Kepemimpinan sebagai proses menerangkan pengaruh yang bersifat “memaksa” yang secara langsung mengkoordinir kegiatan anggota suatu kelompok, dan mengarahkan mereka ke arah tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan kepemimpinan sebagai sifat yang dimiliki pemimpin,
merupakan seperangkat karakter atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang sehingga dia mempunyai pengaruh (kekuasaan) tertentu demi suksesnya suatu kelompok itu dalam mencapai tujuan organisasi (Liliweri, 2004: 152).
Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor penting dan menentukan dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Kepemimpinan berperan besar dalam melaksanakan tugas-tugas mengelola organisasi. Pengelolaan atau manajemen organisasi relatif tetap, namun gaya kepemimpinan manajemen nampaknya perlu diubah sejalan dengan perubahan lingkungan organisasi, baik di tingkat lokal, nasional, Asia, ASEAN maupun di tingkat internasional. Perubahan-perubahan tersebut akan mendorong perlu dipikirkannya kembali gaya kepemimpinan yang efektif di tengah perubahan besar di era global.
Organisasi modern yang hampir setiap saat dihadapkan pada ketidakpastian dan lingkungan yang cepat berubah maka organisasi dituntut untuk menjaga fleksibilitas, kerja sama dan kekompakan tim, kepercayaan dan kemamuan berbagi informasi dan berkomunikasi ke dalam dan keluar organisasi. Hal-hal ini mulai diadopsi untuk menggantikan struktur organisasi yang kaku, kompetisi antar anggota organisasi yang menimbulkan konflik disfungional, kontrol yang ketat dan kaku, dan kerahasiaan atau tidak transparan. Dalam kondisi seperti itu diperlukan manajer yang mampu berkomunikasi efektif dalam berbagai level komunikasi, yaitu manajer yang mau mendengarkan, memotivasi, memberikan dukungan dan menggerakkan anak buahnya untuk mencapai tujuan.
Melalui pengelolaan komunikasi maka dapat dikurangi terjadinya konflik dan dapat dijaga kerekatan hubungan antar anggota dan meningkatkan kemandirian organisasi. Di satu sisi, keeratan hubungan menekankan kepada kebersamaan, sedangkan di sisi lain, kemandirian menekankan pada pemisahan dan perbedaan tugas dan wewenang antar bagian. Pemimpin yang menekankan pada membangun hubungan dan keakraban memungkinkan pemimpin tersebut lebih terbuka dan egalitarian serta memberdayakan segenap anggotanya. Sedangkan gaya pemimpin yang menekankan pada status dan kemandirian maka pemimpin tersebut akan mengadopsi struktur herarkhis yang kaku, menekankan pada spesialisasi pada tugas-tugas dan perintah. Semangat MEA adalah semangat kebersamaan, kerjasama dan sinergi ekonomi untuk memenangkan persaingan.
Perilaku pemimpin yang demokratis dan partisipatif, akan menumbuhkan rasa hormat dan perhatian pada orang lain, menumbuhkan kemauan berbagi kekuasaan dan informasi dengan orang lain. Gaya ini mengacu kepada kepemimpinan interaktif, yakni gaya kepemimpinan yang memfokuskan pada upaya membangun konsensus dan membangun
hubungan antar pribadi, baik dengan komunikasi dan partisipasi atau keterlibatan (involvement). Bahkan sampai tingkat tertentu gaya kepemimpinan transformasional yaitu kepemimpinan yang aspirasional, yang dapat memberikan aspirasi kepada orang-orang untuk bekerja giat sangat diperlukan untuk memajukan organisasi. Sedangkan gaya kepemimpinan yang cenderung transaksional, yakni gaya kepemimpinan yang cenderung mengarah pada perilaku directive dan assertive dan menggunakan otoritas yang ia miliki untuk melakukan kontrol dan komando, mungkin perlu dikurangi karena kurang tepat untuk memotivasi tim untuk melakukan inovasi dan terobosan baru untuk menembus pasar dan memenangkan persaingan.
Konsep gaya kepemimpinan menunjukkan adanya kombinasi antara bahasa dan tindakan yang dilakukan seorang pemimpin. Atau dengan kata lain, gaya menyangkut pola bahasa dan tindakan bagaimana, yang dapat digunakan seseorang untuk membantu orang lain mencapai hasil yang diinginkan. Hal tersebut, meliputi beberapa pendekatan yang secara lebih rinci diuraikan sebagai berikut: (1) mengendalikan atau mengarahkan orang lain, (2) memberikan tantangan atau rangsangan kepada orang lain, (3) menjelaskan kepada atau memberi instruksi kepada orang lain, (4) mendorong atau mendukung orang lain, (5) memohon atau membujuk orang lain, (6) melibatkan atau memberdayakan orang lain, (7) memberi ganjaran atau memperkuat orang lain (Pace dan Faules, 2003: 277).
Ciri-ciri kepemimpinan yang efektif akan kondusif bagi kebutuhan organisasi agar mampu menghadapi tantangan organisasi dalam menghadapi lingkungan yang penuh ketidakpastian sebagaimana terjadi di era global. Lebih jelasnya, untuk menjadi pemimpin yang efektif sangat ditentukan oleh kapasitas kepemimpinan seseorang. Adapun faktor-faktor yang dianggap yang berpengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan adalah sebagai berikut: (1) cara pemilihan dan penempatan pemimpin, (2) pendidikan kepemimpinan, (3) pemberian imbalan pada prestasi pemimpin dan bawahan, dan (4) teknik pengelolaan organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan, dan (5) teknologi.
Stepan dan Pace (Pace dan Faules, 2003: 302) menasehati kepada eksekutif yang hendak menunjukkan kepemimpinan yang efektif agar memperlakukan orang lain sebagai kawan. Karena kawan adalah orang yang murah hati dan ramah, berbakti dan periang, bahagia di tengah kehadiran orang lain. Mereka bersedia mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan sendiri. Mereka bersedia menerima beban orang lain. Menjadi kawan membuka pintu ke arah kepemimpinan yang menyenangkan, bergairah dan berkekuatan, tanpa
menggunakan strategi yang rumit untuk merebut dan mempengaruhi orang lain. Ini adalah gaya kepemimpinan terbaik tunggal (one-best leadership style).
Sedangkan yang kedua adalah gaya kepemimpinan terbaik bersyarat (conditional-best leadership style) yaitu gaya pemimpin yang menggunakan kombinasi perilaku komunikatif yang berbeda ketika menanggapi keadaan di sekelilingnya; dalam keadaan tersebut pemimpin berusaha membantu yang lain untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tidak ada gaya kepemimpinan yang bersifat tunggal dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, yang dapat menjamin jenis bantuan yang tepat bagi setiap orang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Gaya inipun efektif bila diterapkan bagi orang yang ramah, bersedia bekerja sama dan bersikap mendukung pencapaian tujuan organisasi. Sementara bagi yang tidak mau bekerja sama atau bahkan memiliki itikad tidak baik, memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda.
Dalam konteks MEA, seorang pemimpin harus memiliki vision (pandangan) tentang posisi perusahaannya dalam konteks kepentingan organisasi, nasional, ASEAN, Asia dan global. Mengakomodasikan berbagai kepentingan tersebut merupakan wilayah pengetahuan, ketrampilan dan sikap seorang pemimpin masa depan. Kemampuan seorang pemimpin dalam berkomunikasi menjadi penting dengan kualifikasi dengan standar tertentu dan dan terukur, minimal standar yang dapat diterima di tingkat ASEAN. Kemampuan bidang komunikasi yang penting bagi seorang pemimpin antara lain kemampuan manajemen, public speaking, presentasi, networking, negosiasi dan mediasi. Disamping itu profesi komunikasi seperti Public Relations, Media Relations dan International Relations semakin penting dalam mendukung organisasi mencapai tujuan.
PENUTUP
Sekalipun ada berbagai gaya kepemimpinan atau pendekatan namun penerapannya tidak bersifat tunggal dalam menyelesaikan permasalahan organisasi. Untuk keadaan yang berbeda, bisa jadi diperlukan kombinasi gaya dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda pula. Dengan meningkatknya tantangan sebagai akibat dari globalisasi dan MEA, gaya kepemimpinan yang demokratis, partisipatif, komunikatif dan mampu mengarahkan anak buah atau seluruh sistem menggali dan mengembangkan keahlian dan menemukan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki sangat diperlukan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Faktor kepemimpinan memiliki peran yang penting dalam menciptakan suasana kerja yang kondusif untuk mengatasi tantangan baru di era MEA,
sehingga keberadaan organisasi dapat berlanjut atau bahkan mampu meningkatkan kinerjanya untuk memenangkan persaingan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Sjamsul. 2008. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015: Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global.Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi.Jakarta: Kompas.
Bapennas. 2015. SDM Berkualitas Kunci Sukses Hadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. (http://old.bappenas.go.iddiakses 3 Desember 2015.
Buchori, Mochtar. 2001.Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony, 2001. Runaway World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita.Jakarta: Grasindo.
Liliweri, Alo. 2004.Wacana Komunikasi Organisasi.Bandung: Mandar Maju.
Luke, Jeff S. 1999. “Managing Interconnectedness The New Challenge for Public Administration” dalam Bailey, Mary Timney dan Mayer, Richard T. 1999. Public Management in an Interconnected World. New York: Greenwood Press.
Nugroho, Alois A dan Cahayani, Ati. 2003. Multikulturalisme dalam Bisnis. Jakarta: Grasindo.
Ohmae, Kenichi. 2002. Hancurnya Negara-bangsa: Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia Tak Terbatas.Yogyakarta: Qalam.
Pace, R Wayne dan Faules, Don F. 2003. Komunikasi Organisasi: Strategi Mening-katkan Kinerja Perusahaan.Jakarta: Rosda Karya.