• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Identitas Informan

antara mereka yang telah menetap di Desa Bukit Suban sudah banyak yang telah memiliki lahan karet, sawit ataupun pertanian lainnya.

4.2. Identitas Informan

Tidak melihat standar umur tua ataupun muda jika belum memiliki identitas kependudukan tetapi umur telah mencapai 17 tahun keatas maka diwajibkan memiliki identitas kependudukan, begitupun SAD di Desa Bukit Suban.

Pemerintah berharap dengan adanya bantuan sosial akan membantu perekonomian warga Indonesia yang membutuhkan. SAD berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang mempunyai akta kelahiran, pada zaman dahulu SAD tidak memiliki akta kelahiran yang menunjukan umur mereka tetapi dengan berkembangnya zaman dan dilakukannya interaksi sosial maka ada sebagian yang telah memilikinya, adapun salah satu syarat memiliki identitas kependudukan adalah akta kelahiran khusus untuk SAD yang tidak memiliki akta kelahiran akan di bantu proses pembuatan identitas kependudukan di bagian desa ataupun camat dan nanti data tersebut akan diserahkan ke DUKCAPIL.

4.2.2. Tingkat Pendidikan Informan

Responden di dalam penelitian ini ada beberapa aparat desa yang berada di Desa Bukit Suban, perwakilan dari kecamatan Air Hitam dan beberapa Perwakilan dari SAD. pendidikan merupakan hal yang paling penting dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pendidikan informan dari aparat desa dan camat yang dimaksud adalah jenjang pendidikan formal. pendidikan pada umumnya berpengaruh pada cara berfikir bagi aparat desa dalam melaksanakan pelayanan publik terlebih di dalam bidang administrasi kependudukan. Berikut merupakan tabel berdasarkan Pendidikan informan :

Tabel 5. Tingkat Pendidikan Informan

No Nama Bagian Pendidikan

1. Mujito S.Pd Kepala Desa Bukit Suban S1

2. Syaiful Ansor Kaur Pemerintahan SMA/Sederajat

3. Tumirah S.E Kasi Kesra dan Pelayanan S1

4. Herjoni Edison S.Kom

Camat Air Hitam S1

5. Muhammad Syafaat M.E

Kasi Pelayanan Umum Air Hitam S2 Sumber : profil Desa Bukit Suban, Profil Kecamatan Air Hitam, 2022

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa tingkat Pendidikan aparat desa bervariasi, ada sebagian pemerintah aparat desa telah menempuh pendidikan SMA/sederajat dan ada sebagian yang telah melakukan di jenjang pendidikan sarjana. Hal ini menunjukan bahwa keseluruhan responden aparat Desa Bukit Suban di daerah penelitian ini telah mengikuti pendidikan formal yang cukup tinggi, dengan pendidikan aparat desa yang cukup tinggi diharapkan mampu memberikan pelayanan kualitas prima dalam menangani pembuatan identitas kependudukan bagi SAD di Desa Bukit Suban.

Sebagian besar SAD tidak bersekolah secara formal mereka mendapatkan ilmu dari pengalaman nenek moyang maupun pengalaman pribadi dan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan dari berbagai pihak. Dengan keadaan yang tinggal di dalam hutan dan berpindah tentu SAD jika ingin melakukan pembelajaran terbilang susah, dengan kondisi sosial yang kurang mendukung dan adat budaya yang harus melakukan pergi jauh ketika ada kematian (melangun), tentu ini merupakan salah satu faktor penghambat SAD dalam memiliki tingkat pendidikan seperti masyarakat pada umumnya. Tidak semua SAD memiliki pendidikan yang tidak bagus ada sebagian dari mereka di Desa Bukit Suban yang telah bersekolah, berikut ada beberapa sekolah di Desa Bukit Suban.

Tabel 6. Jenis Sekolah di Desa Bukit Suban Khusus Suku Anak Dalam 2022

Desa Jenis Sekolah Jumlah

Taman Kanak-Kanak 1

Bukit Suban Sekolah Dasar (SD) 3

Jumlah 4

Sumber : Desa Bukit Suban, 2022

Dengan berkembangnya zaman dan terjadinya interaksi antara SAD dengan masyarakat luar tentu mengalami adanya perubahan, fasilitas sekolah salah satunya adanya sekolah khusus bagi SAD pun bertujuan untuk mencerdaskan generasi selanjutnya agar tidak tertinggal dengan masyarakat lainnya. Setiap warga negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesempatan belajar sebaik-baiknya dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang layak. Sehingga dimanapun mereka berada harus dapat dijangkau oleh fasilitas pendidikan yang layak sebagai hak-hak asasi bagi mereka. Bagi SAD, tentunya pendidikan menjadi sesuatu yang sangat baru bagi mereka. Banyak dari mereka yang sampai sekarang masih kurang bisa menerima sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah tentang pentingnya pendidikan.

SAD yang pada hakekatnya lebih suka berburu dan melangun, cenderung kurang bisa menerima adanya perubahan dan serta adanya sesuatu yang baru, mereka menutup diri dengan perkembangan serta kemajuan zaman. Dalam dunia pendidikan, mereka lebih memilih melangun dari pada harus duduk di kursi sekolah mendengarkan dan memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar.

4.2.3. Mata Pencaharian Informan

SAD yang berada di Desa Bukit Suban telah ada yang berbaur dan menetap dengan masyarakat luar lebih tepatnya lokasi berada di Air Panas masyarakat

SAD di sana telah ada yang bekerja dengan orang luar dan mengambil upah atau gaji perhari, ada pula yang menjadi petani dengan berkebun baik karet maupun sawit untuk mencukupi kebutuhan hidup. Masih ada SAD yang memiliki pola sumber daya penghidupan dari sekitar tempat tinggalnya, yakni berburu, meramu, berkebun karena hidup mereka bersifat nomaden tanpa batasan wilayah dan memiliki adat budaya tersendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, pola hidup sebagian SAD mengalami perubahan, dari berburu dan meramu ke arah pola perkebunan dan lainnya. SAD dalam mencari sumber kehidupan di dalam kawasan dan sekitar Taman Nasional Bukit (TNBD) Duabelas yakni melalui berburu, meramu, menangkap ikan, dan mencari buah-buahan di hutan. Akan tetapi seiring dengan perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi, pola hidup Suku Anak Dalam juga mengalami perubahan.

Berikut cara SAD memenuhi kebutuhan hidupnya: Meramu adalah penghidupan dengan mencari buah-buahan, umbut-umbut an, umbi-umbian, akar tumbuh-tumbuhan tertentu sebagai bahan makanan. Berburu binatang tertentu seperti babi, labi-labi, dan jenis lain. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari dengan membawa anjing dan tombak, dan peralatan lainnya. Selain itu, untuk menangkap buruannya menggunakan perangkap. Disamping itu, terdapat juga aturan adat yang harus dilakukan oleh pemburu terkait hasil buruan. Mengambil madu merupakan kearifan lokal yang masih dilakukan sampai saat ini. Di dalam melakukan kegiatan ini ada upacara dan cara tertentu yang sudah menjadi aturan adat yang di terapkan. Mencari rotan, menangkap ikan adalah cara lain pemenuhan kebutuhan SAD.

Mata pencaharian penduduk adalah petani, pekebun, pedagang, pegawai

negeri dan ada yang bekerja pada perusahaan swasta. Dalam penelitian ini tidak hanya SAD sebagai informan melainkan ada aparat Desa Bukit Suban dan Camat Air Hitam, Berikut merupakan tabel mata pencaharian informan.

Tabel 7. Mata Pencaharian Informan

No Nama Pekerjaan

1. Mujito S.Pd PNS, Berkebun

2. Syaiful Anshor PNS, Berkebun

3. Tumirah PNS

4. Herjoni Edison PNS, Berkebun

5. Muhammad Syafaat PNS, Berkebun

Sumber : Kantor Desa Bukit Suban 2021

Kehidupan masyarakat desa Bukit Suban yang didukung oleh sumberdaya tanah darat dan tanah gambut mengakibatkan terdapat sumber mata pencaharian utama masyarakat desa yaitu Perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet dan beberapa tanaman lainnya seperti: padi, cabai dan lain sebagainya, tidak hanya itu masyarakat desa juga ada yang bergerak dibidang jasa & perdagangan.

4.3 Pelayanan Administrasi Kependudukan Bagi Suku Anak Dalam