fakultas pertanian Universitas Jambi.
2. Dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan, sumbangan pemikiran atau informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan mengenai administrasi kependudukan Suku Anak Dalam yang berada di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam.
9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Suku Anak Dalam
Menurut Prasetijo dalam Mulyani (2018), Suku Anak Dalam (SAD) secara ekologis tersebar di beberapa wilayah yakni Taman Nasional Bukit Duabelas, bagian barat Provinsi Jambi, dan ada pula yang tinggal di bagian sebelah Utara Provinsi Jambi letaknya di Taman Nasional Bukit Tigapuluh perbatasan Riau dan Jambi. SAD merupakan bangsa minoritas dan komunitas adat terpencil (KAT), Komunitas Adat Terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta belum terlibat penuh dalam jaringan dan pelayanan baik secara sosial maupun politik.
Suku pedalaman Jambi berasal dari Kerajaan Pagaruyung yang melarikan diri lalu menetap di hutan karena dalam keadaan tertekan jika kembali ke Kerajaan Pagaruyung artinya mereka tidak menyampaikan amanat dengan mendatangi Jambi lalu jika ke kerajaan Jambi mereka tidak mempunyai bekal dan melanggar waktu yang telah ditetapkan, akhirnya mereka bersama sepakat melanjutkan kehidupan mereka di dalam hutan dengan cara meramu berburu dan mengumpul.
Sekarang SAD di daerah Taman Nasional Bukit Duabelas sudah ada yang telah menetap ada pula yang masih berkelana dan masih hidup di dalam hutan.
2.1.1. Kehidupan Suku Anak Dalam
Dalam Buliyansih (2018), Suku Anak Dalam memiliki penghidupan yang berbeda dengan masyarakat sekitar, dari tempat tinggal, cara berpakaian, makanan serta kesehatan tentu ada sedikit perbedaan yang dimana :
1. Tempat Tinggal / Rumah
Suku Anak Dalam memiliki tiga jenis rumah yang menjadi tempat mereka
untuk berlindung diri yaitu: rumah godong, rumah ditanoh dan sudung. Rumah godong memiliki atap yang terbuat dari daun kayu benal atau rumba, sementara dinding dan pintu terbuat dari kulit kayu gaharu atau meranti serta tiang rumah godong di buat dari kayu meranti. Rumah godong dapat didiami SAD dengan kurun waktu kurang lebih selama satu tahun. Rumah ditanoh memiliki atap yang terbuat dari kulit meranti dan tidak memiliki dinding, biasanya rumah ditanoh dijadikan tempat hunian SAD selama kurang lebih 8 bulan. Sudung hanya memiliki atap yang terbuat dari daun puar tidak memiliki dinding dan lantai biasanya sudung digunakan selama semalam atau dua malam, namun sekarang banyak yang telah mengganti atap sudung dengan terpal plastik berwarna hitam.
2. Cara Berpakaian.
Cara berpakaian SAD menjadi ciri khas tersendiri dari suku mereka dimana laki-laki menggunakan cawat, cawat merupakan kain yang digunakan kaum laki- laki untuk menutupi kemaluan mereka sedangkan perempuan menggunakan kemben, kemben merupakan kain sarung yang biasanya digunakan untuk menutupi tubuh dari mata kaki hingga atas dada berbeda dengan perempuan SAD yang telah menikah dan memiliki anak mereka menggunakan kemben dari mata kaki hingga ke pinggang saja. Namun seiring berjalannya waktu SAD telah berinteraksi dengan masyarakat luar sebagian dari mereka ada yang telah menggunakan pakaian, dan menjual hasil hutan ke pasar.
3. Makanan.
Untuk bertahan hidup SAD memanfaatkan hasil dari hutan, dan ada pula yang bertani menanam ubi dan singkong dimana makanan tersebut cukup untuk makan mereka sehari hari untuk lauk pauk biasanya SAD berburu, hewan-hewan
yang mereka buru salah satunya adalah : labi-labi, biawak, babi, rusa, tikus, dan masih banyak lagi.
4. Kesehatan.
SAD memiliki kebiasaan meramu, tanaman yang diambil merupakan tanaman hasil hutan lalu diolah secara tradisional hasil obat tersebut bisa digunakan untuk menjaga kesehatan ataupun kegunaan tertentu contohnya: tobu pokok Costus speciosus daun nya direbus lalu diminum ini merupakan obat untuk panas demam. Tetapi sekarang sebagian SAD sudah jarang meramu mereka biasanya mengandalkan obat modern dengan pergi ke puskesmas atau dokter.
5. Pertanian
Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting dalam perekonomian. Peranan pertanian salah satunya adalah menyediakan kebutuhan pangan yang diperlukan masyarakat untuk menjamin ketahanan pangan dan menyediakan bahan baku. Pada awalnya untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, SAD, melaksanakan kegiatan dengan cara berburu, meramu, menangkap ikan dan memakan buah-buahan yang ada di dalam hutan.
Namun dengan perkembangan pengetahuan dan peralatan hidup yang digunakan akibat adanya akulturasi budaya dengan masyarakat luar, kini mereka mengenal pengetahuan pertanian dan perkebunan.
Berburu binatang seperti Babi, Kura-kura, Ular, Labi-labi, Rusa, Kijang dan berbagai jenis unggas, yang ada di dalam hutan, merupakan salah satu bentuk mata pencaharian mereka sehari-hari. Kegiatan berburu dilaksanakan secara bersama-sama dengan membawa anjing. Alat yang digunakan adalah tombak,kecepet atau senapang dan parang. di samping itu untuk mendapatkan
binatang buruan juga menggunakan sistem perangkap dan jerat. Jenis mata pencaharian lain yang dilakukan adalah meramu didalam hutan, yaitu mengambil buah-buahan dedaunan dan akar-akaran sebagai bahan makanan. Lokasi tempat meramu sangat menentukan jenis yang diperoleh. Jika meramu dihutan, biasanya mendapatkan buah-buahan, dan mencari rotan, mengambil madu, menangkap ikan ini merupakan bentuk mata pencaharian yang hasilnya akan di jual atau di konsumsi sendiri.
Pengumpulan bahan makanan seperti, umbi-umbian, daun-daunan, buah- buahan, ikan dan hewan dari hutan, sungai, rawa, dan sebagainya oleh suku-suku yang masih hidup mengembara belum dapat dianggap sebagai usaha pertanian, karena usaha “reproduktif dan budidaya belum dilakukan”. Usaha tersebut dinamakan usaha pengumpulan. Manusia terdahulu menunjukkan kecerdikan luar biasa pada proses penentuan tanaman liar dan persiapan kebutuhan pangannya.
Misalnya tanaman singkong yang mengandung racun yang dapat mematikan (asam sianida, HCN), telah lama diketahui bahwa racun dapat dihilangkan dengan proses pemasakan, lalu ada beberapa tanaman obat. Perkembangan setiap masyarakat secara berkelanjutan bertumpu pada ketersediaan suatu sumber pangan yang cukup. Menurut Harjadi (2019) masyarakat terdahulu yang bertumpu pada pengumpulan pangan atau perburuan, setiap individu harus terlibat secara total dengan kepastian ketersediaan sumber pangan. Keberlimpahan hanyalah bersifat sementara dan merupakan kekecualian. Pemecahan masalah ini terjadi dengan penciptaan suatu rentetan teknologi yang berhubungan dan kompleks, mencakup hubungan yang serasi antara tanaman pertanian dan ternak, yaitu perkembangan pertanian. Ada tiga tahapan perkembangan pertanian berdasarkan
tingkat kemajuan dan tujuan pengelolaan sektor pertanian tersebut. Tahap pertama adalah pertanian tradisional yang dicirikan dengan tingkat produktivitas sektor pertanian yang rendah. Tahap kedua adalah tahapan komersialisasi dari produk pertanian mulai dilakukan tetapi penggunaan teknologi dan modal relatif masih rendah. Tahap ketiga adalah tahap seluruh produk pertanian ditujukan untuk melayani keperluan pasar komersial dengan ciri penggunaan teknologi serta modal yang tinggi dan mempunyai produktivitas yang tinggi pula.
SAD di Desa Bukit Suban mereka juga telah mengenal pertanian dan perkebunan secara tradisional mereka mengolah sawit, karet dan tamanan lainnya sebagai mata pencahariannya. Semua bentuk dan jenis peralatan yang digunakan dalam mendukung proses pemenuhan kebutuhan hidupnya sangat sederhana sekali.
2.1.2. Organisasi Sosial Suku Anak Dalam
Masyarakat SAD hidup dalam berkelompok dan masing-masing kelompok memiliki wilayah yang akan di pimpin oleh ketua kelompok tersebut jika ingin mencari penghidupan di kelompok lain mereka diperbolehkan atas izin temenggung. Dalam menjalankan pemerintahannya temenggung dibantu dengan wakil temenggung, depati, menti, mangku, dubalang bathin dan tengganai mereka memiliki tugas masing-masing diantaranya : temenggung merupakan tokoh adat dan pemimpin kelompok, wakil temenggung yang mewakili sosok temenggung ketika berhalangan. Depati merupakan sosok yang mengawasi terhadap kepemimpinan temenggung. Menti merupakan sosok figur yang memimpin persidangan secara adat. Mangku merupakan sosok yang mempertimbangkan keputusan dalam sidang adat. Dubalang bathin merupakan pengawal temenggung.
Tengganai merupakan sosok pemegang keputusan tertinggi di sidang adat, sosok tenggangai pun bisa membatalkan keputusan adat yang telah diputuskan, Saudagar dalam Jauhari (2012).
2.1.3. Budaya Suku Anak Dalam 1. Melangun
Seorang keluarga dari SAD yang telah meninggal merupakan hal yang paling menyedihkan bagi seluruh warga SAD. Melangun merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan untuk meninggalkan tempat mereka dalam kurun waktu tertentu karena mereka mempercayai bahwa tempat tersebut yang berada di sekitar rumah kematian merupakan tempat sial. Pada zaman dahulu melangun dilakukan 10 sampai 12 tahun namun sekarang seiring berjalannya waktu melangun dilakukan 1 bulan sampai 1 tahun hal ini disebabkan karena orang rimba telah memiliki kebun sawit dan kebun karet yang hasilnya dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan.
2. Seloko dan Mantera.
Selako merupakan aturan-aturan hukum yang dijadikan pedoman hukum bagi temenggung atau pemimpin SAD untuk mengambil keputusan dikarenakan kehidupan yang dijalani berpengaruh oleh aturan hukum. Seloko digunakan sebagai pedoman dalam bertingkah laku dan bertutur kata dalam kehidupan masyarakat SAD.
3. Besale atau Bedeki.
Besale merupakan upacara ritual yang dilakukan oleh komunitas SAD untuk acara memohon kepada roh-roh dalam kelangsungan pernikahan, melahirkan, pengobatan dan kematian. Upacara ritual pengobatan dan penyampaian
permohonan kepada dewo-dewo dikenal dengan istilah besale. Kegiatan ini dilakukan secara bersama sama dipimpin oleh temenggung dan seorang dukun yang disebut malin. Sebelum acara dimulai Temenggung nantinya akan membaca mantra-mantra secara khusuk, sebelum memasuki acara inti anak-anak SAD menari seperti tari lalak gendang dan tari elang yang diiringi dengan bunyi-bunyi nuansa alam, lalu malin selaku dukun akan memulai inti dari upacara besale yaitu upacara pengobatan pada saat upacara berlangsung maka semua warga tidak boleh ada yang bersuara, biasanya waktu besale dilakukan di malam hari.
4. Kepercayaan.
Masyarakat SAD masih memegang kuat ajaran leluhur mereka, mereka masih menganut Animisme dan Dinamisme yang dimana masih mempercayai roh- roh sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan gaib. Mereka percaya bahwa ada dewa atau dewi yang mendatangkan kebaikan dan ada pula dewa yang mendatangkan kejahatan.
2.2 Administrasi Kependudukan
Menurut Walters dalam Rahman (2017), administrasi adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penilaian dan pengendalian suatu usaha. Menurut Siagian (2012) arti administrasi adalah segala bentuk proses dari kerjasama antara dua individu atau lebih yang dipilih secara rasionalitas terpilih untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Sebelumnya, administrasi merupakan suatu kegiatan terutama mengenai cara-cara, sarana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, administrasi juga dirumuskan sebagai pengorganisasian dan pengarahan sumber daya manusia, tenaga kerja dan materi untuk mencapai tujuan yang telah disepakati
bersama. Administrasi sebagai objek studi ilmu administrasi pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan yang harus dijalankan oleh administrator yang mana administrator tersebut memiliki unsur-unsur yang saling terkait satu sama lain, diantaranya:
1. Administrasi merupakan suatu fenomena sosial dalam bentuk perwujudan tertentu dalam masyarakat modern, keberadaan administrasi ini tidak terlepas dari organisasi. Administrasi merupakan kekuatan yang memberikan hidup atau gerak, pengatur, manager, dan tenaga operasional yang akan mengarahkan suatu organisasi.
2. Administrasi merupakan kelompok masyarakat yang bekerja bersama-sama secara teratur dan diarahkan oleh seorang pemimpin dan ini berkaitan dengan penggunaan tenaga kerja. Dalam administrasi ada proses yang saling berhubungan, yaitu: penerimaan, penempatan, pendayagunaan dan pemberhentian kerja, ini disebut dengan kepegawaian. Administrasi merupakan suatu proses kerja sama untuk menyelesaikan semua kegiatan tertentu dengan menggunakan metode tertentu yang disesuaikan dengan rencana sebelumnya untuk mencapai tujuan tertentu yang diselenggarakan dalam suatu organisasi. Untuk tercapainya tujuan tertentu maka perlu adanya sikap yang baik serta kondisi mental yang sempurna, administrasi akan menciptakan peraturan bagaimana hubungan dengan masyarakat dan tentunya hal ini memerlukan public relation yang bagus.
3. Administrasi merupakan suatu praktek yang memerlukan teknik tertentu untuk menjalankan suatu kegiatan yang ditopang dengan kemampuan dan keterampilan. Administrasi memerlukan input atau masukan, proses
penyelenggaraan dan output (hasil) yang telah direncanakan sebelumnya.
Dan ini merupakan suatu seni yang memerlukan bakat, motivasi, semangat, pengetahuan serta pengalaman.
Dari definisi yang telah dipaparkan administrasi memiliki tiga informasi penting bagi kita bahwa: pertama, administrasi adalah sebuah seni sekaligus proses, sebagai seni administrasi membutuhkan kiat khusus yang bersifat kondisional dan situasional baik terkait waktu dan tempat. Kedua, dalam administrasi terdapat unsur-unsur tertentu seperti adanya kerja sama antar dua orang atau lebih yang bersifat hierarkis, terdapat tugas, memiliki tujuan dan ketersediaan nya sarana dan prasarana. Ketiga, administrasi muncul secara bersamaan dan memiliki tujuan untuk mencapai tujuan bersama.
2.2.1. Ruang Lingkup Administrasi
Menurut Ulbert (1999) administrasi publik adalah administrasi yang dilakukan untuk mengatur urusan-urusan yang menyangkut kepentingan umum suatu negara. Administrasi negara atau administrasi publik adalah seluruh kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang meliputi: administrasi militer, dan administrasi sipil. Administrasi sipil adalah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh departemen dan non departemen mulai dari kegiatan kelurahan sampai kegiatan MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat).
Pelayanan publik merupakan kegiatan pelayanan yang disediakan oleh pemerintah kepada warga negaranya, baik secara langsung (melalui sektor publik) atau dengan cara membiayai pemberian pelayanan swasta. Istilah ini dikaitkan dengan konsensus sosial yang dimana biasanya kegiatan ini diwujudkan melalui
pemilihan demokratis. Pelayanan ini harus tersedia untuk semua kalangan tanpa memandang pendapatan mereka dan pelayanan ini disediakan secara umum atau dibiayai secara umum. Russel dalam Rahman (2017), mendefinisikan administrasi publik berdasarkan empat kategori yaitu sebagai berikut:
1. Definisi berdasarkan kategori politik
Dalam kategori politik melihat administrasi publik sebagai apa yang dilakukan pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung guna mengetahui suatu tahapan siklus pembuatan kebijakan publik, implementasi kepentingan publik dan sebagai kegiatan yang dilakukan kolektif karena tidak dapat dilakukan secara individual.
2. Definisi kategori hukum atau legal
Administrasi publik dilihat dari penerapan hukum, sebagai regulasi, sebagai kegiatan pemberian sesuatu dari penguasa kepada rakyatnya, dimana pihak yang dirugikan harus tunduk menaatinya.
3. Definisi berdasarkan kategori manajerial.
Administrasi publik adalah fungsi eksekutif dalam pemerintahan, sebagai bentuk spesialisasi dalam manajemen, untuk mengetahui bagaimana mencapai hasil melalui orang lain.
4. Definisi berdasarkan kategori mata pencaharian.
Administrasi publik adalah suatu bentuk profesi mulai dari tukang sapu sampai ahli bedah di sektor publik.
Dari semua batasan yang telah dipaparkan maka ada beberapa makna penting yang harus diingat karena berkenaan dengan hakikat administrasi publik yaitu :
1. Bidang tersebut lebih berkaitan dengan dunia eksekutif meskipun juga berkaitan dengan dunia legislatif dan yudikatif.
2. Bidang tersebut berkenaan dengan formulasi dan implementasi kebijakan publik.
3. Bidang administrasi publik juga berkaitan dengan masalah manusia
4. Bidang tersebut diarahkan untuk menghasilkan publik goods and services dan bidang ini memiliki aspek teoritis dan praktis.
Terdapat empat unsur penting dalam pelayanan publik menurut Barata (2004) yaitu:
1. Penyediaan layanan, yaitu pihak yang dapat memberikan suatu layanan tertentu kepada konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan dan penyerahan barang ataupun jasa-jasa.
2. Penerima layanan, yaitu mereka yang disebut sebagai konsumen atau customer yang menerima berbagai layanan dari penyedia layanan.
3. Jenis layanan, yaitu layanan yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kepada pihak yang membutuhkan layanan.
4. Kepuasan pelanggan, dalam memberikan layanan, penyedia layanan harus mengacu pada tujuan utama pelayanan, yaitu kepuasan pelanggan. Hal ini sangat penting dilakukan karena tingkat kepuasan yang diperoleh para pelanggan itu biasanya sangat berhubungan dengan standar kualitas barang ataupun jasa yang mereka nikmati.
Ciri-ciri pelayanan publik yang baik dan benar adalah memiliki unsur-unsur sebagai berikut Kasmir dalam Rahman (2017):
1. Sarana dan prasarana tersedia dengan baik.
2. Bertanggung jawab kepada setiap pelanggan dari awal proses pelayanan hingga akhir.
3. Melayani secara cepat dan tepat.
4. Mampu berkomunikasi dengan baik agar mudah di pahami.
5. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi.
6. Memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik.
7. Berusaha memahami kebutuhan pelanggan.
8. Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan.
9. Tersedianya karyawan yang baik.
Uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalah bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah baik yang berupa barang maupun jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat ataupun dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan ataupun dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undang dalam pedoman pada asas dan arsip pelayanan.
Peran dari administrasi publik sangat lah penting, menurut Keban (2004) mengatakan bahwa kondisi ekonomi suatu negara sangat tergantung kepada dinamika administrasi publik. Gray (1998) menyatakan bahwa peran administrasi publik dalam masyarakat sebagai berikut:
a. Administrasi publik berperan menjamin pemerataan distribusi pendapatan nasional kepada kelompok masyarakat miskin secara keadilan.
b. Administrasi secara publik melindungi hak-hak masyarakat atas kepemilikan kekayaan, serta menjamin kebebasan bagi masyarakat untuk melaksanakan tanggung jawab atas diri mereka sendiri dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan bagi kelompok masyarakat lanjut
usia.
c. Administrasi publik berperan dari zaman ke zaman berikutnya dan memberikan jaminan dan dukungan sumber-sumber sehingga nilai-nilai tersebut mampu tumbuh dan berkembang sesuai muatan perubahan zaman, dan dapat terus hidup secara damai, dan selaras dengan budaya lain.
Peran administrasi publik ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk mencapai apa yang telah disepakati secara efektif dan efisien. Maka dari itu setiap kegiatan dalam administrasi publik akan diupayakan untuk tercapainya tujuan sesuai dengan yang direncanakan dan mengandung harapan ketercapaian nya dengan baik antara input dan output. Administrasi memiliki beberapa karakteristik atau ciri-ciri menurut Bailah (2019) antara lain sebagai berikut :
1. Dalam administrasi memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang mudah dikenali.
2. Administrasi memiliki tujuan yang jelas.
3. Dalam administrasi terdiri dari dua orang atau lebih.
4. Administrasi selalu berhubungan dengan kerjasama.
5. Dalam administrasi terdapat usaha atau proses kerja dan
6. Kegiatan di dalam administrasi selalu ada kepemimpinan, bimbingan, dan pengawasan
Berikut merupakan beberapa fungsi administrasi dalam organisasi menurut Bailah (2019):
1. Perencanaan
Perencanaan atau planning adalah kegiatan yang merencanakan aktivitas administrasi, mulai dari pengumpulan data, dan pengolahan data.
2. Organizing (Penyusunan)
Organizing merupakan kegiatan menyusun dan membangun komunikasi
kerja antara anggota-anggota dalam organisasi sehingga akan tercapai suatu kesatuan usaha yang dimana usaha tersebut bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Coordinating (Koordinasi)
Koordinasi merupakan bagian dari manajemen yang membuat aktivitas berjalan dengan baik dan jauh dari kekacauan, bentrok, dan kekosongan aktivitas yang dilaksanakan dengan menghubungkan atau menyatukan suatu pekerjaan bawahan sehingga terdapat suatu kerjasama yang terencana dalam suatu usaha untuk mencapai tujuan organisasi.
4. Reporting (Laporan)
Reporting merupakan aktivitas penyampaian perkembangan atau hasil dari
kegiatan, dengan cara memberikan laporan dari tugas dan fungsi para pejabat yang lebih tinggi baik lisan maupun tulisan untuk mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan tugas dari para anggota organisasi.
5. Budgeting (Penyusunan Anggaran)
Penyusunan anggaran ini merupakan aktivitas dari perencanaan dan pengelolaan keuangan atau anggaran dalam organisasi yang dilakukan secara berkesinambungan.
6. Staffing (Penempatan)
Staffing adalah kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya manusia
dan sumber daya lainnya dalam organisasi mulai dari perekrutan tenaga kerja, pengembangan, sampai perlengkapan di dalam organisasi tersebut.
7. Directing (Pengarahan atau Bimbingan)
Aktivitas ini berinteraksi dengan anggota organisasi dalam bentuk memberi bimbingan, saran, perintah-perintah, agar tugas dijalankan dengan baik guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.2.2. Administrasi Pemerintahan Desa dan Ruang Lingkupnya
Administrasi pemerintahan desa merupakan keseluruhan proses yang dimana kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai pemerintahan desa pada buku register data. Menurut Bailah (2019), ruang lingkup administrasi pemerintahan desa, meliputi :
a. Administrasi Umum
Pencatatan data dan informasi mengenai kegiatan pemerintahan desa pada buku administrasi umum.
b. Administrasi Keuangan
Kegiatan pencatatan informasi mengenai pengelolaan keuangan desa pada buku administrasi keuangan.
c. Administrasi Pembangunan
Kegiatan pencatatan data dan informasi pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat pada buku administrasi pembangunan.
d. Administrasi lainnya
Adanya kegiatan pencatatan data dan informasi penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan, pemberdayaan masyarakat, pembinaan ke masyarakat. Yang meliputi kegiatan badan permusyawaratan desa dalam buku administrasi badan permusyawaratan desa, lalu ada kegiatan musyawarah desa dan dicatat di buku musyawarah desa, dan
kegiatan dari lembaga kemasyarakatan desa atau lembaga adat di catat dalam buku lembaga kemasyarakatan desa atau lembaga adat.
e. Administrasi Kependudukan
Kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai kependudukan pada buku administrasi penduduk.
2.2.3. Administrasi Kependudukan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006, administrasi kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan hasil untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lainnya. Setiap penduduk mempunyai hak dalam sistem administrasi kependudukan untuk memperoleh: dokumen kependudukan, pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil, perlindungan asas data pribadi, kepastian hukum atas kepemilikan dokumen, bahkan ganti rugi dan pemulihan nama baik sebagai akibat kesalahan dalam pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil serta penyalahgunaan data pribadi oleh instansi pelaksana.
Dokumen kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti autentik yang dihasilkan dari pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.
Dokumen kependudukan pada dasarnya meliputi:
1. Biodata Penduduk.
2. Kartu Keluarga (KK).
3. Kartu Tanda Penduduk (KTP).
4. Surat Keterangan Kependudukan.
5. Akta Pencatatan Sipil.
2.2.4. Kependudukan
Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis republik Indonesia selama enam bulan atau lebih dan orang yang berdomisili kurang dari enam bulan dan menetap. Teori malthus dalam Bailah (2019) menuturkan bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan ketersediaan bahan makanan mengikuti deret hitung, pada kasus ini dimana terdapat permasalahan meledaknya jumlah penduduk di kota yang tidak diimbangi dengan ketersediaan, akhirnya makanan pun berkurang, hal ini membuat pertimbangan yang kurang menguntungkan jika kita kembali kepada teori malthus. Teori malthus jelas menekan tentang pentingnya keseimbangan pertambahan jumlah penduduk menurut deret hitung. Teori malthus tersebut sebenarnya sudah mempermasalahkan daya dukung lingkungan dan daya tampung lingkungan tanah sebagai salah satu komponen lingkungan alam yang tidak mampu lagi menyediakan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan jumlah penduduk yang terus bertambah dan semakin banyak. Jumlah penduduk harus seimbang dengan batas ambang lingkungannya agar nanti tidak menjadi beban lingkungan atau mengganggu daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Aliran Marxist dalam Bailah (2019) aliran ini tidak sependapat dengan malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan bahan pangan) menurut Marxist tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan tetapi, tekanan terhadap kesempatan untuk bekerja. Marxist menyatakan bahwa semakin banyak jumlah manusia maka semakin banyak jumlah produk yang akan dihasilkan jadi dengan demikian tidak harus ada
pembatasan penduduk. Teori ini pada umumnya digunakan untuk negara berekonomi sosial seperti Eropa Timur, RRC, Korea, Rusia, dan Vietnam. Dasar pegangan Marxist adalah berawal dari pengalaman bahwa manusia sepanjang sejarah akan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Identitas diri, konsep diri merupakan kumpulan keyakinan dan persepsi diri untuk diri sendiri yang terorganisir dengan kata lain, konsep diri tersebut bekerja sebagai skema dasar. Diri memberikan sebuah konsep berpikir yang menentukan bagaimana itu mengolah informasi tentang diri kita sendiri termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri kemampuan dan banyak hal lainnya. (Klein, dalam Robert 2013).
Identitas pribadi seseorang berawal dari pengalaman langsung dimana dia akan sama selama sekian tahun. Sedangkan identitas ego sendiri merupakan identitas yang menyangkut kualitas eksistensial dari subyek yang dimana identitas ego merupakan mempertahankan suatu gaya individualitas nya sendiri dan dalam hal ini, kesamaan batiniah serta gaya hidup pribadinya yang unik harus diterima oleh orang lain dan juga masyarakat. Jadi disini identitas ego merupakan kesamaan komunitas dalam gaya individualitas nya yang diakui oleh diri sendiri dan orang lain.
Erikson (1968) menjelaskan identitas sebagai perasaan subjektif tentang diri yang konsisten dan berkembang dari waktu ke waktu. Dalam berbagai situasi sosial dan tempat seseorang kemungkinan bisa memiliki perasaan menjadi orang yang sama. Ada beberapa pandangan Erikson tentang identitas yaitu: identitas dialami sebagai suatu rasa subyektif tentang kesamaan dan komunitas dengan diri sendiri yang semakin meningkat. Manusia mengalami di dalam batinnya dia tetap
tinggal diri, tetap sama dengan dirinya sendiri. Identitas ego bukan saja suatu kesadaran dari subjektif tetapi juga suatu proses pembentukan identitas dimana upaya tak sadar untuk mencapai suatu watak pribadi yang memainkan peran penting, pertumbuhan identitas merupakan perkembangan yang pelan-pelan terjadi untuk membentuk inti diri dari individu. Identitas bersifat psikososial karena identitas merupakan solidaritas batin dengan cita-cita identitas kelompok, pembentukan identitas merupakan suatu proses yang terjadi dalam pribadi individu dan di tengah-tengah masyarakat.
Waterman (1984) menyatakan bahwa identitas berarti memiliki gambaran diri yang jelas meliputi sejumlah tujuan yang ingin dicapai, nilai dan kepercayaan yang dipilih oleh individu tersebut. Kemudian Marcia dalam Ginanjar (2002) juga mengemukakan bahwa identitas diri merupakan komponen penting yang menunjukan identitas personal individu. Semakin sadar seorang individu tersebut akan keunikan dan kemiripan yang dimilikinya dengan orang lain dan sadar apa kelemahan dan kekuatan yang dimiliki olehnya maka dirinya bisa dikatakan berkembang atau pun sebaliknya, jika kurang berkembang maka individu tersebut akan bergantungan dengan sumber eksternal untuk evaluasi diri.
Kartu Tanda Penduduk Menjadi salah satu penduduk yang tinggal di suatu wilayah tentunya kita harus memiliki identitas khusus. Memiliki identitas khusus artinya kita memiliki data khusus di suatu wilayah yang ditempati, salah satunya memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). KTP merupakan identitas resmi penduduk atau bukti data diri yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Dan KTP merupakan bukti bahwa seseorang tersebut merupakan warga negara Indonesia dan diakui secara sah di mata negara. untuk
mendapatkan KTP seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan salah satunya berusia 17 tahun, jika dahulu KTP berbentuk kertas yang di laminating sekarang KTP mempunyai sistem yang bisa digunakan secara komputerisasi dan telah dikeluarkan dari tahun 2009 yang disingkat dengan e-KTP. Kartu Tanda Penduduk elektronik merupakan dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan atau pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berlandaskan data base kependudukan nasional dan setiap warga negara hanya mempunyai satu dan di dalam nya telah terisi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK sendiri merupakan identitas tunggal yang dimiliki setiap penduduk dan dapat berlaku seumur hidup. Kegunakan NIK ini biasanya sebagai salah satu syarat dalam penerbitan paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, sertifikat atas hak tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya, Undang-Undang No, 24 Tahun 2013 tentang administrasi kependudukan.
Kartu Keluarga atau KK merupakan kartu identitas keluarga yang memuat data lengkap tentang susunan, hubungan dan jumlah anggota keluarga. KK untuk penduduk warga negara Indonesia telah diterbitkan oleh pemerintah kabupaten dan di proses penerbitannya di Tempat Perekaman Data Kependudukan (TPDK) kecamatan. Di dalam KK terdapat nomor kartu keluarga, nomor lengkap setiap anggota keluarga, nomor induk kependudukan (NIK), alamat, jenis kelamin, nama lengkap, tempat tanggal lahir, pendidikan, agama, pekerjaan, status, hubungan dalam keluarga, kewarganegaraan, dokumentasi dan nama orang tua.
Kartu Keluarga wajib dimiliki setiap keluarga, kantor kelurahan, ketua RT (Rukun Tetangga), dan kepala keluarga. KK merupakan dokumen milik PEMDA
Provinsi setempat setiap perubahan baik itu data maupun biodata wajib melapor lurah dan membawa dua lembar KK untuk dibawa ke kantor kelurahan lalu diperbaharui sehingga akan terbit KK yang baru. Salah satu kegunaan kartu keluarga antara lain sebagai persyaratan untuk pembuatan KTP dan persyaratan pembuatan akte kelahiran. Ketika anak sekolah maka harus memenuhi persyaratan salah satunya membutuhkan kartu keluarga, dalam kartu keluarga terdapat nomor seri yang akan berlaku selama tidak ada perubahan, nomor KK terdiri dari 16 digit, nomor tersebut merupakan kombinasi dari variabel kode wilayah, tanggal pencatatan dan juga nomor seri keluarga. Apabila suatu keluarga pindah maka kartu keluarga harus diserahkan ke ketua RT dan diserahkan ke lurah lalu dari lurah akan dibuatkan surat keterangan pindah sehingga di proses KK yang baru. Berikut merupakan Persyaratan permohonan KK:
1. Siapkan surat pengantar dar RT dan RW tempat anda tinggal.
2. Kartu Tanda Penduduk untuk setiap anggota yang sudah berusia 18 tahun.
3. Formulir permohonan yang bisa diperoleh di kelurahan setempat.
Setelah semua berkas telah terkumpul maka proses pembuatan berkas ini bisa berjalan jika terjadi kendala dan petugas meminta biaya tertentu maka sebaiknya tidak diberikan biaya tersebut mengingat Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 pasal 79A, segala pengurusan berkas penting termasuk kartu keluarga, tidaklah dipungut biaya alias gratis. jika terjadi hal seperti ini maka hendaklah melaporkan kejadian tersebut karena kejadian ini termasuk dalam kategori pemerasan atau pungutan liar.
2.3 Pelayanan Publik
2.3.1. Pengertian Pelayanan Publik
Pelayanan berasal dari kata “layan” yang artinya menolong atau
menyediakan segala keperluan orang lain untuk perbuatan melayani. Pelayanan publik tidak terlepas dari kepentingan umum yang mana penyelenggara pelayanan wajib memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Sementara itu istilah publik berasal dari bahasa inggris public yang memiliki arti umum, masyarakat, dan negara. Kurniawan (2005), memberikan pendapat tentang pengertian pelayanan publik yang dimana pelayanan publik merupakan pemberian pelayanan atau melayani keperluan orang lain atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat diartikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilandaskan oleh instansi pemerintahan di pusat, di daerah dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara maupun Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang- undangan (Ratminto, 2005).Pelayanan publik dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu pelayanan kebutuhan dasar dan pelayanan umum, Pelayanan kebutuhan dasar meliputi kesehatan, pendidikan dasar, dan bahan kebutuhan pokok, sedangkan pelayanan umum meliputi pelayanan administrasi, pelayanan barang dan jasa.
2.3.2. Klasifikasi Pelayanan Publik
Mahmudi dalam Hardiyansyah (2018), menyatakan bahwa pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah dapat dibagi menjadi dua kategori utama yaitu : pelayanan kebutuhan dasar dan pelayanan umum.
1. Pelayanan Kebutuhan Dasar
Pelayanan kebutuhan dasar pada dasarnya meliputi (a) pelayanan kesehatan, setiap negara mengakui bahwa kesehatan menjadi modal terbesar untuk mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu, perbaikan pelayanan kesehatan pada dasarnya merupakan suatu investasi sumber daya manusia untuk mencapai masyarakat yang sejahtera. (b) pendidikan dasar, pendidikan merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia, masa depan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh seberapa besar perhatian pemerintah terhadap pendidikan masyarakatnya.
dan (c) bahan kebutuhan pokok masyarakat, selain menjaga stabilitas harga-harga umum, pemerintah juga perlu menjamin bahwa cadangan persediaan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai jangka waktu tertentu agar tidak terjadi lonjakan harga yang tinggi.
2. Pelayanan Umum
Selain pelayanan kebutuhan dasar, pemerintah sebagai instansi penyedia layanan publik juga harus memberikan pelayanan umum kepada masyarakatnya.
Pelayanan umum dapat di terbagi menjadi tiga kelompok: (a) pelayanan administrasi, (b) pelayanan barang, dan (c) pelayanan jasa.
2.3.3. Standar Pelayanan Publik
Penyelenggaraan pelayanan publik tentunya memiliki standar pelayanan, sebagai jaminan adanya pemberi di dalam pelaksanaan tugas serta fungsinya dan bagi penerima layanan dalam proses pengajuan permohonannya. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik sebagai pedoman yang wajib diikuti dan ditaati oleh penyelenggara layanan, dan menjadi pedoman bagi penerima pelayanan dalam memproses