• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEOMETRI BATUPASIR

Dalam dokumen SEDIMENTOLOGI DAN STRAIGRAFI (Halaman 186-190)

Pada mulanya batupasir dicandra sebagai sheet sands (dua dimensi diantaranya memiliki nilai yang relatif tinggi, sedangkan dimensi yang ketiga sangat kecil dibanding dua dimensi lain) atau sebagai shoestring sands (salah satu dimensi jauh lebih besar dibanding dua dimensi lain). Krynine (1948) memperluas tata peristilahan geometri batupasir menjadi empat tipe: (1) selimut (blanket) atau lembaran (sheet); (2) tabuler (tabular); (3) prisma (prism); dan (4) talisepatu (shoestring) (gambar 5-1). Setiap bentuk itu didefinisikan berdasarkan nisbah lebar terhadap ketebalan. Ahli lain (a.l. Rittenhouse, 1961 dan LeBlanc, 1972) meng-golongkan geometri batupasir berdasarkan genesisnya menjadi pasir aluvial (alluvial sands), pasir gumuk (dune sands), pasir gisik (beach sands), dsb. Meskipun ancangan yang disebut terakhir ini memberikan arti geologi yang sangat baik, namun cenderung menimbulkan kerancuan antara konsep geometri (bentuk dan ukuran) dengan konsep model sedimen yang melibat-kan banyak faktor. Selain itu, sebagaimana dikemukakan oleh Potter (1963), penggolongan genetik dapat dikenai galat karena penentuan lingkungan pengendapan pasir purba kadang-kadang sukar untuk dilaksanakan. Suatu tubuh batupasir juga dapat berubah secara berangsur menjadi tubuh batupasir lain. Lebih jauhnya lagi, data bawah permukaan, yang umumnya berupa data geofisika, juga tidak dapat langsung digunakan untuk menafsirkan lingkungan pengendapan. Karena itu, Potter (1963) kemudian mengajukan sebuah skema penggolongan geometri batupasir yang bersifat deskriptif dan geometris. Dia mengenal adanya dua kategori tubuh pasir: (1) sheet sands yang memiliki pelamparan luas; dan (2) tubuh

pasir linier atau memanjang (kadang-kadang tidak menerus). Sheet

sands Paleozoikum Akhir di Illinois cenderung tipis (kurang dari 6 meter), berbutir halus, bergelembur, dan mengandung fosil bahari. Tubuh-tubuh pasir itu membentuk suatu tumpukan yang selaras satu di atas yang lain. Tubuh pasir linier yang ada dalam paket endapan itu lebih tebal (ketebalannya hingga 38 meter), umumnya lebih kasar, dan pada beberapa kasus mengandung intraklas serpih dan kerikil kuarsa berukuran

kecil. Pasir linier itu mengandung struktur lapisan silang-siur, reworked marine fossils, dan material rombakan tumbuhan. Bagian bawahnya merupakan bidang erosi

dan disconformity. Tubuh pasir linier itu memiliki empat pola

penyebaran: pods, ribbon, dendroid, dan belt (gambar 5-2).

Penulis membedakan geometri pasir ke dalam empat kategori: (1) tubuh pasir linier sederhana (simple linear sands) atau pasir talisepatu (shoestring sands); (2)

tubuh pasir yang kompleks (complex sand bodies) dan pasir linier

bercabang (bifurcating linear sands); (3) tubuh pasir membaji (wedge-shaped sand bodies); serta (4) tubuh pasir berbentuk lembaran (sheet sands). Korok dan retas batupasir membentuk satu kategori tersendiri karena keduanya merupakan struktur sekunder, bukan struktur primer yang terbentuk akibat pengendapan.

Tubuh pasir sudah barang tentu tidak harus tubuh pasir silikaan. Pasir karbonat juga membentuk akumulasi-akumulasi diskrit (Ball, 1967). Walau demikian, sebagaimana dikemukakan pada tulisan lain, keberadaan pasir karbonat jauh lebih sukar untuk diketahui dalam rekaman geologi dibanding tubuh pasir yang terkungkung diantara serpih.

5.2.1 Pasir Talisepatu

Istilah pasir talisepatu (shoestring sand), yang diperkenalkan pertama kali oleh Rich (1923), diterapkan pada tubuh pasir yang nilai panjangnya jauh lebih besar dibanding nilai lebar dan ketebalannya. Pasir talisepatu merupakan produk akumulasi pasir dalam suatu sabuk yang relatif sempit. Asal-usul dan trend tubuh pasir seperti itu telah lama menarik perhatian para ahli geologi. Makalah karya Bass (1934) mengenai pasir talisepatu Bartlesville di Kansas telah menarik perhatian banyak ahli karena menawarkan beberapa persoalan yang menarik untuk dikaji.

Pasir talisepatu memiliki ukuran yang beragam, mulai dari ukuran kecil yang seluruhnya dapat terlihat dalam satu singkapan hingga ukuran besar yang tebalnya beberapa puluh meter, lebar hingga sekitar 3 km, dan panjang ratusan kilometer. Bethel Sandstone (Karbon Awal) di bagian barat Kentucky dan selatan-tengah Indiana, misalnya saja, dapat ditelusuri keberadaannya hingga jarak 320 km (Reynolds & Vincent, 1967). Lihat gambar 5-3. Di dekat Fort Knox, pasir itu terlihat memiliki ketebalan 46-61 m dengan lebar 0,8-1,3 km (Sedimentation Seminar, 1969). Alur Caseyville (Karbon Akhir) di Kentucky dapat ditelusuri keberadaannya hingga jarak 161 km dengan tebal 30-60 m dan lebar 6,4-9,9 km (gambar 5-4). Contoh lain adalah Anvil Rock Sandstone (Karbon Akhir) di Illinois (gambar 5-5). Pasir talisepatu Bartlesville di Kansas dan Oklahoma memiliki ketebalan 15,2-45,7 m,

lebar 0,8-3,2 km, dan panjang 3,2-9,6 km. Batupasir itu biasanya tersusun dalam suatu sabuk yang panjangnya sekitar 80 km (gambar 5-6).

Sebagian pasir talisepatu menempati lembah torehan; pasir talisepatu lain memiliki dasar yang rata dan tampaknya bukan merupakan endapan alur. Pasir talisepatu dapat membentuk tubuh-tubuh pasir yang tidak menerus. Pola yang tidak menerus seperti itu sebagian muncul karena telah tererosi sedemikian rupa sehingga menyebabkan terbentuknya sisa-sisa erosi yang tidak menerus; sebagian lain memang berbentuk seperti itu karena proses-proses pengendapan berlangsung dalam suatu sabuk. Sebagian pasir talisepatu memperlihatkan pola sederhana dengan sedikit perkelokan; sebagian lain memperlihatkan kelokan-kelokan yang cukup tajam. Sebagian pasir talisepatu memperlihatkan pola yang lebih kompleks serta bercabang, baik cabang divergen maupun cabang konvergen. Hal ini akan dibahas nanti.

Pasir talisepatu memiliki asal-usul yang beragam. Sebagian merupakan endapan alur sungai, misalnya pasir Caseyville di Kentucky; sebagian lain merupakan endapan alur bawahlaut (submarine channel) yang berkembang dalam paparan karbonat, misalnya pasir Bethel; sebagian yang lain lagi merupakan endapan pulau gosong (barrier island), misalnya pasir Bartlesville.

5.2.2 Tubuh Pasir yang Kompleks

Tubuh pasir yang kompleks mencakup tubuh pasir yang memperlihatkan pola percabangan yang kompleks, baik per-cabangan konvergen maupun percabangan divergen, serta tubuh pasir yang memperlihatkan pola anastomotik.

Kompleksitas tubuh pasir antara lain dapat muncul karena beberapa tubuh pasir yang lebih kurang linier sederhana saling bertumpuk satu di atas yang lain. Penumpukan seperti itu menghasilkan pasir yang ketebalannya tidak beraturan. Tubuh-tubuh pasir yang saling bertumpuk seperti itu dapat disebut multistory sand (gambar 5-7).

Kompleksitas tubuh pasir juga dapat muncul akibat percbangan tubuh pasir sebagaimana dapat ditemukan pada cabang-cabang sungai dalam suatu tatanan delta. Pada beberapa kasus, tubuh pasir memperlihatkan pola anastomotik. Contoh-contoh dari tubuh pasir yang kompleks adalah pasir “Frio” (Oligosen) di Lapangan Seeligson. Pasir itu ditafsirkan sebagai produk suatu sistem percabangan sungai di bagian atas dataran delta (Nanz, 1954). Lihat gambar 5-8. Batupasir “Jackpile” (Jura) di New Mexico memiliki karakter yang mirip dengan pasir “Frio” dan diperkirakan merupakan produk suatu sistem percabangan sungai di bagian atas dataran delta (Schlee & Moench, 1961). Salah satu tubuh pasir dengan percabangan divergen dan memiliki pelamparan yang luas adalah Batupasir Booch (Karbon Akhir) di bagian

timur Oklahoma (Busch, 1959). Tubuh pasir itu ditafsir-kan sebagai endapan cabang-cabang sungai utama dari suatu delta (gambar 5-9).

5.2.3 Tubuh Pasir Membaji (Tubuh Pasir Berbentuk Kipas)

Bentuk penampang melintang sebagian endapan sedimen, terutama pasir dan gravel, membaji. Apabila dilihat pada bidang horizontal, tubuh pasir itu tampak menyebar secara divergen dari puncak yang relatif tebal. Salah satu contoh tubuh pasir seperti itu adalah Anggot Salt Wash dari Formasi Morrison (Jura) di Utah dan Colorado. Endapan itu memiliki ketebalan sekitar 183 m pada puncaknya, kemudian menyebar ke utara, timurlaut, dan timur hingga jarak sekitar 322 km (gambar 5-10). Pada beberapa kasus, endapan yang berbentuk seperti kipas jumlahnya cukup banyak untuk bergabung satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga membentuk suatu apron komposit yang membaji.

Tubuh sedimen yang bentuknya seperti tersebut di atas diketahui terbentuk pada kaki lereng yang curam pada mulut ngarai bawahlaut. Kipas turbidit seperti tu masih relatif baru diketahui keberadaannya. Contoh-contoh endapan seperti itu adalah Kipas Tarzana yang berumur Miosen (Sullwold, 1960) dan Kipas Capistrano yang berumur Miosen di Dana Point, dekat Newport, California (Piper & Normark, 1971).

5.2.4 Tubuh Pasir Berbentuk Lembaran

Sebagaimana diimplikasikan oleh namanya, pasir berbentuk lembaran memiliki nilai penyebaran lateral yang jauh lebih besar dibanding nilai ketebalannya. Banyak, jika bukan sebagian besar, tubuh batupasir termasuk ke dalam kategori ini. Tubuh pasir ini menutupi wilayah yang luasnya ribuan kilometer persegi, meskipun tebalnya mungkin hanya beberapa puluh hingga beberapa ratus meter.

Asal-usul tubuh pasir berbentuk lembaran sejak lama telah menjadi permasalahan bagi para ahli karena sebagian besar pasir masa kini umumnya berasosiasi dengan sungai dan gisik yang notabene merupakan lingkungan linier. Bagaimana dalam rekaman geologi dapat ditemukan sekian banyak tubuh pasir yang tersebar demikian luas seolah-olah menyelimuti wilayah tersebut? Sebagian besar ahli berpendapat bahwa tubuh pasir seperti itu terbentuk akibat “sedimentasi lateral.” Jadi, bagian tertentu dari tubuh pasir itu tidak seumur dengan bagian-bagian lain dari tubuh pasir tersebut. Batas-batasnya memotong bidang waktu dengan sudut pemotongan yang landai. Tubuh pasir seperti itu juga dapat ditafsirkan sebagai produk pertumpang-tindihan sejumlah tubuh pasir linier, dimana setiap tubuh pasir linier itu semula terpisah satu dari yang lain, misalnya pasir talisepatu. Contoh dari tubuh batupasir lembaran yang merupakan produk penggabungan seperti itu adalah Kelompok

Mesaverde (Kapur) di San Juan Basin, Colorado, terutama Point Lookout Sandstone (Hollenshead & Pritchard, 1961) yang merupakan produk migrasi pesisir.

5.2.5 Orientasi Tubuh Pasir

Orientasi tubuh pasir, relatif terhadap jurus dan kemiringan pengendapan, sangat menarik untuk dikaji. Tubuh pasir disebut sebagai pasir jurus (strike sand) jika penyebarannya lebih kurang sejajar dengan kemiringan pengendapan (depositional strike). Tubuh pasir yang lain disebut pasir kemiringan (dip sand) jika penyebarannya lebih kurang sejajar dengan arah kemiringan purba. Tubuh pasir linier yang berasal dari pulau gosong terletak sejajar dengan pesisir. Tubuh pasir lain, khususnya tubuh pasir yang berkaitan dengan alur sungai, biasanya terletak lebih kurang tegak lurus terhadap garis pantai. Sebagian tubuh pasir yang lain lagi tidak memperlihatkan hubungan yang jelas dengan lereng purba.

Jika suatu tubuh pasir muncul di atas suatu ketidakselarasan, dan jika ketidakselarasan itu berkembang pada lapisan-lapisan yang terangkat, maka akumulasi pasir tersebut mungkin dikontrol oleh topografi yang terkubur dan hasilnya disebut strike-valley sand body (Busch, 1959).

Dalam kaitannya dengan orientasi tubuh pasir, ada satu hal yang menarik untuk dikaji, yakni hubungan antara tekstur dan struktur tubuh pasir dengan bentuk eksternalnya. Ketiga aspek tersebut diasumsikan merupakan produk sistem arus purba yang menyebabkan terendapkannya pasir tersebut. Karena itu, agaknya dapat diasumsikan bahwa orientasi butiran dan perlapisan silang-siur, misalnya saja, memperlihatkan hubungan yang sistematis dengan sumbu panjang tubuh pasir. Asumsi tersebut kelihatannya tidak berlebihan. Pertanyaan tersebut telah dibahas secara mendalam oleh Potter & Pettijohn (1963, h. 173-190).

Dalam dokumen SEDIMENTOLOGI DAN STRAIGRAFI (Halaman 186-190)