BAB III. ARAHAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS
A. Gerakan Dari Awal Berdirinya KSFL
Kongregasi KSFL, pada awal berdirinya disebut Kongregasi Rotterdam yang berasal dari Kongregasi Suster Gasthuis di Breda. Kemudian disebut Kongregasi Suster Fransiskan Mater Dei di Breda. Pada tahun 1841 Pastor Paroki, yaitu pater Johannes van Lieshout dari Gereja Rosaliastraat di Rotterdam, memohon kepada Sr. Theresia Saelmaekers, pemimpin Gasthuis di Breda kiranya bersedia memberikan anggotanya berkarya di parokinya di Rotterdam. Karya yang mendesak pada saat itu adalah pelayanan kasih bagi anak-anak di panti
asuhan, pemeliharaan orang miskin, anak-anak putus sekolah, lanjut usia, orang sakit, dan pelayanan pastoral lainnya sesuai dengan kebutuhan di paroki saat itu.
Pemimpin Kongregasi di Breda, (Muder Theresia Saelmaekers) menanggapi permohonan itu secara positif. Dalam waktu singkat, kelompok pertama siap diutus. Seperti St. Paulus dalam suratnya mengatakan, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya” (bdk 1 Kor 9:22), demikian mereka juga merelakan diri hadir dan mulai melayani di Rotterdam. Pemimpin Kongregasi di Breda mengutus tiga suster sebagai pionir ke Rotterdam pada tanggal 29 November 1841, yaitu: Sr. Lucia Dierckx dari St. Theresia (Anna Cornelia Dierckx) dari Meersel - Belgia, Sr. Benedikta van Gastel dari Santo Aloysius (Yakomyne van Gastel) dari Etten, Sr. Dominika van Wert dari St, Fransiskus (Elisabeth van Wert) dari Bergen op Zoom. Pada awalnya, ketiga suster dan bersama mereka yang dirawat menempati rumah keluarga di dekat gereja. Seorang pastor kapelan yaitu Pater Albertus van Meurs menjadi pemimpin rohani mereka yang tinggal dekat rumah itu. Mereka mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja tetapi mereka juga masih membuat tempat khusus di rumah untuk devosi yang di dalamnya ada altar kecil dan kandelar. Rumah itu sangat sempit karena disitu juga dirawat orang sakit, baik perempuan maupun laki-laki.
Tanggal 9 Februari 1842, Sr. Magtildis menyusul bersama Sr. Anastasia, dan pada tanggal 24 Oktober 1842 giliran Sr. Bernarda dan Sr. Philomena mengikutinya, antara tahun 1841 dan 1845 jumlah suster yang dikirim ke Rotterdam sebanyak 13 orang. Karya terus berkembang, tetapi tenaga masih kurang. Karena itu, pada tanggal 25 Juni 1845 pemimipin Gasthuis mengutus tiga
suster lagi, yaitu: Sr. Viktoria, Sr. Emmanuela, dan Sr. Roosa. Kehadiran dan pelayanan para suster sungguh menjawab kebutuhan masyarakat. Tahun 1842, jumlah orang yang dilayani terus bertambah, tetapi tidak sesuai lagi dengan kapasitas rumah tempat mereka memberikan pelayanan. (Eddy, 2009: 139-141).
Kemudian mereka mencari tempat yang lebih luas. November 1842 komunitas beserta semua orang sakit dipindahkan ke rumah anak yatim piatu yang terletak di Schiedamse Dijk. Ketika suster dari Gasthuis Breda tiba di Rotterdam, di sana sudah ada panti asuhan yang diurus oleh satu keluarga. Pada awalnya keluarga dan para suster bekerja sama mengelola panti tersebut. Jumlah anak yang mereka layani terus bertambah (lebih dari seratus orang), hal ini sangat berat dan suatu beban berat yang diurus oleh keluarga sebagai penanggungjawab panti. Maka panti diserahkan kepada Paroki, kemudian Paroki menyerahkan sepenuhnya panti asuhan di Schiedamse Dijk, yang disebut “Leewenstraat Weeshuis”, kepada para suster.
Karya yang ditangani para suster, selain panti asuhan juga memelihara orang miskin, orang tua, anak putus sekolah, dan karya pastoral lainnya sesuai dengan kebutuhan paroki dan masyarakat seperti kursus menjahit. Para suster diminta juga memberi pelajaran umum, antara lain: Ilmu Bumi, Ilmu Alam, dan Bernyanyi. Karena mereka belum memiliki ijazah untuk itu, pelajaran umum tersebut dipercayakan kepada guru awam. Para suster juga perlu memikirkan biaya hidup harian mereka. Oleh sebab itu, mereka berusaha bekerja sama dengan anak panti asuhan menjahit untuk toko-toko dan keluarga-keluarga, juga pekerjaan tangan, dan memohon sedekah. Keadaan sulit di atas mengakibatkan
para suster hidup miskin dan sederhana tetapi penuh iman menyerahkan diri ke tangan Allah dan percaya pada Penyelenggaraan Illahi (Eddy, 2009: 141-142).
Dengan melihat semua peristiwa yang sudah disebutkan di atas, maka KSFL perlu terus-menerus tanpa kenal lelah untuk mendengarkan jeritan kemanusiaan yakni melihat, memperhatikan, dan merangkul orang-orang kecil, sederhana, miskin, dan tersingkir dengan pelayanan yang tulus dan rendah hati. Dengan pengikraran nasehat-nasehat Injil, KSFL membaktikan seluruh hidup untuk pewartaan Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan demi pelimpahan Rahmat. Dengan demikian hendaknya setiap saudara mewujudkan semangat injil ini dalam pelbagai jenis karya dan pelayanan di dalam dan di luar komunitas (Konst KSFL, 1999: 90).
2. Lusia Dierckx
Siapakah sesungguhnya Muder Lusia Dierckx? Muder Lusia Dierckx dari St. Theresia (Anna Cornelia Dierckx) lahir 19 Juni 1812 di Meersel-Belgia, masuk Biara di Breda 16 Januari 1838, menerima jubah biara 9 Mei 1838 dan Profesi 30 Juli 1840. Pribadinya tidak lengkap bila tidak disebut bagaimana beliau memadukan pengertiannya tentang jiwa manusia dan rasa hormatnya terhadap setiap pribadi para susternya. Muder Lusia tanpa kenal lelah menjadikan dirinya segalanya bagi semua orang. Ia hidup dihadapan Tuhan dengan sederhana, rendah hati dan itu jugalah yang ditanamkannya kepada para saudaranya. Muder Lusia berhati mulia, ikhlas, penuh cinta dan hangat bagi sesama. Itulah yang dialami para susternya dari Ibu Lusia tercinta.
Kenangan akan beliau tetap merupakan berkat. Nasehatnya tetap bergema “tak ada sesuatu yang mendorong manusia lebih kepada hidup beriman daripada teladan mereka yang menjadi abdi Kristus; sebaliknya hidup jahat seorang religius adalah sumber kedukaan bagi Gereja, hinaan bagi Kristus dan merugikan Kongregasi” (Agnes, 1999: xiv). Muder Lusia yang selama hidupnya begitu gigih dalam pengabdian diperkenankan Tuhan memasuki bangsal surgawi 21 April 1867 dalam usia 55 tahun. Miskin dan rendah hati di dunia, penuh kekayaan dan kebesaran masuk surga. Kalimat ini dikenakan kepada Bapa St. Fransiskus dan itu juga terwujud dalam diri Muder Lusia. Pada gambar peringatannya terdapat teks dari Amsal 31: 20 ”tangannya ia buka bagi mereka yang berkekurangan dan diulurkan kepada yang miskin”. Muder Lusia mengabdikan diri dengan semangat “Semuanya untuk semua”. Semangat ini jugalah yang diwariskan dan menjadi semboyan yang diperjuangkan kongregasinya. Muder Lusia adalah abdi Kristus yang membuat seluruh dirinya hanya untuk Tuhan. Hidupnya yang sederhana dan rendah hati membuat dia akrab dengan semua yang dijumpainya. Muder Lusia sebagai ibu mempunyai keunikan tersendiri dalam menjalin relasi yang akrab dan mendalam dengan setiap orang. Kebijaksanaan dan ketulusan hati merupakan kekayaan pribadi yang menghiasi hidup beliau, sehingga banyak orang mengenangnya (Eddy, 2009: 163-164).
Muder Lusia dimakamkan di pemakaman biara di Wychen. Kendati Muder Lusia telah tiada, semangat dan teladannya tetap hidup dalam Kongregasinya. (Agnes, 1999: xiv). Perjuangan Muder Lusia inilah yang harus dilanjutkan dan dihidupi oleh para anggotanya meskipun tidaklah mudah. Muder Lusia dalam
gerak pelayanannya sungguh memberikan seluruh hidupnya demi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Maka semua anggota Muder Lusia diharapkan untuk menghidupi dan mewujudnyatakan dalam pelayanan Kharisma KSFL, yakni: “Yesus yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba sampai wafat di salib” (Konst KSFL, 1999: xvii).
3. Berdirinya KSFL Secara Kanonik
Tanggal 4 Juli 1844 dua postulan dari Rotterdam dikirim kembali oleh Pimpinan di Breda ke Rotterdam untuk memulai novisiatnya di bawah Pimpinan Muder Lusia Dierckx. Maka ditetapkanlah berdirinya Kongregasi baru di Rotterdam pada tanggal 15 Oktober 1847, di mana kedua postulan yang pertama diterima menjadi novis di bawah bimbingan Muder Lusia Diereckx. Kemudian tahun 1848 Pimpinan yang baru diangkat resmi oleh Pater van der Beek Propinsial OFM. Ketiga suster Gathuiszuzter membentuk Kongregasi Baru dengan nama resmi : Kongregasi Peniten-Rekolektin Ordo III Religius dari St. Fransiskus yang berpusat di Sint Lusia Gesticht Rotterdam (Agnes, 1999: xii).
Kongregasi ini mengalami banyak perubahan, bukan hanya pakaian tetapi juga cara hidup sehari-hari dan akhirnya mengarah pada pendidikan. Semua bercorak Fransiskan berkat saudara yang ikut mendirikan Kongregasi ini. Jubah warna hitam diganti warna coklat, ofisi Maria diganti dengan Brevir fransiskan yang besar dan wajib melaksanakan di kapel sebagai doa resmi Gereja dalam bahasa latin. Dengan semangat kesederhanaan dan dedikasi yang tinggi mereka mengelola panti asuhan, jompo dan karya sosial lainnya. Dalam hidup Muder
Lusia Dierckx benar-benar ”Yang Terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Lk 9.48). Kesederhanaan dan ketekunannya menjadi proses penggerak dalam Kongregasi yang sedang berkembang. Pada tahun 1850 diutus suster ke Propinsi Friesland membantu Pater Fransiskan untuk karya kerasulan. Dalam bimbingan Muder Lusia, Kongregasi berkembang bukan hanya di kota Rotterdam melainkan juga ke kota lainnya (Agnes, 1999: xiii).
Sebelum Muder Lusia meninggal, Pater van der Mazen menyerahkan Kongregasi secara resmi di bawah yuridiksi Uskup Haarlem November 1862. 1 November 1869, Konstitusi disahkan oleh Uskup Haarlem; nama Rekolektin tidak dipakai lagi mengingat tuntutan karya dan cara hidup mengalami pergeseran. Tahun 1901 Konstitusi dibaharui lagi dan disahkan. Karena Biara Pusat di Coolsingel tidak cukup besar untuk para calon dan keramaian kota terus bertambah maka dicarilah lokasi baru untuk Novisiat dan pusat Kongregasi. Akhirnya dibeli Biara Suster Hati Kudus dari Perancis di Bennebroek. Tanggal 1 Agustus 1919 Novisiat pindah ke Bennebroek dan 1 Mei 1920 Biara St. Lusia diberkati dan diresmikan sebagai Pusat Biara Suster Fransiskan St. Lusia. Sejak itu disebut “Suster Fransiskan dari Bennebroek atau Suster-Suster dari Santa Lusia”.
Kongregasi Suster Fransiskan St. Lusia (KSFL) terus berusaha menghidupi Kharisma Pendiri/KSFL : “Yesus yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba sampai wafat di salib”. Hal ini diwujudkan dalam hidupnya sesuai dengan spiritualitas KSFL yaitu Kesederhanaan, dan Persaudaraan dengan Pertobatan yang terus-menerus serta Kerendahan hati. Visi dan Misi KSFL
adalah: siap sedia mewartakan Kerajaan Allah demi keselamatan manusia; saudara bagi semua orang yang kita jumpai. Sebagai motto hidup Kongregasi KSFL sejak awal sampai sekarang adalah “SEMUANYA UNTUK SEMUA”. (Agnes, 1999: xvii).
4. Jiwa dan Semangat KSFL.
Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL) adalah salah satu tarekat Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus Assisi. Pada awal berdirinya Kongregasi ini berada di bawah pimpinan Muder Lusia Dierckx dan dipercayakan pada perlindungan Santa Lusia (Eddy, 2009: 139).
Muder Lusia melayani dengan tulus iklas, tidak kenal lelah, dan bersedia melayani dengan penuh cinta siapa saja tanpa membeda-bedakan. Karya yang ditangani para suster semakin berkembang. Para suster juga diminta memberi pelajaran umum, antara lain: Ilmu Bumi, Sejarah, Ilmu Alam, dan Bernyanyi. Karena mereka belum memiliki ijazah untuk itu, pelajaran umum tersebut dipercayakan kepada guru awam. Para suster juga perlu memikirkan biaya hidup harian mereka. Maka mereka berusaha bekerja sama dengan anak panti asuhan menjahit untuk toko-toko dan keluarga-keluarga, juga pekerjaan tangan, dan memohon sedekah. Keadaan sulit di atas mengakibatkan para suster hidup miskin dan sederhana tetapi penuh iman menyerahkan diri ke tangan Allah dan percaya pada penyelenggaraan Illahi.
Muder Lusia Dierckx sebagai pendiri Kongregasi menghidupi dan mewujudkan semangat semuanya untuk semua dalam seluruh pelayanannya.
Melalui cara hidupnya yang memberikan perhatian besar pada pelayanan di bidang pendidikan/pembinaan kaum muda, memelihara dan merawat orang sakit, lanjut usia, serta orang lemah dan menderita. Muder Lusia dalam pelayanannya sungguh mewujudkan kasih, damai, dan kegembiraan bagi sesama. Dia mengatakan bahwa pelayanan yang dia lakukan adalah bagian dari imannya akan Kristus. Ini jugalah yang selalu ditekankannya kepada semua saudarinya. Sebagai pengikut Santo Fransiskus, mereka juga berusaha menghidupi pola hidup Santo Fransiskus yang hidup dalam ketaatan dalam kemurnian dan tanpa milik. Selain hal ini, mereka juga berusaha hidup rendah hati, sederhana, dan bersaudara dengan segenap ciptaan dalam pertobatan terus-menerus (Eddy, 2009: 154). Dalam seluruh gerak pelayanan, Ibu pendiri sangat memperhatikan dan memelihara hidup rohani sebagai religius yakni tetap mengutamakan hidup doa dan menjalin relasi yang intim dengan Tuhan.
“Muder Lusia dalam suratnya mengatakan demikian: ”Tak ada yang mendorong manusia lebih kepada hidup beriman daripada teladan mereka yang menjadi abdi Kristus. Dan juga sebaliknya, tiada sesuatu pun lebih merugikan Kongregasi, menyedihkan Gereja, dan menghina Kristus daripada contoh buruk yang diberikan oleh seorang religius. Arahkanlah hatimu selalu pada panggilanmu, kenangkanlah selalu apa yang sudah kamu janjikan kepada Allah dan atasanmu. Apa yang kita janjikan di dunia tercatat di surga” (Eddy, 2009: 161).
5. Visi dan Misi KSFL
Visi dan Misi dari suatu lembaga sangatlah penting untuk mempermudah arah dan tujuan yang akan dicapai. Demikian halnya konstitusi KSFL mengarahkan dengan menegaskan kembali bahwa hidup dan gerak pelayanan KSFL harus berdasarkan Visi dan Misi gerak awal KSFL. Visi dan Misi gerakan
awal menjadi ciri khas dan mewarnai seluruh hidup dan gerak pelayanan anggota KSFL. Adapun Visi dan Misi KSFL dari pendiri dan gerak awal adalah: Siap sedia mewartakan Kerajaan Allah demi keselamatan manusia; saudara bagi semua orang yang kita jumpai (Konst KSFL, 1999: xvii).