• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Ketidakadilan Gender Terhadap Pengembangan

BAB VI KARAKTERISTIK PEREMPUAN PENGUSAHA

7.3 Pengaruh Ketidakadilan Gender Terhadap Pengembangan

dan laki-laki. Pembagian peran mencakup kontrol terhadap pengambilan keputusan, tidak semata-mata pada pelaksanaan keputusan yang telah diambil. Pada prinsipnya peran-peran yang dibagi antara laki-laki dan perempuan dapat dipertukarkan (disubstitusikan), walaupun dalam prakteknya peran tersebut tidak mudah dipertukarkan. Dalam sistem produksi perempuan pengusaha memegang

kontrol atas tahapan proses produksi yang dilakukan di lokasi dekat rumah, yang dimaksudkan agar perempuan masih dapat melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menjaga dan mengawasi anak-anak (Dewayanti, 2003:79). Akses penyediaan bahan baku dan pemasaran sebagian besar dilakukan di dalam komunitas, jika dilakukan keluar komunitas maka ada pembagian peran dengan laki-laki, yaitu laki-laki mencari akses tersebut keluar komunitas, walaupun tidak sedikit perempuan pengusaha yang juga melakukan peran ini keluar komunitas. Hal ini bukan semata-mata sebagai domestikasi perempuan melainkan sebagai strategi berhahan hidup bagi keberlangsungan kehidupan keluargnya. Perempuan pengusaha melihat adanya peluang untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya melalui usaha ini dan mereka memiliki kontrol terhadapnya. Beban ganda yang terjadi pada perempuan pengusaha dapat diminimalisasi dengan mensubstitusikan sebagian perannya terhadap orang lain. Walaupun demikian kadangkala ketidakadilan gender ini dirasakan sebagai salah satu hambatan bagi mereka untuk mengembangkan kapasitasnya.

Ketidakadilan gender memberikan pengaruh terhadap pengembangan kapasitas. Berdasarkan data di lapangan hal ini ditemukan pada perempuan pengusaha. Seperti yang dipaparkan beberapa responden berikut ini.

“Memang akhirnya rumah sama anak-anak dikorbankan. Soalnya ngurus rajut lebih-lebih dari ngurus anak, malah gak bisa ditinggal. Akhirnya anak sama pembantu, suami juga kerja, ya terpaksa saya yang urus. Kalau mau mengembangkan usaha ya dari sini, susah mau keluar. Diusahakan sih seimbang ya antara rumah sama usaha, tapi susah juga” (Dedeh, 31 tahun )

“Beban ganda seperti ini ya anak yang jadi korban ya, anak-anak secara tidak langsung kita paksa untuk lebih lama di sekolah biar kita orangtua gak terlalu repot. Tapi karena rajut itu asyik ya, jadi sama sih gak ada masalah mau ngembangin diri sampai dimana juga, toh suami mendukung, anak-anak juga gak komplain. Masalah modal, keterampilan, pasar, itu sih gampang ya, gimana kita memanfaatkan fasilitas yang ada, perbankkan sekarang aksesnya mudah, keterampilan kan medianya banyak, sekarang internet gampang, masalah pasar juga mudah tergantung kualitas arang kita. Sekarang saya tidak terlalu fokus pada produksi, tapi lebih ke marketingnya, saya sedang mencoba ke penjualan retail dan hasilnya lumayan, saya lebih puas karena lebih bisa mengekspresikan kreativitas, gak pernah kehabisan ide. Ya akhirnya gimana kitanya, pinter-pinter kita ngatur, tinggal kitanya mau gimana.” (Rianti, 40 tahun)

89

“Karena Ibu buka usaha ini anak-anak sudah besar, jadi gak terlalu repot antara usaha dengan ngurus anak-anak. Paling ya sama urusan rumah, ya gimana lagi sudah konsekunsi seorang istri dihandle saja. Mungkin kalau yang anaknya masih kecil-kecil repot juga kalau mau pelatihan atau harus keluar rumah ya. Tapi kan sekarang medianya banyak, ada televisi, ada internet, kalau Ibu kadang sama anak lihat model di internet, kan nambah wawasan juga” (Indah, 58 tahun)

“Ya itu, kadang ya kalau kita mau ngembangin diri, misalnya cari-cari informasi atau nambah-nambah ilmu baru suka susah kebentur sama urusan rumah. Kadang langkah kita kehambat sama urusan rumah dan anak, tapi ya gimana lagi, apalagi saya kan single parent, tapi untungnya ada pembantu sama adik-adik yang mau bantu. Sekarang saya lagi mau ngembangin usaha ke pasar retail, kerjasama sama butik. Sekarang juga sedang merintis membentuk kemitraan sama pabrik, jadi saya mau bangun tempat buat pakai mesin desain, mesinnya kan besar jadi harus luas, pabrik mau bantu pemasarannya nanti, kalau sudah pakai mesin desain kan pangsanya udah bergeser jadi pangsa ekspor, kualitas bisa jauh lebih bagus. Jadi semua itu mudah sebenarnnya, asal kita tahu

chanelnya diluar, nah disitu pentingnya jaringan ya” (Hanifah, 41 tahun)

“Buat ngembangin usaha ya kitanya harus rajin cari informasi. Mungkin kalau ada kelompok yang khusus perempuan pengusaha lebih enak ya, kita bisa berbagi” (Wati, 30 tahun)

“Buat mengembangkan kapasitas kan sebenarnya sekarang gampang saja, sarana sudah banyak, kalau saya biasanya lihat internet. Kalau menurut saya sih program pembinaan dari pemerintah yang buat mengembangkan kapasitas yang paling menyentuh ke lapisan perempuan pengusaha khususnya adalah pelatihan. Cuma ya itu saya suka sebal kalau pas pelatihan kebanyakan bercanda, jadi kan kadang kurang maksimal pelatihannya. Kalau dengan teman-teman sih ngobrol tentang hal umum ya, jarang masalah rajut soalnya mungkin persaingan usaha juga. Kelompok sih dulu saya aktif, tapi ya gak enak lah belakangannya, ide kita dipake tapi orangnnya gak pernah dipake” (Rokayah, 44 tahun)

Beban kerja yang panjang, subordinasi, dan marginalisasi sebagai bentuk ketidakadilan gender bagi perempuan pengusaha memberikan pengaruh pada pencapaian kapasitas perempuan pengusaha dan kapasitas usahanya. Salah satu pengaruh dari ketidakadilan gender pada perempuan pengusaha adalah rendahnya rata-rata omset yang diperoleh. Pada sebagian perempuan pengusaha strategi yang diambil untuk mengurangi bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut adalah dengan melakukan substitusi sebagian peran-peran reproduktifnya. Tabel 7.7 menunjukkan hubungan antara rata-rata omset yang diperoleh oleh perempuan pengusaha dengan substitusi peran reproduktif yang dilakukannya.

Tabel 7.7 Rata-rata Omset per Bulan dengan Substisusi Peran Reproduktif pada Perempuan Pengusaha Sentra Rajutan Binongjati Tahun 2008

Substitusi Peran Reproduktif Dilakukan dengan Rata-rata Omset per

bulan ( Rp. juta) Dilakukan Tidak

suami orang lain Jumlah

< 100 26,67 13,33 26,67 66,67

100 – 200 6,67 0,00 13,33 20,00

200 0,00 6,67 6,67 13,33

Jumlah 33,33 20,00 46,67 100,00

Sumber : Data lapangan tahun 2008, diolah

Berdasarkan data pada tabel 7.7 terlihat bahwa peningkatan pendapatan sebagai salah satu tujuan dari pengembangan kapasitas pada perempuan pengusaha berjalan seiring dengan substitusi sebagian peran reproduktifnya. Pada perempuan pengusaha yang melakukan substitusi sebagian peran reproduktif baik dengan suami maupun orang lain, omset yang diperolehnya cenderung lebih tinggi dari rata-rata. Hal ini mengindikasikan bahwa perpindahan sebagian peran reproduktif kepada orang lain memungkinkan perempuan pengusaha untuk memiliki akses yang lebih luas dan mampu mengambil keputusan terkait pemanfaatan sumberdaya dan manfaat bagi pengembangan kapasitasnya. Adanya kesetaraan peran gender yang diwujudkan dalam keadilan gender memberikan pengaruh yang signifikan bagi pengembangan kapasitas perempuan pengusaha dalam mengembangkan kapasitas usahanya.

Berdasarkan penelitian lapangan juga ditemukan bahwa pengembangan kapasitas perempuan pengusaha berjalan seiring dengan perubahan pada kekuasaan gender, seperti halnya penelitian Van Velzen (1990) yang diacu dalam Saptari dan Holzner (1997:324). Perubahan ini terjadi dalam beberapa kasus seperti kebijakan pemerintah dalam menyediakan kursus pelatihan manajemen yang tidak secara khusus ditujukan pada perempuan sebagai upaya pengembangan kapasitas. Sesuai dengan penelitian dari Van Velzen juga pada tahun 1992 (diacu dalam Utrecht dan Sayogyo, 1994 : 49) bahwa tingkat kehadiran perempuan dalam pelatihan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Untuk mengatasi ketidakhadirannya, mereka memanfaatkan media televisi atau jejaring yang sudah terbentuk di antara mereka, seperti belajar hal baru dari teman sekitar.

91 Pengembangan kapasitas modal, jaringan usaha dan produktivitas, strategi yang dianggap berhasil oleh beberapa responden adalah dengan memanfaatkan jejaring seperti kemitraan dengan pihak luar, bahkan jika kemitraan tersebut sudah terbentuk akan lebih mudah bagi mereka untuk mengembangkan kapasitasnya. Disadari maupun tidak, sebetulnya perempuan pengusaha memiliki suatu modal sosial yaitu norma-norma dan hubungan sosial yang melekat dalam struktur sosial setiap masyarakat sehingga memungkinkan masyarakat tersebut mengkoordinasikan tindakannya dan mencapai berbagai tujuan yang diinginkan. Nilai tambah dari jejaring ini adalah mewujudkan kerjasama yang sinergis antara berbagai pihak yang berkepentingan.