BAB V EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN
5.1 Gambaran Umum Program Pengembangan Masyarakat
Program pengembangan masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah program yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial. Secara khusus, program ini berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tidak beruntung atau tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia, dan kecacatan (Suharto, 2005:38).
Program pembangunan daerah pada tahun 2007 yang ditujukan pada kawasan sentra rajutan Binongjati dikenal dengan istilah program revitalisasi kawasan sentra, yang mencakup aspek regulasi, infrastruktur kawasan, dan pelaku usaha. Ketiga aspek tersebut pada tahun 2007 terakomodir dalam enam program utama (Kantor Litbang, 2007), yaitu :
1. Program Penataan Infrastruktur, yang terdiri dari :
a. Pemeliharaan Penerangan Jalan Umum (PJU) di 26 titik, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 50.000.000, SKPD penanggungjawab proyek adalah Dinas Pertamanan dan Pemakaman.
b. Pengerukan saluran dengan melakukan pengerukan saluran tepi lancar, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran sebesar Rp 12.500.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Bina Marga. 2. Program Bantuan Permodalan, yang terdiri dari :
a. Fasilitasi peningkatan sinergitas di bidang investasi untuk pengusaha UKM di lima kawasan dengan hasil yang diharapkan adalah terlaksananya forum investasi pengusaha UKM dengan BUMN, BUMD, Perbankan, dan pengusaha besar. Dilaksanakan tiga kali pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 125.000.000, SKPD
47 penanggungjawab kegiatan adalah KPMD (Kantor Penanaman Modal Daerah).
b. Pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Masyarakat (Pengembangan Produk Unggulan Daerah/PPUD), dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran sebesar Rp 14.000.000, SKPD penanggungjawab kegiatan adalah Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM).
3. Program Pengembangan SDM Pelaku Usaha
a. Pelatihan peningkatan desain industri rajut, untuk meningkatkan penguasaan teknik produksi dan kemampuan desain IKM sentra rajut, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 59.150.000, SKPD penanggungjawab kegiatan adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat.
b. Penyuluhan perkoperasian untuk 50 orang pelaku usaha, yang bertujuan untuk penguatan kelembagaan koperasi, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran sebesar Rp 3.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
c. Intermediasi pendanaan dengan tujuan meningkatkan akses permodalan untuk lima kawasan sentra industri dan perdagangan, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 25.916.000, SKPD penanggungjawab kegiatan adalah Dinas Koperasi.
d. Bimbingan pengelolaan bagi KSP/USP Koperasi, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 7.500.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
4. Program Promosi dan Pemasaran, yang terdiri dari :
a. Fasilitasi pengusaha UKM dalam rangka promosi potensi investasi unggulan Kota Bandung bagi lima kawasan sentra industri dan perdagangan, hasil dari kegiatan adalah tersedianya fasilitas stand pameran untuk pameran investasi (inacraft), dilaksanakan pada triwulan I tahun 2007, dengan anggaran Rp 18.900.000, SKPD penanggungjawab kegiatan adalah KPMD.
b. Fasiltasi pengusaha UKM dalam rangka promosi potensi investasi unggulan Kota Bandung bagi lima kawasan sentra industri dan perdagangan, dengan melakukan pameran investasi (inacraft) sebanyak dua kali, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 26.100.000, SKPD penanggungjawab kegiatan adalah KPMD.
c. Promosi produk unggulan 10 koperasi, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 140.820.350, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
d. Promosi produk unggulan 50 UKM, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 145.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
e. Membuat leaflet mengenai kawasan Binongjati, sebagai media promosi cetak, dilaksanakan pada triwulan I tahun 2007, menghabiskan anggaran Rp 6.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
f. Melakukan promosi atau pameran inacraft, yang dilaksanakan pada triwulan I tahun 2007, dengan menghabiskan anggaran Rp 62.000.000, dengan SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung. g. Melakukan promosi atau pameran BLA, yang dilaksanakan pada triwulan
I tahun 2007, dengan menghabiskan anggaran Rp 20.000.000, dengan SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
h. Melakukan lima kegiatan promosi atau pameran, yang dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 287.062.000, dengan SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
i. Melakukan misi dagang ke mancanegara, yang dilaksanakan pada triwulan II - IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 492.000.000, dengan SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
5. Program Bantuan Peralatan/Teknologi Produksi, terdiri dari :
a. Penyediaan sarana dan prasarana, berupa gedung UPT, mesin dan papan sentra, dilaksanakan pada triwulan I tahun 2007. Dengan anggaran
49 sebesar Rp 49.550.000, SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
b. Pencanangan lima sentra industri dan perdagangan, yang dilaksanakan pada triwulan I tahun 2007, menghabiskan anggaran Rp 83.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
c. Penyediaan sarana dan prasarana, berupa gedung UPT, mesin dan papan sentra, dilaksanakan pada triwulan II - IV tahun 2007, dengan anggaran sebesar Rp 55.400.000, SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
d. Melakukan diversifikasi produk, peningkatan mutu produk dan teknologi rajutan, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 123.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Disperindag Kota Bandung.
e. Membuat kajian mengenai potensi unggulan di tiga kawasan, yaitu Binongjati, Cigondewah dan PHH Mustafa (Suci), dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 84.300.000, SKPD penanggungjawab adalah KPMD.
f. Peningkatan mitra kerja melalui evaluasi penelitian, yang dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 50.500.000, SKPD penanggungjawab adalah Kantor Litbang.
6. Program Kegiatan Lainnya, terdiri dari :
a. Rakor lintas pelaku terhadap 30 sentra BDS, KSP, USP, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 18.050.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
b. Bimtek manajemen koperasi, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 49.916.200, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
c. Temu usaha koperasi untuk 50 koperasi, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 49.916.200, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
d. Bimtek desain produk dan packadging untuk 50 UKM, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 44.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
e. Bimtek permodalan untuk 50 UKM, dilaksanakan pada triwulan II – IV tahun 2007, dengan anggaran Rp 44.000.000, SKPD penanggungjawab adalah Dinas Koperasi.
Program yang ditujukan bagi pengusaha rajutan Binongjati tersebut di atas tidak semuanya merupakan program pengembangan masyarakat, hal ini dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat dalam program. Seperti halnya program penataan infrastruktur berupa perbaikan titik Penerangan Jalan Umum (PJU) dan perbaikan saluran air semuanya dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung, tanpa ada keterlibatan warga masyarakat Kelurahan Binong di dalamnya.
Dalam aplikasi program pengembangan masyarakat di lapangan (terhadap warga komunitas), perlu dikaji lebih lanjut melalui evaluasi program bagaimana program tersebut memberikan dampak terhadap terhadap pengembangan ekonomi lokal, dan pengembangan modal sosial. Secara umum, program Pemerintah Kota Bandung pada kawasan sentra rajutan Binongjati masih belum mencapai hasil maksimal. Program revitalisasi kawasan baru terbatas pada aspek regulasi, sedangkan penataan infrastruktur dan aspek pelaku usaha belum mendapat perhatian maksimal. Salah seorang informan, yang juga selaku Ketua KIRBI (koperasi) dan juga pengusaha rajutan Bapak Wondo mengatakan,
”Pemerintah Kota Bandung memang telah mencanangkan revitalisasi lima kawasan. Otomatis,kami menginginkan adanya perubahan yakni infrastruktur. Kami menginginkan adanya alternatif jalan tembus ke arah Jalan Kiaracondong.”
Namun, sampai dengan laporan ini disusun belum melihat adanya perubahan dari pencanangan kawasan lima sentra yang telah ditetapkan. Menurut Wondo, pihaknya hanya menerima fasilitas lampu jalan (penerangan jalan umum/PJU), beberapa mesin rajut, dan pelatihan-pelatihan. Dia menilai, pemberian itu adalah hal yang tidak tepat, karena tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.
”Seharusnya, setiap program dari pemerintah harus ada business plan yang jelas dan tertata dari pemerintah kota. Tentang dari mana mulainya, bagaimana prosesnya, dan output apa yang akan didapat