• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PETA SOSIAL KELURAHAN BINONG

4.2 Kependudukan

Penduduk merupakan salah satu dari tiga hal pokok yang merupakan komponen utama terbentuknya suatu negara, selain wilayah dan pemerintahan. Tiga hal pokok tersebut saling berhubungan satu dengan lainnya. Karakteristik yang paling mewakili dalam menentukan gambaran suatu wilayah adalah masalah kependudukan, karena penduduk sebagai suatu subjek pokok suatu wilayah merupakan komponen yang selalu mengalami perkembangan (dinamic component) dari waktu ke waktu.

Sebagai ibukota propinsi, Kota Bandung merupakan kota besar di mana sekarang ini perkembangannya semakin pesat baik perkembangan secara fisik maupun non fisik. Perkembangan Kota Bandung yang demikian pesat telah menarik sangat banyak penduduk pendatang, baik yang akhirnya menetap maupun penduduk komuter. Di Kelurahan Binong sendiri penduduk komuter adalah buruh rajutan yang pulang seminggu sekali, berasal dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya.

Penduduk Kelurahan Binong pada akhir bulan Agustus 2008 berdasarkan Laporan Kependudukan Bulan Agustus 2008 Kelurahan Binong berjumlah sebanyak 17.421 jiwa, dengan rincian 8.939 jiwa (51,31 persen) penduduk laki-laki dan 8.482 jiwa (48,69 persen) penduduk perempuan. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada akhir tahun 2007, maka penduduk Kelurahan Binong pada bulan Agustus tahun 2008 mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah penduduk akhir tahun 2007 adalah 14.103 jiwa, dengan rincian 6.992 jiwa (49,58 persen) penduduk laki-laki dan 7.111 jiwa (50,42 persen) penduduk perempuan. Dengan demikian dalam jangka waktu delapan bulan saja terjadi pertumbuhan penduduk yang cukup drastis, yaitu mencapai 23 persen. Hal ini dimungkinkan sebagai hasil dari Pemutakhiran Data Kependudukan Kota Bandung yang dilakukan pada bulan April 2008 dalam rangka pendataan pemilih di Kota Bandung. Pendataan ini dilakukan secara sensus ke rumah-rumah,

1 Berdasarkan Data Monografi Kelurahan yang memerlukan interpretasi lebih mendalam secara statistik

37 sehingga data penduduk menurut kelompok umur lebih akurat jika dibandingkan dengan laporan jumlah penduduk sebelumnya.

Grafik 4.1 Penduduk Kelurahan Binong Menurut Jenis Kelamin

Desember 2007 dan Agustus 2008

0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000

Laki-laki Pe re mpuan Desember 2007

Agustus 2008 Sumber : Laporan Rekapitulasi Penduduk Kelurahan Binong 2007 dan Agustus 2008, diolah

Dengan luas wilayah sekitar 0,72 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 17.253 jiwa maka kepadatan penduduk di Kelurahan Binong pada bulan Agustus 2008 adalah 23.963 jiwa/km2. Tingkat kepadatan penduduk di Kelurahan Binong ini tergolong sangat padat. Dibandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk di Kota Bandung sekitar 13.500 jiwa/km2, maka tingkat kepadatan di Kelurahan Binong jauh lebih tinggi dari rata-rata tingkat kepadatan penduduk di Kota Bandung.

Komposisi penduduk Kelurahan Binong juga dapat dilihat berdasarkan golongan umur. Berdasarkan jumlah penduduk menurut golongan umur dapat diketahui struktur umur penduduk, apakah termasuk struktur penduduk muda atau struktur peduduk tua. Jumlah penduduk Kelurahan Binong yang usianya kurang dari 15 tahun berjumlah sekitar 22,73 persen (3.960 jiwa) dan penduduk usia 65 tahun lebih berkisar 0,69 persen (120 jiwa). Struktur umur penduduk muda

ditunjukkan dengan proporsi penduduk yang usianya kurang dari 15 tahun adalah lebih dari 40 persen, sedangkan struktur umur penduduk tua ditunjukkan apabila proporsi penduduk dengan usia lebih dari 65 tahun adalah lebih dari sepuluh persen. Dengan demikian struktur umur penduduk Kelurahan Binong merupakan struktur umur penduduk ”peralihan” yang mengindikasikan bahwa Kelurahan Binong memiliki potensi besar dalam kelompok umur produktifnya, yang apabila diberdayakan akan menunjang keberhasilan pembangunan di segala bidang.

Grafik 4.2 Piramida Penduduk Kelurahan Binong Agustus Tahun 2008

2000 1500 1000 500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 + Perempuan Laki-laki

Sumber : Laporan Rekapitulasi Penduduk Kelurahan Binong Agustus 2008, diolah

Piramida penduduk Kelurahan Binong mempunyai kecenderungan gembung di tengah, mengindikasikan struktur umur penduduknya, yaitu struktur umur peralihan. Berdasarkan piramida di atas terlihat bahwa penduduk perempuan golongan umur 20 – 24 tahun jumlahnya relatif tinggi (mencapai lebih dari 32 persen). Tingginya jumlah penduduk perempuan pada golongan umur ini dimungkinkan adalah pendatang perempuan (kaum migran) yang bekerja sebagai buruh rajut pada industri rajutan Binongjati.

39 Berdasarkan komposisi ini dapat dilihat sex ratio menurut golongan umur. Sex ratio menurut golongan umur dapat menunjukkan pola sex ratio dari umur muda (mulai dari kelahiran) hingga umur tua. Sex ratio penduduk Kelurahan Binong adalah sebesar 105,39. Hal ini menunjukkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin di Kelurahan Binong, di mana penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.

Berdasarkan grafik 4.2 terlihat ada beberapa golongan umur yang memiliki sex ratio cukup ekstrim, yaitu terdapat perbedaan yang mencolok antara jumlah penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Sex ratio golongan umur 25 – 29 tahun, 40 – 44 tahun, dan 45- 49 tahun menunjukkan angka lebih dari 150. Angka ini menunjukkan jumlah peduduk laki-laki pada golongan umur ini lebih dari 1,5 kalinya penduduk perempuan. Golongan umur 25 – 29 tahun juga mempunyai sex ratio sebesar 176,43 yang mengandung pengertian bahwa komposisi penduduk laki-laki lebih tinggi 1,76 kali dari penduduk perempuan. Demikian pula pada golongan umur 20 – 24 tahun sex ratio sebesar 56,64. Hal ini menunjukkan jumlah penduduk laki-laki pada golongan umur ini hampir setengah kali dari jumlah penduduk perempuan. Relatif ekstrimnya angka sex ratio pada beberapa golongan umur ini dapat dimaklumi pada kondisi Kelurahan Binong, di mana wilayah ini merupakan salah satu kawasan sentra industri di Kota Bandung sehingga menarik minat pendatang untuk mencari nafkah sebagai buruh rajut di kawasan ini.

Berdasarkan data penduduk menurut golongan umur juga dapat diketahui angka rasio beban ketergantungan, yaitu tingkat ketergantungan dari penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun dengan penduduk usia lebih dari 65 tahun terhadap penduduk usia 15 – 64 tahun. Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa rasio ketergantungan penduduk Kelurahan Binong adalah 30,58. Hal ini mengandung pengertian bahwa dari 100 (seratus) jiwa penduduk usia produktif menanggung 31 jiwa penduduk usia tidak produktif. Dengan demikian beban ketergantungan dari penduduk tidak produktif di Kelurahan Binong relatif rendah. Hal ini dapat dimaklumi karena struktur umur penduduk di kelurahan ini adalah struktur umur transisi/peralihan, di mana pada struktur ini mayoritas penduduk berada pada usia produktif.