BAB IV PETA SOSIAL KELURAHAN BINONG
4.3 Sistem Ekonomi
Mata pencaharian penduduk Kelurahan Binong relatif beragam, mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota TNI, karyawan swasta, wiraswasta, pedagang, petani, pertukangan, jasa dan pemulung. Mata pencaharian yang relatif dominan di Kelurahan Binong adalah pengusaha rajutan, buruh rajut tidak dibayar (pekerja keluarga), dan buruh makloon di usaha rajutan. Berdasarkan data ini juga terlihat ada bias mata pencaharian. Persentase terbesar adalah pelajar dan mahasiswa (lebih dari 80%), padahal kita pahami bersama bahwa status sebagai pelajar dan mahasiswa bukanlah mata pencaharian. Jika dibandingkan dengan data jumlah penduduk menurut golongan umur terlihat jelas bahwa angka penduduk yang mata pencahariannya sebagai pelajar adalah over estimate. Penduduk usia sekolah (5-19 tahun) adalah sebanyak 4.415 jiwa, lebih rendah dari jumlah penduduk yang mata pencahariannya sebagai pelajar. Hal ini kiranya dapat menjadi perhatian dalam pengumpulan data kependudukan di masa mendatang.
Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006, yaitu pendataan unit usaha baik berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum non pertanian di Kota Bandung, jumlah usaha/perusahaan di Kelurahan Binong adalah sekitar 1.742 usaha. Jika dirinci menurut lokasi usaha, maka jumlah usaha dengan lokasi usaha tetap dan tempat permanen adalah sebanyak 1.081 usaha dan usaha dengan lokasi tidak tetap atau di luar bangunan (kaki lima, pedagang keliling) sebanyak 661 usaha.
Berdasarkan hasil SE 2006 kegiatan usaha yang paling banyak di Kelurahan Binong adalah kegiatan perdagangan besar dan eceran. Adanya Pasar Saeuran dan pusat perdagangan jalan Kiaracondong di Kelurahan Binong merupakan salah satu penyebab besarnya jumlah usaha perdagangan besar dan eceran di kelurahan ini. Sekitar 38,40 persen usaha yang ada di Kelurahan Binong adalah usaha perdagangan besar dan eceran. Usaha akomodasi, penyediaan makan dan minum, menempati peringkat kedua, dengan jumlah usaha sebanyak 20,09 persen. Kegiatan ini meliputi kegiatan penyediaan akomodasi, serta kegiatan penyediaan makan dan minum, seperti restoran, warung nasi, penjual makanan atau minuman yang diproses di lokasi berjualan serta jasa catering. Adanya pasar pun merupakan salah satu penyebab jumlah usaha ini relatif besar, di samping
41 banyaknya usaha catering untuk makan karyawan pabrik rajut, pengumpul limbah dan pemasok gas bagi industri rajut.
Grafik 4.3 Struktur Perekonomian Kelurahan Binong Tahun 2006
Industri 14,81% Perdagangan 38,40% Akomodasi 20,09% Usaha persewaan 15,27% Lainnya 11,42%
Sumber : Hasil SE 2006 Kota Bandung, BPS Kota Bandung, diolah
Usaha persewaan juga mempunyai persentase relatif besar, yaitu sekitar 15,27 persen. Usaha ini mencakup kegiatan persewaan bangunan seperti kontrakan rumah maupun kos-kosan, yang banyak terdapat di kelurahan ini, sebagai dampak dari industri rajutan yang mengundang para pendatang untuk menetap di kawasan ini. Usaha industri pengolahan berjumlah sekitar 14,81 persen dari total usaha di Kelurahan Binong. Dari 14,81 persen usaha industri pengolahan di Kelurahan Binong, sekitar 90,31 persennya adalah usaha industri rajutan. Konsentrasi usaha industri pengolahan di Kelurahan Binong sejak dahulu adalah usaha industri rajutan, yang terkonsentrasi di kawasan Binongjati. Walaupun secara unit usaha industri rajutan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan usaha perdagangan, tetapi usaha ini mampu menciptakan penyerapan tenaga kerja yang relatif besar baik bagi Kelurahan Binong sendiri maupun bagi luar wilayah Binong. Demikian juga dengan nilai tambah, usaha rajutan mampu menyumbangkan penciptaan nilai tambah yang relatif besar bagi penciptaan nilai
tambah di Kelurahan Binong. Oleh karena itu sangat beralasan apabila daerah ini dijadikan sebagai kawasan sentra rajutan di Kota Bandung.
Cikal bakal industri rajutan Binongjati dimulai sejak tahun 1965. Sebelumnya, penduduk Binongjati banyak yang menjadi buruh di pabrik-pabrik rajutan milik pedagang Tionghoa di Kota Bandung. Namun, dengan meningkatnya permintaan rajutan, pedagang Tionghoa meminta para buruh mengerjakan rajutan di rumah. Mereka dibekali mesin rajut dan wajib menyetorkan produksinya sesuai dengan permintaan majikan. Tingginya permintaan membuat sejumlah buruh bisa menabung sehingga mampu membeli mesin sendiri. Sambil mengerjakan pesanan majikan, mereka juga mengajar beberapa orang di Binongjati mengerjakan baju rajutan. Tahun 1975, hanya ada tiga pabrik (industri) rajutan di Binongjati. Namun, karena permintaan dari Pasar Baru Bandung cukup banyak, penduduk Binongjati mulai ikut membuat pabrik-pabrik rajutan. Pada saat itu pabrik-pabrik bertambah hingga mencapai 30 pabrik-pabrik. Pada tahun 1997 ketika terjadi krisis moneter, industri rajutan Binongjati justru mengalami booming, karena harga jual hasil rajutan untuk ekspor melonjak. Tahun 2006 terdapat sekitar 400 industri rajut, dengan jumlah tenaga kerja sekitar 8.000 orang.
Kondisi ekonomi yang paling memberikan dampak bagi usaha rajutan, menurut informan Sw adalah kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Menurut Sw, dampak kenaikan harga BBM cukup berat bagi pengusaha. Kenaikan BBM berdampak pada kenaikan harga bahan baku, sehingga biaya produksi menjadi tinggi sedangkan order berkurang. Yang terjadi adalah banyaknya pengusaha yang kolaps.
Input produksi rajut atau bahan baku bagi sentra industri rajutan Binonjati diperoleh dari pemasok. Jumlah pemasok masih sangat terbatas karena para pemasok mendapatkan barang (benang) dari dua sampai tiga pabrik yang memproduksi bahan baku kebutuhan industri ini. Proses pencarian bahan baku dilakukan melalui pemasok yang langsung datang ke industri, sehingga kualitas benang sangat ditentukan oleh pasokan benang dari pemasok bahan.
Output dari sentra rajutan Binongjati ini sebagian besar diekspor ke luar wilayah Kota Bandung. Lebih dari 75 persen produksi rajutan dari Binongjati
43 diekspor ke Tanah Abang Jakarta, sebagai pusat pemasaran dan penampung utama produksi rajutan Binongjati. Dari Tanah Abang Jakarta produk rajutan Binongjati sebagian besar di ekspor ke luar negeri dana beberapa daerah di Indonesia. Daerah pemasaran rajutan Binongjati selain Pasar Tanah Abang Jakarta antara lain : Pasar Turi Surabaya, Pasar Tegal Gubuk Cirebon, Solo, Padang, Medan, Palembang, Kudus, Bali, Lombok, dan sebagian ke ITC Kebon Kelapa, Pasar Baru Bandung, serta beberapa factory outlet di Bandung seperti Renariti, Kayaguya, dan lain-lain. Hampir 95 persen sistem penjualan adalah grosir, hanya sekitar lima persen saja penjualan secara eceran (ritel).
Rendahnya sistem penjualan ritel dikarenakan tidak adanya ruang pamer (showroom) bagi hasil produksi, di samping karakter yang sudah terbentuk pada diri para pengusaha untuk memasarkan dengan sistem grosiran. Menurut Sw, karakter yang terbentuk dari pengusaha untuk menjual dalam sistem grosir sudah begitu kuat, sehingga sulit jika ada konsumen yang ingin membeli secara ritel. Sulitnya penjualan secara ritel juga dikarenakan kurang baiknnya infrastruktur menuju lokasi kawasan. Akses infrastruktur yang buruk, seperti jalan yang sempit tidak dapat dilalui bis besar, lokasi kawasan yang agak jauh dari jalan raya (sekitar 600 meter), jalan yang berlobang, tidak ada tempat parkir, lokasi masuk yang terkesan kumuh karena adanya pasar, serta tidak adanya Rajutan Trade Center (RTC) sebagai pusat penjualan ritel bagi pengusaha merupakan penyebab lemahnya keinginan pengusaha untuk berbisnis dalam sistem eceran (ritel).
Dalam rangka meningkatkan potensi perekonomian di kawasan Binongjati, Pemerintah Kota Bandung menetapkan kawasan ini sebagai salah satu dari lima Kawasan Sentra Industri dan Perdagangan (KSIP) di Kota Bandung, dan akan melakukan revitalisasi bagi kawasan ini. Revitalisasi lebih difokuskan pada perbaikan dan penataan infrastruktur kawasan, sehingga kawasan ini layak untuk dijadikan kawasan wisata produksi dan perdagangan. Sampai dengan saat ini, kawasan sentra rajutan Binongjati baru sampai pada tahap sentra produksi, belum pada taraf sentra pemasaran atau perdagangan.