• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT PESISIR

2. Modal Sosial Kelompok Perempuan Pesisir

Penjelasan diatas mendeskripsikan bahwa aktivitas yang ditunjukkan oleh kelompok perempuan pesisir, dapat dipetakan model bekerjanya modal sosial di dalam kelompok. sebagaimana aspek kolektif, modal sosial menyangkut hubungan, antara kepemimpinan (leadership), jaringan kerjasama (network) dan Kepercayaan (Trust). Melalui kelompok ini pula kemudian menjadi sarana kaum perempuan untuk bertukar pengetahuan, mengelola organisasi hingga membangun jaringan pemasaran hasil usaha mereka.

a. Kepemimpinan

Kepemimpinan kelompok menjadi point penting bagi efektif tidaknya sebuh kelompok. Dalam kelompok perempuan pesisir peran kepemimpinan memiliki kepercayaan yang cukup kuat dari anggotanya. Ketua kelompok dipilih secara demokratis dalam rapat anggota82. Melalui interaksi dalam ranah ini kelompok perempuan membangun sikap saling percaya dan juga menyangkut kepemimpinan kelompok. Sekalipun kemudian kelompok yang terbentuk adalah informal. Melalui ketua kelompok biasanya menjadi sarana pemerintah daerah seringkali bekerjasama dengan kelompok tersebut.

Disisi lain, pada ranah ini kepemimpinan kelompok perempuan pesisir menunjukkan adanya kemampuan organisasional yang efektif, kemampuan mengelola organisasi, dan berlangsungnya proses berbagi informasi dan berbagi pengetahuan 82

dalam kelompoknya. Biasanya, ketua kelompok menjadi sarana anggota kelompok untuk mengkonsultasikan persoalannya, membangun jejaring kerjasama, hingga memfasilitasi kelompok ke pihak pemerintah daerah83. Sekalipun dalam observasi lapangan, penelitia menemukan bahwa ketua kelompok seringkali hanya lulusan SD hingga SMA, namun mampu menggerakkan kelompoknya dengan efektif.

b. Jaringan Kerjasama

Jaringan kerjasama berkaitan dengan kemamuan kelompok perempuan dalam membangun kerjasama saling menguntungkan dengan pihak atau kelompok lain. Dimana kapasitas ini tergambarkan dalam kondisi bahwa kelompok perempuan membangun hubungan kerjasama positif dengan kelompok lainnya. namun catatan penting dari proses ini adalah hubungan interakasi sosial hanya terjadi oleh kelompok masyarakat saja. Dalam pelaksanaanya, kapasitas ini terjadi oleh bantuan dari pihak LSM (APPaK) dan adanya pendampingan dalam bentuk Program KUBE oleh Pemerintah Daerah84.

Merujuk pada kondisi diatas kelompok perempuan pesisir membangun relasi dengan kelompok lainnya, baik dalam lingkup wilayah Kota Baubau maupun diluar Kota Baubau. biasanya jaringan didapati oleh kelompok saat mereka diikutkan dalam program atau kegiatan pelatihan oleh pemerintah daerah85. Selain itu, program pelatihan yang oleh Pemerintah Daerah ini biasanya berlangsung tiap tahun dengan syarat masyarkat yang diikutkan memiliki kelompok86. Maka secara tidak langsung, kelompok perempuan pesisir mampu menyediakan sarana untuk diperhatikan oleh pemerintah daerah melalui kelompok yang dibentuknya.

Pemanfaatan jejaring ini adalah selain membagun hubungan dalam hal pemasaran hasil usaha yang bermotif kultur jaringan. Disisi lain juga, hal ini mewujud dalam jaringan kerjasama dengan kelompok usaha (bisnis) lainnya, dengan jaringan ini kemudian kelompok masyarakat pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan berbagai pengetahuan umum lainnya.

83

Wawancara dengan beberapa anggota kelompok perempuan

84

Wawancara dengan Ketua Kelompok Poose-ose “Wa Muzi” dan Kainawa Molagina “Hatia”

85

Wawancara dengan Ketua Kelompok Poose-ose “Wa Muzi”

86

c. Saling Percaya

Saling percaya menjadi penting dalam proses organisasi, dengan begitu kepercayaan yang tumbuh dalam anggota kelompok akan mampu menggerakkan kelompok untuk terus berkembang dan tentu didukung pula dengan kepemimpinan yang efektif. Sebagai cerminan saling percaya yang terbangun dalam kelompok perempuan di kelurahan sulaa, dapat diamati dalam adanya kesadaran gerakan menabung, melakukan arisan rutin setiap bulannya, dan kelompok menjadi sarana berbagi “curahan hati” anggota kelompok.

Dalam beberapa kesempatan, kelompok juga menjadi sarana anggota kelompok untuk memecahkan persoalannya. Seperti misalnya jika ada anggota kelompok yang membutuhkan uang sekolah anaknya, ada anggota keluarganya yang sedang sakit, atau hal-hal mendesak lainnya bisa dibantu oleh kelompok dalam musyawarah yang dilakukan oleh kelompok87. Deskripsi diatas tentu terjadi jika adanya saling percaya antara anggota kelompok, sehingga setiap persoalan dan masalah yang dialami oleh anggota kelompok dapat dimusyawarahkan dan dicari solusi bersama untuk menyelesaikannya.

Tabel 2

Kapasitas Modal Sosial

Kelompok Perempuan Pesisir Kelurahan Sulaa, Kota Baubau

No. Modal Sosial Keterangan

1. Kepemimpinan Kemampuan ketua kelompok dalam memimpin organisasi yang cukup efektif dalam mengelola organisasi, ketua kelompok sebagai sarana penghubung anggota kelompok dengan kelompok lain maupun pemerintah daerah dan fungsi pemimpin (ketua kelompok) dalam mengadvokasi anggota.

2. Jaringan Kerjasama

Kemampuan yang ditunjukkan dalam bentuk jaringan kerjasama dengan kelompok lain, dengan jaringan ini kemudian kelompok perempuan pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan berbagai pengetahuan umum lainnya.

87

3. Saling Percaya Ditunjukkan pada adanya partisipasi anggota kelompok perempuan pesisir baik menjalankan keputusan kelompok, gerakan menabung, dan arisan kelompok. Disamping itu, kelompok juga menjadi forum anggota kelompok untuk memecahkan persoalan mereka.

Pembahasan diatas memberikan gambaran bahwa masyarakat pesisir, melalui kelompok perempuanya memiliki kapasitas untuk kemudian mengembangkan dirinya sendiri. Kelompok perempuan menjadi sarana kaum perempuan pesisir bukan saja untuk mengembangkan dirinya (berbagi pengetahuan), namun juga sebagai sarana berusaha untuk ikut memberikan kontribusi bagi pendapatan keluarga. Mengingat bahwa potret kemiskinan di masyarakat pesisir, seringkali berkaitan erat dengan akses pasar terhadap hasil-hasil tangkapan yang masih minim, setidaknya gambaran kapasitas dari kaum perempuan yang tercermin dalam aktivitas kelompok perempuan mampu member pandangan lain tentang potensi kemiskinan masyarakat pesisiri.

Khususnya di wilayah kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari Kota Baubau, tentunya kapasitas seperti tergambarkan diatas mampu digunakan sebagai perspektif lain dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir. Pendekatan bantuan financial yang diberikan pemerintah daerah, hingga saat ini belum menunjukkan kondisi yang optimal. Maka setidaknya apa yang ditunjukkan dalam kapasitas kaum perempuan pesisir dalam aktivitas kelompoknya bisa menjadi mitra dalam pemberdayaan masyarakat. Konteks ini juga menjawab bahwa pelibatan multisektor dalam penanganan kemiskinan diperlukan, salah satunya adalah kelompok perempuan pesisir. Pendekatan modal sosial jelas diperlukan untuk kemudian merumuskan model pengentasan kemiskinan keluarga masyarakat pesisir.

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Kemiskinan masih perlu terus dicarikan solusi dalam penanganannya. Pendekatan ekonomi melalui bantuan financial tidak sepenuhnya bisa menjadi solusi bagi pengentasan kemiskinan. Dari pembahasan penelitian ini, didapati bahwa modal sosial masyarakat juga mampu dimanfaatkan untuk menjadi salah satu solusi dalam mengentaskan masalah kemiskinan masyarkat, khususnya focus penelitian ini adalah

masyarakat pesisir. Adapun kesimpulan penelitian terkait indikator kapasitas modal sosial kelompok perempuan pesisir adalah sebagai berikut: 1) Kepemimpinan yang cukup efektif dalam mengelola organisasi, penghubung kelompok dengan kelompok lain hingga pemerintah daerah; 2) Jaringan Kerjasama, dengan jaringan ini kemudian kelompok perempuan pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan berbagai pengetahuan umum lainnya; 3) Saling Percaya, partisipasi anggota kelompok perempuan pesisir baik menjalankan keputusan kelompok, gerakan menabung, arisan kelompok, serta kelompok juga menjadi forum anggota kelompok untuk memecahkan persoalan mereka.

2. Saran

Berdasarkan pembahasan diatas, penelitian ini menganggap bahwa betapapun demikian, kapasitas modal sosial memiliki peran penting, namun juga perlu mendapat dukungan eksternal untuk mempertahankannya atau memperkuatnya. Kondisi lingkungan yang unpredictable menjadi tantangan tersendiri bagi kapasitas modal sosial masyarakat. Untuk itu, selain menggunakan perspektif modal sosial dalam pengentasan kemiskinan, juga perlu diperhatikan bahwa kebijakan public diarahkan untuk mendukung penguatan kapasitas tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kota Baubau, 2015. Baubau Dalam Angka. Baubau: Badan Pusat Statistik.

Bowles, Samuel and Herbert Gintis, Social Capital and Community Governance. 2002. The Economic Journal 112 (November), F419-F436. Royal Economic Society. Diakses melalui http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/SocialCapital.pdf. (10/10/2013. pukul 22.00 wib)

Eversole, Robyn. 2011., Community Agency and Community Engagement: Re-theorising Participation in Governance, Journal of Public Policy / Volume 31 pp 51-71, http://journals.cambridge.org/abstract_S0143814X10000206 (10/10/2013. pukul 22.00 wib)

Field, John. 2010.,Modal Sosial, Bandung: Kreasi Wacana.

Fukuyama, Francis.,2010.Trust: Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran, Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Hamid, Abdul Rahman. 2011. Orang Buton: Suku Bangsa Bahari Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Hasbullah, Jousairi. 2006. Social capital: menuju keunggulan budaya manusia Indonesia. MR.United Press, Jakarta.

Nugroho, Riant. 2014., Kebijakan Publik di Negara-Negara Berkembang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nugroho, Riant. 2014.,Metode Penelitian Kebijakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suharto, Edi, 2011.,Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik, Bandung: Alfabeta.

Sudarmo, 2011. Isu-Isu Administrasi Publik dalam Perspektif Governance, Surakarta: Smart Media.

Sudarmo. 2008. Social Capital untuk Community Governance, Jurnal Spirit Publik, Volume 4, Nomor 2 Halaman 101-112.

Suyanto, Bagong. 2013. Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penangannya, Malang: Intras Publising.

van Oorschot, Wim and Ellen Finsveen. 2010. Does the welfare state reduce inequalities in people’s social capital?, dalam International Journal of Sociology and Social Policy, Vol. 30 Nos. 3/4, pp. 182-193. Diakses melalui : www.emeraldinsight.com/0144- 333X.htm. (diakses, 14/10/2013. 14.00 wib)

Wijaya, Andy Arya Maulana. 2014. Penguatan Kapasitas Community Governance Melalui Social capital : Studi Kasus Masyarakat Pesisir Kota Baubau Sulawesi Tenggara, Tesisi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret: tidak dipublikasikan.

PERAYAAN GREBEG SURO SEBAGAI PENGEMBANGAN SEKTOR